[ CHAPTER – PART 5 ] A MINUTE OF HOPE

AOFAMH

 

Tittle : A Minute of Hope

Author : gazasinta

Main Cast :

  • Park Jiyeon as Jiyeon
  • Kim Jaejoong as Dr Jae
  • Kim Myungsoo as Myungsoo
  • Bae Suzy as Suzy
  • Jeo Min Seo as Park Jeo Min ( Jiyeon’s sister )

Extended Cast :

  • Shin Goo as Seo Sin Goo ( Harabeoji )
  • Kang Bo Ja as Halmeoni Kang ( Yongha’s mother )
  • Park Won Sook as Won Sook ( Yongha’s sister )
  • Yun Yoo Sun as Yoo Sun ( Jaejoong and Myungsoo’s mother )
  • Kim Soo Ro as Soo Ro ( Jaeejong and Myungsoo’s father )
  • Kim Mi Sook as Mi Sook ( Suzy’s mother )
  • Kim Ji Young as Bibi Lee Eun Cha
  • Lee Kwang soo as Kwang Soo
  • Son Ye Jin as Seo Ye Jin ( Jiyeon and Jeo Min’s mother )
  • Park Yong Ha as Yong Ha ( Jiyeon and Jeo Min’s father )

Genre : School, Family, Drama

Rating : PG-17

Poster created by @olivemoon2

Galau….galau….galau !!! Hiks, MyungYeon, Minji, KaiYeon, HaeJi, JaeYeon, Hunji atau shipper-shipper lainnya yang idolain baby dino pasti kalian sedang galau dan bersedih, ahhhh akhirnya hal yang aku takutkan terjadi. Mengapa….oh mengapa ? *Asahgolok.

Aku berharap itu hanya settingan untuk meraup banyak penonton film mereka, semoga Ya Allah.

Jiyi-ah wae ? kau benar-benar suka seorang ahjussi eoh ?*Nangisheboh

Tadinya ini mau dikeluarin pagi, gegara galau akhirnya aku tunda. Tapi ya sudahlah pacaran kan belum tentu merit ya kan ? lagian kalo Jiyi bahagia, kita juga kan seneng. Tapi…….wae…wae….wae ? *mulaigilalagi

Ambil nafas, tahan 3 hari J

Baiklah, selama janur kuning belum melengkung, Jiyeon masih bisa sama siapa aja, semoga hubungan mereka ga lama * Ihsumpahjahatbangetakuyah.

Okelah kembali pada AMOH, ini part lumayan panjang dan ga jamin seru, tapi aku tetep berharap responnya ga berkurang. Satu lagi, aku punya kabar gembira bagi kita semua, kalo ternyata kulit manggis ada ekstraknya. Kabar gembiranya adalah…..

Jeng,,,,Jeng

Mian yah, lagi-lagi aku minta ijin untuk PW ff ini, belum nentuin sih next part or last part. Syarat dapet PW gampang kok, ga perlu aku sebutin lagi kan yah ?

Seneng kan ? Senenglah kalo good readers, makanya always be a good reader🙂

Disclaimer : FF ini terinsprirasi dari Kdrama yang sangat menyentuh Thank You, tapi alur dan ceritanya pure milik author.

Sorry for typos , and happy reading ya guys!!!

“ Be a strong wall in the hard times and be a smilling sun in the good times. “

Previously

“ Apa kau ingin bersekolah di Kyunghee ? “                     

Tangan Jiyeon berhenti bergerak, ia mendongakkan kepala dan melihat seorang wanita sekitar 40-an namun masih terlihat cantik berdiri dihadapannya.

“ Kau….berbicara padaku ? “ Tanya Jiyeon menunjuk dirinya sendiri memastikan.

 …

Jaejoong berbalik dan melangkah ke arah rumah yang terletak disamping keluarga Park. Ia membuka pintu dan meletakkan sebuah koper besarnya disana. Sudah ia putuskan, ya ia sudah memutuskan untuk memenuhi janjinya pada Nana untuk menjaga ketiganya dengan cara seperti ini. Hidup berdampingan dengan mereka, entah sampai kapan. Mungkin sampai sosok Nana datang dalam mimpinya dan mengatakan jika ia telah benar-benar merasa bahagia, atau hingga keluarga Park terutama gadis bernama Park Jiyeon sanggup menerima kenyataan bahwa adiknya seorang penderita AIDS.

Benar, hingga hari itu datang Jaejoong akan merasa lega untuk meninggalkan mereka.

 

Part 5 ~ A Minute Of Hope

Jiyeon bangkit dari jongkoknya, mengikat won yang didapatnya dalam sebuah kantung, lalu menyimpannya dibalik mantel yang ia pakai. Mata bulatnya kemudian menatap wanita yang tiba-tiba datang dan menawarkannya untuk masuk Kyunghee. Wanita itu tersenyum dan menatapnya penuh arti.

“ Kau…siapa ? “ Tanya Jiyeon

Wanita itu mengulurkan tangannya “ Kenalkan aku Hong Jang Eum, kau bisa memanggilku Ms Hong “ Ucapnya ramah.

Jiyeon hanya terdiam menatap wanita yang bernama Hong Jang Eum tanpa ekspresi. Otaknya masih menebak-nebak siapa sebenarnya wanita ini dan mengapa ia begitu baik menawarkannya untuk melanjutkan pendidikan di Kyunghee ? Sibuk dengan pikirannya, tak sadar jika Ms hong ini kini berada tepat dihadapannya dan memegang bahunya lembut. Jiyeon sempat memundurkan tubuhnya, namun Ms Hong meyakinkan bahwa ia orang baik-baik dari senyum dan wajah teduhnya.

“ Aku sangat menikmati penampilanmu hari ini, ahniya !!! Beberapa hari ini “ Ucapnya dengan senyum merekah “ Daebak !! kau mengagumkan, tidak hanya cantik, kau juga memiliki suara yang bisa membuat oranglain terhanyut jika mendengarnya. Kau…..memiliki bakat seni yang layak untuk masuk Kyunghee “ Ucap Ms Hong wajahnya nampak berseri, seperti menemukan sebongkah berlian yang sangat berharga.

“ Maaf……aku rasa kau salah menilaiku, aku hanya seorang penyanyi jalanan “ Ucap Jiyeon tersenyum seadanya dan berniat untuk pergi.

“ Tunggu !! “ Teriak Ms Hong menghentikan langkah Jiyeon.

“ Aku seorang dosen yang mengajar musik di Kyunghee. Setiap hari bersama dengan mereka yang berbakat. Tidak sulit bagiku untuk menilai seseorang apakah ia akan menjadi seseorang yang hebat atau tidak ? “

Jiyeon terkejut. Ia kemudian menoleh dan membungkukkan kepalanya, sebagai permintaan maaf karena baru saja bersikap kurang sopan.

Ms Hong tersenyum, ia benar-benar tertarik dengan sikap Jiyeon yang terkesan dingin namun sangat baik dimatanya. Perpaduan yang epic “ Aku memilihmu untuk menjadi muridku, bagaimana ? “ Tanya Ms Hong tanpa berbasa-basi.

Jiyeon kembali membelalak tak percaya, jauh dilubuk hati rasanya ingin sekali ia memekik bahagia. Tawaran Ms Hong, seperti ia kejatuhan bintang dari langit. Jiyeon memang ingin sekali meneruskan kuliahnya, meskipun itu di Kyunghee. Tapi, buru-buru ia menetralkan kebahagiannya, seperti tersadar, Jiyeon menggelengkan kepalanya. Ia tak boleh larut dengan khayalannya, apa artinya hanya memiliki sebuah “ keinginan “ ? Tanpa “ kemampuan “ dari segi apapun, terlebih biaya. Tawaran Ms Hong ? jika mengangguk setuju tidak berarti ia akan mudah masuk Kyunghee dalam waktu dekat bukan ?

“ Aku tidak mengenalmu “ Ucap Jiyeon akhirnya mencoba realistis meski bertolak belakang dengan hatinya.

“ Aku juga tidak mengenalmu, lalu apa masalahnya ? “ Tanya Ms Hong itu merasa jawaban Jiyeon terdengar konyol.

“ Aku……tidak mau “ Jiyeon kembali membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi.

“ Pikirkan dulu sebelum memutuskan !!! “ Ms Hong setengah berteriak seiring dengan sosok Jiyeon yang menjauh, ia tak mau menyerah.

Langkah Jiyeon terhenti, tanpa menoleh “ Tetap tidak bisa “

“ Kita akan bertemu kembali besok, dan ku harap kabar baik yang kuterima darimu “ Ucap Ms Hong seolah tak peduli dengan keputusan Jiyeon.

Halte Bus,

Suzy bolak-balik menatap jam ditangannya cemas, pukul 6.40 malam KST bus yang akan mengantar kerumahnya belum juga tiba. Ia terlambat sekitar 10 menit dari jadwal pulang les piano biasanya. Semakin khawatir karena tidak bisa memberi kabar pada eommanya. Ponselnya mati, ia lupa untuk mengisi baterai.

Sebuah motor besar berhenti tepat dihadapannya, seorang pria dengan jaket kulit hitam memakai tas dan gitar dipunggung mengingatkan Suzy dengan pria yang ia sukai. Suzy buru-buru menepis khayalannya, khayalan tentang kehadiran namja itu, mana mungkin ia ada disini.

“ Sial !! “ Rutuk si pria seraya menendang ban motornya yang terlihat kempes, pria itu menoleh kesana kemari seperti mencari sesuatu.

Suzy memperhatikan si namja,

“ Hey, apa kau tahu dimana bengkel yang paling dekat disini ? “ Tanya pria yang hanya nampak mata tajamnya saja dari balik helm dan masker yang dipakainya.

Suzy yang ditanya mengangguk tahu, tentu saja ia sangat hapal jalan ini dan apa-apa saja yang ada “ Disana, tidak jauh “ Tunjuk Suzy dengan tangannya seraya tersenyum lembut.

Namja itu tak lantas pergi, justru matanya memicing menatap Suzy lekat.

“ Kau….Bae Suzy anak kelas A ? “ Tanya pria yang ternyata adalah Kim Myungsoo membuka helm dan menurunkan masker yang menutupi sebagian wajahnya.

“ Eoh “ Suzy tergugup, ia tak menyangka namja ini benar-benar Kim Myungsoo. Idolanya, namja yang ia kagumi sejak pertama kali melihatnya “ Nde…kau….aa-nnak kelas B, K-Kimm Myungsoo ? “

Tak menjawab, Myungsoo hanya menatap yeoja itu aneh, tiap kali berbicara terlihat gugup. Myungsoo sempat berpikir jika yeoja ini memiliki penyakit gagap, sayangnya ia tak tahu keseharian yeoja ini, tapi seluruh Kyunghee mengenal jika gadis ini bersuara indah, jadi rasanya tidak mungkin jika ia menderita penyakit gagap “ Eoh “ Ucapnya singkat tak lagi ambil pusing.

Tak berapa lama Myungsoo berbalik, dan mencoba mendorong motornya. Suzy bimbang melihat Myungsoo yang akan segera meninggalkannya. Bus belum sama sekali terlihat, ponsel untuk memberi kabar pada eommanya pun tak aktif. Suzy bangkit dan berusaha memberanikan dirinya meminta pertolongan. Hanya ada Myungsoo, seseorang yang bisa ia minta pertolongan.

“ Myungsoo-ssi ! “ Panggil Suzy membuat Myungsoo menoleh dan menghentikan langkahnya.

Suzy melangkah perlahan mencoba lebih dekat dengan Kim Myungsoo

“ Ada apa ? “ Tanya Myungsoo.

Suzy menggigit cemas bibir bawahnya, berharap permintaannya ini tak membuat Myungsoo berpikir macam-macam atau mencapnya terlalu berani“ Boleh….aku pinjam ponselmu ? “

Myungsoo mengernyitkan dahinya.

Rumah Kel Park,

Park Jiyeon menatap dalam diam tempatnya tinggal. Rumah sederhana berdinding kayu lapuk dengan pencahayaan ala kadarnya. Berbeda dengan rumah disekitarnya, yang memiliki pencahayaan begitu terang, hingga tak mungkin ada orang jahat yang berhasil sembunyi.

“ Kita akan bertemu kembali besok, dan ku harap kabar baik yang kuterima darimu “

Meski sangat tipis, senyum terulas dari bibir merah muda Jiyeon mengingat tawaran itu. Berbeda dengan sikap yang ia tunjukkan pada orang yang menawarkan tadi. Jika Jeo Min tahu, sudah pasti adiknya akan senang dan mendukungnya. Cita-citanya untuk menjadi seorang idol pasti sangat dekat jika ia menerimanya.

Siluet Jeo Min dan harabeoji yang sedang bermain tepukan tangan terlihat dari balik gorden tipis yang ia pasang untuk menutupi jendela. Sesekali terdengar tawa Jeo Min dan sungutan harabeoji, lalu bertukar dengan gelak tawa harabeoji dan pekikan kesal Jeo Min, keduanya bermain begitu gembira.

Baru saja dua langkah melewati pagar rumah, Jiyeon berhenti dan mengedarkan pandangannya sejenak, ada sesuatu yang berbeda ia rasakan. Tapi hanya beberapa detik saja, Jiyeon kembali melangkah dan tidak menemukan apa yang berbeda.

“ Apa ini ? “ Herannya kembali, ketika menemukan sebuah kardus besar bergambar televisi ada didepan pintu rumahnya.

Jeo Min tak memiliki banyak mainan yang dibawa hingga harus membutuhkan kardus besar untuk menyimpannya. Penasaran, Jiyeon membuka kardus tersebut, dan dahinya semakin berkerut melihat apa yang ada didalamnya.

“ Televisi ? ini…..milik siapa ? “ Tanyanya pada diri sendiri

“ Jeo Min-ah, harbaeojiiii !!! aku pulanggggg !!! “

“ Eonniiiiiiiiiiiii “

“ Jiyeon-ahhhhhhhh “

Rumah Jaejoong,

Glek…glek…..glek….glek

Pria dengan paras tampan dan sorot mata setajam silet duduk menyandarkan tubuhnya yang sudah nampak kepayahan pada dinding kayu rumahnya. Tangan kirinya bertumpu pada lutut kiri, sementara tangan kanannya terus mengalirkan alkohol untuk membasahi kerongkongannya. Jakunnya tak berhenti bergerak naik turun, seiring dengan pria itu yang tak henti-hentinya memasukkan cairan haram ke dalam tubuhnya. Ia nampak menikmati minuman yang akhir-akhir ini begitu akrab dengannya.

“ Ahhhh “ Helanya nikmat seraya mengusap jejak alkohol yang tertinggal di bibir merah dengan punggung tangannya. Mulutnya tak henti-henti mengeluarkan sendawa, menandakan pria itu benar-benar sudah mabuk.

“ Jeo Min-ah, harbaeojiiii !!! aku pulanggggg !!! “

“ Eonniiiiiiiiiiiii “

“ Jiyeon-ahhhhhhhh “

Ia menoleh dan hanya mendapati pintu yang tertutup ketika mendengar suara tetangga barunya. Jaejoong , pria mabuk itu tersenyum entah apa artinya. Baru beberapa jam keputusannya untuk berada disekitar keluarga Park, keraguan mulai menghampirinya, menciptakan perang batin dihatinya. Dengan mabuk, ia pikir bisa mengenyahkan keraguannya, tapi nyatanya ia tak bisa berfikir tentang hal itu. Ia hanya berharap keputusannya untuk mendengar lebih sering suara-suara yang sebenarnya tak ingin ia mendengarnya, berada lebih dekat dengan sosok orang-orang yang sebenarnya tak memiliki hubungan apapun dengannya, tak akan pernah salah.

Jaejoong melempar lemah botol alkohol ke sepuluh yang ia habiskan. Tubuhnyapun tiba-tiba ia jatuhkan begitu saja dilantai kayu. Jaejoong tergeletak dengan kemeja yang tiga buah kancing atasnya terbuka dan tidak lagi rapi, sementara ia membiarkan sepasang sepatu dikakinya masih terpasang sempurna, matanya perlahan terpejam, dan tak sanggup lagi untuk ia buka.

“ Mengapa aku harus berada disini ? Mengapa harus aku eoh ? “ Lirihnya parau “ Uhuk…uhuk…uhuk “ Jaejoong terbatuk, ia pun membalikkan tubuhnya. Dasar sedang mabuk, ia berguling-guling, seperti ingin melepaskan beban berat yang ada dipundaknya.

Halte bus,

“ Nde, eomma aku akan mencari taksi saja, maaf membuatmu khawatir “ Ucap Suzy.

Myungsoo menyilangkan tangan didada, menunggu Suzy menyelesaikan pembicaraan dengan eommanya diatas motor. Sesekali matanya melirik penampilan sederhana gadis itu, hanya memakai dress selutut berwarna pastel dibalut dengan sweater berwarna senada. Tas selempang yang digunakan, membuat Suzy terlihat feminin.

Pandangan Myungsoo beralih ke rambut panjang cokelat yeoja itu yang dibiarkan tergerai, hanya dijepit dengan pita kecil yang terlihat imut dibagian poninya. Wajahnyapun sama sekali tak tersentuh make-up, berbeda dengan yeoja lainnya yang ada dikampus.

“ Myungsoo-sii! Ini… gomawo “ Ucapan Suzy menghentikan penilaian Myungsoo tentang yeoja itu.

Myungsoo hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban, dan bersiap untuk meninggalkan yeoja itu. Tapi melihat yeoja itu masih menatapnya, membuat Myungsoo mengurungkan kembali langkahnya.

“ Disini taksi jarang sekali, rumahmu dimana ? “ Tanya Myungsoo.

Suzy kembali gugup, ia senang bertemu Myungsoo, tapi tak ingin pria itu menawarkan akan mengantarnya. Itu akan membuatnya lebih gugup dan aneh dihadapan Myungsoo.

“ Tt-tidak jauh, hanya….”

“ Kalau begitu, aku akan mengantarmu “ Ucap Myungsoo tak sadar membuat Suzy melotot terkejut dan tak sanggup berkata-kata, tak percaya dengan tawarannya.

Myungsoo menuntun motornya diikuti Suzy dibelakangnya. Sepanjang perjalanan menuju bengkel, Suzy tak berhenti tersenyum. Terlambat tak selamanya buruk, jikapun eommanya dirumah pasti akan menginterogasinya, setidaknya Suzy memiliki memori indah tentang pria idolanya yang berhasil melukis senyum diwajahnya.

Rumah Kel Park,

Jiyeon, Jeo Min dan harabeoji duduk mengelilingi kardus besar yang terletak ditengah-tengan tanpa suara. Kardus besar yang tiba-tiba ada didepan pintu rumahnya. Baik Jeo Min dan harabeoji tak ada dari mereka yang tahu darimana datangnya, membuat Jiyeon berpikir jika barang ini salah alamat, tapi pada siapa dan harus kemana, ia tidak tahu bagaimana cara mengembalikkannya.

“ Baiklah, kita biarkan saja ini disini dan jangan ada yang menyentuhnya sampai kita tahu siapa pemilik sesungguhnya “ Ucap Jiyeon dan bangkit untuk mendorong kardus besar ke sudut ruangan.

“ Sebenarnya……tadi kami bertemu paman hantu ketika ahjuma bertubuh besar dan menyeramkan memukul kami “

Jiyeon sontak menoleh dengan wajah terkejut mendengar apa yang baru saja Jeo Min katakan.

“ Mwo ? apa yang kau katakan ? siapa yang memukul kalian dan kenapa ? “ Tanya Jiyeon dengan wajah panik dan segera menghampiri tubuh Jeo Min, ia dengan cepat memeriksa apakah tubuh adiknya terluka.

“ Dimana ? dimana letak sakitnya ? harabeoji !! apa kau juga kena pukulan ? “ Tanya Jiyeon beralih ke harabeoji yang menunduk sedih, wajah Jiyeon terlihat begitu khawatir “ Ada apa sebenarnya ? apa yang kalian lakukan hingga dipukul orang eoh ? “ Tanya Jiyeon seraya mengguncang-guncang bahu Jeo Min.

“ Jiyeon-ahhh “ Ucap harabeoji, ia nampak ragu mengatakannya.

“ Eonni, gwenchana “ Jeo Min mencoba membuat eonninya tak panik “ Kami tidak apa-apa, ahjuma itu hanya salah paham, ia mengira kami pencuri mangga di halaman rumah mereka, padahal kami hanya ingin menonton siaran televisi “ Ucap Jeo Min “ Paman hantu yang menyelematkan kami, ia sangat hebat, ahjumma itu ketakutan dan pergi begitu saja “ Ucap Jeo Min berkacak pinggang menirukan gaya Jaejoong ketika berhadapan dengan ahjumma yang memukulnya.

Tubuh Jiyeon lemas, ia benar-benar takut terjadi apa-apa dengan Jeo Min dan harabeojinya. Itulah sebabnya ia merasa was-was jika sedang tak ada dirumah untuk mencari nafkah.

“ Jiyeon-an, Jeo Min-ah mungkin saja televisi itu dari paman hantu “ Teriak harabeoji tiba-tiba membuat raut wajah Jiyeon berubah tak mengerti.

“ Ah, mungkin saja !!! hanya paman hantu yang tahu kejadian itu, tidak mungkin ahjuma gendut itu yang memberi kita televisi, eonniiii apa kita boleh membukanya jika itu dari paman hantu ? “ Tanya Jeo Min berharap.

Jiyeon terdiam, ia tak menemukan alasan dokter dengan wajah memusuhi setiap orang itu melakukannya. Untuk apa pria itu melakukannya ? ia meminta tolong untuk memeriksa Jeo Min saja, dengan sombong pria itu menolaknya, bahkan tak mengakui dirinya seorang dokter.

Jiyeon memeluk tubuh Jeo Min dan mengusap lembut rambutnya “ Eonni harus memastikan lebih dulu “ Ucap Jiyeon akhirnya.

Next Day – Rumah Kel. Park,

Satu, dua, satu, dua, atas , bawah, atas, bawah…..

Jiyeon dengan sabar membantu harabeoji menyikat giginya, rutinitas pagi hari sebelum ia pergi untuk mencari uang. Hari ini ia terpaksa mengurusi adik dan harabeojinya lebih pagi. Ia tak ingin terlambat mencari orang-orang yang akan ia bawakan belanjaannya di pasar ikan. Satu kali dalam seminggu di akhir bulan. Nelayan akan panen ikan hingga menyebabkan harga ikan-ikan akan menjadi lebih murah dan menyedot banyak pembeli. Jiyeon memanfaatkan hari itu dengan menjadi kuli di pasar ikan untuk menambah penghasilannya.

Sementara Jeo Min, duduk di teras rumah seraya memeluk tubuh dengan tangannya sendiri . Handuk miliknya ia lilitkan dileher untuk membunuh hawa dingin yang menyapa kulitnya dipagi hari.

“ Jeo Min-ah, kajja !!! cepat mandi, mengapa hanya berdiam diri disana ? “ Teriak Jiyeon seraya menciduk air untuk diberikan pada harabeoji.

“ Eoh, sebentar lagi eonni “ Ucap Jeo Min enggan dan matanya yang masih mengantuk. Tidak berapa lama ia bangkit dan menyeret langkahnya untuk bergabung dengan eonni dan harabeoji “ Eonni, aku ingin air hangat, ini dingin sekali “ Jeo Min memasang wajah memelas.

Jiyeon hanya diam memandang Jeo Min, ia tak memiliki sebuah kompor untuk memasak air hangat. Membiarkan Jeo Min mandi sedikit lebih siang, ia pun tak yakin Jeo Min bisa melakukannya dengan baik.

“ Ini sama sekali tidak dingin, jika kau mandi sambil bernyanyi, ini tidak akan dingin “ Ucap Jiyeon dan meraih tangan Jeo Min untuk dituntun.

“ Jeo Min-ah, ini segar sekali, seperti air yang ditaruh didalam lemari es….segarrrrr “

Glekkk

“ Harabeoji !!! “ Teriak Jiyeon seraya mengambil alih gayung dari tangan harabeoji “ Ini tidak boleh harabeoji minum sembarangan, banyak kuman yang ada disana “ Ucap Jiyeon menghentikan harabeoji meminum air dari gayung.

“ Kekekkekeke….harabeoji kau lucu sekali “ Jeo Min tertawa geli melihat wajah harabeoji yang seperti menahan ingin muntah ketika Jiyeon mengatakan ada banyak kuman didalamnya.

Srekkkkk

Ketiganya menoleh ke sumber suara ketika bunyi pintu digeser seseorang.

“ Paman hantu ??? “ Ucap Jeo Min dan harabeoji serempak.

Yang disapa hanya menatap sekilas tanpa senyuman, dan melangkah acuh ke arah pompa air, tempat ketiganya sedang beraktivitas.

“ Paman hantu mengapa kau ada disini ? “ Tanya Jeo Min raut wajahnya berubah senang.

Mata Jaejoong tak sengaja bertemu dengan mata Jiyeon yang tak berkedip seakan heran melihatnya sebelum akhirnya ia melirik tak minat ke arah Jeo Min kembali.

“ Bukankah hak ku untuk berada dimanapun yang ku mau ? “ Jawabnya sinis lalu mulai memompa air untuk diisi kedalam baknya.

Jiyeon tak bersuara untuk menanggapi kalimat sinis sang dokter pada adiknya, wajahnyapun kini kembali fokus pada Jeo Min dan harabeojinya.

“ Jeo Min-ah, setelah ini temani harabeoji makan, eonni harus segera berangkat, jika tidak nanti akan terlambat “ Titah Jiyeon yang diangguki Jeo Min.

Jaejoong memang tak menatap ketiganya, namun kedua telinganya terpasang untuk mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan.

Jiyeon menciduk kembali air dalam baknya, habis. Jiyeon melirik ke arah Jaejoong yang masih menggunakan pompa air untuk memenuhi baknya. Alhasil Jiyeon harus rela menunggu, ia tak berniat untuk meminjam sebentar air milik si dokter angkuh ataupun meminta ijin menggunakan pompa itu kembali.

“ Jiyeon-ah mataku perih, air…air…cepat beri aku air !!! “ Teriak harabeoji heboh wajahnya masih dipenuhi sabun.

Jiyeon panik, dilihatnya dokter itu masih santai dan nampak acuh, benar-benar orang yang tak bisa bersosialisasi.

“ Paman hantu, bolehkan kami minta air untuk harabeoji sedikit ? “ Akhirnya Jeo Min yang bersuara.

Jaejoong menatap Jeo Min datar.

Jeo Min yang polos mengira tatapan itu pertanda Jaejoong memperbolehkannya, ketika tangan Jeo Min akan menciduk air di bak Jaejoong, pria itu justru mengangkat bak dan memindahkannya jauh dari ketiganya. Lalu seolah tak terjadi apa-apa dengan santai Jaejoong berjongkok dan mulai menyikat giginya, ia benar-benar merasa hanya dirinya yang berada disana.

Gigi Jiyeon bergemeletuk menahan emosi dengan sikap congkak dokter dihadapannya “ Jeo Min-ah lain kali kau tidak boleh meminta apapun pada orang asing, tidak semua orang asing itu baik, arraseo ? “ Sindir Jiyeon membuat Jaejoong menghentikan aktivitas menyikat giginya dan melirik Jiyeon.

Jiyeon sadar Jaejoong melirik tak suka padanya “ Kajja !! sudah selesai “ Seperti Jaejoong yang acuh, Jiyeonpun melakukan hal yang sama.

“ Eonni akan cepat kembali, jangan main diluar, didalam saja bersama harabeoji eoh “ Ucap Jiyeon mengusap lembut pipi Jeo Min dan menciumnya penuh rasa sayang.

“ Jiyeon-ah, aku sudah lama tidak makan choco pie, bolehkan hari ini aku mendapatkannya ? “Ucap harabeoji takut-takut.

Ingin mengatakan tidak, rasanya sangat tidak tega. Jiyeonpun tersenyum dan mengangguk “ Aku akan membelikannya untuk harabeoji “

“ Gomawo Jiyeon-ah “ Wajah harabaeoji terlihat berseri – seri.

“ Eonni annyeong !!!! “

“ Jiyeon-ah hati-hati !!! “

Jiyeon melambaikan tangan sebelum meninggalkan rumah, kemudian berbalik untuk memulai langkah mencari rejeki dipagi hari, sebelum melewati pagar ia melirik tempat Jaejoong tinggal, pintunya tertutup. Jiyeon sebenarnya sangat penasaran apa tujuan dokter itu menyewa rumah disampingnya, bukankah pria itu sangat sinis pada keluarganya.

“ Eoh Jiyeon-ssi ! “ Panggil seorang wanita tak lain adalah pemilik rumah.

Wajah Jiyeon sontak berubah khawatir, ia sudah terlambat dua hari untuk membayar sewa rumah. Setelah pulang dari pasar ikan nanti, ia yakin baru bisa membayarnya. Sial sekali justru ia bertemu sang empunya rumah sepagi ini.

“ Eoh ahjumma annyeonghaseyo “ Jiyeon membungkuk hormat.

“ Annyeonghaseyo…..kau mau kemana ? “ Tanya pemilik rumah ramah tak biasanya.

Jiyeon sempat terbengong sejenak, sebelum akhirnya “ Eohh, ak-ku, aku baru akan kerumah ahjumma untuk meminta keringanan hari ini saja, aku belum…” Ucap Jiyeon sedikit berbohong.

“ Aigoo, apa yang kau bicarakan !! “ Ucap ahjumma menepuk lembut pundak Jiyeon “ Aku lupa, kau juga harus memegang ini “ Ahjumma menyodorkan sebuah kertas yang dilipa kepada Jiyeon.

Jiyeon menerima pemberiannya dengan hati bertanya-tanya, ketika ia membuka lipatannya “ Ahjumma, ini….”

“ Nde ini kwitansi pembayaran untuk beberapa bulan kedepan, tuan it….”

“ Ehem…”

Seseorang berdeham menyela pembicaraan Jiyeon dan ahjumma pemilik rumah. Jiyeon menoleh dan mendapati Jaejoong sedang duduk seraya mengikat kencang tali sepatunya. Jiyeon menatapnya cukup lama, baru kali ini ia melihat dokter itu memakai baju sesantai itu, hanya sebuah t-shirt dan training yang menutupi tubuh atletisnya. Biasanya pria itu selalu memakai kemeja dipadukan celana kain, layaknya seorang pria yang berprofesi kantoran. Tentu saja Jaejoong adalah seorang dokter yang terbiasa rapi dan berseragam resmi. Sepertinya dokter itu akan melakukan lari pagi.

Sementara ahjumma langsung menutup rapat mulutnya, jika Jaejoong tak ada mungkin saja mulutnya sudah mengatakan yang tidak-tidak, mengingkari janjinya pada Jaejoong untuk tak bercerita pada siapapun tentang apa yang dilakukan, ia benar-benar lupa.

Sepatunya sudah terikat sempurna, Jaejoong bangkit dan merentangkan kedua tangan seraya mencoba menghirup udara segar, kemudian dengan santai melewati tubuh Jiyeon dan ahjumma yang wajahnya menunduk takut.

“ Ahjumma, ada apa ? “ Tanya Jiyeon heran dengan sikap ahjumma.

“ Eoh gwenchana, Jiyeon-ssi aku permisi “ Ucap ahjumma dan langsung berlalu.

Jiyeon masih memandang heran ahjumma yang tiba-tiba berlalu tanpa menyelesaikan pembicaraannya tadi, setelahnya beralih memandang Jaejoong yang sudah berlari kecil keluar pagar. Teringat sesuatu, Jiyeon bergegas pergi dan mencoba menyusul Jaejoong.

“ Dokter !! “ Panggil Jiyeon pada Jaejoong yang sedang berlari santai.

Jaejoong memanfaatkan earphone yang terpasang ditelinga untuk mengabaikan Jiyeon. Ia mendengarnya, namun ia terus berlari dan tak sedikitpun menoleh.

“ Pria ini !! “ Geram Jiyeon dan menambah kecepatannya, ia penasaran akan satu hal. Jika tidak, ia tidak akan mengejar pria sinis ini.

“ Dokter !! “ Panggil Jiyeon lagi, kini ia berada tepat disebelah Jaejoong.

Jaejoong melirik dari ekor matanya, namun kembali menatap lurus kedepan. Seperti biasa mengacuhkan Jiyeon. Tidak, bukan hanya Jiyeon ia rasa, tapi semua orang-orang yang berada dekat dengannya.

Karena diabaikan Jiyeon mempercepat larinya, dan memotong langkah Jaejoong, membuat hampir saja tubuh pria itu menabraknya.

Mata Jaejoong melotot marah, ia merasa gadis ini berubah menjadi seseorang yang begitu mengganggu dengan sifat ingin tahunya itu.

“ Maaf, aku hanya ingin bertanya sesuatu “ Ucap Jiyeon gugup, sebenarnya ia ragu apakah pertanyaannya ini ada hubungannya dengan sang dokter, tapi ia rasa tak salah untuk mencoba menanyakannya.

“ Mwo ? “ Tanya Jaejoong melepaskan earphone kasar dan dengan wajah sedikit kesal.

Melihat Jaejoong yang seperti itu membuat nyali Jiyeon sedikit ciut, untuk beberapa detik mulutnya terkunci rapat, pertanyaan yang hendak ia tanyakan seperti hilang entah kemana.

“ Apa kau hanya ingin menemaniku lari pagi ? “ Tanya Jaejoong akhirnya karena melihat Jiyeon yang masih diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri.

“ Ahniyo…..” Jawab Jiyeon dengan menggerakkan tangannya “ Eum…aku hanya ingin bertanya….kemarin sore aku menemukan kardus besar didepan pintu rumahku, dan pagi ini aku mendapat kwitansi yang menyatakan rumah yang kusewa telah dibayar. Apa….itu semua ada hubungannya dengan dokter ? “ Tanya Jiyeon dengan wajah berharap mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Jaejoong terdiam, bingung akan menjawab apa.

“ Kami disini tidak memiliki sanak saudara, jadi rasanya tidak mungkin ada pemberian seperti itu. Dan Jeo Min juga bilang, kemarin dokter membantunya melawan seorang ahjumma yang memukulnya karena tuduhan mencuri, tapi sebenarnya Jeo Min dan harabeoji….”

“ Mengapa kau mengira aku yang melakukannya ? “ Tanya Jaejoong memotong pembicaraan Jiyeon.

Jiyeon terdiam, dalam hatinya ia sangat kesal, mengapa dokter ini tak pernah berbicara sedikit lebih baik pada oranglain. Bagaimana orangtua dan para gurunya mengajar, atau ilmu tinggi apa yang sebenarnya dokter ini serap hingga sikap dan kata-katanya membuat orang merasa tak nyaman bahkan sakit hati.

“ Aku hanya bertanya, jika memang bukan kau, akan ku coba untuk mencari siapa sebenarnya orang itu, apa niat sebenarnya pada keluargaku ? “ Ucap Jiyeon dengan nada jengkel.

“ Terserah padamu “ Ucap Jaejoong memasang earphonenya kembali dan meninggalkan Jiyeon yang nafasnya memburu, begitu saja.

Jiyeon mengcengkeram jemarinya kuat, awalnya ia memiliki pikiran yang baik dengan kepindahan dokter itu disamping rumahnya. Ia kira dokter itu merasa bersalah dan memikirkan kembali permintaannya untuk membantu kesembuhan Jeo Min, tapi melihat sikapnya yang selalu sinis, segala pikiran baiknya menguap.

Dokter angkuh itu tetaplah seseorang yang angkuh, yang senang berkata menyakitkan orang lain, tak peduli yang dihadapinya seorang yeoja, kakek tua ataupun anak kecil. Sifat yang tak masuk akal dimiliki seorang dokter. Tak berperikemanusian dan bertolak belakang dengan kode etik seorang dokter.

Kyunghee University – Halaman belakang kampus,

Myungsoo asik tertidur diatas rumput halaman belakang kampus, tempat favoritnya jika ia melarikan diri dari kelas. Jam pelajaran Ms Hong, ia malas mengikutinya. Dosen yang tak pernah menghargai bakatnya, Myungsoo malas berhadapan dengannya.

Suara merdu seseorang terdengar dikeramaian, yang Myungsoo tahu itu adalah kelas A yang sedang berlatih. Seandainya Ms Hong memiliki konsep belajar yang berbeda seperti dosen kelas A, mungkin Myungsoo akan setia hadir, meski tak menyukai sosoknya.

Kelas A memang memiliki cara yang berbeda ketika belajar, seperti sekarang mereka sedang mengadakan kompetisi mencari yang terbaik dari kelas A di outdoor. Tiba-tiba aa teringat dengan yeoja yang semalam diantarnya, banyak orang-orang yang mengatakan bakatnya luar biasa, namun Myungsoo sendiri belum pernah menyaksikannya langsung. Myungsoo bangkit dan ingin membuktikan cerita orang-orang, terlebih yeoja itu adalah saingan terberatnya dikompetisi kampus nanti.

Benar saja, Myungsoo bahkan tak sedikitpun berkedip atau berniat beranjak dari sana melihat Suzy yang sedang tampil. Suranya begitu indah hingga tak sadar Myungsoo sedikit merinding dibuatnya. Daebak !!! kata itu yang langsung diucapkan hati Myungsoo melihat penampilan Suzy.

“ Dia bukan saingan yang mudah “ Ucapnya.

Sementara,

Sejak awal kedatangan Myungsoo, Suzy sudah melihatnya. Myungsoo yang berbeda dengan kebanyakan mahasiswa lainnya tentu saja mudah menarik perhatiannya. Dengan penampilan serba hitam, tas punggung dan gitar yang selalu ia bawa, Suzy benar-benar menyukai gaya Kim Myungsoo.

Dengan segenap kemampuan, Suzy menyanyikan lagu Only Hope milik Mandy Moore dengan penuh penghayatan, ia menghadirkan sosok Myungsoo untuk meresapi lagunya. Suzy menyanyikannya spesial untuk pria pujaannya itu, tapi tak menginginkan Myungsoo hanya harapan untuknya.

Hwanghee – Pematang Sawah,

Hamparan padi yang menguning ditambah sorot sinar matahari sore berwarna jingga membuat pemandangan berhektar-hektar sawah di Hwanghee begitu indah berkilau, layaknya emas yang bertebaran. Segerembolan petani nampak begitu semangat menuai padi untuk dirubahnya menjadi beras dan gabah yang laik dijual. Tawa canda mereka beriringan dengan cuitan burung-burung yang kadang hinggap diatas tumpukan padi dan memakannya.

Halmeoni Kang, pemilik beberapa hektar sawah mondar-mandir mengawasi pegawainya dengan kipas yang selalu ia bawa ditangannya. Meski terkenal sangat cerewet, namun sangat ringan tangan jika membantu orang lain yang kesulitan. Ia tak melarang dan bersikap acuh melihat pegawainya berbincang ketika bekerja, asal tangan mereka cekatan dan target yang ditetapkan untuk masing-masing petani tercapai, ia tidak mempermasalahkannya.

Tiba-tiba perbincangan beberapa pegawai menarik perhatiannya , halmeoni Kang memasang telinga lekat-lekat mendengar obrolan seru beberapa pegawainya. Dahinya mengernyit dan mencoba menebak siapa yang sedang dibicarakan.

“ Benarkah mereka pencuri ? “

“ Iya, aku yang mengalaminya sendiri, hati-hatilah menjaga rumah, mereka memang nampak sangat polos, tapi jangan percaya begitu saja. Dan kalian tahu, tidak hanya kakek dan cucu itu saja, ada seorang pria yang berpura-pura menjadi malaikat penolong untuk menyelamatkan mereka. Aku tahu sekali mereka satu kelompok, mungkin itu modusnya “

“ Tunggu !! apakah pria itu sangat tampan, dan bersorot mata tajam ? “

“ Iya, benar “

“ Aigo, mereka memang menyewa rumahku, maksudku anak kecil, seorang kakek dan yeoja tanggung itu menyewa dirumahku, dan pria yang kau sebut tadi menyewa setelah sebulan ketiganya tinggal “

“ Kau tahu mereka berasal darimana ? “

“ Aku tidak tahu, tapi sepertinya yeoja, anak kecil dan kakeknya itu perantauan “

Halmeoni Kang seperti mengenal siapa yang sedang bicarakan. Tidak salah yang dibicarakan adalah ketiga orang yang pernah datang dan mengaku sebagai cucu-cucunya, tapi untuk apa mereka masih disini ? Tiba-tiba halmeoni Kang merasa cemas, ia takut jika salah satu dari anak tertua ataupun anak kecil itu mengaku-aku jika ia adalah neneknya akan mencemarkan nama baiknya. Apa yang harus ia lakukan ?

“ Ehem….Yya !!! cepat hari sudah malam dan masih banyak padi yang belum selesai untuk kalian tuai “ Ucap Halmeoni Kang menghentikan pembicaraan mereka.

Para pegawainya menghentikan pembicaraan dan saling menatap, tak biasanya halmeoni Kang menghardik mereka.

Halmeoni segera bersiap kembali kerumah, ia harus segera memberitahu Won Sook tentang hal ini. Mereka tidak boleh berada disini, jika hanya akan membuat keluarganya malu.

Rumah Jaejoong,

“ Paman hantu ! “

Jaejoong menghentikan aktivitas memeriksa pesan diponselnya, ketika menoleh ia mendapati Jeo Min sedang menatapnya dengan memasang wajah serius. Jaejoong memasukkan ponsel kesaku celananya.

Jeo Min nampak ragu, ia terus menatap Jaejoong berharap ada perubahan dari raut wajah pria yang ia panggil sebagai paman hantu, namun tetap sama, menyeramkan seperti julukannya. Jeo Min tak memiliki pilihan lain selain harus meminta tolong pada paman hantu “ Aku….ingin meminta bantuan paman hantu, ini sangat penting “ Ucap Jeo Min tiba-tiba menyatukan dua tangannya memohon.

Jaejoong tak mengerti, otaknya mencoba menebak apa yang diinginkan yeoja kecil dihadapannya ini dengan gaya memohonnya seperti itu “ Mworagooo ? “ Suara kencang Jaejoong membuat Jeo Min semakin takut.

“ Eonni, sudah sesore ini…..ia belum pulang ” Ucap Jeo Min dengan wajah meringis.

“ Lalu ? “ Tanya Jaejoong mengernyitkan dahi masih belum berhasil menangkap maksud Jeo Min.

“ Harabeoji…..” Gantung Jeo Min, kepalanya menunduk dengan kesepuluh jari yang ia mainkan cemas.

Jaejoong masih menunggu anak kecil dihadapannya ini mengatakan sesuatu.

“ Maukah…..paman hantu….. membantu harabeoji….? “ Ucap Jeo Min ragu.

Jemari Jaejoong mulai mencengkeram, sifat tak sabarannya muncul “ Katakanlah !! “ Geramnya.

Jeo Min kembali berjengkit kaget, wajahnya benar-benar meringis takut “ Paman hantu !! Bantu harabeoji membersihkan tubuhnya nde, harabeoji….ia baru saja buang air besar, aku tidak bisa membantunya “

“ Mwooooo ???? “ Wajah Jaejoong berubah terkejut.

Jiyeon terlambat menghindar, kini wanita itu sudah berdiri dihadapannya. Semalaman ia tak tidur memikirkannya, dan akhirnya memutuskan jikapun ia harus berada di Kyunghee, itu hanya akan terjadi atas jerih payahnya sendiri. Ia miskin, tapi tak mau jika orang-orang mengasihaninya. Buat Jiyeon keberhasilan dan kegagalan hanya masalah waktu, jadi tak perlu oranglain mengasihaninya.

“ Mengapa kau begitu menginginkanku berada disana dan menjadi muridmu ? apa ada maksud lain ? jika benar katakan saja sejak awal, agar aku tak berpikiran yang macam-macam tentangmu “ Ucap Jiyeon.

Ms Hong tersenyum, ia memang berniat menjadikan yeoja ini satu kelas dengan muridnya yang sombong dan menciptakan persaingan diantara mereka. Dibandingkan Bae Suzy, gadis ini memang berada dibawahnya, namun berada dalam satu kelas dengan sikap dingin yang tak jauh beda, sepertinya akan sangat menarik. Keduanya pasti akan terlibat persaingan dan tidak ada satupun dari mereka yang mau mengalah. Ia akan menjadikan yeoja ini anak emas untuk melecut semangat muridnya.

“ Jangan pikirkan apapun selain kau masuk ke kelasku besok, pukul 10.00 pagi dan jangan terlambat “ Ucap Ms Hong menyilangkan tangan didada, ia tak tak lagi mau peduli dengan pertanyaan Jiyeon.

“ Tapi…..”

“ Jika kau seorang pemberani, maka kau akan datang, jika kau takut !! kau tahu julukan apa yang pantas untuk menyebutnya “ Ms Hong pergi setelah ia menjadi diktator untuk mengatur kehidupan seorang Park Jiyeon “ Satu lagi, ini adalah hari terakhirmu melakukan pertunjukan dijalan, Kyunghee melarang keras mahasiswanya melakukan hal ini “

Jiyeon sukses melongo, tanpa memiliki lagi kesempatan untuk menolak “ Sebenarnya apa maksudnya ? “ Jiyeon masih tak menemukan jawaban. Wajahnya jelas terlihat seperti orang bingung. Haruskah ia menuruti perintah wanita itu hanya karena tidak mau disebut sebagai pecundang ? lalu bagaimana dengan kehidupan adik dan kakeknya yang membutuhkan biaya jika ia tidak boleh mencari uang dengan cara seperti ini.

Rumah Kel. Park,

“ Paman hantu kamsahamnida !! “

“ Terimakasih paman hantu “

Jaejoong mengelap tangannya dengan tisue yang ia bawa sendiri dari rumah. Wajah dingin yang dimilikinya terlihat tak bersahabat karena Jaejoong menekuknya. Semakin sebal karena dua orang cucu dan kakek ini selalu memperlihatkan cengiran dihadapannya. Ia memang seorang dokter yang tidak boleh merasa jijik dengan apapun, namun tentu saja dirumah sakit ada seorang suster yang bisa membantunya untuk melakukan tugas menyebalkan ini. Dalam hati ia sedikit kesal dengan yeoja yang seharusnya melakukan apa yang baru saja ia lakukan. Park Jiyeon, yeoja itu ketika ia pergi keluar dan meninggalkan dongsaeng dan harabeoji, apa tidak memikirkan tentang hal ini. Jika terus seperti ini, bisa-bisa ia jadi seorang babysitter untuk dua orang dihadapannya ini.

“ Jeo Min-ah, aku bosan bermain disini, kita bermain dirumah paman hantu saja…..kajja!! “ Keluh harabeoji menarik-narik tangan Jeo Min.

Mata Jaejoong membulat sempurna, ia tak akan membiarkan harinya berakhir dengan kedua orang ini yang akan menjadi beban untuknya. Jaejoong pura-pura tak mendengar, ia masih sibuk dengan tisue dan tangannya.

“ Rumah paman hantu ? “ Jeo Min melirik kearah Jaejoong kemudian tubuhnya bergidik ngeri “ Sebentar lagi eonni pulang, bagaimana kalau……” Jeo Min menggaruk kepalanya yang tak gatal, mencari cara untuk mengalihkan perhatian harabeoji untuk tidak memaksa dirinya mengunjungi rumah paman hantu.

Jaejoong masih berpura-pura tak mendengar. Tak lama, sebuah kardus menarik perhatiannya. Masih terbungkus rapi seperti kemarin ia menaruhnya di depan pintu.

“ Kita bermain backgammon saja ? otthe ? “ Teriak Jeo Min penuh semangat.

Yang ditawari menunduk lemah, wajahnya berubah lesu.

“ Harabeoji, ini sudah sore, sebentar lagi eonni pulang, lagipula paman hantu ada disini, kita bermain saja disini dengan paman hantu !!! “ Ucap Jeo Min, namun nama yang diusulkan masih serius menatap kardus disudut ruangan.

“ Paman hantu “ Panggil Jeo Min menarik-narik ujung pakaian Jaejoong “ Ada seseorang yang tiba-tiba menaruh itu di rumah kami, tapi….karena tak tahu siapa pengirimnya eonni melarang kami untuk membukanya, itu sebuah televisi kan paman hantu ? huh padahal kami ingin sekali menonton, kami bosan hanya bermain-main “ Ucap Jeo Min menunduk sedih.

“ Iya, kami ingin sekali “ Beo harabeoji yang juga menunduk sedih.

Tanpa berkata apa-apa kaki Jaejoong sudah melangkah dan menarik kardus itu dari sudut ruangan.

“ Paman hantu, apa yang kau lakukan ? “ Tanya Jeo Min heran.

“ Paman hantu, jangan nanti Jiyeon marah “ Cegah harabeoji.

Jaejoong tak peduli, ia mengangkat televisi dari dalam kardus. Tak ada meja untuk menyanggahnya. Jaejoong meletakkan begitu saja televisi di dekat stop contact, mulai mengatur-atur agar televisi itu dapat dinikmati. Ia tak mau pemberiannya sia-sia, meskipun ia tak jujur mengatakan jika ia lah orang yang memberikan televisi ini.

Entah mengapa Jiyeon tak segera masuk kedalam rumah, dan justru hanya berdiri tegak didepan rumah yang Jaejoong sewa. Rumah Jaejoong nampak sangat terang berbeda dengan rumahnya, namun tetap sunyi seperti tak ada penghuni didalamnya. Matanya berkaca-kaca seperti ingin menumpahkan buliran bening dari sana.

Ada perasaan yang membuatnya sangat gembira. Jiyeon merasa Tuhan hadir kembali di kehidupannya. Setelah kepergian orangtuanya, nyaris ia tak punya siapapun yang kelak bisa melindungi dirinya dan keluarga tersisanya. Dengan keadaan kehidupannya yang lambat laun membaik – terlebih dengan tawaran Ms Hong, Jiyeon seperti memiliki kembali semangat untuk menjadi seseorang yang berhasil. Dan dokter Jaejoong yang sinis, ia tak peduli. Pria itu ada disekitarnya, dan Jiyeon yakin ia akan bisa meminta bantuannya kelak.

“ Kamsahamnida, untuk memilih kami sebagai orang yang berada disekitarmu, jeongmal kamsahamnida “

Tes

Jatuh, akhirnya airmata itu jatuh membasahi pipinya. Bukan kesedihan, melainkan kebahagian. Mungkin inilah balasan Tuhan yang datang pada keluarganya, atas semua cobaan yang berusaha Jiyeon, Jeo Min dan harabeoji jalani tanpa mengeluh, Jiyeon tersenyum dalam tangisnya.

“ Jiyeon-ah hwaiting !!! “ Ucapnya mengangkat tangan menyemangati dirinya sendiri.

Kemudian Jiyeon berbalik, dan melangkah menuju rumahnya dengan perasaan yang sangat nyaman.

“ Jeo Min-ah, harabeoji aku pulang !!!! “

Tak ada sambutan seperti biasa dari Jeo Min dan harabeoji, Jiyeon menarik senyumnya dan melihat heran keadaan rumah yang sangat lengang tak seperti biasanya. Ia masih pulang di jam yang sama seperti hari-hari lainnya, ketika seharusnya Jeo Min dan harabeoji masih bermain.

Kriettt

Jiyeon membuka pintu rumah, terkejut mendapati televisi yang menyala. Dan semakin terkejut ketika pandangannya jatuh tepat pada tiga orang yang sudah tergeletak didepan televisi. Jeo Min, harabeoji dan,

“ Dokter ? “

Jaejoong ada disana. Tertidur didepan televisi yang menyala bersama adik dan kakeknya. Jiyeon berdiri mematung. Tidak mengerti apa yang terjadi dan mengapa dokter itu bisa tidur dirumahnya ?

Tik….tok….tik…tok

Jiyeon mengangkat kepala yang ia tenggelamkan pada kedua lututnya. Sudah tengah malam, tapi tak ada tanda-tanda dokter ini bangun dari tidurnya, Jiyeon tak mungkin membiarkannya berada disini hingga pagi. Tubuhnya sangat lelah dan ia ingin beristirahat.

Rumah yang ia sewa hanya terdiri dari satu ruangan, meski luas tidak mungkin ia tidur diruangan yang sama dengan orang asing yang seratus persen dalam keadaan sadar. Jiyeon resah seraya berkali-kali menenggelamkan kepala lalu mengangkatnya kembali dari lututnya. Tak tahan ia merangkak mendekat pada sang dokter. Tangannya bergerak untuk membangunkan pria itu, namun kemudian terhenti di udara.

“ Dia sangat lelap sekali “ Lirih Jiyeon melihat wajah tenang Jaejoong yang tertidur, tak tega untuk mengganggunya.

Jiyeon memejamkan matanya, mengambil nafas perlahan, setelah mengumpulkan keberanian,

“ Dok…”

“ Kalian….”

Deg,

Jiyeon menutup rapat mulutnya yang hendak membangunkan Jaejoong. Dokter itu berbicara padanya dengan mata yang masih terpejam.

“ Bagaimana seharusnya aku berbuat eoh ? apa yang harus aku lakukan untuk kalian ? “

Alis Jiyeon bertaut bingung mendengar racauan dokter yang entah apa maksudnya “ Apa…dokter….mengigau ? “ Tanya Jiyeon ragu menatap Jaejoong lebih lekat.

Seketika Jiyeon menutup rapat mulut dengan tangannya, melihat tetesan bening keluar dari sudut mata Jaejoong.

“ Dok-ter….kau menangis ? “ Tanya Jiyeon hati-hati.

Tak ada jawaban dari bibir Jaejoong, ia menangis dalam tidurnya. Jiyeon menggigit kuku-kuku jarinya cemas. Ini kedua kalinya Jiyeon melihat dokter ini menangis, setelah kematian istrinya didepan matanya. Jiyeon kembali melihat dokter angkuh ini begitu menyedihkan. Sudah dua bulan berlalu, dan dokter ini masih sangat terpukul. Wanita itu, Jaejoong pasti sangat mencintainya hingga dirinya seperti ini.

Malam semakin larut, suara-suara binatang kecil yang bersembunyi dibalik habitatnya terdengar semakin jelas, bersahut-sahutan, hingga sepertinya hanya ada kehidupan mereka.

Jaejoong membuka perlahan matanya, mencoba mengumpulkan cahaya yang berpendar dengan kornea matanya. Samar-samar nampak wajah seseorang berada tepat dihadapannya, Jaejoong terkejut dan sedikit menarik kepalanya mundur setelah sadar siapa yang ada dihadapannya.

Jaejoong sontak duduk terbangun, yeoja ini tidur berhadapan dengannya, begitu dekat hingga membuat dirinya tak nyaman. Jaejoong buru-buru melihat jam ditangannya, sudah hampir pagi. Berarti sudah selama berjam-jam ia tidur seperti ini, dan yeoja ini ? Sejak kapan posisinya seperti itu? Pandangan Jaejoong berkeliling. Jeo Min dan harabeoji juga tidur tak jauh disekitarnya. Sial, ia baru ingat jika ia yang memilih untuk tertidur ditempat ini.

Jaejoong segera berdiri “ Aarrgghhkk “ Erangnya, merasakan tubuhnya begitu sakit. Lagi-lagi ia belum terbiasa tidur dilantai tanpa alas apapun.

Jaejoong melangkah pulang, tangannya tertahan digagang pintu. Ia kembali menoleh, menatap satu-persatu wajah yang tertidur pulas, tak sadar matanya kembali terlihat lemah.

“ Kalian….tidak boleh menyerah, jika tak bahagia di kehidupan yang sekarang…..berbahagialah di kehidupan mendatang “ Ucapnya tanpa ada telinga lain yang mendengar.

Jaejoong mencoba menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. Tak berhasil, justru pandangannya menjadi nampak samar karena terhalang airmata yang menggenang. Entah sejak kapan ia menjadi pria cengeng dan mudah sekali ingin menangis. Dari balik wajahnya yang dingin tersimpan harapan yang begitu menyejukkan, Jaejoong sangat berharap ketiganya tak hanya tenang ketika tertidur, namun juga ketika mereka terbangun, dan mendapati hidup tak seperti yang mereka inginkan.

“ Dokter “

Jaejoong tertegun, yeoja itu terbangun dan memanggilnya.

Jaejoong dan Jiyeon duduk saling berjauhan diteras rumahnya. Entah siapa yang berinisiatif, nyatanya mereka sudah berada disana bersama, meski hanya diam tak ada pembicaraan dari keduanya. Jiyeon memainkan kakinya yang tergantung karena tinggi teras rumahnya. Sesekali ia menoleh ke arah Jaejoong, namun pria itu masih asik dengan rokok ditangannya. Jiyeon baru tahu ada seorang dokter yang merokok. Tapi bibir Jaejoong yang merekah merah, ia tahu dokter ini hanya sesekali saja atau bahkan adalah perokok dadakan.

“ Uhuk-uhuk “ Jiyeon mengusir asap rokok yang tercium dihidungnya.

Menyadari itu, Jaejoong kemudian mematikan rokok ditangan dan membuangnya.

“ Kamsahamnida “ Ucap Jiyeon pelan.

Jaejoong sebenarnya ingin sekali beristirahat, namun entah mengapa ia malah berada disini dengan yeoja ini. Meski suasana yang terjadi terasa aneh, namun nyatanya kakinya tak beranjak untuk pergi.

“ Mulai besok, aku akan menjadi seorang mahasiswa “ Ucapan Jiyeon berhasil membuat Jaejoong kali ini menoleh padanya.

Wajah Jaejoong jelas memperlihatkan keherananan. Yeoja ini, mengapa bersedia menceritakan tentang kehidupannya pada Jaejoong. Padahal ia selalu bersikap sinis dan acuh tentang apapun. Mengingat umur yeoja ini, Jaejoong pun mengerti. Gadis seumurnya pasti ingin selalu bercerita tentang apapun pada orang yang lebih dewasa. Tidak ada orangtua, dan hanya dirinya yang ia kenal dan berada didekatnya. Tapi, Jaejoong tak tahu harus menanggapinya bagaimana, ia hanya memutuskan hanya mendengarnya.

“ Seseorang menawarkanku untuk menjadi muridnya, awalnya aku tidak mau, tapi wanita baik itu memaksaku, ia bilang bakatku terlalu sayang untuk diabaikan “ Ucap Jiyeon wajahnya berubah berseri.

Jaejoong mengikuti sosok Jiyeon yang tiba-tiba bangkit dan meninggalkannya, namun tak berapa lama yeoja itu sudah kembali dengan sebuah gitar kecil ditangannya.

Jiyeon tersenyum penuh arti, namun yang diberi senyum hanya menatapnya datar. Ia tak peduli, wajah yang seperti itu sekarang tak membuatnya benci. Dokter ini telah membantunya menjaga Jeo Min dan harabeoji, bahkan rela tertidur menunggunya. Dan juga masih melekat didalam ingatannya Jaejoong yang menangis dalam tidurnya tadi. Jiyeon, ia ingin menghibur Jaejoong,

“ Aku akan menyanyikan sebuah lagu untuk dokter “ Ucap Jiyeon tak perlu menunggu persetujuan dari Jaejoong ia mulai menggerakkan jemarinya untuk menyanyikan sebuah lagu dihadapan Jaejoong.

Tangshinun paboneyo
Jeongmal gomapseumnida
Na hanabakke morugo
Akkimobshi ta chun saram

Tangshinun chonsaneyo
Ttaerol him-deul-go chichiltende
Amugotdo bolkodomnun saramul
Pyonhamobshi midochuneyo

Isanghajyo kudaen nunmul-sae-mi omnapwayo
Apado nalwi-hyae nurusojuneyu
Kudae gyoteso

Nan haengbokhaeso uneyo
Mok kkute cha-in-nun ku mal
Jeongmal sarang-hamnida
Pyo-hyon-do motharun mon-nan nae sarang
Ijesoya marhaneyu nan
Kudae-isso sarakajyu

( OST Thank you – Gomapseumnida )

Tanpa sadar hati Jaejoong bergetar haru mendengar lagu yang Jiyeon nyanyikan. Lirik yang menyentuh, alunan musik yang menyentuh dan terlebih wajah cantik yeoja itu begitu sempurna dan menyatu dengan lagu yang ia nyanyikan. Jaejoong teringat adiknya, Kim Myungsoo yang juga pandai dalam bernyanyi, Jaejoong tersenyum, dan Jiyeon melihatnya.

Jiyeon melihat pertama kali Jaejoong tersenyum padanya, dokter itu terlihat lebih baik ketika tersenyum. Jiyeon menghela nafas lega, dan semakin bersemangat melantunkan lagunya, ia ingin melihat senyum lebih lebar dari dokter itu lagi.

Next Day,

Jiyeon tak bisa memejamkan matanya karena memikirkan hari ini yang akan ia lalui. Jeo Min sangat gembira mengetahui jika eonninya akan menjadi mahasiswa Kyunghee, dan berkesempatan menjadi seorang idol yang ia impikan. Ia bahkan berjanji untuk bisa mandi sendiri agar Jiyeon tidak lagi lelah mengurusnya.

Harabeoji yang tak mengertipun memberikan semangat untuk cucunya, ia memeluk Jiyeon begitu erat hingga membuat Jiyeon menangis haru.

Dan satu orang lagi, dari balik jendelanya ia menatap Jiyeon tersenyum, meski ada sesuatu buruk yang belum gadis itu ketahui, kebahagian hari ini terasa lebih penting untuk gadis itu dapatkan.

Ia akan tetap disana, berada disisi ketiganya, meski caranya mungkin tak sebaik niatnya untuk melindungi keluarga Park.

Kyunghee University – Koridor kampus,

Tap

Tap

Tap

Jiyeon melangkah diiringi tatapan heran hampir semua penghuni Kyunghee. Ada yang hanya mengernyit heran, berbisik-bisik menatap aneh, bahkan ada yang terang-terangan mengatakan penampilannya tak pantas disebut sebagai mahasiswa. Jiyeon memang tak banyak membawa pakaian ketika memutuskan untuk meninggalkan rumahnya, tapi yang ia pakai sekarang adalah pakaian paling modis dan ia sukai. Eommanya yang membelikannya untuk Jiyeon.

Hoodie yang kebesaran, rok tutu mengembang, stocking hitam dan sepasang suede boots yang dipakainya. Jiyeon pikir itu adalah gaya mahasiswa sekarang, ternyata ia salah. Kyunghee sangat elit dengan mahasiswa dan mahasiswa yang nampak metropolis dan fashionable. Alhasil Jiyeon berhasil membuat kehebohan dihari pertamanya. Jiyeon tak peduli, buatnya pandangan buruk orang lain hanya akan melemahkannya, dan ia tak mau terlihat seperti itu. Jiyeon terus berjalan mencari ruangan Ms’Hong.

“ Kau datang ? “ Ucap seseorang yang tiba-tiba sudah berada di belakang Jiyeon.

Wajah Jiyeon nampak pucat karena terkejut, ia sebenarnya hanya mencoba untuk menerima tawaran wanita ini “ Annyeonghaseyo “ Ucap Jiyeon membungkuk.

Ms Hong membalas dengan menganggukkan kepala, ia melangkah dan menarik lengan Jiyeon untuk dibawanya. Jiyeon terkejut dan akhirnya hanya pasrah mengikuti langkah Ms Hong.

Kyunghee University – Kelas B,

“ Perkenalkan ini Park Jiyeon, dia akan bergabung dan belajar bersama kita, mohon dukungan kalian untuk membantunya “

Tak ada jawaban, semuanya nampak diam dan menatap dari ujung rambut hingga kaki Jiyeon. Meski tak nyaman, Jiyeon berusaha acuh.

“ Kau duduk disana “ Ucap Ms Hong menunjuk bangku kosong yang ada ditengah.

Semua wajah menatap tak percaya, kursi itu memang masih kosong. Tapi hanya di jam ketika Ms Hong mengajar. Pemiliknya pasti akan mengamuk jika kursinya diisi oleh orang lain.

“ Baiklah, bisa kita mulai ? “ Tanya Ms Hong seolah tak menyadari wajah-wajah khawatir murid-muridnya.

Tok…tok…tok

“ Miss, anda dipanggil Rektor “ Ucap seseorang yang baru saja datang.

Ms Hong mengangguk dan meninggalkan kelas membuat suasana menjadi gaduh sepeninggalannya. Semua murid berbisik-bisik bahkan tertawa seraya menatap Jiyeon. Entah apa yang membuatnya sampai seperti itu. Jiyeon mengamati kembali penampilannya, tidak sampai pada tahap yang menggelikan. Jiyeon menghela nafas lelah, sudah ia duga akan seperti ini. Dia tidak berada dilevel yang sama dengan teman-temannya, tapi ia berharap kemampuannya tidak juga jauh dari mereka.

“ Siapa yang menaruh ini dilokerku ? “

Tiba-tiba seseorang muncul dari balik pintu dengan mengangkat tinggi-tinggi sepasang sepatu butut ditangannya. Suasana sepi dalam sekejap dan terarah kompak pada sosok yang sudah bersandar di pintu kelas dengan wajah tengil seperti biasanya.

Namja itu adalah Kim Myungsoo, pemilik kursi yang kini tak lagi kosong. Ia datang di jam Ms’Hong, dosen yang tidak disukainya dan beberapa hari sudah tak lagi ia ikuti kelas wanita itu. Suasanapun berubah mencekam. Merasa tak akan ada yang mengaku mata Myungsoo berkeliling mencari seseorang yang dianggapnya mencurigakan. Tak sengaja matanya bertemu dengan mata yeoja yang juga sangat terkejut menatapnya.

Wajah keduanya sontak berubah, entah apa yang ada dipikiran keduanya. Selama beberapa detik hanya saling berperang tatapan tanpa keluar cacian emosi seperti biasanya. Ingatkan keduanya ketika terakhir mereka bertemu adalah insiden tamparan dahsyat di pipi Myungsoo. Sejak itu, salah satu dari mereka memaksa Tuhan kembali mempertemukan mereka, sementara lainnya berdoa semoga Tuhan tak lagi memepertemukan mereka, dan sekarang ? mulut keduanya terkunci, entah kalimat apa yang mereka ucapkan pada Tuhan , memaki atau berterimakasih ?

Diluar dugaan Jiyeon bangkit dan berjalan ke arah Myungsoo yang tubuhnya justru masih terpaku dan menatapnya dengan penuh kebencian.

“ Itu milikku “ Ucap Jiyeon hendak mengambil sepatu ditangan Myungsoo.

Ia memang belum memiliki loker, hanya saja pintu loker yang terbuka membuat ia beranggapan itu tidak ada pemiliknya. Dengan santai ia menaruh sepatu yang biasa ia pakai untuk melakukan pertunjukkan dijalan.

“ Lain kali jangan menaruh sembarang milikmu ditempat oranglain “ Myungsoo meletakkan sepatu butut itu diatas kepala Jiyeon dan melewati tubuhnya begitu saja.

Jiyeon memejamkan matanya, berusaha sabar dan tak memakai emosi menghadapi namja itu. Perlahan tangannya meraih sepatu butut yang ada dikepalanya. Dan kembali menuju kursinya. Sial, kursi itupun sudah ditempati namja itu. Tak mau ribut, Jiyeon memilih kursi yang cukup jauh dibelakang namja itu.

Myungsoo tersenyum sinis, dalam hatinya bersorak merayakan kemenangan, musuhnya ternyata tak berani macam-macam padanya “ Kesempatan bagus Kim Myungsoo, musuhmu masuk sendiri dalam perangkapmu “ Ucapnya dalam hati.

Hwanghee – Pematang Sawah,

Jeo Min dan harabeoji sedang bermain dipematang sawah, berlari-lari bergabung dengan anak-anak lainnya. Jeo Min mencoba mencari teman, namun karena wajahnya masih asing tak ada satupun yang mendekat padanya. Anak-anak berlari gembira dengan layang-layang ditangan. Sedangkan Jeo Min dan harabeoji berlari bermain kucing dan tikus saling menangkap. Jeo Min bosan kemudian terduduk sedih.

“ Jeo Min-ah, ayo kita bermain lagi “ Rengek harabeoji, namun Jeo Min diam saja dan terus menunduk sedih.

Tiba-tiba teriakan seseorang membuat keduanya menoleh.

“ Hey…dia kenapa ? “

“ Entahlah, Ya Tuhan menyeramkan sekali “

Jeo Min dan harabeoji penasaran dan berlari kearah kerumunan orang. Seorang yeoja kecil sebaya Jeo Min yang tadi menolaknya menggelepar diatas tanah, dengan tubuh kejang-kejang dan mengeluarkan busa dari mulutnya. Jeo Min, harabeoji dan yang lainnya ketakutan.

“ Cepat-cepat panggil orangtuanya !!! “ Teriak beberapa orang.

Namun tak ada satupun yang berlari, melihat tak ada reaksi Jeo Min pun mengambil inisiatif. Ia berlari hendak memanggil orangtua si anak meski ia tak tahu yang mana orangtuanya.

“ Tolong-tolong siapapun tolongggggg…….ada anak yang mengeluarkan busa dari mulutnyaaaaaa !!! “ Teriak Jeo Min heboh diikuti oleh harabeoji.

Jaejoong berjalan santai dengan kantong yang berisi beberapa botol minuman ditangannya. Baru saja ia akan menyalakan rokok dan menghisapnya, telinganya mendengar teriakan heboh anak kecil dan seorang kakek yang berlari kearahnya. Mata Jaejoong memicing untuk melihat jelas siapa mereka “ Jeo Min, harabeoji ? “ Herannya ketika sosok Jeo Min dan harabeoji justru melewatinya dan terus berlari.

Jaejoong menoleh mengikuti kemana keduanya akan berlari, mereka berhenti tepat di tengah-tengah keramaian orang yang sedang menuai padi. Jaejoong tak bisa mendengar jelas apa yang Jeo Min teriakan, namun wajah panik orang-orang dan seorang ahjumma yang berteriak seraya menangis membuatnya semakin penasaran.

Jeo Min menuntun ahjumma yang panik entah kemana, lagi-lagi melewati tubuh Jaejoong yang masih berdiam diri ditempatnya semula. Rasa penasaran membuat akhirnya Jaejoong mengikuti kemana mereka pergi.

Ahjumma itu menangis memeluk anaknya. Ia berteriak kencang namun orang-orang yang mengerumuninya tak mampu berbuat apa-apa. Mereka takut tertular dengan penyakit epilepsi yang menimpan anaknya.

Sementara Jaejoong sedang berperang dengan dirinya sendiri. Ia tak mau mengingkari sumpahnya untuk untuk terjun kembali ke dunia kedokteran. Tapi hanya melihatnya ia pun merasa kesal, begitu banyak orang dan tak ada satupun yang bertindak cepat. Orang-orang disana seperti menonton pertunjukkan gratis “ Arrggkkk “ Jaejoong memekik kesal.

Lagi-lagi Jaejoong mengutuk keberadaan dirinya yang tidak tepat diantara orang-orang yang menyusahkan. Dengan terpaksa ia pun melangkah membelah kerumunan orang-orang “ Semuanya menjauh, jauhkan barang-barang ini dari sini “ Perintah Jaejoong dan melempar barang-barang yang ada disekitar anak itu.

Meski bertanya-tanya siapa sebenarnya Jaejoong, mereka menuruti apa yang diperintahkannya dan kemudian memperhatikan dengan khawatir apa yang Jaejoong lakukan.

Jaejoong membuka resleting pakaian anak itu, membuat longgar pernapasannya. Tangannya dengan sangat hati-hati meraih kepala dan memiringkannya kesisi kanan. Busa yang masih keluarpun dibiarkan saja jatuh ke tanah. Perlahan-lahan tubuh anak itu mulai tenang, warna wajahnya sudah berubah seperti sedia kala. Jaejoong masih membiarkan tubuh anak itu disana, tidak memindahkannya.

Setelah beberapa menit dan memastikan semua baik-baik saja, Jaejoong pun mengangkat tubuh lemah anak itu dan menyerahkannya pada ibunya “ Jangan sampai ia lelah dan terlambat makan, kau juga tidak boleh membiarkan anakmu tanpa penjagaan “ Ucap Jaejoong lebih terlihat memarahi ahjumma dan kemudian pergi begitu saja.

“ Kamsahamnida tuan !! “ Teriak ahjumma itu mulai tenang.

Semua orangpun bertepuk tangan dan merasa lega, termasuk Jeo Min yang kini membusungkan dada bangga dengan kehebatan paman hantu. Tiba-tiba Jeo Min berdiri ditengah-tengah.

“ Siapapun kalian, jika ada yang menderita sakit, segera datang kerumahku, paman hantu akan menyembuhkan kalian, silahkan datang…..silahkan datang “ Ucap Jeo Min dan mendapat tepukan senang harabeoji.

Jiyeon meletakkan topi untuk menampung uang yang dilemparkan pejalan kaki kepadanya, dari dalam tasnya ia mengeluarkan sebuah gitar kecil yang ia bawa kemana-mana. Jiyeon berdiri di tengah-tengah bersiap untuk melantunkan lagu. Kali ini ia memilih lagu yang ceria yang mewakilkan perasaan bahagianya.

Satu-persatu orang melemparkan koin kepadanya, Jiyeon menundukkan sedikit kepala sebagai ucapan terimakasih. Sementara Jari dan bibirnya masih berkombinasi untuk menyanyikan sebuah lagu. Wajah Jiyeon tampak berbeda dari hari biasanya, seolah beban beratnya sudah lepas dari pundaknya. Wajah Jeo Min dan harabeoji terbayang-bayang dikepalanya, membuat ia ingin cepat pulang dan melihat mereka.

Dari kejauhan berdiri seorang pria dengan senyuman mengejek, pria itu berdiri sejak tadi disana dan melihat apa yang Jiyeon lakukan. Tangannya memasukkan sesuatu kedalam saku jaketnya, sesuatu yang bisa melemahkan musuhnya. Ia tersenyum puas dan perlahan kakinya mendekat, ia yakin kemunculannya akan membuat yeoja itu terkejut, dan memohon padanya.

“ Pantas saja kau menghilang begitu cepat dari kampus, rupanya ini ? Tch, baiklah…sekarang rahasiamu ada ditanganku “ Ucapnya dengan senyum kemenangan.

Prok…prok….prok

Jiyeon tersenyum bangga, banyak orang yang berhenti dan menikmati pertunjukkannya. Terlebih ketika semuanya berdecak kagum memujinya. Senyum diwajah Jiyeon sontak menghilang, ketika matanya melihat satu diantara puluhan orang-orang yang menyaksikannya adalah musuhnya. Wajah Jiyeon berubah memucat, ia baru berada di Kyunghee hari ini, dan tidak mau itu menjadi yang terakhir.

Derap langkah kaki Myungsoo seperti dentuman keras didada Jiyeon, Jiyeon sadar tidak akan mudah dirinya menghadapi pria ini. Riwayat Jiyeon akan tamat jika namja ini menyebarkan tentang apa yang dilakukannya disini, menjadi pengamen yang dilarang keras oleh Kyunghee.

“ Kau itu pengamen ya ? “ Ucap Myungsoo mendekati tubuh Jiyeon yang menegang, Myungsoo menyeringai penuh kemenangan melihat sikap Jiyeon yang seperti orang ketakutan “ Ya Tuhan bagaimana reaksi penghuni kampus jika tahu salah satu penghuninya hanyalah seorang pengamen ? menyedihkan, ahhh dan lebih menyedihkan jika para rektor dan dosen tahu kau telah mencemarkan nama baik Kyunghee ? baru sehari disana kau sudah membuat gempar, itu pasti kesalahan yang tak termaafkan “ Oceh Myungsoo semakin memojokkan Jiyeon.

Jiyeon tidak tahu harus berbuat apa, ia merasa kalah dengan posisinya yang sulit seperti ini. Apakah hari ini adalah kemenangan namja ini ? haruskah Jiyeon bersujud dan memohon pada Myungsoo untuk tidak membocorkannya. Tidak, sumpah demi apapun ia tidak ingin melakukan itu dihadaan pria ini.

“ Jangan menggangguku “ Ucap Jiyeon lemah dan menunduk.

Myungsoo menautkan alisnya, dan tersenyum puas melihat Jiyeon seperti tikus yang ketakutan disudut ruangan karena seekor kucing yang menyergapnya “ Aku akan berhenti mengganggumu jika kau mau bersujud dan memohon padaku, tidak sulitkan ? “

Jiyeon benar-benar mengutuk namja yang untuk hal bodoh ia terus mengejarnya. Jiyeon tidak akan melakukannya meski Myungsoo menyeretnya menghadap petinggi Kyunghee “ TIDAK AKAN “ Tekan Jiyeon mendongakkan wajah memberanikan diri menatap Myungsoo.

“ Meskipun aku memiliki ini ? “ Myungsoo mengeluarkan kamera dari saku jaket dan memperlihatkannya pada Jiyeon.

Jiyeon terhenyak, namja ini benar-benar berniat menghancurkan hidupnya. Video itu tentu saja akan benar-benar melemparnya keluar dari Kyunghee. Sekuat tenaga Jiyeon berusaha tenang dan tidak terlihat gentar, namun tubuhnya yang gemetar tak bisa ia sembunyikan.

“ Berikan padaku, kau bukan seorang namja jika melakukannya padaku “ Ucap Jiyeon dengan sorot mata mengancam.

“ Huahhahah……kau pikir aku takut eoh ? memangnya kau siapa ? anak seorang perdana menteri ? “ Myungsoo benar-benar merasa diatas angin melihat ketakutan Jiyeon, yeoja yang sok terlihat kuat.

Jiyeon benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Tidak tahukah namja ini dengan apa yang pernah ia lakukan untuk menyelamatkan hidupnya ketika ia sedang dikejar polisi ? mungkin jika tidak ada dirinya namja inipun sudah tidak lagi ia temui di Kyunghee hari ini, tapi Jiyeon tidak mau menjadi orang yang picik, mengungkit apa yang dia lakukan untuk melemahkan orang lain.

Brughhh

Entah apa yang dipikirkan Jiyeon, ia berlari dan menerjang tubuh Myungsoo hingga pria itu tersungkur. Dengan cepat tangannya mencoba merebut kamera ditangan Myungsoo dan kemudian berniat menghancurkannya.

Myungsoo yang terkejut tak sempat menghindar, namun tangannya masih bisa menyelematkan kameranya “ Yyaaa !!!! jauhkan tubuhmu dariku yeoja sinting !!! “ Teriak Myungsoo menyadari Jiyeon yang berusaha untuk merebut kameranya.

Bagaimanapun Myungsoo adalah seorang namja yang kekuatannya tak bisa ditekuk mudah oleh Jiyeon yang seorang yeoja. Melihat ada kesempatan Myungsoo mengunci tangan Jiyeon dari arah belakang, memperlakukannya seolah-olah Jiyeon adalah seorang penjahat.

“ Kau ini mengapa sulit sekali mulutmu untuk meminta maaf ? “ Kesal Myungsoo tak peduli yeoja itu meringis sakit.

Jiyeon terus berontak berusaha melepaskan dirinya yang diperlakukan kasar oleh Myungsoo. Ingin sekali ia membunuh namja yang membuat senyumnya hari ini terenggut. Jiyeon mengangkat kakinya tinggi dan,

“ Kyaaaaaaaaaaaa!!!!! “

Tubuh Jiyeon terlepas dari Myungsoo yang kini sibuk memegang kakinya, Jiyeon mengerahkan seluruh kekuatannya menginjak sadis kaki Myungsoo “ KAU MENGGANGGU HIDUPKU !!! KAU NAMJA YANG MENYEBALKAN !!!! AKU BENCI DIRIMU !!!!! “ Jiyeon berlari kencang dengan airmatanya yang berderai, bahkan ia meninggalkan gitar kecil dan uang yang baru didapatnya hari ini. Entah mengapa mendapat perlakuan seperti itu membuat Jiyeon merasa sedih dan begitu emosi, ia merasa dirinya dipaksa menjadi gadis liar.

Ia bukanlah gadis seperti itu, ia hanya ingin oranglain tak mengganggunya, tak mengganggunya yang sedang berjuang untuk kehidupannya.

Rumah Jaejoong,

Jaejoong sibuk melayani orang-orang yang tiba-tiba datang ke tempatnya dan meminta ia menyembuhkan penyakit. Ia tak tahu darimana saja orang-orang ini datang. Giginya bergemeletuk menahan emosi ketika tahu Jeo Min lah yang menyebarkan berita.

“ Pergi dari sini, aku bukan seorang dokter “ Usir Jaejoong marah.

Orang-orang yang terlanjur percaya dengan berita itu bertahan, karena mereka memang membutuhkan bantuan Jaejoong.

“ Dokter, anak saya sudah 3 hari tidak mau makan dan panasnya tidak turun, tolong dokter “ Mohon seorang ahjumma.

Mata Jaejoong memerah marah, ia tidak peduli dan meninggalkan orang-orang itu hendak mencari Jeo Min dan harabeoji yang ia tahu bersembunyi takut didalam rumahnya. Jaejoong menggedor-gedor pintu rumah keluarga Park, namun tak ada sahutan membuatnya semakin kesal.

Melihat Jaejoong yang seperti itu, satu-persatu orang yang datang membubarkan diri, dan ragu apakah Jaejoong benar-benar seorang dokter. Jaejoong berkacak pinggang menahan emosi, ketika ia berniat kembali ke dalam rumahnya, dilihatnya Jiyeon pulang dengan wajah yang tertunduk. Tanpa peduli apa yang sedang Jiyeon alami Jaejoong menghampirinya dengan membawa emosi yang seharusnya untuk Jeo Min dan harabeoji.

“ Jika kau tidak bisa menjaga adik dan kakekmu, titipkan saja mereka di panti asuhan, jangan menyusahkan orang lain “ Bentak Jaejoong, namun kemudian ia terdiam mendapati wajah kusut Jiyeon dengan matanya yang memerah seperti habis menangis.

Jaejoong tentu saja tidak bisa dengan cepat merubah sikapnya dalam sekejap menjadi lembut. Meski sangat ingin tahu apa yang terjadi dengan yeoja ini, ia bungkam seribu bahasa “ Huh “ Lenguhnya kemudian bersiap masuk kedalam rumahnya.

“ Hari ini banyak orang yang membuatku harus menahan malu karena menghardikku untuk kesalahan yang tidak aku tahu “ Lirih Jiyeon.

Jaejoong menghentikan langkahnya, tak perlu menoleh ia tahu jika yeoja ini sedang menahan untuk airmatanya tak tumpah.

“ Aku pikir, hari ini Tuhan sudah memberikanku kebahagian, ternyata belum…..bahkan berturut-turut kalian memarahiku “ Jiyeon sibuk menggunakan tangannya mengusap airmatanya, ia kemudian menatap lekat punggung Jaejoong “ Dokter…..aku…senang sekali kau ada disini, bisakah kita saling berbincang, aku ingin mendengar kau memberikanku sebuah nasehat, memberikanku semangat untuk tetap bertahan hidup……kau orang yang paling dekat berada dengan keluargaku, bisakah ? “

Jaejoong berbalik, tatapannya jatuh tepat dimata Jiyeon yang menatapnya lembut dan seolah memohon. Jajeoong sampai merinding mendapat tatapan yang tak biasa dari seorang yeoja selain Im Nana “ Aku bukan siapa-siapamu, kita hanya kenal karena tinggal ditempat yang sama, jadi…..”

“ Aku tidak mau mendengarnya, keumanhe…..!!! “ Jiyeon menutup telinga dengan tangannya, membuat Jajeoong mengernyit heran tak mengerti apa yang sebenarnyanya terjadi dengan Jiyeon.

“ Aku tidak mau mendengar kata-kata sinis darimu untuk hari ini, cukup “ Ucapnya melemah.

Seperti ada yang mendorongnya, kaki Jaejoong melangkah mendekat ke arah Jiyeon. Ada perasaan iba yang tiba-tiba menghampirinya melihat keadaan gadis mungil ini, tanpa ia sadari tangannya terangkat untuk meraih tubuh yeoja itu namun,

Brughhh

Jiyeon terjatuh tak sadarkan diri, ia pingsan tepat ketika Jaejoong ingin meraih tubuhnya.

To be continued

 

87 responses to “[ CHAPTER – PART 5 ] A MINUTE OF HOPE

  1. jiyi yg sabar yh
    menghadapi per lakuan myung,
    dokter jae jangan galak2 apa ama jiyi , jeo min ,dan harabeoji
    jiyi fighting menghadapi semuanya y aku yakin pasti akan ada kebahagiaan menanti mu d depan walau entah itu kapan

  2. Sukaa sama scene jiyeon-jaejoong, pas mereka ‘tidur bareng’, ya ampun..xD
    Jiyeon uda desperate bgt kali yah, dia ga punya orang buat tempat cerita, dia mendem semua hal berat itu sendirian, dan dia harus nguatin diri sendiri, ampe akhirnya jaejoong orang yg judesnya parah dia jadiin tempat cerita, saking ga ada lagi oranorang lain.
    Aaaarrgh… Penasaran sama kelanjutannya. Semoga mtar jaejoong uda bisa jadi tempat curhat jiyeon, myungsoo stop gangguin jiyeon, dan suzy bisa deketin myungsoo, sial bgt si suzy jatuh cintanya ke myungsoo xD
    Author! Semangat bikin part-part selanjutnya!!

  3. jiyeon ditawarin sekolah di kyunghee..
    semoga kehidupannya nntinya lbh baik lg…
    jiyeon smpe pingsan, pasti krna stress.,kasian..huhu

  4. wahh.. jiyeon pingsan. pasti karena beban pikiran sama kecapekan cari duit. myungsoo tega banget, disaat jiyeon merasakan kesenangan tp dia malah buat jiyeon ngedown lg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s