[CHAPTER – PART 7] MY PRINCESS

© High School Graphics by: xilvermist

Title : My Princess | Author : dindareginaa | Main Cast : Bae Sooji, Kim Myungsoo | Additional Cast : Find by yourself! | Genre : Comedy – Romance | Rating : Teen

DISCLAIMER :

Inspired by Taiwanese Drama

Seperti janji Myungsoo sebelumnya pada Sooji, Myungsoo akan menemaninya berlibur ke Jeju. Awalnya, Tuan Bang yang sangat pelit itu tentu saja menolak mentah-mentah permintaan cuti Myungsoo. Tapi, karena ancaman Myungsoo – ia akan berhenti jika Tuan Bang tidak mengizinkannya, lagipula siapa yang tahan bekerja dengan si pelit itu? – jadilah disini ia sekarang. Di hotel yang akan menjadi saksi cintanya dan Sooji kkk~ Teruslah bermimpi, Kim Myungsoo!

Setelah Myungsoo dan juga Sooji check in, keduanya langsung menuju ke kamar. Satu kamar untuk dua orang. Memang begitu peraturannya. Lagipula, memangnya apa yang akan mereka lakukan berdua?

Sesampainya di kamar, Sooji langsung melepaskan topi pantainya dan melemparkannya begitu saja ke atas ranjang. Ia langsung berlari kearah jendela dan membukanya. Gadis itu melongo tak percaya. Tuan Jung memang pintar memilih kamar! Kamar mereka kini berhadapan tepat di depan pantai!

Ya! Bantu aku mengangkat tas-tas ini!”

Sooji menoleh ke belakang. Ia terkekeh mendapati Myungsoo kini sedang kesusahan membawa 1 koper kecil dan 1 koper besar. Jangan tanya koper besar itu milik siapa, karena sudah pasti itu milik Sooji.

“Bukankah itu sudah menjadi tugas lelaki? Jantanlah, Kim Myungsoo!” Gadis itu menjulurkan lidahnya.

Myungsoo mendelik kesal ke arah Sooji. Gadis itu sudah kembali ke sifat aslinya! Dengan menggunakan tenaga terakhirnya, ia menggeser koper tersebut ke dekat kaki Sooji. Myungsoo menarik nafasnya panjang sebelum berkata,”Apa yang kau bawa sebenarnya? Batu?”

“Hanya peralatan mandiku, baju ganti dan juga bikini. Itu saja.”

“Lalu kenapa berat sekali?”

“Masing-masing sepuluh pasang.”

Mendengar ucapan Sooji, Myungsoo melongo tak percaya. “Ya! Bae Sooji! Kita hanya 3 hari disini! Kenapa membawa baju banyak sekali?”

“Kau tidak tahu apa yang akan terjadi, Tuan Kim.”

Myungsoo mendesis kemudian bertanya,”Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?”

Sooji tersenyum penuh arti. “Pantai?”

“Cepatlah, Kim Myungsoo! Kenapa jalanmu lambat sekali?!” gerutu Sooji begitu melihat Myungsoo berlari kecil menghampirinya.

Ya! Kau bersemangat sekali sepertinya,” sungut Myungsoo.

“Tentu saja! Ayo!” Sooji menarik lengan Myungsoo.

Myungsoo sempat melirik tangannya yang dipegang Sooji, namun lelaki itu hanya tersenyum simpul dan mulai mengikuti langkah Sooji.

“Wah, indah sekali!” seru Sooji.

Myungsoo yang berdiri disebelah Sooji hanya mengangguk mengiyakan. Tiba-tiba saja, Sooji merasakan sosok yang berjalan kearahnya. Penasaran, Sooji sontak menoleh. Ia tertegun melihat siapa yang kini ada dihadapannya.

“Oh, ternyata itu benar kau, Bae Sooji. Mataku tidak salah bukan, Oppa?

Myungsoo mengernyit heran mendengar perkataan seorang gadis asing yang kini ada dihadapan mereka. Sepertinya ia pernah melihat wajah gadis ini sebelumnya? Ya, di salah satu majalah yang pernah dibacanya. Sepertinya gadis ini seorang model. Oh! Bukankah lelaki yang ada disamping gadis ini adalah Choi Minho? Pangeran berkuda putih Bae Sooji.

 “Lama tidak berjumpa, Bae Sooji.”

Sooji tersenyum simpul mendengar sapaan Minho. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali ia bertemu dengan lelaki tampan ini.

Jiyeon hanya mengulum smirk-nya melihat kecanggungan antara Sooji dan Minho. Namun, pandangannya kemudian beralih pada Myungsoo yang sedari tadi hanya menonton mereka. “Omong-omong, apa yang kau lakukan disini, Bae Sooji? Jangan bilang kau disini untuk kerja sambilan,” ujar Jiyeon remeh.

“Aku? Aku sedang liburan disini. Dengan kekasihku.”

Myungsoo tersentak begitu Sooji mengamit lengannya. “Ayo, honey.”

Tak tahu harus berkata apa, Myungsoo hanya mengikuti permainan gadis itu. Setelah yakin bahwa posisi mereka sudah jauh dari Minho dan Jiyeon, ia sontak melepaskan tangan Sooji.

“Apa yang baru saja kau lakukan?!”

“Mengatakan bahwa kau adala kekasihku. Sama halnya saat kau mengatakan aku kekasihmu dihadapan ibumu,” jawab Sooji, tak begitu peduli dengan amarah Myungsoo.

Ya, ia tahu dirinya pernah memperkenalkan Sooji sebagai kekasihnya didepan ibunya. Tapi, entah kenapa ia tak suka begitu Sooji mengatakan pada kedua orang tadi bahwa ia adalah kekasih Sooji. Karena ia tahu Sooji hanyalah ingin membuat Minho panas. Dan ia tak suka mengetahui fakta itu.

“Kau mau kemana?” tanya Sooji begitu Myungso meninggalkannya.

“Kau marah?”

Myungsoo hanya mendengus melihat Sooji kini berada didepannya. Lelaki itu sontak meminum hot coffee-nya seraya sibuk memainkan ponselnya.

“Kau marah?” tanyanya lagi.

Karena tak juga mendengar jawaban Myungsoo, Sooji sontak berkata,”Maaf. Aku tahu aku sudah berbuat seenaknya. Jadi, maafkan aku. Aku hanya kesal mengetahui bahwa Minho sekarang sudah memiliki tambatan hati lain. Maka dari itu aku memperkenalkanmu sebagai kekasihku. Walaupun aku tahu mungkin ia tak peduli.”

Myungsoo benci ketika ada seorang gadis yang memohon padanya, membuat dia menjadi merasa menyesal. Bukankah harusnya Sooji yang menyesal? “Oh, baiklah. Lagipula bukankah kita kesini untuk berlibur? Jadi, mau kemana kita setelah ini?”

Sooji dan Myungsoo akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka ke Gua Manjanggul. Gua ini berbentuk seperti tabung lava dan terjadi karena letusan gunung berapi. Sebenarnya Sooji sudah menolak habi-habisan ide Myungsoo ini, karena berpergian ke tempat bersejarah seperti ini sama sekali bukan dirinya. Tapi, karena lelaki itu memaksa – atau lebih tepanya merengek – maka dari itu Sooji mengiyakan ajaan Myungsoo.

Saat Sooji dan Myungsoo sedang asik mendengarkan ocehan seorang pria yang bertugas menjelaskan struktur gua ini, Sooji tersentak kaget begitu menyadari Minho dan Jiyeon sudah berada disamping mereka. Oh, kenapa ia harus selalu bertemu dengan kedua orang yang menyebalkan ini?

“Oh, kita bertemu lagi, Bae Sooji.”

Sooji hanya memaksakan seulas senyumnya. Kenapa gadis itu selalu memulai pembicaraan dengannya? Mereka bahkan tidak saling mengenal sebelumnya! Minho bahkan tak secerwet Park Jiyeon.

“Kau kedinginan?” tanya Myungsoo melihat Sooji sibuk menggosok kedua lengannya. Gadis itu hanya tersenyum. Melihat itu, Myungsoo segera melepaskan jacket-nya dan membalutkannya pada tubuh Sooji. “Sudah lebih hangat?”

Sooji mengangguk lalu kembali memfokuskan pandangannya pada lelaki yang bertugas menjelaskan struktur gua ini.

Pemandangan itu sepertinya menarik perhatian Minho dan juga Jiyeon. Jiyeon sontak mendengus kesal llau mendelik kearah Minho. “Ya, Oppa! Aku juga kedinginan!” rengeknya.

Minho hanya mengangguk kecil lalu berjalan mendahului Jiyeon membuat Jiyeon melemparkan pandangan tak sukanya pada Sooji dan juga lelaki yang diakui Sooji sebagai kekasihnya.

 ∞

“Wah, indah sekali!” kagum Sooji saat mereka berada di Taman Botani Yeomji. Letaknya tak jauh dari Gua Manjanggul.

“Sebaiknya kita berfoto!” usul Myungsoo. Ia segera mengambil kamera polaroid miliknya dan merangkul Sooji. “Tersenyumlah, Bae Sooji!”

1… 2… 3…

Sooji membulatkan matanya karena pada hitungan ketiga Myungsoo langsung mencium pipinya. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali lalu menatap Myungsoo seolah meminta penjelasan.

“Apa?” tanya Myungsoo berpura-pura tak mengerti. “Oh, aku lapar! Sebaiknya kita makan. Ayo!”

“Sepertinya enak. Mari akan!” seru Myungsoo semangat. Lelaki tampan itu segera menyantap makanannya dengan lahap. Saat ini mereka sedang menikmati makan siang di sebuah restoran seafood yang cukup terkenal. Myungsoo menatap Sooji heran begitu mendapati gadis itu tak juga menyentuh makanannya. Sooji hanya sibuk mengaduk-aduk nasinya. “Kenapa tidak dimakan?”

Sooji tersenyum kecil. “Aku alergi pada seafood.”

Mendengar ucapan gadis itu, Myungsoo sontak membulatkan matanya. “Kau alergi pada seafood? Kenapa tak bilang dari tadi?”

“Tidak apa. Lagipula, kau bilang akan rugi kalau kita ke Jeju tapi tak mencicipi makanan disini. Anggap saja ini ucapan terimakasihku padamu karena mau menemaniku.”

Myungsoo mendesis. “Bagaimana bisa aku menyantap makananku sementara kau hanya melihatku seperti itu?”

“Tidak apa. Makanlah. Aku serius.”

“Oh, baiklah,” ujarnya mengalah. “Tapi, seelah ini kau harus menemanikupergi ke suatu tempat.”

“Kemana?”

“Belanja,” jawab Myungsoo singkat lalu kembali menyantap makanannya.

“Untuk?”

“Tentu saja untuk memasak makanan untukmu!”

Setelah Myungsoo selesai menghabiskan makanannya, Myungsoo dan Sooji memutuskan untuk mampir ke salah satu supermarket. Seperti yang Myungsoo katakan sebelumnya, ia akan membuat makan malam khusus untuk Sooji.

“Apa yang akan kau masak?” tanya Sooji seraya mendorong troli belanjaan mereka.

Omeuraise.”

Omeuraise, makanan korea dengan gulungan telur dadar yang didalamnya terdapat nasi goreng.

Sooji sontak tertawa meremehkan mendengar jawaban Myungsoo. “Omeuraise? Hanya itu yang bisa kau buat?”

“Teruslah tertawa, Bae Sooji. Tapi, jangan terkagum-kagum begitu kau memakan Omeuraise ala chef Kim Myungsoo,” sombongnya.

Sooji hanya mengidikkan kedua bahunya seraya mengikuti langkah Myungsoo.

“Lama sekali?”

“Tunggu sebentar!”

“Sampai kapan aku harus menutup mata seperti ini?” dengus Sooji kesal.

Myungsoo terkekeh seraya menghampiri Sooji yang kini sedang duduk di balkon kamar mereka. Ya, ia memang menyuruh Sooji untuk menutup matanya dengan sapu tangan gadis itu. Sooji juga heran kenapa Myungsoo bertingkah aneh seperti ini. Ia bahkan sudah sering memakan omeuraise buatan Choi Sulli. Apa Myungsoo takut bahwa resepnya akan Sooji sebearkan? Ch!

Myungsoo segera meletakkan sepiring omeuraise tepat dihadapan Sooji. “Sekarang kau boleh membuka matamu,” suruh Myungsoo.

Mendengar perintah Myungsoo, Sooji segera membuka penutup matanya. Ia tersenyum mendapati sepiring omeuraise berbentuk hati yang ditutupi dengan telur sudah berada dihadapannya. “Boleh juga,” gumam Sooji.

Sooji segera mengambil sendoknya lalu mencicipi omeuraise buatan Myungsoo.

“Bagaimana rasanya?”

Sooji terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab. “Tidak buruk.”

Myungsoo menggelengkan kepalanya. Ch! Mengapa susah sekali bagi Sooji untuk mengakui keahlian Myungsoo dalam memasak?

“Kau tidak makan?”

“Tidak. Bukankah aku sudah makan tadi?”

Mendengar jawaban Myungsoo, Sooji mendesis. “Buka mulutmu,” suruhnya seraya bersiap enyuai Myungsoo.

Ya! Kau pikir aku anak kecil?”

“Kubilang buka!” ujarnya lagi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih tinggi.

Oh, baiklah. Myungsoo mengalah membuat Sooji tersenyum dengan penuh kemenangan.

“Aku… sangat menyesali kehidupanku yang sekarang,” ujar Sooji seraya meminum soju-nya langsung dari botol.

“Kenapa?” tanya Myungsoo setengah tidak sadar, sepertinya lelaki itu sudah mulai mabuk – seperti Sooji. Saat ini mereka sudah berada diatas ranjang mereka.

“Apa maksudmu kenapa? Aku dulu hidup bagaikan tuan putri dan sekarang kehidupanku berbalik 360 derajat menjadi Cinderella tanpa pangeran.”

“Seperti apa pangeran impianmu?” tanya Myungsoo tiba-tiba. “Apa seperti Choi Minho?”

“Minho Oppa memang cukup tampan untuk menjadi pangeran. Dan dia juga berkelas. Tapi… setelah lama tidak berkencan dengannya, aku rasa dia memang bukan untukku. Lagipula, dia tidak pernah memperjuangkanku.”

“Lalu, bagaimana denganku? Apakah kau bisa mempertimbangkanku menjadi pangeranmu?”

Sooji tertegun mendengar ucapan Myungsoo. Gadis itu memegang keningnya dan memijatnya pelan. Entahlah, ia sudah mulai pusing sekarang.

“Aku mungkin bukan pangeran yang mempunyai istana besar seperti milik Choi Minho. Yang aku punya hanyalah gubuk kecil yang cukup ditinggali  oleh kita dan juga anak-anak kita nantinya.”

Sooji kemudian beranjak berdiri. Ia lalu memegang kedua bahu Myungsoo, menatap lelaki itu lekat. Sedetik kemudian ia terjatuh tepat diatas tubuh Myungsoo, membuat lelaki itu juga sontak ambruk.

Sooji membuka matanya perlahan. Ia menyipitkan matanya sejenak begitu sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela kamarnya. Oh, sudah pagi. Sooji kemudian membalikkan badannya. Begitu terkejutnya ia begitu melihat Myungsoo terbaring tepat disebelahnya. Sooji sontak mengalihkan pandangannya ke tubuhnya. Ia menghembuskan nafasnya lega. Ia masih berpakaian lengkap. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Sooji segera beranjak berdiri, mengambil handuk pink yang ia gantung di lemari dan segera masuk ke kamar mandi. Ia harus membersihkan dirinya sekarang.

Sooji tersenyum memandangi lautan luas yang kini terbentang dihadapannya. Saat ini mereka sedang menaiki kapal pesiar. Hanya sekedar untuk melihat-lihat sebenarnya.

“Hei.”

Sooji menoleh. Ia tertegun begitu mendapati Minho kini berada disampingnya. “Hei,” balas Sooji berusaha terdengar ramah.

“Bagaimana kabarmu?”

“Baik. Seperti yang bisa kau lihat sekarang.”

Minho mengangguk mengerti. Rasanya aneh mendengar Sooji tidak lagi memanggilnya Oppa seperti yang biasa ia lakukan selama mereka berkencan. Lama mereka terdiam sebelum akhirnya Minho memutuskan untuk kembali bertanya,”Bagaimana kau bisa mengenal lelaki itu?”

Lelaki? Oh, tentu saja maksudnya adalah Kim Myungsoo. “Aku bertemu dengannya tak lama setelah kita berdua putus. Kami bertemu di restaurant miliknya yang cukup terkenal dan dia sempat mengajariku memasak. Dan akhirnya kami jatuh cinta,” bohongnya. Walaupun ada bebarapa bagian yang jujur seperti ketika ia bertemu di restaurant milik Tuan Bang dan Myungsoo memang sempat mengajarinya memasak. Bukankah begitu?

Tak jauh dari mereka, Jiyeon hanya menatap Minho dan juga Sooji dengan sinis. Ia tak akan membiarkan Sooji merebut perhatian Minho. Tak akan!

“Apa yang kalian bicarakan?”

Sooji tersenyum begitu mendapati Myungsoo berada disampingnya tepat setelah kepergian Minho.

“Tidak ada,” jawab Sooji singkat.ia kembali menatap pemandangan disekelilingnya.

“Mengenai kemarin…”

“Tidak apa,”potong Sooji tanpa menoleh kearah Myungsoo. “Lagipula, tak ada yang terjadi. Bukankah begitu?”

Myungsoo terdiam sejenak. “Ya,” ujarnya pelan. Sebenarnya bukan itu yang ingin Myungsoo bicarakan melainkan masalah perasaannya. Tapi… sepertinya Sooji bahkan tak mengingat pengakuannya kemarin. “Apa kau haus? Aku akan mengambilkan minum untukmu.”

Sooji mengangguk sekali seraya menatap punggung Myungsoo yang mulai menjauh.

“Bae Sooji, mari kita bicara.”

Sooji melengosbegitu melihat Park Jiyeon dihadapannya. Ia merasa tak ada yang perlu mereka bicarakan. Bukankah Minho sudah bertunangan dengan dirinya? Park Jiyeon benar-benar menang! Jadi, apa yang harus mereka bicarakan?

“Apa?” tanya Sooji dingin.

“Kau… jangan dekati Choi Minho.”

Sooji tersenyum. “Tenang saja. Aku tidak berniat dengan kekasihmu itu. Tapi, jangan salahkan aku jika dia yang berniat mendekatiku,” sombong Sooji. Jujur saja, ia memang tak berniat dengan Minho lagi. Semenjak ia benar-benar putus dengan Minho, ia tak pernah sekalipun memikirkan lelaki itu. Apalagi setelah Myungsoo menciumnya malam itu – sewaktu Sooji mentraktir ia dan ibunya dengan gaji pertamanya.

Baru saja Sooji ingin berbalik pergi, Jiyeon sudah terlebih dahulu berteriak padanya. “Aku bilang jangan,” serunya kesal.

Tak terima dnegan teriakan Jiyeon, gadis itu sontak menoleh. Namun, ia terbelalak kaget begitu Jiyeon endorong pundaknya keras membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan dan langsung jatuh ke laut. Gadis itu sontak berteriak minta tolong seraya melambaikan tangannya.

Jiyeon sendiri tak sadar bahwa perlakuannya bisa mengakibatkan Sooji jatuh kedalam laut.

“Bae Sooji!”

Jiyeon menoleh. Sedetik kemudian ia bisa melihat lelaki yang diakui Sooji sebagai kekasihnya melompat untuk menyelamatkan Sooji. Orang-orang yang melihat keributan itu sontak berbondong-bondong menyelamatkan Sooji dan Myungsoo. Oh, Park Jiyeon! Apa yang telah kau lakukan? Tak ingin keadaan bertambah gawat, Jiyeon segera pergi.

“Apa yang kau lakukan pada Sooji?”

Jiyeon yang baru saja selesai mandi dan sedang asik menyisir rambutnya tersentak kaget. Ia menoleh dan menghembuskan nafasnya lega begitu melihat siapa yang kini berada dikamarnya. “Apa maksudmu?” tanyanya berpura-pura tak mengerti.

“Bukankah kau yang mendorong Sooji?”

“Iya! Memang aku! Lalu kenapa?”

“Kau benar-benar gila, Park Jiyeon!”

“Aku gila karena kau, Choi Minho! Aku tahu selama kau bersama denganku, yang ada dipikiranmu hanyalah gadis itu! Apa lebihnya dia dibandingkan aku? Hah?!”

Minho tersenyum simpul. “Syukurlah kau mengerti. Aku tak takut lagi denganmu Park Jiyeon. Aku bahkan tak peduli jika kerja sama perusahaan kita gagal karena aku tak mau bertunangan denganmu.”

“A… apa?”

“Aku ingin pertunangan kita dibatalkan.”

“Kau sudah sadar?”

Sooji tersenyum mendapati Myungsoo berada dihadapannya. “Dima…”

“Di kamar,” potong Myungsoo.

Sooji mengangguk mengerti. Pandangannya kemudian beralih pada pakaiannya. Oh, apa yang…

“Kau tenang saja. Aku menyuruh pegawai hotel untuk mengganti pakaianmu. Tak usah khawatir.”

Sooji terdiam sejenak. Baru saja ia ingin membuka suara, ponselnya berdering. Ada pesan masuk. Dengan segera, gadis itu mengambil ponselnya yang berada di meja disampingnya lalu membuka pesan tersebut. Ia mengernyit heran membaca pesan dari orang yang tak terduga.

Sooji berjalan santai disekitar pantai. Matanya menyelidik, mencari sosok yang tadi mengiriminya pesan singkat. Hari sudah gelap, membuat Sooji kesusahan mencari si pengirim esan, terlebih lagi pantai ini sudah mulai sepi.

“Oh,” Sooji tersenyum begitu mendapati orang yang dicarinya sedang duduk diatas pasir seraya memandang lurus. Tanpa menunggu lama lagi, Sooji segera menghampirinya dan duduk disampingnya.

“Sudah lama menunggu, Minho Oppa?”

Lelaki itu – Choi Minho – sontak menoleh. Ia tersenyum melihat Sooji sudah duduk disampingnya. Ia lalu kembali menatap lurus kedepan. Menikmati sejuknya angin malam. Sooji juga melakukan hal yang sama dengan lelaki tampan itu.

“Maaf.”

“Maaf? Untuk?”

“Aku tahu Park Jiyeon yang mendorongmu.”

Mengerti arah pembicaraan Minho, Sooji sontak menggeleng. “Tidak. Aku tahu dia tak sengaja.”

“Kau tidak mengerti Bae Sooji. Dia melakukan hal ini karena dia cemburu denganmu.”

“Aku tahu. Bukankah itu wajar mengingat dia melakukannya karena takut kehilanganmu.”

Keduanya kembali terdiam. Minho menghembuskan nafasnya perlahan sebelum akhirnya kembali berkata,”Aku… membatalkan pertunanganku dengannya.”

Mata gadis itu membulat, benar-benar tak menyangka dengan dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku masih mencintaimu, Bae Sooji. Aku tahu aku salah karena telah meninggalkanmu saat kau benar-benar membutuhkanku. Dan aku juga tahu kau masih mencintaiku.” Minho kemudian menoleh pada Sooji dan memegang kedua pundak gadis itu. “Aku ingin kita memulainya dari awal. Aku akan meyakinkan orang tuaku. Aku mohon berikan aku kesampatan kedua.”

Sooji terdiam. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan. Namun, ia kemudian tersentak kaget begitu merasakan Minho mencium lembut bibir plum-nya. Ia juga tak tahu apa yang terjadi dengannya. Sedetik kemudian, ia memejamkan matanya untuk merasakan kehangatan Minho.

“Bae Sooji, saatnya minum o…bat.”

Myungsoo tertegun begitu melihat Sooji tak ada dikamarnya. Padahal ia baru meninggalkan gadis itu beberapa menit untuk membeli obat. Kemana gadis itu? Jangan-jangan… Myungsoo segera berlari ke luar kamar. Ia harus mencari Sooji!

Ini sudah setengah jam lebih Myungsoo mencari Sooji. Namun nihil. Ia tak bisa menemukan gadis itu dimanapun. Tapi, sedetik kemudian ia tersenyum begitu mendapati Sooji sedang duduk tepat di depan pantai. Myungsoo mengernyit bingung. Gadis itu tak sendiri. Oh, bukankah itu Choi Minho?

Myungsoo mengepalkan kedua tangannya begitu melihat Minho mencium bibir Sooji. Kenapa… kenapa rasanya sakit sekali?

TO BE CONTINUED

87 responses to “[CHAPTER – PART 7] MY PRINCESS

  1. omoo minho kis suzy??apa suzy akan balik lg sm minho….gmn sm myung??jiyeon tega bgt sm suzy…kira2 apa keputusan suzy…wah myung potek??next

  2. apa suzy akan balik lg sm minho….gmn sm myung??jiyeon tega bgt sm suzy…kira2 apa keputusan suzy…wah myung potek??next

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s