High School (Chapter 6)

FF High School

This story belongs to brownpills.

Romance, Schoollife, Friendship I Chaptered I PG-14

Cast by Kim Myungsoo, Park Jiyeon, Jeon Jungkook, Bae Suzy, Jung Krystal

Additional Cast by Lee Hongbin

Pure of mymind. Inspired of some problems.

Let me see~

.

Ini emosi antara seorang pria dan seorang wanita.

Tidak ingin menghitungnya, tidak ingin mengaturnya.

Jika aku tahu cinta sejati itu seperti ini, aku tidak bisa memastikan apakah aku akan mencobanya.

Yang aku rasakan adalah kemarahan dan bahaya.

-High School

Jungkook’s PoV

 

Sehari sebelum hari itu.

 

Petang hari, langit mulai berwarna kecokelatan. Gedung dengan dinding berlapiskan warna putih sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan. Hanya segelintir orang yang melintas. Suara ketukan sepasang sepatu berwarna hitam mengisi kesunyian di dalam lorong menuju kelas 1-5.

Tidak terhitung berapa banyak aku menguap, membuat air mataku menggantung di pelupuk mata. Rasa kantuk sudah menguasaiku begitu selesai mengikuti pembinaan osn –olimpiade-. Kini yang kulakukan hendak mengambil ransel milikku yang sempat tertinggal di kelas.

Setibanya di depan kelas, aku diam sejenak untuk mengatur penglihatanku yang hampir 5 watt. Dengan malas aku menggeser pintu kelas berwarna cream di hadapanku.

 

BUGH!

 

Berdebum suara melonjakan diriku. Menyadarkanku sepenuhnya hingga mampu membulatkan kedua mataku yang hampir terpejam. Meski penerangan tidak cukup, aku masih dapat melihatnya.

Seorang gadis tampak gelagapan membenarkan buku tebal yang berserakan di lantai. Buku setebal lima inchi itu terlihat basah dan ada sedikit sobekan di sana. Ia segeri menegapkan tubuhnya sambil memasang wajah kebingungan.

“Jung—kook—“ dipastikan suaranya tersendat-sendat, “—ap—apa yang kau lakukan di sini?”

“Seharusnya itu yang kutanyakan padamu,” kalimatku seperti tembakan yang tepat sasaran. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Gadis dengan name tag Hyuna di dada sebelah kirinya itu tampak berpikir keras. Dalam sekali pandangan aku langsung bisa menangkap tingkahnya. Sorot mataku mengarah pada buku yang terasa familiar, bahkan aku juga memiliki buku yang sama dengan yang ada di genggaman Hyuna—buku panduan osn.

Daebak—“ desisku, “—jadi kau yang melakukannya.”

Ketakutan yang sempat tergambar di mata bundar Hyuna kini lenyap digantikan tatapan licik, “Wae? Tidak ada yang melarangku untuk merusak buku ini. Aaa matta—“

Sayang sekali aku tidak akan termakan bualan yang dikeluarkannya sekarang.

“—kau pasti akan berkoar-koar setelah ini. Silahkan saja lakukan itu! Aku tidak takut!”

Sengaja aku maju melangkah. Mempersempit jarak di antara diriku dengan gadis yang dikenal memiliki tubuh perfect ini.

Seiring Hyuna memundurkan langkahnya, aku tetap mengambil langkah ke depan. Hyuna tampak menghindari tatapanku. Salah satu bibirku tertarik membentuk smirk di sana. Ketika tubuhnya mepet dengan bangku paling belakang, aku menjulurkan tangan meraih ransel yang tertinggal di bangku itu.

Ransel dengan merk ternama itu kuselempangkan di atas bahu. Sebelum membalikkan badan aku tersenyum meremehkan Hyuna yang mengernyit menahan amarah.

“Apa kau akan memberitahukannya ke semua orang?”

Ketika sudah tercipta jarak, Hyuna memekik. Membuat suaranya memecah keheningan.

Tidak sudi aku berhadapan dengan gadis menjengkelkan itu. Aku hanya menolehkan kepalaku ke samping seraya berkata,

“Seseorang yang membuat kesalahan harus dihukum.”

***

 

Saat hari itu.

 

Sekumpulan burung memperlombakan kicauan mereka. Sementara embun bersembunyi di balik dedaunan berwarna cokelat. Angin dingin menyapa wajahku melewati celah jendela kelas yang sengaja dibuka. Menjaga sirkulasi udara di pagi hari.

Otak di dalam kepalaku hampir mendidih. Berbeda dengan wajahku yang menampikan kesan monoton. Lengan kananku digunakan sebagai tumpuan dagu. Sedangkan lengan lainnya terus mengetuk-ngetuk meja.

Ketiga gadis itu tidak menyadari akan pandangan menyidikku yang duduk di deretan belakang. Mereka sibuk cekikikan di depan kelas. Salah satu di antara mereka menalikan ember yang lumayan besar. Temannya yang memiliki tubuh gempal menaiki kursi seraya meletakan ember itu di atas pintu kelas.

“Aku rasa sudah kencang,” ujarnya sambil turun dan mengembalikan kursi itu ke tempat semula.

Sedangkan kedua temannya sudah siap di kedua sisi pintu kelas. Masing-masing dari keduanya menggenggam tali tambang yang dihubungkan dengan ember itu.

YA! Hentikan tingkah kekanakan kalian,” bentak Minho yang –juga- risih dengan kegiatan ketiga yeoja itu.

“Membuang-buang waktu saja,” sindir Tao.

“Apa kalian tau? Hal seperti itu tidak akan mempna untuk Jiyeon,” ungkap Kai.

Minho, Tao, dan Kai -bangkunya satu deretan denganku paling belakang- merasa terganggu dengan ulah para gadis yang suka menggosip dan membesar-besarkan masalah itu.

“Siapa kalian menyuruh kami!” Hyorin malah membalasnya dengan gertakan. Lalu ia kembali cengingisan bersama Minyoung dan Eunji.

“Aish,” Minho hendak melemparkan tasnya namun tidak jadi. Pria itu kembali menyandarkan kepalanya di atas meja. Begitu pula dengan Tao dan Kai.

Ekor mataku melirik pada Hyuna yang duduk di deretan ke dua sebelah kanan. Kepalanya semakin menunduk. Mungkin ia mencoba untuk menghiraukan lingkungan sekitarnya dengan membola- balikan lembaran buku yang ia baca.

“Jiyeon datang!” seru Minyoung segera menyingkir di sisi Hyorin.

Dapat dilihat mereka tengah menghitung mundur tanpa suara. Ekspresi mereka begitu menyenangkan. Ketika hitungan terakhir pas saat Jiyeon menongolkan batang hidungnya, aku beranjak berdiri. Sambil berseru Eunji dan Hyorin menarik tali berdiameter lebar itu. Melepaskan ember dari ikatan di atas pintu.

Reflek aku berlari sehingga menimbulkan kegaduhan. Kujulurkan lenganku dan meraih tubuh kurus Jiyeon ke dalam dada bidangku. Dunia seolah berjalan melamban begitu menyembunyikannya di balik punggung lebarku. Alhasil ember yang ternyata berisi adonan tepung itu tumpah mengotori jas kemeja yang kukenakkan.

Seketika semua aktivitas di kelas itu tertahan. Perhatian mereka telah dicuri sepenuhnya. Tidak sedikit dari mereka membekap mulut masing-masing saking terkejutnya.

Ya, Jungkook! Neo micchesseo?!” pekik Eunji.

Air liur serasa tersumbat di tenggorokanku ketika merasakan sekujur tubuh Jiyeon bergetar. Wajahnya kosong masih mencerna apa yang baru saja terjadi.

Hati-hati aku melepaskan dekapanku darinya. Memastikan sejenak tidak ada tepung yang melekat padanya. Lalu aku menariknya agar dirinya berada di belakang bahuku.

Kini aku berhadapan dengan semua temanku yang masih tercengang. Satu per satu kupandangi mereka. Lalu berhenti tepat pada gadis yang menutup mulutnya, Hyuna.

Ya, Jungkook! Neo—“

Perkataan Hyorin berhenti begitu tatapanku beralih menusuknya pedas.

“Hyorin, Minyoung, Eunji—“ pelan aku mulai berbicara, “—kalian mau mati?”

 

Shing—

 

Kalimat itu mampu membekukan suasana. Atsmosfer kelam menyelimuti kelas ini. Tidak ada yang berani membuka suara. Rahangku gemeretak, aku sudah muak dengan tingkah mereka yang memperlakukan Jiyeon seperti itu. Egois.

“Ini sama saja kalian mem-bully teman kalian sendiri—Aniy! Apa hal seperti itu bahkan disebut sebagai teman?” lanjutku.

Wajah Hyorin mengeras merasa rencananya telah gagal. Berbeda dengan Minyoung dan Eunji yang merasa tersinggung dengan ucapanku. Tidak kehabisan kata-kata Hyorin menjawab, “Itu karena Park Jiyeon pantas dihukum.”

Wae? Apa karena ia merusak buku milik Suzy yang kalian tuduh tanpa bukti?”

“Jika bukan Jiyeon, siapa lagi yang melakukannya?”

Bisikan aneh mulai terdengar. Kebanyakan dari mereka kini mulai melempari tatapan tidak enak pada Jiyeon yang diam tak berkutik di balik punggungku. Tidak terima dengan gunjingan itu, Jiyeon hendak meluapkan emosinya.

Tapi aku terlanjur menahannya dengan sedikit menggeser tubuhku. Sehingga Jiyeon tidak dapat melangkah maju karena terhalang olehku. Dalam sekali lirik dapat kutangkap Jiyeon mengerutkan alisnya.

Helaan nafas berhembus melalui batang hidungku ketika aku kembali menghadap ke seluruh teman sekelas. Mereka mulai mengunci mulut mereka, terdiam membiarkanku atau Jiyeon memberikan jawaban.

Tanpa rasa bersalah aku meluruskan jari telunjukku, tepat mengarah kepada Hyuna. Membuat yang lainnya mengalihkan perhatian pada gadis dengan wajah memerah dan seakan kehabisan nafas.

Yeoja itu,” ujarku. “Kemarin sore aku melihatnya membuang buku osn milik Suzy.”

“Hyuna?” Kai memekik, “Jeongmal?”

Yang lain mulai berbicara dengan teman yang berada di dekat mereka. Mempertanyakan hal yang sama seperti yang diucapkan oleh Kai. Hyorin mulai meminta penjelasan pada Hyuna dari pandangannya.

“Apa kita perlu menuju ruang cctv untuk memastikannya?” tambahku semakin membuat Hyuna merasa disudutkan.

Tanpa basa basi Jiyeon berjalan dengan gaya khasnya. Mendekati seraya menarik kerah baju Hyuna sambil berkata, “Rupanya kau.”

Kali ini aku membiarkan Jiyeon untuk mencurahkan amarahnya. Tetapi hal itu tertahan saat Suzy baru saja datang di kelas dan langsung melepaskan cengkraman Jiyeon sambil mendorong sedikit tubuhnya.

“Apa yang kau lakukan?!” bentak Suzy.

Aku hendak masuk ke dalam lingkaran mereka. Niat itu meluap ketika Myungsoo sudah berada di ambang pintu kelas. Selesai meletakan tumpukan buku yang sempat ia bawa, pria itu melemparkan tatapan laser padaku. Dan beralih menyaksikan pertengkaran yang sudah terjdi di pagi hari ini.

“Cih, tanyakan saja pada gadis licik di hadapanmu,” sahut Jiyeon. Gadis itu melenggang melewatiku dan Myungsoo pula. Meninggalkan keangkuhannya dalam ruangan ini.

Suzy mengernyit sembari menghujami Hyuna yang baru saja ia selamatkan dari serangan Jiyeon dengan pandangan tanda tanya.

“Apa yang terjadi?”

“Hyuna yang merusak buku osn milikmu,” hanya Kai yang berani menjawab pertanyaan Suzy.

Jawaban itu memaksa otak Suzy untuk berpikir keras. Awalnya ia memperhatikan Krystal yang sedari tadi diam seribu bahasa, mungkin Krystal terlalu terkejut dengan apa yang terjadi. Merasa tidak menemukan jawabannya pada Krystal, Suzy mengalihkan perhatian pada Hyuna yang bahkan tidak berani membalas pandangannya.

“Apa itu benar?”

Krystal segera menyadarkan diri dan mengambil sikap begitu mendengar nada suara Suzy yang mulai terpancing emosi. Ia yang sudah sangat dekat dengan Suzy, berusaha meredakan amarahnya.

“Sooji-ya—“

 

PLAK!

 

Bahkan Krystal belum menyelesaikan kalimatnya. Tetapi Suzy terlanjur mengangkat tangannya langsung menampar keras wajah Hyuna. Pipi gadis itu memerah terkena bekas tamparan. Matanya mulai berkaca-kaca. Helaian rambutnya menutupi sebagian wajahnya.

“Gara-gara kau persahabatanku dengan Jiyeon menjadi berantakan—“ geram Suzy. “Mengapa kau melakukannya?”

Kedua tangannya mengusap pelan pipinya yang terasa perih seraya menyibakkan helaian rambut hitamnya dan menyahut pertanyaan Suzy, “Karena kalian begitu angkuh.”

Saat ini baik Bae Suzy maupun Hyuna, keduanya tampak tangguh.

Mwo?”

Dengan mata memerah Hyuna menjelaskan, “Aku benci ketika melihat kalian berdua selalu bersama. Kalian sama-sama pintar dan selalu menganggap rendah yang lainnya. Menatap teman kalian dengan pandangan yang tidak mengenakkan. Aku benci itu.”

Neo—“ desis Suzy, “—aku merasa kasihan padamu.”

Tidak tahan emosinya akan meledak, Suzy mengambil langkah lebar ke luar kelas. Sedangkan Krystal menyenggol kasar bahu Hyuna sehingga gadis itu terjatuh di atas meja. Lalu ia bergegas menyusul Suzy.

“Woo, daebak!” seru Kai.

“Pertengkaran wanita memang menyenangkan,” ujar Minho.

“Aish, membosankan,” Tao kembali menyedekapkan tangan sambil melanjutkan tidurnya.

Gadis-gadis mulai berbisik satu sama lain sambil menjauhi Hyuna seolah Hyuna adalah makhluk yang perlu dihindari.

Myungsoo yang sedari tadi mematung di ambang pintu kini melangkah menjauhi kelas.

Aku hanya menghela nafas panjang sambil melepaskan jas biru tua yang sudah dipenuhi tepung berwarna putih. Jujur saja dalam hati aku mengumpat berhubung aku yang terkena imbasnya.

Hyorin, Minyoung, dan Eunji memandangku dengan perasaan menyesal. Tidak mau ambil pusing dengan ketiga yeoja pembuat ulah itu, aku mengangkat bahu seraya membuang jas kotor itu asal ke tempat sampah. Untungnya kemeja putih yang memiliki logo sekolah di sebelah dada terlihat rapi dengan dasi yang sedikit longgar pada kerahnya.

Sendirinya tidak mau kalah dengan Myungsoo yang membututi Jiyeon, Suzy, dan Krystal. Kini aku pula berjalan di dalam koridor.

“Aku sudah tau—“

Suara yang familiar itu menghentikan langkahku. Di akhir koridor yang dindingnya terbuat kaca, berdirilah tiga yeoja. Tidak jauh dari ketiganya, sesosok Myungsoo ada di sana, diam tidak bergeming.

Suzy melanjutkan kalimatnya, “—sebenarnya dari awal aku sudah tau bukan kau yang merusak buku milikku—“

Jiyeon yang tadinya membuang muka sekarang menatap kedua sahabatnya itu.

“—kau adalah Park Jiyeon, sahabatku. Mana mungkin kau melakukannya.”

“Lalu mengapa kau menuduhku?” tanya Jiyeon sedingin es.

Jemari Suzy saling bertautan. Krystal tidak tau harus berkata apa.

“Itu karena aku kesal padamu,” ungkap Suzy. “Aku kesal karena kau dimanfaatkan oleh Hyuna. Tetapi ternyata kau marah karena aku mengambil kesempatanmu untuk mengikuti osn—“

Aku, Myungsoo, Krystal, dan juga—Jiyeon membisu mendengar tiap kata yang terucap dari mulut Suzy.

“—mianhae.”

Dunia seolah berhenti berputar. Kami semua sibuk mencari jalan keluar. Kami semua tidak tau yang pasti. Kami semua hanya terdiam layaknya boneka yang tidak digerakkan. Hingga Bae Suzy kembali berlirih di antara semilir angin.

“Bagaimana denganmu?”

Suaranya terdengar bergetar dalam kesunyian ujung koridor ini.

“Aku semua tentangmu. Aku ingin kembali ke hari-hari yang indah—“

Jiyeon mengunci mulutnya rapat.

“—kami tidak akan membiarkanmu pergi.”

Lagi, lagi, dan lagi. Kedua kakiku bergerak begitu saja. Seolah tubuhnya memiliki magnet yang dapat menarikku untuk mendekat. Hingga lengan kokoh menahanku.

Dengan pandangan tajam Myungsoo mencengkram bahuku. Menahanku untuk tidak mencampuri urusan ketiga yeoja itu.

“Jiyeon-a, jangan pergi dari persahabatan kami,” pinta Krystal. “Jaebal…”

Saat ini semuanya terpusat pada Jiyeon. Pada gadis yang entah berada di mana pikirannya.

Na—“ Jiyeon berbisik membuat masing-masing dari kami tegang atas kalimatnya yang digantung, “—aku— merindukan kalian.”

Kata-kata lama yang tidak dapat diucapkan akhirnya terdengar. Sinar matahari yang tidak begitu panas menimpa ketiga sejoli itu. Sedikit menghangatkan mereka. Masih tetap sama, Krystal dan Suzy memeluk Jiyeon.

Dari jauh ketiganya terlihat berpelukan erat. Tampak ada kilau cantik dari mereka. Tepat disaat itu aku menepis tangan Myungsoo dari bahuku dan tersenyum meledek seraya menghampiri Jiyeon, Krystal, dan Suzy.

“Kalian sudah akur,” selaku begitu mereka suda melepaskan pelukan masing-masing.

“Jungkook? Sejak kapan kau di sini?” tanya Krystal.

“Kau menguping,” tuding Suzy langsung memukul kepalaku.

“Argh,” aku mengusap tengkuk kepala pelan, “Myungsoo juga melakukannya!”

“Myungsoo?” ujar Jiyeon heran.

PLAK!

Lagi, aku mendapatkan pukulan di kepala. Bukan dari yeoja melainkan dari Myungsoo yang sudah berada di dekat kami.

“Siapa bilang aku menguping,” ujar Myungsoo memasang wajah tak berdosa.

“Aish,” aku hendak membalas pria itu. Namun Suzy lebih dulu menjewer cuping telinga kami.

“Kapan kalian menjadi pria dewasa, huh?” omelnya tidak mempedulikan aku dan Myungsoo yang menjerit kesakitan sambil berusaha melepas tangan gadis itu dari daun telinga kami.

Jiyeon dan Krystal terkekeh melihatnya. Untungnya Krystal segera melepaskan jeweran itu dari tangan Suzy dan gantian menyempil di tengah-tengah kami berdua sembari merangkul casual.

Ya, mari kita have fun sebelum ujian,” ucap Krystal.

Yang lainnya tampak menimang dan memikirkannya sejenak. Aku memandang Jiyeon sekilas.

Call,” ujarku akhirnya.

Call,” Myungsoo mengangguk.

Call,” kata Suzy sambil mengangkat bahu.

Jelas sekali Krystal memamerkan sederetan giginya mendengar persetujuan kami. Tinggal Jiyeon yang tersisa membuat kami semua memandangnya harap harap cemas.

“Jiyeon-a, wae? Apa kau akan belajar terus?” pinta Krystal memberengut, “Kau perlu refreshing juga sebelum ujian agar stress mu itu menghilang.”

Jiyeon memutar kedua bola matanya seraya menyilangkan kedua lengannya di depan dada.

“Apa kalian yakin—“ sambil mengatakannya Jiyeon memandang diriku dan Myungsoo secara bergantian, “—dengan dua namja ini?”

***

 

Setelah hari itu (Hari semuanya terungkap), kami bersenang-senang.

 

Insadong adalah sebuah kawasan di distrik Jongno-gu, Seoul. Kawasan ini cukup terkenal di kalangan anak muda. Jalan utamanya Insadong-gil dikenal sebagai bentuk pencampuran antara dua kebudayaan yaitu, masa lampau dan masa kini. Hal ini tercermin dari bentuk bangunannya.

Di sinilah akhirnya aku, Myungsoo, dan ketiga yeoja ini memilih Insadong sebagai pelampiasan kejenuhan kami. Ketiga yeoja itu tampak manis dengan pakaian mereka masing-masing yang membalut badan dan kaki jenjang mereka. Mereka bertiga menunjukan ciri khas tersendiri melalui baju yang mereka kenakan.

Myungsoo memilih menggunakan kaos oblong disampulkan kemeja yang semua kancingnya sengaja dibuka. Celana jeans dan sneakers patut di anggota gerak bagian bawahnya.

Sementara aku tidak muluk-muluk. Hanya kaos lengan panjang berwarna abu-abu dengan celana jeans dan pula sneakers nike.

“Lima, ahjussi,” ujar Krystal saat berada di hadapan kedai kecil yang menjual jajanan.

“Aku rasa vanilla,” acung Suzy.

Chocolate,” Jiyeon tidak kalah cepatnya.

Wajah mereka merekah bak bunga yang baru saja mekar begitu paman beruban itu menyerahkan jipangyi ice cream. Suzy memberikan es krim berbentuk huruf U itu kepada Myungsoo berhubung rasa yang mereka pesan sama.

Lantas aku menerima es krim dari Jiyeon sambil semanis mungkin menyunggingkan senyumku padanya. Jiyeon malah bergidik ngeri melihatnya.

You two look cute together,” komen Krystal.

Naega?” Jiyeon membelalakan matanya, “Dengannya?”

Ice cream milik Krystal meleleh di bibir tipisnya. Ia mengangguk mantap membuat aku dan Jiyeon saling bertukar pandang. Aku menjulurkan lidahku konyol.

Ya, Jiyeon terlihat manis jika dijejerkan denganku,” kini Myungsoo menarik tubuh Jiyeon.

Jipangyi yang kugenggam hendak kulemparkan pada pria itu yang bahkan menirukan gayaku menjulurkan lidah.

“Kalian ini apa-apaan,” umpat Suzy segera merangkul Jiyeon dan Krystal.

Ketiga yeoja itu melanjutkan langkah menyusuri jalanan Insadong yang ramai dipenuhi kaum muda. Sambil menyesap es krimnya, Myungsoo membuntuti mereka.

Ponsel terasa bergetar di dalam saku celanaku, membuatku menghentikan langkah. Setelah merogoh saku celana, aku menempelkan benda mungil itu ke dekat telinga.

Yoboseyo.

Kau tampak bersenang-senang, Jeon Jungkook.”

Suara berat di seberang telepon menghentikan mulutku yang mengunyah jipangyi, “Nuguseyo?”

“Mana dulu enaknya yang kusiksa?”

Kebisingan disekitarku terasa semu. Kutajamkan indera pendengaranku pada penelepon yang menyembunyikan nomornya.

“—yeoja yang paling banyak bicara—“

Ketika lawan bicaraku mengatakannya sontak aku mengarahkan pandangan pada Krystal yang asyik guyon dengan Suzy, Jiyeon, dan Myungsoo.

“—atau yeoja yang mempunyai syal rajut—“

Beralih pada Suzy dengan syal berwarna putih yang melilit di lehernya.

“—atau mungkin—yeoja yang mengenakan rok bermotif bunga?”

Detak jantungku serasa berhenti. Aku memusatkan perhatianku pada Jiyeon. Gadis itu tampak risih karena Krystal mengalungkan mahkota besar di lehernya.

“Akan kupikirkan setelah aku mengawasimu.”

 

Tuutt

 

Suara yang familiar itu memutuskan sambungan telepon tanpa memberikanku kesempatan berbicara. Setetes keringat mulai melewati pelipis mataku. Tenggorokanku tercekat.

Tidak bisa tinggal diam aku menyusul mereka yang kini tengah berhenti di salah satu toko souvenir. Yang kulakukan pertama menggenggam pergelangan tangan Jiyeon.

“Ayo kita pergi dari sini!”

.

.

Aroma biji kopi menyatu dengan udara segar. Iringan lagu ringan mengalun. Café dengan konsep unik ini dikenal dengan nama Miss Lee Café. Ada banyak ratusan bahkan ribuan kertas yang tertempel di setiap sudut café, yang sengaja ditulis oleh pengunjung, mayoritas kaum muda atau pasangan.

“Jungkook, ada apa sih denganmu?” tanya Krystal. Gadis itu merasa jengkel karena kegiatan melihat-lihat barang antik di Insadong terputus.

Bukannya menjawab aku justru menatap Jiyeon yang duduk di hadapanku. Meski mulutnya terkatup rapat aku paham ia melemparku tanda tanya melalu sepasang matanya.

“Berhenti memandangnya—“ celetuk Suzy yang berada di sampingku, “—dan jelaskan pada kami sekarang.”

Myungsoo pasti tengah bersumpah serapah dalam hati. Rahang pria itu gemeretak. Ia menahan bualannya saat berada di jejer Jiyeon.

YA, Jungkook!”

Suara cempreng Krystal membuyarkan lamunanku. Menghentikan otakku yang berjalan keras mencari alasan yang masuk akal.

“Kakiku pegal berjalan-jalan,” ujarku tidak berharap mereka percaya.

“Kau pikir itu lucu?” ancam Krystal.

“Terserah apa alasanmu aku ingin makan sekarang,” acuh Suzy sudah membuka buku menu sejenis album foto dengan sampul yang lucu.

Jujur saja sedari tadi perutku meraung-raung meminta diisi. Rasa laparku hilang menyadari hanya Jiyeon yang masih menatapku. Sayangnya aku tidak mengerti bagaimana menjelaskannya.

.

.

Hari sudah larut malam. Suara jangkrik mengisi celah kekosongan. Jalanan dengan komplek perumahan ini tampak seperti tak berpenghuni.

“Apa kau ada masalah?” tanya Suzy memecah lamunanku.

Ah, benar! Krystal sudah dijemput oleh sopirnya. Myungsoo dan Jiyeon pulang bersama karena rumah mereka satu arah. Sementara aku dan Suzy. Yah kami berdua berjalan seperti sekarang karena kami adalah tetangga.

“Jungkook,” ulang Suzy karena aku hanya diam saja.

Begitu lama rasanya berada di sisi gadis ini hingga rumah yang lumayan besar sudah terjangkau oleh pandanganku. Rumah Bae Suzy.

“Itu dia rumahmu,” ujarku, “Cepatlah masuk! Sampai jumpa.”

Nada bicaraku terdengar terburu-buru. Aku segera membalikkan badan. Memutar arah berlawanan.

Ya, odieya?!”

Teriakan itu terdengar samar dalam pendengaranku. Yang terlintas dalam pikiranku hanyalah keadaan gadis itu. Aku harus segera menemuinya.

 

“Mana dulu enaknya yang kusiksa?”

 

Tidak peduli dinginya angin menusuk persendian tulangku. Kedua kakiku tetap melangkah cepat. Menembus jalanan yang gelap. Berharap semilir angin dapat menghapus keringat yang mengalir.

 

“—atau mungkin—yeoja yang mengenakan rok bermotif bunga?”

 

Kalimat itu terasa mendengung di gendang telingaku. Berkali-kali aku mencoba mengusirnya dari benakku. Namun sia-sia seolah suaranya memaksaku kembali menuju bayangan suram di masa lalu. Menghancurkan dinding kokoh yang sudah kubangun.

“Jeon Jungkook.”

Ada suara yang sama dengan penelpon itu, menghentikan langkah kakiku. Membuat nafasku tidak beraturan. Menyamarkan penglihatanku.

Pria bertubuh tegap terlihat sedikit kabur dalam pandanganku. Tingginya yang tidak berbeda jauh denganku tersamarkan oleh cahaya bulan. Ketika pupil mataku mengecil berakomodasi untuk memastikan siapa yang berada di hadapanku, kedua kakiku mundur beberapa langkah mendapatinya.

“Hong—bin—“

Mendengar diriku menyebut namanya ia menyeringai, “Lama tidak berjumpa, Jungkook.”

Seringai itu berubah menjadi wajah yang mengeras. Dengan satu sentakan ia mengangkat dan membanting tubuhku. Sedikit meretakkan tulang punggungku yang bersentuhan langsung dengan jalanan aspal.

Pandangan yang berkunang-kunang mampu menangkap kepalan tangannya yang membogem pipiku. Bertubi-tubi hingga aku meringis kesakitan. Kakinya menginjak menendang perutku. Kurasakan segumpal darah di sekitar bibirku.

Sambil mencoba menahan perih batinku menjerit,

 

‘Aku rasa masa lalu itu kembali menyerangku.’

 

to be continued~~

Sesuai janji Hara buat Jungkie’s PoV. Biasanya ff hara pendek pendek tapi kali ini panjaaaaannnggg, hehe. Giliran masalah salah paham udah kelar, muncul masalah baru HOHOHO. *timpuk Hara*. Masalahnya Hara masalahin masalah tambah masalah masalahnya panjang *abaikan*. Ada tambahan cast juga ^^ Lee Hongbin VIXX. ABis dia lumayan cakep, tapi jungkie sama l tetep di posisi satu dah kalo cakep mah apa atuh.

Oiya adegan(?) terakhir di chapter ini terinspirasi dari MV BTS – I Need You. Di mv itu kan ada noh si Jungkie dihajar abis abisan, nah Hara kebayang bayang wajahnya jungkie tuh yang kesakitan trus tau tau ada ide buat masukin ke nih ff. Semoga kalian meniikmati ff Hara🙂 lanjut terus~~

58 responses to “High School (Chapter 6)

  1. Apa hub jungkook dgn hongbin di masa lalu??? Semoga sja tdk trjdi apa2 dgn jiyeon. Sampai saat ini aku msh bingung & bertanya2 kira2 siapa yg akan menjadi psngan jiyeon??? Kedua’y tampak memiliki peluang sma brsma dgn jiyeon. Atau memang tdk akan ada yg dipilih oleh jiyeon sma skli… Ach, sdhlah biarkan jln cerita ini yg menunjukan semua jawaban’y.

  2. Si penelpon misterius ternyata lee hongbin… ada rahasia apa antara lee hongbin dan junkook.. sepertinya hongbin begitu membeci junkook

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s