[CHAPTER-PART 4] My Love, My Brother’s Enemy

req-47-copy1My Love, My Brother’s Enemy || PG-15
@alifahsone
Park Jiyeon, Park Chanyeol, Kim Myungsoo
Thanks to Yaumila @HSG for a great poster
itu khayalannya Myungsoo. 

Don’t be Sider pls,

.


aku tidak mengerti yang aku rasakan. maaf, aku tak bisa memilihmu. tetapi aku tak bisa memungkiri. aku takut akan kehilanganmu, kehilangan begitu besarnya rasa tulusmu. aku mencintaimu. tetaplah disini dan jangan pergi dariku”

.

Sepasang kelopak indah yang saat ini sedang tertutup damai. Jemari gadis itu perlahan menyentuh setiap inchi wajah kekasihnya –bukan kekasih, tapi akan. Jiyeon mengamati wajah Myungsoo yang perlahan menirus. Tetap tampan, tapi tetap saja menyisakan gurat kesedihan. Myungsoo masih terlalu betah berada di bawah alam sadarnya, tanpa terusik sedikit pun tiap hari terdengar suara lalu lalang orang di sekitarnya. Jiyeon mengecup dahi Myungsoo. “cepat sadar oppa, saranghaeyo.”ucapnya. Bukan terdengar seperti ucapan, melainkan terdengar seperti kalimat perintah. Kalimat perintah berupa bisikan.

Jiyeon menghela nafas. 14 hari ia di Korea, dan Myungsoo masih segan bersembunyi di alam mimpinya. Biarkan Myungsoo seperti ini, mungkin ia sedang bahagia disana. Tetapi masih banyak beban menunggu Myungsoo cepat pulih. Bukan hanya Jiyeon yang menunggu. Chanyeol pun demikian. Entah apa yang mengusik Chanyeol untuk menyukai Myungsoo, Jiyeon acuh. Tapi Jiyeon sangat berterima kasih untuk itu. Setidaknya Tuhan telah memperbesar peluang antara Jiyeon dan Myungsoo.

kita bisa mengubah takdir. tapi kita tak akan bisa mengubah cinta, apapun yang terjadi.

Suzy meringis ketika melihat Jiyeon yang terus menerus menangis. Bukan hanya Suzy, juga si cerewet Krystal dan si kalem Eunji. Mata Jiyeon terus sembab. Mereka mengharapkan kesembuhan Myungsoo, tapi mereka rasa mereka tak akan siap jika Myungsoo akan melupakan semua kenangan. Sepuluh hari lagi Jiyeon akan melakukan pertukaran pelajar di Amerika, dan entah sampai kapan ia akan berada disana. Semua visa sudah diurus oleh Sandara, yang kebetulan mempunyai rekan.

“makanlah, Jiyeon. Kau bisa sakit kalau seperti ini,”Eunji menyuapkan nasi pada Jiyeon. Jiyeon tersenyum pahit kemudian menggeleng. Ditatapnya tubuh Myungsoo yang sampai saat ini masih bergantung pada mesin dokter. “Myungsoo oppa sendiri belum makan selama 20 hari. Apa ia lapar, Eunji-ya?”Jiyeon berbicara sendiri.

Eunji menitikkan air matanya. Lambat laun Jiyeon mulai menyukai Myungsoo –lebih dari menyukai, mungkin. Dalam hati ia memohon, Tuhan, mengapa Engkau memberikan ujian ini disaat mereka saling mencintai? Krystal meletakkan bunga di vas. Myungsoo masih kritis. Sangat sangat kritis. Krystal mendongak, berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Setidaknya Krystal bisa terlihat tegar di depan Jiyeon. Krystal tahu. Myungsoo kuat. Ia tengah berjuang melawan rasa sakitnya, ataupun ia sedang tersenyum disana? Entahlah.

“Jiyeon, ku dengar besok mulai musim semi.”
“Apa peduliku?”
“Kau harus menunggu sakura pertama tumbuh, kemudian ucapkan permohonanmu.”

—sakura.

———————————–

Sebuah gundukan tanah di belakang gereja. Sepasang sepatu berderap. Hangat, begitu yang ia rasakan tentang musim semi. Tapi sayang. Hatinya terlalu beku untuk menyambut musim semi ini. Ia harus menunggu sakura tumbuh. Demi Myungsoo yang ia sayangi.
Jiyeon terus melangkah. Sebuah pohon sakura, dan disampingnya pohon weeping willow yang sangat cocok untuk menghabiskan waktu dengan orang yang kau sayangi.

1…2…3

sakura

“Ku ucapkan namamu 3 kali. Sakura….sakura…sakura. Buatlah Myungsoo oppa sembuh. Bahkan nyawaku sekalipun, menjadi taruhannya. Bahagiakan dia. Aku tak ingin ia kesakitan. Ku sebut namamu tiga kali. Sakura, sakura, sakura.

Jiyeon melemas. Tubuhnya terduduk di bawah pohon weeping pillow. Jiyeon percaya mitos sakura. Ya, Jiyeon harus percaya. Padahal awalnya Jiyeon sangat anti terhadap hal hal yang berbau mitos seperti itu.

“Myungsoo oppa…”
Samar samar terdengar suara panggilan di telinga Myungsoo. Myungsoo bingung. Ia sedang berada di sebuah taman yang indah, tepat di belakangnya ada sebuah air terjun. Myungsoo menatap sekelilingnya. Matanya menangkap siluet perempuan yang…sepertinya ia kenal. Tapi ingatan Myungsoo buram. Sekeras apapun ia berusaha, tapi yang ia dapati hanyalah ingatan kosong. Myungsoo tak bisa mengingat apapun.

Nuguseo?”tanya Myungsoo saat perempuan itu memeluknya. Perempuan itu tak menjawab. Mereka bertatapan sejenak. Myungsoo merasa familiar dengan perempuan ini. Matanya berkaca-kaca, ingin menangis. Myungsoo membelai lembut pipinya. Aneh. Ia merasa ada yang berbeda dengan gadis ini. Perasaan ingin selalu menjaga, selalu disampingnya. Meskipun untuk perempuan yang tidak di kenalnya.

“Kau…tak mengingatku?”
Myungsoo menggeleng perlahan. Perempuan itu menganga tak percaya. Myungsoo menunduk. Ia merasa sangat bersalah saat ini.

“Myungsoo-ya…cepatlah buka matamu. Kami merindukanmu, oppa. Saranghaeyo.”tanpa permisi, perempuan itu mengecup bibir Myungsoo. Myungsoo menyentuh bibirnya. Dapat ia pastikan, wajahnya bersemu merah.

“Siapa namamu, nona?”
Perempuan itu berlari, menjauhi Myungsoo yang sedang termenung. Sesaat perempuan itu menoleh dan tersenyum pada Myungsoo. Sekilas Myungsoo mendengarnya, “Akulah masa depanmu, sayang. Park Jiyeon.”

Myungsoo menggerakkan jarinya. Mimpi yang bagus, untuk pertanda bagus. Myungsoo membuka kelopak matanya. Sebuah ruangan serba putih, menjadi tempat pertama yang dilihat Myungsoo setelah melalui masa komanya.

Park.

Setidaknya satu kata yang melengkapi nama Park Jiyeon. Myungsoo sudah melupakannya, tetapi ia hanya mengingat marganya saja. Aneh bukan? Ada perasaan yang mengatakan Myungsoo ingin menemuinya, lalu mendekapnya. Wajahnya kini samar di ingatan Myungsoo. Oh, Myungsoo yang malang. Bagaimana bisa ia jatuh cinta pada seorang gadis yang dijumpai di mimpi, dan itu untuk pertama kalinya?

“Myung-soo..oppa?”
Jiyeon tersenyum lega. Pemuda yang sedari kemarin ditunggunya, telah sadar. Jiyeon mengusap bulir air matanya yang tanpa disadari, menetes. Myungsoo hanya termangu, menatap wajah sendu Jiyeon. Untuk pertama kalinya.

Jiyeon menunduk. Apa ini artinya, Myungsoo akan melupakannya?

“anda…siapa?”
Myungsoo menarik selimutnya, lalu melihat Jiyeon seperti monster. Jiyeon tersenyum nanar. Ini saatnya, ia harus melukiskan hal indah di memori Myungsoo. Biarlah yang kelam akan menjadi masa lalu saja. “Aku, Jiyeon. Aku pembantumu yang ditugaskan oleh eommonim untuk merawatmu.”

Pembantu? Benarkah? Jiyeon pandai dalam berbohong. Myungsoo tak akan mudah percaya, sekalipun seluruh ingatannya telah hilang.

“Lalu, siapa aku? Dan, bagaimana aku bisa berada disini?”
“Kau adalah Kim Myungsoo. Putra dari Ahn Sohee, seorang model terkenal dan adik dari Kim Taeyeon, seorang penyanyi. Lalu, bagaimana percisnya kejadianmu aku tidak tahu. Saat itu aku sedang ditugaskan oleh eommonim untuk berbelanja sayuran di pasar.”

Ahn Sohee. Kim Taeyeon. Setidaknya hanya dua nama yang berbekas di ingatan Myungsoo. Syukurlah Myungsoo tidak melupakan ibu dan kakaknya. Dua wanita yang sangat ia sayangi. Myungsoo mengangguk. Dan, lihatlah perbuatanmu Jiyeon! Kau pembohong yang handal.

Jiyeon tersenyum pahit. “Myungsoo, aku undur diri dulu.

Sandara tampak tak percaya mendengar cerita Jiyeon. Chanyeol pun sama. Sampai saat ini Chanyeol sudah tiga kali menemui Myungsoo, dan Myungsoo tak mengenalinya lagi. Awal yang bagus untuk memulai lembar baru. Jiyeon tertunduk. Haruskah ia mencari hati yang lain? Jiyeon tahu, ia suatu saat nanti akan digantikan dengan seseorang yang lebih. Lebih bisa menjaga dan menyayangi Myungsoo. Semua itu sudah digariskan oleh Tuhan. Tapi, entah Jiyeon masih tak rela. Rasa rindu masih menyusup di hatinya meski Jiyeon sudah tak menginginkan rasa itu lagi.

“Jiyeonie, maafkan oppamu ini. Kalau saja oppa tak menerima ajakannya untuk balapan liar, pasti semua ini tidak akan terjadi.”

Chanyeol yang periang, humoris, sekarang sudah tergantikan oleh Chanyeol yang pemurung. Sandara pun tak akan bisa mengembalikan Chanyeol lagi. Jiyeon mengerti, tapi kenapa kondisi seperti ini harus terjadi? Disaat ia mulai membuka cintanya bersama Myungsoo? Sandara masih terdiam, menatap adiknya yang sedang berderai air mata. Chanyeol. Jiyeon. Dua orang yang ia sayangi, kini sama sama terluka dihadapannya. Oh Tuhan, Sandara sangat tersiksa kali ini. Ia terdesak posisi yang sulit.

“tak apa, oppa. jangan salahkan dirimu lagi.”
“tapi, aku–“

Chanyeol tak kuasa menahan air matanya. Semua sudah terlambat untuk menyesal. Sifat egois dan pendendamnya berbuah pahit. Jiyeon pun demikian. Punggungnya terguncang, berusaha menahan isakannya.

“Jiyeon-ah, berapa hari lagi kau akan berangkat, eum?”tanya Sandara lembut. “Satu minggu lagi, eonnie. Dan aku rasa, aku tak siap.”Jiyeon menunduk. Jiyeon telah menyiapkan diri untuk di blacklist, menyerahkan program tersebut pada Suzy yang juga saingannya. Sandara menggeleng. Mimpi Jiyeon masih panjang. Dan ia harus mengejarnya. “Jiyeon-ah, eonnie tau ini sulit untukmu. Tapi, tetap coba. Kau harus menyiapkan keberangkatanmu, lalu sehari sebelumnya kau bisa pamitan dengan Myungsoo. arra?”

Sehari sebelum keberangkatan. Menyisakan luka di hati Jiyeon. Sayang. Jiyeon harusnya bergembira, tapi ia malah mendadak frustasi. Frustasi dengan semua yang terjadi. Rasanya ia ingin mengamuk, tapi—

eonnie sudah menyiapkan tiket ke Thailand. Ku harap, kau bisa berlibur dengan tenang. Oh iya, dan lagi, ajak sahabatmu, ne.”

———————————-

“Suzy-ah dimana kau letakkan koperku, hm?”teriak Krystal. Jiyeon membentuk jari telunjuk di depan bibirnya. Krystal memalukan sekali. Ia berteriak di bandara Incheon, dan membuat beberapa orang menoleh ke arah mereka. Tapi hanya dibalas cengiran khas Krystal.

“Mana aku tahu?”Suzy masih sibuk dengan iPhone-nya. Jiyeon tahu. Suzy saat ini sedang mengecek whatsapp nya, atau menunggu balasan dari Soohyun sunbae . Eunji masih berdandan. Aigoanak itu.

“Bukankah tadi ku titipkan padamu?”tanya Krystal jengkel. Jiyeon mulai jengah juga. Mungkin ia harus membeli novel saat ini. Jiyeon suka membaca. Dan, membaca juga bisa menghilangkan stressnya. Jiyeon mulai memasang headphonenya, dan..

BRUK!

–ia menabrak seseorang. “aigo buku buku ku…”
Jiyeon menoleh. Seorang pemuda, sepertinya Jiyeon sering melihatnya di acara televisi. Tapi Jiyeon tak perduli. Ia tergesa. “mianhae ne. aku tak sengaja, ahjussi.”

Pemuda itu membuka kacamatanya, dan. Choi Minho! Hari ini sepertinya hari keberuntungan Jiyeon. Bagaimana tidak, ia sangat mengidolakan Choi Minho itu! Choi Minho adalah seorang artis yang sempurna, multitalent, lalu Jiyeon menyukainya.

“Choi..Minho?”Jiyeon menganga. Minho tersenyum. Dapat ia lihat di ID Card gadis itu. Namanya Jiyi. Lucu sekali namanya. “Kau tak apa, agashi?”tanya Minho sambil tersenyum. Jiyeon menggeleng, lalu membalas senyuman Minho.

“t-api..boleh aku minta satu saja novelmu, Choi Minho-ssi?”
Minho menahan tawanya. Wajah Jiyeon polos sekali. Ingin sekali Minho mencubit pipi gadis itu, lalu menculiknya dan menjadikannya boneka pajangan. Minho menyerahkan sebuah novel romantis. Jiyeon merebutnya, lalu berlari.

Kamshahamnida Choi Minho ssi!”

——————-

“kau beruntung sekali, Jiyeon-ah, bertemu dengan Choi Minho itu.”
“iya,  seandainya tadi kau mengajak kami. padahal aku sudah berdandan cantik, siapa tahu ada selebriti kecantol denganku.”
“aku tak suka Choi Minho. tapi, aslinya dia tampan juga sih.”

Ucapan Krystal disambut lemparan bantal dari Jiyeon, Suzy, dan Eunji. Dasar Krystal. Krystal sepupu Myungsoo, mungkin saja Myungsoo menularkan darah playboynya pada Krystal. “Oh iya, Ji. Ku dengar di pulau ini terdapat pantai yang indah, sekali. Bagaimana kalau nanti sore kita kesana, eum?”

“Boleh juga. Tapi aku ingin berbelanja pernak pernik sekitar juga, aku ingin memberi oleh oleh pada unnie dan oppa.”
Eunji mengangguk. Sandara unnie memang baik sekali. Ia sudah pernah membelikan mereka berempat tiket menonton pertandingan sepak bola Barcelona di Brazil, memberikan mereka fashion item keluaran terbaru, lalu saat ini membiayai mereka berlibur di Thailand. Mereka harus banyak berterima kasih pada Sandara.

“Aku rasa, nanti malam kita tidak boleh melewatkan candle light dinner. Aku sudah membookingnya tadi. Viewnya indah, sekali. Cocok untuk pasangan yang sedang memadu kasih. Jiyeon, aku harap setelah kau menikah dengan Myungsoo, kau akan mengadakan candle light dinner.”

Jiyeon mengingat nama itu. Myungsoo. Apa kabar Myungsoo di Korea sekarang? Jiyeon harap, Myungsoo baik-baik saja. Kondisinya akan berangsur pulih.

“Bagaimana kondisi Myungsoo, Ji?”tanya Eunji. Jiyeon tersenyum. “Untunglah, dia sudah siuman.”Suzy, Eunji, dan Krystal menghela nafas lega. Myungsoo siuman. Satu kabar baik.

“tapi..”
Jiyeon menghela nafasnya kemudian melanjutkan lagi, “sepertinya ia amnesia.”

————–

“AAAAA! Dokter, jauhkan jarum itu. Aku sepertinya mengidap pobia jarum suntik.”

Dokter Shin tersenyum. Myungsoo termasuk pasien yang mudah berbaur, bahkan ia sering mengeluarkan leluconnya. Dokter Shin yakin, kondisi Myungsoo akan berkembang pesat. Tangannya menepuk pergelangan Myungsoo. “Tuan, yakin saja. Tidak sakit, kok. Rasanya seperti digigit semut saja.”

Myungsoo menggeleng. Dokter Shin masih tersenyum geli. “Nah, sudah. Kau harus mencobanya lagi, Myungsoo-ah.”

Myungsoo merengut. Dokter Shin suka sekali menggodanya. Chanyeol yang kebetulan sedang menjenguk Myungsoo bersama Sandara, ikut tertawa. Myungsoo seperti kembali menjadi anak kecil.

“kapan aku boleh pulang, dok?”
“kalau kau sudah sembuh, tuan. kau harus sering disuntik agar kau cepat sembuh.”

Myungsoo menggeleng. Ia takut jarum suntik. Chanyeol masih menatap infus Myungsoo. Sudah hampir habis, dan tandanya harus segera diganti. “Oh iya, Park Chanyeol, ikut saya ke ruangan dokter, ya.”

“Bagaimana keadaannya, dok? Ia sudah pulih?”
Dokter Shin menggeleng. Ia menunjukkan grafik keadaan Myungsoo. Chanyeol terbelalak. Memang ada perkembangan, lalu kemudian menyusut lagi. Seperti itu seterusnya. Dokter Shin menjelaskan secara rinci mengenai perkembangan Myungsoo. Chanyeol mengangguk lemas. Jika kondisi Myungsoo masih menunjukkan perkembangan yang tak berarti, ia terpaksa harus melanjutkan pengobatannya ke luar negeri.

“Chanyeol?”panggil Sandara setelah Chanyeol masuk ke kamar inap Myungsoo. Chanyeol menggeleng. Myungsoo masih terlelap, tersenyum di alam mimpinya. Chanyeol dalam hati bersumpah akan menyatukan Myungsoo dan Jiyeon kembali. Bagaimana pun caranya.

“Lusa Jiyeon akan pulang, dan aku harap kau menjaganya dengan baik di rumah. Usahakan Jiyeon tidak bertemu dulu dengan Myungsoo. Aku takut sesuatu akan terjadi. Aku sudah menghubungi noona Myungsoo, dan ia bilang akan datang secepatnya.”

Chanyeol mengangguk mengerti.

~o~

“AAAA Asyik sekali disini,”teriak Jiyeon senang. Mereka sedang berada di pantai, dan kebetulan suasana pantainya sedang sepi. Eunji mengangguk. Ia tengah mengumpulkan keong-keong kecil, lalu merangkainya menjadi kalung. Krystal sedang bermain air dengan Suzy. Baju mereka pun basah kuyup. Hari Jum’at sore. Waktu yang pas untuk refreshing. Jiyeon masih diam, memandangi suasana pantai. Ia mengeluarkan kamera di iPhone, lalu melakukan selca. Hobi Jiyeon.

“nona,”

Jiyeon tersentak. Ada orang Korea? Seorang nenek tua duduk di sebelahnya. “kau harus menjaga orang yang kau sayangi, kalau tidak kau akan kehilangannya.”

apa maksudnya?

.

.

2 hari kemudian…

oppa, bagaimana keadaannya?”tanya Jiyeon pada Chanyeol. Chanyeol menatap Jiyeon lekat. “Ia baik,”. Demi apa, Jiyeon sangat bersorak saat ini. Jiyeon harap, Myungsoo segera mengingat semua. Termasuk mengingat cintanya pada Jiyeon. Tapi, Jiyeon tak ingin banyak berharap saat ini.

Myungsoo terbangun. Jiyeon ada dihadapannya. Myungsoo tersenyum. Jiyeon menggenggam tangan Myungsoo, berusaha memberikan semangat. “YA! Kau darimana saja, sih? Aku mencarimu, tahu.”Jiyeon menyentil dahi Myungsoo. “aishkau ini cerewet sekali. Aku merawat nenekku yang sakit di Busan, jadi aku pergi. Maafkan aku ya,”

Myungsoo mengangguk. Hatinya senang sekali ketika bertemu Jiyeon. Bahkan, selama Jiyeon berlibur, ia selalu menanyakan kabar Jiyeon melalui Chanyeol. Tapi, hanya dijawab gelengan oleh Chanyeol. Hal itu yang membuat Myungsoo kecewa.

“Jiyeon-ah aku ingin jalan-jalan.”

Jiyeon mengangguk. Jiyeon menyiapkan kursi roda untuk Myungsoo, lalu ia yang akan mendorong kursi tersebut. Tentu saja Jiyeon meminta izin kepada Dokter Shin. Dokter Shin mengizinkan, asal Myungsoo tidak terlalu lelah. Jiyeon berhenti di taman rumah sakit. Jiyeon menempatkan kursi roda Myungsoo di dekat bangku taman, agar ia lebih leluasa berbicara.

“Kau tahu? aku seperti familiar dengan wajahmu.”
“Wajahku?”
“Ya, tidak hanya wajahmu. Tetapi, namamu, tingkahmu, bahkan suaramu. Apakah kita sudah mengenal lama?”

Jiyeon menggeleng. Myungsoo masih tidak mengenali dirinya. Jiyeon harus lebih bersabar. Tiga hari lagi. Saat-saat terakhir Jiyeon berada di Korea.

“Ji?”
“Ya?”
“Kau baik baik saja?”
“Ya.”

Jiyeon berbohong tiga kali. Ampuni dosa Jiyeon, Ya Tuhan. Bila ditanya, ia akan menjawab baik. Tapi, sesungguhnya, jauh dari kata baik. Mungkin saja jika Jiyeon sudah diambang batas kesabaran, ia memilih cara tragis untuk mengakhiri hidupnya. Untunglah Tuhan tidak mengizinkan Jiyeon berbuat seperti itu. Jiyeon belum cukup membahagiakan appa, eomma, Sandara unnie, Chanyeol oppa, dan–Kim Myungso0. Sesosok pemuda tampan yang tampak sedang memandangi semburat langit jingga. Bibir Jiyeon tersenyum ketika melihatnya.

“Jiyeon, kau tau apa itu cinta?”

Cinta. Sesuatu yang kadang tidak diinginkan, namun kau terlanjur mengalaminya. Dengan seseorang yang tidak diduga, ataupun samasekali yang kau benci. Tak dapat dilukiskan dengan kata kata karena indahnya. Ataupun justru, berapapun tangisan yang kau keluarkan tak akan dapat mewakilkannya.

“kenapa?kau jatuh cinta, heum?”goda Jiyeon. Myungsoo terkekeh. Semburat merah perlahan menghiasi pipi Myungsoo. “aku rasa.”ucapnya pelan. Jiyeon membelalak. Apa Myungsoo sudah melupakannya? Mengapa secepat itu?

“Tadi ada orang datang, dia mengaku pacarku. Namanya Choi Sulli. Mengenalnya saja tidak, tapi tiba tiba dia mengatakan kalau kami akan menikah. Aku bingung, Jiyeon. Ini sangat membingungkan.”

Jiyeon mengangguk paham. Wanita bernama Choi Sulli. Wanita yang tinggal di daerah Myeondong-do, berpakaian serba modis, ber make up mahal, lalu mengenakan barang barang elit. Bagaimana Jiyeon bisa kenal? Mereka pernah terlibat dalam pembuatan sebuah CF bersama, lalu Jiyeon mengenalnya cukup baik. Jangan jangan Myungsoo mencintainya?

oppa ini aku bawakan waffel.”

Jiyeon menyodorkan sebuah waffel kepada Myungsoo, tentu saja Myungsoo sangat antusias.“oppa, ada makanan di bibirmu.”tunjuk Jiyeon. Myungsoo menoleh. Dengan sigap Jiyeon mengarahkan telunjuknya untuk mengelap noda (?) di bibir Myungsoo. Bunyi nafas Myungsoo dirasakan jelas oleh Jiyeon. Wajah mereka bahkan sudah berdekatan, hingga tersisa jarak 5 cm saja. Myungsoo menelan salivanya. Jiyeon terlihat semakin cantik jika dilihat dari dekat. Mata besar, hidung bangir mungil, lalu bibir kecil yang ranum. Jantung Myungsoo seakan berhenti berdetak saat itu juga. Jiyeon tersenyum ketika menatap manik teduh Myungsoo. Dahi mereka pun berdekatan dan…chu.

Myungsoo mengecup bibir Jiyeon, kemudian menjauhkan wajahnya perlahan. Jiyeon memegang bibirnya. Bekas ciuman Myungsoo. Ciuman pertama dan teridah untuk mereka.

~~~~~

Jiyeon mengetuk pintu kamar perawatan Myungsoo. Ditangannya sudah ada parsel, dan juga beberapa keripik. Jiyeon melihat seorang wanita sedang menyuapi Myungsoo. Tidak salah lagi. Itu Choi Sulli. Jiyeon menaruh parselnya diatas nakas kemudian mendudukkan diri disamping Sulli.

“Choi Sulli ssi, apa kabarmu?”

Sulli menoleh. Bibirnya menyunggingkan senyum kemudian menjabat tangan Jiyeon. “Baik, kau sendiri? Aku tak menyangka akan bertemu denganmu disini.”jawab Sulli sekenanya. Jiyeonj hanya mengangguk. Jiyeon duduk di sebelah Sulli.

“Jiyeon-ah? kau mengenalnya?”tanya Myungsoo. “heeum.”jawab Jiyeon. “Myungsoo-ya, dia temanku dulu yang aku ceritakan waktu kami membintangi CF bersama. Dia terlihat cantik bukan?”ucap Sulli riang. Myungsoo mengangguk, sambil tersenyum mengingat kejadian yang kemarin dialaminya bersama Jiyeon.

“Sulli-ssi, Myungsoo oppa, maaf aku harus pergi. Annyeong,”

#

“Jadi, apa maksudmu menyuruhku kemari?”tanya Minho sambil menyesap kopinya. Sulli tersenyum, “Sederhana saja. Aku ingin bertanya padamu, Minho-ya.”

Kedua alis Minho bertaut. Menatap Sulli yang kini membetulkan riasan makeupnya dengan bingung. “Bagaimana kalau,..aku mencintai seseorang yang lain?”

Minho menghela nafas. Ia sudah cukup tahu. Dari media online, Minho melihat gadisnya tengah berkencan dengan seorang pria. Minho dengan senang hati akan melepaskan wanita yang tengah duduk didepannya itu. Bila media massa bertanya, ia akan menjawab “kami sudah tak saling terterik lagi.”.

“Tentu saja aku akan melepaskanmu, bodoh. Haha,”Minho tertawa hambar. Sulli tersenyum tipis. Well, ini semakin akan mempermudah jalannya. “Bagus. Dan, aku suka itu.”

#

Jiyeon berlari. Tiba tiba hujan deras, akhirnya Jiyeon berteduh di sebuah toko. Jalanan cukup ramai saat ini, sehingga Jiyeon takut ada hal buruk yang akan menimpanya. Setelah dirasa agak reda, Jiyeon kembali melanjutkan perjalanannya untuk pulang. Ada sebuah tangan kekar yang memayungi Jiyeon.

“Choi Minho?”

Choi Minho. Idola Jiyeon. Bagaimana bisa ia berada disini? Bukankah jalan ini terlalu mustahil untuk dilalui artis ternama? Minho tersenyum menawarkan payungnya. Ah, Jiyeon mengerti. Sayang sekali untuk ditolak. “Yes, I did.

Jiyeon mendudukkan dirinya di sofa empuk berwarna merah. Saat ini ia sedang berada di apartemen Minho di kawasan Yangcheon. Apartemen elit, dan hanya kaum kelas atas yang bisa menempatinya. Jiyeon akui apartemen ini cukup nyaman. Bahkan sangat sangat nyaman.

“Bajuku nampaknya terlalu besar untukmu.”

Jiyeon memakai kaos bergambar manchester united yang besar, hingga menutupi paha dan juga celana jeans ketat. Jiyeon tersenyum memandangi kaosnya. “Tapi aku suka sekali kaos ini. Dan, bagaimana caramu menemukanku, Minho ssi?”

“Aku mengikutimu.”
“Apa kau termasuk sasaeng?”
“Bisa jadi. Hahaha.”

Minho yang akrab, dan Jiyeon yang humoris. Membuat atmosfer ruangan disitu menjadi hangat. Bayangkan, belum ada satu jam, mereka sudah seperti mengenal bertahun-tahun. Mari kita tinggalkan dua insan yang sedang bercakap tersebut. Kim Myungsoo. Ahn Sohee. Kim Taeyeon. Dan juga Choi Sulli.

“Myungsoo-ya, apa kau tahu jika kau sudah dijodohkan dengan Sulli?”tanya Sohee dingin. Myungsoo terdiam mendengar ucapan eommanya itu. Tak ada alasan yang tepat untuk menyangkalnya. Myungsoo tahu jika Sulli adalah pacarnya –menurut pengakuan Choi Sulli. Entahlah, Myungsoo merasa tidak ada keterikatan batin dengan Sulli. Atau jangan jangan –Jiyeon.

umma, biarlah. Kita jangan memaksa Myungsoo, biarkan ia yang menentukan pilihannya.”bujuk Taeyeon. Sohee menggeleng. Air mukanya bertambah keras. Sulli diam diam tersenyum puas. Myungsoo masih memainkan jarinya. Ia merasa khawatir dengan Jiyeon.

“aku bersedia dijodohkan, asal Myungsoo tidak.”Taeyeon masih membujuk rupanya. Kali ini Sulli angkat bicara. “akulah adik iparmu yang terbaik, unnie. Tidakkah kau tahu itu?”tanya Sulli dengan nada sedikit –menyindir. Taeyeon mendengus. Sulli mempunyai sifat sama persis dengan ibunya. Hanya saja, ibunya terlihat lebih keras, dan Sulli terlihat lembut namun menusuk.

“bagaimana jika aku tidak mau?”tanya Myungsoo dingin. Sohee membelalak. Berani sekali anaknya bersikap seperti itu.

PLAK!

“tidak tahu balas budi rupanya! aku tidak mau tahu, lusa kau sudah boleh pulang dan seminggu lagi kau akan menikah!”

Myungsoo mencelos.

“apa kau mempunyai yeojachingu? sudah beberapa kali umma katakan, jangan sembarangan memilih! umma sudah mempersiapkan jodohmu sedari kau kecil, Myungsoo-ya.”

“namanya Jiyeon.”kata Myungsoo dingin. Ucapan Myungsoo seperti tak terkontrol. Mengapa Myungsoo menyebutkan Jiyeon? Hatinya mengatakan, Jiyeon lah wanita yang selama ini ia cari. Sedikit demi sedikit ingatannya mulai membaik, dan hanya Jiyeon lah yang ia ingat. Jiyeon, yang ia temui di alam mimpi. Orang yang sama.

Sohee tertawa meremehkan.

malam ini lebih dingin dari biasanya. atau, ini hanya perasaanku saja?

———

Jiyeon merapikan rambutnya, sebelum menemui Sohee, Taeyeon, dan Sulli yang telah menunggu di ruang tamu. Jiyeon membungkuk badannya, berusaha bersikap sopan. Tapi apa? Hanya Taeyeon yang membalas sikap sopan Jiyeon. Harus Jiyeon akui, sikap Taeyeon sangat berbeda dengan sikap umma Myungsoo. Ahn Sohee yang angkuh.

“Kami tak mau berbasa basi–”
Jiyeon masih menunggu disertai senyuman manis yang masih terpasang di wajahnya. Bersama jantung yang berdetak lebih kencang dari biasanya.

“ku ingin kau menjauhi anakku, Kim Myungsoo. ia sudah ku jodohkan dengan Choi Sulli. Setidaknya yang berada satu level dengannya.”

Bukan ucapan ini yang ingin ia dengar. Jiyeon masih bersikap sopan. Sulli tersenyum puas melihat Jiyeon yang terlihat kikuk. Rivalnya. Sulli menyingkirkan Jiyeon secara perlahan.

“apa kau tak bisa menahan egomu, nyonya?”
“apa kau mau menyakiti anakmu?”
“apa kau tak mengetahui betapa buruknya wanita disampingmu?”

ucapan tak terkontrol keluar dari bibir Jiyeon. Sulli dan Sohee kaget. Berani sekali wanita ini mengucapkan hal tak sepantasnya. Jiyeon masih menunggu reaksi dari mereka. Terutama Sohee.

“Apa kau tak mengerti betapa rendahnya dirimu?”Sohee berdiri. Sulli menambahkan, “bahkan melihat wajahmu pun aku tak sudi. Tinggalkanlah oppaku! Atau kau akan tau akibatnya!”

Jiyeon mengakui. Mereka sarkastik, egois, tidak tahu diri. Tapi Jiyeon masih berusaha mengontrol ucapannya.
“Nyonya, bila anda sudah selesai mengutarakan keinginan anda, silakan anda keluar sebelum saya panggil polisi.”
Dengan jengkel Sohee dan Sulli meninggalkan rumah Jiyeon. Taeyeon masih menatap Jiyeon kasihan. Taeyeon mengerti, betapa keras dan liciknya umma. Taeyeon sekali lagi membungkuk pada Jiyeon, berusaha meminta maaf.

“Jiyeon-ah, kemana saja kau?”tanya Myungsoo. Jiyeon tersenyum tipis kemudian menunduk. “oppa aku mau pamit. Aku harus ke Amerika besok. Ku harap kau akan menjaga dirimu dengan baik.”. Myungsoo menatap mata Jiyeon, berusaha mencari kebohongan disana. Sial. Gadis itu berkata jujur rupanya.

“tapi–”
chu.
Kedua kalinya Myungsoo mengecup bibir Jiyeon. Jiyeon akui Myungsoo adalah good kisser. Jiyeon semakin susah melepas Myungsoo, paboya. Myungsoo menyenderkan kepalanya pada bahu Jiyeon. Jiyeon berusaha menolak. “biarkan seperti ini, ini yang terakhir.”

Jiyeon menitikkan air matanya. Jiyeon akan pergi, dan Myungsoo akan menikah. Ketika Jiyeon kembali ke Korea, ia akan mendapati Myungsoo sedang bahagia bersama anaknya yang lucu. Betapa tragis hidupnya.

“Jiyeon-ah tunggu aku di Amerika ya? Neomu joahaeyo.”

Jiyeon mengangguk pelan. Ditatapnya Myungsoo yang sedang tertidur. oppa, ini akan semakin sulit bagiku.

tbc

ada 2 part lagi dan akhirnya finish! hosh >< akan ada FF chapter dan series dari aku, tapi FF itu baru akan di publish KALAU READERS ANTUSIAS. kurang nge feel? jelek? maafkan aku😛 aku author yang banyak kesalahan. tapi aku harap kalian menghargai usahaku ngetik ya..

DENGAN CARA MEMBERI KOMENTAR

salam.
alifahsone.

26 responses to “[CHAPTER-PART 4] My Love, My Brother’s Enemy

  1. ahhh kasian myungyeon ga bisa bersatu,, sohee sma sulli kejam bggt sih,,, aku yakin nnti pada akhir’y myungyeon akan bersatuuu

  2. Pingback: [CHAPTER-PART 6] My Love, My Brother’s Enemy : END | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s