[CHAPTER 5] A Thousand Years

a thousand years final

a special fanfiction by

astriadhima

A Thousand Years

Romance, Angst // Chapter // PG

this fiction casted by :

Park Jiyeon as Wei Jiyi

Kim Myungsoo as El

Suzy as Suzy

Naeun as Naeun

Kai EXO as Kai (Naeun’s Brother)

Disc! Cats isn’t belong to me. I just borrow them for my story.

Prolog| Chapter 1 | Chapter 2| Chapter 3

| Chapter 4

5th Chapter

“Tidak bisakah kau tinggal?” –El.


                Setelah pemakaman Naeun, kediaman Ezra terlihat lengang. Di sudut ruangan Jiyeon tengah mengamati bagaimana kesenangan lenyap dari rumah itu. Madame Ezra sangat terpukul mengenai kejadian ini, tiga hari terakhir ia tak pernah meninggalkan kamarnya. Jiyeon ingat betul bagaimana isakan Ayah Naeun mengetahui anaknya telah tiada. Dengan terbata ia melangkah mendekati peti mati Naeun. Ia meraba wajah Naeun untuk terakhir kali sambil berlinang air mata. Jiyeon tak kuasa menahan tangisnya saat Ayah Naeun meraba leher mayat Naeun. Ia meraba luka yang panjang dan dalam itu. Mengucapkan serangkaian doa dan penyesalan yang ia bisa. Esoknya, Naeun di makamkan di bukit sesuai dengan keinginan Ayahnya. Seketika suasana menjadi hitam dan suram.

Semenjak saat itu rumah Ezra telah berkabung. Seolah canda dan tawa ikut mati bersama Naeun.

Untuk pertama kali Madame Ezra keluar dari kamarnya. Di bantu dengan sebuah tongkat, ia tertatih menuju ruang keluarga. Matanya masih sembab namun ia terlihat menguatkan diri.

“El, kemarilah. Ibu ingin bicara.”

El yang saat itu tengah termangu menatap bintang langsung menghampiri ibunya dan membantunya berjalan. Ia membantunya duduk di sofa. Ezra duduk di sofa yang lain.

Beberapa saat tak ada satu katapun yang terlontar. Hanya kekosongan yang mengalun diudara hingga Madame Ezra berkata. “Aku sudah lelah. Kini saatnya kau bahagia, Anakku.”

El menegak dalam duduknya. Ia menelan ludah dengan berat. Madame Ezra melanjutkan katanya. “Kini Naeun telah tiada. Percuma saja aku memaksakan kehendakku padamu. Menikahlah dengan wanita yang kau sukai dan hidup bahagia.”

El ingin memegang tangan ibunya tetapi Madame Ezra menampik dengan halus. Ia menutup mulutnya karena batuk kecil seolah berkata ‘Aku tidak apa-apa’. “Bukankah seseorang menikah untuk bahagia? Soal kelangsungan ras, mungkin bukan kita yang harus menjaganya. Di Negara asal kita bukankah ras kitalah yang mendominasi. Aku sadar bahwa kita disini hanya sebagai pendatang. Ha ha.” Madame Ezra berkata dengan selingan tawa yang dipaksakan. Baik El maupun Ezra tak bisa menimpali pertanyaan wanita paling disegani dalam rumah itu.

Madame Ezra memandang jauh ke luar rumah. Di kedua bola matanya terpantul langit malam yang hitam dan suram. Air mata tertahan di pelupuknya, entah mengapa ia tak mengeluarkannya dan memilih bertahan.

“Aku rasa ini terlalu cepat.” El kemudian berkata lirih. El dan Ezra berpandangan. Tak ada yang bisa Ezra salurkan saat ini, ia hanya diam menunggu keputusan El.

“Lebih cepat lebih baik. Toh kau lebih cepat bahagia. Aku sungguh tidak apa-apa.” Madame Ezra memegangi dadanya yang naik turun. Ia merasa sangat lelah saat ini padahal belum sampai setengah jam ia keluar kamar. El semakin tampak khawatir.

“Ayahmu pernah bilang padaku jika kau punya wanita yang kau sukai. Menikahlah dengannya. Kita bisa mengatur hari segera.”

“Soal Jiyi…” Madame Ezra menahan katanya sambil menahan rasa sakit. “Kita harus mengirimnya ke kuil. Ia harus menjadi budha.”

Degg..

Jiyeon yang saat itu mengamati dari jauh merasa sesuatu mencekik hatinya. Seolah tangan yang besar dan ganas tengah menjepit dan mengoyak hatinya.

“Kita tidak bisa menahannya untuk bahagia.”

Setelah mendengar kata-kata itu Jiyeon tak kuasa menahan air matanya. Air matanya tiba-tiba mengalir dengan deras. Lalu ia berlari menuju taman belakang.

Angin malam menerobos di tengah-tengah rambutnya, ia tak goyah seolah rasa dingin itu tak sebanding dengan sesuatu yang mengganjalnya saat ini.

“Kita tidak bisa menahannya untuk bahagia.”

Kata-kata Madame Ezra terus terngiang dalam kepalanya. Di depannya, pohon dimana ia sempat menemui Naeun dulu terasa lebih nyaman daripada rumah. Ia merasa bahwa pohon itu sama seperti dirinya. Pohon itu tumbuh bersama rumah Ezra dan tentu saja Ezra. Meskipun Ezra dan keluarganya sempat pindah rumah dan tak kembali, pohon itu tetap disana. Akarnya tetap kokoh dan daunnya bergoyang senang. Keadaan itu tak berubah hingga Ezra kembali. Suatu saat Jiyeon ingin seperti pohon itu. Tetap setia untuk menunggu El meskipun ia akan pergi suatu saat nanti. Karena ia yakin, El pasti kembali.

Jiyeon memeluk pohon itu. Kulit kasar dari pohon itu menggesek kulitnya hingga memar, namun Jiyeon tak mengendurkan pelukannya. Ia mencurahkan seluruh air matanya disitu. “Kenapa mereka ingin aku bahagia? Justru mereka ingin merenggut kebahagiaan itu dariku.”

Jiyeon duduk disamping pohon dan menikmati suasana malam. Sangat kosong dan sunyi. Bahkan binatang malam pun seolah absen untuk hari ini. Hanya terlihat beberapa bintang diangkasa, lalu ada satu yang terlihat paling terang. Jiyeon berdiri.

Tanpa sadar ia mengepalkan tangan. Ia menarik napas dalam dan terus memandang langit. “Kepada sesuatu yang diagungkan oleh keluarga Ezra, bisakah kau mendengarku meskipun kau sendiri tak mengenalku? Aku pernah melihat Ezra dan keluarganya berdoa padamu. Mereka mengepalkan tangan dan memanjatkan doa. Madame Ezra selalu bilang jika kau sangat menyayangi mereka. Kau selalu menuruti apa yang Madame Ezra dan keluarganya minta. Meskipun itu tak datang dengan seketika, Madame Ezra selalu yakin padaku jika Kau akan mengabulkan doanya suatu saat nanti. Mereka mengenalmu jadi mereka bisa meminta apapun sesuka mereka. Aku tak yakin dengan apa yang aku lakukan, tetapi saat ini tak ada orang lain yang bisa kumintai bantuan. Maukah Kau mendengar doa dari seseorang yang tidak mengenalmu? Aku hanya ingin El hidup bahagia. Berikanlah kebahagian padanya perlahan-lahan. Jika aku bisa, aku tetap akan menunggu disampingnya. Meskipun akan sakit suatu hari nanti, itu taka pa.” Jiyeon terpejam. Air mata kembali meleleh di pipinya. Hembusan angin terasa menggelitik di bahunya. Dan saat itu ia bisa merasakan tato nama El di bahu kanannya seolah hidup.

Sejak kecil ia memang ditakdirkan untuk menjaga El. Sampai akhir akan tetap begitu.

 

***

Esok paginya saat Jiyeon mengantar sarapan untuk Madame Ezra, wanita itu tersenyum ramah kearahnya. “Aku sungguh beruntung memilikimu.”

Jiyeon tetap melakukan kegiatannya. Ia membuang muka seolah tak bisa menahan kata-kata yang akan dilontarkan Madame Ezra nantinya. Madame Ezra mengayunkan tangannya. “Kemarilah, Nak.”

Setelah menuangkan teh hangat ke dalam cangkir, Jiyeon mendekati Madame Ezra. Saat mendekat ia bisa melihat kerutan di wajah wanita itu semakin jelas. Ia menua lebih cepat beberapa hari ini. Ia sempat menatap itu yang selalu tulus menjaganya.

Tanpa disadari Madame Ezra mengelus puncak kepalanya. Jiyeon merasa hangat dan nyaman yang luar biasa. Seumur hidupnya baru kali ini ia dibelai oleh Madame Ezra dengan penuh ketulusan. Ia merasa hatinya bergetar. “Bersandarlah disini, tidak apa-apa.”

Jiyeon sangat nyaman dengan ini. Jika waktu dengan senang hati berhenti, ia akan sangat berterima kasih. Ia merasakan bagaimana tangan seorang ibu membelainya. Menyalurkan segenap kekuatan yang tersirat. Jiyeon merasa dirinya menguat berkali-kali lipat. Ia bisa terima apapun yang akan diputuskan Madame Ezra padanya. Seberat apapun itu ia akan terima.

“Kami sangat beruntung waktu itu. Kami menemukanmu tidak sengaja. Kau tumbuh dengan baik dan menjadi gadis yang sangat cantik. Kau sangat ceria dan tak kenal lelah. Kau juga sabar saat menghadapi El ketimbang aku. Sebagai hasilnya El tumbuh menjadi pria yang baik. Itu semua karena bantuanmu.” Madame Ezra menarik napas dalam lalu melanjutkan,

“Kini El sudah dewasa. Ia bisa mengatur hidupnya sendiri. Kami mulai tua dan tak banyak memerlukan apapun. Ketimbang dulu, kami sekarang hanya perlu banyak istirahat. Kami terlalu egois sehingga tidak memikirkan kebahagiaanmu.” Jiyeon menggelengkan kepalanya di dalam pelukan Madam Ezra. Entah karena ia tak setuju jika kebahagiaannya tertunda ataukah ia tak kuasa mendengar keputusan Madame Ezra.

“Kau rela tidak bahagia hanya untuk melihat El tumbuh. Sekarang ia bisa mandiri, sekarang giliranmulah untuk bahagia. Pergilah menjadi budha, banyak luangkan waktu dan bahagia.” Madame Ezra mengeratkan pelukannya. Kini keduanya terisak. Pagi yang seharusnya biasa itu menjadi tidak biasa.

Segalanya telah berubah.

 

1 Tahun Kemudian.

Jiyeon yang waktu itu tengah menyapu pelataran kuil menoleh merasa namanya di sebut. Seorang rekannya berlari sambil memanggil namanya. “Majikan lamamu…..” Gadis itu berjuang di tengah napasnya yang tersengal.

“Tenangkan dirimu dulu.” Ucap Jiyeon sambil menepuk bahunya. Gadis itu menarik napas beberapa kali.

“Ia mengundangmu ke rumahnya. Katanya menantunya akan melahirkan sebentar lagi.”

Seketika senyum Jiyeon terkembang. Ia membuang sapunya dan bersiap untuk ke rumah El. Ia tak sabar melihat rumah dan keluarga itu kembali. Setelah El menikah, Jiyeon dikirim ke kuil untuk menjadi budha. Selama setahun ini Jiyeon menjadi calon budha dengan rajin. Ia banyak meluangkan diri. Meskipun ia bukan calon budha utama, ia bisa rajin melebihi calon budha yang lain. Ia menghabiskan waktunya di tempat itu. Berbincang dan berdoa. Ia menyimpan rapat kesedihannya itu dalam kotak di hatinya. Ia telah membuang kuncinya ke tempat yang sangat jauh, sehingga sulit jika kesedihannya itu akan muncul kembali.

Ia sungguh bersemangat ketika tiba di pelataran rumah Ezra. Rumah itu tak jauh berbeda saat terakhir kali ia tinggalkan. Tetap sejuk dan nyaman. Ia merasa sangat bersyukur pernah tinggal di rumah itu. Saat ia ingin mengetuk pintu terdengar tangisan seorang bayi.

Anak El telah lahir, gumamnya.

Ezra sendiri yang membukakan pintu. Ezra memeluk Jiyeon seolah ia memeluk anaknya sendiri. Jiyeon baru merasa betapa bahagianya saudara El saat memasuki rumah dan dipeluk oleh Ezra. Kasih sayangnya sungguh terasa hingga menembus tulang. Jiyeon merasa disambut baik di rumah itu. Meskipun statusnya kini hanya sebagai tamu.

Kamar El tampak rama dengan suara gembira beberapa orang. Jiyeon sekilas memandangi Ezra lalu dibalas dengan anggukan gembira.

Setelah ia memasuki kamar El, Suzy terlihat kelelahan karena habis melahirkan. Beberapa orang yang membantu persalinan tengah memakaikan baju pada seorang bayi mungil yang masih merah. Di sampingnya, Madame Ezra duduk dengan tenang. Ia sedikit tersenyum meskipun tidak terlalu bahagia. Dan di sudut ruangan……

Apakah ia bahagia?

Jiyeon mendekati bayi mungil itu. Madame Ezra mengangguk pada perawat, lalu bayi itu di serahkan pada Jiyeon. Di bawah kulitnya ia bisa merasakan kulit yang baru lahir. Matanya belum terbuka, tetapi sungguh dari parasnya ia bisa melihat wajah El. Ingin rasanya ia menyalurkan segala energy yang ia bisa agar bayi itu tumbuh dengan kuat nantinya. Ia harus menjadi pria yang terbaik seperti El dan tentu saja harus lembut seperti Suzy.

“Lama tidak bertemu.”

Jiyeon mendengar Suzy berkata. Wanita itu menguatkan diri untuk tersenyum. Peluh masih mengalir dari dahinya namun ia terlihat sangat bahagia. “Selamat karena kau telah melahirkan anak yang sangat tampan.”

Suzy mengangguk. Jiyeon memperlihatkan bayi itu pada Suzy. Ia meraih bayinya. Air mata haru jatuh bersamaan dengan bibirnya yang menempel pada dahi bayinya. Ia sangat sangat bahagia. Jiyeon merasa bahwa Suzy sangat beruntung. Ia tak ingin kebahagiaan hilang dari mereka. Bayi itu dan Suzy harus bahagia. Harus.

Dari belakang ia bisa mendengar langkah berat meninggalkan ruangan. Seketika Jiyeon berbalik dan melihat punggung El menghilang dari ruangan. Jiyeon menyusulnya hingga mereka tiba di tangan belakang. Ia melihat bahu bidang El naik turun. Apa ia sedang menangis?

“Apa kau bahagia?”

El terdiam. Ia menatap lurus kea rah depannya. “Aku tahu kau akan datang.”

“Selamat akan kelahiran bayi pertamamu. Ia sungguh tampan sepertimu. Nantinya dia harus tumbuh baik sepertimu. Aku sangat senang melihat Suzy bahagia. Kau harus pastikan padaku bahwa kau bahagia.” Ucapan Jiyeon terdengar seperti paksaan ketimbang harapan. El berbalik menghadapnya. Ia tetap tampan meskipun ia terlihat lelah dan sendu. Kedua tangannya memegang pipi Jiyeon yang dingin.

“Seharusnya aku bertanya padamu apakah kau bahagia? Merasakan pipimu yang dingin sepertinya kau tidak merasa bahagia.”

Jiyeon menampik tangan itu. “Aku bahagia. Di sana ada banyak waktu luang untuk merenung dan berdoa. Banyak calon budha yang bisa aku ajak bicara. Bagaimana bisa aku tidak bahagia.”

“Aku bertanya padamu El?”

El menunduk. Sangat kentara jika selama ini ia tak bahagia. Jiyeon memandang wajah El dari bawah. Lalu ia mengangkat dagu laki-laki itu untuk menghadapnya. “Ada satu yang kurang.” El berucap. Ia menatap Jiyi sungguh-sungguh. Melihat tatapan itu, Jiyi mengingat saat itu.

Kereta Suzy tengah menuju rumah Ezra. Hari ini adalah hari pernikahan mereka. Segala persiapan telah diramu dengan apik di rumah Ezra. Semua anggota keluarga termasuk Jong dan Odelle juga datang. Mereka semua terlihat gembira. Termasuk El yang waktu itu keinginannya tercapai. Meminang gadis pujaannya. Ia menunggu dengan hati berdebar di depan rumahnya. Hingga kereta Suzy datang. Gadis itu dipandu Kung Chen menuruni kereta. Tutup kepala satin menutupi wajahnya. Pastilah Suzy cantik di balik kain itu. Lalu mereka memasuki rumah dan melangsungkan upacara. Sebagai mempelai wanita, Suzy duduk berjauhan dengan El. Disampingnya, Jiyeon setia menyalurkan kekuatan pada Suzy. Ia menggenggam tangan wanita itu karena gugup. Jiyeon selalu berkata ‘Tidak apa-apa’ yang semakin membuatnya kuat. Hingga upacara usai, Jiyeon tetap menggenggam tangannya.

                Semua anggota keluarga merayakan pesta. El dan Suzy sendiri masuk ke dalam kamar mereka. Jiyeon mengantar Suzy sampai ia memasuki kamar. Ia merasa senang sekaligus janggal. Kebahagiaan terpampang jelas didepan wajahnya, tetapi dalam hatinya ia merasa ada sesuatu yang hilang. Yang mungkin tidak akan kembali.

                Pintu kamar El tertutup.

                Jiyi melepaskan kegundahannya di taman belakang. Upacara selesai saat malam. Meskipun di ruang keluarga masih ramai karena pesta, tetapi di tempat itu tetap sepi sama seperti sebelumnya. Ia memandang kea rah jendela kamar El. Sinar oranye dari dalam yang sebelumnya terasa hangat terlihat sangat menyakitkan di depan matanya. Seolah sinar itu adalah duri yang mampu menggores kulitnya kapan saja. Ia berjalan mendekat ke arah jendela itu.

                El merasa canggung saat malam pertamanya ini. Suzy melepaskan tutup kepalanya. Di bawah sinar lilin wajahnya terlihat sangat cantik. Wanita itu tetap menunduk karena malu. “Bukankah kita sudah menikah?” gurau El. Suzy menganggung lalu mengangkat wajahnya untuk menatap El. “Baru kali ini aku menatap wajahmu dengan jelas. Kau sangat cantik.”

                Rona merah langsung menyelubungi pipi Suzy. Ia tersenyum. “Aku sungguh gugup hari ini. Bagaimanapun juga aku menikah pada saat usia muda. Berbeda dengan kakakku, mereka sudah matang. Sedangkan aku, merajut saja belum bisa.” Ia terkekeh.

                Suzy yang pertama kali duduk di ranjang. Ia melemaskan kakinya yang terasa sangat berat. Ia menyibak roknya bermaksud melepas ikatan kain yang ada di kakinya. Sesuai kebiasaan masyarakat China, anak perempuan harus mengikat kakinya agar selalu tumbuh ramping. Elihat hal itu El berusaha membantu Suzy melepaskan kain di kakinya.

                “Apa tidak sakit diikat terus seperti ini?”

                Suzy hanya tersipu. “Saat Ayah mengikat kakiku ia selalu bilang jika suaminya nanti akan menyukai kaki yang ramping. Diikat seperti inipun tak masalah.”

                “Apa Jiyi tidak melakukannya?”

                El langsung terdongak. Benar, Jiyi juga seorang keturunan China. Namun karena dibesarkan di keluarga asing, sepertinya gadis itu tak mengenal tradisi seperti ini. “Sepertinya tidak.”

                “Dia gadis yang sangat kuat.”

                Mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Suzy, El berhenti. Ia jadi meragukan kalimat itu, Apakah Jiyi masih kuat?

                “Maafkan aku. Kau bisa melanjutkan sendiri kan? Aku sangat lelah hari ini.”

                Setelah mengatakan itu El keluar dari kamar. Ia berdiam diri di bawah pohon taman belakang. Ia tak yakin dengan perasaannya. Baru saja ia merasa bahagia karena melihat wajah Suzy, tetapi kebahagiaan itu seolah lenyap bersamaan dengan nama Jiyi yang disebutkan. Ia menarik napas panjang, memenuhi paru-parunya dengan udara malam yang terasa membingungkan.

                Dari kejauhan Jiyi menatap punggung El. Samar-samar ia bisa mendengar percakapan El dan Suzy saat di kamar tadi. Ia merasa sangat bersalah karena Suzy kehilangan haknya malam itu. Ia tak tahu harus berbuat apa. Menemui Suzy untuk minta maaf padanya atau menemui El untuk berkata bahwa dirinya tidak apa-apa. Dan maam itu, Jiyi menghabiskan malam dengan memandang punggung El di bawah jendela kamar Suzy.

“Aku tahu, aku sangat bahagia waktu itu. Saat melihat wajah Suzy pertama kali. Ia sungguh cantik, aku merasa aku sangat beruntung. Tetapi kemudian, setelah aku mendengar namamu. Kebahagiaanku seolah berkurang. Ada yang salah dengan ini. Lalu aku menghabiskan malam pertama di bawah pohon sendirian. Aku tahu waktu itu Suzy kecewa, tetapi aku sendiri tidak yakin dengan apa yang aku lakukan. Esoknya, saat aku mencoba mencarimu. Kau telah pergi bahkan tanpa mengucapkan salam perpisahan. Meskipun kau hanya budak disini, tetapi aku butuh sekedar kata selamat tinggal dari seseorang yang tumbuh besar bersamaku. Aku mencoba hidup dengan baik bersama Suzy. Tetapi ternyata Suzy bukankah wanita yang bisa diharapkan. Ia wanita yang manja. Ia tak bisa mengurusi dirinya sendiri. Aku khawatir jika kami punya anak nanti ia akan mengurusnya dengan baik atau tidak. Sekarang, masalah bahagia atau tidak itu saja tidak cukup. Aku lebih khawatir dengan masa depan anakku, sekarang aku punya tanggung jawab lebih. Anakku sudah lahir dan Suzy tetap seperti itu.”

Jiyi menatap wajah El yang semakin mengeras. Betapa laki-laki itu menahan segala emosinya. Jiyi membuka lengannya dan memeluk El.

Pelukan itu terasa hambar. Meskipun Jiyi memeluknya karena kasihan, ia berharap bisa menguatkan El melanjutkan hidupnya. Ia harus bisa bertahan demi anaknya.

“Tidak bisakah kau tinggal?”

 tbc

Halo? masih ingatkah dengan cerita ini?

Meski otak lagi buntu banget tapi aku tetep kekeh untuk namatin ff ini. Haha btw kurang satu chapter lagi. Aku masih mengoreksi ff ini dari typo, jadi kalo masih ada tolong maafkan. Semoga terhibur

O iya bagi yang penasaran sama akhir cerita mereka bisa email aku di astriadhima@yahoo.com atau bisa tanya dulu di ask.fm/astriadhima nanti bakalan aku kirimin dokumen chapter akhirnya beserta epilog + special sequele😀

Ini buat readers yang pengen baca chapter akhir lebih dulu, disini baru aku post sekitar 1 bulan atau beberapa minggu lagi. Sistem ini juga aku gunain sebagai tolak ukur seberapa sukses kah ff ini. Seberapa besarkah keinginan readers untuk membaca chapter akhir.

terakhir aku mengucapkan makasih banyak buat readers yang udah ngebelain baca sampe chapter ini. Dari komentar kalianlah aku tetep semangat buat ngelanjutin cerita ini. Ke depan aku bakalan kembali dengan cerita dan penulisan yang lebih baik lagi.

Much love~ swag

40 responses to “[CHAPTER 5] A Thousand Years

  1. daebak author-nim..,
    penulisanmu udah amat baik donk…
    jalan ceritanya keren banget…
    T T kasian bnget ma jiyi…
    elnya udeh nikah ma suzy punya anak lg..
    el kok nyuruh jiyi ngurusin rumahtangganya??
    ato bakalan jadi kek bbysitter???
    pokoknya el suka ga ma jiyi???
    uwahhh gi mana nih,,,,
    gue harap bakalan hpy ending,,

  2. ahhhh~~ semakin kesiksa aja jiyeon unnie,,,
    sesek bacanya, apalagi myungsoo udh punya anak T.T
    gomawo chingu,,, ceritanya keren
    di tunggu next partnya ya ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s