High School (Chapter 5)

FF High School

This story belongs to brownpills.

Romance, Schoollife, Friendship I Chaptered I PG-14

Cast by Kim Myungsoo, Park Jiyeon, Jeon Jungkook, Bae Suzy, Jung Krystal

Pure of mymind. Inspired of some problems.

Let me see~

.

Senyummu yang tidak mencibir padaku.

Membawaku jauh menghilang.

Dalam kegelapan senyummu bersinar terang dalam hatiku.

Aku ingin mengulang, aku ingin mengulang, aku ingin mengulang.

-High School

Myungsoo’s PoV

 

Gerak gerik tubuhku waspada mengikuti kedua gadis itu. Bahkan aku tampak mengendap-endap untuk melihatnya. Konyol.

“Apa kau tau? Karena pandanganmu itu, sekelas menuduhku melakukannya!”

Suara tingginya menggema di dalam lapangan in door basket. Aku sendiri sedikit tersentak. Kulihat gadis dengan rambut kecokelatannya tengah menahan pukulan di kedua telapak tangannya yang ia genggam di kedua sisi roknya.

“Mengapa kau hanya diam?!”

Sementara gadis dengan rambut lurusnya yang diikat ekor kuda itu tampak lebih tenang. Meski begitu tetap saja sepasang matanya berkaca-kaca.

“Bukankah itu memang kau?” akhirnya gadis itu berkata. “Kau marah padaku karena kau tidak terpilih. Karena itu kau merusak buku milikku. Bukankah itu jelas?”

Ya, Bae Suzy.”

“Aku tidak memaksamu untuk mengakuinya. Tetapi jika kau memang menginginkan hubungan kita menjadi seperti ini. Baiklah, akan kulakukan seperti yang kau minta.”

Selesai meluapkan perkataannya, Suzy berjalan menjauhi Jiyeon. Hati-hati aku menggeser tubuhku ke samping begitu Suzy mencapai pintu masuk lapangan. Ia tidak menyadariku, karena pandangannya tegak ke depan dan— menangis?

Postur tubuh mungil itu semakin terlihat menjauh. Aku menghela nafas seraya kualihkan pandanganku pada gadis yang masih berada di antara kursi-kursi penonton.

Perlahan kedua kakiku mulai mendekatinya. Berdiri di hadapan gadis yang memeluk lututnya di lantai sambil menyembunyikan wajahnya di sana. Lapangan senyap hanya berisi suara sesenggukan gadis ini.

Ragu aku menekukkan salah satu lutut di hadapannya.

“Siapapun itu aku tidak ingin diganggu,” isaknya masih tenggelam dalam dekapannya sendiri.

Tenggorokanku tercekat, tanganku sedikit gemetar.

“Ingat bahwa kau tidak sendirian—“ kata-kata itu terucap susah payah dari mulutku, “—bahkan jika dunia menyebabkanmu sakit—“

“—mulai sekarang, saat kau merasa sepi atau bersedih—jangan menangis.”

Isak tangisnya tertahan begitu aku mengatakannya. Ia mengangkat wajahnya. Kedua matanya memerah. Air mata memenuhi pipinya yang bersemu. Mulutnya sedikit terbuka. Jiyeon tampak kacau.

Meski ia sudah tida berisak lagi, tetapi cairan bening terus mengalir di wajahnya.

Jantungku remuk melihatnya. Hatiku hancur berkeping-keping. Entah mendapat dorongan darimana, aku mengusap air matanya yang terasa hangat.

“Jiyeon-a, apa kau ingin kuberitau sesuatu?” tanyaku setelah memastikan gadis itu lebih tenang.

Mwo?”

Dengan pelan aku duduk di sebelahnya. Ikut merasakan dinginnya lantai pada lapangan ini.

“Ada hal yang lebih penting dari sekolah, nilai, ataupun prestasi. Kau mau tau apa itu?”

Walaupun ia tidak menoleh kepadaku, tetapi aku yang memperhatikannya dari samping.

Chingu,” jawabku karena ia hanya terdiam.

“Aku tidak pintar atau rajin sepertimu. Nilaiku juga lebih buruk darimu. Tetapi aku berusaha untuk menemukan bakatku. Disaat aku berusaha itu, ada teman yang mendukungku—“

Mulutnya membisu membiarkanku bercerita panjang lebar.

“—karena itu ketika aku sudah menemukan bakatku, aku sadar bahwa ada yang lebih penting dari bakat dan impianku, yaitu chingu.”

Tepat disaat itu ia membalas tatapanku dengan mata sembabnya. Hidungnya masih memerah. Wajahnya masih terpukul.

“Apa yang kau pikirkan tentangku?” ia bertanya begitu pelan.

Sebenarnya apa yang mengambil jauh senyum milikmu?

Aku menyahutnya sambil tersenyum kecil, “Apa yang aku pikirkan tidaklah penting. Yang penting adalah apa yang kau rasakan.”

Bibirnya bergetar, rahangnya gemeretak, matanya menyipit, alisnya berkerut. Dari dekat baru kusadari Jiyeon memikul beban yang berat.

Kini ia membuang muka menyadari ia tidak mampu lagi membendung air matanya.

“Ketika aku bersama Suzy, aku selalu khawatir hatiku yang tidak sabaran ini akan merusaknya. Dan ternyata benar,” ia berhenti sebentar, “—aku sudah merusaknya.”

Aku menghembuskan nafas, “Ternyata seorang Park Jiyeon bisa menangis.”

Rupanya ia tidak mengindahkanku. Ia sibuk bergulat dalam pikirannya. Sibuk berpikir bagaimana cara menghentikan tangisannya.

Aku mengepalkan tangan kuat. Dengan mantap aku beranjak berdiri. Berjalan menjauhinya untuk mengambil bola basket. Bunyi berdebum terdengar saat aku memantulkan bola berwarna oranye itu.

Ya, Park Jiyeon!” lantangku, “Jika aku berhasil memasukan bola ini ke dalam ring sepuluh kali—“

Jiyeon yang masih terduduk memandangiku dengan dahinya yang berkerut heran.

“—maka kau harus tersenyum padaku.”

Aku akan memelukmu tanpa kata. Aku akan mendengarkanmu tanpa kata. Lihatlah aku berada di sini. Menyapu segala air matamu. Bahkan menghapus seluruh kesendirianmu.

Dengan sigap aku mulai menggiring basket dengan memantulkannya. Tubuhku meloncat dan memasukan bola basket ke dalam ring dengan sempurna. Satu poin.

Senyumku mengembang sambil melihat Jiyeon yang kini memperhatikanku dalam diam.

Aku kembali meraih bola yang cukup berat itu. Memantulkan, menggiring, dan menembaknya ke arah ring. Shoot! Dua poin.

Gerakanku terlihat lihai. Tanpa ada hambatan aku bebas memasukan bola basket. Bahkan dari jarak yang jauh aku bisa melakukannya.

Begitu terus hingga tidak terasa aku sudah mencetak sepuluh poin. Keringat membasahi tubuhku. Kemejaku sudah berantakan. Nafasku tidak teratur.

Aku melentangkan tubuhku merasa lelah. Lantas aku menolehkan kepala. Jiyeon masih di sana. Raut wajahnya belum berubah.

Irama detak jantungku berpacu cepat. Nafasku masih terengah-engah. Pandanganku terus menguncinya hingga senyuman itu terbentuk di wajah tirusnya. Senyuman yang manis.

Bahkan kelelahanku tidak terasa saat melihatnya mulai tersenyum sambil memamerkan sederetan giginya. Aku akan mengingatnya.

—o0o—

Akhir pekan menjelang Ujian Kenaikan Kelas,

 

Secepat mungkin aku berlari menembus kerumunan orang. Begitu ramai ketika malam hari. Aku tidak peduli sudah berapa kali aku tidak sengaja menyenggol bahu orang. Yang kulakukan terus melangkahkan kaki dengan cepat.

 

‘Bisakah kau menemaniku malam ini? Aku menunggumu di mall depan bioskop.’

 

Pesan singkat darinya terus terngiang dalam otakku. Elevator yang berjalan otomatis aku lewati dengan berlari. Langkah lebarku berhenti begitu mencapai pintu masuk teater bioskop.

Badanku sedikit membungku dengan kedua tanganku yang menyentuh lutut yang terasa pegal. Tidak peduli nafasku sudah tersengal, aku melanjutkan langkahku sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru.

Tidak sadar aku menghela nafas lega mendapati sesosok gadis dengan baju berwarna peach dipadukan rok mini memunggungiku.

Ya, apa kau suka membuat orang terburu-buru?” begitulah sapaanku membuatnya membalikkan badan.

“Myungsoo! Kau datang.”

Bibirku mendesis mendengarnya, “Ne, aku datang, Nona Park Jiyeon. Kau senang?” cibirku.

Jiyeon mengulum senyumnya dan berkata, “Kajja!”

.

.

“Apa kau bercanda?” omelku, “Mengapa kau menyuruhku datang ke bioskop jika akhirnya kita berada di tempat ini!”

“Aku ingin membeli buku,” sahutnya enteng.

Gadis itu meraih salah satu buku dari rak yang menjulang tinggi. Ia membuka sekilas buku bersampulkan kertas marmer itu, lalu mengembalikannya ke tempat semula. Jemarinya menari di antara bebukuan yang tertata rapi. Matanya menyipit membaca tiap judul yang tertera di sisi buku.

Aroma khas dari toko buku menyengat hidungku. Sudah beberapa kali aku menyumpahi gadis ini dalam hati. Berharap segera pergi dari tempat membosankan seperti ini.

Ya, Myungsoo,” panggilnya masih menelaah buku-buku di hadapannya, “Kau tidak suka dengan toko buku, keutchi?”

“Jika kau tau, mengapa kau mengajakku kemari?” sungutku.

“Karena aku tidak tau harus ke mana—“

Jika aku memikirkannya sekarang, aku bahagia karna aku ada disisinya. Tetapi mengapa ia harus memasang ekspresi seperti itu tiap kali bersamaku.

“—aku tidak bisa berada di bioskop untuk hari ini.”

Lagi, aku membencinya. Aku membenci dirinya tiap kali ia berbicara dengan nada yang menyedihkan. Tiap kali ia menghembuskan nafas dengan susah payah. Tiap kali ia memasang pandangan kosong.

“Sebenarnya aku memanggilmu karena hari ini aku ada janji nonton dengan Suzy dan Krystal—“

Tiba-tiba gerakan jemarinya terhenti. Telapak tangannya menggenggam erat buku yang sempat ia bolak-balikan kertasnya.

“—aku berusaha untuk meniatkan diri seolah tidak terjadi apa apa, tetapi—“ mata tajam yang dipoles eyeliner itu bahkan tidak bisa menoleh padaku, “—ternyata aku tidak bisa.”

Jakunku naik turun mendengarnya.

“Aku tidak mampu melihat mereka—“ lantas ia menatapku sembari tersenyum tipis, “—karena itu menyakitkan.”

Tenggorokanku tercekat. Sorot matanya yang khas mampu menghipnotisku. Membawaku ke dalam dunia fana.

Wajahku berpaling cepat. Takut terlalu jauh tenggelam dalam kepedihannya. Aku mendecakkan lidah seraya berkata dengan nada yang dibuat-buat, “Keure! Aku akan menunggumu.”

Lenganku menjulur untuk merebut buku yang ada di tangannya seraya kutimpukkan buku itu pada dahinya. Membuat tangannya mengusap dahinya pelan.

“Lanjutkan saja, aku akan berpura-pura membaca buku ini,” ucapku.

Ia mendengus sambil mengerecutkan bibirnya. Aku hanya menyengir kuda.

Tidak tahan melihat ekspresi polosku, Jiyeon segera membuang muka, kembali mencari buku yang ia butuhkan.

“Apa kau sangat suka membaca?” tanyaku membuka obrolan lain.

“Aku harus banyak membaca agar aku bisa menjadi orang yang sukses.”

Heol,” aku hanya bisa menggelengkan kepalaku mendengarnya.

Senandung lagu mendayu-dayu sengaja diputar untuk menemani para pengunjung. Tidak ada keramaian yang tercipta. Satu sama lain tidak saling peduli, mereka terlalu asyik tenggelam dalam aktivitas membaca.

Merasa tidak menemukan bukunya di rak, Jiyeon menggeser tubuhnya ke arah tetumpukan buku setinggi lutut. Yang sengaja disusun dari bawah lantai.

Aku mengikutinya –masih- sambil membawa buku yang bahkan aku tidak tau apa namanya. Sesekali aku meliriknya melalui ekor mataku. Mulut gadis itu bergerak mengeja tiap tulisan yang tertera di sampul buku tanpa suara. Terkadang ia hanya membaca ringkasan cerita di halaman terakhir.

Masing-masing dari kami bungkam. Hanya memandanginya sudah cukup bagiku.

“Ini dia,” serunya tertahan sambil mengacungkan buku.

Salah satu alisku terangkat ketika ia berbalik melihatku dengan wajah sumringah.

“Aku sudah menemukan bukunya, aku akan ke kasir.”

.

.

Sinar rembulan di jalanan malam. Angin sepoi-sepoi yang menyenangkan reda. Pergi berjalan berdua dengannya membuat hatiku berdebar.

Meski langit sudah gelap, namun suasana sekitar makin ramai. Kendaraan berlalu lalang di jalan raya. Sementara pejalan kaki santai di jalur sisi jalan raya. Termasuk aku dan dia. Selesai membeli buku, aku sengaja menemaninya pulang.

“Sampai di sini saja,” ucapnya menghentikan langkah. “Aku akan memesan taksi di sini, kau bisa pulang sekarang.”

Mwo? Sirheo.”

Wae?”

Kikuk aku menggaruk tengkuk kepalaku yang tidak terasa gatal. Kupaksa otakku untuk mencari alasan.

“Ini sudah malam!” bentakku sambil berusaha memasang wajah ketus, “Mana bisa aku meninggalkan seorang gadis sendirian pada malam hari.”

“Ckck, sejak kapan kau perhatian dengan yeoja,” gumamnya masih bisa kudengar.

“Lagipula aku tidak ada kerjaan di rumah.”

Ia hanya mengangkat bahu seraya merogoh tas selempangnya. Begitu mendapatkan ponselnya, ia menekan beberapa nomor lalu menempelkan beda mungil itu ke dekat indera pendengarannya.

Ia bercakap sebentar dengan lawan bicaranya di seberang sana. Selesai mengakhiri obrolannya di dalam telepon, ia memasukan ponselnya ke dalam tas berukuran kecil berwarna cream.

“Aku sudah memesan taksi,” katanya memberitahu.

Kepalaku mengangguk mengerti. Kumasukkan kedua telapak tanganku ke dalam saku celana ketika angin malam berhembus menusuk tulangku. Sedangkan Jiyeon merapatkan jaket rajutannya sambil bergidik kedinginan.

Entah mendapat dorongan dari mana, kutarik telapak tangan gadis itu. Memasukkannya ke dalam saku jamper yang kukenakan. Ia sedikit tersentak menyadari perlakuanku.

Ya!” bentaknya menarik kembali tangannya sambil memukul kepalaku.

“Argh.”

“Kau mau mati?!”

Sedikit memaksa, aku kembali menggenggam tangannya. Ia membulatkan matanya sambil berusaha melepaskan genggamanku. Tetap saja tenaga pria lebih kuat daripada wanita. Dengan tenang aku memasukkannya ke dalam saku jamper.

“Tanganmu sangat dingin,” ujarku, “Biarkan seperti ini.”

Sudah tidak kurasakan lagi ia memberontak. Kini ia membiarkan kehangatanku menyalur melalui telapak tangannya. Ia mengunci mulutnya rapat.

Tidak lama setelah itu, taksi yang ia pesan tiba di hadapan kami. Ia segera mengeluarkan tangannya dari saku jamper milikku.

Tanpa melihatku ia berkata, “Aku akan membalas perbuatanmu ini nanti.”

Kedua bola mataku berputar. Mulutku bergeming. Gadis itu mulai melangkah. Namun ia berhenti sejenak dan berbalik padaku.

Gomawo.”

Setelah mengucapkannya ia segera membuka pintu mobil itu dan masuk ke dalamnya. Membiarkan mobil berwarna kuning itu membawanya menjauh. Sedangkan aku seolah kehabisan nafas, diam di tempat.

—o0o—

Koridor sekolah yang masih sepi kulewati dengan kedua kaki yang mengayun ringan. Sesosok gadis dari arah berlawanan tampak kesulitan mengangkut buku-buku yang hampir menutupi wajahnya. Aku segera mendekatinya, mengambil alih tumpukan buku itu dari tangannya.

“Eh,” ia agak terkejut tetapi ia tersenyum begitu melihatku.

“Banyak sekali buku yang kau bawa,” kataku sambil membenarkan posisi buku itu dan membopongnya.

“Eum, itu kumpulan soal olimpiade fisika.”

“Aaa, uri Suzy akan mengikuti olimpiade.”

“Itu menyebalkan.”

“Mmm?”

“Membaca soal, mengerjakan soal, menyocokkannya dengan kunci jawaban. Aku bosan melakukannya berkali-kali.”

Sedikit tersenyum aku mendengar ocehannya.

“Sebenarnya buku itu bukan milikku semua. Sebagian milik Jungkook. Dia tidak mau mengambilnya sendiri. Liat saja nanti aku akan memukulnya.”

Suzy terus berkicau sepanjang kami berjalan. Dan aku mendengarkannya sambil tersenyum kecil. Terkadang aku sedikit gemas. Begitu sampai di ambang pintu kelas, omelannya terhenti. Kedua matanya berubah menjadi kosong.

Aku meletakkan tumpukan buku itu di bangku yang paling dekat dengan pintu kelas. Pandanganku mengikuti arah pandangan Suzy. Di situlah sosok Jiyeon tengah mencengkram kerah baju milik Hyuna. Teman sekelas memperhatikan kejadian itu seksama tanpa berani menyela.

Sontak Suzy mendekati Jiyeon. Ia melepaskan cengkraman Jiyeonsambil sedikit mendorong tubuh gadis itu.

“Apa yang kau lakukan?!” bentak Suzy.

“Cih, tanyakan saja pada gadis licik di hadapanmu,” sahut Jiyeon langsung meninggalkan kelas.

Ketika tubuh gadis itu melewatiku -yang masih berada di ambang pintu- dapat kurasakan hawa kemarahan.

“Apa yang terjadi?” tanya Suzy pada Hyuna yang terlihat kewelahan.

“Hyuna yang merusak buku olimpiade milikmu,” jelas Kai yang sudah daritadi menyaksikannya.

Suzy mengerutkan alisnya. Gadis itu memandang Krystal yang hanya diam seribu bahasa. Lalu pandangannya beralih pada Hyuna. Hyuna masih tidak membuka mulutnya. Bahkan ia tidak berani membalas pandangan Suzy.

“Apa itu benar?” kini Suzy mulai terpancing emosi.

Krystal segera melerai keduanya, “Sooji-ya—“

 

PLAK!

 

Tamparan itu mendarat tepat di pipi mulus Hyuna sehingga meninggalkan bekas merah di sana. Krystal memekik tertahan. Sebagian isi kelas bersorak seolah hal yang mereka lihat adalah sesuatu yang keren.

“Gara-gara kau persahabatanku dengan Jiyeon menjadi berantakan,” geram Suzy mempersempit jarak di antara dirinya dengan Hyuna, “Mengapa kau melakukannya?”

Ketakutan yang ada di bola mata Hyuna menghilang menerima perlakuan Suzy. Dengan berani ia menusuk manik mata hitam milik Suzy, “Karena kalian begitu angkuh.”

Mwo?”

“Aku benci ketika melihat kalian berdua selalu bersama. Kalian sama-sama pintar dan selalu menganggap rendah yang lainnya. Menatap teman kalian dengan pandangan yang tidak mengenakkan. Aku benci itu.”

Neo—“ Suzy mengepalkan tangannya, “—aku merasa kasihan padamu.”

Setelah itu, Suzy melenggang ke luar kelas. Krystal segera menyusul sobatnya. Sedangkan Hyuna terpengkur dan menjatuhkan tubuhnya di atas meja.

“Woo, daebak!” seru Kai.

“Pertengkaran wanita memang menyenangkan,” ujar Minho.

“Aish, membosankan,” Tao kembali menyedekapkan tangan sambil melanjutkan tidurnya.

Sementara gadis-gadis mulai menghujat Hyuna. Kebanyakan mereka menjauhinya sambil berbisik satu sama lain.

Lantas aku segera mengembalikan alam pikiranku. Kedua kakiku bergerak dengan sendirinya. Semakin lama semakin cepat dan langkahku menyurut begitu mendapatkan ketiga gadis itu dalam jangkauan mataku.

“Bagaimana denganmu?”

Meski aku tidak berada di dekat mereka, tetapi aku masih bisa mendengar Suzy mengatakannya.

“Aku semua tentangmu. Aku ingin kembali ke hari-hari yang indah,” lanjutnya.

Sementara Krystal diam tidak mampu mengucapkan sepatah kata.

Kupusatkan perhatianku pada salah satu di antara ketiganya. Pada gadis yang berdiri di hadapan Suzy dan Krystal. Pada gadis yang tidak mau berkata apa-apa. Pada gadis yang terdiam dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Kami tidak akan membiarkanmu pergi.”

 

to be continued~~

-Jungkook’s PoV (Chapter 6) COMING SOON-

Akhirnya berhasil juga buat Chapter yang PoVnya dari Myungsoo *fyuh~*. Myung udah, giliran PoVnya Jungkie yang belum. Bakal gimana ya entar? Ngng… Hara juga bingung *plak*. Kebanyakan pada nge ship Jiyi-jungkie, di situ yang membuat Hara berpikir lagi. Jiyi-Myung atau Jiyi-Jungkie?? Di chapter ini ada kemajuan antara Jiyi-Myung, nah trus Jiyi-Jungkie? Eits, jangan kira~ coba kita lihat di Next Chapter -Jungkook’s PoV-, wkwk. Btw, komentar kalian sangat mempengaruhi couple di sini T_T. Hara harus mempertimbangkannya baik baik.

Thanks for Tiger Jk ft Jinshil – Reset & Yoon Mirae – I’ll Listen to You🙂 Thanks for readers, muaah, paipai~

61 responses to “High School (Chapter 5)

  1. yeah myungyeon moment udh mulai ada tp msh kurang niie,, jadi bikin moment myungyeon yg lebih banyak lagi yya,,,
    aku akan ttp milih MYUNGYEON❤❤❤

  2. Iya thor aku jga jdi bingung hrs pilih psngan myungyeon / jungyeon, ke-2’y sma2 serasi… Ach, entahlah siapa pun nanti psngan jiyeon aku setuju2 aja, dan untuk yg satu’y blh buat aku kok thor klo bsa, hahahaha…. *ngarep mode on😀

  3. Huaa…so sweet ya adegan myunji..btw..lagi bagis kalo adegan myungji dan jiyi dan jungkook sama2 sweet..biar cinta segi tiga ya…dan semoga saja pov nya jungkook nggak kalah sweetnya myungji..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s