[CHAPTER 3 – I Hate My Sister] You are My Way

image

I HATE MY SISTER presented by redvelvs
Casts: Jiyeon, Myungsoo, Chorong.
Genre: Romance, family, etc
Aaah~ udah lama banget kan ya author ga ngepost2. Maaf banget nih T-T author ada kursus banyak, belum lagi fangirling /eh/. Nah, bagi yang uda nunggu2, enjoy! This FF is made by love and supports from readers (: happy reading!

“Hoamm,” Jiyeon menguap. Ia terbangun di ruangan yang asing. Oh, Jiyeon baru ingat bahwa ia sedang menginap di rumah Myungsoo. Ia melihat jam yang tergantung di depannya. Pukul 7. Ia menyisir rambutnya sebentar, dan langsung keluar kamar.

Good morning, Jiyeon-a..” sapa Myungsoo hangat. “Annyeong, Oppa,” balas Jiyeon. Myungsoo yang tengah minum teh di ruang tamu langsung menghampiri Jiyeon. “Ayo, kita jogging dahulu. Appa, Eomma, dan Yeri belum bangun. Ayo, ganti baju,”

—-.

Setelah menukar baju piyama dengan kaus dan celana training, Jiyeon menguncir rambutnya menjadi satu. Ia segera keluar dari kamar, dan mendapati Myungsoo di depan kamarnya dengan dua botol di tangannya. “Yang biru untukku, yang merah muda untukmu,” serah Myungsoo. “Gomawo, Oppa,”

Mereka segera memakai sepatu kets milik mereka masing-masing dan mulai jogging. “Wah, lingkungan disini agak sepi ya, kalau pagi,” ucap Jiyeon. “Ya, kalau di kawasan rumahmu ramai, ya?” Jiyeon mengangguk sambil terus berlari kecil. Myungsoo berhenti sebentar dan meminum air dari botol birunya sejenak. Begitu juga dengan Jiyeon. “Ah, capeknya,” ucap Jiyeon. Keringat mengucur dari dahi mereka berdua.

Myungsoo mengeluarkan sapu tangan dari kantung celananya, dan mengelap keringat di wajah Jiyeon. “Eoh? Gomawo, Oppa.” Sahut Jiyeon ceria. Lagi-lagi begitu. “Mau sudahan saja? Kau sudah terlihat capek,” ajak Myungsoo. Jiyeon menggeleng dan segera berlari lagi.

—-.

“Kalian dari mana saja?” Tanya Eomma Kim saat melihat mereka berdua di depan pintu masuk. “Kami habis jogging, ahjumma.” Jawab Jiyeon. “Oh, ya sudah, cepat mandi. Ahjumma sudah membuatkan sarapan. Jiyeon, kau bisa mandi di kamar mandi lantai dua.” Jiyeon mengangguk patuh. Ia membungkuk lalu segera naik ke lantai dua, untuk mengambil baju baru, dan mandi.

“Myungsoo-ya, kau suka Jiyeon?” Tanya Eomma Kim. “Oh? A.. aniya.” Jawab Myungsoo takut. “Jinjja? Gotjimal.. Sudahlah, kau cepat mandi, dan kita bisa sarapan,”

—-.

Pagi itu kediaman keluarga Kim sangat hangat saat ada Jiyeon. Mereka semua bertanya mengenai dirinya. Jiyeon merasa nyaman berlama-lama disini. Ia merasa keluarga Myungsoo adalah keluarganya sendiri.

Eonni, kau sudah punya pacar?” Tanya Yeri langsung. Memang, Yeri sudah sangat penasaran sedari tadi. “Eh? Belum,” jawab Jiyeon ragu. “Wah, kau dengan Oppaku saja.. kalian cocok, lho,” pipi Jiyeon langsung merah padam. Myungsoo langsung tersedak mendengar ucapan Yeri. “Ya, Yeri-ya, sudah makan saja,” tegur Myungsoo.

“Anakku sudah besar ya.. kalau kau sudah punya pacar, kenalkanlah pada Appa dan Eomma, ya?” Eomma Kim mengusap punggung Myungsoo. “Ah, ne,”

—-.

“Kau mau kemana lagi, Jiyeon-a?” Tanya Myungsoo pada Jiyeon yang sedang asyik membaca berita di internet. “Entahlah, aku rindu orangtuaku,” gumam Jiyeon. “Kau mau pulang?”

“Siapa? Aku? Oppa mengusirku ya?” Jiyeon mem-poutkan bibirnya. “Lho? Kau bilang ‘kan kau rindu orangtuamu,” Jiyeon menunduk. “Orangtuaku.. sudah tak ada, Oppa,” Myungsoo tersentak kaget mendengarnya. “Tapi, waktu itu kau bilang padaku kalau kau akan diantar Appa ke sekolah? Jadi itu bohong?”

Jiyeon mengangguk kecil. “Kau mau ke makam orangtuamu?” Tanya Myungsoo ragu. Jiyeon menatap kedua manik mata Myungsoo. “Aku baru saja mendatangi mereka 2 hari yang lalu,”

“Tak apa. Akan ku temani, ayo, kita pergi,” ajak Myungsoo. Ia menarik tangan Jiyeon untuk keluar dari ruang tamu. “Eomma, Appa, aku pergi bersama Jiyeon,”

—-.

Saat Jiyeon ‘berbicara’ kepada orangtuanya, Myungsoo menjauh dari Jiyeon. Ia tak akan mengusik privasinya. Setiap orang butuh privasinya sendiri, bukan? Jiyeon sudah selesai berbicara dengan orangtuanya. Seperti biasa, ia mengganti bunga yang sudah layu dengan yang baru. Myungsoo sangat tersentuh melihatnya.

Siapa yang tidak sakit hati saat melihat orang yang dicintainya menangis? Jiyeon menangis, dan Myungsoo ikut merasa kesedihan Jiyeon. “Uljima, jangan menangis lagi, ya, Jiyeon-a? Berjanji padaku, ya?” Myungsoo menghapus airmata Jiyeon dan mendekapnya dalam pelukan hangatnya. “Aku akan melindungimu,” bisik Myungsoo pelan, tetapi Jiyeon masih dapat mendengarnya.

—-.

Setelah beranjak pergi daru The Grand Graveyard, Myungsoo mengajak Jiyeon untuk pergi makan es krim di kedai es krim yang sering dikunjungi olehnya. Myungsoo menyuruh Jiyeon duduk, dan Myungsoo memesan es krim untuk mereka berdua.

Myungsoo memesan 1 parfait berukuran besar untuk mereka berdua. “Woah, daebak,” Jiyeon terkagum melihat ukuran es krim yang Myungsoo pesan. Ada 6 rasa es krim didalam sana. Coklat, stroberi, bluberi, jeruk, greentea, dan bubble gum. “Wah, enak sekali,” komentar Jiyeon saat mencicipi rasa bubble gum. “Kau pintar dalam memilih rasa, Oppa. Ayo makan bersamaku,”

Myungsoo tersentak. Ia tersenyum, mengambil sendok, dan mulai memakan eskrim bersama Jiyeon. Memang, sedari tadi Myungsoo hanya memperhatikan Jiyeon memakan es krim sendiri.

Myungsoo melihat sekitar mulut Jiyeon dipenuhi oleh es krim. Myungsoo tertawa geli melihat itu. Ia mendekat kearah Jiyeon, perlahan, perlahan, dan semakin dekat. Degup jantung mereka berdua semakin kencang. Myungsoo hilang kesadarannya. Ia mengecup bibir Jiyeon sekilas, dan mengelap sekitar bibir Jiyeon dengan tissue.

—-.

“Bukankah itu Myungsoo?” Tanya seorang gadis berusia 19 tahun sambil menunjuk-nunjuk kaca sebuah kedai es krim, saat mereka melewatinya. “Ah, ya, benar.. dan.. siapa perempuan itu? Jiyeon?”

“Apa yang dilakukan mereka? Jarak mereka sudah sangat dekat,”
“Apa jangan-jangan mereka akan berciuman?”

Chorong hanya bisa terdiam seperti batu saat melihatnya. Andwae, ini tak mungkin. Ini tak boleh terjadi, batin Chorong. Ia mengepal tangannya geram. “Wae geurae, Chorong-a?” Tanya gadis berkuncir satu yang sering dipanggil dengan nama Jiae. Chorong tetap terdiam seperti batu di depan kaca dengan tangan terkepal, menahan emosi.

Ya, Chorong aneh,” komentar satu diantara mereka. “Chorong-a, kajja!” Chorong tersentak dan langsung mengikuti jejak teman-temannya.

—-.

“Kita mau kemana lagi?” Tanya Myungsoo kembali. “Tak tahu, Oppa. Bagaimana kalau kita bermain ice skating indoor di dekat kawasan Wangsimni? Aku pernah kesana dengan kakakku,”

“Kau bisa bermain ice skating, Jiyeon-a?” Jiyeon hanya menggeleng malu. “Pabo,” komentar Myungsoo sambil tersenyum. “Baiklah, aku akan mengajarimu,” putus Myungsoo.

Mereka memanggil taksi untuk mengantarkan mereka ke tempat tujuan. Setelah sampai, mereka langsung memberikan beberapa lembar ribuan won kepada supir taksi, dan langsung keluar dari taksi.

“Wah, keren sekali,” gumam Myungsoo. Ya, Santa’s Ice Rink memang sangat sangat besar. Dengan interior Natal yang sangat meriah, semua pengunjung akan merasakan musim dingin, walaupun mereka datang saat musim panas. “Kajja,” Jiyeon menarik Myungsoo masuk ke dalam.

—-.

“Woahh, Oppa, aku hampir saja jatuh bila kau tidak memegangiku,” Jiyeon tidak bisa menjaga keseimbangan dirinya yang berdiri di es dengan sepatu yang beralaskan blade. “Jiyeon pabo-ya,” komentar Myungsoo. Ia sedang menggenggam tangan mungil Jiyeon yang sudah meluncur di depannya. Jiyeon kembali tak bisa menjaga keseimbangan. Ia jatuh dan menimpa tubuh Myungsoo.

“Ah, mianae, Oppa. Neo gwaenchana?” Tanya Jiyeon khawatir. “Ne, nan gwaechana. Kau tak usah mengkhawatirkanku. Kau tak apa?” Jiyeon mengangguk. Ia segera berdiri, dan lagi, ia terjatuh karena tak bisa berdiri di es dengan blade. Myungsoo langsung berdiri, dan mengangkat lengan Jiyeon, agar ia berdiri.

“Kau ini,” Myungsoo mengacak-acak rambut Jiyeon yang sudah berdiri. Saat Jiyeon mulai tak bisa berdiri tegap, Myungsoo mendekap Jiyeon dalam pelukannya. “Kau harus hati-hati, Jiyeon-a. Kau bisa terluka,”

Jantungku berdegup kencang lagi. Mengapa aku seperti ini? “Oppa, bagaimana kalau kita sudahan saja? Aku rasa aku telah merepotkanmu,” Myungsoo melepas pelukannya. “Kau mau sudahan?”

—-.

Chorong eonni is calling..

Jiyeon meraih ponselnya dan mengecek siapa yang menelpon. Kakaknya. Ia bingung, apa harus ia angkat atau tidak. Sekarang ia sedang makan malam dengan Myungsoo di restoran cepat saji. Myungsoo sedang di toilet, jadi ia pikir, lebih baik ia angkat saja.

“Yeobu-”
“Cepat pulang.”
“Eon-”
“Kubilang pulang, ya pulang.”

Chorong langsung menutup teleponnya. Jiyeon belum sempat berbicara apapun, tapi Chorong sudah menutupnya. Ah, sudahlah. Myungsoo yang tadi berada di toilet, berjalan menuju meja yang ia duduki bersama Jiyeon.

Oppa, Chorong eonni menyuruhku pulang. Aku akan pulang,” jelas Jiyeon. Myungsoo tersentak. Lalu, ia mengangguk. Mengangguk pasrah tepatnya. “Yasudah, ayo pulang, lalu kau bisa berberes dan pulang. Takut sudah terlalu malam,”

—-.

Ahjumma, Ahjussi, Yeri-ya, terimakasih untuk semuanya. Terima kasih banyak. Maaf bila aku merepotkan kalian. Sekali lagi, aku mohon maaf dan sangat berterimakasih.” Jiyeon menghampiri mereka yang sedang menonton di ruang keluarga. “Oh? Secepat itukah, eonni? Yahh,”

Jiyeon tersenyum kearah Yeri. “Aku sudah terlalu merepotkan kalian,” Appa dan Eomma Kim menggeleng. “Tidak, Jiyeon-a. Kau tidak merepotkan kami. Kau malah mencerahkan rumah ini,” Jiyeon tersenyum lagi. “Eonniku sudah menyuruhku pulang. Terima kasih banyak,” Jiyeon menunduk sopan dan mengambil tas bawaannya.

“Ya, hati-hati dijalan, Jiyeon,”
“Hati-hati, eonni,”
“Sama-sama, Jiyeon,”

Jiyeon melangkah keluar dari ruang keluarga Kim dengan senyum mengembang diwajahnya. Myungsoo akan mengantarnya sampai rumah.

—-.

Oppa, terima kasih untuk semuanya.” Ucap Jiyeon. Myungsoo mengangguk dan berkata, “Terimakasih padamu juga, Park Jiyeon.” Balas Myungsoo. “Padaku? Memang aku sudah melakukan apa? Malah, aku merepotkan kalian,”

“Tidak. Karena kau…” Myungsoo terdiam sebentar. “Karena aku apa, Oppa?” Myungsoo masih bingung apa yang harus ia katakan. “You are my way.” Jiyeon mengerutkan kening. “Aku suka kau..”

“Suka aku?” Jiyeon bingung. “Eumm.. suka sebagai teman,” alasan Myungsoo. “Oh,” Jiyeon mengangguk mengerti. Myungsoo memeluk Jiyeon erat. “Aku akan menjagamu,” ucapnya lagi. Kalimat itu lagi.

—-.

“Kau habis dari mana?”
“Dari.. eumm,”
“Cepat jawab aku,”
“Eonni.. aku, aku.. dari rumah temanku,”
“Siapa temanmu itu?”
“M.. Hae.. Haeryung,”

Mianae, Haeryung-a. Aku berbohong. Mianae, eonni, aku membohongimu.

“Kau yakin kau habis pergi dengan temanmu?”
“I-iya..”
“Bukan dengan kekasihku?”
“Kekasihmu?”
“Ya. Kim Myungsoo.”

-TBC-

36 responses to “[CHAPTER 3 – I Hate My Sister] You are My Way

  1. Aigo chorong ga ada malu banget ya.. ngaku2 myung pcr jiyi nti jiyi jd g mau dkt sm myung.. ngpn jg jiyi kyk gt.. klo ony sdr kyk gt gabush d baikin iblis mah nmax

  2. myung suka jiyeon yahh asikk, trus apa bner chorong ma myung dah pcaran?
    ishh chorong jgn aneh2 aja ma jiyeon …
    next thor,, fighting

  3. Itu si chorong ngaku” apa emang dia berdua pacaran?
    Punya kakak kek gitu begal aja😂😂🔫

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s