[CHAPTER-2] 18 Years Old.

18-years-old_2

poster credit : missfishyjazz@artfantasy

Author : MJS.

Title : 18 Years Old.

Main cast : T-Ara’s Jiyeon – INFINITE’s Myungsoo – Red Velvet’s Irene.

Other cast : more than 12~

Genre : school-life, friendship, romance, sad.

Lenght : Chaptered.

Rating : T.

-inspired by drama who are you : school 2015. there will be some scenes taken from this drama, so please understandable.-

-•-

[CHAPTER-2] 18 Years Old.

.

Previous

Irene menatap Jiyeon tak percaya, “Lalu kenapa kau mengikuti permainanku? Kenapa kau tak mempercayaiku? Apa aku seburuk itu dimatamu?” 

Jiyeon masih terdiam tak menanggapi. Sejujurnya Ia cukup kaget dengan pertanyaan Irene yang menusuknya. Jadi selama ini Irene menganggap dirinya seperti itu?

Keduanya masih saling menatap tajam dalam kebencian. Antara percaya dan tak percaya dengan semua ini.

.

.

“Kalau kau tak menciptakan permainan ini, apa kau pikir kita akan seperti ini? Harusnya kau memikirkan semua itu sebelum berkoar-koar bahwa kaulah yang harus dibenarkan.” Jiyeon menghela nafas kasar kemudian meninggalkan Irene yang masih terpaku dengan perkataan Jiyeon.

Myungsoo tertegun. Ia ingat, dari dulu Ia selalu berada dikelas yang sama dengan Jiyeon. Ia masih mengingatnya, kejadian itu. Kejadian yang membuat keduanya saling menjauh.

Dari dulu Myungsoo tak begitu memperdulikan dengan siapa Jiyeon berteman. Bahkan Ia baru menyadari ternyata sosok yeoja itu adalah Irene. Mungkin sehabis ini, Ia akan lebih melindungi Jiyeon.

Myungsoo pun berniat menyusul Jiyeon, namun Soojung menahan tangannya, “Mungkin kau tahu apa yang terjadi, tapi jangan ikuti Jiyeon sekarang. Kurasa Ia butuh waktu untuk sendiri.” balasnya tenang. Myungsoo pun menghela nafas sedikit tak tega namun akhirnya tetap mengangguk.

-•-

Jiyeon Pov

Aku masih tak menyangka dengan perkataanku barusan. Apa aku begitu kasar padanya? Sempa kutatap matanya yang hanya terpaku dalam diam. Aku kini menjadi merasa bersalah.

Aku seperti orang yang sok berkuasa. Bagaimana bisa aku mengatakan itu? Mengatakan seolah-olah Irene yang bersalah sepenuhnya? Kupikir aku juga salah. Tak seharusnya aku mengikuti semua kemauannya.

Harusnya aku bisa bersabar saat itu. Hanya saja, aku tak pernah berhasil mengontrol emosiku. Terutama pada hari terakhir kami berbicara. Aku tak bisa lagi percaya padanya sejak apa yang sudah dilakukannya padaku.

Meskipun aku tak tahu kebenarannya. Aku hanya terhanyut dalam emosiku dan meyakinkan diriku bahwa Irene memang membenciku dan melakukan hal itu.

-•-

Author Pov

Myungsoo sedaritadi menunggu Jiyeon kembali ke kelas pun semakin gelisah. Ini yang dinamakan butuh waktu sendiri? Myungsoo tak tahan, Ia langsung bangkit dari tempat duduknya dan mencari Jiyeon.

.

Myungsoo menemukan Jiyeon tengah terduduk ditaman belakang sekolah akan menghampirinya.

“Kau pasti bisa mengikuti dance competition berikutnya.” sahutnya membuat Jiyeon menoleh kearah Myungsoo.

Begitu melihat Myungsoo, Jiyeon kembali memalingkan wajahnya ke depan. Myungsoo tak boleh melihatnya menangis. Ia takkan pernah terlihat lemah dari hadapan siapapun.

Myungsoo duduk disampingnya dan terdiam, membiarkan Jiyeon menceritakannya sendiri. Membiarkan yeoja itu siap untuk berbicara.

“Myungsoo-ya, kau percaya padaku kan?” tanyanya masih terisak. Myungsoo lagi-lagi hanya terdiam.

Jiyeon kembali melanjutkan, “Setelah ini, akan ada banyak berita yang menyatakan aku melukai perasaan Irene. Takkan ada yang percaya denganku, Myungsoo.”

“Kenapa kau membutuhkan kepercayaan mereka? Kau tidak memerlukan kepercayaan orang lain padamu. Kau hanya perlu percaya pada dirimu sendiri. Semua tentang hal itu pada akhirnya hanya akan dianggap angin.”

Jiyeon sedikit tersenyum mendengar nasihat Myungsoo. Myungsoo selalu mengerti dimana saatnya untuk bercanda dan dimana saatnya serius. Namja itu sering bersikap jauh lebih dewasa darinya.

“Kau juga tak harus menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Karena Park Jiyeon yang mereka, terutama kukenal tak pernah bersikap lemah.”

Jiyeon tersenyum dan memeluk Myungsoo erat. Myungsoo merasakan jantungnya dua kali berdebar-debar dibanding biasanya. Myungsoo juga sudah menyadari tentang perasaan ini sejak lama.

Hanya saja Ia terlalu pengecut untuk mengungkapkannya. Ia tak ingin Jiyeon menjauhinya karena hal ini. Karena Myungsoo yakin Jiyeon belum menyukainya. Selama ini Jiyeon masih menganggapnya sahabat.

“Kim Myungsoo, chukkae. Untuk lolos seleksi.” Myungsoo kini menatap Jiyeon dan tersenyum.

“Jika aku menang, apa yang akan kau berikan?”

“Bukankah diriku sendiri sudah menjadi hadiah untukmu?” sahut Jiyeon jahil. Namun hanya perkataan itu saja mampu membuat Myungsoo terdiam dan tersenyum canggung. Ya, Jiyeon adalah hadiah terindah yang pernah diberikan Tuhan.

-•-

“Eunji-ah, kau pulang dengan Mark?” tanya Soojung begitu Eunji tengah merapikan seluruh buku-bukunya. Eunji menyerngit heran namun tetap mengangguk, “Kenapa? Bukankah biasanya juga seperti ini?”

Soojung hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Eunji masih menatap Soojung heran, sehingga Ia bertanya, “Soojung-ah, wae?”

Soojung menghela nafasnya dan berkata dalam hati, ‘Kau harus bisa. Maafkan aku, Eunji-ah.’

“Hmm, kupikir kau bisa pulang bersamaku. Kau lihat kan tadi kakiku sempat tersenggol sehingga susah berjalan. Tapi ternyata kau akan pulang dengan Mark. Aku-”

Eunji langsung memotong pembicaraan Soojung, “Bagaimana jika aku menyuruh Mark mengantarmu pulang?” Soojung hanya terdiam sedikit tak percaya. Ia memang mengharapkan itu sedaritadi. Namun Ia tak menyangka Eunji akan mengatakannya.

“Gwenchana, mana mungkin aku harus pulang bersama Mark. Lalu bagaimana juga denganmu..” Eunji hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya tak apa.

“Aku akan mengatakannya pada Mark. Tapi sepertinya kau juga harus menunggu Mark selesai latihan basket.”

Soojung mengangguk dan tersenyum merasa bersalah, “Gomawo Eunji-ah.”

Dan perlu diketahui, sebenarnya Soojung tak terluka sama sekali. Ia memang sengaja melakukannya supaya bisa bersama Mark, dan rencananya sukses karena kemauan Eunji sendiri.

Sekali lagi Soojung meminta maaf dalam hati pada Eunji, untuk pengkhianatannya sekarang ini. Dan untuk kemudian hari, mungkin? Ia sendiri tak yakin harus menusuk Eunji dari belakang.

-•-

“Mwo?” Eunji hanya tersenyum memohon begitu mengatakan hal itu pada Mark. Sepertinya Mark terlihat tak mau untuk melakukannya.

“Ayolah, kasihan Soojung.” pintanya masih menarik-narik tangan Mark. Mark memandangnya sebal.

“Dia bisa pulang dengan Jiyeon dan Myungsoo.”

“Ani! Jiyeon dan Myungsoo punya urusan mereka sendiri. Ayolah..” Mark menghela nafas kasar kemudian membalas, “Lalu bagaimana kau pulang? Kau bahkan lebih mementingkan orang lain daripada dirimu.”

“Aku-akan pulang sendiri!” jawabnya sedikit tak yakin, sebenarnya. Namun Ia kembali beralasan, “Aku sudah memesan case ponselku ditoko, dan aku akan mengambilnya sehabis ini.”

Mark hanya menghela nafas dan mengangguk. Sepertinya Ia sudah kalah berdebat dengan Eunji.

“Tunggu aku selesai latihan.” Eunji lagi-lagi menggeleng dan menjawab, “Aku akan pergi sekarang! Annyeong!” ujarnya langsung berlari kecil meninggalkan Mark yang menatapnya datar.

“Bagaimana bisa kau membiarkan kekasihmu bersama yeoja lain..” keluhnya. Meskipun Ia belum memberitahu tahu yeoja itu, hari ini Ia akan mengajaknya ke rumahnya mengingat Eunji yang dari kemarin merengek untuk kerumahnya.

-•-

Soojung masih duduk disalah satu bangku dibawah pohon dengan tenang sambil memperhatikan Mark yang berlatih sambil tersenyum.

“Coba saja aku yang..” Soojung kembali tersadar akan perkataannya. Setidaknya Ia tak ingin mengecewakan Eunji lagi.

“Hey.” Soojung tersadar dari lamunannya dan menoleh kedepan Mark yang tengah menunggunya. Soojung bisa melihat dari wajahnya, Mark sepertinya memang sangat kecewa tak bisa bersama Eunji.

Sekalipun Mark selalu bersikap cuek padanya, Soojung tahu kalau Mark sangat menjaga Eunji. Mungkin itu yang sudah membuatnya sepeeti ini.

Ia juga ingin merasakan bagaimana rasanya bersama Mark, dilindungi Mark, dan dicintainya. Hanya saja Mark tak perlu mengetahuinya.

“Ah, ne.” Soojung teringat kembali dengan kakinya yang berusaha terlihat terluka. Melihatnya berjalan terpincang-pincang, Mark pun membantunya berjalan menuju motornya dan membantunya naik.

“Gwenchana?” Soojung mengangguk dan tersenyum. Jadi seperti inikah rasanya ketika Eunji selalu dijaga Mark?

Tanpa sadar, begitu Mark menyalakan dan mulai menjalankan motornya perlahan, Soojung langsung memeluk pinggang Mark dan menyandarkan kepalanya pada punggung Mark dan tersenyum.

Sementara Mark baru saja menjalankan motornya begitu terkejut dengan sikap spontan Soojung yang langsung memeluknya. Bahkan Eunji pun tak pernah melakukannya langsung. Mark perlu mempercepat dahulu laju motornya supaya Eunji berpegangan padanya.

Seketika Mark langsung merasa bersalah pada Eunji dengan apa yang saat ini terjadi. Setelah ini Ia berjanji akan langsung menghubungi Eunji.

.

.

TBC.

aku balik lagi bawa lanjutan ff kemarin. sebelumnya, ff ini ga cuma bahas tentang permasalahan jiyeon-myungsoo-irene, tapi juga ngebahas eunji-mark-soojung. jadi mohon dimaklumi kalo dibeberapa chapter myungyeonnya kurang. seperti contohnya di chapter ini. tapi pemeran utamanya tetap myungyeon kok. thankyouuu~

54 responses to “[CHAPTER-2] 18 Years Old.

  1. ah sedih nih soojung mau nikung eunji😦 semoga aja gajadi nikung nya😦
    ih suka banget deh sama mark dia kereeeennn setia sama eunji sukaaaa :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s