[CHAPTER – PART 3] My Love, My Brother’s Enemy

req-47-copy1

[ CHAPTER – PART 3 ] My Love, My Brother’s Enemy | alifahsone
T
Park Jiyeon, Park Chanyeol, Kim Myungsoo, and otherRomance, Sad, Friendship, Family

***********************************************

jiyeon’s pov

Jieun songsaengnim mengeluarkan sebuah formulir pendaftaran. Astaga, itu formulir permohonanku untuk mengikuti pertukaran pelajar! Ya Tuhan…semoga..
“Jiyeon-ah, chukkaeyo. Kau terpilih. Kau mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika. Nah, ini dia. Silakan kau mengurusnya ke kantor diplomat Amerika. Kau akan berangkat satu bulan lagi. Nah, ku harap, kau akan mengurusnya dengan baik. Chukkae!”
Jiyeon tersenyum senang. Rasanya ia ingin memeluk Jieun sam hari ini.
“Jieun sam, kamshahamnida. Kamshahamnida.

Aigo Jiyi, mengapa kau dipanggil ke ruangan monster imut itu? Kau dihukum kah?”tanya Krystal. Aku mengerucutkan bibirku. Seenaknya saja dia. Walaupun aku terkenal sebagai pembuat onar, tapi aku ini pintar. Sewaktu SD saja, aku mengikuti Olimpiade Sains Nasional. IQ ku saat ini diatas 145. Cukup pintar bukan? Suzy dan Eunji masih menunggu jawaban dariku. Hehe, lihatlah wajah mereka. Lucu sekali…
Chingudeul, aku terpilih mengikuti pertukaran pelajar…Rasanya aku senang sekali. Karena aku sedang baik, jadi aku akan mentraktir kalian nanti malam. Oke?”ucapku. Krystal, Suzy, dan Eunji terlonjak gembira. Mereka memelukku. Bahkan Eunji mengacak rambutku. Aish, anak ini hanya baik kalau sedang senang saja. Dasar. Tapi, tak apalah. Aku harus membahagiakan mereka sebelum aku berangkat nanti.
“Jiyeon-ah, apa Myungsoo sudah tahu?”tanya Suzy. Aku menggeleng. Buat apa aku harus memberitahunya? Dia bukan temanku, apalagi pacarku. Kalau aku memberitahunya pasti aku akan dimarahi Chanyeol oppa. Aku tak akan mengecewakan oppa kesayanganku itu.
YA! Suzy-ah, kau ini bodoh atau apa. Tentu saja Jiyeon akan memberitahunya. Hahaha.”tawa Eunji. Aku menyelentikkan jariku di keningnya. Rasakan akibat itu, Eunji-ah. “Buat apa aku memberitahunya?”tanyaku cuek. Krystal mengangguk setuju. Entahlah. Aku bingung dengan Krystal dan Myungsoo. Mereka ini sepupuan, tapi tampak seperti musuh.

Bunyi messenger dari iPhone ku berbunyi. Kim Myungsoo.

Temui aku di taman sekarang, Jiyeon.

Aku melotot malas. Seenaknya saja dia. Tapi, ya sudahlah. Barangkali ia akan mengatakan sesuatu yang penting.

Ania, paboya Yesung sunbae😛

Biar saja ia masih mengira, kalau aku tidak tahu kalau ia adalah Myungsoo. Hehe..

Ini penting. Jebal, Jiyeon-ah.

“Kenapa Jiyeon, kau tertawa sendiri?”
Aku menggeleng. Ku tutup obrolanku dengan Myungsoo. Aku harus berbaik hati sedikit dengannya sebelum aku pergi. Ku tatap sebentar Krystal. Dasar, dia memang selalu ingin tahu urusan orang lain.”Gwenchana, aku pergi dulu ne!

*author pov*

Myungsoo menghela nafasnya. Entah kenapa, hatinya mendadak sakit saat mengetahui ini. Bukan karena Hyojung, atau pacarnya yang dahulu. Ia merasakan sesuatu yang berbeda. Nafasnya serasa akan terhenti ketika menatap manik mata Jiyeon.
Mianhamnida, sunbae. Aku terlambat.”Jiyeon mengusap peluhnya. Dalam hati Jiyeon, ia akui. Ia merindukan saat seperti ini. Myungsoo tersenyum kecut. “Jadi, apa?”

“duduk.”
ania, aku–”
“LAKUKAN APA YANG KU BILANG! DUDUK!”

Jiyeon mengatupkan bibirnya. Rasanya Myungsoo tak pernah membentaknya seperti ini. Myungsoo selalu lembut, tapi kini–menatap mata Myungsoo saja, Jiyeon segan. Jiyeon menunduk. Bulir air matanya terasa ingin keluar. Myungsoo sesak. Ia tak tahan menatap gadisnya menangis. Ya Tuhan, biarkan aku menatapnya sekali saja.

“kalau kau ingin menangis, menengadahlah.”
Jiyeon terbelalak. Ia menatap mata Myungsoo yang menyiratkan sesuatu. Bukan kelembutan seperti biasanya, tetapi ada amarah yang Myungsoo pendam.
Tangan Myungsoo bergerak memeluk Jiyeon, mengusap punggungnya. Demi menghilangkan segala kesedihan di hati Jiyeon. Jiyeon mengaku. Ia kalah dengan Myungsoo. Myungsoo lebih tahu hatinya, sekalipun mereka baru saling kenal. Apa mereka adalah takdir?
myung..soo”lirih Jiyeon. Myungsoo melepaskan pelukannya, dan mengusap air matanya. “ya, sebut namaku seperti itu, Jiyeon-ah.”.Jiyeon menggeleng. “kau menangis, sunbae.”

Myungsoo tertawa, seakan di paksakan.

“Jiyeon-ah. Aku yakin kau sudah mengetahui yang sebenarnya, ya kan?”. Jiyeon mengangguk. Tak berani menatap Myungsoo. Raut yang selalu memancarkan ketegasan. “jadi?”tanya Myungsoo sekali lagi. Jiyeon mengusap air matanya. “aku bingung, oppa–keduanya sama sama sulit bagiku,”jawab Jiyeon.
“Aku mengerti kau akan mengatakan seperti itu.”
ania, maksudku–”
“Kau memilih oppamu bukan? Dan artinya, kau akan meninggalkanku? Ingat Jiyeon. Jangan menangis lagi, arra? Kalau kau menangis, aku tak segan untuk menciummu.”

Jiyeon mengangguk. Myungsoo tampak tetap tersenyum, meski terlihat dipaksakan. Jiyeon mempunyai firasat bahwa ia akan berpisah dengan Myungsoo. “Sunbae, dengarkan aku. Rasanya, jantungku berdetak tiap menatapmu. Aku tak mengerti. Aku tak pernah merasakan rasa ini sebelumnya. Harus ku akui, aku perlahan membalas perasaanmu. Tapi–maafkan aku. Demi Chanyeol oppa yang ku sayangi, aku harus meninggalkanmu. Satu bulan lagi, aku harus pergi ke Amerika. Selamat tinggal, sunbae. Saranghaeyo.”

Myungsoo tak tahu. Ia bingung harus membalas apa. Antara senang dan sedih. Senang bahwa Jiyeon ternyata juga menyukainya. Dan, harus meninggalkannya. Myungsoo mengangguk. “Izinkan aku memelukmu, Jiyeon-ah, untuk yang terakhir kalinya. Aku janji. Tak akan.”

Hati Jiyeon perih. Jiyeon menggigit bibirnya. Menahan derai air matanya. Myungsoo memeluk Jiyeon, erat. Pelukan perpisahan. Dan—chu. Jiyeon mengecup Myungsoo pelan. Myungsoo terbelalak. Tapi ia harus tahu diri. Jiyeon hanya melakukan ini karena mereka akan berpisah. Bukan karena ia merasakan kehilangan.

“Jiyeon-ah kau tega melakukan itu pada oppamu.”bisik Chanyeol, di balik pepohonan.

~~~~~~~~~

Gangnam,02.00 AM 

Udara dingin di Seoul tak menyurutkan semangat Chanyeol untuk mengikuti balap. Chanyeol tak biasanya mengikuti kegiatan seperti ini, namun ia hanya ingin menguji adrenalinnya. Jiyeon menatap oppanya yang sedang menyalakan mesin motor ninjanya itu. Entah kenapa, Jiyeon merasa akan ada pertanda buruk.

oppa…
“eum.”
“batalkan saja, ne? jebal.”

Chanyeol menatap adiknya yang tampak kedinginan itu. “Kalau kau membujukku seperti itu hanya demi Myungsoo, itu tak akan mempan. Aku pergi.”

Jiyeon meringis. “Ya Tuhan..”

*****************************************

“sudah siap, Chanyeol-ssi?”Chanyeol tau itu. Sebuah seringaian dibalik helm Myungsoo. Chanyeol menstarter motornya. “jadi, apa maksudmu menyuruhku kemari?”

Myungsoo menyeringai –lagi lagi menyeringai. Matanya menatap tajam Chanyeol, seakan-akan menguliti Chanyeol saat ini. “well. aku tahu kau menyimpan dendam padaku karena Stella. Tapi, apa kau berhak mengganggu hubunganku dengan Jiyeon?”.

“Dia adikku, bodoh. Jangan ganggu dia kalau kau tak mau berurusan lagi denganku.”Chanyeol mengangguk kemudian melanjutkan pertanyaannya. “Jangan coba menantangku seperti ini. Kau tahu? aku suka sekali tantangan. dan aku, tak akan terkalahkan.”

Jiyeon menghela nafasnya. Dimana Chanyeol? Jiyeon takut kalau Chanyeol akan melakukan sesuatu yang tak terduga. Misalnya, balapan. Terakhir kali Chanyeol harus mengalami patah tulang karena mengikuti balapan. Jiyeon tahu, Chanyeol tak bisa dilarang. Matanya terbelalak melihat sesuatu. CHANYEOL TENGAH BALAPAN LIAR!
Jiyeon buru buru menghentikan aksi oppanya itu. Tampak kilatan hasrat dari mata Chanyeol. Hasrat untuk memenangkan balapan. Dan juga, hasrat untuk menjauhkan adiknya dari Myungsoo. Seseorang yang sangat di bencinya.
Terlambat. Dan kini, di depan Jiyeon ia melihat–

Myungsoo tersungkur bersimbah darah.

****************************************

Bibir Chanyeol bergetar. Bayangan ia menabrak Myungsoo, masih terlintas di pemuda tampan tersebut. Hanya hitungan detik saja, ia sudah membawa Myungsoo masuk ke dalam ruangan UGD. Chanyeol akui. Ini salahnya. Menerima tantangan Myungsoo. Saat itu Chanyeol sedang kalut. Ditatapnya Jiyeon yang sedang menangis, sambil ditenangkan oleh Sandara. Rasa bersalah perlahan menggelayuti benak pemuda tampan tersebut. Mata indah Chanyeol ngeri melihat Myungsoo yang sedang ditangani, diatas kasur pesakitan itu.

Oh, God.

Bahkan saat ini Chanyeol hanya bisa membisu, merutuki dirinya sendiri ketika melihat tangisan Jiyeon.

“Keluarga Park?”
Chanyeol menoleh. Dokter Shin. Langganan keluarga Park. Sandara mengangguk, menyuruh Chanyeol melalui isyarat matanya mengikuti dokter Shin. Jiyeon masih butuh ketenangan.

MWO? Amnesia sementara? Sampai kapan, Yeol?”
Mollayo. Saat ini kita hanya bisa berdoa, noona. Jangan sampai Jiyeon mengetahui hal ini. Dia melihat kecelakaan itu dengan mata kepalanya sendiri.”Chanyeol menatap Jiyeon yang lelap di kasur berwarna soft pinknya itu. Sandara mengangguk. Chanyeol menangkap kilatan amarah dari mata noonanya itu. Chanyeol tak bisa mengelak. Ini memang salahnya.

“Kenapa kau ikut balapan itu?”tanya Sandara setelah mereka duduk di ruang tamu. Chanyeol menyeruput capucino buatan Sandara. Lumayan melegakan perasaannya untuk sementara. “Dia yang menan–”
“Cukup. Kau harus bertanggung jawab.”ucap Sandara. Chanyeol mengangguk. “Kau menyimpan dendam padanya, eoh? Sudah ku bilang berapa kali, kematian Stella bukan salahnya! Lihat adikmu! Kau mau membuatnya menderita?”teriak Sandara. Entahlah, biasanya Sandara tenang kini ia sudah tidak dapat membendung emosinya.
“Aku hanya ingin yang terbaik untuk adikku, noona! Apa itu salah? Aku takut ia bernasib sama dengan Myungsoo! Dari awal aku tidak setuju ia pindah ke Korea, tapi noona yang selalu memaksanya!”

Sandara memijat pelipisnya. Tak pernah terbayang, Jiyeon harus hancur karena melihat first lovenya amnesia. Terlebih melibatkan oppa kandungnya sendiri. Jiyeon terlalu lugu kalau harus menderita.

“Chanyeol. Noona, eomma, dan appa mempertimbangkan sesuatu. Kau tidak usah berlama lama di Korea. Kau harus ikut kami pindah ke Prancis. Sementara Jiyeon, biarkan ia melanjutkan studinya di Amerika–“

Chanyeol tahu akibatnya.

“Dan , jangan halangi hubungan Jiyeon dengan Myungsoo lagi.”

————————————

“Jiyeon-ah, ireona.”

Jiyeon mengerjapkan matanya. Senyuman khas Sandara menyambut pagi hari Jiyeon. Jiyeon tersenyum tipis. Masih membendung amarah. Entah kepada siapa, haruskah ia marah kepada Myungsoo atau malah—Chanyeol?
eonnie.“Jiyeon mengeratkan pelukannya pada Sandara. Sandara menepuk pundak adiknya. Hari yang berat untuk Jiyeon, ya Sandara yakin. Bahkan mata yang biasanya bersinar itu tampak dirundung duka.

“Myung..”desah Jiyeon. Sandara mengangguk, “kau tak perlu khawatir, Jiyi-ya. Myungsoo sehat. Dia namja yang kuat.”senyum Sandara. Jiyeon tahu arti dibalik senyuman eonnienya itu. Menyembunyikan sesuatu. Entahlah, Jiyeon tak mau ambil pusing.
“Lalu, Chanyeol oppa?”
Sandara membelai rambut lembut Jiyeon. “Dia baik. Dia sedang kuliah saat ini.”

Jiyeon menatap langit kamarnya. Oh Tuhan, inikah maksud kata-kata Myungsoo kemarin? Disaat ia baru merasakan perasaannya pada Myungsoo, lalu mengapa ia harus melihat Myungsoo kesakitan?

eonnie kerja dulu, kau baik baik di rumah ne. Oh iya, eonnie sudah buatkan bubur untukmu. Makanlah. Supaya cepat sehat.”

.

.

TOK TOK TOK!

Aigo kepala Jiyeon pusing sekali. Jiyeon mengidap sebuah penyakit, dimana penderitanya tak boleh lelah atau stress. Untunglah bibi Kim membukakannya. Krystal, Suzy, dan Eunji. Setidaknya mereka adalah semangat Jiyeon disaat seperti ini, tentu saja selain Sandara.

Aigo, Jiyi-ku…”peluk Krystal sambil mengusap air matanya. Tatapan kasihan datang dari Suzy dan Eunji. Jiyeon tak suka di kasihani, meskipun saat ini ia tak bisa memungkiri kalau ia membutuhkan perhatian.

“Myung–“

“Dia terlibat balapan liar dengan oppa. Dan, aku tak tahu nasibnya nanti.”

Eunji dan Suzy termangu. Mereka kini bisa merasakan begitu tulusnya rasa yang disimpan Jiyeon untuk Myungsoo. Krystal melepaskan peluknya.
“Jiyi, sepupuku orang yang kuat. Percayalah.”
Jiyeon tahu Krystal bermaksud untuk menghiburnya. Dan, Jiyeon tahu akan hal itu. Setidaknya dia harus berterima kasih pada sahabatnya yang paling cerewet untuk saat ini.

“Ini, kami belikan kau fashion terbaru. Sebelum kesini, kami sempatkan ke CoEX Mall dahulu. Semoga kau menyukainya, ya.”Eunji mengeluarkan bingkisan berwarna gold. Jiyeon tak tertarik dengan fashion atau apapun, untuk saat ini. Dia hanya butuh Myungsoo. Kim Myungsoo.

“Kau rindu dengan Myungsoo, ya?”
Jiyeon mengerjapkan matanya menatap Suzy yang cekikikan habis menggodanya.
“Mana mungkin? Aku hanya merasa bersalah saja, kok.”
Krystal, Eunji, dan Suzy tertawa. Jiyeon masih gengsi untuk mengakui perasaannya pada Myungsoo. “Sebelum kau ke Amerika, kau berjanji akan mentraktir kami, maka kau harus tepati itu. Bangkitlah, Jiyeon!”

Suzy menyenggol Krystal. Diiringi tatapan maut dari Eunji. Jiyeon hanya terkikik saja. “Baiklah, nanti malam. Kalian harus menginap disini, ya?”

SWEAR!

…………………………..


It’s always been like so
It’s always had to be like this
I love you for you, I still thank you
Why aren’t you holding onto me?
Why aren’t you asking anything?
Do you think I can do well without you?
It’s now, I’m in front you you
I need to tell you my mind
The long wait waiting for you
Isn’t it dumb?

hai hai hai maafkan aku yaa aku dah lama hiatus xD. Aku bawa update an FF MLMBE chapter 3 loh. Semoga suka. Maafkan aku kalau ceritanya gaje, jelek, dll itu karena aku orangnya aneh /? #gaje. Semoga suka ya, ini FF comeback aku. Maaf aku ga bisa sering sering update FF karena kesibukan sekolah.
Sejelek apapun karyaku, aku ingin ada yang menghargai. Aku ngeluangin waktu 6 jam untuk menulis FF ini loh.

RCL pls.
Salam,
a
lifahsone

30 responses to “[CHAPTER – PART 3] My Love, My Brother’s Enemy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s