[CHAPTER – 2] Clockwork

clockwork-1_

 

Tittle: Clockwork – Chapter 2 | Author: farvidkar (Farah Vida Karina) | Genre: Romance, Fantasy | Cast: L Kim/ Kim Myungsoo, Park Jiyeon, IU | Other cast: Choi Sulli, Cho Kyuhyun, etc | Rating: PG-17 | Length: Chapter | cr Poster MutiaR @ HSG

A/N: Asli buatan sendiri dengan imajinasi yang datang sendirinya. Tidak ada maksud lain dengan karakter yang dibuat. Jika terdapat kesalahan dalam penulisan harap dimaklumi. Fanfict ini sudah pernah dipublish pada blog pribaku

 

[Chapter – 1]

 

Jiyeon pov

Haruskah aku bertingkah seolah baik-baik saja? Haruskah aku membuang kenangan yang kusimpan sendiri? Bagaimana jika suatu saat aku bertemu denganmu kembali? Aku malu karena sudah kau tolak. Dan bagaimana jika aku melupakanmu? tetapi aku takut jika tak dapat mengenalimu suatu saat nanti.

“Gomawo Lee Ji Eun!! Yak tunggu aku! Kau tak bisa kabur! kunci mobilmu ada padaku!”

Suara itu, suara milik L. entah aku masih mengkhayal atau ini sebuah kenyataan, dari kejauhan ada seorang pria yang berlarian mengejar seorang gadis. Aku tak bisa melihat wajah gadis itu karena ia memakai topi serta masker. Namun pria itu, adalah L.

Degupan jantungku bertambah kencang. Tak salah lagi, dia adalah L. Apa kalian pernah jatuh cinta? Apa kalian pernah menaruh perhatikan kepada seseorang secara berlebihan? Jika kalian pernah melakukan hal yang kukatakan tadi pastilah kalian dapat merasakan keberadaan walau dari jarak yang jauh. Bahkan dari ujung matapun aku dapat mengenali pria itu. Haruskah aku mengejarnya? Aku tak ingin membuat suatu penyesalan.

Kulihat mereka berjalan menuju sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari taman. Dengan cepat aku menyusul mereka.

“Chogiyo…” panggilku sedikit parau. Aku menahan lengan pria itu. Dia menatap mataku, dengan bola mata hitam lekat serta garis matanya yang hitam. Aku merindukannya. Tanpa sadar tanganku bergerak memeluknya. Bau tubuh ini, aku sangat mengenalnya.

“Mian” satu kata pertama yang terucap olehnya. Aku menitihkan airmata ketika dia melepaskan pelukanku, bahkan untuk kesekian kalinya aku tahu apa yang setelah ini akan dia lakukan.

“Jangan menyentuh kepalaku” aku menahan lengannya. Raut wajahnya masih tak pernah berubah. Kau sedang berusaha menahan ekspresimu, L Kim.

“L Kim? Benarkah kau L?” tanyaku hati-hati. Walaupun kini dia berpenampilan seperti orang yang berbeda, tetapi hatiku berkata kalau dia adalah L.

“Kau salah orang” aku tersenyum kecut menerima kebohongannya.

“Bahkan ketika mataku terpejam.. aku dapat mengetahui keberadaanmu” aku tidak bisa mengontrol airmataku yang terus-terusan terkuras.

L Kim pov

“Chogiyo…” seseorang menahanku dari belakang. Aku sudah tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Ya, tepat dugaanku. Gadis itu kini sedang menatapku lekat-lekat. Kulihat bola matanya berubah sendu, tatapan yang kurindukan. Tiba-tiba gadis itu memelukku. Aku ingin membalas pelukannya, aku ingin meminta maaf padanya. Aku ingin memulai hubungan baru bersamanya. Namun takdir ini tak mengijinkanku kembali sebagai L.

“Mian” hanya itu yang dapat kukatakan padanya, untuk saat ini. Perlahan aku melepaskan pelukannya. Seperti biasa, dulu ketika ia menangis dan memelukku, aku akan langsung melepaskan pelukannya kemudian mengacak-acak rambutnya.

“Jangan menyentuh kepalaku” tanganku terangkat kaku di udara. Dia benar-benar menghafal tingkah lakuku. Aku berusaha mengatur ekspresiku, berusaha tak pernah mengenal gadis itu.

“L Kim? Benarkah kau L?” mata sendunya itu seolah-olah sedang menuntut jawaban.

“Kau salah orang” aku terpaksa berbohong.

“Bahkan ketika mataku terpejam.. aku dapat mengetahui keberadaanmu” kulihat tangisannya semakin menjadi. Gadis cengeng itu selalu saja membuatku tak tahan.

“Aku tahu itu..”

“Ibuku berkata untuk tidak menatapmu lagi..”

“Tetapi aku berharap kau selalu menatapku”

“Jika kau adalah L.. aku hanya ingin mendengar.. kau memanggil namaku.. jebbal…”

“Park Jiyeon” aku ingin memanggil namamu. Tetapi sangat sulit bagiku untuk mengabulkan hal itu. Aku masih terdiam tanpa memberikan tanggapan apapun.

“Baiklah.. aku tak apa-apa. Mungkin lain kali kau bisa memanggil namaku..” kulihat dia berusaha sekuat tenaga menahan kekecewaannya.

“Aku akan mengatakan hal ini kepadamu L,” aku menunggu apa yang akan dikatakannya

“Aku akan berusaha berpaling darimu, jika itu yang kau inginkan” hatiku mengcelos mendengar perkataannya.

“Jangan lakukan itu” disaat cinta datang, aku mengabaikannya. Disaat aku mengharapkan cinta, hal sebaliknya terjadi. Karma yang memang pantas kuterima karena menyianyiakan kesempatan yang kau berikan padaku. Aku ingin mengatakan bahwa aku mulai mencitaimu. Aku ingin memberitahumu bahwa aku siap untuk menjadi pendampingmu. Namun semua itu aku tak bisa melakukannya. Aku tak bisa melakukannya sebagai L. Apakah kau bisa menerimaku sebagai orang lain?

“Aggashi.. nuguseo? Kenapa kau menangis seperti itu?” aku tersadar dari lamunanku ketika mendengar suara Jieun. Aku memberikan tatapan memohon, memberi kode padanya.

“Ah.. Kim… Myungsoo apa kau mengenalnya?” sepertinya Jieun sedang memulai aktingnya.

“Aku.. tidak mengenalnya” sungguh mati aku tidak tahan terus berbohong dihadapannya.

“Hhmm nona, jika dia melakukan kesalahan mohon maafkan dia. Maaf kami sedang buru-buru” Jieun memberi kode padaku untuk masuk ke dalam mobil. Dengan berat hati aku meninggalkan Jiyeon mematung seorang diri. Hingga mobil kami menjauh, kulihat dari kaca spion gadis itu masih menatap lekat kepergianku.

On The Road, Seoul, South Korea

“Apa dia kenalanmu? Atau yeoja chinggu?” Jieun membuka percakapan.

“Dia tunanganku” kataku jujur. Kulihat mata gadis itu melotot.

“Mwo! Kau.. diumur yang masih muda seperti ini sudah memiliki tunangan?! Jinja daebak” aku sedikit terhibur melihat ekspresi konyol gadis yang berada disampingku itu.

“Hhmm.. lalu kenapa kau berbohong padanya? Kenapa kau tidak jujur saja dan berkata kalau kau adalah L. Dan aahh, ini adalah pertanyaan yang sedari dulu ingin kutanyakan. Kenapa kau perlu menjadi ‘orang lain’? kau pernah berkata kalau kau hidup kembali dengan kehidupan yang baru?” aku menghela nafas panjang. Hidupku sungguh rumit.

“Apa kau ingin mendengar ceritaku?”

Flashback

Author pov

“Kau.. apa yang kau lakukan dengan hidupku?! Mengapa aku akan mati jika mengaku sebagai diriku sendiri?! Hahh?! Kau mencoba mempermainkan hidupku?!! Kau bilang hanya jika jarum arloji itu berhenti maka aku akan mati?!!” pria itu tidak bisa menerima kenyataannya.

“Seperti yang ku katakan. Walaupun kau bisa hidup kembali, namun kau bisa mati kembali dengan mudah. Hidupmu yang tergantung pada arloji itu juga harus menghadapi satu hal yang sangat penting, yaitu karma atas identitas sendiri. Kehidupan baru yang ku katakana, berarti kau hidup sebagai individu baru. Kau boleh berinteraksi kembali dengan orang kau kenal sebelumnya, namun jangan pernah memberitahu mereka kalau kau adalah L”

“Bagaimana jika mereka mengenaliku walaupun aku tak memberitahu mereka? Apakah aku juga akan mati?!”

“Tidak. Kau akan terus hidup, asalkan kau tidak pernah mengakui identitas aslimu”

“Jadi, setelah aku hidup kembali apakah aku perlu menjadi mayat hidup? Untuk apa aku hidup kembali jika tak ada tempat untuk dituju?! Bahkan selama hidupku aku harus terus menutupi kebohongan ini? Aku bisa apa?!”

“Kau tidak akan sendirian. Hanya ada satu orang yang ditakdirkan sebagai tumpuan hidupmu. Kau akan bergantung padanya”

“Siapa orang itu?”

“Dia adalah orang pertama yang akan kau temui”

End flashback

“Ahh.. jadi maksudmu aku adalah orang terpilih itu? hahaha seperti kisah dongeng” ku lihat Jieun terus terusan menggelengkan kepalanya sambil menahan tawa.

“Seperti itulah” mungkin bagi mereka orang awam akan menganggap ceritaku ini adalah sebuah lelucon, namun apa yang aku katakana adalah kebenaran.

“Otakku sedikit berat mencerna apa yang kau katakan. Namun sepertinya apa yang bilang ada benarnya. Aku yang sedikit.. hhmm sudahlah lupakan” ekor mataku menyipit. Gadis itu tiba-tiba berhenti bercerita.

Jieun/ IU pov

Ada apa dengan diriku? Aku baru menyadari perubahan diriku. Mengapa aku bisa dengan tenang berinteraksi dengan orang lain? Bahkan aku bisa dengan enteng menerima apa yang dikatakannya tentang arloji, kehidupan kembali, serta hal-hal berbau fantasy yang menurutku tak masuk akal.

Flashback

“Setelah ini kau akan kemana? Kembali ke rumahmu dan bertemu orangtuamu?” apa yang terjadi denganku? Mengapa aku harus peduli padanya. Pertanyaan bodoh.

“Tidak mungkin. Mayatku sudah ditemukan, bahkan sudah menjadi abu. Aku hidup kembali untuk menjadi orang lain. Aku tak tahu harus kemana” hidup kembali untuk menjadi oranglain katanya? Apa aku harus mempercayainya? Mungkin saja ia berbual dan mencoba membohongiku? Namun sayangnya kenapa hatiku berkata sebaliknya.. seolah-olah naluriku menuntut untuk mempercayainya.

“IU-ssi, kami akan mendobrak pintunya, menjaulah dari pintu itu” suara seseorang terdengar dari luar. Hatiku sedikit gembira mengetahui kenyataan bahwa aku akan tertolong dari situasi ini.

“Aku harus pergi sebelum ada yang melihatku” dan entah mengapa hatiku sedikit sedih mendengar perkataannya. Kulihat kakinya diseret menuju jendela. Apakah aku harus mencegahnya? atau mengucapkan selamat tinggal padanya?

“Kau mau kemana L-ssi?” sisi lainku terungkap. Bukan ini yang kupikirkan, namun naluriku berjalan di luar kehendak. Untuk apa aku menahannya, bahkan pria itu memberiku senyuman kecut dan langsung melepaskan genggamanku.

“Lihatlah, kepalamu berdarah. Tubuhmu tidak dalam keaadaan yang baik” aku bukannya khawatir.. aku hanya berbicara tentang fakta

“Kau gadis yang baik, aku beruntung bisa bertemu denganmu. Kalau begitu sampai jumpa” kulihat dia akan segera melompat. Apa dia ingin bunuh diri?

“Tunggu!! Apa kau ingin mati untuk yang kesekian kalinya?!” aku mencegahnya. Aku tidak ingin menjadi satu satuya saksi dari kematian pria itu nanti.. mungkin itulah alasanku..

“Mungkin aku akan tetap hidup. Aku tak bisa menjelaskannya padamu” apa apaan yang di katakannya, akan tetap hidup? Kuharap dia memiliki sembilan nyawa.

“Jika benar kau masih akan terus hidup, setelah ini tunggu aku di tanam Namcheon, bangku ke empat dari pohon cherry blossom” demi tuhan bukan itulah yang akan ku katakan padanya.. bahkan diriku yang ke kenal bukanlah Lee Jieun yang seperti ini. Untuk apa aku peduli pada psikopat itu?!.

Setelah syuting Running Man dihentikan sejenak, malam itu semua member diperbolehkan pulang dan syuting akan dilanjutkan lusa. Seperti yang kurencanakan sebelumnya, aku akan langsung pulang ke apartment dan bermeditasi.

“Itu hanya kebetulan.. wajahnya saja yang mirip, ya.. hanya itu saja. Aku tidak bertemu arwah.. hantu.. alien.. aish!! Aku bisa gila!! Eommaaaa!!” aku tidak bisa duduk tenang di dalam mobil. Kulihat manager oppa melirikku dari kaca spion dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Hhmm ada apa Jieun-ah? Sepertinya kau kurang sehat, apa.. aku perlu mengantarmu ke rumah sakit?”

“Oppa.. apa aku terlihat seperti orang gila? Ah anii, mungkinkah ada kamera tersembunyi??” tanyaku berusaha berpikir positif. Mungkin mereka sedang mengerjaiku.

“Aku ragu harus berkata apa.. tapi apa kau habis terbentur sesuatu?” sepertinya ada yang salah denganku. Apa ini nyata? Apa benar yang kutemui tadi adalah L Kim yang sudah meninggal dan sesuai apa yang diceritakannya tentang hidup kembali atau apalah itu.. aku perlu memastikannya.

“Oppa, tolong belikan aku coffee. Aku ingin coffee dari mesin di gedung sbs. Aah, aku suka mesin di lantai 12. Rasanya sedikit berbeda dari mesin yang lain”aku berusaha mengontrol tawaku saat melihat wajah manager oppa. Sepertinya aku perlu menaikan gajinya setelah ini. Setelah itu aku langsung pindah ke kursi kemudi dan segera melajukan mobil itu ke taman namcheon. Aku kesana bukan untuk menepati janji, aku hanya penasaran.. apakah ini benar-benar kenyataan. Jika dia ada di sana dan menungguku berarti ini adalah sebuah kenyataan dan aku akan mempercayainya dan langsung pulang ke apartment seolah tak terjadi apa-apa. Namun jika dia tidak ada di sana, berarti tadi adalah halusinasiku dan setelah ini aku akan singgah ke psikiater

Tak berapa lama aku sampai, antara senang dan sedih. Kulihat dia sedang duduk merenung. Apakah aku terlalu baik? Untuk apa kakiku berjalan menemuinya. Dari dekat kulihat keadaannya memang tidak baik-baik saja. Hati naluriku berkata ‘aku harus menolongnya’

End flashback

“Kurasa kau benar L-ssi, sepertinya aku terikat oleh takdir” gumamku.

Cemetery Buldunggwa, Seoul, South Korea

Author pov

Setangkai bunga tulip putih di letakkan di atas gundukan tanah yang membumbung tinggi. Seorang gadis yang masih memakai seragam sekolah terduduk diam di depan pusara itu. Sudah 30 menit dalam posisi seperti itu, tanpa sepatah katapun yang dikeluarkannya. Hingga setetes demi setetes hujan turun, gadis itu tak bereaksi sedikitpun.

“apa kau masih hidup?” gadis itu mulai berbicara.

“tak apa kau berbohong padaku.. karena yang kuharapkan adalah kehidupanmu..” angin berhembus semakin kencang. Menerbangkan beberapa helai daun ke atas pusara milik L.

“Sudah saatnya aku pulang. Jika kau ada disini, mungkin kau akan mengusirku..” gadis itu berbicara sambil memandang langit. Wajahnya kini dibasahi rintik-rintik air hujan.

“Selamat tinggal” gadis itu pun meninggalkan pusara L.

Sebulan kemudian

“Kau mau kemana Kim Myungsoo?” seorang gadis dengan rambut kusut berjalan menghampiri Myungsoo yang baru saja akan pergi.

“Bekerja” pria itu mengangkat kamera digitalnya.

“Bekerja?” ulang gadis itu.

“Tentu saja aku tidak akan terus-terus bergantung padamu. Aku harus bekerja untuk mendapatkan uang dan membayar hutangku bukan?”

“Ya, kau memang harus hidup mandiri”

Namcheon Park, Seoul, South Korea

Memasuki musim dingin, tak terlalu banyak orang berdatangan ke taman ini. Helaian daun meninggalkan rantingnya. Kursi kayu terlalu lembab untuk diduduki. Seorang pria sibuk memotret beberapa momen. Inilah pilihannya, menjadi photographer. Mungkin hasil yang diperolehnya tak sebanding dengan harga saham yang dimilikinya dulu, namun ada nilai tambah saat dia menjalani apa yang diinginkannya.

“cheogiyo.. bisa tolong fotokan kami? Bulan depan kami akan menikah” seorang wanita menghampiri Myungsoo untuk meminta bantuan.

“Ah, baiklah” Dengan senang hati Myungsoo mengiyakan permintaannya. Lantas sang pria memberikan smartphone. Mereka mengambil posisi tak jauh dari sungai, berpose mesra. Myungsoo mengambil tempat yang strategis.

“Jiyeon..” gumam Myungsoo saat melihat gadis itu melalui layar smartphone. Setelah selesai mengambil bebarapa gambar, Myungsoo segera menyusul gadis itu, Park Jiyeon.

Jiyeon terus berjalan mengelilingi taman itu tanpa tujuan yang jelas. Tanpa lelah Myungsoo mengikuti langkah gadis itu. Myungsoo tak luput terus-terusan membidikkan kameranya, tak akan menyianyiakan momen ini. Hingga akhirnya gadis itu berhenti di suatu bangku panjang yang kosong. Myungsoo berhenti dan menatap gadis itu dari jauh. Mengamati perubahan gadis itu. Rambutnya kini bertambah panjang, kulitnya masih seputih susu, garis hitam matanya kini hampir tak terlihat lagi. Myungsoo perlahan berjalan mendekati gadis itu. Ia duduk di bangku kosong itu, lebih tepatnya di samping gadis bermarga Park itu.

“Lama tak jumpa” sapa Myungsoo melemparkan senyumannya. Terlihat jelas dari raut wajah gadis itu yang shock.

“Perkenalkan namaku Kim Myungsoo” pria itu menjulurkan tangannya. Tak ada respon dari Jiyeon. Gadis itu terus-terus memperhatikan wajah Myungsoo dengan seksama. Hingga akhirnya gadis itu membalas juluran tangan Myungsoo.

“Jiyeon… Park Jiyeon” gadis itu berusaha tersenyum. Hatinya bercampur aduk ketika mendengar nama ‘Kim Myungsoo’.

“Ah.. Park Jiyeon-ssi. Senang bertemu denganmu lagi. Apa yang kau lakukan disini?” Myungsoo membuka percakapan. Ia sangat senang bisa bertemu dengan Jiyeon lagi. Walaupun kini ia memiliki identitas baru, tetapi ia telah memikirkannya baik-baik untuk bersyukur. Setidaknya dia hidup kembali untuk memperbaiki hubungannya bersama jiyeon dan kedua orangtuanya sendiri.

“Hanya sekedar untuk jalan-jalan. Bagaimana denganmu Kim Myungsoo-ssi?” Jiyeon berusaha menyesuikan dirinya. Walau saat ini yang dilihatnya adalah sosok L, tetapi dia sendiri sadar dengan apa yang terjadi. Mungkin ada baiknya dia mengikuti alur cerita ini.

Myungsoo pov

“Lama tak jumpa” aku memberanikan diri untuk mendekatinya. Awalnya sedikit ragu, namun jika tak berani mencoba maka aku akan selamanya bersembunyi dibelakang punggung gadis itu bukan?. Kulihat wajahnya terkejut melihatku yang muncul seperti hantu.

“Perkenalkan namaku Kim Myungsoo” dari sorot matanya terlihat suatu kekecewaan. Mungkinkah yang dia harapkan adalah L Kim?. Sangat lama dia mengamati wajahku, hingga akhirnya dia membalas juluran tanganku. Kurasakan ada sengatan listrik saat aku menggenggam tangannya.

“Jiyeon… Park Jiyeon” aku tersenyum mendengar suaranya kembali. Setelah kejadian sebulan yang lalu, aku hanya bisa mengekori gadis ini. Tak berani menunjukkan diri di hadapannya, seperti seorang pengecut.

“Ah.. Park Jiyeon-ssi. Senang bertemu denganmu lagi. Apa yang kau lakukan disini?” sekedar berbasa-basi, sudah pasti gadis itu akan menjawab ‘hanya sekedar untuk berjalan-jalan’ ya itulah rutinitas gadis itu selama sebulan ini.

“Hanya sekedar untuk jalan-jalan. Bagaimana denganmu Kim Myungsoo-ssi?” aku menelan ludah pahit ketika gadis itu balik bertanya. Apakah aku harus menjawab ‘aku sedang mengikutimu”

“Hhmm… aku sedang memotret….” aku memang sedang memotret, tetapi..

“Memotret? kau sangat mirip dengan seseorang yang ku kenal..” gumam gadis itu hampir tak terdengar. Aku termenung sejenak. Orang yang dimaksudnya adalah aku.

“Mirip denganku? Pasti dia sangat tampan” gurauku. Kulihat dia gadis itu mulai mengangkat sudut bibirnya.

“Begitulah. hhmm Myungsoo-ssi apa yang kau potret?” aku sedikit kelabakan mendengar pertanyaannya.

“Hanya pemandangan…” kataku berbohong.

“Jinja? Boleh aku melihatnya?” kulihat dia sedikit tertarik. Akupun teringat masa lalu

Flashback

“L Kim! Palliwa!! Aku ingin masuk ke sana!” kudengar suara teriakan gadis itu yang memanggil namaku. Dia menunjuk sebuah wahana rumah hantu. Malam ini aku terpaksa mengikuti keinginannya ke tempat remain yang sangat kubenci. Tempat ini terlalu ke kanak-kanakan, dimana banyak permainan-permainan aneh, dan terlalu banyak balon. Aku menghentikan aksi memotretku ketika gadis itu berjalan mendekatiku.

“Aish.. pal-li-wa” gadis itu menyeretku ke dalam bangunan tua yang terlihat hampir roboh. Baru beberapa langkah, gadis itu langsung berteriak histeris. Bahkan hampir satu jam, gadis itu terus terusan berteriak tanpa henti.

“Lihat, bajuku kusut karena kau cengkram terlalu kuat” gadis itu mendekatkan wajahnya pe badanku.

“Ah matta.. mian. Tetapi kau juga salah! Harusnya disaat kekasihmu ketakutan, kau harus menggenggam tangannya dan mencoba menenangkannya.. bukannya menggenggam kamera kesayanganmu itu” aku menahan tawaku saat melihat wajah lucunya itu.

“Hei Park Jiyeon, kau punya mata, hidung, telinga, tangan, dan kaki. Sedangkan kameraku tidak. Jadi aku harus memilih berdasarkan kemanusiaan” entah kenapa aku senang berada di dekatnya, namun aku selalu ingin meminta maaf saat berada di samping gadis itu.

“Ahh, jadi mana yang lebih penting bagimu? Aku atau kamera buntutmu itu?!” aku berpikir sejenak. Mencoba mencari jawaban yang tepat.

“Kurasa kau dan kameraku sama pentingnya”

“Aish jinja.. apa sih yang selama ini kau potret? sini aku ingin melihatnya!” gadis itu berusaha merebut kameraku namun karena tangannya yang pendek tentu saja dia tak akan berhasil mendapatkannya.

“Hanya pemandangan.. sudahlah..” aku berbohong. Mungkin aku belum bisa menerimanya menjadi tunanganku. Tetapi selama ini hanya dia objek yang bisa ku tangkap. Aku sendiri bingung dengan diriku sendiri.

End flashback

“Mian, tetapi selama ini aku tak pernah mengijinkan seorangpun melihat hasil potretku”

“Ah gwenchana.. hhmm aku sudah harus pergi” kulihat dia bangkit berdiri, aku melirik arlojiku yang menunjukkan pukul 16.00 KST akupun ikut berdiri.

“Biar kuantar kau pulang” ucapku singkat dan berjalan mendahuluinya.

“Myungsoo-ssi kau tahu dari mana aku mau pulang? Padahal aku..”

“Instingku berkata kau ingin pulang” potongku cepat sebelum dia curiga.

“Pakai seatbelt-mu”

“Hhmm, sepertinya sedikit macet. Keras sekali, aku tak bisa menariknya” kulihat gadis yang duduk di sampingku itu sedikit kesusahan.

“Sini biar ku bantu” wajah gadis itu berubah merah seperti cangkang kepiting. Wajah kami hanya berjarak 2 cm. Dari jarak sedekat ini dapat ku cium bau cologne gadis itu. Bahkan detakan jantungnya juga dapat ku dengar.

“Kau.. terlalu dekat. Aku tak bisa bernafas” ucap gadis itu, polos sekali dirinya.

On The Road, Seoul, South Korea

Author pov

“Ah jadi kau sudah lulus sekolah.. kau terlihat seperti anak kelas tiga” saat ini Myungsoo bukanlah anak sekolahan lagi. Berkat bantuan Lee Jieun, dia berhasil memperoleh akte kelahiran serta ijazah palsu. Bahkan kini dia mempunyai kartu tanda pengenal dan surat izin mengemudi. Umur pria itu dimanipulasi lebih tua dari aslinya. Namanya berubah menjadi Kim Myungsoo, yaitu pria berumur 25 tahun dengan pekerjaan sebagai photographer. Lee Jieun benar-benar banyak membantu, bahkan gadis yang baru dikenalnya selama sebulan itu dengan cuma-cuma meminjamkan uang untuk membeli sebuah mobil, apartment di daerah gangnam, serta membangun sebuah studio foto di daerah myeongdong. Dan Myungsoo perlahan-lahan sudah menyiapkan rencana hidupnya.

“Jiyeon-ssi boleh aku bertanya sesuatu.. mungkin ini sedikit privasi bagimu” gadis itu menganggukkan kepalanya.

“Jadi.. L Kim yang kau maksud.. hhmm sebulan yang lalu..” pria itu sedikit tergagap, bingung harus memulai dari mana.

“Dia tunanganku, yang sudah meninggal” Jiyeon menjawab dengan tenang. Seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa yang mengguncangnya.

“Maafkan aku, aku tak bermaksud meng”

“Gwenchana, aku sedang mencoba melupakannya. Karena orang yang telah meninggal tak akan pernah kembali padaku”

Jiyeon pov

“Maafkan aku, aku tak bermaksud meng”

“Gwenchana, aku sedang mencoba melupakannya. Karena orang yang telah meninggal tak akan pernah kembali padaku” aku tersenyum menatap balik pria itu. Bagaimanapun yang terjadi, aku tahu kau adalah L Kim yang ku kenal. Aku tak ingin tahu apa yang telah terjadi padamu. Yang ingin kutahu adalah, perasaanmu.

“Bagaimana jika ada seseorang yang datang menggantikannya? Apakah kau dapat berpaling dari L Kim?”

 

 

 

“Haruskah mulai detik ini aku berusaha keras membuatmu berpaling padaku sebagai Kim Myungsoo?” – Kim Myungsoo

 

“Aku tak ingin mengatakannya, tetapi bagiku L Kim dan Kim Myungsoo adalah sama. Mereka sama-sama orang yang kucintai” –Park Jiyeon

 

 

to be continue

 

 

**PS: Jreng.. mulai terkuak satu per satu. Masih ada banyak tanda tanya yang males aku ungkap disini. Myungyeon shipper mulai mengibarkan bendera kali ya (?) hehehe. Kalo boleh tinggalkan comment and like ya pengen gua hitung ada berapa manusia yang dukung MyungYeon atau MyungJieun atau MyungAuthor

74 responses to “[CHAPTER – 2] Clockwork

  1. Walaupun jiyeon masih sedih tp seenggaknya dia udh mulai bisa nerima kenyataan klo L ga akan kembali lagi

    Baiklah… L berusaha mendapatkan cinta yg selama ini di sia2kan L
    Good myungyeon, semoga myungsoo bisa mendapatkan hati jiyeon yaa

  2. Sedih sekali melihat keadaan myungyeon di sini. 😢 Harap myungsoo dpt semula menambat hati jiyeon. Myungyeon FTW!! Tunggu lanjutannya!🙂

  3. Jiyi, spertiny slama ini mrsa sngat skit..,
    chingu, myungyeon aja ya…,
    aku udah kcewa krna jiyeon datting mha ahjussi., jdi, d ff biarin mreka brsatu..,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s