[CHAPTER – PART 8] Skinny Love

litlethief-order-skinny-loveposter credit: zhyagaem06 @ Poster Order

Skinny Love by Little Thief

Cast: Park Jiyeon, Kim Myungsoo

Other cast: Park Sooyoung (Joy), Choi Minho and Lee Jieun (IU)

Genre: romance, little bit angst

Rating: PG-13

Length: Chaptered

Myungsoo merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidurnya. Mengembuskan napas keras-keras. Dia lelah luar biasa hari ini. Jarum arlojinya menunjukkan waktu sudah nyaris mendekati pukul sebelas malam. Myungsoo bisa saja sampai rumah pukul sepuluh tepat kalau dia tak bertemu Jiyeon di jalanan tadi.

Lelah jiwa. Lelah juga hatinya. Itu yang Myungsoo rasakan sekarang. Lelah jiwa bisa diatasinya dengan tidur-tiduran di sini, atau di ruang kerjanya besok. Tapi lelah hati? Tak ada yang bisa ia lakukan.

Dia memikirkan tentang percakapannya antara Jiyeon barusan. Bagaimana reaksi gadis itu sewaktu Minho menceritakan segalanya, ya? Sesuatu tentang itu mengusiknya. Cemburu? Atau biasa saja? Atau malah ikut menertawai kisah suram yang dipaksa terlihat lucu oleh Minho? Myungsoo mendengus.

Sudahlah, ia tak mau membicarakannya lagi. Peduli amat tentang Jiyeon. Yang jelas, dia memang harus tidur. Percakapannya dengan Soojung sejak tadi benar-benar menguras emosi juga tenaganya.

Tunggu. Dia tak jadi tertidur kalau mengingat seluruh hal yang dia lalui dengan Soojung hari ini. Melekat erat dalam ingatannya. Myungsoo mendecak, memaksa dirinya sendiri untuk terlelap. Tapi percuma saja, bahkan rekaman itu muncul lagi dalam mimpi tidurnya. Sial.

[flashback on]
Usai sudah penantian Myungsoo sejak beberapa jam lalu, ketika seorang gadis berbalut dress selutut berwarna biru itu menarik kursi di hadapannya. Myungsoo hanya tersenyum simpul memandangnya. Aku hampir mati kram menunggumu, tahu! geram Myungsoo dalam hati, hendak meneriakkan kalimat itu keras-keras.

“Maaf,” desis perempuan cantik tersebut. “Sudah lama menunggu?”

“Begitulah,” balas Myungsoo sekenanya. “Lama sekali, sih. Aku meneleponmu berkali-kali sampai bosan. Tak diangkat juga. Ada acara apa?”

Yang ditanya hanya meringis bersalah. “Geng lamaku di SMA, ingat? Mereka mengajakku bertemu begitu tahu aku kembali ke Korea. Mendadak dan aku tak bisa menolaknya. Dan ponselku masih dengan mode silent…aku lupa menyalakannya sejak semalam.”

Myungsoo jelas tahu siapa teman satu geng Soojung dulu. Wanita paling repot dan paling penggosip yang pernah dikenal Myungsoo. Suji, Soojung, Naeun dan Bomi. Juga dia tahu kebiasaan Soojung yaitu mengaktifkan mode silent pada ponselnya sebelum tidur. Karena Soojung mudah sekali terbangun dari tidur hanya karena hal-hal kecil.

“Oh, ya sudah.” Myungsoo memutar bola matanya. “Ayo, kau mau makan siang? Aku pesankan. Sudah jam dua sore. Empat jam aku menunggumu sejak jam sepuluh. Harusnya aku bisa kembali ke kafe saat itu.”

“Aku sudah makan siang bersama mereka,” Soojung meringis lagi. “Duh, aku tak enak sekali. Maafkan aku sudah membuatmu menunggu. Aku temani kau makan saja, ya?”

Myungsoo menghela napas berat sebelum akhirnya memanggil seorang pelayan dan menyebutkan menu makan siang yang ia inginkan. Pelayan segera mencatat dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua ketika Myungsoo berkata tak ada yang ingin ditambahkan.

Hening sejenak di antara mereka. Mereka bertatapan. Soojung menggigit bibir bawahnya, mengetukkan jarinya di atas meja. “Bagaimana kafemu? Sukses besar?”

Myungsoo mengangguk singkat. “Sudah dua tahun berdiri, lho. Lain kali, kau harus berkunjung.”

Soojung tertawa kecil, “Minho bekerja di sana? Pasti bawahannya sudah banyak.”
“Ya. Dia juga kena panah asrama dengan salah satu bawahannya,” ucap Myungsoo. “Aneh, ‘kan?”

“Betulkah?” mata Soojung membulat lebar. “Tidak kusangka.”

“Hm,” Myungsoo hanya mengangkat bahu. Otaknya berpikir topik apalagi yang bisa ia kuras. Dia jelas tak bisa berdiam-diam saja dengan Soojung.

“Oh, ya, kau sepertinya sukses benar, ya, jadi model? Sampai pemotretan harus ke Korea lagi,” Myungsoo melempar topik. Di Amerika, Soojung menjadi model terkenal di sana. Dia mengunjungi Korea untuk suatu pemotretan, juga mengunjungi beberapa sepupunya di sini. Katanya, sih, begitu.

Soojung tergelak, “Tidak. Biasa saja, ah. Ini cuma urusan pekerjaan.”

Myungsoo bingung harus membalas apa, jadi dia hanya tersenyum tipis. Astaga, kenapa kaku sekali, sih? Sepertinya dulu, mudah sekali bagi mereka menumpahkan segalanya.

Myungsoo baru teringat. Oh, ya, itu kan dulu. Sekarang sudah berbeda.

Beruntung saja, seorang pelayan sudah mengantarkan pesanan makanan Myungsoo. Maka dengan cepat dilahap pria tersebut, sementara Soojung menatap dirinya yang sedang makan lamat-lamat.

“Kenapa? Lapar lagi, ya? Mau juga?” Myungsoo tersenyum menggoda, menyodorkan sendok yang digenggamnya. Soojung langsung tertawa dan menggeleng. Kemudian gadis itu menghela napas panjang.

“Sepanjang sore sampai malam, mau ke taman bermain?” tawar Soojung. Membuat kening Myungsoo mengerut dibuatnya.

“Buat apa?”

“Bermain!” dengus Soojung kesal. “Sudah kapan kita terakhir ke sana bersama?”
Myungsoo tampak berpikir. “Er, saat kelas sebelas, ya? Bersama Minho dan Naeun. Duh, suram sekali.”

“Tepat,” Soojung tertawa renyah. “Jadi, bagaimana? Mau? Kurasa kita harus banyak menghabiskan waktu bersama.”

Akhirnya karena tak ada pilihan, Myungsoo menganggukan kepala. “Oke. Ke taman bermain.”

“Ke taman bermain,” Soojung mengangguk mengulanginya, menampilkan senyum terlebarnya.

***

Myungsoo terbangun karena mimpi yang mendadak bersarang di otaknya itu. Dia mendengus ketika ia menyadari bahwa ia terbangun pada pukul tiga pagi. Ih, menyeramkan sekali. Ia pun memejamkan mata rapat-rapat. Berusaha tertidur kembali. Sialnya, mimpi yang datang kali ini justru momen ketika makan malam saat Soojung tadi.

Sesuatu yang paling ia ingat. Untuk hari ini.

***

[flashback on] (lagi)
Pukul delapan malam, selepas kelelahan mencoba berbagai atraksi, mereka memutuskan mengunjungi restoran yang berbeda. Kali ini Soojung akan ikut memesan makanan.

Myungsoo masih ingat. Setiap mengunjungi taman bermain dengan Soojung, selalu ada perasaan adrenalin yang membuat nyaman di tubuhnya. Tapi tidak dengan sekarang. Ia merasa begitu hampa meskipun ia tetap berteriak saat swinging boat yang ia naikki berayun-ayun. Tak ada rasa adrenalin yang begitu berarti.

Pelayan sudah mencatat pesanan mereka ketika Myungsoo menggumam kecil sekali, “Aku tak percaya kau sudah berani menaikki rollercoaster. Waktu kelas sepuluh, kau menangis berdarah-darah setelah turun dari rollercoaster.”

Soojung tertawa mengingat momen itu. “Pengalaman adalah guru terbaik.”

Mereka membicarakan hal-hal tentang kehidupan masa kini. Tak terlalu penting untuk Myungsoo. Entah mengapa, yang ingin ia bicarakan adalah perihal masa lalunya dengan Soojung. Ia ingin mengupas topik itu sampai ke inti, meskipun itu sama saja membuka lebar-lebar luka di hatinya. Padahal itu membuat suasana hangat yang ada di antara mereka, akan rusak seketika.

Entahlah. Hanya masa lalu yang ingin ia bicarakan. Padahal dia sudah berjanji dalam hati untuk melupakan masa lalu sejauh mungkin. Tapi kini berusaha keras membungkam mulutnya untuk tidak membicarakan apapun tentang ‘masa lalu’.

Soojung sibuk dengan ponselnya ketika pesanan mereka sudah datang. Segelas anggur tersaji di depan mereka, plus dengan sepiring makanannya. Soojung segera mengalihkan perhatian dari ponselnya. Jari lentiknya menggenggam kaki gelas tersebut dan mengangkatnya.

“Bersulang?” tawarnya.

Myungsoo melakukan hal yang sama, tersenyum simpul. Ia mengangkat anggurnya dan mereka mendentingkan gelas masing-masing. Sebelum mendekatkan tepi gelas ke bibirnya, Soojung bergumam.

Bon appétit, Myungsoo.”

Mendengarnya, ia nyaris tersedak. Kata-kata itu. Itu adalah kalimat andalan mereka. Dulu, setiap makan bersama, sebelum menyuapkan makanan ke mulut masing-masing, mereka akan saling mengatakan bon appétit.

Myungsoo hanya tersenyum masam, “Bon appétit, Soojung.”

Selanjutnya keheningan menyelimuti mereka. Myungsoo berpura-pura asyik menikmati makanannya. Padahal dia sedang memikirkan jutaan hal di dalam kepalanya. Entahlah, membuat pusing saja.

“Sudah banyak hal berubah, ya, sekarang?” tanya Soojung dengan sendu. “Kau tak pernah bicara lagi saat makan seperti dulu.”

“Etika, Soo.” Myungsoo nyengir.

“Aku tak tahu kau pernah memikirkan etika makan. Atau kau kehabisan bahan bicara denganku?” tanya Soojung. Yah, ketahuan, batin Myungsoo dalam hati.

Soojung melanjutkan. “Aku yakin seorang Myungsoo pasti punya topik untuk dibahas. Tumpahkan saja semuanya padaku. Aku senang mendengar apapun yang keluar dari mulutmu.”

Tenggorokan Myungsoo tercekat. Ia menelan makanannya, “Aku lebih baik diam daripada topik yang kuangkat adalah sesuatu yang menggangguku.”

“Kalau begitu angkatlah topik yang lain.”

“Tapi kalau aku sudah ingin membahas yang itu, bagaimana? Kau harus memaksaku?” tanya Myungsoo tajam, memasukkan satu suapan ke mulut.

Soojung meletakkan sendok dan garpunya, menatap Myungsoo dengan tatapan keputusasaan. “Ceritakan apa yang mengganggumu. Seperti aku ini apa saja bagimu. Jangan ragu.”

Myungsoo tertawa sinis, menyeringai. “Yakin kau mau aku menyebutnya di depanmu?” tanya Myungsoo. “Oh Sehun?”

Soojung yang hendak kembali makan langsung menghentikkan gerakannya. Ia menatap tepat ke manik Myungsoo, ada sebuah permohonan di matanya. Mendadak suasana langsung canggung dan tak enak.“Jangan sebut namanya lagi.”

“Yah, sudah terlanjur, kau sendiri yang memintanya, bukan?” Myungsoo mengatakannya dengan nada menyesal yang dibuat-buat. “Seenaknya saja dengan seseorang. Ketahuan. Lalu lari dari kenyataan. Aku tak percaya, sahabatku, kekasih hatiku dulu, pernah melakukan hal seperti itu. Jung Soojung, aku tak pernah mengajarkanmu menjadi seorang pengecut.”

Kalimat terakhir itu benar-benar menohok Soojung dengan ribuan senjata yang terbenam di dalam dadanya. Dia tak percaya Myungsoo mengatakan hal semacam itu padanya. Tenggorokannya langsung serak, matanya memanas.

“Kau tak mengerti bagaimana perasaanku,” hanya itu pembelaan yang mampu Soojung katakan. Dia bertanya-tanya, ke mana suasana hangat Myungsoo barusan? Menguap ke mana?

Myungsoo menyeringai. Sinis sekali. Seluruh senyum dan cengiran ramah tadi rasanya lenyap begitu saja dengan satu seringai penuh sindiran semacam itu. “Justru kau yang tak mengerti. Mencampakkanku begitu saja. Ditambah mempermainkanku, pula. Memangnya, aku ini siapamu, hm?”

Soojung menggigit bibir bawahnya yang sudah akan mengeluarkan isakan kecil kalau tak segera ditahan. Ia menahan kuat-kuat desakan untuk menangis sekarang. Tiap kata yang diucapkan Myungsoo telak menusuk ke jantungnya.

“Jangan berdalih dengan mengatakan seseorang harus mengerti perasaanmu, Nona Jung. Pikirkan. Kau juga harus mengerti perasaan mereka. Kau sudah menyakiti seseorang, yaitu aku. Bagaimana aku bisa mengerti perasaanmu kalau kau sendiri tak mengerti perasaanku? Ditambah, kau berani-beraninya meminta hal itu terlebih dahulu. Padahal, siapa yang pertama kali hancur? Aku.”

Soojung tak bisa lagi menahannya. Dia segera menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tak ingin Myungsoo melihat wajahnya dan juga isakan tanpa suara yang terdengar.

Semuanya berkelebat di pikiran Myungsoo pada saat itu. Setelah ujian, sesaat sebelum kelulusan, banyak orang yang mempergoki Soojung mengkhianati Myungsoo. Mengkhianatinya dengan menjalin hubungan rahasia dengan seseorang bernama Oh Sehun. Hati Myungsoo remuk sekalipun ia berusaha menyatukannya kembali. Kemudian terjadilah pertengkaran. Hubungan mereka resmi berakhir sudah. Kemudian, Soojung lari darinya. Gadis itu, gadis yang diam-diam masih ia harapkan kendati sudah mengkhianatinya, pergi ke Amerika membawa rasa bersalahnya.

Hati Myungsoo sudah jerih. Ia merasa Soojung memainkannya seperti boneka. Dia tak terima Soojung sepecundang itu. Padahal, Myungsoo masih bisa memaafkannya kalau Soojung mau. Seluruh perasaan yang ada di hatinya sempurna milik Soojung. Tapi sekarang berbeda. Myungsoo merasa sekarang tak bisa memaafkan Soojung, untuk seumur hidupnya.

“Maaf.” hanya itu hal yang terdengar lirih dari mulut Soojung. Myungsoo bahkan tak mempedulikan ketika beberapa orang mulai melirik ke arah mereka.

Myungsoo menghela napas. Ada banyak sekali hal yang ingin ia ucapkan. Tapi ia tak tahu harus bagaimana menyampaikannya. Terlalu banyak berpikir membuatnya kehabisan kata-kata. Akhirnya ia hanya menggumamkan sesuatu. “Lain kali, jangan lari lagi, ya. Angkat dagumu dan hadapi semuanya.”

Soojung tak membalas, masih terisak. Jiwanya berguncang hebat.

Kemudian, Myungsoo mengeluarkan sebuah jaket dari ranselnya. Ia berdiri dan melingkarkan jaket itu ke tubuh Soojung yang hanya terbalut gaun. “Di luar dingin, lebih baik kau pulang secepatnya.” Hanya itu yang bisa ia ucapkan.

Ia melingkarkan lengannya ke pundak Soojung, lantas menarik gadis itu dalam sebuah pelukan singkat. Setelah itu, ia segera keluar. Meninggalkan Soojung yang menangis dengan hati remuk berkeping-keping. Sudahlah, kini mereka sudah impas.

Namun akhirnya Myungsoo bertanya-tanya. Apa jangan-jangan, sekarang, justru dirinyalah yang lari dari masalah? Menghindari Soojung ketika gadis itu berusaha memperbaiki hubungan dengannya?

***
Minho mengerutkan keningnya ketika matanya menatap kalender yang tergeletak di meja dapur. “Wah, tak terasa sudah tanggal segini. Sebentar lagi, ya.”

Jiyeon di sebelahnya, sedang mengaduk pesanan kopi-kopinya. Ia, seperti biasa, dengan rasa penasarannya, langsung bertanya, “Ada apa, sih?” dan menyambar kalender tersebut dari tangan Minho.

Kalender tanggal 13 Maret dibulatkan dengan spidol merah, kemudian dibawahnya tertulis kalimat: KIM MYUNGSOO BOS BESAR ULANG TAHUN. Jiyeon mengingat sekarang tanggal berapa. Ah! 9 Maret! Berarti sebentar lagi.

“Oh?” Jiyeon membulatkan matanya lebar-lebar. “Betulan? Wah, seru, dong.”
“Pastinya,” angguk Minho. “Tahu, tidak? Waktu ulangtahunnya saat tahun lalu, mereka memberi kami tantangan sebagai perayaannya. Dia menantang kami untuk menjajakan kopi-kopi dan kue ini keliling, ke pinggir jalan. Berinteraksi langsung dengan pembali. Demi Tuhan. Itu seru sekali!”

“Aku pasti datang ke pestanya dan merayakannya dengan senag hati!” seru Jiyeon keras-keras. Dia membayangkan perayaan yang lebih seru daripada itu. “Kebetulan rumah Myungsoo dekat denganku.”

“Eh?” tanya Minho. Mengerjap. Tidak yakin dengan apa yang didengarnya. “Rumahmu memangnya di mana? Aku tak pernah melihatmu sama sekali. Rumahku dengan rumah Myungsoo, kan, bersebelahan.”

Jiyeon mengerutkan keningnya. “Di jalan Kweong-Do.”

Minho melotot. “Di situ? Serius? Myungsoo mengatakan rumahnya di situ?”

Jiyeon mengangkat bahu. “Iya, tapi aku tak tahu persis di mana. Dia langsung mengelak. Katanya, yang jelas, rumahnya tak begitu jauh dari rumahku.”

Mendengarnya, Minho langsung tertawa terbahak-bahak sampai mulutnya terasa kering. “Ya ampun. Pria itu buat apa berbohong padamu? Kami tinggal di jalan Hyeon-Do. Demi Tuhan, Ji. Jauhnya minta ampun. Kenapa sih, Myungsoo? Tersesat, ya? Atau, mendadak linglung?”

Jiyeon membuka mulutnya lebar-lebar. Jalan Hyeon-Do…itu dua kilometer lebih dari rumahnya. Apa maksud Myungsoo bahwa ‘rumahnya tak jauh dari sini’? Dari jalan rumahnya sampai ke sana, harus sepuluh menit naik bus!

“Eh, serius…?” Jiyeon berkata patah-patah. “La-lalu, kalau sejauh itu, kenapa dia mengikuti sampai ke rumahku? Bukankah arahnya sangat berlawanan?”

Minho mengerutkan keningnya bingung. Maka Jiyeon menjelaskan tentang ketika ia berjalan pulang bersama Myungsoo. Ia menceritakan detail tentang Myungsoo yang mengikutinya sampai ke rumah.

Setelah Jiyeon mengakhiri ceritanya, Minho tersenyum simpul. Senyum yang penuh arti. “Wah, kalau begitu, dia benar-benar berbohong padamu. Aku berani taruhan setelah kau masuk ke dalam rumahmu, dia kembali lagi ke arah kafe, menuju ke halte. Ada apa, sih, antara kalian berdua? Sepertinya akrab sekali.”

“Itu, ‘kan, tidak sengaja! Aku tak tahu apa-apa.” Jiyeon segera membantah. Ia merasa pipinya memanas mendengar pernyataan terakhir Minho.

“Yakin?” ujar Minho dengan senyum menggoda. Membuat Jiyeon langsung mencubit lengannya keras-keras dan Minho mengaduh.

Tepat saat itu, Jongin keluar dari pintu kamar kerja Myungsoo yang mungil. Dia berjalan mendekati mereka berdua, bergabung. Kemudian nyengir lebar, entah apa yang ada di pikirannya.

“Kapan kau naik ke sana?” tanya Jiyeon keheranan.

“Tadi, beberapa menit lalu,” Jongin meringis. “Harusnya kau yang naik, Minho. Tapi tadi kau sedang sibuk melayani pembeli yang sedang rusuh itu, ya? Jadilah, Myungsoo memanggilku.”

“Memangnya ada apa?” tanya Minho penuh keheranan.

Jongin melirik mereka berdua dengan senyum yang lebar sekali. Kemudian wajahnya memerah saking senangnya. Ia kemudian meneriakkannya dengan lantang sekali. “Myungsoo akan mengadakan pesta lagi!”

Kali ini seluruh karyawan yang sibuk bekerja sempurna menoleh ke arah Jongin dengan wajah sumringah. Mereka segera berdesas-desus, dan mendekati Jongin.

“Serius?” tanya seseorang dengan menggebu-gebu, dibalas anggukan Jongin.

“Asyik! Seperti apa pestanya?”

“Perayaan kafe keliling lagi, ya?”

“Aku harap sih, begitu.”

Jiyeon memberengut dan melipat lengannya di depan dada saat mendadak mereka berkerumun. Melontarkan rentetan pertanyaan pada Jongin. Yang ditanya serasa menjadi artis yang dikerumuni wartawan. Dengan penuh gaya, Jongin menjawab pertanyaan mereka satu per satu.

“Perayaannya semacam pesta, kok. Kita bisa datang ke rumah Myungsoo pada hari ulangtahunnya. Jam tujuh malam. Pakaiannya terserah kalian. Tapi kusarankan, pakai semacam dress atau jas.”

Mendengarnya, Jiyeon langsung diam dan mengurungkan niatnya untuk datang. Pakai dress. Jiyeon tak punya gaun. Anak sepertinya tak punya hak untuk mempunyai koleksi gaun di lemari. Oke, Jongin berkata pakai pakaian apa saja. Tapi sepertinya temannya yang lain sudah memutuskan memakai pakaian formal. Malu kalau Jiyeon datang dengan baju yang berbeda.

Akhirnya sepanjang hari itu obrolan yang ada hanya tentang pesta Myungsoo. Itu saja. Mau bicara topik apapun, pasti berujung pada: “eh, kau akan pakai apa ke pesta Myungsoo?”

Jiyeon mungkin tadinya sempat akan senang merayakannya. Namun makin lama membosankan. Itu karena dia memutuskan tak akan ikut ke pesta. Nanti sajalah, dia memberi alasan. Mungkin sakit, atau harus menjaga rumah.

Seperti biasa, pukul tiga sore, ia cemberut sambil menopang kepala dengan kedua lengan yang dilipat di atas meja. Jieun di sebelahnya, di depan mesin kasir. Menggantikan tugas Yerin yang sedang…kencan dengan Mason.

Jiyeon sudah menyampaikannya tadi siang. Bahagia rasanya melihat Yerin yang begitu girang. Yerin bahkan memeluknya erat sekali, terharu atas bantuannya sampai kelihatan ingin menangis. Anak itu berjanji, aku akan carikan jodoh untukmu! Membuat Jiyeon tertawa geli. Akhirnya, beberapa menit lalu, Yerin sudah pergi untuk menjemput Mason di sekolahnya. Kalau dia tak kembali dalam waktu cepat, berarti kencan pertamanya kali ini berhasil.

“Kenapa, Ji?” Jieun membuyarkan lamunannya. “Murung terus kau ini, dari kemarin.”

Jiyeon hanya bisa menyengir. “Kau akan pakai baju apa ke pesta Myungsoo?”

Jieun memutar bola matanya, kesal. “Aduh, topiknya itu lagi. Bicarakan yang lain, dong. Aku bosan sekali, tahu, mendengarnya. Pakai apa saja, Ji, yang penting sopan.”

Jiyeon terkekeh mendengarnya. “Masalahnya, koleksi lemariku itu menyedihkan. Aku tak punya begitu banyak pakaian untuk dipakai.”

“Tapi dengan pakaianmu, kurasa kau bersinar terang tiap hari,”—Jieun tersenyum manis—“Ayolah, datang saja sesiap dirimu. Myungsoo tak akan seformal itu menyuruhmu memakai gaun. Kau tak mungkin diusir kalau pakaianmu berbeda dengan yang lain.”

“Oke, aku tak akan pakai gaun. Tapi kau temani aku, ya? Jangan pakai gaun juga,” pinta Jiyeon. Temannya itu langsung tertawa, dan mengangkat ibu jarinya tanda setuju.

“Aku juga tak punya gaun, kok. Tapi untuk koleksi baju yang casual, punyaku menumpuk. Kalau kau bosan dengan pakaianmu, kau bisa menengok ke lemariku sebentar. Siapa tahu ada seleramu yang jatuh di sana. Aku bisa meminjamkannya padamu,” tutur Jieun, merapikan kertas-kertas bon yang berserakan dekat mesin kasir.

“Serius?” Jiyeon membulatkan matanya, kemudian memeluk Jieun. “Yeay. Terimakasih banyak!”

Yang dipeluk olehnya hanya tersenyum. “Aku bisa membantumu soal ini, bukan? Nah, takutnya, ada satu hal lain yang tak bisa aku bantu. Kalau saja hal ini wajib hadir dalam acara perayaannya nanti.”

Jiyeon menarik dirinya dari pelukan, kemudian menatap Jieun dengan kening mengernyit. “Apa?”

“Pasangan untuk ke pesta.” Jieun menimpali, kemudian tertawa keras.

Jiyeon hanya bersungut mendengarnya. “Aku pergi bersama Minho, ya?”

“Maumu,” balas Jieun ringan sambil terkekeh.

“Hahaha, bercanda, kok. Tentu saja Minho akan selalu menjadi milikmu dan akan selalu bersamamu, Jieun Sayang. Aku akan mencari orang yang cocok untuk kuajak ke pesta itu.”

“Siapa, ya, kira-kira yang cocok buatmu?” Jieun tampak berpikir. “Ah, kurasa yang merayakan pesta itu sendiri.”

Jiyeon langsung salah tingkah waktu tahu Jieun baru saja merujuk pada Myungsoo. “Aduh, apa, sih, kau ini.”

“Kenapa?” Jieun tersenyum tipis. “Kalian cocok, lho, kalau kulihat. Sering mengobrol bersama, bukan? Sering datang pada saat yang bersamaan pula. Kau harus tahu, langka sekali seorang gadis mendapat kesempatan seperti itu bersama Myungsoo.”

Jiyeon merasa pipinya memanas. Benarkah? Sebegitu beruntungkah dirinya? Apakah dirinya lebih beruntung daripada Soojung? Tunggu, kenapa dia harus membandingkan diri dengan mantan kekasih Myungsoo itu?

Dia langsung mengibaskan tangannya untuk menutupi pertanyaan yang merentet di kepalanya, juga mengalihkan Jieun kala temannya itu memperhatikan dirinya salah tingkah sendiri. “Tidak, tidak. Aku cari yang lain.”

Jieun menyeringai. “Kim Jongin!”

“Bingo!” nama itu bahkan baru terlintas di benak Jiyeon ketika Jieun tepat menyebutkan namanya. “Dia pasti seorang teman yang baik untuk diajak ke sana. Dia menyenangkan.”

“Memang begitu.” Senyum Jieun terkulum.

***
Tiga hari sebelum pesta perayaan itu diadakan, Jiyeon telah menawarkan Jongin lebih dahulu apakah pria itu mau ke pesta bersamanya. Dia tahu sepertinya lancang kalau tahu perempuan yang lebih dahulu menawari. Tapi, toh, Jongin menerimanya dengan senang hati. Setidaknya, dia tak akan menjadi batu kalau tak ada teman untuk berbincang. Karena Jieun pasti sudah bersama Minho, Yerin pasti sudah bersama dengan anak dari Amerika itu.

Dua hari sebelum pesta, Jieun tak main-main soal ia akan meminjamkan bajunya. Ia mengajak Jiyeon ke rumahnya selepas kerja saat itu. Dan betul saja, lemari Jieun adalah lemari paling indah yang bisa diimpikan Jiyeon. Di dalamnya tertumpuk ratusan baju casual dengan warna-warna pastel yang membuat Jiyeon menggeram gemas ingin membawanya pulang. Akhirnya ia memilih sebuah pakaian lengan panjang berwarna biru pastel dengan beberapa corak warna pink yang lucu sekali.

Sehari sebelum pesta, ia bahkan masih sibuk bekerja. Tapi dia sudah siap dengan perayaan itu. Orang-orang begitu gembira dengan perayaan Myungsoo ketika yang ulangtahun sendiri terlihat sangat biasa saja. Dia bahkan tak mengungkit apapun soal ulangtahunnya, kecuali pesan yang ia sampaikan ke Jongin waktu itu.

“Oh, ya. Aku harus naik apa kalau mau ke rumah Myungsoo?” tanya Jiyeon pada Jongin ketika malam sebelum tutup, mereka kedapatan piket membersihkan meja-meja di dapur.

Jongin tampak berpikir sebentar, kemudian meringis penuh rasa bersalah. “Yah, sayang sekali, aku tak punya motor atau mobil. Kita jalan terpisah lalu bertemu di rumah Myungsoo saja, ya?”

“Tak masalah. Aku tak menanyakanmu untuk menjemputku.”

“Untuk memudahkan, kau jalan saja ke halte dan tunggu bus yang mengantarkanmu ke arah Seoul selatan. Kemudian kau bisa berhenti di halte Hyeon-Do. Tak sulit mengingatnya. Halte itu cukup besar dan tempat duduknya warna-warni. Persis di sebelah halte itu ada jalan Hyeon-Do. Masuk saja ke sana dan tanyakan orang sekitar. Mereka pasti tahu rumah Myungsoo,” tutur Jongin panjang lebar.

Jiyeon menganggut-nganggut mendengarnya. “Oke, Jongin. Sampai bertemu besok.”

***
Setelah turun di halte dengan kursi panjang yang dicat warna-warni cerah, Jiyeon langsung tahu jalan Hyeon-Do yang dimaksud Jongin. Memang persis di sebelah halte, dan ada tiang dengan papan yang bertuliskan nama jalan tersebut di depannya, ditulis dengan huruf besar-besar.

Dengan pakaian yang dipinjamkan Jieun dan jaket bulu miliknya, ia pun berjalan dengan rasa percaya diri bahwa ia memakai pakaian yang tepat. Lantas setelah memasuki jalan tersebut dan sudah berjalan beberapa meter jauhnya, dia berhenti. Mendelik kebingungan.

Oke, sepertinya dia harus bertanya pada seseorang untuk kali ini, ya?

Maka dia menghampiri sebuah pos kecil tak jauh darinya, yang berisi beberapa pria paruh baya yang asyik mengopi dan berbincang. Jiyeon merasa hanya ada mereka yang ia temui di sekitar jalan.

“Permisi,” sapanya sopan pada salah satu pria. “Kau tahu rumah Kim Myungsoo?”

“Ya? Kim Myungsoo?” pria yang ditanya Jiyeon membalas sopan. “Oh, tak sulit. Kau tinggal lurus terus, sampai menemukan rumah cukup besar di sisi kanan jalan. Warna putih.”

“Uh, oke, terimakasih.” Jiyeon membungkukkan badan sopan dan segera pergi ke arah yang dimaksud.

Ia menggerutu dalam hati. Makan saja, tuh, rumahmu dekat denganku. Ia menatap ke sisi kanan jalan, siapa tahu menemukan rumah bercat hijau. Karena sedang merayakan pesta, dia tahu rumah Myungsoo pastilah yang sedang terlihat meriah.

Ketika sedang berjalan, sebuah mobil mendahuluinya. Jiyeon memutar matanya, sampai ia tersadar betapa elegannya mobil tersebut. Entah mengapa, pikirannya mengatakan mobil tersebut menuju ke arah yang sama dengannya. Maka, matanya mengikuti arah mobil tersebut bersamaan dengan langkah kakinya.

Lantas, benar saja. Mobil elegan itu berbelok ke sebuah pagar rumah yang menjulang tinggi. Jiyeon langsung tahu bahwa inilah rumah Myungsoo. Rumah ini begitu lebar. Jiyeon tanpa basa-basi segera memasuki gerbangnya.

Mobil tadi lantas mulai parkir. Halaman depan rumah Myungsoo luas sekali. Ada beberapa mobil terparkir di situ. Jiyeon melangkah ragu ke undakan tangga yang menuntunnya sampai ke pintu kayu yang tampaknya mewah tersebut.

Sampai ia baru sadar bahwa si pengemudi mobil elegan tadi keluar dari pintu. Seorang wanita. Jiyeon tertegun. Cantik, batinnya. Ia mendadak langsung ciut melihat penampilan wanita tersebut.

Dress selutut dengan motif floral berwarna hitam, ditambah dengan sepatu tinggi berwarna biru. Tubuhnya dihias dengan perhiasan cantik yang mengkilau. Gadis itu menenteng sebuah tas kecil yang diapit di lengannya yang putih susu.

Seperti model, Jiyeon menggumam dalam hati.

Kemudian Jiyeon menatap dirinya sendiri. Celana jins yang sedikit lusuh, jaket bulu yang kusam, oke, mungkin pakaian pastel miliknya itu bagus. Namun, dibandingkan dengan wanita itu, kasta mereka berbanding jauh sekali.

Tanpa sadar ia menatap wanita tersebut lamat-lamat. Kelihatannya sepantaran dengannya. Wanita tersebut tersenyum simpul padanya dan menghampirinya di undakan tangga.

“Halo. Ikut ke pesta Myungsoo juga, ya?” sapa gadis tersebut ramah.

Jiyeon mengangguk, senyumnya mengembang melihat keramahan gadis tersebut. “Ya.”

Namun sebelum melangkah, wanita itu mengulurkan tangannya. “Kenalkan, ya. Namaku Soojung.”

Sekejap, mendengar nama tersebut, senyum lebar di wajah Jiyeon langsung lenyap begitu saja.


Huh itu apa deh, berantemnya Myungsoo drama banget. HAHAHA.

RCL, ya🙂

30 responses to “[CHAPTER – PART 8] Skinny Love

  1. myungnya gak peka nih…. kasian jiyii… yaampun kok hidupnya jisyi gitu banget sih thor… miris liatnya wkwkwk berharap ternyata jiyi anak konglomerat yg diadopsi sementara sama ortunya jiyi hehehe #ngarangbebas😀

  2. Jiyeon ktemu juga dengan saingannya.. jadi penasaran kelanjutan ceritanya di pesta ultahnya myungsoo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s