[CHAPTER-1] 18 Years Old.

18-years-old_2

poster credit : missfishyjazz@artfantasy

Author : MJS.

Title : 18 Years Old.

Main cast : T-Ara’s Jiyeon – INFINITE’s Myungsoo – Red Velvet’s Irene.

Other cast : more than 12~

Genre : school-life, friendship, romance, sad.

Lenght : Chaptered.

Rating : T.

-inspired by drama who are you : school 2015. there will be some scenes taken from this drama, so please understandable.-

[CHAPTER-1] 18 Years Old.

.

.

Author Pov

Jiyeon hanya menatap kosong pada foto kecil didepannya kemudian memasukkannya kembali dalam saku jas seragamnya.

“Jiyeon-ah, kajja! Apa yang kau lakukan?” Jiyeon hanya menggeleng dan tersenyum kemudian mengikuti mereka.

“Ada seleksi untuk peserta yang akan mengikuti dance competition pulang sekolah. Kau sudah mempersiapkannya?” tanya Soojung begitu mensejajarkan langkahnya dengan Jiyeon. Yeoja itu hanya mengangguk yakin.

“Kau bisa pulang duluan, Eunji-ah. Tak mungkin kau menunggu kami berdua.” Eunji menggelengkan kepalanya lalu mendengus kesal.

“Memangnya kau lupa siapa yang mendaftarkan Mark untuk mengikuti lomba itu? Dan aku harus menunggunya.” Keduanya hanya terkekeh geli melihat tingkah kekanakkan Jung Eunji.

Memang, waktu itu Ms. Lee selaku guru seni mereka menanyakan siapa yang akan mengikuti perlombaan itu. Dan dengan mudahnya Myungsoo mengangkat tangannya. Tak lupa juga mengangkat tangan Mark yang terlihat tak peduli. Selanjutnya mereka hanya bisa menatap Mark yang seolah-olah ingin membunuh Myungsoo saat itu juga.

“Kim Myungsoo. Pembuat masalah itu.” balas Jiyeon tersenyum. Kemudian Soojung membalas, “Dia sahabatmu, kau tahu?” Jiyeon hanya mengangguk kemudian duduk disalah satu tempat kosong.

“Kau-tidak merasakan sesuatu yang berbeda ketika bersama Myungsoo? Bagaimanapun kalian sudah berteman selama 12 tahun!” seru Soojung. Jiyeon hanya menggeleng tak tahu.

Begitu mereka tengah berbincang, Myungsoo datang dan menaruh sebuah kotak cukup besar diatas kepala Jiyeon. Jiyeon sedikit tersentak kemudian mengambil kotak itu yang menurut dugaannya pasti hadiah dari fans Myungsoo.

“Untukmu. Yeoja itu mengatakan kalau Ia sendiri yang membuatnya, tapi disisi kanannya masih terdapat segel harga.” Ketiganya tertawa. Myungsoo memang memiliki banyak penggemar disekolah. Termasuk penggemar yang terlalu berlebihan.

Bahkan tak sedikit mereka yang tidak menyukai Jiyeon karena dianggapnya terlalu dekat dengan Myungsoo. Namun Jiyeon bukan yeoja yang mudah terbawa perasaannya hanya karena hal itu.

“Apa kau sebegitu miskinnya hingga hanya dapat memberikanku bekas hadiah penggemarmu?” sindir Jiyeon. Myungsoo hanya mengangguk santai dan mengambil minuman yang berada didepan Jiyeon.

“Apa kami mengganggu kalian?” tanya Soojung tak enak. Berbeda dengan Eunji yang memang sudah jauh lebih dekat dengan Myungsoo juga Jiyeon. Bahkan Myungsoo sering mengaku-ngaku kalau Eunji adalah adik kecilnya.

“Mungkin. Aku kan merindukannya selama seminggu ini.” Jiyeon langsung memberikan tatapan menjijikkan pada Myungsoo.

“Bukankah kau yang sibuk latihan, huh?!”

“Geurae. Aku memang sibuk. Bagaimanapun aku pemain basket terbaik juga memiliki bakat dancer kan?” balasnya sengaja membanggakan diri. Jiyeon hanya meneguk ludahnya geli. Sejak kapan Myungsoo seperti ini?

Myungsoo memang sering seperti ini. Namun bukan berarti Ia tak pernah tampil menawan. Justru itu keahliannya, sehingga membuat yeoja banyak menyukainya.

“Bukan itu. Kau pasti sibuk memperhatikan cheerleader untuk tim basketmu, kan?” Lagi-lagi Jiyeon belum puasnya untuk menyindir Myungsoo. Sementara namja itu hanya terkekeh.

“Kurasa mereka yang-” Belum sempat Myungsoo melanjutkan kalimatnya, Jiyeon sudah menempelkan minuman dinginnya sehingga membuat Myungsoo menatapnya kesal namun tak mengatakan apapun.

“Kurasa kita benar-benar harus pergi darisini.” balas Eunji malas. Ia merasa hanya seperti pajangan lukisan disini. Ditambah lagi, Minhyuk datang meghampiri Soojung sembari tersenyum. Membuatnya semakin panas saja.

Soojung hanya memandang Minhyuk malas sambil berusaha mengusirnya. Ia memang tak begitu menyukai kehadiran Minhyuk yang membuatnya terganggu.

-•-

Soojung tengah mencari-cari Jiyeon dalam aula. Tadinya Jiyeon mengatakan sudah sampai diaula, namun sampai sekarang Soojung masih tak melihatnya. Ia menoleh kesekelilingnya sambil berjalan.

BRUKK.

Sontak tubuhnya langsung oleng kebelakang dan terjatuh. Soojung tampak sedikit meringis kesakitan.

“Mianhae, Soojung-ah.” Sontak Soojung langsung menoleh kearah sang namja yan ternyata Mark lalu tersenyum canggung. Mark memegangi tangannya erat seraya membantunya berdiri.

“Gwenchana. Aku juga minta maaf tak melihatmu tadi.” ujarnya tersenyum merasa bersalah. Mark hanya tersenyum mengiyakan.

“Kau ikut seleksi ini kan? Kau lihat Jiyeon?” Mark hanya menggelengkan kepalanya kemudian langsung bertanya, “Kau lihat Eunji?” Tanpa Mark sadari, senyuman Soojung sedikit memudar namun berusaha tetap terlihat ceria.

“Sepertinya dia menunggumu menyelesaikan seleksi ini. Tadi kulihat Ia ada diluar aula.” Mark mengangguk dan meninggalkan Soojung, sementara Soojung hanya menghela nafas tanpa mengatakan apapun.

Tapi harusnya Ia ingat pada satu hal. Mark milik Eunji, sahabatnha sendiri. Tak seharusnya Ia bersifat seperti ini.

-•-

Jiyeon tengah duduk dibangku seleksi sembari menunggu Soojung yang tak kunjung datang. Tadinya Ia memutuskan untuk menghubungi Soojung, tapi tiba-tiba saja baterai ponselnya habis.

“Oh, Park Jiyeon!” Jiyeon menoleh kebelakang dan mendapati Irene tengah menghampirinya dengan senyuman yanng selalu diberikan pada siapapun.

“Masih mau mengikuti lomba ini? Tak takutkah dengan kejadian..?” Jiyeon menatap Irene tajam.

“Bukan urusanmu. Bahkan aku lupa kejadian apa yang pernah menimpaku.” Irene berdecak dengan tatapan mengejek.

“Mana mungkin Park Jiyeon yang selalu terlihat sempurna ini bisa melupakan pengalaman terburuknya, yang membuatnya menyesal.”

“Tak ada kata menyesal dalam hidupku, Irene-ssi.” balas Jiyeon tajam. Kini keduanya saling menatap tajam.

“Ikut aku.” Awalnya Jiyeon hanya diam tak menanggapi. Namun begitu Irene jalan lebih dulu, Ia pun langsung mengikuti Irene menuju toilet.

Dengan cepat, kedua teman Irene yang Jiyeon tak ketahui namanya langsung menyergap Jiyeon dan mendorongnya masuk dalam toilet lalu menguncinya. Seperti pengecut, Irene memasangkan tanda bahwa toilet tersebut rusak.

“Takkan ada yang bisa menghalangiku. Ini mimpiku!”

“Irene, buka! Kau pengecut! Bodoh!” teriak Jiyeon dari dalam toilet. Irene tak memperdulikan dan malah kembali kedalam aula.

-•-

Eunji yang baru saja melihat Jiyeon bersama Irene menuju toilet membuatnya heran. Sejak kapan keduanya menjadi dekat? Setau Eunji, Jiyeon sedikit dingin pada orang yang tak dikenalnya. Seperti waktu keduanya saling mengenal dulu.

Apa memang keduanya baru dekat akhir-akhir ini? Tapi kenapa Eunji tak pernah melihat kedekatan mereka. Jiyeon bukanlah tipe yeoja yang langsung dekat dengan orang lain hanya dalam jangka waktu sehari.

Yeoja itu sedikit pemilih dalam hal berteman. Bahkan dirinya dengan Jiyeon setelah sebulan mengobrol bersama.

“Hey.” Eunji menoleh kebelakang dan mendapati Mark menghampirinya dengan kedua tangannya dimasukkan dalam saku celananya.

“Eoh, bukankah seleksinya sebentar lagi?”

“Aku berniat kabur.” keluh Mark namun tak dapat melakukannya begitu melihat Ms. Lee benar-benar menuliskan nama-nama mereka dengan lengkap agar tak ada yang dapat bermain-main.

Eunji hanya terkekeh kemudian membalas, “Kau baik dalam segala hal.”

Tiba-tiba dirinya teringat lagi dengan Jiyeon, membuatnya menyahut, “Kau lebih baik kembali sebelum Ms. Lee membunuhmu.” Mark mengangguk lalu kembali masuk kedalam aula.

Eunji pun memutuskan untuk mencari Jiyeon karena yeoja itu tak kembali juga. Awalnya Eunji merasa tak ada yang aneh dengan tanda toilet rusak itu dan berniat melewatinya.

Namun Ia kembali lagi dengan heran. Ini tulisan dengan spidol, biasanya mereka menuliskannya langsung dengan hasil cetakan. Ditambah lagi teriakan Jiyeon membuatnya semakin panik.

“Jiyeon-ah!”

“Eunji-ah, ppali buka pintunya!”

“Tapi Ia tak hanya mengunci, Ia menggemboknya juga dengan rantai!” serunya bingung sambil menoleh kesekelilignya.

“Arghh!” teriak Jiyeon marah dari dalam. Dengan cepat, Eunji mengambil palu yang cukup besar dengan balok kayu. Ia memukul rantai beserta gembok itu dengan palu itu hingga sedikit melukai tangannya.

KREKK.

Gembok dan rantainya terlepas. Giliran Eunji sekarang harus membuka kunci toilet ini. Namun tangan kanannya yang tadi sempat terluka terus mengeluarkan darah membuatnya bingung.

Meskipun tak terluka parah, tapi Eunji tetap saja meringis kesakitan sambil mencari sesuatu untuk membuka kunci tersebut.

“Eunji-ah, pakai lidimu!” Eunji langsung teringat Jiyeon yang selalu memanggil jepit rambutnya dengan sebutan lidi karena bentuknya yang hanya segaris.

Dengan cepat Eunji menarik jepit rambutnya dan mulai membuka pintu tersebut.

“Berhasil!” serunya langsung membuka pintu dan sejenak melupakan lukanya. Jiyeon langsung melangkah keluar dan memeluk Eunji.

“Gwenchana?” tanya Eunji khawatir sambil melihat Jiyeon. Jiyeon hanya tersenyum tipis lalu melihat tangan Eunji yan mengeluarkan semakin banyak darah membuatnya panik.

Dengan cepat Ia mengambil sapu tangan putih miliknya dan membalutnya pada luka Eunji supaya tak banyak darah yang keluar lagi.

“Sudahlah, ayo kita ke aula! Kau harus diseleksi.” Jiyeon hanya menggeleng dan melihat jam tangan putih dengan corak emas miliknya.

“Sudah 45 menit. Waktu seleksi hanya 30 menit. Tak apa.” balas Jiyeon pelan dan tersenyum tipis. Keduanya keluar darisana dan menemukan teman-temannya tengah menunggu Jiyeon.

“Kau darimana saja?! Kau jadi tak bisa ikut seleksi.” balas Soojung kesal. Jiyeon hanya tersenyum meminta maaf.

“Ada apa?” tanya Myungsoo langsung. Ditambah Ia melihat tangan Eunji yang dibalut kain putih yang sudah tercampur dengan warna darahnya. Mark langsung menariknya dan mengecek tangannya.

“Kalian bertengkar?” tanya Myungsoo lagi yang langsung dihadiri tatapan tajam dari beberapa temannya.

“Irene menguncinya. Aku tak tahu apa yang terjadi. Aku hanya melihatnya pergi bersama Irene dan tak kembali sehingga aku menyusulnya.”

“Benar, Irene.” Sontak tatapan Jiyeon menjadi sangat tajam dan menarik tangan Irene kasar. Irene menatapnya tak suka dan menepisnya.

“Apa kau begitu pengecut? Apa kau masih takut terkalahkan?” balas Jiyeon meledek. Irene menatap Jiyeon marah.

“Kau..”

“hanyalah penghalang dalam hidupku. Karena aku kau, semuanya berantakan! Aku bahkan tak mengerti kenapa aku harus mengenalmu!” teriak Irene membuat seluruh siswa menatap mereka dalam diam.

“Harusnya aku yang mengatakan itu. Kau yang hanya bisa melihat kemampuan orang lain tanpa berusaha. Itu yang membuatmu seperti ini! Kau yang membuat kita seperti ini!”

Irene menatap Jiyeon tak percaya, “Lalu kenapa kau mengikuti permainanku? Kenapa kau tak mempercayaiku? Apa aku seburuk itu dimatamu?”

Jiyeon masih terdiam tak menanggapi. Sejujurnya Ia cukup kaget dengan pertanyaan Irene yang menusuknya. Jadi selama ini Irene menganggap dirinya seperti itu?

Keduanya masih saling menatap tajam dalam kebencian. Antara percaya dan tak percaya dengan semua ini.

.

.

TBC.

gimana? ga bagus ya? okelah, aku udah tau-_- aku cuma lagi suka dengan genre school-life , ditambah lagi dengan drama school 2015 yang langsung buat aku nge-fly dengan alurnya. cocok buat permasalahan murid sekolah sekarang kan? mungkin itu juga yang buat aku kepingin buat ff kaya gini.

bagi belum nonton, aku saranin kalian coba nonton deh. bagus kok, hehe. okey, thanks!

64 responses to “[CHAPTER-1] 18 Years Old.

  1. irene kok jahat sih jadi penasaran kenapa irene kae gitu:/
    aaaaaaaa suka banget sama ceritanya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s