[Chapter – 1] Clockwork

clockwork-1_

Tittle: Clockwork – Chapter 1 | Author: farvidkar (Farah Vida Karina) | Genre: Romance, Fantasy | Cast: L Kim/ Kim Myungsoo, Park Jiyeon, IU | Other cast: Cho Kyuhyun, Choi Sulli, etc | Rating: PG-17 | Length: Chapter | cr poster MutiaR @ HSG

A/N: Asli buatan sendiri dengan imajinasi yang datang sendirinya. Tidak ada maksud lain dengan karakter yang dibuat. Jika terdapat kesalahan dalam penulisan harap dimaklumi. Fanfict ini sudah pernah dipublish pada blog pribaku

 

Dentuman arloji tua dengan bingkai besi yang dilapisi emas murni itu bergema di dalam ruangan kosong yang gelap. Seorang pria berpakaian putih dengan wajah pucat meraba-raba daerah sekitarnya. Mengingat minimnya pengcahayaan sehigga pria itu mempertajam indra pendengarannya, mencoba menangkap asal muasal suara dentuman itu. Hingga tangannya berhasil menggapai sebuah arloji tua yang tergeletak begitu saja di lantai.

“Arloji?” gumam pria itu sedikit parau. Tak lama cahaya menyilaukan muncul dari dalam arloji tua itu. Lantas pria itu melempar arloji tua itu dan reflex memejamkan kedua matanya mencoba menghalau cahaya keemasan yang sangat menyilaukan itu.

“Selamat datang di kehidupan barumu, L Kim” suara seseorang terdengar bergema, membuat pria itu yang tak lain bernama L Kim dengan perlahan membuka matanya.

“Kehidupan baru?” Tanya L Kim kembali, seolah-olah merasa kalau pendengarannya salah.

Kim Residence, Gangnam-do, South Korea

Author pov

Jam menunjukkan pukul 22.00 KST, kediaman keluarga Kim masih ramai dikunjungi oleh teman-teman L, rekan kerja keluarga Kim, serta sanak keluarga. Bahkan ada banyak wartawan yang menunggu di luar. Berita duka yang datang dari chaebol nomor satu di Korea mengundang banyak perhatian.

Seorang pria menatap nanar pada bingkai fotonya yang di letakkan di dekat peti jenasah miliknya. Kedua orangtuanya tak dapat menahan kesedihannya, mengingat anak sematawayang mereka kini telah tiada. L tak bisa melakukan apa-apa, dia hanya menahan airmatanya yang sangat jarang ia keluarkan.

“Apa kau sudah mengerti sekarang?Kau sudah meninggal L Kim” pria bertubung jangkung itu muncul di samping arwah L Kim. Sembari memegang bahu kanan L, pria itu memberikan arloji tua yang kini tidak berdentum. L hanya dengan ragu mengambil arloji itu.

“Arloji tua yang dikenal sebagai Eldorado itu bagaikan sebuah kutukan, jika jarum arloji terus berputar, maka kehidupan orang yang memiliki arloji itu akan terus berputar dimana dia yang telah meninggal akan bangkit dan terus hidup, dan jika jarum arloji tua itu berhenti bergerak, maka kehidupan orang yang memiliki arloji tua itu akan ikut berhenti”

Jadi setelah jarum arloji ini kembali berputar, maka..” belum sempat dia meneruskan kalimatnya, tiba-tiba suara dentuman terdengar dari arloji itu. Jarum panjangnya bergerak diikuti dengan cahaya keemasan. L Kim merasakan sekelilingnya terhenti, diikuti dengan bayangan-bayangan kejadian yang terus mundur ke masa lalu hingga dia mendapati kejadian dimana dia meninggal akibat kecelakaan.

Siluet tubuhnya yang tertabrak sebuah mobil itu terhempas ke tepi tebing. L Kim berlarian mendekati tepi tebing, wajahnya memucat saat melihat siluet tubuhnya tenggelam. Lantas dia langsung ikut melompat berusaha menolong siluet tubuhnya dengan angan-angan dapat merubah takdir yang kini telah terjadi. Saat tangannya berhasil menggapai siluetnya, tiba-tiba dunia kembali berputar.

Hannyoung High School, Gangdong-gu, Seoul

Seorang gadis berjalan dengan lunglai di sepanjang koridor. Sesekali dia tanpa sengaja menabrak beberapa siswa.

“Mianhe” hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Park Jiyeon. Gadis itu terduduk di lantai sambil berusaha menahan air matanya agar tak menetes.

“Jiyeon-ah gwenchana?” Sulli datang mendekati sahabatnya yang baru saja tertimpa musibah.

“Hhmm, seperti yang kau lihat aku tidak baik-baik saja” Jiyeon berusaha berdiri sambil dibantu Sulli.

“Sulli-ah, aneh rasanya saat aku berjalan sendirian tanpa ditemani L” Jiyeon menatap lekat sahabatnya, kini air matanya menetes. Ia tak sanggup menerima kenyataan bahwa tunangannya itu telah tiada.

“Kau harus bisa merelakannya Jiyeon-ah” Sulli mengelus puncak kepala sahabatnya, berusaha membuat sahabatnya itu tenang.

“Ini semua salahku, karena ambisiku dia sampai..” tangisnya pun pecah, sehingga membuat dirinya menjadi pusat perhatian semua orang di sekolah.

SBS Building, Seoul, South Korea

Gedung besar milik salah satu siaran nasional South Korea itu seperti biasa selalu ramai. Kesibukan terlihat dimana-mana. Hari ini kru Running Man (acara variety show) sedang sibuk kesana kemari melakukan rekaman.

“Gary hyung, kau lihat IU?” suara Kwangsoo terdengar bergema di koridor kosong itu. Kwangsoo berlarian mengejar Gary.

“Yak?! Mengapa kau bertanya padaku? Jangan berani menyentuh mascot dari timku! Yak jangan mendekat!!” bunyi giring-giring yang dikenakan Kwangsoo semakin terdengar nyaring di telinga Gary sehingga dengan reflex Gary-pun berlarian menjauhi Kwangsoo.

“Bukan begitu maksudku hyung. IU menghilang. Kata PD Kim, cameramen-nya IU bilang ia kehilangan jejak gadis itu. Bahkan para kru yang lain juga tidak ada yang tahu dimana dia bersembunyi” jelas Kwangsoo memasang wajah serius. Lantas Gary menghentikan langkahnya dan berubah pikiran.

“Kau serius? Jangan bercanda seperti itu Kwangsoo-ya” Kwangsoo hanya mengangguk polos.

“Kalian disuruh berkumpul di lobby, PD Kim sudah menunggu” suara cameramen Park memecahkan suasana. Lantas mereka semua bergegas kembali ke lobby.

“Jinja PD-nim??!” pertanyaan kompak keluar dari mulut para member tetap Running Man.

“Ya, jadi kalian sebaiknya menutup mulut dan jangan sampai berita ini tersebar” PD Kim yang merupakan penanggung jawab variety show ini terus terusan mendesah, menunggu informasi dari pihak agency IU. Pasalnya disaat syuting, tiba-tia IU menghilang. Gadis itu menjadi bagian dari tim Gary yang harus bersembunyi, tetapi hingga tiga jam game berlangsung taka da satupun kamera yang berhasil menangkap gambar gadis itu. Bahkan gadis itu tidak menjawab telefon dari managernya.

“Apa jangan-jangan dia di culik oleh stalker?” Ha Ha yang berasumsi seperti itu lantas saja mendapat jitakan dari Kim Jongkok.

“Jangan-jangan dia di culik oleh hantu gentayangan yang berembunyi di ruang costume? Bukankah Jihyo noona kau pernah bilang kalau ruangan disitu sangat angker?” Kali ini Kwangsoo mendapat jitakan dari Jihyo.

“Jangan percaya pada hal seperti itu pabo” oceh Jaesuk. Kwangsoo hanya mengringis kesakitan akibat ulah kedua sunbaenya itu.

“Oh benar! Ruang costume yang disudut lantai R17?” kali ini PD Baek angkat bicara. Jihyo dan Kwangsoo hanya mengangguk sekenanya.

“Aku akan mengecek lagi ke sana, tadi ada beberapa kru yang melapor kalau ruangan itu terkunci dari dalam” jelas PD Baek dan langsung bergegas ke lantai R17 diikuti beberapa kru.

Di sebuah ruangan tua yang gelap, seorang gadis sedang meringkuk di balik beberapa helai kain. Ruangan yang berdebu itu sudah lama tak terpakai. Lampu penerangan pun tak ada. Sebuah tangan meraba-raba daerah sekelilingnya mencoba menggapai sesuatu.

“Sebelumnya aku sudah pernah mendapati situasi seperti ini” ucap seorang pria. Orang yang diajak bicara, hanya mendesah tak karuan.

“Dimana kau menjatuhkan handphonemu?” Tanya pria itu.

“Aku tak ingat” jelas gadis itu sekenanya. Ia tak ingin terlibat lebih lanjut dalam percakapan bersama orang asing.

“Aish bagaimana ini. Kalau begitu dimana kau menjatuhkan kuncinya?” Tanya pria itu lagi.

“Yak! Ini semua karena dirimu! Kalau kau tidak muncul seperti hantu dan mengagetkanku maka aku tidak akan melempar kunci itu!” kali ini gadis yang duduk meringkuk disudut itu berceloteh panjang lebar. Luapan emosinya pecah begitu saja.

“Kenapa malah menyalahkanku!? Dan asal kau tahu, aku itu bukan ‘seperti hantu’, tetapi aku memanglah ‘seorang hantu’ ingat itu” kali ini pria itu juga meluapkan kekesalannya.

“Hah, terserah padamu. Mau kau hantu atau alienpun aku tak peduli. Yang jelas cepat keluarkan aku dari sini!” gadis yang dikenal bernama IU itu lantas berdiri dan berjalan perlahan-lahan sembari tangannya meraba-raba daerah sekitarnya.

“Hhmm apa ini? Rambut?” gumam gadis itu. Tangannya meraba sesuatu yang sedikit kasar dan ada sesuatu yang kental.

“Apa yang kau lakukan? Itu rambutku pabo” ucap L Kim, tangannya mencoba menyingkirkan tangan IU namun saat permukaan kulit tangannya berhasil menyentuh tangan gadis itu, untuk beberapa detik ia menggenggam tangan gadis itu. Pikirannya seperti terombang ambing dengan apa yang terjadi.

“Sepertinya saat ini aku sudah kembali menjadi manusia” gumam L Kim.

“Yak pria mesum! Singkirkan tanganmu” IU memukul kepala pria itu beberapa kali, berpikir bahwa pria yang ada dihadapannya itu sedang mencoba melakukan hal yang senonoh.

“Akh! Hentikan! Yak akan kutuntut kau dengan pengacaraku!” gadis itu terus terusan memukul tanpa henti hingga L terpojok di sudut ruangan, tiba-tiba tangan pria itu menyentuh suatu benda mungil dan tipis. Dengan cepat L menangkis pukulan gadis itu dan dengan sigap menahan kedua tangan gadis itu dengan tangan kirinya.

“Aku menemukan handphonemu” ucap L. Gadis itu berhenti bereaksi, dengan cepat gadis itu mendekati L.

“Cepat serahkan padaku!” L langsung meletakkan handphone itu di dalam genggaman IU. Ketika gadis itu mengaktifkan smartphonenya, siluet wajah L pun terlihat. Gadis itu mendekatkan layar handphonenya ke wajah L. Tiba-tiba raut wajah gadis itu berubah pucat.

“Kau…” gadis itu menggantungkan kalimatnya. Otaknya masih terus berpikir tentang sesuatu yang terjadi saat ini.

“Jadi kau sudah percaya? Aku L Kim penerus Kim Corporation yang baru saja meninggal. Kemudian muncul entah dari mana dan hidup kembali dengan wajah yang sama dan tubuh yang sama” jelas L Kim. Gadis itu menutup mulutnya. Perlahan tubuh gadis itu menjauhi L.

“Apa aku sudah gila? Bagaimana mungkin orang yang sudah meninggal hidup kembali. Aku.. tak percaya. Sepertinya aku perlu pil atau..” ucapan gadis itu terhenti saat terdengar suara ramai dari luar pintu. Seseorang menggedor-gedor pintu dan meneriakkan namanya.

“Aku disini!!! Tolong bukakan pint.. ttu…ny..nyaa…” L membekap mulut IU.

“Kau tak mengenalku dan akupun tak mengenalmu. Namun kau terperangkap dalam dunia baruku. Aku tak bisa menjelaskannya secara rinci saat ini, namun aku mohon kau harus percaya padaku. Jangan beritahu orang lain tentang keberadaanku” suara pria itu terdengar menyedihkan. Kalut dengan apa yang dihadapinya dan apa yang akan terjadi padanya setelah ini.

“Setelah ini kau akan kemana? Kembali ke rumahmu dan bertemu orangtuamu?” Tanya gadis itu hati-hati. L hanya tersenyum miris.

“Tidak mungkin. Mayatku sudah ditemukan, bahkan sudah menjadi abu. Aku hidup kembali untuk menjadi orang lain. Aku tak tahu harus kemana” gadis itu terdiam sejenak, berusaha memikirkan jalan keluar untuk orang yang kini sedang terduduk di hadapannya.

“IU-ssi, kami akan mendobrak pintunya, menjaulah dari pintu itu” suara seseorang terdengar dari luar. L yang juga mendengarnya lantas bangkit berdiri.

“Aku harus pergi sebelum ada yang melihatku” ucap L. Dengan langkah yang tertatih-tatih dia berjalan mendekati jendela.

“Kau mau kemana L-ssi?” Tanya gadis itu. Kali ini IU menahan tangan L. Pria itu hanya tersenyum kecut. Perlahan ia melepaskan genggaman gadis itu.

“Lihatlah, kepalamu berdarah. Tubuhmu tidak dalam keaadaan yang baik” gadis itu terlihat cemas.

“Kau gadis yang baik, aku beruntung bisa bertemu denganmu. Kalau begitu sampai jumpa” L bersiap melompati jendela.

“Tunggu!! Apa kau ingin mati untuk yang kesekian kalinya?!” IU mendekati jendela, melihat ke bawah. Wajah gadis itu bergidik ngeri menikmati kenyataan bahwa mereka berada di lantai 17.

“Mungkin aku akan tetap hidup. Aku tak bisa menjelaskannya padamu” jelas L, tangan pria itu mengacak-acak permukaan kepala IU.

“Jika benar kau masih akan terus hidup, setelah ini tunggu aku di tanam Namcheon, bangku ke empat dari pohon cherry blossom” L hanya mengangguk setelah itu ia melompat dari jendela.

“IU-ssi gwenchana?” pintu yang terkuncipun akhirnya berhasil terbuka. Beberapa PD dan kru Running Man menghampiri gadis itu.

“Gwenchana-yo. Sepertinya aku perlu istirahat” gadis itu bergegas meninggalkan tempat itu diikuti beberapa orang di belakangnya.

“semoga, kita bisa bertemu lagi L Kim” gumam gadis itu tak terdengar.

“Akh..” pria itu merintih kesakitan akibat benturan yang didapatinya. Jam menunjukkan pukul 22.00 KST sehingga daerah di sekitarnya sudah sepi.

“Seperti yang kuduga,” gumam pria itu tertahan. Tangannya menggenggam arloji tua keemasan. Menyadari dirinya masih hidup, lantas L Kim perlahan-lahan berjalan menuju sebuah taman yang tak jauh dari tempat itu.

Park Residence, Howon, South Korea

“Jiyeon-ah, kau belum tidur? Apa ibu boleh masuk?” seseorang mengetuk pintu kamar Jiyeon. Suara keibuan milik nyonya Song membuyarkan lamunan sang anak.

“Hhmm, eomma masuklah” suara parau Jiyeon membuat sang ibu betambah khawatir.

“Ibu tahu apa yang kau rasakan saat ini. Namun sebaiknya lupakan saja pria itu” gadis itu menitihkan airmatanya, mengingat-ingat masa lalunya bersama L.

“Walaupun dia tidak mencintaiku, walaupun dia selalu menolakku.. aku, tidak akan dengan mudah melepaskannya eomma. Aku memang egois karena memasak kehendaknya, sampai-sampai terjadi hal seperti ini…” sang ibu hanya mampu memeluk anaknya itu. Mencoba meminimalisir kesedihan sang anak. L adalah pria baik-baik dari keluarga Kim yang merupakan kenalan dari keluarga Park. Kedua orangtua melakukan pertunangan, bahkan L yang awalnya bersekolah di Amerika harus dipindahkan ke Seoul atas keinginan Jiyeon yang ingin bertemu secara langsung dengan tunangannya itu. Sebenarnya mereka sudah saling kenal, namun hal itu sudah sangat lama saat mereka menginjak umur 6 tahun.

“Di dunia ini ada ribuan mata yang memandang ke langit. Dan awan di langit akan memilih mata terbaik untuk dilindunginya. Kau beruntung karena terpayungi oleh langit. Namun bagaimanapun juga matahari, bulan, bintang juga berada di langit. Kau jangan hanya memandang awan yang bergerak dengan cepat. Sesekali berpikirlah bahwa matahari yang memberimu kehangatan. Bulan yang memberimu penerangan di dalam gelap, dan bintang yang memberimu mimpi yang terang” Jiyeon tersenyum sejenak. Ia mengetahui maksud dari ibunya itu. Memang benar, dari dulu ia hanya bisa memandang ke satu arah. Pria itu seolah-olah menghipnotis hidupnya. Memikat perhatian gadis itu.

“Terima kasih atas saranmu eomma”

Namcheon Park, Seoul, South Korea

Udara dingin menyentuh permukaan kulit L. Pria itu hanya mengenakan kemeja putih kotor yang merupakan pakaian terakhir yang dikenakannya saat mengalami kecelakaan dan menewaskannya. Sesekali beberapa pasangan yang lewat sempat menaruh perhatian pada L. tentu saja, orang-orang pasti akan tertarik pada seseorang yang berkeliaran di malam hari dengan kepala yang mengeluarkan darah serta luka-luka di sekujur tubuhnya.

“Aish lama sekali gadis itu, awas saja kalau dia tak datang akan ku.. ” gerutu L yang sesekali menyembunyikan wajahnya, takut-takut ada yang mengenalinya.

“Ekhem.. apa kau membicarakanku?” seorang gadis yang mengenakan hodie dengan topi datang entah dari mana. L melemparkan tatapan menyelidik. Wajah gadis itu susah dikenali karena menggunakan penyamaran.

“Ini aku! Kajja, nanti ada yang melihatku” IU melepaskan topinya, lantas menarik tangan pria itu dan membawanya ke sebuah mobil putih milik gadis itu. L hanya pasrah mengikuti apa yang gadis itu lakukan.

“Kau ingin makan atau mengobati lukamu terlebih dahulu?” Tanya gadis itu sembari mengemudikan mobilnya.

“Terserah kau. Aku tak punya uang untuk melakukan hal-hal seperti itu” L kemudian memejamkan matanya.

“Baiklah, jangan protes tentang apapun okeh?” gadis itu menginjak pedal gas dalam-dalam, memacukan mobilnya secepat mungkin.

COEX Apartment, Seoul, South Korea

“Yak appo! Aish kau bisa pelan-pelan?” IU hanya bisa menahan sabar saat menghadapi pria yang baru saja dikenalnya itu.

“Jangan banyak bergerak, perbannya bisa lepas!”

“Arraseo..” pria itu duduk diam dengan pasrah. IU hanya bisa cengir melihat pria dihadapannya itu mengerucutkan bibirnya.

“Kau tahu.. baru kali ini aku membiarkan seorang pria asing masuk ke dalam aprtmentku. Tentunya selain ayah dan manager oppa”

“Benarkah? Apa kau membiarkan kekasihmu menunggu di luar apartment?” pertanyaan konyol L membuatnya mendapat jitakan dari gadis itu.

“Aku tak ingin berdebat denganmu.. sekarang cepat buka kemejamu” L membulatkan matanya.

“Jangan berpikiran kotor pabo. Aku mau membersihkan luka di punggungmu. Coba kau lihat, ada darah di belakang kemejamu” perlahan L membuka kancing kemejanya, terlihat jelas ia menahan sakit di bahu kanannya saat dipaksakan terangkat.

“Sini biar kubantu” wajah gadis itu memerah saat melihat bentuk tubuh L yang lumayan bagus.

“Jangan memasang wajah bodoh seperti itu, air liurmu hampir menetes”

L Kim pov

Keberuntungan datang padaku, hingga saat ini aku masih bisa hidup berkat arloji tua yang kutemukan. Dan sekarang aku kembali tertolong atas bantuan yang diberikan oleh seorang gadis yang tak ku kenal sebelumnya. Sebuah foto terpajang di sudut ruangan, aku tersenyum kecut melihat foto gadis itu bersama kedua orang tuanya.

“Kau merindukan orang tuamu L Kim-ssi?” suara gadis itu membuyarkan lamunanku.

“Sedikit..” jawabku berbohong. Ku lihat ia membawakanku sebuah piring yang berisikan nasi goring dengan porsi yang cukup besar.

“Makanlah. Maaf aku hanya bisa memasak nasi goreng”

“Terima kasih hhmm… Kau belum mengenalkan dirimu..” aku bingung harus memanggilnya apa. Sebelumnya aku pernah mendengar ada yang meneriakkan Uee, Ai Yu, atau apalah. Lagi pula gadis itu belum memperkenalkan dirinya padaku.

“Jinja kau tidak mengenalku? Apa kau tidak pernah melihatku di tv? Atau kau tidak memiliki social media? Atau kau pernah mendengar lagu ini hhmm hhmm eonjengga inummuri neo ceugil eonjengga, ah atau kau pernah menonton drama dream high? Ah atau.. hmmpp” aku membekap mulutnya yang terus terusan berbicara hal yang tak kumengerti.

“Dengar baik-baik agasshi. Aku besar di Amerika, dan aku baru tiga bulan di Seoul. Aku tidak suka menonton tv dan mendengarkan lagu. Aku tidak punya social media atau apalah” jelasku panjang lebar. Kulihat gadis itu sedikit kecewa.

“Kau… keturunan orang hutan? Payah sekali. Kalau begitu cepat makan yang banyak dan tidurlah. Panggil aku kalau kau butuh sesuatu” gadis itu berjalan kesal meninggalkanku.

“Agasshi!” dia menoleh kesal ke arahku.

“Siapa namamu?” kulihat ia menghela nafas panjang, mungkin sedikit kesal karena ulahku. Tetapi aku memang tidak mengenal gadis itu. Jadi sejujurnya itu bukanlah salahku.

“IU, nama asliku Lee Ji Eun. Terserah kau mau memanggilku apa.” Setelah mengakhiri kalimatnya, gadis itu menghilang di balik pintu kamarnya.

Hannyoung High School, Gangdong-gu, Seoul

Hari ini matahari terbit begitu terang. Aku masih mengenakan pakaian yang dipinjami oleh Jieun. Sudah 30 menit aku menunggu di pagar sekolah, bersembunyi di balik pohon dan menunggu seseorang yang kukenal lewat. Aku ingin melihat keadaannya. Apakah dia baik-baik saja. Tak berapa lama kulihat seorang gadis yang kukenal itu turun dari sebuah mobil sedan hitam. Wajahnya kusut, matanya sembab mungkin tadi malam dia habis menangis.

“Park Jiyeon” gumamku tak terdengar. Dari kejauhan kulihat punggungnya semakin menghilang. Dia adalah tunanganku. Namun selama ini aku hanya menganggapnya sebagai adik.

Flashback

“L Kim! Tunggu aku!!” suara cempreng gadis itu terdengar dari belakang. Kulihat ia berlari menyusulku. Kakinya terlihat diseret-seret.

“Lagi-lagi kau melupakan statusmu. Aku lebih senior satu tahun darimu Jiyi, jadi jangan lupa dengan kata ‘oppa’ arraseo?”

“Tetapi statusku juga sebagai tungananmu. Jadi aku berhak memanggilmu apa saja” aku menghela nafas mendengar kata itu ‘tunangan’. Ya, aku mengikuti apa saja yang diperintahkan kedua orangtuaku. Hingga perjodohan bersama teman masa kecilku. Namun aku tak tahan dengan apa yang kulakukan. Selalu menjadi budak di dalam keluarga.

Pertemuan keluarga yang dilakukan berlangsung kacau, pernyataan sepihak yang kulakukan membuat keadaan memanas.

“Aku ingin membatalkan pertunangan ini. Aku tidak akan menikahi Park Jiyeon” itulah yang ku katakan. Kulihat raut wajah kedua orangtua berubah. Sebuah tamparan panas kudapatkan dari appa.

“Apa? Kau anak kurang ajar! Jangan membuat masalah lagi! Cepat minta maaf dan segeralah menikahi Park Jiyeon! Beruntung masih ada yang menyukai anak kurang ajar sepertimu!” aku tak bisa melupakan kalimat yang dikeluarkan oleh appa-ku.

“Kau jangan mempermalukan kami untuk yang kesekian kalinya! Ibu sudah bersabar menghadapimu! Kau sangat susah dihadapi! Aku tak ingin memiliki anak sepertimu” perkataan ibu sungguh membuatku kecewa.

“Tuan Kim, nyonya Song.. L adalah pria yang baik. Dia tidak pernah membentakku, melukaiku, atau melakukan sebuah kesalahan. Dia adalah pria berhati hangat yang kukenal. Walaupun dimata kalian dia adalah anak yang berantakan, namun aku berani bersumpah kalau dibalik topengnya itu dia adalah sesosok pria yang akan..” hanya gadis itu, Park Jiyeon yang membelaku. Mulai detik itu aku berubah pikiran. Yang kulihat dari dirinya adalah sesosok anak kecil yang membutuhkan tuntunan dari seorang kakak, itulah yang kulihat dulu. Namun detik ini, aku melihat kedewasaannya. Dia benar-benar mencintaiku apa adanya. Aku tersentuh olehnya, mungkinkah aku bisa belajar mencintai gadis itu.

“Sudahlah Park Jiyeon! Lebih baik kita pulang” kulihat nyonya dan tuan Park kecewa dengan apa yang telah kulakukan. Mereka membawa pergi gadis itu.

End flashback

COEX Apartment, Seoul, South Korea

Author pov

“Omoooooo! Apa aku bermimpi?! Ya! Aku pasti bermimpi. Bagaimana mungkin aku bertemu dengan orang yang sudah meninggal” apartment milik IU acak-acakan akibat ulah gadis itu sendiri. Sejak bangun tidur, gadis itu kelimpungan mencari keberadaan L. Pasalnya ia hanya menemukan kemeja pria itu yang terdapat bekas darah.

“Ya! Benar aku pasti habis bermimpi. Ah! Tanggal?! Tanggal berapa sekarang? Apakah ini sudah bulan april? Ah pasti april mop?” gadis itu berlarian mencari handphonenya.

“Aishhhh! Sekarang bulan Juli?! Huaaaaaaa… eomma…. Appa….. kenapa aku bisa mengalami hal seperti ini? Kenapa aku bisa bertemu hantu?… walaupun dia tampan dan berasal dari kalangan chaebol, namun tetap saja hantu adalah hantu…. Huaaaaaaaa” gadis itu menangis histeris di lantai. Sedari tadi ada sepasang mata yang menatapnya dengan tatapan iba bercampur jengkel.

“Mian membuatmu kesusahan” suara L menghentikan tangis haru milik gadis itu. IU bergidik ngeri melihat pria itu yang kini sedang berdiri bahkan masih bisa bernafas.

“Menjauh! Kau arwah? Hantu? Alien? Mumi?” gadis itu berdiri sambil menodongkan sebuah pisang yang entah didapatnya dari mana.

“Kau pikun? Bahkan tadi malam kau sudah mengobatiku” L dengan santai duduk di atas sofa dan menyalakan televisi.

“Daebak! Kau tahu menyalakan televisi? Boleh kusentuh tubuhmu? Apakah transparan?” gadis itu mendekati L dengan tampang bodohnya. Jari gadis itu takut-takut menyentuh lengan L.

“Aish.. Puas?” mata gadis itu sontak melotot. L memberikan pelukan padanya.

“Hantu Mesuuuummmmm! Kyaaaaa!”

Kim Corporation, Seoul, South Korea

“Kerugian yang kita akan dapati kurang lebih 5%. Akan saya coba minimalisir dengan mendongkrak penjualan produk baru. Setidaknya sekitar 2,3% mungkin bisa membantu” penjelasan asisten Cha diabaikan begitu saja oleh presdir Kim. Pria paru baya itu duduk diam di kursinya dengan pandangan kosong. Baru beberapa hari sejak kematian anak sematawayangnya, kesehatannya juga ikut menurun. Bahkan perusahaan yang didirakannya pun mengalami kerugian. Konsentrasinya buyar begitu saja.

“Presdir Kim?” Panggilan asistennya itu berhasil membangunkannya. Presdir Kim hanya mengangguk kemudian menyuruh asistennya pergi. Ruangan kerja miliknya terasa ada yang kurang. Sejak dulu dia selalu membayangkan anak sematawayangnya itu akan menggantikannya duduk di kursi yang ditempatinya. Namun sepertinya hal itu tidak akan terjadi.

“Apa sekarang sudah waktunya aku pergi dari tempat ini? Untuk apa lagi aku mempertahankan perusahaan ini jika kau sudah tiada nak?” presdir Kim menatap fotonya bersama anak lelakinya itu. Ia tersenyum miris mengingat kenangan-kenangannya bersama anak nakal itu.

On The Road, Seoul, South Korea

IU/ Lee Jieun Pov

“Jelaskan padaku sekali lagi. Sungguh, aku tak mengerti” kataku sekali lagi. Aku hanya ingin memastikan bahwa indra pendengaranku masih berfungsi atau tidak.

“Aku L Kim penerus Kim Corporation. Sudah meninggal beberapa hari yang lalu dan sudah dikuburkan. Aku meninggal akibat kecelakaan. Dan akibat arloji yang kupegang ini, aku bisa hidup kembali dengan wajah yang sama dan tubuh yang sama” jelas pria yang ada di sampingku untuk yang kedua kalinya. Aku mencoba menyerap apa yang dikatakannya.

“Arloji tua yang jelek itu? apa yang terjadi dengan benda itu?” tanyaku tak mengerti. Apa mungkin benda aneh itu bisa membuat orang hidup kembali.

“Namanya El Dorado. Jika jarum arloji ini berputar, maka aku hidupku akan terus berjalan dan jika jarum arloji ini berheti, maka hidupku juga akan berhenti” aku menghela nafas panjang. Mencerna apa yang dikatakannya membuat pikiranku sedikit kacau.

“Jadi, hidupmu tergantung arloji ini?” dia hanya mengangguk.

“Bagaimana caranya kau bisa muncul di tiba-tiba di ruang kostum waktu itu?” aku sedikit percaya dengan penjelasannya. Semua yang dikatakannya memang benar dan beberapa memanglah sebuah fakta.

“Aku berada di rumahku sebagai sebuah arwah, saat ku tatap arloji yang kupegang itu.. jarumnya bergerak dan tiba-tiba aku muncul di ruang kostum sebagai manusia” memang benar. Pada saat itu aku ingin bersembunyi di dalam ruang costume yang sudah kupastikan kosong. Tetapi saat aku baru saja mau mengunci pintunya, tiba-tiba di belakangku terasa benda jatuh dari atas. Bunyi benturan itu membuatku kaget, ditambah lampu penerangan yang rusak membuatku tak dapat mengenalinya.

“Ji Eun-ssi ada yang ingin kutanyakan..” dia menggaruk kepalanya yang kurasa tidak gatal.

“Apa?” aku memfokuskan pandanganku ke depan. Aku perlu berhati-hati saat menyetir dijalanan ramai seperti ini.

“Apa pekerjaanmu? Hhmm.. kau lulusan sekolah mana? berapa umurmu? Tetapi kalau kuperhatikan sepertinya aku lebih tua darimu” aku berusaha menahan tawa. Apa sebelumnya dia mengira aku adalah noona-noona?

“Aku seorang penyanyi dan aktris, aku masih bersekolah di bangku kelas 2, umurku 17. Sepertinya kau memang lebih tua dariku” jelasku singkat, kulihat wajahnya kaget mengetahui kenyataan.

“Dan kau menyetir tanpa memiliki sim?!” aku hanya mengangguk singkat menanggapi pertanyaannya.

“Yak hentikan mobilnya!!”

“Shirreo!!”

Namcheon Park, Seoul, South Korea

Author pov

Kini cherry blossom berguguran, warna merah muda memenuhi taman ini. Banyak pasangan muda yang melepas lelah. Bergandengan tangan, memakan ice cream, Jiyeon hanya bisa tersenyum renyah.

“Bahkan dia tidak pernah menggenggam tanganku seperti itu” gumam gadis itu sembari menatap sepasang kekasih yang berjalan di dekatnya.

Tak jauh dari situ, ada seorang gadis dan seorang lelaki berlarian ke tepi sungai. Sang gadis menarik tangan sang lelaki.

“Apa kau yakin aku terlihat berbeda? Bagaimana kalau ada yang mengenaliku?” Tanya L sedikit khawatir. IU menggeleng dengan pasti.

“Kau terlihat seperti orang yang berbeda. Seperti L si kutu buku. Tetapi tenang saja kau masih terlihat tampan, aku jamin” pria itu tertawa melihat dirinya yang kini berubah. Walau sedikit culun namun dia suka gaya barunya. Dengan kemeja yang dilapisi cardigan, serta kacamata. Bahkan gaya rambutnyapun berubah. L yang dulu seperti seorang brandalan, sekarang terlihat seperti anak baik-baik.

“Gomawo..” ucap L hampir tak terdengar namun masih dapat di dengar oleh IU.

“Hey.. jangan bertingkah seperti itu. Aku sedikit ragu mau memberikanmu ini…” gadis itu mengangkat sebuah kotak yang dilapisi kertas kado.

“Buatmu.. jangan dibuang, harganya mahal” setelah menyerahkan kotak itu, IU langsung berjalan meninggalkan L sendirian. Setelah mengetahui apa isi kotak itu L langsung mengejar gadis itu.

“Apa kau mencari tahu latar belakangku di internet?? Wah jangan-jangan kau mulai tertarik padaku?” wajah gadis itu memerah. Baru kali ia memberikan sebuah hadiah kepada mahkluk bergender laki.

“Ya aku memang mencari tahu latar belakangmu! Puas?” gadis itu berjalan semakin cepat meninggalkan L yang kini senyum-senyum tak jelas.

“Gomawo Lee Ji Eun!! Yak tunggu aku! Kau tak bisa kabur! kunci mobilmu ada padaku!”

Jiyeon pov

Haruskah aku bertingkah seolah baik-baik saja? Haruskah aku membuang kenangan yang kusimpan sendiri? Bagaimana jika suatu saat aku bertemu denganmu kembali? Aku malu karena sudah kau tolak. Dan bagaimana jika aku melupakanmu? tetapi aku takut jika tak dapat mengenalimu suatu saat nanti.

“Gomawo Lee Ji Eun!! Yak tunggu aku! Kau tak bisa kabur! kunci mobilmu ada padaku!”

Suara itu, suara milik L. entah aku masih mengkhayal atau ini sebuah kenyataan, dari kejauhan ada seorang pria yang berlarian mengejar seorang gadis. Aku tak bisa melihat wajah gadis itu karena ia memakai topi serta masker. Namun pria itu..

 

To be continue

 

 

*Tadaa~ saya kembali setelah sekian bulan hiatus. Kali ini saya datang membawa genre fantasy ahayde.. tolong tinggalkan comment and like yah (itu sangat membangun semangat author) wkwkwk

82 responses to “[Chapter – 1] Clockwork

  1. Wow aku suka ide cerita nya, tapi….hidup L jd bergantung sama arloji itu ya, berarti sewaktu2 L bisa kembali mati kam??
    Jadi ini bakal sad ending ya??😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s