High School (Chapter 4)

FF High School

This story belongs to brownpills.

Romance, Schoollife, Friendship I Chaptered I PG-14

Cast by Kim Myungsoo, Park Jiyeon, Jeon Jungkook, Bae Suzy, Jung Krystal

Pure of mymind. Inspired of some problems.

Let me see~

,

,

Aku terbang berkeliling dengan diriku sendiri, di dalam kegelapan malam sepi ini.

Aku terbang berkeliling dengan diriku sendiri, di dalam kegelapan dengan hati menyedihkan ini.

Kenapa kau tidak tahu? Bahkan jika keberadaanku kecil.

Jangan menginjakku tapi berjalanlah bersamaku.

-High School

Jiyeon’s PoV

 

“Aku kecewa padamu!”

 

Ada tarikan yang membuat kedua kakiku terhenti.

“Kecewa?” tanyaku sambil membalikkan badan, “—sebagai sahabat—atau saingan?”

Sekilas aku menangkap Myungsoo dan Jungkook terpengkur dengan pandangan kosong. Entah apa yang dipikirkan kedua pria itu. Hyuna yang sering memintaku mengerjakan tugasnya menundukan kepala. Krystal tampak kehabisan kata-kata. Sedangkan yang lainnya terhenyak.

Ingin segera meninggalkan kelas layaknya penjara buatku selama ini. Setibanya di luar kelas, kepalaku terasa berat. Kedua kakiku terasa lemah. Kusandarkan tubuhku sambil memejamkan mata.

“Pertengkaran yang menarik.”

Ada suara berat yang memaksa kelopak mataku terbuka. Di sanalah seorang Jeon Jungkook berdiri hanya menggunakan kemeja sekolah tanpa dasi dibalut jas berwarna navy.

“Aku ingin sendiri,” kataku tidak berniat memandang Jungkook yang sibuk meneliti tiap inchi wajahku.

Ia menjauhkan kepalanya dari kepalaku sambil mendesah keras.

“Kau benar-benar mengganggu ketentraman kelas,” ujarnya. “Sebenarnya apa yang membuatmu membentaknya seperti itu? Kau cemburu karena Suzy mengikuti olimpiade atau—cemburu karena Suzy habis tertawa bersama Myungsoo?”

Kuputar kedua bola mataku malas.

“Tidak seharusnya kau membentak temanmu sendiri seperti itu—“

Otakku yang terasa mendidih semakin melepuh mendengarnya.

“—aku sudah bisa menebaknya. Kau dan Suzy suatu saat pasti akan bertengkar hebat.”

“Kau—“ tanpa takut aku maju satu langkah mendekatkan diri pada Jungkook sambil menaikan dagu angkuh, “—membela Suzy karena dia ikut olimpiade bersamamu?”

Kepala Jungkook menunduk untuk melihatku. Dahinya berkerut heran.

“Aku sudah tau sekarang. Tidak sepertiku. Tanpa belajar kau bahkan bisa memenangkan olimpide itu. Jadi, jangan bersikap sok angkuh lagi di hadapanku.”

Kedua kakiku mengambil langkah lebar menjauhi pria itu.

YA! Siapa yang sok angkuh?! Siapa yang angkuh?!”

Acuh tak acuh terhadap bentakannya yang mendengung itu. Aku terus berusaha untuk melarikan diri segera menghilang dari tempat mengerikan ini.

—o0o—

Ruangan dengan dinding berlapiskan warna merah muda dengan dekorasi bunga dan beberapa foto masa kecilku tertempel dalam bingkai. Banyak buku tertata apik di dalam rak lebar yang memenuhi satu sisi dinding.

Salah satu tanganku menopang dagu. Tanganku yang lainnya membolak-balikkan lembar buku yang terbuka di meja belajar. Sesekali aku mengintip jam beker yang berada di pojok meja belajar berwarna putih bersih tanpa debu.

 

PING!

 

Layar ponsel berwarna tosca menyala begitu nada singkat berbunyi. Menghentikan kegiatan membacaku seraya meraih ponsel berukuran cukup besar itu.

Aku menggeser tombol hijau di layar ponsel dan mulai membaca pesan singkat yang masuk melalui whatsapp.

Krystal Jung

                Aku sudah memesan tiket film. Kuharap kau akan datang besok malam.

Tanganku terasa kaku. Tidak ada niat untuk membalas pesan itu. Namun ponselku kembali berdering dan menampilkan pesan dari orang yang sama.

 

PING!

 

Krystal Jung

                Kau masih marah? Besok malam kita bertiga harus kembali seperti semula! Aku memaksamu!

 

Helaan nafas berat berhembus melalui hidungku. Sengaja aku hanya me-read pesan whatsapp dari Krystal. Ketika kutekan tombol back, muncul layar ponselku yang menampilkan wallpaper tiga orang gadis. Seorang yang paling ekspresif di antara keduanya, gadis di tengah yang tersenyum memamerkan sederetan gigi rapinya hingga matanya menyipit, dan seorang lagi tersenyum kalem.

Krystal, aku, dan Suzy. Foto selfie kami bertiga, entah foto jaman kapan.

Tiba-tiba jemariku bergerak sendirinya. Membuka galeri yang kebanyakan berisi foto diriku dan kedua teman dekatku itu. Setiap foto yang ditampilkan dalam layar ponsel mengingatkan kebersamaan kami. Ketika kami masih longgar dan bermain ke sana ke mari.

Ibu jariku menggeser layar ponsel membuatnya menampilkan foto yang berbeda. Foto dengan background pantai dipayungi langit biru, ketiga gadis dalam foto itu terlihat begitu bahagia. Aku masih mengingatnya, saat itu kami bertiga berlibur tanpa mengeluarkan uang sepeserpun karena membawa bekal sendiri.

Kemudian foto lain terpampang. Krystal memperlihatkan wajah duckface-nya, jari telunjuk Suzy menyentuh hidungnya membuatnya seperti hidung babi, sedangkan aku mengerucutkan bibirku sambil merangkul kedua sobatku itu.

Cairan bening menggantung di pelupuk mataku. Hidungku menyedot ingus. Sebisa mungkin takkan kubiarkan air mata ini menetes.

Ponsel tak berdosa itu kubuang asal mengenai kasur yang terlalu besar untuk satu orang berbalutkan kain polka ungu.

Kepalaku menunduk kembali membaca tulisan pada buku tebal yang sempat terputus tadi.

Tok!tok!

Pintu kamar berderik ketika seorang wanita paruh baya membukanya. Wanita dengan sedikit kerutan di wajahnya itu membawa senampan makanan berisi semangkuk sup sapi dan segelas susu murni.

“Kau tidak ke luar kamar daritadi, jadi eomma membawakan makan malammu,” ujarnya sambil meletakkan senampan makanan itu di sisi meja belajarku.

Nde,” sahutku masih berusaha menutupi kesedihan.

“Kau masih belajar?” tanya eomma.

“Eum.”

Eomma menghela nafas pelan, “Jiyeon-a, istirahatlah.”

Aniy, besok ada ulangan harian biologi.”

Kurasakan eomma duduk di tempat tidurku membuatku terlihat membelakanginya. Dengan lembut ia berkata, “Jiyeon-a, apakah kita perlu pergi wisata?”

Lantas aku menoleh. Baru kusadari wajah ibuku terlihat lelah. Mungkin karena ia sering tiba di rumah larut malam.

“Tidak perlu, eomma.”

Lagi, beliau menghembuskan nafasnya lebih panjang, “Setiap hari kau selalu mengurung diri di kamar dengan tumpukan buku. Eomma rasa kau butuh sedikit refreshing.”

Gwenchana, eomma. Aku terbiasa dengan kondisi seperti ini.”

Walau sudah tua kuakui wajahnya masih cantik, mungkin saat muda eomma terlihat lebih cantik dariku. Ia berdiri sambil menyunggingkan senyum lembutnya.

Keure. Isilah perutmu dulu sebelum melanjutkan belajarmu. Eomma akan istirahat di kamar,” ujarnya sembari menyentuh kenop pintu kamarku.

“Mmm, eomma.”

Tentu panggilanku membuatnya yang sudah berada di ambang pintu, membalikan badan dan menghadap padaku.

“Anu…”

Jemariku saling bertautan satu sama lain. Eomma masih menunggu apa yang akan kukatakan. Wajah yang mulai memucat di hadapanku itu dapat meluluhkan hati beku milikku.

Aniya,” gelengku, “Tidak jadi.”

Ibuku terlihat memanyunkan bibirnya. Tetapi setelah itu ia kembali tersenyum hangat, lalu menutup pintu kamarku.

Diriku yang masih duduk termenung kembali merasakan kamar yang terasa sunyi. Tumpukan buku, lembaran kertas, dan alat-alat tulis yang selalu menyambutku ketika pulang sekolah.

“Apakah eomma akan kecewa ketika aku tidak terpilih mengikuti olimpiade fisika?”

Akhirnya kalimat itu mampu terucap saat tidak ada seorangpun yang mendengarkan.

—o0o—

Eottokhe?”

Suara cemas itu menyambutku di kelas.

“Pasti ada seseorang yang sengaja melakukannya.”

Reflek pandanganku mengarah pada Suzy yang tengah dikerubungi teman-teman perempuan.

“Apa dia kurang kerjaan? Bagaimana bisa dia melakukannya padamu?”

Komentar negatif di sana sini menyembur dari gerombolan gadis yang hobi menggosip. Sementara Suzy tidak bergerak. Ia menatap nanar sesuatu di hadapannya.

Aku mencoba bersikap tidak mengindahkannya. Mengaitkan tas ku di bawah meja dan menghempaskan diri di bangku.

Namun naluri tetap saja naluri. Bola mataku membulat menyadari buku setebal lima inchi milik Suzy sudah basah kuyup dan sedikit sobek.

“Jika seperti ini, kau tidak bisa belajar untuk olimpiade,” ujar Naeun.

“Ada apa?” tanya Krystal yang baru saja datang seraya menghampiri meja Suzy yang berada di sebelahku.

Ige mwoya?” sentak Krystal, “Siapa yang melakukan ini pada Suzy?”

Ya! Kau pikir pelakunya akan mengaku,” jawab namja bernama Tao, ia merasa terganggu di pagi hari.

Pikiranku melayang entah ke mana. Terasa mendapat tembakan menyakitkan begitu Suzy menatap tepat di manik mataku.

Sementara aku hanya mengangkat alis. Mulutku membisu seribu bahasa.

“Apa itu kau?” pertanyaan yang dilemparkan Hyuna jelas ditujukan padaku, “Itu pasti kau.”

Butuh beberapa waktu untuk berpikir. Kupaksa menjalankan otakku yang terasa lelah. Suzy masih menusukku dengan tatapannya.

“I—itu tidak mungkin Jiyeon,” bela Krystal.

Ya! Jiyeon!” kali ini Hyorin dengan aksesoris berlebihannya angkat bicara.

“Kita semua tau kau kecewa dengan penentuan olimpiade itu—“ ujarnya, “—tetapi tidakkah tindakanmu ini keterlaluan?”

Sekilas aku tertawa masam. Seisi kelas menodongku dengan tatapan yang tidak enak. Sepertinya mereka menantikan pernyataan dariku. Ketika aku menengok ke belakang kudapati Jungkook dan Myungsoo –yang juga- duduk bersebelahan tengah melempariku ekspresi tanda tanya.

“Memalukan,” desisku.

Dengan kasar aku mengambil sebagian dari buku yang sudah basah itu. Menyobeknya keras dan melemparkannya tepat di depan muka Hyorin.

“Kita bicara,” ucapku tajam pada Suzy.

.

.

“Kau pikir aku yang melakukannya?”

Lapangan in door basket yang luas itu hanya berisi dua orang gadis, aku dan Suzy. Wajahku mengeras melihat mimic wajah yang dipasang oleh Suzy.

“Mengapa kau harus menatapku seperti itu?!”

Bentakanku menggema dalam lapangan dengan kursi penonton yang melingkar berjenjang ke atas. Dan kami beridiri di sela-sela kursi para penonton itu.

“Apa kau tau? Karena pandanganmu itu, sekelas menuduhku melakukannya!” padahal aku sudah berteriak sekencang mungkin, “Mengapa kau hanya diam?!”

Kesabaranku terbakar habis. Terlahap oleh api emosi. Kedua mataku memerah. Tanganku mencengkram rok kuat.

“Bukankah itu memang kau?”

Sungguh itu kalimat menyedihkan yang pernah aku dengar dari seorang Bae Suzy.

“Kau marah padaku karena kau tidak terpilih. Karena itu kau merusak buku milikku. Bukankah itu jelas?”

Ya, Bae Suzy,” lirihku.

“Aku tidak memaksamu untuk mengakuinya. Tetapi jika kau memang menginginkan hubungan kita menjadi seperti ini. Baiklah, akan kulakukan seperti yang kau minta.”

Ku coba tuk berteriak menahannya. Tapi hanya keheningan yang sedang memperhatikanku. Aku juga sedang berjalan, tapi mengapa ia semakin menjauh?

Kenapa aku berdiri disini sendirian? Mengapa hanya duniaku yang terhenti? Aku melihatnya kabur-kabur semakin jauh dan jauh hingga lenyap ditelan cahaya dari pintu masuk lapangan ini.

Air mata terasa hangat membasahi pipiku. Dada terasa sesak. Kedua kakiku tak sanggup untuk menahan berat tubuhku. Perlahan aku terkulai pada lantai yang begitu dingin. Menenggelamkan wajahku dalam dekapan kedua tanganku sendiri.

Berisak sesenggukan menangisi kebodohanku. Saat-saat yang indah ketika masih bersamanya. Waktu kita bertiga dan mewarnai dunia. Semua yang telah berlalu kini berputar dalam benakku. Mungkin mulai sekarang semuanya hanya akan menjadi kenangan.

‘Tolong aku, bantu aku melepas semuanya, jaebal…’

to be continued~

-Preview of Next Chapter

Bagaimana denganmu?

                 Aku semua tentangmu.                  

Aku ingin kembali ke hari-hari yang indah.

Aku tidak akan membiarkanmu pergi.

Anyeong~~~ Thanks for Reset – Tiger JK ft jinshil yang sudah menemani, kekeke. Quote di atas juga dari lirik Reset Tiger JK ft Jinshil. Recomended buat didengerin wkwk. Tadinya Hara mau fokusin di kisah romance, eh tau tau malah jadi ke persahabatan😦. Terus Hara putusin, di awal persahabatan entar romancenya di akhir, *plak*. Entar Hara coba imbangin antara romance sama friendship. Soalnya diliat dari judulnya ‘High School’ bisa ditebak itu condong ke kehidupan sekolah. Tetep lanjut baca terus ya, guys. Paipai~

54 responses to “High School (Chapter 4)

  1. Knp semua’y jdi sprti ini… Aku yakin psti ada se2org yg mencoba mengadu dombakan mereka berdua??? Aku curiga dgn hyuna, apa jgn2 dia yg melakukan’y??? Ah, entahlah… Aku lanjut sja yah chingu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s