[CHAPTER — PART 1] Gone With The Wind

gwtw

prllnrhmwt’s present

MAIN CAST :

Kim Myungsoo

Park Jiyeon

SUPPORTING CAST :

Song Jaera

Lee Minhyuk

Kang Risae

GENRE :

Fluff || Romance || Friendship || School-life

LENGTH :

Chaptered

CREDIT POSTER :

Big thanks to blacksphinx@artfantasy ^^

DISLCAIMER :

All the stories belongs to God, their parents and themselves. But, this story is mine.

PREVIOUS CHAPTER :

Prolog+Introducing Cast || Chapter 1

***

Jaera tampak tak percaya dengan keadaan sekarang. Terbukti karena ia masih berdiri di tempat yang sama dengan mulut yang sedikit terbuka itu tandanya ia tak berkutik sama sekali. Sedangkan Myungsoo, ia kini tengah berjalan tergopoh-gopoh ke arah gadis yang menyelamatkannya itu. Rasa ngilu dan perih yang menjalar di sekitar lututnya membuat ia kesusahan.

Myungsoo duduk dipinggir gadis tersebut. Disebelah kiri gadis itu ada juga sang supir yang tengah berusaha membangunkan gadis itu. “Agasshi? Agasshi ireona”. Kata Myungsoo sembari mengguncangkan tubuh perempuan di hadapannya.

“Agasshi, lebih baik kita bawa perempuan ini ke rumah sakit saja,” Ujar supir truk tadi.
“Tapi maaf saya tidak bisa ikut mengantar gadis ini ke rumah sakit. Saya harus pergi, ah ya ini kartu nama saya. Jika ada apa-apa dengan gadis ini anda bisa hubungi saya. Tunggu di sini sebentar, saya akan mencarikan taksi terlebih dahulu,” Lanjut sang supir yang hanya di balas anggukkan kecil oleh Myungsoo.

Mata Myungsoo mencari-cari sosok Jaera karena sedari tadi ia tak melihat Jaera sama sekali. Kedua matanya terhenti ketika melihat seorang wanita yang tengah berdiri di sebrang jalan, wanita itu tak lain adalah Jaera.

Myungsoo melambaikan tangannya serta meneriakkan nama Jaera berulang kali. Setelah kesekian kalinya, Jaera sadar dan segera pergi ke tempat Myungsoo.

Tak lama kemudian datang sebuah taksi. Tak ingin membuang waktu, Myungsoo menggendong tubuh gadis yang tadi menyelamatkannya dan membawanya masuk ke dalam taksi. Disusul oleh Jaera.

***

“Ia hanya pingsan saja. Hanya ada sedikit luka di daerah kepalanya dan itu sama sekali tidak parah. Luka itu disebabkan oleh gesekkan antara aspal jalanan dengan kulit kepala nona Song, sebentar lagi mungkin nona Song akan segera sadar. Nanti akan saya kirimkan resep untuk mengobati luka itu”. Jelas Dokter Yoo.

Jaera mengangguk paham dengan apa yang dikatakan oleh Dokter Yoo.

“Baiklah dok, kalau begitu saya keluar dulu. Permisi”. Jaera berdiri dan membungkukkan badannya sembilan puluh derajat ke arah Dokter Yoo.

Myungsoo duduk di ruang tunggu sambil menenggelamkan kepalanya di antara kedua tangan kekarnya. Ia takut jika gadis itu terluka parah, dan pasti ia akan dihantui oleh rasa bersalah. Seperti saat ia tidak sengaja menabrak teman SD-nya dengan sepeda yang membuat anak kecil itu harus kehilangan beberapa memorinya, sampai sekarang ia masih dihantui rasa bersalah. Meskipun dalam kejadian ini Myungsoo tidak sepenuhnya bersalah, tetapi tetap saja bukan? Gadis itu tertabrak ka-re-na Myungsoo.
Myungsoo berdiri ketika mendengar suara pintu terbuka dari arah ruang Dokter Yoo. Ia menatap Jaera dengan tatapan cemas.

“Bagaimana?”

Bukannya menjawab, Jaera justru malah semakin berjalan mendekat ke arah Myungsoo. Ketika sudah sampai tepat di hadapan Myungsoo, Jaera berkata.

“Myung-ah, kau lihat tidak kejadian tadi saat gadis itu tertabrak?”

Myungsoo memgangguk, “Walaupun tidak melihatnya dengan jelas sih,”

“Tapi kau pasti lihat ‘kan saat gadis itu terdorong oleh truk yang dibawa oleh supirnya?”
Sekali lagi Myungsoo mengangguk.
“Menurut hasil pemeriksaan dokter tadi, gadis itu tidak mengalami luka parah. Ia hanya mendapat luka ringan di kepalanya, dan itu luka seperti saat kau jatuh dari sepeda. Ini aneh ‘kan?”
“Aneh darimana heum? Justru itu bagus karena ia tak mendapat luka parah. Kau harusnya bersyukur bukan mengada-ngada seperti ini. Ah lagipula apa kau sudah melihatnya?”

Jaera menghela napas panjang diiringi decakkan yang cukup kencang dari mulutnya. Ia kesal, sangat kesal malah, dengan keterlambatan otak Myungsoo bekerja. Dari drama-drama yang sering ia tonton, jika ada kecelakaan luka paling ringan itu seperti tulang yang membengkok, sedangkan gadis ini? Ia hanya mendapat luka di kepalanya dan itu tidak cukup parah.

Jaera menarik tangan Myungsoo dan membawanya ke dalam ruangan tempat gadis itu tengah terkulai lemas.

Setelah sampai di ruangan itu, Jaera tak kunjung melepasnya dan masih menariknya hingga mereka berdua berada di sisi ranjang gadis itu terbaring.

“See? Kau bisa lihat sendiri ‘kan sekarang? Ini aneh, benar aneh!”
“Tapi bukanka–”
“Engghh”

Terdengar erangan kecil dari gadis yang masih terbaring lemas di atas ranjang. Erangan itu berhasil mengambil alih perhatian dua insan yang tengah beradu argumen. Myungsoo dan Jaera menatap gadis itu dengan tatapan cemas. “Kau sudah sadar?” tanya Myungsoo saat gadis itu membuka kelopak matanya perlahan.

“Engghh”

Satu erangan kembali lolos dari mulut gadis tersebut saat ia berusaha untuk bangun dari posisi tidurannya dan kemudian ia duduk, meskipun Jaera sempat melarangnya, tetapi gadis itu tak menhiraukannya. Gadis itu menatap dua insan yang tengah menatapnya juga. Berbeda dengan dua manusia itu yang tengah menatapnya cemas, gadis tersebut menatap dua orang itu dengan tatapan bingung.

“Kalian…siapa?” tanya gadis itu.
“Aku Jaera, Song Jaera. Kau sendiri siapa?”
“Aku Park–”
“Hei kau tidak memperkenalkanku?” protes Myungsoo.

Jaera menepuk dahinya pelan. Ia lupa—atau pura-pura lupa? akan kehadiran Myungsoo. “Dan ini adalah Myungsoo, Kim Myungsoo”
Myungsoo menampilkan deretan gigi putihnya saat Jaera memperkenalkan dirinya. Hal itu membuat gadis bermarga Park itu terkekeh melihatnya. Menurutnya, sifat Myungsoo sangat kekanak-kanakkan.

“Ah ya, tadi namamu siapa?”
“Aku Jiyeon, Park Jiyeon”

‘Mwondae? Marganya Park? Huh kukira dia bermarga Song sepertiku. Tapi sepertinya aku salah. Kalau sampai dokter Yoo mengetahuinya, bisa ketahuan kalau aku bukan keluarganya. Keluarga? Heol, kenal saja tidak. Lagipula kenapa aku tidak mengatakan kalau aku memang tidak kenal dengannya? Huh, masa bodohlah. Aku tidak peduli,’ batin Jaera.

Jaera tersadar dari lamunan bodohnya. Ia baru ingat kalau dokter Yoo mengatakan kalau Jiyeon—nama gadis tersebut tidak boleh kecapekan. Ia menyuruh Jiyeon untuk kembali istirahat karena kesehatannya belum seratus persen pulih. Jiyeon menurutinya.

Kemudian Jaera menarik tangan Myungsoo dan membawanya keluwr dari ruangan tempat Jiyeon di rawat.

Di tempat lain…

“Aigoo, kenapa aku sampai lupa memberi pil ini kepada Jiyeon! Padahal aku tau kalau hari ini dia mulai melaksanakan tugasnya. Tapi syukurlah ada Eunsoo yang mau membantunya”.

Seorang wanita mendekat ke arah pria yang tadi mengoceh. Ia kemudian duduk di samping pria tersebut dengan gerakkan pelan sehingga sang pria tidak menyadari kehadirannya.

Wanita itu mengikuti arah mata pria tersebut. Matanya membelalak ketika mengetahui apa yang sedang pria itu lihat. “Ya! Bukankah itu Jiyeon?” tanya wanita tersebut. Pria itu menoleh. Ia hampir saja terjatuh karena kaget, namun beruntung wanita di sebelahnya lebih cepat menangkapnya. Kemudian pria itu mengangguk.

“Untuk apa dia ke bum– ah ya aku baru ingat kalau hari ini adalah hari pertama dia menjalankan tugasnya!”

Pria di sebelah wanita itu merotasikan kedua bola matanya malas. Huh, sebegitu sibukkah wanita di sebelahnya ini sehingga melupakan kalau hari ini adalah hari pertama Jiyeon menjalankan tugasnya? Seperti bisa—sebenarnya memang bisa membaca pikiran pria di sampingnya, wanita itu berkata “Mian mian. Ah ya, tadi kudengar kau sedikit kesal. Ada apa?”

“Aku lupa memberi pil ini kepada Jiyeon,”
“MWO?!! kau tau ‘kan kalau pil ini sangat penting untuk Jiyeon karena ini adalah pertama baginya? Jika itu aku, aku pasti tidak apa-apa karena aku sudah sering diberi tugas seperti ini, tapi Jiyeon? Bagaimana kalau manusia di bumi mengetahui kalau Jiyeon adalah seorang ‘malaikat’? Kau harus segera memberikan pil ini kepada Jiyeon!”
“Ish, kebiasaanmu mencela ucapan orang lain tidak hilang juga rupanya. Kau tau Eunsoo ‘kan? Beruntung dia sempat lewat melihat Jiyeon, jadi ia berpura-pura menjadi dokter Yoo, dokter yang berada di rumah sakit Jiyeon sekarang di rawat”.

Wanita itu menghela napas lega. “Syukurlah. Semoga Jiyeon dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan tidak berujung mendapat hukuman sepertiku”.

‘Semoga…’

Kembali pada Myungsoo.

Sekarang pria berambut hitam lekat dan bermata sipit itu tengah menatap wanita di hadapannya yang tengah berjalan bolak-balik layaknya setrikaan. Wanita itu tak lain adalah Jaera.

Myungsoo hampir saja melempar sepatunya kalau Jaera tidak berhenti berjalan seperti setrikaan. Jaera duduk di sebelah Myungsoo.

“Myungsoo–ya, bagaimana kalau Jiyeon tinggal di rumah kita saja? Bukankah besok Tn. dan Ny.Kim akan pergi ke Los Angeles untuk beberapa bulan?”
“Mwo!!?”
“Kau pasti dengarkan saat dia mengatakan kalau dia tidak punya rumah?”

Flashback.

Myungsoo dan Jaera masuk ke dalam ruangan di mana Jiyeon sedang terbaring. Saat mereka masuk, Jiyeon sedang memandangi makanan yang di berikan oleh suster Hong.
“Annyeong Jiyeon–ah!”

Jiyeon menoleh dan memberikan senyuman manis andalannya yang mampu membuat hati setiap orang meleleh ketika melihatnya, tak terkecuali dengan Myungsoo. “Kata dokter, nanti sore kau sudah boleh pulang!” kata Jaera senang. Namun itu hanya sebentar, Jaera terdiam saat melihat Jiyeon yang justru terlihat kebingungan.

“Wae? Kau baik-baik saja ‘kan?”
“Uh-oh.. A-aku t-tidak punya tempat tinggal”. Jaera sontak menjatuhkan beberapa kantong plastik yang tadi ia bawa. Terlihat lebay memang reaksi Jaera.
“Mwo??!!!”

Flashback END.

Myungsoo menatap Jaera tidak percaya. Bagaimana bisa Jaera berpikiran seperti itu? Lagipula apa kata para tetangga dan jika orang tua Myungsoo sudah kembali ke Korea dan mengetahui kalau Myungsoo membawa wanita ke dalam rumahnya? Pasti Myungsoo lagi yang akan disalahkan, padahal itu semua salah Jaera.

“Kang Ahjumma dan Jeon Ahjussi tidak jadi pulang ke kampung mereka. Lagipula, ‘kan masih ada maid yang lain. Ada belasan, tapi kenapa kau hanya mengandalkan mereka berdua? Huh.”.
“Tenang, jika ada apa-apa. Kau serahkan saja padaku,” lanjut Jaera.

Myungsoo mengehela napasnya panjang. Ia pasrah saja, dan ia akan menyerahkan semuanya kepada Jaera. Myungsoo-pun mengangguk dan hal itu membuat Jaera hampir bersorak kalau ia tidak ingat dirinya sedang berada di tempat umum.

***

“Kau sudah memberi pil itu kepada Jiyeon?”
“Sudah”.
“Syukurlah. Lalu bagaimana dengan tugasnya?”

Pria di samping wanita itu menoleh dan menatapnya tajam. Jujur, ia tidak suka diintrogasi seperti sekarang ini. Menurutnya, wanita di sampingnya ini bisa mencari tau sendiri bukan tanpa mengintrogasi dirinya?

Pria itu menghela napas panjang melihat wanita di sampingnya yang masih menatap dirinya dengan tatapan meminta jawaban darinya.

“Sud–”
“Baiklah kalau kau tidak mau memberi tau hal itu padaku. Aku mengerti,”

Wanita itu berdiri dan terbang melayang dengan sayap putih besar yang mengepak indah. Pria tadi hanya bisa menatap kepergian wanita tersebut dengan rasa kesal dan sedikit bersalah. Ia kesal karena sifat kekanak-kanakkan milik wanita tadi tidak bisa hilang. Namun, ia juga merasa bersalah pada wanita itu karena tidak diberi tau tentang keadaan Jiyeon.

Pria itu tengah dalam keadaan bimbang sekarang. Ia ingin mengejar wanita tadi, tapi ia masih kesal dengan sikapnya yang menurut dirinya sangat kekanak-kanakkan itu. Tak lama kemudian pria itu berdiri dan mengepakkan kedua sayap putihnya–terbang mengejar wanita tersebut.
Pria itu mencari sosok wanita tadi di setiap sudut tempat namun hasilnya nihil. Ia tak dapat menemukan wanita itu.

Ia baru ingat kalau masih ada satu tempat lain yang belum ia kunjungi. Di belakang tepatnya di sungai susu dengan pohon apel di pinggirnya. Ia baru ingat juga kalau tempat itu adalah tempat favorit wanita itu. Dan benar saja, saat ia datang ke sungai tersebut ia melihat seorang perempuan dengan sayap putihnya sedang duduk di pinggir sungai sambil memakan buah apel dan memainkan air di sungai itu dengan kaki mulusnya.

“…”.
“Mianhae”.

Wanita itu menoleh. Ia kaget melihat pria itu datang secara tiba-tiba. “Mianhae? Untuk apa?”

“Karena tadi. Dan soal Jiyeon, ia baru saja memulai tugasnya. Myungsoo dan Jaera mengajak Jiyeon untuk tinggal di rumah mereka”.
“Lalu apa ia akan bersekolah juga?”
“Kurasa itu akan sulit meningat betapa bodohnya Jiyeon mengatakan kalau ia tidak punya rumah”.

Wanita tadi menggelengkan kepalanya mendengar cerita pria tersebut tentang betapa polosnya seorang Park Jiyeon.

“Akan kupikirkan hal itu”

***

Myungsoo, Jaera dan Jiyeon memasuki rumah keluarga Kim. Mata Jiyeon membelalak ketika melihat rumah yang bisa dibilang sangat luas. Tanaman serta pepohonan juga tersusun rapih. Kata ‘mansion’ mungkin lebih tepat daripada rumah. Meskipun itu semua tidak ada apa-apanya dengan tempat tinggal Jiyeon di sana.

Jaera mengantar Jiyeon ke kamarnya yang merupakan kamar tamu yang berada di atas, lantai dua tepatnya. Kamar tamu yang berada di atas sebenarnya lebih ‘spesial’ dari beberapa kamar tamu yang berada di bawah. Sebenarnya hanya isi serta desainnya saja yang sengaja dibuat seperti kamar orang tua Myungsoo, Myungsoo dan kamar Jaera.
” Kau tunggu di sini, jangan canggung. Anggap saja rumah sendiri” kata Jaera yang dibalas anggukkan oleh Jiyeon.

Tak lama berselang, Jaera datang dengan Myungsoo. Ia duduk di depan jendela yang sengaja ia buka membiarkan udara segar masuk dan mengisi paru-parunya. Sekaligus menikmati pemandangan sore hari.

“Jiyeon–ssi sedang apa kau?”

Jiyeon menoleh setelah mendengar suara Jaera. Ia memamerkan senyumannya sebelum memandangi pemandangan dari balik jendela lagi dan menjawab pertanyaan Jaera. “Hanya menikmati udara sore sembari melihat pemandangan yang indah”. Katanya.

Jaera hanya membalasnya dengan ber-oh ria. Ia kemudian duduk di pinggir ranjang, lain halnya dengan Myungsoo yang memilih untuk berdiri di depan pintu. “Ada apa kau menyuruhku kesini juga? Pasti ujung-ujungnya akan ada ‘girls talk’. Atau gossip, aku pergi saja”. Myungsoo hendak melenggang pergi dari tempat itu namun ada tangan yang menghentikannya.

“Hhhh, di sini sebentar Myung. Kau tahu, pemandangan di kamar ini terlihat jelas. Tidak seperti kamarku dan kamarmu, ah ya lagipula aku juga ingin bilang kalau aku tidak AKAN tidur di kamarmu lagi. Tidur satu atap walaupun tidak satu ranjang denganmu adalah mimpi buruk, kau tahu? Dan juga aku sudah menyuruh beberapa maid laki-laki untuk mengganti ranjangmu.”

Jiyeon sedikit tersentak. Ia menolehkan kepalanya memandang Myungsoo dan Jaera bergantian. Sadar kalau dirinya di perhatikan, Jaera balas menatap Jiyeon. “Ada apa?”

“A-ano… umm..kalian pernah tidur bersama?” Tanya Jiyeon dengan sedikit gugup yang dibalas anggukan kecil oleh Jaera.

“Tapi kuharap kau tidak berpikiran macam-macam. Itu hanya karena kamarku sedang direnovasi. Ranjang di kamarku juga jebol ya jadi mau tak mau aku harus satu kamar dengan sibodoh itu. Huh untungnya aku sudah memesan satu ranjang dan kamarku sudah selesai direnovasi jadi aku tidak akan satu kamar dengan sibodoh—aww apa-apaan kau!” Jaera memotong ucapannya saat Myungsoo melempar bantalnya ke arah Jaera dan hasilnya mengenai sasaran. Myungsoo hanya menggidikkan bahunya tak peduli, tak menggubris protesan Jaera.

“Huh dasar menyebalkan. Ah, kau belum memiliki pakaian bukan? Baiklah aku akan memberi beberapa pakaianku. Ugh tapi apa pakaianku tidak terlalu besar untukmu? Lihatlah tubuhku ini, tidak langsing, huft”

Jiyeon memperhatikan Jaera dari atas hingga ke bawah. Ia tak merasa kalau Jaera terlihat gendut. Ia rasa tubuh Jaera itu langsing, berbeda dengan ucapan Jaera barusan bukan? Dan tubuh Jaera adalah tubuh ideal semua pria. Atau jangan-jangan dirinya saja yang terlihat kurusan?

“Aniya, tubuhmu itu bagus, Jaera–ssi. Jangan berpikiran seperti itu,”
“Yayaya terima kasih atas pujiannya. Tapi tetap saja, besok aku akan mengajakmu ke Lotte Departmen Store. Sehabis aku pulang sekolah”.
“Mwo? Tid–”

“Hmm…tidak ada penolakkan Jiyeon–ssi. Kalau begitu aku pergi mandi dulu. Habis itu kau yang harus mandi. Kulihat tubuhmu sudah penuh dengan keringat, heol”. Jiyeon hanya membalas perkataan Jaera tadi dengan kekehan kecil saja dan setelah itu Jaera sudah berlalu ke toilet untuk membersihkan tubuhnya.

***

Saat Jaera membersihkan tubuhnya, Jiyeon memilih untuk melihat-lihat sekeliling rumah bak istana itu. Ia berhenti di sebuah foto yang dibuat sangat besar dengan bingkai yang besar juga. Ia memperhatikan setiap orang yang berada di foto tersebut. Mungkin perempuan ini adalah ibu Myungoo, dan lelaki ini adalah ayah Myungoo, dan satu lagi ada anak kecil laki-laki dan sepertinya itu Myungsoo. Tapi ia tak melihat Jaera sama sekali di dalam foto itu.

Tunggu, ia baru ingat akan sesuatu. Saat perkenalan diri dibrumah sakit, seingatnya Jaera memiliki marga Song, Song Jaera. Sedangkan Myungsoo, ia memiliki marga Kim, Kim Myungsoo. Jangan-jangan Jaera adalah adik angkat Myungsoo? Ah, Park Jiyeon, apa yang sedang kau pikirkan? Seorang angel tidak boleh memiliki pikiran buruk seperti itu! Batin Jiyeon. Ia menggelengkan kepalanya.

Saat Jiyeon berbalik, ia terhalang oleh seseorang dengan tubuh yang cukup besar dan gagah. Seseorang itu juga cukup tinggi sehingga membuatnya harus mendongak untuk melihat siapa orang tersebut. Ia menghela napas panjang setelah melihat orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Myungsoo.

“Sedang apa kau disini?”

Jiyeon merotasikan kedua bola matanya, kesal. Laki-laki dihadapannya ini sebenarnya punya mata atau tidak sih? Atau jangan-jangan kedua matanya sudah tidak berfungsi dengan baik lagi. Jiyeon melipat kedua tangannya di dada. Ia memajukan wajahnya atau lebih tepat mendongakkan kepalanya lebih ke atas.

“Menurutmu? ”

Sungguh jawaban yang sama sekali tidak Myungsoo duga bisa-bisanya gadis itu menjawab seperti itu. Tidakkah dia tahu kalau dirinya adalah pemilik rumah ini, atau lebih tepatnya anak pemilik rumah ini?

Saat Myungsoo hendak melayangkan protesnya, gadis yang seingatnya bernama Park Jiyeon itu malah pergi meninggalkannya. “Kukira kau adalah orang yang baik. Tetapi sepertinya dugaanku salah,” kata Myungsoo pelan namun Jiyeon masih dapat mendengarnya. jiyeon memberhentikan langkahnya. Beberapa detik kemudian, Jiyeon kembali berjalan tak memperdulikan ocehan Myungsoo.

Myungsoo mendesah kesal, ia mengacak rambutnya. Seumur hidupnya ia tak pernah diabaikan oleh seorang wanita, kecuali dengan Jaera, biasanya Myungsoo-lah yang mengabaikan wanita itu. Sedangkan Jiyeon, ia sedang tersenyum licik penuh kemenangan.

Pagi menjelang. Myungsoo membuka kedua matanya, ia melirik ke arah jam beker yang masih berdering tepat di sebelah tempat tidurnya. Matanya membulat ketika melihat jarum jam tersebut. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan kurang lima belas menit!

Myungsoo mengambil handuknya dan kemudian berlari secepat kilat ke kamar mandi. Setelah selesai membersihkan tubuhnya, ia memakai seragam sekolahnya. Kemudian setelah rapih, ia turun untuk menikmati sarapan bersama dengan Jaera dan, Jiyeon?

Saat ia membuka pintu kamarnya. Ia sudah dapat mencium wangi makanan. Tteokbokki! Bulgogi! Dan sepertinya ada ramyun juga. Ugh betapa menggiurkannya bau masakan ini!
Myungsoo menarik napas panjang—menghirup aroma itu sedalam-dalamnya dan kemudian menghembuskannya. Setelah itu ia pun berjalan turun.

Ia duduk di bangku yang tersedia di depan meja makan yang bisa dibilang cukup luas. Jaera melirik Myungsoo yang tengah menyendokkan beberapa centong nasi serta bulgogi, tteokbokki dan ramyun ke dalam piringnya. Jaera masih tetap melirik Myungsoo saat pria itu tengah memakan makanan itu dengan lahap layaknya orang kesetanan. Merasa dilihati, Myungsoo menatap balik Jaera. “Waeyo?” katanya tidak jelas karena mulutnya masih penuh dengan makanan-makanan tersebut.

Jaera menggeleng. Ia melirik ke arah arloji yang melingkar di tangannya.

“Dua puluh menit lagi sudah pukul delapan. Aku tunggu kau di luar. Tujuh
menit kau tidak keluar aku akan pergi duluan”. Kata Jaera sembari meninggalkan Myungsoo. “Yes, Ma’am!” ledek Myungsoo.

Myungsoo menghabiskan makanan itu hingga piringnya terlihat bersih kembali. “Bibi! Masakan bibi hari ini sangat enak! Terima kasih!”

“Mwo? Ini bukan bibi yang masak. Tapi nona Jiyeon”.
“MWO?!!! Emm eh…oh…uhh.. Lupakan perkataanku yang tadi”.

Ucapan Myungsoo membuat bibi Kang dan Jiyeon yang berada di sebelahnya terkekeh.

Setelah itu Myungsoo berlari ke depan untuk menghampiri Jaera. Jika ia telat satu detik saja, Jaera akan meninggalkannya. Bisa kau bayangkan bukan betapa kejamnya seorang Song Jaera? Tetapi begitulah cara Jaera mengajari Myungsoo tentang kedisiplinan. Jaera memang lebih muda dari Myungsoo, tetapi sikap dan pikirannya Jaera lebih dewasa dibandingkan dengan Myungsoo. Hebat bukan?

“Tapi terima kasih atas pujiannya, Myungsoo–ssi!” Teriak Jiyeon namun sayangnya Myungsoo tak menghiraukan Jiyeon.

Myungsoo berhenti tepat di sebelah Jaera yang tengah asyik memainkan benda berbentuk persegi panjang yang biasa di sebut dengan ponsel atau handphone yang bermerek iPhone 5. Myungsoo menarik lengan Jaera dan membawanya ke mobil berwarna silver tapi Jaera lebih cepat untuk menarik kembali lengannya dari tangan Myungsoo. Ia berjalan mendahului Myungsoo.

Pria itu masih berdiri di tempatnya. Ia tak mengerti dengan sikap Jaera pagi ini. Apalagi saat Jaera berjalan melewati mobil silver yang biasa mereka gunakan untuk berangkat ke sekolah bersama. Tapi Myungsoo tak mau memikirkan hal itu, ia lebih memilih berlari menghampiri Jaera sebelum Jaera melayangkan kalimat pedasnya terhadap Myungsoo.

Myungsoo sebenarnya ingin menanyakan kenapa Jaera melewati mobil silver tersebut dan malah masih asyik dengan handphonenya. Tapi, ia urungkan niat itu dan lebih memilih diam sambil mengikuti kemana Jaera akan pergi.

Namun, tiba-tiba saja Jaera membuka suaranya. “Hari ini kita akan naik bus. Pakai ini,” Jaera menaruh handphonenya ke dalam saku bajunya dan memamerkan sebuah benda yang biasa di sebut dengan T-Money Card.

“Jadi kita akan ke halte terlebih dahulu? Oh ayolah kita bisa telat!” protes Myungsoo.
“Telat? Bahkan sekarang masih pukul tujuh lewat tiga. Maaf karena aku sudah mencepatkan waktu di jam bekermu, hehehe,” Jaera memamerkan deretan gigi putihnya. Sedangkan Myungsoo menatapnya dengan tatapan tajam dan seolah mengatakan ‘kau ingin mati ya?’ dan itu hanya dibalas dengan cengiran kuda dan jari yang membentuk huruf V–peace oleh Jaera.

Tak terasa mereka sudah sampai di halte bus. Itu karena saat perjalanan mereka asyik mengobrol satu sama lain. Mereka pun duduk di bangku yang tersedia di halte tersebut sambil menunggu bus yang akan mereka tumpangi datang.

Bushhhh~

Tak lama kemudian bus yang mereka tunggu akhirnya datang. Jaera menempelkan T-Money Cardnya disebuah mesin dan kemudian duduk di bangku paling belakang, bersama Myungsoo tentunya. Setelah itu bus tersebut berjalan karena penumpang dari halte tadi hanyalah empat orang saja. Mereka berdua dan dua orang lagi entah siapa baik Myungsoo atau Jaera tak mengetahuinya.

***

KRIINGG

Bel masuk berdering. Semua murid baik dari kelas satu, dua, ataupun kelas tiga di Seguk High School berhamburan masuk ke dalam kelas masing-masing.

Sebelum Ahn Seonsaengnim datang, ia lebih memilih untuk membenarkan make-upnya karena tadi saat ia berkaca make-upnya sedikit berantakan lalu setelah itu ia bergabung bersama ketiga temannya. Berbeda dengan Myungsoo, ia lebih memilih untuk meletakkan kepalanya di atas meja dan tertidur lelap tak perduli dengan kebisingan yang terjadi di dalam kelasnya.
Namun, kebisingan itu redup seketika saat Jeon Seonsaengnim masuk ke kelas dengan beberapa lembar kertas putih yang mereka yakini adalah kertas hasil ulangan Matematika mereka.

“Hari ini bapak akan bagikan hasil ulangan kalian. Ulangan kali ini tidak ada yang mendapat nilai seratus. Dan kau, Song Jaera, kenapa nilaimu turun?”

Jaera menggaruk kepalanya yang tak gatal dan kembali memamerkan deretan giginya yang putih dan bersih itu. “Perbaiki lagi nilaimu. Bapak akan taruh kertas ini di sini. Sehingga kalian bisa melihat dan mengambilnya sendiri. Arrachi? Ahn Seonsaengnim sebentar lagi akan datang. Jangan buat kebisingan. Bapak pergi dulu”. Jeon Seonsaengnim pergi ke luar dari kelas tiga setelah meletakkan kertas-kertas tersebut di atas meja. Dan kemudian satu persatu muridpun mengambil kertas milik mereka masing-masing.

Sementara itu di tempat lain…

Jiyeon tertunduk malas setelah mendengar ocehan seorang perempuan dengan sayap yang mengepak yang sangat panjang. “Hei berhenti, geumanhae–yo”.

Perempuan itupun menghentikan ocehannya. Ia menghela napas panjang melihat sikap seorang pria yang berani menghentikannya. Ia mengumpat dalam hati dan ia berjanji kalau ia akan menghabisi pria itu nanti. Lihat saja!. Ia mengepakkan sayap putihnya dan terbang ke tempat Jiyeon sedang duduk.

Ia berjongkok di hadapan Jiyeon yang sedang merutuk. Ia memegang kedua pipi Jiyeon dan mengangkatnya ke atas—menyuruhnya untuk menatap matanya.

“Dengar ini dengan baik, Jiyeon–ah. Aku seperti ini karena aku sayang denganmu dan aku tidak ingin kau berujung melakukan kesalahan seperti diriku ini dan harus masuk ke dalam ruang khusus untuk yang melakukan kesalahan. Hanya itu saja Jiyeon–ah. Untuk masalah sekolah, aku dan pria menyebalkan itu akan turun tangan sendiri. Dan kami juga sudah menyusun rencananya”. Kata perempuan tersebut yang disambut tatapan tajam dari pria yang berada di belakangnya.

“Maka dari itu, nanti sore bisakah kau ke sini lagi?”
“Mianhae tapi, kurasa aku tidak bisa. Aku akan pergi ke tempat yang seingatku bernama Lotte Department Store bersama dengan Jaera,”
“Baiklah tak apa. Kalau besok bagaimana? Kurasa besok Myungsoo dan saudaranya itu libur sekolah. Kau harus beralasan ingin pergi jalan-jalan sambil melihat-lihat kota agar kau bisa diam-diam pergi ke sini. Arrachi?”

Jiyeon mengangguk.

“Ah tapi kurasa lebih baik aku yang mengunjungimu saat ke tempat itu. Bukankah manusia tidak dapat melihatku?” Sekali lagi Jiyeon mengangguk pasrah mendengar penuturan wanita tersebut.

***

Myungsoo dan Jaera kini tengah berada di kantin bersama dengan beberapa teman Jaera. Sebenarnya, Myungsoo tidak ingin bergabung dengan mereka karena Myungsoo adalah lelaki satu-satunya yang berada di sana. Dan juga, pembicaraan para wanita itu sama sekali tidak dimengerti olehnya, biasalah. Bergosip. Oh bayangkan betapa malunya Myungsoo saat temannya berjalan di sampingnya dan menatap dirinya. Kalau saja Jaera tidak memaksa dan mengcancamnya, mungkin Myungsoo lebih memilih untuk bermain basket bersama temannya.

Jaera menyadari kalau sedari tadi makanan Myungsoo masih utuh sama sekali, Myungsoo belum menyentuhnya sedikitpun. Bahkan sendok yang pertama kali ia taruh di sebelah piring makanannya masih berada di posisi yang sama. Jaera mendentingkan garpunya ke piring Myungsoo.

Myungsoo menatap Jaera dengan kesal seperti mengatakan ‘apa yang kau lakukan?’

“Makan makananm–”

Sebelum Jaera menyelesaikan kata-katanya, Myungsoo sudah terlanjut berdiri dan pergi meninggalkan Jaera bersama teman-temannya. Sudah berulangkali Jaera meneriaki nama Myungsoo namun sayangnya pria itu sama sekali tidak menghiraukannya dan membuat murid-murid yang berada di kantin melihatnya dengan tatapan jengkel.

Myungsoo memilih untuk ke kelasnya saja. Diwaktu istirahat seperti ini, ia lebih senang menghabiskan waktunya di kelas atau di lapangan untuk bermain basket. Tapi, saat ia di kelas ia bukan belajar tetapi malah memainkan handphone-nya sampai-sampai ia ketiduran. Saat ia ketiduran di kelas teman-temannya tidak ada yang mengganggunya karena mereka memang sudah kenal betul dengan Myungsoo.

Namun berbeda dengan sekarang. Ia kini tengah mengambil bukunya beserta tempat pensilnya. Kemudian ia menuliskan sesuatu yang entah apa itu hanya dirinyalah yang tau.

Jaera sudah mencari Myungsoo ke lapangan basket, perpustakaan dan taman sekolah. Tapi ia sama sekali tak menemukan sosok Myungsoo di sana. Ia baru ingat kalau ada satu tempat yang belum ia datangi. Atap sekolah. Ia memutar balik tubuhnya dan berjalan. Saat ia melewati kelasnya, ia tidak sengaja melihat Myungsoo yang tengah menulis. Jaera menghembuskan nafasnya.

Pintu terbuka namun itu sama sekali tak menggoyahkan kefokusan Myungsoo saat ini. Jaera mendekat dan kemudian duduk di hadapan Myungsoo. Ia ingin mengintip apa yang sedang Myungsoo tulis. Namun sayangnya Myungsoo lebih dulu menutup bukunya sehingga Jaera tak dapat melihat apa yang pria itu tulis tadi.

“Ya!”

Myungsoo tak menggubris protes Jaera. Ia lebih tertarik untuk menaruh kepalanya di atas meja dan kemudian tertidur. Jaera mengubah posisinya sehingga sekarang ia duduk di sebelah Myungsoo. Ia juga mengikuti apa yang sedang pria tersebut lakukan. Menaruh kepalanya di atas meja. Ia menatap wajah Myungsoo yang tengah memejamkan kedua matanya. Jaera tahu kalau Myungsoo belum tertidur. Dan kemudian Jaera tersenyum dalam diam.

“Keluarlah. Sekarang aku benar-benar ingin sendiri”. Kata Myungsoo tanpa membuka kedua matanya.

Senyum indah masih mengembang di bibir mungil Jaera. “Kalau aku tidak mau, bagaimana?” Dapat Jaera dengar desahan pasrah pria di depannya itu. “Terserah”. Jaera terkekeh mendengarnya.

***

KRIIINGG.

Bel pulang sudah berdenting memaksa Ki Seonsaengnim menghentikan kegiatan belajar mengajarnya. Beliau kemudian merapihkan buku-bukunya dan mengucapkan selamat tinggal pada muridnya sebelum keluar meninggalkan kelas tersebut.

Seorang perempuan menghampiri meja Jaera saat gadis itu sedang merapihkan buku-bukunya.

“Jaera–ssi, sehabis pulang sekolah kita harus ke rumah Hyoju. Kita harus mengejarkan tugas dari Ahn Seonsaengnim lagi karena kemarin laptop milik Hyoju rusak dan semua datanya keformat. Kau bisa ‘kan?”

Jaera teringat dengan janjinya yang akan mengajak Jiyeon ke Lotte Department Store untuk membeli pakaian untuk Jiyeon. Ia ingin menolak tetapi jika ia melakukan hal itu, bisa-bisa ia kehilangan sepuluh poin dengan cuma-cuma. Tetapi ia juga tidak enak hati dengan Jiyeon jika tiba-tiba ia membatalkannya. “Jaera–ssi?”

“Eoh? Oh aku bisa. Tenang saja”. Kata Jaera yang dibalas anggukkan oleh perempuan tadi dan kemudian perempuan itupun pergi.
“Ya! Song Jaera cepat kemari!”

Oh pantas saja ia mencari Myungsoo di dalam kelas tidak ada. Rupanya pria itu berada di depan kelas. Iapun menghampiri Myungsoo yang tengah menunggunya. Ia teringat lagi akan janjinya dengan Jiyeon. Ia mendapatkannya! Ia mendapatkan solusinya!

Myungsoo menatap Jaera yang sedang senyum-senyum sendiri layaknya orang yang tidak waras. Myungsoo melambaikan tangannya di depan wajah Jaera namun tak ada hasilnya. Ia pun menyentil dahi Jaera dan saat itulah Jaera tersadar kembali dari lamunannya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Myungsoo.
“Tentu. Memangnya aku kenapa?”
“Kau tadi melamun, bodoh!”

Jaera menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Ah sudahlah itu tidak penting. Sekarang ayo pulang!” Myungsoo berjalan mendahului Jaera yang membuat perempuan itu berlari mengejarnya.

“Myungsoo–ah, hari ini rencananya aku akan mengajak Jiyeon ke mall, tetapi hari ini aku ada kerja kelompok. Jadi–”
“Jangan bilang kau akan menyuruhku untuk pergi dengan Jiyeon?” tebak Myungsoo.
“Matta! Tepat sekali. Kau pasti mau ‘kan?”
Myungsoo menggeleng dengan cepat.
“Aku tidak mau tau. Kau harus pergi dengan Jiyeon! Kalau tidak aku akan bilang pada bibi Kim kalau saat ulangan kemarin kau berada di posisi terakhir lagi”. Ancam Jaera.
“Lakukan saja kalau kau berani”. Tantang Myungsoo. “Baiklah”.

Jaera mengambil iPhone 5 nya yang ia taruh di dalam saku bajunya. Ia kemudian mencari nama ‘Eomma Kim’ di dalam kontaknya. Setelah menemukannya ia kemudian menekan nama itu dan menekan tombol hijau yang terpampang di layar handphone-nya. Setelah tersambung ia pun mulai berbicara. “Ah annyeong eomma”.

“Ah shit! Beraninya perempuan ini!” Umpat Myungsoo.

Myungsoo dengan paksa menarik handphone Jaera yang tengah Jaera letakkan di depan telinganya. Dan kemudian mematikan sambungan telepon tersebut dan menaruh ponsel Jaera ke dalam tasnya. “Ya!” protes Jaera tak terima. Myungsoo menghela napasnya dengan kasar.
“Baiklah aku akan pergi dengan Jiyeon”.

“Jinjja?!! Ah neomu neomu gomawo Myungsoo–ah!!” Jaera berhambur ke dada bidang Myungsoo dan memeluk pria itu sebentar dan setelah itu ia berlari dengan riang layaknya anak kecil yang baru saja dibelikan mainan oleh orang tuanya meninggalkan Myungsoo sendirian di belakang “Cih dasar. Hei tunggu aku!”

***

Di perjalanan pulang, keheningan menyelimuti Myungsoo dan Jaera. Tidak seperti saat berangkat tadi walaupun awalnya diselimuti keheningan juga namun keheningan itu akhirnya pecah juga, tetapi sekarang mereka masih terdiam dan berkutat dengan pikiran serta benda masing-masing.

Myungsoo dengan pikirannya yang sedikit kacau. Ia memikirkan bagaimana dirinya dengan Jiyeon saat ke Lotte Department Store nanti. Ugh pasti itu akan diselimuti keheningan. Melebihi sekarang mungkin? Lagipula bagaimana bisa Jaera mengajak Jiyeon ke Mall padahal mereka baru saja kenal. Bagaimana kalau sebenarnya Jiyeon adalah orang jahat yang sedang memanfaatkan mereka berdua? Myungsoo jadi ngeri saat membayangkannya.

Dan Jaera yang masih memainkan iPhone-nya. Sebenarnya ia tak melakukan apapun dengan iPhone-nya itu, memainkan game saja tidak mungkin. Aplikasi di ponsel Jaera tidak ada game hanya ada aplikasi sosial media, aplikasi untuk berfoto dan aplikasi untuk mengedit foto—wanita memang selalu begitu. Ia hanya melihat-lihat menu di iPhone-nya, mematikan lalu menyalakan lagi benda berbentuk persegi panjang itu. Jujur ia sudah tidak tahan dengan keheningan ini, ia benar-benar ingin menyudahi ini tapi ia tidak mau memulai duluan karena menurutnya lelaki-lah yang harus memulainya duluan. Ugh, rasa ‘gengsi’nya terlalu besar bukan? Dan itu sangat menyebalkan.

Myungsoo juga sudah muak dengan keheningan ini. Sedari tadi ia menunggu Jaera mengeluarkan suaranya namun Jaera tak menunjukkan sedikit perubahanpun. Ia tetap berkutat dengan iPhone-nya. Myungsoo sadar kalau keheningan menyelimuti mereka Jaera memang tidak pernag menjadi orang pertama yang membuka suara. Myungsoo menghela napasnya dan jelas itu dapat didengar oleh Jaera. Lagi-lagi aku yang harus memulainya, dasar menyebalkan! Batin Myungsoo.

“Kenapa kau ingin meng–”

DRRTTT

“Tunggu sebentar”

Myungsoo belum menyelesaikan kata-katanya saat iPhone Jaera bergetar dan membuat Jaera berkata “tunggu sebentar”. Benar-benar menyebalkan! Umpatnya dalam hati. Padahal baru saja ia ingin memecah keheningan yang menyelimuti mereka berdua. Myungsoo menghela napasnya panjang. Pasrah.

“Ne ne, baiklah tunggu aku”. Jaera mengakhiri panggilan teleponnya. Ia menaruh iPhone-nya ke dalam tas nya yang tidak terlalu besar.
“Myungsoo–ah, hari ini kau pulang sendiri ne?!! Kau bisa ‘kan naik bus saja? T-Money Card.. Kau bisa memakai punyaku saja. Ini! Aku duluan! Bye Myungsoo-ah!” Jaera berlari meninggalkan Myungsoo setelah melemparkan T-Money Card miliknya.

“Benar-benar…me-nye-bal-kan!!!!!” kata Myungsoo kesal. Ia hampir saja menghancurkan T-Money Card milik Jaera, tapi untungnya T-Money Card itu tidak terbuat dari kertas.

***

Myungsoo sampai di kediamannya. Ia tak langsung masuk melainkan berdiri di depan gerbang rumahnya yang bercat emas dan cukup besar itu. Ia sedang memikirkan cara bagaimana mengatakan kalau dirinya yang akan mengantar Jiyeon ke Lotte Department Store. Jika tadi Jaera tidak langsung ke rumah temannya mungkin ia tak harus repot-repot memikirkan cara ini. Tapi sepertinya keberuntungan sedang tidak berpihak kepadanya.

‘Jiyeon–ssi aku yang akan mengantarmu’
‘Jiyeon–ssi Jaera menyuruhku untuk mengantarmu ke Mall karena ia sedang ada urusan dengan temannya’
‘Jiyeon–ssi aku akan mengantarmu ke Mall. Jangan salah paham ini semua Jaera yang menyuruhku’

Tiga ide itu muncul dalam otak Myungsoo. Sebenarnya tiga ide diatas pada dasarnya sama saja, hanya kosakatanya saja yang berbeda karena sedikit ditambah. Ugh lagipula kenapa Jaera terlalu memperhatikan wanita itu? Bukankah yang mengatakan wanita itu aneh adalah Jaera? Lalu kenapa sekarang ia terlihat sangat peduli dengan wanita itu? Pertanyaan itu juga
berputar di otaknya.

“Tuan Myungsoo?”

Myungsoo mengenal suara ini. Suara bibi Kang. Ia mengangkat kepalanya dan menatap wajah bibi Kang, menatapnya kosong. Kesadarannya belum sepenuhnya kembali, ia masih terhanyut dengan lamunanny. “Mau sampai kapan anda berdiri di depan pintu seperti itu? Ayo masuk”. Bibi Kang membukakan gerbang untuk Myungsoo.

“N-ne? Ah ne,”

Setelah kesadarannya kembali, Myungsoo langsung masuk ke dalam
tempat tinggalnya sedangkan bibi Kang masih harus menutup gerbang.
Saat Myungsoo menginjakkan kakinya di lantai ruang keluarga yang berada di rumahnya yang megah. Ia mendapati sosok perempuan yang tengah duduk menonton tv sambil memakan beberapa makanan ringan yang memang sudah tersedia di atas meja. Merasa diperhatikan, perempuan itu menoleh membuat Myungsoo mati kutu di tempatnya. Tatapan perempuan itu seolah mengatakan, ‘apa?’

Myungsoo berjalan melewati perempuan tersebut, mengabaikannya. Jiyeon—perempuan tadi memilih untuk diam saja dan kembali menonton tv yang acaranya sama sekali tidak ia mengerti. “Ganti bajumu, kita akan pergi ke Mall.” Ucapan itu membuat Jiyeon menoleh. Ia mendapati Myungsoo yang tengah menaiki tangga menuju kamarnya. Dapat ia dengar pria itu menghela napasnya—karena memang di ruangan ini hanya ada mereka berdua, para pelayan sedang mengerjakan pekerjaan masing-masing.

“Jangan berpikiran macam-macam. Aku melakukan ini disuruh oleh Jaera”. Katanya menjelaskan. Jiyeon mengangguk paham. Ia baru ingat kalau Jaera memang sempat bilang kepadanya bahwa ia akan mengajak Jiyeon ke Mall.
“Tap–“
“Jaera sedang ada tugas kelompok. Jangan banyak tanya dan cepat ganti bajumu.” Kata Myungsoo dengan sedikit berteriak karena ia sudah berada di lantai atas. Kemudian Jiyeon mendengar suara pintu yang ditutup dengan cukup kencang. Ia menghela napas pendek sebelum mematikan tv dan berjalan ke kamarnya dan kamar Jaera yang letaknya juga berada di
atas.

***

Kini, kedua insan itu tengah berjalan berdampingan menyusuri setiap tempat yang berada di Mall ini. Keduanya diam seribu bahasa. Tapi, Jiyeon tidak peduli akan hal itu. Ia masih sibuk melihat-lihat pakaian yang dipajang di setiap toko. Ia menghentikan langkahnya, sontak hal itu membuat Myungsoo juga ikut memberhentikan langkahnya. “Ada apa?”
Myungsoo mengikuti arah pandangan Jiyeon. Kemudian ia menatap wanita itu lagi. “Kau ingin itu?” Jiyeon menoleh.

“Memangnya boleh?”

Bodoh. Pertanyaan macam apa itu? Myungsoo merotasikan kedua bola matanya, malas. Ia mengangguk kecil dan dibalas teriakkan kecil dari Jiyeon dan perempuan itu dan kemudian Jiyeon mengambil pakaian tersebut dan menaruhnya di tas plastik yang sedari tadi ia bawa.
Pakaian yang ia beli sudah banyak. Sangat banyak. Sebenarnya bukan hanya pakaian saja yang Jiyeon beli tetapi make up, sepatu, aksesoris, sendal untuk di rumah bahkan sayuran dan buah-buahanpun ada.Tetapi yang dibawa oleh Jiyeon sama sekali tak sebanding dengan apa yang dibawanya.

“Sudah selesai?”

Jiyeon mengangguk. “Aku akan ke kasir, kau di sini saja”. Jiyeon memerintah tapi dibalas gelengan oleh Myungsoo membuat perempatan muncul di kening Jiyeon, heran.

Selang beberapa detik, Jiyeon menyadari kebodohannya. Bukankah ia tidak mempunyai uang? Ugh ia memang ada uang tetapi ia ‘kan sudah bilang kalau ia tak mempunyai rumah. Apa hubungannya? Tentu saja aja. Myungsoo pasti berpikir kalau Jiyeon adalah gelandangan.
“Memangnya kau punya uang?”
“Mmm.. A-ano,”
“Tunggu saja di sini,”

Jiyeon tak dapat menolak ia berdiri di dekat toko boneka dan bersandar pada tiang yang cukup besar. Ia melihat dirinya. Ia merasa kalau pakian Jaera sangat cocok untuk dirinya meskipun pakaian ini masih dibilang sederhana. Hanya baju berlengan panjang dengan rok jeans, sepatu berwarna biru sedikit gelap sangat cocok dengan roknya. Sebuah lengkungan tercipta dibibir tipisnya. Ia tersenyum.

Namun senyuman itu tak bertahan lama. Ia merasa kalau sifat dirinya terlalu berubah-ubah. Kemarin ia merasa dirinya terlalu kasar terhadap Myungsoo dan sekarang dirinya terlihat polos. Jujur saja ia lebih suka bersifat kasar tetapi jika ia bersifat seperti itu akan susah menjalankan tugasnya. Lagipula ia tak pernah melihat ‘angel’ bersikap kasar. Mungkin hanya dirinya. Ya. Mungkin. Maka dari itu mulai sekarang dan seterusnya ia harus bersifat polos dan baik.

[Jiyeon POV]

Aku merasakan angin berhembus di sekitarku. Oh tentu saja aku tahu jelas siapa yang datang.

“Kau akan memulai sekolah lusa nanti. Aku sudah mengatur semuanya, kau tidak akan satu sekolah dengan pria itu. Jadi pria itu tidak akan curiga denganmu. Masalah tugas itu bisa dilaksanakan di rumah, bukan begitu?”

Aku menghembuskan napas. Wajahku terlihat pasrah. Detik berikutnya aku mengangguk dan kemudian aku merasakan angin berhembus di sekitarku—lagi. Sudah pergi rupanya.

Sekolah ya? Tidak terlalu buruk kedengarannya.

Semenjak kepergian orang… err ‘angel’ tadi aku terus melamun. Namun lamunanku buyar seketika saat Myungsoo menepuk—menampar lebih tepatnya—pipiku. Aku meringis dan mengelus pipiku yang mulus ini.

“Apa-apaan kau?!” Bentakku tak terima. Oh ayolah bukankah ada cara yang lebih baik untuk membuyarkan lamunan? Memanggil nama?
“Seenaknya saja menampar pipiku!”
“Ck. Kau pikir aku peduli? Lagipula siapa suruh melamun? Aku sudah meneriaki namamu sampai menjadi tontonan orang-orang tapi kau tidak sadar juga. Bukan salahku”.
“Astaga, tidak bisakah kau berperilaku lembut pada seorang gadis?”

Kulihat ia memutar bola matanya. Sejurus kemudian aku merasakan dia menarik tanganku dan menaruh beberapa belanjaan yang sudah dibayar tadi ditanganku yang mungil ini. Menghela napas pasrah, aku memilih untuk diam. Malas berdebat dengan pria ini.

“Kenapa diam?” tanyanya.
“…”
“Astaga, aku bertanya!”
“…”
“Ah astaga rupanya aku bertanya dengan patung ya?”

PLETAK

Persetan dengan sifat baik para angel! Aku memukul kepalanya dengan belanjaan yang ada ditanganku. Seenaknya saja dia bilang kalau aku patung? Ugh kau akan tercengang saat mengetahui siapa aku sebenarnya! Sialan.

Aku tak peduli dengan pikiranku tadi—saat pria bodoh ini pergi ke kasir—yang ‘sedikit’ mengharuskanku bersikap baik, lembut, dsb. Persetan dengan semua itu, aku ingin menjadi diriku yang sebenarnya. Masa bodoh. Aku tidak peduli.

“Sakit, bodoh!”

Aku menginjakkan kakiku yang memakai high heels milik Jaera ke kaki Myungsoo. Aku mendengar pria itu meringis kesakitan dengan tangan yang masih mengelus kepalanya karena—mungkin rasa sakit akibat belanjaanku itu masih menjalar. Sejenak, aku merasa kasihan dengan pria ini.

‘Wow wow, padahal kau baru saja mengatakan ‘persetan dengan sifat baik para angel’ ternyata kau memiliki sifat para angel juga!’ Inner-ku berkata. Ck, dasar Inner sialan.

“Hhhh. Baiklah, maafkan aku.”
“Ck. Sebagai gantinya, kau harus membawa semua belanjaan ini”

Aku membelalakkan kedua mataku tak percaya. Hm, hanya akting sebenarnya. Membawa semua barang ini bukan perkara yang sulit untukku. Lagipula aku bukan gadis lemah. Di istana Firdaus sana, aku sering membawa, mengangkat barang-barang yang beratnya sepuluh kali lipat dari belanjaan ini. Ya tapi, bagaimanapun juga aku kaget mendengarnya. Ugh aku jadi berpikir kalau Jaera melakukan hal tadi pada Myungsoo apa Myungsoo akan memintanya membawa semua barang ini? Ck. Untuk apa aku memikirkan hal yang amat sangat tidak penting itu? Membuang waktu saja.

Setelah lama terdiam aku menghela napas pendek. Dengan sedikit kasar aku menarik belanjaan yang Myungsoo bawa. Belanjaan ini ada banyak. Ada sekitar tujuh atau delapan plastik yang berisikan belanjaanku tadi. Dan kalian tahu? Aku membawanya dengan kedua tanganku saja!

‘Oke, sekarang bukan waktunya untuk membangga-banggakan dirimu, Park Jiyeon’. Inner-ku berkata—lagi.

Tanpa memperdulikan tatapan Myungsoo yang tersirat sedikit rasa err..kecurigaan aku berjalan melewati pria itu. Oh Tuhan kukira hanya Myungsoo saja yang melihat diriku seperti itu. Ternyata orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar sini memandangku dengan tatapan aneh dan entahlah. Karena tak mau ditatap seperti itu terus. Aku membalikkan tubuhku. “Ya! Cepat kesini!” Myungsoo bergeming. Ia masih setia di tempatnya.

Karena kesal, ku letakkan empat plastik yang kubawa tadi di lantai. Dan kemudian berlanjut jalan meninggalkan pria itu sendirian. Aku sudah hapal tempat ini bahkan aku baru kesini hari ini. Beberapa jam yang lalu tepatnya. Hebat bukan?

‘Sekali lagi ini bukan waktu yang tepat untuk membanggakan dirimu, Park Jiyeon!’ Inner-ku berbicara—lagi dan lagi.

Ugh oke oke.

[END of Jiyeon POV]

[Normal]

Myungsoo masih memandang punggung kecil milik Jiyeon yang semakin menjauh. Curiga dan aneh. Itu yang ia rasakan sekarang.

Beberapa orang memandangnya dengan tatapan bingung. Bahkan tadi sempat ada yang menanyakan ‘apa anda baik-baik saja?’ pada Myungsoo dan pria itu hanya bisa mengangguk namun tak bergeming dari tempatnya.

‘Siapa kau sebenarnya, Park Jiyeon?’

***

[Jiyeon POV]

30 menit berlalu sejak Myungsoo menjalankan mobilnya menyusuri kota Gangnam untuk kembali ke rumah—mansion mungkin lebih tepat. Tak ada satupun di antara kami yang membuka mulut.

Ugh andai saja aku bisa membaca pikiran orang lain seperti para ‘angel’ lain. Mungkin aku bisa tahu apa yang sedang dipikirkan orang di sebelahku ini. Ah ya, aku terlahir dengan sedikit ‘tidak normal’ bagi para ‘angel’. Tepat. Aku memiliki kekurangan yaitu…. ya tadi. Tidak bisa membaca pikiran orang lain. Itu perkara besar untukku.

Oke baiklah selama perjalanan ke Lotte Department Store tadi memang tidak jauh berbeda dengan sekarang. Sama-sama hening. Tapi aku merasa kalau sekarang daripada hening, suasana lebih terlihat ‘mencekam’.

‘Kau berlebihan lagi’. Inner-ku protes.

Inner sialan. Ah aku memiliki satu yang tidak dimiliki angel lainnya. Inner. Inner sama dengan batin. Hm, kurasa Inner-ku ini spesial. Inner-ku berbeda dari yang lain. Oke mereka memiliki Inner juga tapi Inner-nya tidak seperti Inner-ku. Contohnya tadi. Inner-ku selalu bertolak belakang dengan pikiranku. Ya, Inner sialanku itu selalu protes jika aku melakukan hal yang berlebihan? Tidak juga. Bahkan saat aku tidak berlebihan Inner sialan itu tetap saja protes. Ya, para angel lain ridak memiliki Inner sepertiku.

Aku melirik sekilas ke arah Myungsoo yang tengah fokus mengemudi. Kulihat pria itu hendak membuka mulutnya dengan wajah yang err.. sulit diartikan.

Apa pria itu akan membahas hal yang tadi? Oh kuharap tidak. Kumohon jangan. Aku tidak memiliki jawaban sekarang. Oke putar otakmu untuk mencari jawaban, Park Jiyeon.

Oke aku sudah siap. Aku sudah menemukan jawabannya!
Kulihat mulutnya sudah menganga lebar. Sepertinya ia akan membuka suara sekarang.

“Hatchi”

Bukan. Itu bukan pertanyaan. Itu…bersin?! Astaga!

‘HAHAHAAHAH. Ini akibat kau terlalu berlebihan! Astaga! AHAHAHA’

Sialan. Disaat speerti ini, Inner sialan itu masih sempat mentertawakanku!

Akhirnya setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam lamanya, aku—dan pria itu sampai di rumah miliknya.

Ia memberhentikan mobilnya tepat di depan gerbang mansionnya yang—amat sangat megah ini. Aku masih bergeming. Duduk diam dengan seatbelt yang masih terpasang. Pria itupun sama denganku.

“Mau apalagi?”
“…” Aku tak menjawab.
“Astaga, cepat turun!”
“…” Masih bergeming.
“Kurasa otakmu sudah ti—”
“Bunyikan klakson mobilmu!”
“…”

Cih, kenapa sekarang malah pria itu yang diam? Kaget? Kaget kenapa memangnya? Kurasa perkataanku tadi tidak ada yang salah. Aah~ Mungkin ia kaget karena menyuruhnya untuk membunyikan klakson mobil ini.

Kalau memang benar. Astaga betapa dangkalnya otak pria ini. Oh bayangkan saja siapa yang ingin kelelahan hanya untuk menekan bel? Sekarang aku dan Myungsoo berada di kiri gerbang sedangkan bel itu berada di sisi kanan gerbang. Bayangkan saja, gerbang ini panjangnya bermeter-meter. Aku yakin itu! Maka dari itu, daripada kelelahan hanya untuk melakukan hal tadi lebih baik menekan klakson bukan?

“KUBILANG BUNYIKAN KLAKSON MOBILMU!” Kataku. Kali ini dengan berteriak.

Dapat kulihat pria ini menghela napas pendek sebelum menekan tombol klakson hingga suara ‘tiiin tiiiiin’ terdengar. Dapat kudengar suara beberapa orang dari dalam yang berlari menghampiri gerbang.

Setelah menekan klakson mobilnya, Myungsoo sama sekali tak melihatku. Ia membuang muka dan memilih melihat keluar. Apa diriku terlalu berlebihan ya? Maksudku, emm terlalu banyak menuntut? Tersirat rasa bersalah dalam benakku.

“Mianhae,”

Kata itu keluar begitu saja dari bibir ranumku ini. Kutundukkan kepalaku tak dapat membalas tatapan pria disampingku ini.

Waktu yang tepat sekali karena pintu gerbang yang sudah sepenuhnya terbuka. Aku menyampirkan tas kecilku yang sempat terjatuh dari bahuku dan mengambil dua kantong plastik yang berisikan belanjaan tadi. Kulakukan hal ini agar Bibi Kang dan beberapa pelayan lain tidak curiga. Meskipun aku tahu kalau Myungsoo masih menaruh kecurigaan padaku.

Sesampainya di kamarku, aku mendudukkan diriku di atas ranjang yang didominasi warna biru muda—ah kemarin aku merenovasi kamar ini dan sekarang sudah lebih baik. Hm, hanya mengecat, membersihkan, dan memakaikan seprai. Itu saja sih.

“Lupakan soal yang tadi,” Kataku. Oh tentu saja aku sedang berbicara dengan Myungsoo karena pria itu tengah menaruh belanjaan tadi di kamar ini.
“…”
“Anggap aku tidak berbicara apapun saat di mobil. Intinya, lupakan saja,”

Myungsoo masih berdiam. Kudengar ia menghela napas panjang sebelum melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar yang bisa dibilang luas ini.

BLAM

Pintu tertutup dengan kencang, sangat kencang malah sampai membuatku khawatir pintu itu rusak sia-sia. Pft kalau sudah begini aku yang bosan.

Aku mengambil iPhone 5 yang tadi kubeli di Lotte Department Store. Bohong? Tidak, untuk apa aku berbohong? Tidak ada untungnya. Entahlah pria itu memang membelikanku iPhone yang harganya cukup mahal ini. Tiba-tiba saja dia bilang “Pilih yang kau suka” lalu meninggalkanku sendirian dan malah menunggu di luar. Salahku juga sih asal ambil saja, tapi kenapa pria itu tidak protes? HAH ENTAH.

[Normal]

Myungsoo menghempaskan tubuhnya di atas ranjang yang berukuran king itu. Pikirannya kembali melayang saat Jiyeon membawa delapan plastik yang berisikan belanjaannya. Ia kini merasakan apa yang Jaera rasakan saat pertama kali melihat Jiyeon. Aneh. Itu perasaannya sekarang. Terbesit easa kecurigaan dalam benaknya juga.

Ia mengambil iPhone 6+ miliknya. Kemudian mencari-cari kontak yang ia namai ‘2nd Sakura, 3rd Tsunade’. Siapa lagi kalau bukan Jaera? Ia sengaja menamai nomor Jaera seperti itu karena—menurutnya sifat Jaera seperti Tsunad ke-3 dan Sakura ke-2. Ah tak usah ditanya kenapa Myungsoo sampai tahu sifat dua karakter dalam serial anime dan manga Naruto tersebut. Jaera yang membuatnya tahu bahkan ‘hampir’ ketahap fanatik. Menyebalkan bukan?

Ia menekan nama itu dan menekan tombol hijau. Ia menyalakan speaker dari iPhone-nya dan iPhone itu ia letakkan di meja yang berada di sebelah ranjangnya.

“Moshi moshi” terdengar suara dari sebrang sana.
“Hn,”
“Ada apa?”
“Jaera–ya. Mau mendengar cerita?”
“Hey hey, ada apa dengan seorang Kim Myungsoo? Cerita apa, hn?”

Myungsoo menghela napas pendek dan tentu saja Jaera dapat mendengarnya. Beberapa detik kemudian Myungsoo menceritakan ‘keanehan’ yang dialaminya hari ini saat pergi bersama Jiyeon.

Pria berambut hitam itu menghela napas panjang—mengakhiri ceritanya. “Tidak usah mengernyitkan dahimu seperti itu,” kata Myungsoo.

“Darimana kau tahu, hey?”
“Feeling”
“Hhhh. Oke terserah. Nah sekarang kau merasakannya bukan? Tapi sejujurnya kalau kau menyuruhku membawa belanjaan seperti kau menyuruh Jiyeon aku juga bisa lho,”
“Cih, lagipula kau ‘kan sudah tahu kalau perempuan itu ‘sedikit’ aneh tapi kenapa kau malah mau mengajaknya ke Mall?”
“Tanggung jawab saja karena kejadian kemarin. Seharusnya kau yang tanggung jawab. Pft. Aku juga merasa kasihan dengannya, Myung–ah..”
“Hn. Kau kapan pulang? Sudah malam”
“Aku sedang berada di bus jadi sebentar lagi. Aku tutup ya,”

PIP

Myungsoo menghela napas untuk kesekian kalinya. Ia meregangkan otot tubuhnya hingga suara ketukan pintu mengintrupsinya. “Saatnya makan malam, tuan,” kata salah seorang pelayan yang entah siapa namanya. Myungsoo memang tidak terlalu dekat dengan para pelayan, maid, atau siapapun yang mengurus mansion ini. Berbeda dengan Jaera yang hampir hapal, ia hanya mengetahui Kang Ahjumma dan Jeon Ahjussi saja.

“Tunggu sebentar,”
“Baik tuan”

Setelah—menurutnya maid tadi pergi. Myungsoo tak langsung turun ke bawah. Ia masih meringkuk di atas ranjangnya.

Beberapa detik kemudian, Myungsoo turun dari ranjangnya. Bukan, ia bukan ingin ke bawah untuk makan malam. Ia ingin membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Tubuhnya kini sudah dipenuhi bulir-bulir keringat. Ugh padahal AC-nya masih dinyalakan.

***

Matahari mulai menampakkan dirinya, menggantikan sang rembulan yang menyelesaikan tugasnya. Langit biru perlahan berganti menjadi langit yang cerah. Semilir angin perlahan mulai terasa dan cicit-cicit burung mulai terdengar.

Hari ini hari Minggu, hari di mana—hampir semua orang beristirahat dari segala tugasnya. Bekerja ataupun sekolah. Rata-rata mereka diliburkan jika hari ini datang. Dan biasanya hari Minggu adalah hari di mana sebuah keluarga berkumpul di sebuah ruangan. Menikmati waktu yang jarang, sangat jarang mereka dapatkan.

Namun sayang, hari ini mereka tak dapat mengadakan acara itu. Sama seperti beberapa minggu belakangan ini, orang tua mereka sibuk di luar negeri. Bahkan mereka baru berangkat beberapa hari yang lalu. Biasanya jika orang tua mereka sibuk, anak-anak itu akan menghabiskan waktu berdua, ah tidak, dengan para maid. Biasanya saat ‘tuan dan nyonya besar’ para maid itu pergi, mereka diperlakukan selayaknya seorang teman atau saudara oleh dua anak itu. Tidak seperti saat kedua orang tua anak itu ada, mereka tetap menjalankan tugasnya.

Ya, keluarga siapa lagi kalau bukan keluarga Myungsoo? dan Jaera?

Sepasang manik mata terbuka perlahan. Menampakan iris obsidiannya. Seseorang itu bangkit dari ranjangnya yang berukuran king dan segera keluar dari kamar megahnya. Ia melihat seisi rumah—mansion itu terlebih dahulu.

Sepi.

Kata itulah yang terbesit dalam benaknya. Oh tentu saja ia tahu kemana perginya para maid. Ke lantai atas. Tentu saja. Ini hari di mana mereka melepaskan rasa lelahnya diganti dengan bermain. Meskipun sama-sama melelahkan. Namun berbeda sensasinya.

Ia kembali ke dalam kamarnya, mengambil sebuah remote.

Tak lama berselang terbukalah sebuah pintu—rahasia. Pintu sebuah lift. Ya, di setiap kamar memang ada sebuah lift. Termasuk kamar tamu dan para maid. Karena satu kamar berisikan 3 maid. Jadi hanya ada 6 kamar saja untuk maid. Jumlah para maid adalah 18, ah tidak, 20—Kang Ahjumma dan Jeon Ahjussi terhitung. Karena mereka adalah sepasang suami istri, mereka tidur berdua saja. Di kamar yang sedikit berbeda dari pada maid lainnya.

Tak ayal jika para maid merasa iri dengan mereka. Namun, para maid paham karena sepasang suami istri itu sudah mengabdi selama puluhan tahun bersama keluarga Myungsoo.

Ah perlu dicatat, di mansion ini tidak ada tangga untuk ke lantai 3. Hanya ada lift yang tersedia di kamar masing-masing.

Myungsoo menapakkan kakinya. Ia rindu dengan ruangan ini. Ruangan bermainnya—dan yang lainnya. Di lantai atas berisikan tempat fitness, golf, kolam renang, tempat olahraga, tempat pemandian air hangat, ruang bioskop dan yang lainnya.

Ia menghela napas sebelum mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan itu. Selain melihat para maid yang melakukan aktifitasnya—setelah menundukkan badan mereka ke Myungsoo, ia melihat surai kecoklatan yang ia yakini adalah Jaera.

Ia menghampiri Jaera yang tengah duduk di pinggir kolam renang dan memainkan kakinya di air itu. Pria berambut hitam dan memiliki iris kelam itu duduk di sebelah gadis bersurai kecoklatan tadi—Jaera.

“Menjauhlah sedikit, kau bau!” Ledek Jaera tiba-tiba sembari menjauhkan sedikit tubuhnya dan menutup hidungnya dengan tangan mungilnya.

“Haaahhh terserahlah. Aku sedang tidak mood bercanda denganmu,”

Jaera kemudian mendekatkan tubuhnya lagi ke Myungsoo setelah mendengar penuturan pria itu. “Mood-mu sedang tidak stabil ya? Setelah kejadian kemarin itu, huft”.

Myungsoo menoleh setelah sadar kemana arah pembicaraan Jaera barusan. “Hn, aku masih merasa.. Kau tahulah”. Pria itu menundukkan kepalanya.

“Jangan dipikirkan. Semakin dipikirkan, rasa itu semakin memuncak. Jadi, lupakanlah. Anggap saja kemarin tidak ada kejadian seperti itu”. Jaera berusaha menenangkan sepupunya ini dengan mengelus-elus punggung besarnya.

“Hn, terima kasih. Wah rupanya Jaera sudah besar.” Myungsoo mengacak-acak surai kecoklataan Jaera yang dibalas cipratan air darinya.

“Ah ya, ngomong-ngomong, Paman dan Bibi Kim sedang apa ya?” Jaera berusaha menghentikan aksi Myungsoo dengan mengalihkan pembicaraan.

Myungsoo menoleh dan tersenyum tipis setelahnya. Namun hal itu tidak berlangsung lama sampai ia mengatakan, “Berhenti memanggil mereka ‘paman dan bibi’ mereka sekarang orang tuamu Jaera. Panggilah mereka dengan ‘eomma dan appa’ atau kau boleh memanggilnya ‘tousan dan kaasan’ seperti fanfic yang kau baca,”

“Aku masih merasa tidak enak saja.” Jaera menenunduk dan menghela napas panjang

“Sudah berapa tahun kita bersama, Song Jaera?”

“Yaya, akan kuusahan—lagi. Ah tapi darimana kau tahu kalau aku suka membaca fanfic Jepang? Huh?”

“Fanfic Naruto tepatnya,” koreksi Myungsoo dengan seringaian khas miliknya.

“Ah aku juga melihat kau pernah membaca fanfic berrated ehem,” imbuh pria itu masih dengan seringaiannya.

Selang beberapa detik, kesadaran Jaera terkumpul. Ia memukul kepala Myungsoo setelah mengetahui pembicaraan Myungsoo mengarah ke—ekhem. Ia mencipratkan air ke kaki Myungsoo dan di balas hal serupa dengan pria itu hingga tubuh mereka hampir basah kuyup.

“Hei jangan salahkan aku! Kau sendiri yang tidak menghapus history browsermu!”

“Terserah kau! Ah, aku harus ke bawah. Siapa tahu Jiyeon sudah bangun. Aku harus mengajaknya ke sini!” kata Jaera antusias meninggalkan Myungsoo sendirian.

“Jaa ne!” teriak Jaera sebelum pintu salah satu lift tertutup sempurna.

“Ck, lagi-lagi pakai bahasa Jepang,” gumam Myungsoo.

***

Jiyeon kini tengah berada di dapur. Ia tengah memasak nasi goreng untuk dirinya sendiri. Ya siapa lagi memangnya? Semua orang termasuk para maid tidak ada. Hanya ada dia seorang. Menurut Jiyeon mereka sedang pergi. Tapi, masa semua? Ini aneh.

Jiyeon mematikan kompornya dan menyendokkan nasi goreng itu ke dalam piring kaca yang sudah ia ambil sedari tadi dan kemudian ia membawanya ke meja makan. Ia makan dalam kesunyian. Sekali lagi, ia mencoba tak peduli padahal ia penasaran kemana perginya orang-orang itu.

Saat ingin menyendokkan nasi goreng ketiga ke dalam mulut, Jiyeon mendengar suara Jaera yang memanggilnya berulang kali. “Aku di sini!” Jiyeon berteriak.

Benar saja, Jaera langsung turun melewati anak tangga. Ia kemudian berjalan ke ruang makan dan duduk di hadapan Jiyeon. Jiyeon tersenyum tipis dan melanjutkan ritual paginya—sarapan.

“Ini kau yang memasak?” Tanya Jaera menyelidik. Jiyeon mengangguk.

Jaera tak membalas lagi. Ia lebih memilih untuk memperhatikan Jiyeon yang tengah menyendokkan nasi goreng terakhirnya. “Selesai.” Jiyeon bangkit dari duduknya dan mencuci piring kotor tadi. Setelah itu ia duduk kembali di hadapan Jaera.

“Kenapa? Kau sudah sarapan?”

Jaera menggeleng, “Nanti saja sekalian makan siang bersama para maid,”

Jiyeon menaikkan satu alis coklatnya. ‘Bersama para maid’? Apa maksudnya? Ia tak paham. Ia berpikir keras sampai mendapat sebuah jawaban yang membuatnya cukup tercengang. “Maksudmu..”

“Ya itu benar. Setiap minggu jika tidak ada eomma dan appa Kim, aku dan Myungsoo serta para maid menghabiskan waktu di atas, bermain dan sebagainya. Itu jika tidak ada eomma dan appa, kalau ada mereka para maid menjalankan tugasnya seperti biasa. Nah sekarang aku akan mengajakmu ke sana, ayo!”

“Ke-kemana? Naik apa? Bukankah tidak ada tangganya?” tanya Jiyeon polos.

“Di setiap kamar selalu ada pintu rahasia dan itu adalah pintu lift. Di kamarmu juga ada. Pintu itu dapat dibuka dengan remote dan remotenya biasa ditaruh di laci paling bawah, itu kalau di kamarmu sih, kalau di kamar lain aku tidak tahu. Nah karena kau masih belum tahu aku akan mengantarmu lewat kamarmu saja ya? Hehehe,” Jaera menampilkan cengiran khasnya dan menarik Jiyeon.

Setelah sampai di kamar Jiyeon, Jaera membuka laci paling bawah kemudian mengambil remote kontrol kemudian menekan salah satu tombol diremote itu. Dan pada saat itu juga sebuah pintu terbuka yang Jaera bilang pintu rahasia.

Jaera masih asyik menarik lengan Jiyeon hingga mereka berada di dalam lift. Tak lama kemudian pintu lift itu tertutup secara otomatis.

‘Sial kenapa aku tidak mengetahui apa-apa tentang mansion ini? Uh kenapa pula ibu dan ayah tidak membiarkanku mencari tahu lebih dalam isi rumah ini. Mereka hanya membiarkanku melihat dari luarnya saja itupun dalam wujud tak terlihat. Pft menyebalkan!’ Inner Jiyeon berseru.

Tak sampai lima menit, pintu lift kembali terbuka dan Jiyeon kembali dibuat tercengang menyaksikan para maid yang sedang mandi di pemandian, berenang, bermain golf atau aktifitas lainnya. Hingga matanya terhenti pada sosok pria berambut hitam yang tengah duduk di pinggir kolam renang. Sejujurnya, ia masih canggung bertemu dengan pria itu—Myungsoo setelah kejadian kemarin.

Jaera menarik Jiyeon ke tempat Myungsoo dan kemudian dua gadis itu duduk di samping Myungsoo. Pria itu menoleh sekilas. Hanya sekilas dan pandandangannya kembali lagi ke air kolam.

“Myung–ah..” seru Jaera.

“Hn,” gumam Myungsoo ambigu.

“Ish kau ini kenapa sih?”

“Kau tahu alasannya, bodoh”

“Kan sudah kubilang lupakan saja. Nah sekarang bersikap baiklah pada Jiyeon, ne?”

“…” Myungsoo bergeming dan tetap memainkan air dengan kaki putihnya yang berotot.

Jujur saja, Jiyeon merasa tak enak kalah terus di sini. Lama kelamaan rasa bersalah tanpa alasan kembali muncul dalam benaknya. Ia kemudian bangkit dari duduknya dan berkata, “A-ano le-lebih baik aku ke bawah saja,” Jiyeon berbalik namun segera di tahan oleh Jaera.

“Jangan, di sini saja. Para maid tidak akan ke bawah sampai pukul 9 malam. Begitupun aku dan…dia. Jadi kita di sini saja, puas-puaskan waktu yang jarang di dapat ini. Ne? Ne?” rayu Jaera. Jiyeon menghela napas pendek dan kemudian mengangguk singkat. “Nah kalau begitu kita ke tempat lain saja ya?” Jaera kembali menggaet lengan Jiyeon menjauh dari kolam renang meninggalkan Myungsoo sendiri, ah tidak, dengan para maid yang tengah berenang.

Myungsoo menoleh dan menatap punggung Jiyeon dan Jaera. Ugh benar juga kata Jaera, lebih baik lupakan saja. Pikir Myungsoo. Ia menghela napas panjang lalu menyusul Jiyeon dan Jaera yang berada di ruang bioskop.

Sesampainya di sana Myungsoo duduk di sebelah Jiyeon. Mereka tengah menonton Fast & Furious 7.

Dapat Myungsoo rasakan kalau Jiyeon sesekali curi-curi pandang ke arahnya. “Kenapa?” tanyanya yang membuat Jiyeon—dan Jaera menoleh bersamaan.

“Maksudmu?”

“Aku tidak berbicara denganmu, bodoh”

“Lalu? Dengan Jiyeon?”

Pria bermanik hitam itu menghela napas dan kembali mengalihkan pandangannya ke layar besar yang berada di hadapannya.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua belas kurang. Jaera yang kini tengah bersama Jiyeon dan Myungsoo yang sedang bermain badminton terpaksa menghentikan permainannya. Jiyeon menatap Jaera yang tiba-tiba keluar dari arena permainan. Diam-diam Myungsoo memperhatikan reaksi Jiyeon.

“Dia akan ke kamarnya, ia akan memesan makanan untuk makan siang” Kata Myungsoo.

Jiyeon menoleh. Baru kali ini Jiyeon mendengar Myungsoo berbicara dengannya tanpa disuruh Jaera. Ia hanya mengangguk-angguk paham dan ber’oh’ ria saja.

“Tapi kenapa tidak memasak saja?”

“Setiap hari Minggu jika tidak ada eomma dan appa, para maid tidak akan bekerja. Kecuali nanti malam saat merapihkan tempat ini. Itupun bersama aku dan Jaera,”

Jiyeon mengangguk sekali lagi.

“Nah sekarang ayo main lagi. Satu lawan satu, tidak seperti tadi, dua lawan satu,” Myungsoo langsung melempar koknya dengan raket ke arah Jiyeon. Dan hasilnya out karena Jiyeon belum siap.

“Ya!” protes Jiyeon kesal. Ia pun membalas Myungsoo dengan smeshnya.

***

Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Saatnya makan malam. Seluruh penghuni mansion ini sudah berkumpul di ruang makan yang berada di lantai tiga. Mereka masih menunggu makanan pesanan Jaera datang dengan mengobrol. Dan itulah yang sekarang Myungsoo, Jiyeon dan Jaera lakukan.

“Jaera–ssi memesan apa? Bukan fried chicken, pizza, hamburger atau junk food seperti tadi kan?”

“Kalau makan malam aku memesan makanan seperti sop, bulgogi, jajangmyeon, tteokbeokki, dan ramen di restoran langganan.” Balas Jaera.

TING NONG.

“Myung–ah, kau yang ambil ya?” ujar Jaera dengan puppy eyes andalannya. Tak lama kemudian Myungsoo berdiri dan berjalan ke salah satu lift.

***

Beberapa menit kemudian, Myungsoo datang bersama tiga pegawai dari restoran langganan Jaera. Mereka membawa empat kantong plastik di tangan masing-masing dan kemudian menaruh plastik itu di atas meja makan.

Lalu tiga pegawai dan Myungsoo menaruh makanan di atas meja. Setelah selesai Myungsoo turun kembali, mengantar pegawai-pegawai itu turun.

“SELAMAT MAKAN!” Seru seluruh penghuni mansion itu—minus Myungsoo.

***

Setelah makan siang, bermain sebentar, lalu merapihkan dan membersihkan ruangan di lantai atas seperti semula. Ini adalah saatnya tidur untuk para maid—termasuk Kang Ahjumma dan Jeon Ahjussi. Mereka mengucapkan terima kasih pada nona dan tuan muda mereka dan kemudian membungkuk—memberi hormat.

Namun berbeda dari maid yang langsung tidur, dua majikan muda dan satu teman mereka masih asyik menonton tv di ruang keluarga, di lantai dasar tepatnya. Rasa kantuk belum melanda ketiganya.

Ketiga manusia itu terdiam menyaksikan acara televisi dengan penuh khidmat. Sesekali Jiyeon atau Jaera berteriak karena ketakutan. Ya, mereka sedang menonton film Horror, mesikpun film itu seringkali diulang tetapi tetap saja film itu seram.

Angin perlahan berhembus di sekitar mereka. Berbeda dengan Myungsoo atau Jaera yang sesekali mengusap tengkuk atau tangan mereka—merinding, Jiyeon masih asyik memandang tv berukuran besar itu. Ia tahu siapa yang datang.

“Seragammu sudah ada. Baik seragam untuk musim dingin atau musim panas. Aku sudah mengurus semuanya, aku memakai nama samaran Go Na Yeon. Kau bilang saja anak dari Go Na Yeon yang bernama Park Jiyeon. Hanya itu saja, aku pergi,” katanya yang hanya didengar oleh Jiyeon.

‘Ne,’ balas Inner Jiyeon.

Jika saja Jiyeon tidak terlalu fokus menonton film horor ini, mungkin ia dapat melihat seringaian di bibir ‘angel’ tadi sebelum menghilang sepenuhnya. Sayangnya ‘angel’ berumur hampir kepala lima yang menyamar menjadi manusia yang berumur tujuh belas itu tidak dapat melihatnya. Sayang sekali.

Seorang gadis tengah berjalan di belakang seorang pria setengah baya. Manic coklatnya sedari tadi terus memandang lantai-lantai yang mereka pijak. Ia bahkan tak tau harus melakukan apa nanti, memperkenalkan diri? Ugh bahkan ia takut tak memiliki teman dan malah menjadi bahan cemoohan. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Bukan, ia tak berusaha mengenyahkan pikiran itu. Sebenarnya jika memang ia tidak memiliki teman itu tak masalah buatnya, setiap istirahat ia bisa pergi ke perpustakaan bukan? Atau ke atap?

Ia menggelengkan kepala karena pikiran yang membuatnya membatin sedari tadi. Membatin seperti ‘ugh tidak-tidak, itu hanya mirip oke? Lupakan’ atau ‘banyak seragam yang seperti itu, bukan hanya satu. Ya’ atau juga ‘lagipula itu hanya mirip celananya saja, iya ‘kan? Harus katakana ya!’ kira-kira seperti itulah.

Gadis bermanik coklat itu berhenti di dinding sebelah pintu masuk ke kelas 3-3—sepengetahuannya.  Ia merapihkan seragam sekolahnya dan berdehem pelan. Ia menatap lurus ke depan, guru laki-laki yang tadi berjalan di hadapannya sudah tidak ada, artinya guru itu sudah masuk ke dalam kelas.

“Kelas 3, kita kedatangan murid baru,” gadis itu dapat mendengar dengan jelas suara guru tadi karena memang guru itu berbicara dengan lantang.

“Silahkan masuk,”

Gadis itu berdehem pelan—lagi sebelum masuk ke dalam kelas baru sekaligus pertamanya itu. Ia berjalan dengan anggun sampai ia berhenti tepat di sebelah guru itu.

“Annyeong” sapanya yang seketika membuat seisi kelas—lebih tepatnya murid laki-laki ricuh.

Matanya melirik murid-murid tersebut satu persatu. “Nae ireumi…” hingga matanya terhenti pada sosok pria berambut hitam klimis dengan manic hitam senada dengan rambutnya.

Pria yang ia kenal bernama…

Myungsoo.

‘Eonnie, kenapa kau berbohong padaku?’

TO BE CONTINUED

Kyaaa >.< demi apa ini panjang banget hey ;AA; ugh aku ga nyangka bisa sampai sepanjang ini. Hampir 10.000+ oh my god >.< yakin deh pada bosen bacanya😦 tenang cuma chapter ini aja yang puanjangnya kebangetan ehehehe xD chapter depan paling cuma 3000-5000 kata aja😀 ah ya dichapter ini ada yg sedikit aku ubah dari chapter kmrn :3 dichapter ini aku bikin karakter myungsoo kelihatan lebih ‘kaya’. aku ga kepikiran sama sekali lho waktu ngetik chapter 1 :3 tapi dichapter2 selanjutnya ga akan yg ada aku ubah lagi kok ^^ sesuai dgn plot awalnya😀 dan jga maaf bngt itu ada yg pake bhs.jepang :3 astaga saking pengen ngetik ff naruto jd dilampiasin ke ff ini xD maapin ya~ dan jga(terakhir) inner jiyeon itu terinspirasi dari… inner sakura! yep betul sekaleh~  yosh segini aja curcolnya, komentarnya ditunggu{}

20 responses to “[CHAPTER — PART 1] Gone With The Wind

  1. Pingback: [CHAPTER — PART 3] Gone With The Wind | High School Fanfiction·

  2. Annyeong… Ffnya bagus, sangat menarik. Ditunggu kelanjutannya ya. Dan semoga next partnya banyak moment myungyeonnya ok. Fighting !!!

  3. Huah diaini moment myungyeonx masih sedikit, masih banyakan moment myung sama jaera disini ..
    Myung udah mulai curiga sama jiyi, nanti kalo jiyi ketauan myung bakalan kaya gimana yah? 😕

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s