[CHAPTER – PART 7] Skinny Love

skinny-love-by-little-thief

cr: Exodium @ Hospital Art Design

Skinny Love by Little Thief

Cast: Park Jiyeon, Kim Myungsoo

Other cast: Park Sooyoung (Joy), Choi Minho

Genre: romance, little bit angst

Rating: PG-13

Length: Chaptered

Entahlah. Ini sudah akan ketiga kalinya untuk Jiyeon. Tiga kali untuknya bertemu Myungsoo di saat dia akan masuk ke kafe. Tiga kali pula baginya membukakan pintu kafe padanya. Tiga kali bertemu di saat yang bersamaan dan tujuan yang sama pula.

Tapi itu hanya dugaan Jiyeon saja. Karena gadis itu masih menyipitkan matanya ketika mendapati Myungsoo berjalan dengan langkah lesu. Langkah yang sangat tidak biasa. Pun dengan penampilannya yang ditata seadanya. Biasanya, pria itu terlihat sangat mementingkan penampilannya sendiri.

Dari ujung kafe saja sudah terlihat ia begitu tidak bersemangat. Kenapa ya, orang itu?

Seolah tahu sedang diawasi, Myungsoo menatap ke seberang kafe dan mendapati Jiyeon berdiri di dekat zebra cross. Pria itu langsung melototkan matanya, tangannya masih merogoh gantungan kunci dari saku. Yang dipelototi hanya nyengir lebar, segera menyebrang untuk menyusulnya ke depan pintu.

Kali ini Jiyeon merasa sudah lebih dekat dengan Myungsoo, jadi tanpa ragu dia menyapa pria tersebut. “Hai!”

Yang disapa malah meliriknya sekejap saja, kemudian dengan tak acuh memasukan kunci ke pintu dan memutarnya. Terdengar bunyi klik dan pintu segera terbuka. Myungsoo masuk, tapi Jiyeon masih terpaku di tempat.

Eh…tumben tidak memintanya untuk membuka pintu?

Jiyeon masih melongo ketika Myungsoo berujar singkat. “Jangan melamun.”

Perintah itu langsung dilaksanakan oleh Jiyeon. Dia masuk menyusul Myungsoo dan membalik plakat yang menggantung di pintu. Menandakan kafe sudah dibuka. Tapi seluruh perhatian kerjanya kini tersedot pada Bos Besar di hadapannya ini.

“Kau kenapa? Suram sekali hari ini.” Itulah yang keluar dari mulut Jiyeon.

“Bukan urusanmu,” bahkan suara Myungsoo tidak menandakan suatu semangat. Dia melengos masuk ke pintu masuk. Dan langsung saja Jiyeon menguntitnya bak seekor anjing kepada majikan.

“Aku cuma bertanya,” dengusnya.

“Tapi aku malas menjawab. Bagaimana? Kau tak bisa memaksaku, bukan?” balas Myungsoo seadanya, bersiap memasuki ruang kerjanya, seperti biasa.

“Ada masalah?” Jiyeon tanpa sadar mengikuti arahnya ke pintu kecil tersebut. Myungsoo langsung berhenti dan membalikan badannya sebelum membuka kenop pintu, menatap Jiyeon tajam.

“Kerjakan urusanmu, Nona Park,” decihnya. Kemudian membuka pintunya, menunduk masuk. Suara kaki Myungsoo menaiki tangga langsung terdengar tak lama kemudian. Jiyeon menendang pintu kayu itu keras-keras.

Duh, kenapa menyebalkan kembali, sih, orang itu?

Padahal, semalam, mereka kelihatannya dekat sekali. Myungsoo terlihat sangat ramah dan baik. Bahkan menawarkan diri pulang bersama. Oh, ya, berbohong demi mengantarkan Jiyeon ke rumah, kalau gadis itu tak tahu. Jiyeon masih merasakan binar semangat di mata Myungsoo selagi orang itu menceritakan awal sejarah kehidupannya sebelum sekarang ini. Seolah cerita itu, Myungsoo cukup perlu menceritakannya pada Jiyeon.

Sekarang? Menatap Jiyeon bak makhluk asing yang harus dipunahkan dari bumi ini. Membalas sapaan ramahnya saja tidak. Dengan tidak minat, Jiyeon mengerjakan tugas menyapunya seperti biasa. Menguap panjang.

***
Pada pukul sepuluh pagi, saat kafe mulai ramai diisi orang-orang, terdengar suara dari balik pintu ruang kerja Myungsoo.

“Minho, ke atas. Aku akan menceritakan sesuatu. Sekarang.” Terdengar suara Myungsoo penuh ketegasan, tapi juga ada nada muak di dalamnya.

Hening sejenak saat Jiyeon sedang membuatkan pesanan vanilla latte saat itu. Yang dipanggil langsung masuk ke dalam pintu ruang kerja, menyusul Myungsoo ke ruang kerja.

Nah, Jiyeon sudah menduganya. Pastilah ada sesuatu yang salah. Lagi-lagi hatinya dibanjiri pertanyaan. Myungsoo, orang ini, ada apa dengannya? Ada sesuatu yang burukkah ketika dalam perjalanan berangkat ke sini?

Beberapa menit berlalu ketika samar-samar, Jiyeon bisa mendengar suara Minho yang tertawa terbahak-bahak. Membuat Jiyeon penasaran setengah mati. Dia menahan diri untuk tidak masuk ke ruang kerja Myungsoo atau sekadar menampakkan kepala dari pintu kecil menuju ruangan tersebut.

“Kira-kira, mereka sedang bicara apa, ya?” gumam Jiyeon pada Jongin ketika temannya itu sedang meracik cangkir berisi frappucino.

“Tidak tahu. Urusan pemimpin, sih,” Jongin tergelak. “Tapi menurutku bukan sesuatu yang berat. Walaupun aku bisa melihat wajah kusut Myungsoo sejak tadi.”

“Dari mana kau tahu?”

“Kalau ada masalah besar terjadi, Myungsoo tak akan menutupinya dari kita.” Jongin menyerahkan frappucino racikannya pada salah satu pegawai yang akan mengantarkannya ke meja kasir.

“Bagaimana kau tahu?” tanya Jiyeon, mengamati Jongin yang kini menumpukan tangannya di tepi meja dapur sambil menatapnya.

“Aku sudah bekerja dengannya selama dua tahun. Aku tahu Myungsoo seperti apa,” Jongin tersenyum. “Memangnya kenapa? Kau penasaran sekali, sepertinya.”

“Penasaran itu manusiawi.”

Jongin tertawa renyah, kemudian langsung mengeluarkan iPod dan earphone miliknya. Teman terbaiknya ketika dia menganggur tak dapat kerjaan. Betul saja, dia langsung duduk di dekat Sudut Mengenaskan. Sudah larut dalam musik yang diputarnya.

Jiyeon tak habis pikir bagaimana Jongin bisa tahan duduk di Sudut Mengenaskan. Itu tempat paling aneh di dunia. Walaupun isinya hanya alat kebersihan, Jiyeon merasa sudut itu begitu aneh. Kotor. Mengenaskan, seperti namanya.

Berikutnya, Minho menuruni anak tangga. Keluar dari pintu ruang kerja dengan tawa tanpa suara. Dia memegangi perutnya, sepertinya sakit perut karena sudah terlalu banyak tertawa. Jiyeon akan bertanya padanya kali ini.

“Kenapa?” itu yang keluar dari mulutnya ketika Minho mendekatinya, bergabung untuk membantunya membuat pesanan vanilla latte yang mendadak antre.

Bahkan ketika Minho mulai menuangkan bubuk, dia masih tertawa dan tak bisa menyembunyikannya. “Bukan apa-apa.”

“Ceritakan saja padaku. Bisa saja aku tertawa. Hidupku ini terlalu banyak hal sedihnya. Butuh hiburan sedikit,” balas Jiyeon datar, menyerahkan segelas vanilla latte kepada temannya yang bertugas mengantarnya ke meja kasir. Kemudian bersiap untuk membuat secangkir lagi.

Minho hanya tertawa kecil. “Aduh, ada-ada saja.”

Jiyeon menginjak kaki Minho, dibalas aduhan pria tersebut. “Kenapa? Ceritakan!”

“Iya. Mau tahu sekali, ya?” tanya Minho dengan jengkel, menatap Jiyeon kesal. Namun setelahnya, wajahnya cerah kembali. “Ini tentang Myungsoo. Lucu sekali.”

“Kenapa dengannya?”

“Kau harus dengar. Dan spesialnya, hanya kau yang tahu hal ini dariku, selain Jieun,”—Jiyeon mendengus saat Minho menyebutkan nama itu—“Dengarkan, ya? Dan jangan beritahu siapa-siapa.”

Jiyeon mengangguk dengan mata berbinar. Minho menghentikan aktivitasnya, dan segera bersiap memulai cerita dengan semangat. Tapi Jiyeon masih terus mengaduk isi cangkirnya.

“Kau sadar tidak bahwa wajah Myungsoo kusut sejak tadi?” tanya Minho sambil menahan tawa.

“Sejak tadi,” Jiyeon mengangguk. “Bahkan saat aku baru masuk.”

“Nah,”—Minho menjetikkan jarinya—“Dia baru saja cerita padaku. Ternyata hal yang membuatnya sebal hari ini adalah seseorang.”

“Seseorang siapa, sih? Cepat katakan!” bentak Jiyeon, kesal Minho mengulur cerita tersebut.

“Mantan pacarnya saat SMA.”

Gerakan mengaduk Jiyeon langsung terhenti. Dia masih menunduk ke arah cangkirnya. “Mantan pacar? Dia pernah punya pacar?”

“Duh, tentu saja. Buruk sekali kalau manusia setampan dan sebaik Myungsoo tak punya sejarah cinta yang indah. Ya, begitulah.”

Sesuatu menghantam Jiyeon. Keras sekali. Tapi dia tak tahu apa itu. “Lalu, apa yang terjadi pada cerita mereka?”

Minho mulai menjelaskan sejarahnya dengan penuh cekikikan. “Nama mantan pacar Myungsoo itu Soojung. Kami bertiga berteman sejak SMP. Soojung saat itu anak baru di SMP Myungsoo saat kami kelas tiga. Pindahan dari Amerika. Dia cepat sekali akrab dan akhirnya menjadi teman dekat Myungsoo. Kemudian Myung mengenalkannya padaku. Jadilah kami teman dekat.”

“Lalu, lalu?” desak Jiyeon, menginginkan lebih dari cerita tersebut. Meskipun gelisah mendengarnya.

Minho tersenyum, seolah mengingat kenangan masa remaja itu. “Nah, mereka masuk lagi ke SMA yang sama, sementara aku berbeda. Tapi hubungan kami tetap dekat. Kemudian, saat kelas sepuluh, Myungsoo menyatakan cinta pada Soojung. Mereka pun berpacaran.”

Sesuatu menohok hati Jiyeon. Dia berusaha keras memasang wajah penasaran. Padahal dalam hati, dia sudah malas mendengarkan kelanjutannya. Dia tak mungkin menyuruh Minho menghentikan ceritanya.

“Hubungan mereka bertahan lama, Jiyeon. Banyak sekali yang iri. Kemudian saat kelulusan, beberapa bulan sebelum kami membangun kafe, Soojung pindah ke Amerika kembali dan mereka berdua pun putus.”

“Lalu apa yang membuat Myungsoo kelihatan sangat sebal sekali dengan hari ini?”

“Nah, kata Myungsoo, semalam setelah ia sampai ke rumah, tiba-tiba Soojung menelepon. Katanya anak itu sudah kembali ke Korea dan meminta Myungsoo untuk bertemu. Bukannya senang, Myungsoo malah sebal karena dia sudah melupakan gadis itu jauh-jauh dari pikirannya. Eh, mendadak muncul lagi ke kehidupannya.”

Minho mengakhiri ceritanya ketika Jiyeon hanya bergumam pendek, “Oh.”

Sukses membuat Minho mengerutkan keningnya. “Hm, cuma itu? Padahal tadi kau penasaran sekali.”

“Ya, sampai kau mulai bicara. Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan,” cemooh Jiyeon, kembali fokus ke cangkir yang ia urus kali ini.

“Ya ampun, kau tak perlu tahu sejarah hidup Myungsoo sampai ke akar untuk tahu tentang ini. Lucu sekali bagaimana emosi ceria Myungsoo yang kita kenal, bisa lenyap begitu saja hanya karena masalah sepele dengan seorang gadis. Jieun saja tertawa mendengarnya.”

“Kenapa aku tidak tertawa, ya? Duh, apa aku menderita penyakit mental?” sindir Jiyeon pedas. Kemudian segera meninggalkan Minho sendiri di meja dapur.

“Hei, Ji!” panggil Minho. Dia menggeleng-gelengkan kepala tak mengerti. Kenapa dengan gadis itu? Seperti ada yang salah. Namun itu tak menjadi beban pikirannya, karena saat ini sudah mendekati jam makan siang, pesanan dua kali lipat lebih ramai. Ada banyak hal yang harus ia urus.

Begitu keluar dari pintu dapur, dia segera mengambil tempat duduk di dekat meja kasir. Bergabung dengan Yerin yang sibuk melayani pelanggan. Jiyeon menyandarkan punggunya ke dinding, menatap temannya yang sedang sibuk bekerja.

Kenapa dia merasa gelisah, ya? Jiyeon tahu harusnya dia bisa tertawa mendengar cerita itu, tapi ada sesuatu yang membungkamnya. Dia tak tahu apa. Cemburu? Ah, perasaan macam apa itu. Jiyeon bahkan baru mengenalnya selama seminggu.

Tapi melihat betapa baiknya seorang Myungsoo padanya, itu membuat Jiyeon merasa tenang dan nyaman. Dia berpikir mungkin hanya dia satu-satunya yang mendapat kebaikan seperti itu. Lihat? Myungsoo pasti pernah memperlakukan Soojung lebih baik daripada apa yang dilakukan pria itu pada Jiyeon. Pasti Soojung pernah diperlakukan bagaikan Putri oleh Myungsoo.

“Lucu sekali bagaimana emosi ceria Myungsoo yang kita kenal, bisa lenyap begitu saja hanya karena masalah sepele dengan seorang gadis.”

Jiyeon tersenyum masam mengingat kutipan kalimat Minho tadi. Apapun itu, Soojung pastilah orang yang begitu penting…tak mungkin seorang gadis dengan mudah mengadukkan emosi ceria yang menguar dan melekat pada Myungsoo.

Huh, tapi siapa yang peduli? Memang Bosnya itu menderita bipolar, kok. Hari ini baik, esok hari mendadak sudah galak minta ampun. Jadi pantas saja Myungsoo langsung murung kali ini. Memang emosinya mudah berubah.

Ia menepis gerutuan yang menjalar di dalam jiwanya itu. Cukup, Myungsoo hanya seorang Bos Besarnya, yang memang ramah pada semua orang. Jiyeon tak perlu serius menanggapinya. Biarkan saja orang itu repot dengan kisah cintanya sendiri.

Saat dia sedang menatap kosong, tiba-tiba dilihatnya Myungsoo keluar dari pintu dapur. Dengan ransel tersamping sebelah di pundak kanan. Ia bahkan terlihat lebih rapi daripada saat Jiyeon pertama kali menemuinya. Mau ke mana dia?

Tak lama kemudian, Minho mengikutinya dari belakang. Meremas pundak temannya itu. Myungsoo menggumamkan sesuatu pada Minho.

“Kau jaga ruanganku sebentar.”

“Siap, Bos. Sukses, ya,” balas Minho, menepuk pundak Myungsoo sekali lagi sambil tertawa lebar.

Yang ditepuk pundaknya hanya mendengus kecil, berjalan keluar. Bahkan tanpa melirik Jiyeon yang menyaksikan dengan tatapan penuh tanya pada mereka. Dia membuka pintu kafe, menuju ke arah halte dan sosoknya langsung hilang di tikungan.

“Mau ke mana dia?” tanya Jiyeon pada Minho.

“Pergi menemui Soojung, tentunya,” balas Minho sambil tersenyum lebar.

Sepertinya penting sekali, ya, sampai meninggalkan ruang kerja yang tiap hari selalu ia pantau sendirian ini?

Jiyeon mengepalkan tangannya keras-keras. Perasaan kesal itu datang lagi. Huh!

***
Pukul tiga sore. Waktu di mana kafe biasanya sepi karena jam makan siang sudah lewat. Jadi Jiyeon hanya menghabiskan waktunya di meja kasir, duduk lesu. Ia melipat kedua tangannya di meja, dan meletakkan kepala di atas dua tangannya.

Menonton Minho dan Jieun yang baru saja pergi meninggalkan kafe. Dua sejoli itu ada janji makan bersama di salah satu restoran sore ini. Er. Membuat Jiyeon makin geram saja. Tadi Myungsoo, sekarang Minho. Kehidupannya memang selalu dikelilingi kisah cinta orang lain yang indah! Kapan dia bisa punya kisah yang serupa?

Yerin di sebelahnya, hanya menonton sambil cekikan. “Kenapa, unnie? Kelihatannya lesu sekali.”

Jiyeon menggeleng seadanya. Melirik jam dinding yang melekat di atas pintu kafe. Myungsoo belum kembali, padahal sudah tiga jam yang lalu dia pergi. Ah, Jiyeon langsung menepis pria itu di pikirannya cepat-cepat.

“Eh, tumben sekali. Aku tak melihat pelanggan frappucino yang dari Inggris itu. Biasanya kalau hari Rabu saat sore hari ini, dia datang, kan? Aku hapal jadwal datang dirinya, lho. Dia ke mana, ya?” tanya Jiyeon pada Yerin, yang waktu awal mereka bertemu, sempat berkata tertarik dengan pelanggan tersebut. (Baca di Chapter 4)

Bukannya menjawab, Yerin malah menunduk. “Jangan tanyakan orang itu lagi padaku.”

“Eh, kenapa?” tanya Jiyeon. “Ada sesuatu yang salah?”

Yerin menggeleng. Kemudian menatap Jiyeon ragu. “Aku…ah, bukan apa-apa. Aku hanya merasa begitu berlebihan.”

Tapi Jiyeon sudah mengguncangkan lengannya, memaksanya untuk bercerita. Walaupun dia tahu ini kesannya sangat memaksa, mengingat dia baru mengenal seminggu gadis yang lebih muda darinya itu. “Ceritakan saja, siapa tahu aku bisa membantu.”

Hanya senyum tipis yang terulas di bibir Yerin. “Aku sudah tahu nama pelanggan itu. Namanya Mason.”

“Hm-mm?” tanya Jiyeon. “Dari mana kau tahu namanya?”

Yerin menunduk kembali. “Salah satu teman sekelasku. Entahlah, aku tak begitu mengerti. Yang jelas suatu ketika temanku itu mengikuti sebuah forum diskusi dan ia satu kelompok dengan Mason itu. Kemudian dia menunjukkan Mason padaku. Dan, yah, aku langsung mengetahuinya.”

“Lalu, ada apa dengan wajah lesumu? Ada kaitannya dengan Mason?”

Sebagai jawaban, Yerin menangkupkan wajahnya ke kedua tangannya. Semua ini berat baginya untuk diceritakan. Toh, akhirnya, ia bicara juga. “Semuanya bahkan terjadi begitu cepat. Aku mengawasinya, unnie. Aku mengamatinya. Ada sesuatu dari dalam diriku yang timbul pada Mason. Seperti aku mengawasi dirinya layaknya aku mengawasi diriku sendiri.”

Jiyeon tersenyum mendengar pernyataan itu. Benih asmara mulai muncul pada temannya itu. Jelas kata ‘cinta’ sangat kaku untuk diucapkan Yerin.

“Konyol, ya?” balas Yerin akhirnya, tercenung. “Aku bahkan hanya tahu, dia ini pria dari dunia Barat sana. Tahu namanya pun dari orang lain. Bertemu cuma sekadar memesan kopi atau semacamnya. Benar-benar tak berarti.”

Saat itu, ada lampu bohlam terang yang menyinari otak Jiyeon. Ia hanya tersenyum simpul, mengusap punggung temannya itu. Mendadak, dia merasa menyayangi Yerin seperti dia menyayangi Sooyoung, adiknya sendiri.

“Semua berproses, Baek Yerin. Ada saatnya permulaan. Kau hanya belum mencapai pertengahan cerita saja. Akan ada saatnya,” ujar Jiyeon, seolah meyakinkan.

Yerin hanya mengangguk. Lega sudah perasaannya saat itu, meskipun dia menumpahkan bebannya pada seseorang yang bahkan baru dikenalinya seminggu. Tapi Yerin percaya penuh pada kalimat yang dilontarkan Jiyeon barusan. Ya, akan ada saatnya.

***
“Selamat malam.”

“Selamat malam.”

“Kau yang piket menyapu, ya?”

“Beres.”

“Besok datang lebih awal. Jangan malas.”

Sudah pukul setengah sepuluh malam ketika para karyawan mulai sibuk untuk kembali pulang. Begitupun dengan Jiyeon. Beberapa pelayan bercakap sebentar sebelum mengumumkan kepada para pelanggan terakhir untuk hari ini, bahwa kafe akan ditutup.

Jiyeon merasa Tuhan melancarkan segala rencana yang ia siapkan sejak tadi. Ia melihat satu dari tiga pelanggan terakhir hari itu adalah Mason, orang yang baru saja diceritakan Yerin tadi sore. Dengan senyum menyeringai ceria, Jiyeon diam-diam menyusul ketika pemuda jangkung berambut pirang keemasan dengan kulit seputih susu itu berjalan keluar dari kafe.

Ia menguntit Mason ketika pria itu keluar dan menuju ke arah halte. Pemuda itu masih mengenakan seragam sekolahnya. Dengan segenap keberaniannya, Jiyeon berdeham dari belakang.

“Mason, betul?” tanyanya dalam bahasa Korea.

Yang dipanggil menghentikan langkahnya. Merasa namanya dipanggil. Kemudian membalikkan badannya. Terkejut mendapati Jiyeon sudah berdiri di situ dengan senyum ramah. Mason menatapnya dari atas sampai bawah.

“Ya,” balasnya singkat, dengan bahasa Korea yang terpatah-patah. “Aku. Mason Jeremy. Ada apa? Dari mana tahu namaku?”

Jiyeon tak yakin apakah harus mengucapkan hal ini. “Kau akan tahu nanti. Aku ingin bicara sebentar. Kau bisa?” Jiyeon mengucapkannya kata demi kata agar Mason memahaminya.

Mason jelas penasaran dan terlihat gugup. Namun akhirnya mengangguk mengiyakan. “Di mana kau akan membicarakannya?”

“Di halte saja.”

Mason mengangguk, kebetulan ia pun juga akan menunggu bus di halte. Mereka duduk dan tanpa basa-basi, Jiyeon segera memulai apa yang akan dibicarakannya pada Mason.

Ia mengenalkan dirinya. Pun Mason. Pria itu sempat membagi kecil latar belakang dirinya di Inggris dan Korea. Rupanya, pria itu seumuran dengan Yerin. Kemudian, dengan tenggorokan tercekat, Jiyeon mengenalkan sosok Yerin padanya. Mulai menguak segalanya. Ia menceritakan segala hal yang membebani pikiran Yerin sejak sore tadi. Bagaimana perasaan terpendam Yerin kepada Mason. Semuanya ia ceritakan sedetail-detailnya.

Hampir dua puluh menit Jiyeon bercerita dengan cepat. Mason tidak menangkap satu-dua kata, tapi dia tahu apa yang dibicarakan lawannya ini. Finalnya, pria itu memejamkan mata dan mengembuskan napas kesal, kemudian mulutnya menggumam. “For God’s sake.

“Bagaimana pendapatmu?”

“Demi Tuhan, aku bahkan tak pernah memperhatikan Yerin sama sekali,” ujarnya dengan nada kecewa. “Jangan menyalahkanku, Nona Park.”

Jiyeon mengangguk. “Ya, siapa pula yang mau menyalahkanmu. Kau tak punya antena kalau ada yang mengawasimu, bukan? Tapi Yerin temanku. Aku harus membantunya dan aku berharap penuh padamu.”

Mason menatap jalanan depan halte yang begitu sepi. Kemudian menghela napas. Dia kelihatan sulit berkata-kata.

“Bagaimana perasaanmu kepadanya?” desak Jiyeon.

Mason tetap diam. Tampaknya ia memikirkan kata-kata. Jiyeon menggumam kecil, “Jujur saja. Katakan yang sebenarnya.”

Jiyeon berharap penuh harap pada jawaban Mason. Lima menit ia membiarkan pemuda itu berpikir sejenak. Sebelum sebuah senyum manis tersungging di bibir Mason, membuat secercah harapan muncul di benaknya.

“Sebelumnya, terimakasih sudah memberitahu nama gadis itu padaku,” Mason tertawa renyah. “Meskipun aku bahkan tidak mengenalmu, senang rasanya ada yang memberitahu informasi tentang gadis itu kepadaku.”

Jiyeon mengangkat kedua alisnya. “Jadi?”

“Kau sudah tahu, bukan?” tanya Mason pelan, tersenyum kecil. “Ah, bisakah kau simpulkan sendiri saja? Bilang pada Yerin, temui aku di sekolahku esok sore jam tiga. Dia pasti tahu di mana tempatku belajar.”

Jiyeon tersenyum lebar mendengar jawaban Mason barusan. Lebar sekali, sampai sudut bibirnya nyaris mendekati telinga. Rencananya berhasil. Dia membayangkan bagaimana bahagianya Yerin setelah ini. Apa reaksi gadis itu setelah Jiyeon menyampaikan pesan Mason barusan kepadanya?

Tiba-tiba ada sebuah bus yang hendak berhenti ke halte mereka. Mason langsung bangkit berdiri dari duduknya, kemudian merapikan sedikit seragamnya. “Ah, ya, itu busku. Aku harus bergegas.”

“Oke,” balas Jiyeon. “Hati-hati di jalan.”

Mason mengulurkan tangannya. “Senang berkenalan denganmu, Park. Kurasa kita bisa jadi teman baik meskipun umur kita berbeda. Eh…tidak masalah untukku memanggilmu Park, bukan?”

Jiyeon menerima uluran tangan tersebut, menjabatnya dan meremasnya. “Ya. Panggil apapun asal kau senang.”

Mason tertawa renyah, kemudian bus itu pun berhenti di depannya. Sebelum naik, ia mengedipkan matanya pada Jiyeon. “Jangan lupa sampaikan pesanku. Itu hal penting.”

Jiyeon mengangguk. Kemudian, Mason pun naik ke tangga di pintu belakang bus. Bus langsung melaju cepat. Setelah ukurannya makin lama mengecil di mata Jiyeon, gadis itu menghela napas.

Ia merasa menjadi orang paling munafik. Dia bahkan bisa menyelesaikan masalah hati seseorang. Tapi tidak dengan dirinya. Jiyeon bahkan tak pernah bisa berkompromi dengan perasaannya yang selalu bergemuruh. Tapi dengan orang lain, rasanya begitu mudah saja.

Jiyeon menghela napas lagi. Ia segera berbalik dari halte, hendak pulang menuju ke rumah. Ia pun berjalan sendirian. Jalanan begitu sepi dan agak mencekam. Gelap. Terdengar bunyi deruman mobil dari kejauhan, dan suara jangkrik.

Pikirannya terlintas pada saat ia dan Myungsoo berjalan bersama di sini. Kemudian Jiyeon tersadar sesuatu dan mendengus. Pria itu bahkan tak kembali ke kafe sejak bertemu dengan si Soojung sampai kali ini. Ngapain sih, orang itu? Sebegitu pentingkah sampai menelantarkan kafenya sendiri?

Umur panjang. Baru saja menggerutu dalam hatinya, Jiyeon menyipitkan matanya mendapati sesosok pria dengan ransel dan cara berjalan yang familiar bagi Jiyeon. Datang dari arah berlawanan darinya. Siapa, ya? Maka Jiyeon hanya melangkah maju.

Ketika jarak mereka sudah berdekatan, Jiyeon membelalakkan matanya mendapati siapa orang ini. Begitupun pria tersebut, dia pun sama terkejutnya.

“Kau?!” seru mereka pada saat bersamaan.

Hening sejenak sebelum Jiyeon memekik, “Ke mana saja? Baru kembali sekarang?”

Myungsoo hanya meringis mendengarnya. “Maaf. Tadi penting sekali, soalnya.”

“Memangnya membicarakan apa dengan Soojung?” tanya Jiyeon mencak-mencak.

Kontan membuat Myungsoo mengerutkan kening dan menatapnya penuh heran. “Dari mana kau tahu namanya?”

Jiyeon mengibaskan sebelah tangannya, tak peduli. “Lupakan. Kau sendiri mau ke mana, berlawanan arah begini?”

“Pulang,” balas Myungsoo singkat, namun kemudian langsung menyadari kebodohannya. Ia jelas saja sudah berbohong pada Jiyeon bahwa rumah mereka berdekatan.

Jiyeon memandangnya dengan sebelah alis terangkat. Myungsoo langsung salah tingkah dan berusaha memperbaiki keadaan yang terjadi karena ia kelepasan bicara tersebut. “Maksudku, aku ingin mengecek apakah kafe baik-baik saja.”

“Masih utuh, kok,” balas Jiyeon. “Setidaknya ada Minho yang menjaga.” Lanjutnya dengan sindiran yang pedas.

Myungsoo pura-pura mengembuskan napas lega. Duh, sepertinya ia harus mengantarkannya dan memutarbalik lagi agar Jiyeon tak curiga. Padahal ia sudah lelah sekali dan cepat-cepat ingin tidur. Tapi, ya, bisa apalah. Ini kebohongan yang harus ia tanggung konsekuensinya.

“Ya sudah. Mau pulang?” tanya Myungsoo, dibalas anggukan Jiyeon.

Mereka pun akhirnya berjalan ke arah rumah Jiyeon. Tanpa disadari, kekesalan yang tadi timbul di hati Jiyeon mulai pudar. Ia mulai merasa hangat dan nyaman. Apa karena ini kedua kalinya mereka berjalan bersama? Huh, memikirkan apa, sih, dirinya ini.

“Ngomong-ngomong, tahu Soojung dari mana?” tanya Myungsoo hati-hati. Jiyeon mendengus mendengar Myungsoo menanyakan orang itu lagi. Seperti tak ada topik lain saja.

“Dari Minho. Dia menceritakan padaku semuanya,” kata Jiyeon dengan senyum mengejek.

“Dari awal bertemanku sampai kenapa hubungan kami terputus?”

Jiyeon mengangguk. Myungsoo langsung mengerang.

“Hati-hati saja orang itu besok. Itu cerita masa kelamku, tahu,” dengusnya kesal.

“Kalau cerita masa kelam, kenapa kau sampai bisa hidup dalam cerita itu bertahun-tahun lamanya?” tanya Jiyeon. “Ada apa denganmu saat itu? Kau dihipnotis?”

“Mungkin,” balas Myungsoo sekenanya. “Entahlah. Aku merasa sangat tolol. Tak pernah seperti itu. Entah aku yang bodoh, atau Soojung yang mempermainkan aku.”

“Tapi mau apapun juga, dia orang yang penting, bukan? Dia pintar memainkan perasaanmu seperti itu.”

“Ya, bisa dikatakan paling penting dalam hidup,” sahut Myungsoo. Jiyeon langsung merasa sakit. “Aku bingung bukan main. Orang itu bahkan cuma mengenalku beberapa tahun saja. Kenapa bisa memporakporandakan hidupku semudah itu, ya?”

“Mana kutahu,” cibir Jiyeon. “Kau sendiri yang tahu jawabannya.”

Myungsoo merenung menatap jalanan sepi dan kosong. “Masa lalu memang tak pernah menyenangkan, Ji.”

“Lalu dengan masa lalu itu, kau masih berharap padanya?”

“Tidak. Tidak sama sekali. Tak akan.”

Dan jawaban singkat itu sudah cukup membuat hati Jiyeon tenang.


MAU CERITA DIKIT

Jadi chapter ini niatnya mau dipost dari kemarin-kemarin tapi Wi-Fi rumahku lagi error WUAHAHA gapapa lah ya yang penting sekarang udah apdet aja.

Chapternya panjang banget, ya. Maaf kalo bikin pegel *peace out*

28 responses to “[CHAPTER – PART 7] Skinny Love

  1. Wkaka..jiyeon seprtinya mmg sudah suka dngn myungsoo.
    Dan myungsoo? Ntahlah..sikapnya masih tidaknmeyakinkan.
    Hnmm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s