High School (Chapter 3)

FF High School

This story belongs to brownpills.

Romance, Schoollife, Friendship I Chaptered I PG-14

Cast by Kim Myungsoo, Park Jiyeon, Jeon Jungkook, Bae Suzy, Jung Krystal

Pure of mymind. Inspired of some problems.

Let me see~

.

-Previous

Tetapi yang membuatku paling kesal adalah gadis yang bersama Myungsoo. Ini aneh, padahal gadis itu adalah sahabatku sendiri.

“Jiyeon-a,” lirih Bae Suzy.

-Chapter 3

Kata-kata dan tingkahmu yang tak perhatian,

telah menghancurkanku.

Itu menyudutkanku, walau kau bilang itu bukan kau.

Aku bersembunyi dibalik ejekan, jangan mencariku.

-High School

 Suzy’s PoV

 

Sehelai kertas yang mencantumkan nilai A berada dalam genggaman. Ekor mataku meneliti tiap tulisan angka yang begitu rapi. Hatiku terasa lega. Sekilas senyuman terbingkai di wajahku.

“Waa, Sooji-ya! Kau mendapatkan nilai sempurna,” pujian Krystal mengundang rasa penasaran temanku yang lainnya.

“Bagaimana kau melakukannya?” tanya Naeun meraih kertas ulangan milikku.

“Kau sangat pintar.”

Seketika meja tempat dudukku sudah dikerubungi. Banyak pujian manis terdengar. Bukannya senang aku malah keberatan atas pujian itu.

Bunyi kursi di dorong kasar memekakan telinga. Mengalihkan pandanganku pada sumber bunyi itu. Seorang gadis berambut ikal dengan wajah murung menghentakan kaki keluar kelas.

Kebanyakan teman sekelas mengabaikannya, sibuk memperhatikan hasil ulangan milikku. Mereka berusaha mencocokan jawaban mereka dengan jawabanku. Barangkali sonsaengnim salah memberi nilai.

Sementara aku beranjak berdiri. Kedua kakiku mengambil langkah lebar. Sesosok pria menghentikanku di ambang pintu.

“Kita bicara sebentar.”

“Nanti saja.”

Aku menjawab ajakan itu dengan cepat tanpa melihat wajahnya. Hati-hati aku melewatinya melalui sisi kosong di sebelahnya. Sepertinya ia tidak ingin menyia-nyiakan sesuatu. Langkah lebarnya menyusul kedua kakiku.

“Apa yang akan kau lakukan sekarang? Ada hal yang harus kubicarakan denganmu,” ujarnya kekeuh.

“Apa itu hal penting?”

“Eum,” sahutnya yakin, “Aku, Kai, dan Minho membutuhkan seseorang untuk mengajari kami soal fisika. Aku rasa kau bisa melakukannya.”

“Apakah aku buku catatan kalian?” tanyaku masih berjalan sedikit tergesa-gesa, “Pergilah. Sekarang aku sedang sibuk mencari Jiyeon.”

“Jiyeon? Ada apa dengannya?”

“Dia mungkin kecewa dengan nilainya. Aku harus menemuinya agar dia tidak sendirian.”

“Kau teman yang baik.”

Setelah mengatakan itu, pria yang dikenal dengan nama Myungsoo terdiam sejenak. Membiarkan keheningan menyelimuti atmosfer di antara kami. Masing-masing dari ketukan sepatu kami memantul di dalam koridor penghubung balkon sekolah.

Ya, apa kau mengikutiku?” sidikku tanpa menoleh padanya.

“Sebenarnya—“

Kedua alisku terangkat mendengar Myungsoo yang sengaja menggantungkan kalimatnya.

“—ada sesuatu di bahumu,” bisiknya.

Mwo?”

“Se su a tu di bahumu,” ulangnya dengan penekanan di setiap kata.

“Apa itu?” tanyaku mulai merinding. Bahkan tidak berani melihat ‘sesuatu’ yang dibicarakan Myungsoo itu.

“Ulat bulu.”

“ULAT BULU?! AAAA!”

Sekali hentakan tubuhku menggeliat. Meloncat-loncat seperti orang gila. Berusaha menghilangkan binatang menjijikan di bahuku. Telapak tanganku mengibas di udara.

“BWAHAHAHAHA!”

Sontak aku menghentikan gerakan hiperbola itu begitu mendengar tawa Myungsoo pecah. Sepasang mataku menyipit seolah ingin menyelidiki pria dengan tawa begitu lepas hingga memegangi perutnya.

“Ternyata benar kau sangat takut dengan ulat bulu,” ujarnya di sela-sela tawaannya.

“Kau membohongiku?” bodohnya diriku baru menyadari hal itu.

“Mana ada ulat bulu dalam koridor tertutup seperti ini. Apa kau benr-benar pintar? BWAHAHAHA!”

“Kau mau mati?!” kuangkat tanganku ingin memukul kepalanya.

Tetapi tiba-tiba terasa kaku bak mendapat setruman listrik melihatnya tertawa lebar sangat dekat denganku. Hingga kedua matanya berair dan terbentuk lesung pipi yang enak dilihat.

Susah payah aku menelan saliva. Diriku berusaha menguasai denyut nadi yang berirama cepat. Kurasakan wajahku memanas.

Mwoya~” ucapku sedikit malu.

Myungsoo tidak menyadarinya. Ia masih terus menertawakan tingkah konyolku tadi. Perlahan aku mulai hanyut. Senyumanku mengembang dan berubah menjadi tawa yang mengisi koridor sepi ini.

Tidak tahan melihat wajahnya yang begitu bersinar, aku mengalihkan pandanganku. Tepat disaat itu, aku menangkap seorang gadis terpaku tidak jauh dariku. Gadis itu menatap nanar ke arah kami.

Tanpa disadari canda tawa mereda dalam sekali hitungan.

“Jiyeon-a,” lirihku.

Gadis yang sedang kucari itu memasang wajah yang sulit diartikan. Sepertinya Myungsoo langsung menguapkan kebahagiannya tadi, menyisakan ekspresi menahan amarah melihat seseorang di sebelah Jiyeon, yaitu Jungkook.

“Kau di sini,” ujarku berusaha merendam suasana dingin yang tiba-tiba datang. “Aku mencarimu dari tadi.”

Kebekuan masih ada dalam diri Jiyeon. Terlalu sulit membaca air mukanya. Sedangkan Jungkook dan Myungsoo masih saling melemparkan tatapan sengit.

 

“Sooji-ya!”

 

Suara melengking itu memecahkan kesunyian di dalam koridor ini. Seorang gadis berlari-lari kecil menghampiriku. Sejenak Krystal mengatur nafasnya.

“Kau dipanggil ke kantor guru,” ucapnya.

“Huh? Baiklah.”

“Aaa, Jungkook juga ada di sini!” seru Krystal begitu selesai membenarkan helaian rambutnya yang sempat berantakan karena ia berlari, “Kau juga dipanggil ke kantor guru.”

Naega?”

“Eum,” angguk Krystal.

Terpaksa Jungkook melepaskan pandangannya dari Myungsoo. Kali ini ia mengalah. Sebelum menuju ke kantor guru bersamaku, ia sempat melirik Myungsoo sambil tersenyum meremehkan.

—o0o—

“Guru sudah memperhatikan nilai harian kalian dari awal. Sudah sebaiknya Guru mengatakan ini. Kalian berdua yang dipilih mengikuti lomba olimpiade fisika tahun ini.”

Pria paruh baya yang memiliki kumis tipis memandangiku dan Jungkook secara bergantian. Pria dengan nama Daniel Kim itu duduk di kursinya sambil menyerahkan formulir pendaftaran olimpiade.

“Mengapa tidak ada seleksinya?” tanyaku heran.

“Itu karena akan menghabiskan waktu yang lama. Sementara sekolah kita minggu depan akan ada ujian kenaikan kelas,” jelas wali kelas kami.

“Lalu kenapa Guru menyerahkannya pada kami?” tanya Jungkook, lebih terdengar sebagai pertidaksetujuannya dipilih begitu saja, “Jika kami mengikuti olimpiade ini, kami tidak bisa fokus untuk ujian kenaikan kelas.”

Untuk pertama kalinya aku sependapat dengan pria yang berdiri di sebelahku. Jujur saja Jungkook dikenal sebagai siswa yang tidak pernah belajar tetapi terus mendapatkan nilai tinggi. Mungkin karena IQ nya di atas rata-rata, logikanya sangat jalan. Walaupun tidak jarang ia menghadiri komite kedisiplinan.

Guru Daniel Kim mengulum senyum sambil membenarkan bingkai kacamatanya, “Tidak usah khawatir. Jika kalian bisa lolos olimpiade tingkat kota, maka kalian akan mendapatkan nilai tambahan dan bisa naik kelas tanpa kegagalan.”

Bola mataku membulat mendengar penuturan itu. Sedikit lega namun di satu sisi ada rasa pesimis.

“Tiap pulang sekolah temui Guru untuk pembinaan. Sekarang kembalilah ke kelas kalian.”

Nde.”

Masing-masing dari kami membungkukkan badan sopan seraya membalikkan badan meninggalkan kantor guru itu.

—o0o—

Senampan makanan berisi nasi, sayuran hijau, daging ayam, dan buah semangka kubawa dengan kedua tangan. Kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru foodcourt. Senyumku mengembang mendapati kedua gadis itu sudah duduk melahap santapan mereka.

Aku menghampiri keduanya. Meletakan senampan makananku di meja sambil duduk di sebelah Krystal. Sempat aku melirik Jiyeon yang duduk di hadapanku, gadis itu tampak tidak berselera pada makanannya.

“Ada apa Guru Kim memanggilmu?” tanya Krystal membuka obrolan.

“Aku dan Jungkook dipilih mengikuti olimpiade fisika,” sahutku meraih sumpit dan memasukan sayuran hijau ke dalam mulutku.

Jinjja? Waa, chukkae~”puji Krystal, “Tetapi—mengapa harus dengan Jungkook?”

Wae?” tanyaku sambil mengunyah makanan, “Dia cukup pintar.”

Sontak bunyi nyaring terdengar ketika sumpit milik Jiyeon bersentuhan dengan meja. Bahkan ia menghentikan kunyahannya.

Sorot mataku meminta penjelasan padanya. Krystal hanya membisu. Jiyeon tampak kehilangan nafsu makannya. Tetapi setelah itu ia kembali melanjutkan menyantap nasinya.

“Apa sesuatu terjadi padamu?” tanyaku akhirnya.

Eobseo.”

Merasa suasana mulai kaku, Krystal berusaha mencairkannya, “Jiyeon-a, kalau kau ada masalah ceritakan saja pada kami.”

Dalam sekali lihat dapat disimpulkan Jiyeon tengah berpura-pura melahap hidangannya.

“Apa— kau memaksa untuk mengikuti kursus tambahan?” tanyaku hati-hati.

Aniy.”

Mendengar jawaban singkatnya membuat kebingungan baik di wajahku ataupun Krystal.

“Mmm, kita sudah lama tidak nonton bersama. Bagaimana jika Minggu kita pergi nonton. Aku dengar ada film baru yang lucu,” ujar Krystal.

Joa,” sahut Jiyeon.

Entahlah aku merasakan ada perubahan sikap dari Jiyeon.

—o0o—

Goresan tinta mulai terangkai. Jemariku menari menggerakan pena di atas formulir pendaftaran olimpiade. Perkataan Guru Daniel Kim terus mengiang di kepalaku.

“Jiyeon-a.”

Meski bukan namaku yang dipanggil, kepalaku menoleh.

“Apa kau bisa menyelesaikan tugasku yang terakhir? Aku sudah mencobanya tetapi ini sangat sulit,” ujar seorang gadis bergelayut manja kepada Jiyeon yang sedang duduk sambil membaca buku tebal.

“Oke,” sahut Jiyeon.

Gomawo, Jiyeon-a~” suara gadis bernama Hyuna itu terkesan dibuat-buat.

Kepalan tanganku tergenggam kuat. Aku beranjak berdiri seraya menghampiri bangku yang berada di sebelahku. Jiyeon mengangkat kepalanya dengan wajah meminta penjelasan.

“Biarkan dia mengerjakannya sendiri,” ujarku to the point.

Wae?”

“Kau tidak tau?” kalimatku sedikit mengundang perhatian sekelas, “Dia memanfaatkanmu.”

“Dimanfaatkan? Aku tidak keberatan.”

Sekujur tubuhku membeku saat mendengar kalimat yang dengan mudahnya ia ucapkan. Dapat kulihat Hyuna mengulum senyum kecut yang jelas diberikan padaku. Kepalan tanganku semakin bergetar kuat.

Sedikit kasar aku menarik buku tugas milik Hyuna. Mengagetkan Jiyeon yang baru saja menulis beberapa kata di buku tugas itu.

“Akan kukembalikan sekarang,” ujarku menahan amarah.

Belum sempat kukembalikan buku itu pada pemiliknya –Hyuna-, Jiyeon lebih dulu meraihnya sambil melebarkan bola matanya memberi peringatan padaku, mungkin.

“Kembalikan sekarang, Park Jiyeon!” bentakku sontak mencuri perhatian kelas sepenuhnya. Melihat hal ini, Krystal segera menengahi kami.

“Sooji-ya, pelankan suaramu,” bisik Krystal sambil menggerakan bola matanya ke kanan dan ke kiri, memberi kode pada diriku yang sudah menjadi pusat perhatian.

“Bagaimana bisa kau mau dimanfaatkan dengan mudah?” lanjutku mengabaikan segalanya, “Jika seperti ini, maka nilai Hyuna akan menyusul nilai mu.”

“Kau takut?”

Kedua alisku bertautan. Mulutku membisu membiarkan Jiyeon meneruskan kalimatnya.

“Kau takut nilai milik Hyuna akan menyaingimu?”

Ya, Park Jiyeon—“

“Mengapa aku tidak boleh melakukannya?” potong Jiyeon tidak memberikan kesempatan berbicara padaku, “Aku hanya mengerjakan soal miliknya agar aku bisa mengulang dan memahami materi. Apakah hal itu dilarang?”

Suasana kelas yang tadinya sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, kini benar-benar lenyap. Terkalahkan oleh perdebatan antara aku dan Jiyeon. Tiap Krystal berusaha melerai, Jiyeon menyelanya. Gadis itu berkata dengan aksen nadanya yang khas, seolah kata-katanya mampu menghipnotis tiap orang yang mendengarnya.

“Mengapa kau mencampuri urusanku? Seharusnya kau sekarang sibuk dengan olimpiade fisikamu itu!”

Tiba-tiba suara Jiyeon semakin keras ketika mengucapkan kalimat terakhirnya.

“Kau membentakku?” tanyaku.

“Bae Suzy, Aku—aku harus lebih giat belajar agar bisa melampauimu! Kau yang dipilih mewakili sekolah dalam olimpiade, jujur saja itu mematahkan hatiku. Karena sudah dari awal aku mempersiapkannya, tetapi kau lah yang dipilih—“

Bahuku seolah merosot mendengarnya. Pengakuan Jiyeon seperti jarum kecil yang mampu menyanyat hati dan meninggalkan luka di sana.

“—aku sakit hati.”

Baik aku dan Jiyeon kami memiliki sorot mata tajam yang saat ini terlihat berkaca-kaca. Bola mata berwarna keabuan milik Jiyeon seolah ingin mengajakku merasakan kegelapannya.

Neo—“ lirihku sambil menggertakan rahang, “—sebegitukah pentingnya nilai bagimu?”

“Eoh. Sangat penting.”

Dibalik ucapannya mengandung makna dalam yang sulit ditemukan. Jiyeon menyudahi pertengkaran ini seraya mengambil langkah hendak meninggalkan kelas.

“Aku kecewa padamu!”

Perkataan itu terucap begitu saja dari lidahku yang terasa kelu. Namun Jiyeon membalikkan badannya sambil berkata,

 

“Kecewa? Sebagai sahabat—

 

 

—atau saingan?”

 

to be continued–

Anyeon, readers🙂 waktu buat ff ini banyak yang Hara pikirin dan jadinya ff-nya rada gimana -berantakan-, tapi udah Hara rapiin(?). Enggak enggak, just kidding –v. Selamat membaca lagi and see ya~~

47 responses to “High School (Chapter 3)

  1. Kyaaaaaa kayaknya jiyi kayak gitu bukan karna nilai de tp karna myung jg yg skrg mulai ngedekatin suzy :v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s