(Chapter 9) Belle in the 21st Century – Mokpo in Love

belle-9-myungyeon

Belle in the 21st Century – Mokpo in Love

kkezzgw storyline

Main Cast: T-ARA’s Jiyeon, INFINITE’s Myungsoo

Other Cast: more than 12~

belle-cast-myungyeon

Genre: Romance, Marriage Life, Family

Rated: 15+

BELLE IN THE 21ST CENTURY: CHAPTER 1 | 2 | 3 | 4 |5 | 6 | 7 | …

Facebook Twitter: ELF SONE RANDOM Blog:  keziagw wonkyoonjung Ask.fm Wattpad

Disclaimer: FF ini terinspirasi dan di adaptasi dari series Disney Princess ‘Beauty and the Beast’ (1991) yang akan diterjemahkan menjadi versi abad 21 dengan berbagai perombakan yang tetap berhubungan dengan cerita aslinya. Series pertama dari Disney Princess di abad 21 versi kkezzgw ini dimulai dari. FF ini sudah dibuat dalam berbagai versi. Mohon maaf untuk kesamaan cerita, alur, karakter, adegan, nama, maupun typo.

———————————————————-

Kim Myungsoo terus merengut kesal sejak tadi, wajahnya semakin keruh bak sungai yang telah terkontaminasi limbah pabrik. Pria itu melirik sinis kearah wanita yang menyebabkan bokongnya harus berada di bus ini sekarang, dan sialnya bahkan ia tak dapat melawan. Ia juga tidak tahu akan dibawa kemana dirinya ini. Wajahnya Anak – anak kecil yang berada di dekatnya menatapanya aneh seolah–olah ia adalah makhluk gunung yang baru saja masuk ke dalam bus tersebut.

Sedangkan Jiyeon pun melakukan hal yang sama. Sejak tadi ia berusaha keras untuk menahan tawanya yang siap meledak kapanpun setiap melihat wajah tampan Myungsoo terlihat berlipat – lipat karena kesal, dan perasaan menyesal yang kemarin malam sempat ia rasakan seketika menguap begitu melihat Myungsoo kini lebih berhati – hati terhadapnya. Terbukti, pria itu tidak banyak protes saat Jiyeon menariknya menuju halte dan masuk ke dalam bus. Jiyeon meraih jaket cokelatnya, menutupi wajahnya dengan jaket itu lalu tertidur.

Myungsoo berdecak sinis melihatnya. “Sial, dia benar – benar tahu cara menyiksaku!” umpat Myungsoo kesal, mengambil earphone-nya lalu mulai mendengarkan lagu-lagu favoritnya sambil menatap keluar jendela, menyaksikan pergerakan bus itu menuju tempat yang masih menjadi misteri tersendiri untuknya.

Akhirnya, perjalanan yang memakan waktu lebih dari empat jam itu dihabiskan keduanya dengan saling mengunci mulut, menjaga keheningan, menikmati privasi masing – masing, dan saling melirik sinis.

**

“MOKPO?”

Jiyeon mengangguk acuh mendengar teriakan histeris Myungsoo, kini keduanya sudah turun dari bus sambil menenteng barang masing – masing. Aroma laut bercampur bau khas rumput begitu menusuk indera penciuman keduanya. Gadis itu tersenyum seraya merentangkan tangannya ke udara, menikmati sentuhan angin yang berhembus meniup surai hitamnya dan membelai halus wajah cantiknya dengan udara sejuk khas pedesaan. Ia benar – benar merindukan kampung halamannya ini.

Myungsoo menelan salivanya susah payah melihat pemandangan itu. Ia merasakan darahnya berdesir halus melihat Jiyeon begitu tenang dan bahagia bisa menginjakkan kakiknya disini lagi. Pria itu mendapati perasaan berdebar yang aneh saat memandangi sang istri sekarang.

“Kau menculikku ke Mokpo?” tandas Myungsoo sinis, berusaha menghalau debaran jantungnya yang bertalu cepat.

Jiyeon mengerling jengkel kearah Myungsoo yang masih menatapnya penuh kedengkian, “Anggap saja ini balasan dariku”

Mwoya, memang apa yang kulakukan, huh? Seharusnya aku yang membalasmu karena telah menghajarku semalam, aku!” debat Myungsoo tidak terima.

Keduanya masih saling berdebat lewat tatapan mata sebelum Jiyeon kembali membuka mulutnya, “Kau ingat sebelum kita menikah kau memasukanku ke Korean Princess Institute? Saat itu aku bersumpah akan membalasmu dengan ‘cara yang sama’, dan sekarang adalah waktu yang tepat. Terimalah balasan dariku, Kim Myungsoo!”

Myungsoo tertawa sinis sambil melipat kedua tangannya di depan dada seolah perkataan Jiyeon bukanlah sesuatu yang patut dibesar-besarkan. “Jangan merasa menang dulu, Park Jiyeon. Aku bisa pulang sendiri detik ini juga kalau kau lupa!” kata Myungsoo melempar tatapan garangnya.

Namun bukannya merasa kalah, Jiyeon justru tertawa lepas sebelum memandang Myungsoo dengan tatapan mengejek. “Kau yakin, Myungsoo-ya?” dengan santainya Jiyeon merogoh tas tangannya dan mengeluarkan dua buah benda yang sukses membuat Myungsoo terbelalak dan menganga tak percaya.

Myungsoo tampak shock, bahkan jari telunjuknya terangkat menunjuk-nunjuk Jiyeon penuh kedengkian, “Neo jinjja…sejak kapan mereka bisa berada di tanganmu—“

Jiyeon tersenyum penuh kemenangan lalu memasukan kembali dompet dan handphone Myungsoo yang diambilnya dari saku celana Myungsoo tanpa pria itu sadari, tentu saja teknik ninja yang melakukan segala hal tanpa meninggalkan jejak setitik pun gadis itu kuasai juga.

“Jika kau ingin dompet dan ponselmu kembali, Myungsoo-ssi,” kata Jiyeon untuk mengawali semua penyiksaan Myungsoo, “Jadilah anak yang baik dengan mengikuti perintahku selama beberapa hari ini, arasseo?”  olok Jiyeon dengan seringai licik sebelum gadis itu mengangkat koper – kopernya dan berjalan mendahului Myungsoo yang masih tergagap tak tahu harus berbuat apa.

Bahkan Myungsoo belum menurunkan telunjuknya sama sekali, ia masih tidak menyangka seorang Park Jiyeon akan menindasnya sekejam ini. Ia ingin melawan, namun mengingat perlakuan Jiyeon padanya mampu membuat Myungsoo tak dapat berkutik dan harus memikirkan masak-masak jika ingin menentang gadis itu. “Geu yeoja jinjja—AHHHH AKU BISA GILA!” teriak Myungsoo sambil menjabak anak rambutnya yang tak berdosa.

Sedangkan Jiyeon tertawa puas mendengar teriakan putus asa Myungsoo tanpa menghentikan langkahnya ataupun berbalik badan, gadis itu tetap berjalan lurus tanap berniat mengajak Myungsoo ikut bersamanya, karena ia yakin pria itu pasti akan mengikutinya cepat atau lambat mengingat ia tidak akan bisa pulang.

Tak lama kemudian, suara derap langkah kaki pun terdengar dari belakang dan Jiyeon pun kini dapat mendesah lega mengetahui siapa pemilik langkah kaki itu.

**

Myungsoo mengamati hanok yang terlihat sudah cukup tua namun tetap terlihat asri ini. Debu maupun sarang laba-laba sudah mulai bersarang disekitar langit – langit hanok, kayu – kayu yang menjadi bahan dasar pembuatan rumah mulai terlihat rapuh, bahkan dibeberapa titik sudah lapuk termakan usia walaupun mereka tetap dapat menjaga kelembapan ruangan dengan baik. Bau rumput dan tanah tercium jelas mengingat tembok pengisi kerangka rumah ini terbuat dari bahan – bahan itu. Namun sejauh ini, hanok yang mereka tempati saat ini masih layak untuk dijadikan sebuah tempat tinggal.

Tempat tidur yang hanya terbuat dari kapuk itu terlihat lusuh dengan sepasang bantal dan guling dengan kondisi yang sama walaupun sudah terlapisi oleh seprai. Myungsoo memandang gusar kearahnya, belum lagi lemari kayu yang berada di pojok ruangan juga terlihat kotor dan sudah terlalu tua untuk ‘ditempati’ baju – bajunya. Dan disinilah Myungsoo, memandangi kamar berjendela satu itu dengan tatapan penuh keraguan dan kaku.

“Kuharap kau tidak mengeluarkan protes apapun setelah aku dengan berbaik hati memberikanmu ruangan saranbang seperti ini.”

Saranbang katamu?”

Jiyeon mendesis jengkel. “Ya! Jangan sia – siakan kebaikanku yang memberimu kamar utama hanok ini, seharusnya kau bersyukur aku membiarkanmu tidur di ruangan ayahku bukan gwangchae!”

Myungsoo memejamkan matanya seraya menghembuskan nafasnya kasar. Tanpa banyak protes, pria itu melangkahkan kakinya memasuki kamarnya selama beberapa hari ini dengan langkah berat setelah Jiyeon menghilang. Ia melempar barang – barangnya asal sebelum merebahkan diri diatas kasur itu seraya memejamkan matanya.

“Siapa yang menyuruhmu tidur?”

Suara khas wanita yang begitu ia kenali kini kembali berdengung menganggu ketenangannya. Jiyeon berdiri di depan pintu bersama dengan sapu ijuk dan sebuah pengki berwarna hitam, memandang Myungsoo yang tercengang di tempat seakan tahu apa maksud dari ini semua.

Belum sempat Myungsoo mengeluarkan suara, sapu itu terbang kearah Myungsoo dengan kecepatan diatas rata – rata. Dan sosok yang menjadi korban dari sapu itu hanya bisa menatap Jiyeon dengan mata memerah menahan amarah. “Sebenarnya apa maumu?” cerca Myungsoo tajam.

Namun Jiyeon masih dengan ekspresi datarnya menatap Myungsoo penuh sindiran. “Apa kau berharap aku akan membereskan rumah ini sedangkan kau dengan santainya berselancar di alam mimpi? Maldo andwae, cepat bantu aku bersihkan rumah!”

“MWORAGU?!”

**

Suara kicauan burung yang terdengar bersamaan dengan datangnya sinar matahari dari ufuk timur membuat Myungsoo yang tidur bertelanjang dada terpaksa harus membuka matanya menghadapi kenyataan bumi. Ia merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku sebelum melangkahkan kakinya keluar dari kamar tidurnya.

Matanya langsung disuguhkan dengan pemandangan sebuah meja kayu kecil yang kini sudah menjadi alas makanan – makanan khas Korea yang menggiurkan. Myungsoo mencari-cari sosok Jiyeon dan mendapati gadis itu sedang meramu masakan di sebuah bangku bertubuh rendah. Gadis itu terlihat sibuk meniupi dan sesekali memasukan kayu bakar pada tungku itu. Melihat jumlah tungku, beragam jenis makanan, serta keringat yang membanjiri tubuh istrinya, Myungsoo menebak gadis ini sudah terjaga sejak subuh dan pemikiran itu membuatnya cukup tersanjung.

Merasa sepasang mata mengamatinya, Jiyeon pun menoleh ke belakang dan mendapati Myungsoo sedang mengamati meja makan. Gadis itu tersenyum kecil. “Kau sudah bangun, wangjanim?”

Myungsoo berdecak sinis mendengar nada sarkasme Jiyeon. “Bau dan suara tungku itu membuatku terbangun.”

“Ck, bersyukurlah aku tidak membangunkanmu lalu menyuruhmu mencari makanan atau kayu bakar di hutan belakang sana.” Balas Jiyeon tak kalah sinis sebelum mengangkat sebuah panci besar dari atas tungku dan hendak membawanya ke meja makan.

Myungsoo mengabaikan ucapan Jiyeon dan memilih duduk di dekat meja makan, menunggu Jiyeon menyiapkan dan membawakan makanan untuknya seakan sudah menjadi kebiasaan baru yang menyenangkan bagi Myungsoo, walau ia enggan mengakuinya. Keduanya terlarut dalam aksi makan mereka yang diselimuti suasana hening dan kaku.

“Kau memasak banyak sekali, apa ini untuk persediaan sampai sore?” tanya Myungsoo seraya menyeruput sup ayam yang ada di mangkuknya.

“Tentu saja tidak. Aku hanya merasa mungkin kau butuh sedikit banyak energi hari ini.” Jawab Jiyeon santai.

Myungsoo mengernyitkan keningnya curiga. “Memang apa yang akan kita lakukan?” tanya Myungsoo ngeri, terlebih kini Jiyeon hanya menanggapinya dengan seringai tipis yang justru semakin membuat Myungsoo curiga sekaligus ngeri.

.

.

Keinginan untuk membuang Jiyeon ke sumur kini begitu mendominasi pikiran Myungsoo, tawa wanita itu seakan menjadi api yang semakin membakar jiwa dan raganya. Terlebih teriknya sinar matahari kini semakin membakar kulit putih Myungsoo yang terpaksa terbakar akibat titah sialan menyebalkan yang diberikan Jiyeon padanya.

Calon CEO dari Jaekyo Group yang merupakan salah satu perusahaan paling berpengaruh di Korea Selatan kini berdekam di kubangan lumpur sawah di desa ini. Hanya dengan kaus putih lusuh, topi jerami, beberapa penih padi, serta sebuah sabit yang berada di tangannya, Kim Myungsoo harus rela menjadi salah satu petani dadakan akibat ulah istrinya sendiri.

Berbeda dengan Myungsoo yang terus menggerutu, Jiyeon dengan wajah sumringah justru terlihat begitu semangat melakukannya, terbukti sesekali ia bersenandung ria atau bercakap dengan para petani lainnya sepertinya mereka memang sudah saling mengenal baik. Sungguh, Myungsoo benar-benar muak!

Ya, Kim Myungsoo! Mengapa kau kejam sekali pada tanaman – tamanan ini?” maki Jiyeon kesal sebelum merampas beberapa bibit dari tangan Myungsoo kearahnya dan melakukan itu sendiri.

Aigoo, sepertinya suamimu ini memang tidak terbiasa melakukan ini, Jiyeon-ah. Lebih baik ia beristirahat disana.” Kata seorang ahjussi yang juga bekerja di sawah ini.

Majayo, ia tampak lelah.” Jawab ahjumma lainnya.

Baru saja Myungsoo berniat menyetujuinya, namun Jiyeon sudah mendahuluinya dengan menolak. “Oh, animida, ahjussi. Suamiku justru sangat ingin melakukan ini karena penasaran, hanya saja ia masih belum terbiasa karena itu ia terlihat lelah.”

Myungsoo membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang Jiyeon katakan. “M-mwo?

“Ah, begitu rupanya.”

Ahjussi, ahjumma, kalian sepertinya harus beristirahat. Aigoo, bahkan wajahmu sudah pucat, ahjussi” ungkap Jiyeon yang hanya dijawab tawa singkat keduanya, “Tidak bisa, kalau aku beristirahat, lalu siapa yang akan mengerjakan ini semua?”

Jiyeon melirik kearah Myungsoo yang masih sibuk menggerutu, ide jahil pun terlintas dibenaknya. “Suamiku yang akan mengerjakan semuanya ahjussi, tenang saja.”

Mendengar itu, sontak Myungsoo langsung menoleh kearah Jiyeon dengan tatapan mengutuk, ia memberikan isyarat melalui matanya namun Jiyeon pura-pura tidak mengerti. “Kau pasti bersedia melakukannya ‘kan, yeobo?”

Myungsoo berniat memaki Jiyeon melalui matanya namun ahjumma dan ahjussi itu menoleh kearahnya dengan tatapan memohon. Oh astaga,  Myungsoo benar-benar sakit kepala dengan kelakuan istrinya ini.

“Park Jiyeon, neo—“

Jiyeon merebut semua bibit yang ada dalam genggaman pasangan suami istri lanjut usia itu lalu memberikannya pada Myungsoo. “Ah, that’s very kind of you, yeobo. Baiklah, ayo kita istirahat ahjumma, ahjussi.” Kata Jiyeon seraya menggandeng keduanya menjauhi Myungsoo yang hanya bisa tercengang di tempatnya berdiri saat ini.

Myungsoo mengeram dan meremas bibit-bibit padi itu menahan emosi. “PARK JIYEON!!!”

.

.

 “NEO MICHYEOSSEO?!”

Jiyeon tetap memasang wajah datar bahkan setelah Myungsoo meneriakinya dengan keras di tengah peternakan sapi milik seorang kakek tua. “Tidak. Atas dasar apa kau mempertanyakan kewarasanku?”

“K-kau menyuruhku membersihkan kotoran ternak?!” tanya Myungsoo dengan nada bergetar, terlihat pria ini benar-benar emosi sekarang.

“Memang, lalu apa masalahnya?”

“Kau benar-benar mencari masalah denganku, Park Jiyeon!”

Jiyeon melipat kedua tangannya yang dilaipisi sarung tangan karet di depan dada, tatapannya terlihat dingin dan menusuk kearah Myungsoo. “Bukankah sudah kukatakan padamu sebelumnya kalau ini adalah wujud balas dendamku padamu? Sekarang semua tergantung padamu sendiri, kalau kau tidak melakukannya…jangan berharap kau bisa mendapat makan malam dan masuk ke rumahku!”

Myungsoo baru saja akan membalas perkataan Jiyeon, namun suara khas anak-anak kecil menginterupsi perdebatan mereka. “Jiyeon eonnie!” pekik mereka serempak.

Jiyeon langsung merubah ekspresi wajahnya dan menghampiri seluruh anak – anak yang memanggil namanya. Jiyeon menggendong salah satu diantara mereka dengan senyum hangat. “Aigoo, uri Minji-ya, eonnie merindukanmu!”

Gadis kecil itu tersenyum manis dalam gendongan Jiyeon. “Aku ingin bermain bersama eonnie! Sudah lama sekali kita tidak bermain! Kita semua merindukan eonnie!

“Hmm…mianhae, sepertinya kita tidak bisa bermain hari ini. Eonnie harus membantu ayahmu bekerja—oh, bagaimana kalau Minji membantu eonnie memasukkan buah – buah dari kebun appa ke dalam kardus, eotte?”

Dengan antusias mereka semua  mengangguk lalu berteriak-teriak giran, Minji meronta dalam gendongannya. “Yeay! Ayo eonnie kita kesana, aku ingin melihat jeruk dan apel!”

Gadis itu berbalik dan mendapati Myungsoo masih menatapnya dengan ekspresi mengerikan khasnya. Namun gadis itu tidak peduli, pria seperti Kim Myungsoo harus diberi pelajaran. “Cepat urus ternak – ternak milik tuan Kang kalau kau tidak ingin tidur diluar malam ini.”

Eonnie, siapa ahjussi ini?”

“AHJUSSI?!”  pekik Myungsoo tidak terima

Jiyeon tertawa mendengar pekikkan histeris Myungsoo. Sambil menyeringai usil, Jiyeon berbisik kearah Minji dengan suara yang masih terdengar jelas bagi telinga Myungsoo. “Ahjussi ini adalah pengurus ternak appa yang baru, sayang!”

Jinjja? Wah, annyeong haseyo ahjussi!” sapa Minji riang sebelum berjalan kearah Myungsoo dengan langkah kecil diikuti dengan teman-temannya yang lain, “ahjussi, kau terlihat lebih tua kalau dilihat dari dekat.”

M-mworagu??

“Anak-anak, ayo beri ‘salam’ pada Myungsoo ahjussi seperti biasanya,” ujar Jiyeon melempar tatapan yang patut dicurigai Myungsoo.

Sebelum Myungsoo sempat melakukan tindak pencegahan, tangan – tangan kecil yang digerakan secara bersamaan mendorong Myungsoo membuat Myungsoo—yang memang berada pada posisi yang kurang menguntungkan—kehilangan keseimbangan dan terjatuh keatas rumput – rumput makanan para sapi.

Suara tawa anak kecil dan Jiyeon bersatu memenuhi kandang sapi itu. Jiyeon benar – benar bahagia melihat Myungsoo bersungut-sungut dalam tumpukan rumput itu, terlebih sapi – sapi disana mulai semakin mengerumuni pria malang itu. Myungsoo bersumpah ia dapat merasakan sesuatu yang kenyal, berwarna kecokelatan, dan memiliki bau tidak enak ada di sekujur kausnya ini.

“APA KALIAN INGIN MATI!!!”

Anak – anak itu semakin tertawa melihat kemarahan Myungsoo, namun meraka kini tertawa sambil berlari kegirangan kearah gudang penyimpanan buah yang sempat dibicarakan Jiyeon sebelumnya. Jiyeon berjongkok di depan Myungsoo, memasang wajah pura – pura prihatin sambil emnggelengkan kepalanya penuh empati. “Kasihan sekali suamiku ini.”

Myungsoo yang sudah tidak tahan langsung mengambil sejumput rumput dan melemparnya kearah Jiyeon. “Pergi kau! PERGI!”

Jiyeon mengangkat bahunya acuh sebelum bangkit berdiri dan memandang Myungsoo penuh ejekan. “Baiklah kalau begitu, selamat bekerja, Myungsoo-ya. Hwaiting!”

Myungsoo memandangi punggung Jiyeon yang berjalan meninggalkannya dengan mata berkilat penuh emosi dan perasaan itu hanya sanggup ia curahkan dengan menjambak rambutnya sendiri.

**

“Sebenarnya apa maumu!?”

Myungsoo menumpahkan emosinya tepat ketika mereka sampai di rumah sore harinya. Raut wajah Myungsoo terlihat siap menerkam Jiyeon kapan saja. “Aku hanya ingin kau merasakan penderitaan yang kualami saat kau memasukanku ke Korean Princess Institute itu.”

“Tapi setidaknya kau tidak tersiksa dibawah teriknya matahari dan mengerjakan semua pekerjaan yang melelahkan itu!”

“Kau bilang aku tidak tersiksa? Kau salah besar! Aku sangat tersiksa!” balas Jiyeon tidak terima dengan pandangan Myungsoo.

Myungsoo berdecak sinis mendengarnya, “Jadi kau ingin membalas dendam? Keurae, lakukanlah apapun yang ingin kau lakukan padaku!” tanpa menunggu balasan Jiyeon, Myungsoo segera masuk ke dalam kamarnya dengan marah

Sedangkan Jiyeon sendiri hanya memandangi pintu kamar Myungsoo dengan perasaan bersalah. Sekalipun ia membiarkan Myungsoo bekerja seharian tanpa membiarkannya beristirahat, namun hati nurani Jiyeon tetaplah bekerja disaat – saat seperti ini. Terkadang Jiyeon menyumpah serapahi dirinya yang terlihat lemah dalam faktor ini.

Namun ia harus teringat akan janjinya pada Tuan Kim untuk mengubah tabiat buruk Myungsoo yang semakin menjadi – jadi setiap harinya. Setiap teringat akan hal itu, Jiyeon harus berusaha keras untuk memadamkan hati nurani dan perasaannya sendiri agar semuanya berjalan seperti seharusnya.

Dengan langkah gontai, Jiyeon masuk ke dalam kamarnya. Sepertinya malam ini tidak akan ada makan malam untuk keduanya.

**

Esok harinya, Myungsoo dan Jiyeon berusaha melupakan kecanggungan diantara mereka yang terjadi karena semalam dan kembali bekerja di sawah milik seorang saudagar kaya di desa itu. Sama seperti sebelumnya, keduanya kembali berkubang di sawah dengan perasaan hati yang berbeda.

Di siang hari, mereka kembali bekerja di tempat tuan Kang dimana Jiyeon sibuk di dalam gudang penyimpanan buah sedangkan Jiyeon membantu pekerja lainnya membersihkan kandang ternak tuan Kang. Tidak seperti biasanya, Myungsoo tidak banyak berkomentar dan hanya mengerjakannya dengan tekun dan hal itu justru membuat Jiyeon semakin bertanya – tanya.

“Ada apa denganmu hari ini?”

Myungsoo menoleh sekilas, “Mwoga?

“Kau terlihat begitu penurut dan itu sungguh membuatku ngeri,” aku Jiyeon tanpa mengindahkan dengusan kesal Myungsoo. Saat ini keduanya tengah berjalan kaki pulang ke rumah Jiyeon yang terletak lumayan jauh dari tengah desa, karena itulah keduanya harus pulang lebih cepat dari pekerja lainnya. Kampung halaman Jiyeon ini terlihat begitu indah dan sejuk, berbeda jauh dengan ibukota Seoul yang tampak padat dan terkontamasi berbagai zat kimia yang bertebaran di udara.

“Aku hanya tidak ingin terlihat menyedihkan di depanmu. Walaupun kau sedang berusaha menyiksaku, aku berusaha keras untuk menikmati ini semua agar kau tahu kau salah dalam menilaiku!”

Kini Jiyeon yang mendengus jengkel namun ia tidak membalas apapun. Mereka meleati jalan setapak itu dengan keheningan yang menyelimuti keduanya, hanya hembusan angin dan suara jangkrik yang mengiringi perjalanan pulang mereka. Semua terlihat begitu damai sampai seorang anak laki-laki menghampiri keduanya dengan panik.

“Jiyeon noona, noona!”

“Hyun Gi-ya, waegurae?”

Sambil mengatur nafasnya yang tersenggal, anak itu membuka mulutnya. “Appa butuh bantuan orang untuk mencari ikan di laut. Salah seorang teman appa tidak bisa ikut hari ini karena anaknya sedang sakit. Bisakah noona dan hyung membantu kami?”

Jiyeon dan Myungsoo melirik satu sama lain mendengarnya seolah mencari jawaban dari mata masing – masing, sedangkan anak itu terus merengek memohon bantuan keduanya. Jiyeon menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tidak mungkin salah seorang dari mereka bisa membantu. “Hyun Gi-ya, keugo—“

“Dimana ayahmu sekarang?”

Jiyeon kaget mendengar pertanyaan Myungsoo. Gadis itu menatap Myungsoo dengan pandangan bertanya. “Kim Myungsoo—“

“Aku mungkin bisa membantunya, ayo kita kesana sekarang.”

.

.

Dan keduanya pun terpaksa harus menunda keinginan mereka untuk pulang ke rumah. Myungsoo dan Jiyeon menapaki pasir dibawah mereka seraya memandangi hamparan laut biru yang terpampang di depan mereka dengan mata berbinar. Tangan anak laki – laki menarik keduanya mendekati bibir pantai untuk menemui beberapa orang nelayan yang sedang sibuk memasukan perlengkapan memancing ke dalam perahu.

“Appa! Appa!”

Seorang pria berusia 40 tahun keatas menoleh sebelum tersenyum ramah menyambut kedatangan Myungsoo dan Jiyeon. “Kau Park Jiyeon bukan?” tanya tuan Song, ayah dari Hyun Gi, menyambut ramah kedatangan mereka, terlebih mengenali salah satu dari mereka.

Jiyeon tersenyum sopan. “Ne, ahjussi. Oh iya, kudengar anda mencari kami.”

Ekspresi ramah itu berubah menjadi sedikit redup mengingat tujuan pertemuan mereka kali ini. “Ah, keugo…begini, kudengar kau dan suamimu sedang berlibur disini dan denagn sukarela menjadi relawan para pemilik usaha. A-aku sebenarnya ingin memohon bantuan kalian untuk menggantikan salah satu nelayan kami. Musim dingin sebentar lagi datang dan kami membutuhkan banyak persediaan untuk dijual maupun disimpan, karena itu kekurangan satu orang saja dapat mengurangi kemampuan menangkap kami. Karena itu…bisakah kalian membantuku?” mendengarnya Jiyeon ingin sekali membantu namun terlihat sangat ragu dan Myungsoo dapat melihat hal itu.

Gadis ini…selalu diliputi rasa ingin membantu orang sekalipun itu membahayakan dirinya sendiri, batin Myungsoo bersuara.

“Baiklah ahjussi, aku akan membantumu malam ini.”

Sontak Jiyeon terbelalak kaget mendengarnya, ia memperhatikan Myungsoo yang terlihat yakin dan mendesah pelan. “Ya, jangan bercanda! Apa kau yakin kau bisa melakukannya?” tanya Jiyeon hati-hati.

Namun Myungsoo hanya membalasnya dengan suara datar. “Tentu saja, kau seharusnya tidak pernah meragukan seorang Kim Myungsoo.”

Perasaan khawatir yang sebelumnya muncul kini menghilang digantikan perasaan ingin membunuh suaminya. Dengan kesal, Jiyeon merengut jengkel dan mengalihkan pandangannya pada tuan Song yang masih mengharapkan mereka. “Bawa saja suamiku yang menyebalkan ini bersamamu, ahjussi.”

“Astaga, terima kasih Jiyeon-ah,” kata tuan Song mendesah lega sebelum mengajak Myungsoo menaiki perahu itu.

Jiyeon tidak beranjak dari tempatnya dan terus mengamati sang suami dari kejauhan. Mata mereka sempat bertemu selama beberapa detik sebelum Myungsoo menyeringai jahil dan mengalihkan pandangan mata mereka, perahu berwarna hijau itu mulai berlayar menuju ke tengah lautan diiringi dengan beristirahatnya matahari di ufuk barat.

Tapi Jiyeon merasakan sesuatu yang tidak enak terhadap Myungsoo, entah karena apa.

**

Sepertinya Jiyeon tahu perasaan tidak enak yang sebelumnya sempat ia rasakan karena apa.

Gadis itu sudah setengah tidur saat mendengar pintu rumahnya diketuk dengan kencang dan tergesa-gesa. Jiyeon pun nyaris pingsan di tempat begitu mendengar kabar tidak mengenakan yang baru saja ia dengar, tanpa pikir panjang gadis itu segera berlari bersama orang-orang yang menginformasikan kabar mengejutkan itu padanya.

Kim Myungsoo tenggelam bersama Hyun Gi di laut.

Sungguh, Jiyeon rasanya ingin merutuki dirinya sendiri. Banyak penyesalan yang ia rasakan saat ini? Mengapa saat itu ia tidak mencegah Myungsoo melakukannya? Mengapa saat itu ia tidak mengatakan hal apapun pada pria itu? Dan yang terpenting…mengapa Jiyeon sekejam ini membalas perbuatan Myungsoo beberapa bulan yang lalu, hingga menyebabkan pria itu kini dalam kondisi yang cukup kritis.

Adrenalin untuk menguatkan diri menemui Myungsoo semakin membuat larinya semakin cepat hingga tibalah ia bersama orang-orang yang memanggilnya di bibir pantai, mendapati perahu yang sebelumnya dinaiki Myungsoo sudah ada disana dengan beberapa nelayan sibuk mengangkat kedua tubuh itu.

Andwae….ANDWAE!” pekik Jiyeon histeris.

Perhatian mereka teralihkan begitu mendengar teriakan Jiyeon, langkah kaki gadis itu semakin berjalan mendekati mereka dengan wajah berderai air mata. Namun gadis itu dapat mendesah lega melihat sosok yang dikhawatirkannya sejak tadi sedang terduduk seraya meminum segelas anggur beras untuk mengatasi hipotermia yang mungkin saja dapat menyerangnya.

YA KIM MYUNGSOO!”

Myungsoo menoleh, melempar senyum kecil seolah menenangkan Jiyeon yang terlihat kacau saat ini. “Hei, kau terlihat kacau, Nona Park.”

Jiyeon terisak tak terkendali dan langsung berlari ke dalam pelukan Myungsoo. Pria itu sempat terkejut selama beberapa detik sebelum tubuhnya kembali relaks dan membalas pelukan istrinya, menenangkan Jiyeon yang tampak terguncang karena berita mengejutkan itu.

Neo jinjja baboya…ba-bagaimana kau bisa…oh ya Tuhan…kau bisa mati!” cerca Jiyeon dengan perasaan beragam sambil memukuli dada Myungsoo pelan.

Kim Myungsoo hanya terkekeh lemah dan mengetatkan pelukan keduanya, pria itu memberikan instruksi pada nelayan lainnya—yang menatap mereka dengan tatapan menggoda sekaligus iri—pergi. Jiyeon masih terisak dan Myungsoo pun tersenyum kecil menyadari betapa khawatirnya Jiyeon padanya. “Berhentilah menangis, memang kau benar-benar khawatir padaku ya?”

“Tentu saja! Bagaimana jika kau tidak dapat diselamatkan lagi, huh? Kau benar – benar pria paling bodoh, menyebalkan, dan merepotkan di muka bumi!”

Myungsoo kembali tertawa mendengar Jiyeon memakinya sambil sesegukan di dadanya. Pria itu hanay mengusap punggung Jiyeon menenangkan. “Aku tidak mungkin mati karena masih banyak balasan yang harus kau terima karena membuatku terkurung di desa ini, Park Jiyeon.” Ujar Myungsoo bercanda namun Jiyeon tidak menampiknya karena gadis itu masih sibuk menangis.

Akhirnya, Myungsoo dan Jiyeon diantar oleh para nelayan ke rumah mereka. Myungsoo langsung tertidur begitu kepalanya bersentuhan dengan bantal, bersama Jiyeon yang memutuskan untuk menemani Myungsoo.

Dan untuk pertama kalinya, pasangan suami istri ini beristirahat di temapt tidur yang sama.

**

Bau sup ayam bercampur ginseng kini menyeruak masuk melalui indera penciuman Myungsoo. Pria itu ingin bangkit berdiri namun tertahan oleh rasa pening yang menderanya, tubuhnya terasa pegal dan memar di lengannya membuat aktivitasnya terbatasi.

“Kau sudah bangun?”

Myungsoo mendongak begitu suara wanita itu kembali terdengar. Jiyeon mengerjap penuh kelegaan sebelum berjalan masuk ke dalam kamar Myungsoo sambil membawa nampan berisi sup, mangkuk nasi, dan teh yang terlihat masih hangat.

Myungsoo mengangkat sebelah alisnya sambil menatap Jiyeon penuh selidik. “Sejak kapan kau menjadi semanis ini padaku? Kau yakin tidak ada racun yang kau bubuhkan di dalam sup itu?”

Jiyeon mendengus kesal mendengarnya. Baiklah, Kim Myungsoo yang sinis, dingin, dan menyebalkan sepertinya sudah kembali, tidak peduli seberapa parah kecelakaan yang ia alami. Namun gadis itu memilih mengabaikan kalimat sarkasme itu lalu membuka tutup mangkuk dengan perlahan.

Mogobwa, aku sudah menambahkan ginseng agar tubuhmu hangat dan nyaman,” kata Jiyeon pelan sebelum merengut kesal melihat Myungsoo hanya diam memandangi sup ayam itu, “dan aku bersumpah tidak ada racun di dalamnya jadi makan sekarang!”

Myungsoo tertawa kecil lalu mengambil sendok menyeruput kuah sup yang terasa menyegarkan itu. Keheningan kembali menyelimuti keduanya dengan Myungsoo yang sedang menyantap sarapannya sedangkan Jiyeon yang memilih bungkam dan memperhatikan acara makan Kim Myungsoo.

“Apa aku setampan itu bahkan saat aku sedang makan?”

Jiyeon memasang ekspresi yang membuat Myungsoo tertawa bahagia saat melihatnya. Mungkin menggoda gadis ini akan menjadi kegiatan favoritnya untuk waktu yang lama.

“Ck, lebih baik kau makan makananmu! Geurandae, ke-kenapa kau dan Hyun Gi bisa tenggelam?”

Myungsoo berdekap kecil sebelum membuka suara. “Angin bertiup kencang saat kami mengangkat jaring yang penuh dengan ikan ke dalam perahu,” ujar Myungsoo mengawali ceritanya, “Hyun Gi berdiri di pinggir perahu dan aku tepat berada di belakangnya. Karena ikan yang kami angkat cukup berat, Hyun Gi membungkukkan badannya kearah laut dengan kaki tertumpu pada badan perahu. Karena itulah saat gelombang datang ia terjatuh dan tenggelam.”

Jiyeon meringis kecil mendengarnya, “Lalu kau menolongnya?”

Myungsoo mengangguk. “Saat itu hanya akulah yang benar – benar menyadari posisi anak itu, karena itulah tanpa berpikir panjang aku langsung terjun ke dalam air. Barulah mereka sadar bahwa aku dan Hyun Gi terombang – ambing di lautan saat aku berteriak meminta pertolongan.”

“Mereka langsung menolongmu, kan?”

“Niat mereka memang begitu, tapi alam berkehendak lain. Gelombang besar datang dari arah selatan sehingga kami terbawa gelombang beberapa meter dari posisi perahu itu, mereka harus berusaha keras untuk menghampiri kami.”

Jiyeon menghela nafas cemas. Sekalipun Myungsoo hanya menceritakan kronologi kemarin malam yang terasa seperti mimpi buruk, namun perasaan takut itu tetap menghantui Jiyeon sampai saat ini. Bagaimana jika Myungsoo tidak selamat dari kecelakaan itu? Apa yang harus ia katakan pada ayah mertuanya?

Menyadari perubahan ekspresi Jiyeon, Myungsoo tersenyum menenangkan dan meraih jemari tangan Jiyeon, mengelusnya pelan seolah tangan gadis itu adalah sesuatu yang sangat rapuh. “Tidak perlu memikirkan ini lagi, yang terpenting aku selamat dari insiden itu ‘kan?”

Myungsoo dan Jiyeon saling melempar senyum sebelum keduanya terlarut dalam pancaran mata masing – masing. Mata cokelat gelap milik Jiyeon sanggup menghipnotis Myungsoo, sedangkan mata hitam nan tajam milik Kim Myungsoo membuat jantung gadis itu berdetak lebih cepat dari biasanya dan darahnya berdesir lembut begitu menyadari tangan Myungsoo masih mengenggam miliknya. Suasana indah yang diterangi lembutnya pancaran sinar matahari itu terpaksa terhenti begitu keduanya mendengar suara pintu rumah mereka diketuk seseorang.

Sontak Myungsoo melepaskan genggaman tangannya. Jiyeon merona malu ditempatnya sedangkan Myungsoo menggaruk kepalanya yang tak gatal sembari berdeham singkat. “Kurasa kita kedatangan tamu.”

Jiyeon membenarkan dengan canggung. “Sepertinya iya, aku akan membukakan pintu.” Pamitnya sebelum bangkit berdiri dan bergegas keluar dari kamar Myungsoo.

Myungsoo mengamati punggung yang berjalan menjauhinya dengan perasaan aneh yang tak pernah ia rasakan lagi selama beberapa tahu belakangan. Pria itu mengerjap lalu menggelengkan kepalanya kencang seolah – olah apapaun yang ia pikirkan sebelumnya merupakan aib terbesar dalam hidupnya.

Mwoya, apa yang kau pikirkan Kim Myungsoo?!” desisnya membantah perasaan itu segera sebelum kembali menyantap makanannya.

Namun Myungsoo langsung trersedak kuah sup ayam itu begitu suara pekikan Jiyeon terdengar begitu kencang, sepertinya gadis itu terdengar sangat bahagia. Myungsoo mengernyit heran, siapa tamu itu?

**

Jiyeon tidak menyangka saat tangannya membuka pintu untuk tamu itu, ia merasakan perasaan bahagia yang tak bisa ia jelaskan dengan pasti. Matanya melebar sempurna melihat sosok itu tersenyum jenaka melihat ekspresi Jiyeon yang tercengang di depannya. “Lama tidak bertemu, putri kodok!”

“K-Kim Jonghyun?!” tanya Jiyeon dengan nada tercekat dan Jonghyun hanya tertawa sembari merentangkan tangannya menanti pelukkan Jiyeon. “Tentu saja, lalu siapa lagi? Kemarilah aku ingin memelukmu!”

“KYAAAAA KIM JONGHYUN!!!” Jiyeon langsung berlari ke dalam pelukkan Jonghyun dengan wajah berseri – seri bahagia begitupun Jonghyun yang kini semakin mengetatkan pelukkan mereka. Keduanya tertawa bahagia tanpa menyadari tatapan membunuh yang dilemparkan pria dibelakang mereka. Myungsoo mengepalkan tangannya marah melihat adegan tak terduga ini.

Ya! Apa yang kalian lakukan!?”

Sontak keduanya segera melepaskan pelukkan mereka, Jiyeon membulatkan matanya kaget melihat keberadaan Myungsoo di dekat mereka, namun ekspresi kaget itu berubah menjadi senyuman bahagia. Jonghyun mengerjap bingung melihat Myungsoo sedangkan Myungsoo semakin mengeram marah. “Park Jiyeon, jelaskan apa yang terjadi disini!”

Jiyeon memejamkan matanya usil melihat kilat marah di mata Myungsoo. Namun gadis itu dengan santainya menggandeng Jonghyun mendekati Myungsoo.

“Myungsoo-ya, kenalkan ini Jonghyun,” kini Jiyeon beralih menatap Jonghyun, “Jonghyun-ah, ini Myungsoo.”

“Kim Jonghyun,” sapa Jonghyun mengulurkan tangannya pada Myungsoo santai, sementara Myungsoo sibuk memperhatikan penampilan Jonghyun yang tampak rapi dan gagah. Dengan enggan Myungsoo membalas uluran tangan itu, “Kim Myungsoo.” Balasnya datar.

“Bagaimana kau bisa datang kesini?” tanya Jiyeon penasaran, tanpa mengindahkan tatapan marah Myungsoo.

“Aku mendapat jatah libur dari kantorku dan aku memutuskan untuk menemui orang tuaku, dan betapa senangnya aku begitu kemarin malam mereka memberitahu kalau kau juga sedang berlibur kesini. Bukankah itu kebetulan yang sangat menarik?”

“Tentu saja! Oh astaga, aku belum sempat mengunjungi orang tuamu, bagaimana kabar mereka?”

“Mereka terlihat baik dan bahagia, seperti biasanya.”

Myungsoo mendengus sebal melihat kedekatan Jiyeon dan Jonghyun, terlebih pancaran mata mereka jelas menyiratkan bahwa mereka adalah dua pribadi yang sangat dekat. Dan mengingat pelukkan mereka sebelumnya…mari kita sepakat untuk tidak membahasnya.

“Kudengar kau membantu warga desa,”

Jiyeon mengangguk membenarkan. “Iya, aku bekerja di sawah dan membantu tuan Kang memasukkan buah – buahan yang akan dikirim ke kota. Mungkin kau bisa membantu,”

“Sepertinya itu ide bag—“

“Tidak!” potong Myungsoo seraya melingkarkan tangannya ke pundak Jiyeon posesif, seolah menyatakan Jiyeon adalah miliknya. “Park Jiyeon hanya akan pergi denganku.”

Jiyeon dan Jonghyun sama – sama tertegun mendengar penuturan Myungsoo, terlebih kehangatan tubuh pria itu kini menjalar melalui lengannya yang semakin membuat Jiyeon sulit untuk menutupi kegugupan itu.

“Tidak! Hari ini kau harus istirahat dan jangan banyak bergerak!”

Mwo? Ya, kau bilang kita datang kesini untuk menyiksaku, tapi sekarang kau malah menyuruhku beristirahat? Kau aneh sekali!”

Jonghyun tertawa keras mendengarnya sedangkan Jiyeon tercengang tak percaya dengan apa yang didengarnya, “Mworagu? Bukankah sebelumnya kau mengeluh padaku karena aku terus menyuruhmu bekerja? Kenapa sekarang kau terdengar seperti ingin kusiksa?”

Dalam hati Myungsoo menyumpah serapahi kebodohannya namun ia berusaha keras menjaga ekspresi mukanya tetap datar. “Aku rasa bekerja di sawah dan membersihkan kandang sialan itu menyenangkan.”

Kembali Jonghyun tertawa keras dan Jiyeon menggeleng sambil menatap Myungsoo heran. “Kau benar – benar pria aneh. Sudahlah! Pokoknya kau tidak boleh kemana – mana hari ini, istirahat saja, arasseo! Kajja, Jonghyun-ah,”

Ya Park Jiyeon—“

Perkataan Myungsoo terhenti di ujung tenggorakan saat sosok gadis itu sudah menghilang bersama pria bernama Jonghyun itu. Mengepalkan tangannya marah, Myungsoo masuk ke dalam kamar sambil membanting pintu. Ia tidak suka melihat kedekatan Jiyeon dengan pria itu, ia tidak suka membayangkan mereka akan menghabiskan waktu bersama seharian ini, dan ia tidak suka Jiyeon melihat tidak mempedulikannya lagi, terlebih terlibat kontak fisik dengan pria lain selain dirinya.

Tunggu, sebenarnya mengapa ia peduli dengan hal itu?

**

Seperti dugaan Myungsoo, Jiyeon menghabiskan waktu bersama Jonghyun dengan canda tawa. Keduanya seakan terlempar ke masa lalu dimana mereka berlari di sepanjang sawah, menanam padi, memberi makan dan membersihkan kandang ternak, membantu memfermentasikan makanan, dan semua hal yang mereka lakukan bersama – sama.

Sampai malang menjelang, Jiyeon baru diantar Jonghyun ke rumahnya, diikuti dengan Myungsoo yang mengintip dari balik jendela dan menguping diam-diam.

“Terimakasih sudah mengantarku,” ucap Jiyeon yang hanya dijawab kekehan kecil Kim Jonghyun, “Ya, jangan bertingkah seolah kita orang asing, sangat menggelikan.” Kini Jiyeon-lah yang terkekeh.

“Lain kali kau harus berpakaian lebih desa jika ingin membantuku berkubang di sawah.”

“Ck, aku memang sengaja berpakaian rapi untuk menemui!” jawaban Jonghyun kini membuat bola mata Myungsoo rasanya ingin keluar, sungguh ia ingin sekali memberi pelajaran pada pria ini.

“Ah molla, intinya kau harus mengganti gaya berpakaianmu disini. Oh ya, apa kau besok akan kesini lagi?”

Tidak, tidak, kau tidak boleh pergi bersamanya lagi, batin Myungsoo berharap.

Jonghyun mengangguk, “Tentu saja! Aku akan datang pagi – pagi besok, tentunya jika aku sanggup bangun.”

Myungsoo mengumpat jengkel sedangkan Jiyeon tersenyum gembira. “Baiklah, sampai jumpa besok!” Jiyeon melambai mengantar kepergian Jonghyun yang semakin lama semakin hilang dari pandangannya sebelum masuk ke dalam rumah.

Kkamjjakiya!” Jiyeon nyaris melompat begitu melihat Myungsoo tiba – tiba berdiri di depannya tanpa aba – aba dengan mata menyipit seolah menangkap basah tersangka kejahatan.

“Kau baru pulang? Darimana saja kau?” tanya Myungsoo tanpa berminat menghapus nada sini dalam kalimatnya.

“Tentu saja bekerja seperti biasanya, memang apa lagi?” jawab gadis itu sekenanya lalu berjalan menuju dapur dan melewati Myungsoo begitu saja.

“Tapi saat bersamaku kau tidak selama ini.” Balas Myungsoo yang sudha mengikuti Jiyeon ke dapur.

“Itu sudah pasti. Sebelum mengantarku, kami sempat berkeliling desa dan ternyata dua hari kedepan akan diadakan festival menyambut musim panas.”

“Lalu kenapa kau tidak pernah mengajakku berkeliling desa dan malah memintanya menemanimu melakukan hal itu?!”

Jiyeon mengerutkan keningnya bingung melihat tingkah Myungsoo sejak tadi pagi. “Memang kenapa kalau aku mengajaknya?! Kau ini aneh sekali sejak pagi.” gerutu Jiyeon kesal.

Myungsoo membuang muka dari Jiyeon dengan rahang mengeras. “Kuharap kau tidak lupa kalau suamimu masih ada disini.” tanpa berkata apapun lagi, Myungsoo segera angkat kaki dari dapur disaksikan oleh Jiyeon yang tercengang mendengar perkataan itu.

Jiyeon menggelengkan kepalanya tak percaya. Kim Myungsoo benar – benar pria aneh yang semakin membuatnya merasa bersalah entah karena apa. Tidak ingin berlama – lama berkubang dalam kebingungannya, Jiyeon memutuskan untuk segera berkutat di dalam dapur, menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.

.

.

A/N: Tolong baca pengumuman yang saya tulis di A/N setelah chapter ini selesai, terima kasih atas perhatiannya. Selamat membaca lagi^^

.

.

Namun betapa kagetnya Jiyeon begitu ia masuk membawa makanan dan mendapati tubuh Myungsoo menggigil tak berdaya diatas tempat tidur, posisi tidur pria itu sudah menggulung seperti janin dalam kandungan dengan keringat bercucuran di sekitar pelipisnya.

“Myungsoo-ya, neo gwaenchana?”

Myungsoo langsung mendapati wajah Jiyeon begitu ia menoleh kearah belakang. Kepala pria itu pening dan ia sudah tidak sanggup melakukan apapun lagi. Jiyeon berjingkrak panik, “Astaga, tunggu sebentar aku akan mengambilkanmu obat.”

Myungsoo ingin membantah namun terlambat karena Jiyeon sudah melesat keluar kamar dengan kecepatan tinggi. Pria itu pun tidak sanggup membantah saat Jiyeon memaksanya duduk dan menelan obat.

Ya, ayo minum obatnya!” desak Jiyeon terus menerus.

Myungsoo menggeleng pelan. “Ti-tidak, aku tidak terbiasa meminum obat.”

Dengan kejengkelan tinggi, Jiyeon membuka mulut Myungsoo secara paksa dan memasukan obat itu, gadis itu juga memaksa Myungsoo menelannya dengan segelas air yang ia bawa. Dalam kondisi ini, Myungsoo hanya bisa mengutuk Jiyeon dalam hati tanpa perlawanan fisik berlebihan.

“Apa kau tidak meminum teh ginseng yang kusiapkan di dapur?”

Myungsoo menggeleng. “Aku tidur seharian penuh kemarin, satu – satunya alasan aku bangun semalam adalah karena mendengar suaramu dari luar.”

Jiyeon berusaha keras untuk tidak tersenyum mendengarnya, gadis itu segera mengalihkan pandagannya dengan pipi merona malu. Berusaha keras untuk memendam perasaan bahagia yang membuncah di dada, Jiyeon memilih membantu Myungsoo kembali ke posisinya semula. Namun ketika gadis itu akan beranjak pergi, jemari Myungsoo menahan pergerakan gadis itu dengan tegas. “Tetaplah disini,” ujar Myungsoo.

Jiyeon mengerjapkan matanya dengan gugup. “A-aku ha-harus membereskan—“

“Kumohon, malam ini saja…” desahnya dengan mata tertutup rapat, membiarkan Jiyeon memutuskan apa yang seharusnya ia lakukan. Dengan penuh keraguan dan sambil menormalkan detak jantungnya, Jiyeon pun memutuskan untuk menemani Myungsoo. Ia menjaga pria itu semalaman.

Sepertinya ia tahu mengapa Myungsoo memohon padanya untuk menemaninya malam ini. Pria itu terus mengiggau memanggil ibunya serta nama seseorang yang Jiyeon tidak dapat tangkap dengan jelas. Gadis itu dengan tekun meletakkan handuk basah keatas kening Myungsoo, memijat pelipis pria itu agar tertidur lebih lelap lagi.

Dalam keheningan malam, Jiyeon mengamati wajah suaminya yang terlihat jauh lebih tampan dan damai saat pria itu tertidur. Gadis itu tersenyum kecil sebelum kegelapan mendatanginya, rasa kantuk itu tak dapat ia tahan lagi.

**

Jonghyun menghembuskan nafasnya dengan berat saat jemarinya sebelum mengetuk pintu rumah Jiyeon. Sudah sekian lama ia tidak bertemu dengan gadis itu, Jiyeon tumbuh menjadi wanita yang cantik dan pribadi yang luar biasa menyenangkan, kehangatan yang dulu sempat menjadi alasannya bertahan melewati badai kehidupoan seolah kembali menyelimti perasaan pria itu.

“Jonghyun-ah, wasseyo” sapa Jiyeon ramah dan membiarkan Jonghyun masuk ke dalam rumahnya.

“Bagaimana penampilanku hari ini? Cukup berantakan untuk berkeliling desa?” Jiyeon hanya tertawa sambil mengangguk mengamati pakaian Jonghyun yang tampak lebih sederhana sekarang. “Ya, sepertinya kau mendengarkan nasihatku dengan baik. Apa kau sudah makan?”

Perkataan Jonghyun tersendat di ujung lidah begitu melihat Kim Myungsoo duduk di meja makan dengan mata menatapnya tajam, seolah pria itu dengan senang hati mengganti udang yang berada dalam kekangan sumpitnya menjadi kepalanya.

Jonghyun berdeham canggung sebelu melempar senyum kaku. “Annyeong Myungsoo-ssi,” sapanya yang hanya dijawab anggukan kecil dari Myungsoo.

Melihat itu, Jiyeon hanya dapat menghembuskan nafasnya pasrah. “Apa kau mau makan, Jonghyun-ah? Menu utama sarapan kali ini udang, bukankah kau suka udang?”

“Sepertinya dia sudah makan, benar ‘kan Jonghyun-ssi?”

Nada bicara Myungsoo terkesan bersahabat, namun sorot matanya sudah siap membunuh siapapun yang berani menyalahkan pernyataannya, karena itu Jonghyun memilih mengangguk. “Aku sudah makan.”

Jiyeon hanya mengangguk acuh sebelum mulai memberi titah pada Myungsoo—yang harus kembali beristirahat dirumah. “Setelah kau makan, jangan lupa bereskan meja makan ini. Lalu jangan lupa meminum obat penurun demam yang kuletakan di nakas kamarmu. Oh iya, obat itu diminum setelah makan jadi aku juga sudah menyiapkan bubur labu disana, jika kau ingin minum aku juga sudah menyiapkannya di dalam termos—“

Jiyeon terus mengoceh tanpa henti sembari mencuci perabot masak yang ia gunakan sementara kedua pria di ruang makan hanya saling melempar tatapan sinis, mengamati satu sama lain, berusaha menebak sebenarnya siapa mereka bagi seorang Park Jiyeon.

Jiyeon mengerutkan keningnya begitu ia melihat pemandangan aneh itu, gadis itu mengetuk meja berkali – kali sampai mereka berdua sadar dari ‘perang’ mereka. “Ya, kalian ini kenapa?”

Myungsoo membuang nafasnya kasar sebelum melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan hati dongkol, tanpa peduli raut wajah istrinya yang siap memarahinya karena ia tidak melakukan apa yang ia katakan sebelumnya. “Ya Kim Myungsoo, bukankah aku sudah bilang untuk membereskan meja makan ini! Ya neo—Aish, dasar pria aneh!”

Ketika Jiyeon sibuk membereskan meja makan sambil mendumal, Jonghyun justru merenung diam di tempatnya berusaha membaca situasi hubungan diantara Jiyeon dan Myungsoo yang sebenarnya.

“Sebenarnya siapa pria itu, Jiyeon-ah?”

Pergerakan Jiyeon terhenti begitu saja, raut wajahnya berubah kaku dan sontak hal itu membuat Jonghyun semakin penasaran. Pandangan pria itu menatap Jiyeon tegas, sedangkan yang ditatap hanya sanggup menghembuskan nafasnya pelan sebelum bersuara. “Dia suamiku.”

“MWORAGU?”

.

.

“Kenapa kau tidak bilang kalau dia suamimu?”

Jiyeon memberikan senyum penuh maaf kearah Jonghyun yang terlihat gusar di tempatnya. Kini mereka sedang sibuk memfermentasikan kacang kedelai di gudang milik seorang saudagar kaya setelah berlelah – lelah ria di kubangan sawah beberapa jam yang lalu. Mereka terlalu sibuk menanam padi, sehingga Jonghyun tidak sempat protes sebelumnya.

“Kupikir itu tidak penting.”

“Tidak penting katamu?!” Jonghyun sungguh ingin meneriaki Jiyeon sekarang juga, namun melihat pekerja lainnya terlihat serius ia mengurungkan niatnya, “Kau tahu jika mata suamimu bisa digunakan untuk membunuh, kurasa saat ini aku tidak akan bisa berbicara denganmu lagi untuk selamanya,”

Jiyeon tertawa canggung mendengarnya. “Jangan salah paham, pernikahan kami…bukan pernikahan seperti yang kau bayangkan.”

Kepanikan di wajah Jonghyun langsung surut digantikan kerutan di keningnya, ia menangkap apa maksud Jiyeon. “Aku tidak tahu masih ada aksi perjodohan di zaman modern seperti ini.”

“Sebenarnya—omo, kau tidak kenal Kim Myungsoo?”

Kini Jonghyun semakin terlihat kebingungan, “Apa aku perlu mengenalnya? Aku tidak pernah melihatnya muncul di TV, dia bukan artis kan?”

“Oh aku lega ternyata tidak semua orang mengenalnya. Berita tentang pernikahan pewaris Jaekyo Group…kau pasti tahu, ‘kan?”

Jonghyun mengangguk sambil melempar tatapan ‘tentu-saja-aku-tahu-apa-kau-gila’. “Tentu saja, kau pasti bercanda! Pernikahan itu menjadi topik hangat dimana – mana, terlebih Jaekyo Group adalah salah satu perusahaan paling berpengaruh di Ko—tunggu, jangan bilang dia… pewaris Jaekyo Group? Suamimu pewaris Jaekyo Group?”

Jiyeon langsung menutup mulut besar Jonghyun dengan sebelah telapak tangannya, tak peduli jika bau fermentasi kacang kedelai yang menempel di tangannya sungguh membunuh. “Kecilkan suaramu!”

“Hei, kau sungguh hebat! Bagaimana kau bisa berakhir dengannya?”

“Ceritanya panjang, aku akan menceritakannya padamu tapi tidak disini, tidak sekarang.”

Jonghyun memperhatikan Jiyeon dengan intens sebelum membuka suara. “Kau mencintainya ‘kan?”

Pergerakan tangan Jiyeon langsung terhenti begitu saja, ia memilih menundukan wajahnya tanpa berminat untuk membalas tatapan Jonghyun—walaupun hal itu justru semakin membenarkan perkataan Jonghyun sebelumnya.

Pria itu tersenyum geli. “Kau mencintainya,” itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan, “semuanya terlihat dari gerak – gerikmu.”

Jiyeon tersenyum ragu. “Entahlah, tapi yang aku tahu aku sudah terjebak dalam one-sided love, itu saja.”

Keduanya pun kembali fokus pada pekerjaan mereka sebelum Jonghyun tanpa sadar tersenyum penuh kemenangan saat otak encernya mendapat pencerahan, entah karena apa.

**

Jiyeon memutuskan untuk mencari kayu bakar sendirian karena ia tidak mau merepotkan Jonghyun, sebenarnya salah satu hal yang akan ia lakukan pada Kim Myungsoo adalah mencari kayu bakar jika pria itu tidak sakit. Langit sudah hitam sepenuhnya begitu Jiyeon sampai di rumah dengan wajah letih. Gadis itu memilih duduk di daechong seraya meluruskan kakinya yang terasa sakit dan sedikit memar terkena semak berduri, sesekali ia meringis sakit saat menggerakan kakinya yang terasa kaku.

“Dari mana saja kau?”

Jiyeon terlonjak kaget dan reflek menoleh hanya untuk mendapati Myungsoo mengamatinya dengan ekspresi datar dari balik pintu. “Kupikir kau diterkam hewan buas atau semacamnya. Well, mungkin aku harus berterimakasih pada hewan itu suatu saat,”

Jiyeon mendengus singkat mendengarnya sebelum mengambil kayu – kayu itu dan membawanya masuk tanpa menoleh kearah Myungsoo sama sekali. Ia bergegas menuju dapur, meletakan kayu – kayu itu dan mulai memasak setelah mencuci tangannya. Berbeda dengan Jiyeon yang masih terlihat lusuh, Myungsoo sudah terlihat bersih dan segar, sepertinya demam yang selama dua hari mengikatnya kini sudah menghilang.

Senyuman tipis terulas di wajah tampannya jika teringat betapa lembutnya gadis itu merawatnya saat ia sakit, sangat berbeda dengan Park Jiyeon yang biasanya ia temui. “Seharusnya kau tidak perlu memaksakan diri mencari kayu bakar sendirian, kau bisa menyuruhku. Bukankah aku disini untuk dihukum?”

Jiyeon terkekeh pelan mendengarnya. “Aku tidak mungkin sekejam itu menyuruhmu pergi mencari kayu bakar sementara kau sedang berjuang untuk hidup.”

Ya! Aku tidak sekarat, aku hanya demam. Dan sepertinya aku sudah sembuh, aku siap menerima hukuman lainnya darimu, Nona Park.”

Jiyeon kembali terkekeh namun segera membantah perkataan suaminya. “Kau harus banyak istirahat, tubuhmu masih dalam fase penyembuhan, tidak boleh terlalu lelah. Tidak usah memaksakan diri, masih ada Jonghyun yang membantuku.”

Rahang Myungsoo kembali mengeras mendengar nama pria itu. Ia heran mengapa kini nama ‘Kim Jonghyun’ menjadi salah satu nama yang ia ingin hapus dari muka bumi, “Jangan berlebihan, aku bosan seharian menonton TV dengan layar yang sudah tak tertolong. Kau juga tidak perlu meminta bantuan Jonghyun lagi, sudah ada aku.”

“Kau yakin ingin membantuku lagi?” tanya Jiyeon terdengar khawatir, namun melihat ekspresi tegas Myungsoo, gadis itu tahu pria ini serius. “Tentu saja, kenapa tidak? Lagipula aku rindu dengan Mul, Nam, dan Yeol.”

Mwoya? Siapa mereka?”

Myungsoo menyeringai penuh makna. “Ketua dari kawanan sapi, ayam, dan babi milik tuan Kang.”

Jiyeon langsung tertawa kencang mendengarnya. Wajahnya memerah, tangannya sibuk memegangi perutnya yang terasa  sakit mendengar lelucon konyol Myungsoo. Ia tidak tahu suaminya ini bisa sekonyol ini, “Baboya!

Mwol? Ah aku benar – benar merindukan mereka, apa mereka tidak sadar kalau aku terus memimpikan mereka selama aku sakit?”

Jiyeon mengatur pernafasannya setelah tertawa tanpa henti sebelum menendang bokong Myungsoo keluar dari dapur. “Pergi kau! Rasa kimbab ini bisa kacau karena aku sibuk tertawa!”

Dan untuk pertama kalinya, mereka menghabiskan malam bersama dengan canda dan tawa seraya memakan kimbab dengan mata fokus pada tayangan di depan mereka.

**

Myungsoo sepertinya benar – benar serius untuk memerangi Kim Jonghyun.

Pagi ini, pria itu bangun lebih awal dengan ekspresi berseri – seri mengingat berbagai adegan, perdebatan, maupun canda tawa dirinya dengan Jiyeon. Ia tidak menyangka semalam kecocokannya dengan sang istri terbuka begitu saja.  Beberapa contohnya adalah mereka sama- sama hobi bermain basket,  penggemar film Fast&Furious, dan penggemar musik jazz.  Dilihat dari sisi manapun, Kim Myungsoo tidak menyangka Park Jiyeon memiliki ketertarikan yang sama dengannya dalam sisi apapun.

Kini keduanya menikmati sarapan dengan tenang sebelum sosok pria yang sungguh ingin Myungsoo hanguskan muncul dengan wajah menyebalkannya saat menyapa Myungsoo. “Annyeong Myungsoo-ssi.”

Myungsoo hanya mendengus jengkel sambil memakan makanannya semakin lahap dan cepat.

Mereka sampai di persawahan yang menjadi tempat mereka ‘bermain’ selama beberapa hari ini, semua orang yang melihat Myungsoo terlihat begitu lega dan mengucapkan terima kasih padanya telah menyelamatkan Hyun Gi beberapa hari yang lalu. Setelah beramah tamah, ketiganya kembali membantu para petani bekerja.

“Jiyeon-ah, bisa bantu aku mengangkat ini?” ujar seorang ahjumma yang tampak kesusahan membawa sekarung benih padi.

“Ne ahjumma!” dengan semangat Jiyeon menghampiri wanita itu dan menggantikannya mengangkat karung itu.

Jonghyun segera menghampiri Jiyeon, berusaha menawarkan bantuan pada gadis itu. Myungsoo memanas begitu melihat bagaimana Jonghyun sibuk menarik perhatian Jiyeon dengan berbagai cara. Pria itu tanpa berpikir panjang langsung menghampiri keduanya seraya melempar tatapan setajam silet pada Jonghyun.

“Biar aku saja!” debat Myungsoo langsung merebut karung – karung itu.

Jonghyun menghela nafasnya tak terima dan langsung merebut karung itu dari tangan Myungsoo. “Aku saja!”

Mata Myungsoo menatap  Jonghyun tak percaya sebelum merebut karung itu lagi. “Aku saja!”

“Aku!” rebut Jonghyun lagi.

“Aku!” desis Myungsoo dan merebut karung itu lagi.

Jiyeon memijat pelan pelipisnya yang berdenyut sakit karena ulah dua pria dewasa yang bertingkah bak bocah umur lima tahun di depannya ini. Dengan wajah memerah marah, Jiyeon berteriak. “SHIKORO! Kalian ini kenapa? Biar aku saja, pergi kalian dari hadapanku!”

Dan karung bibit itu berakhir di tangan Jiyeon yang berjalan kearah para petani yang menatap ketiganya bingung. Sedangkan Myungsoo dan Jonghyun saling melempar tatapan membunuh lalu menyusul Jiyeon.

Ternyata aksi konyol keduanya tidak berhenti sampai disini saja, hal ini juga terjadi di peternakan tuan Kang. Karena mereka memang sejak kemarin mendapat tugas membersihkan kandang, Myungsoo dan Jonghyun terpaksa berusaha bekerja sama  membersihkan kandang ternak tuan Kang.

Mereka berusaha saling mengabaikan di awal – awal bekerja namun hal itu berakhir ketika mereka sedang membersihkan jerami. Ketika Myungsoo menyapu kearah kanan, Jonghyun menyapu kearah kiri, sehingga mereka bertemu di tengah – tengah kandang yang luas. Menyadari itu ujung sapu keduanya saling bertabrakan, mereka pun kembali melakukan peperangan konyol itu.

“Pergi kau! Aku akan menyapu kearah sana!” desis Myungsoo marah.

“Lalu menurutmu apa yang sedang kau lakukan? Lebih baik kau yang pergi, karena aku akan menyapu kearah sebaliknya!” balas Jonghyun tak mau kalah.

“Ke kanan lebih baik.”

“Menurutku ke kiri.”

Mereka terus menusuk – nusuk ujung sapu mereka sebelum akhirnya mereka saling melempar semua jerami yang sebelumnya akan mereka sapu.

Jiyeon memutuskan untuk membantu Myungsoo dan Jonghyun karena pekerja di bagian gudang hari ini sudah cukup padat. Namun betapa kagetnya Jiyeon begitu melihat pemandangan di depannya kini. Mulutnya tercengang tak berdaya dengan apa yang dilakukan dua pria dewasa itu.

Myungsoo dan Jonghyun yang sebelumnya terlihat rapi dan tampan kini tampak menyedihkan dengan pakaian yang terkena lumpur bercampur makanan babi serta jerami yang menempel di sepanjang tubuh mereka. Tangan mereka masih aktif saling menyerang dengan jerami yang sepertinya sudah mereka campurkan dengan lumpur, mereka juga masih sibuk berjuang di dalam tumpukan jerami—tanpa menyadari ekspresi wajah Jiyeon yang tampak mengerikan dengan tangan terkepal di sisi tubuhnya.

YA KIM MYUNGSOO, KIM JONGHYUN! NEO JUGGOSHIPHO, HUH!?”

.

.

“Besok kalian tidak usah membantuku lagi!”

Myungsoo dan Jonghyun hanya saling melirik sinis sementara Jiyeon terus memarahi mereka di depan, “Tingkah kalian berdua tidak ada bedanya dengan anak – anak balita, kalian tahu? Aosh, aku benar-benar malu! Sebenarnya kalian ini kenapa? Bertingkah aneh sejak kemarin, kalian memang dua pria aneh dan menyebalkan!”

“Myungsoo-ssi yang melakukannya dulu, Jiyeon-ah!”

Mata Myungsoo terbelalak tak terima. “Mwo? Ya, kau yang mencari permasalahan denganku duluan, bung!”

“Apa kau bercanda? Jangan memutar balikkan fakta!”

“Apa kau ingin kulempari jerami lagi, hah?”

See, Myungsoo-ssi yang melakukannya pertama sejak awal.”

Neo—“

“DIAM!” pekik Jiyeon dengan mata melotot tajam kearah keduanya, sontak Myungsoo dan Jonghyun segera menghentikan perdebatan mereka dan membuang wajah.

“Jadi sejak tadi aku memarahi kalian, kalian tetap bersikeras untuk saling menyalahkan satu sama lain? Astaga, aku benar-benar sakit kepala!” marah Jiyeon sambil memegangi pelipisnya lagi, “Lebih baik kalian diam sepanjang perjalanan, arasseo?! DIAM!”

Keheningan menyelimuti ketiganya hingga Jiyeon memutuskan untuk menatap sahabatnya lalu tersenyum kearah Jonghyun. “Walaupun kau sangat menyebalkan hari ini, tapi terimakasih untuk bantuannya. Pulanglah, sudah ada Myungsoo yang akan bersamaku sampai di rumah.”

Myungsoo mengangkat dagunya keatas sambil melirik Jonghyun dengan ekor matanya seolah berkata ‘aku-pemenangnya-bung-jadi-lebih-baik-kau-pergi-sekarang-atau-aku-akan-menendang-bokongmu’.

Jonghyun yang menyadari tingkah Myungsoo hanya tersenyum dalam hati lalu memegang bahu Jiyeon—yang ternyata sangat mempengaruhi Kim Myungsoo. “Okay, aku mungkin tidak akan besok untuk membantumu. Tapi jangan lupa kalau kita akan ke festival yang sering kita datangi bersama.”

MWO? Festival apa? Sebaiknya kau jelaskan dengan sangat jelas, Jonghyun-ssi.”

Menyadari kecemburuan dibalik pertanyaan Myungsoo, Jonghyun menyeringai bangga dan memutuskan untuk membuat pria itu semakin kesal dengannya yang memilih bungkam. “Sampai jumpa besok Jiyeon-ah!”

Kaki kanan Myungsoo sudah bergerak maju ketika melihat Jonghyun membawa Jiyeon masuk ke dalam pelukkan pria itu. Nafas Myungsoo memburu, hatinya terasa terbakar, tangannya terkepal keras melihat Jiyeon tampak santai dan menikmati pelukkan bermakna-lain-di-mata-Myungsoo itu.

Jonghyun menyeringai penuh kemenangan kearah Myungsoo lalu pergi dari hadapan mereka. Jiyeon masih tersenyum kecil sebelum matanya bertemu dengan mata Myungsoo yang menatapnya nyalang. “Mwol?”

“Kenapa kau membiarkannya memelukmu!?”

“Kenapa tidak?”

Ya, Park Jiyeon—“

Jiyeon mengibaskan tangannya di udara tanpa menoleh kearah Myungsoo. “Sudahlah, aku harus memasak untuk makan malam kita, lebih baik sekarang kita bergegas pulang.”

**

Sesuai dengan apa yang ia katakan, Jiyeon melarang keras Myungsoo maupun Jonghyun turut membantunya bekerja walaupun Myungsoo sudah memaksa gadis itu, well ini pertama kalinya Myungsoo kalah dalam hal bersikeras. Karena itulah, dengan kebosanan yang tak berujung Myungsoo mulai  mencari aktivitas yang membuat rasa bosan itu hilang dengan mengelilingi hanok yang menjadi tempat tinggal Jiyeon dulu. Hanok ini memang sudah tua, namun keindahan khas Korea tetap mendominasi setiap sudut ruangan rumah.

Myungsoo masuk ke sebuah ruangan yang dipenuhi dengan rak buku besar yang dipenuhi buku – buku berbagai ukuran maupun topik di dalamnya. Pria itu baru saja ingin pergi namun ia mengurungkan niatnya begitu melihat foto keluarga Jiyeon menggantung diatas sebuah rak yang dipenuhi album – album foto. Karena penasaran, ia pun mendekati rak buku itu dan mengambil salah satu album foto berwarna merah darah.

Ekspresinya melembut dengan seulas senyum menghiasi wajah tampannya begitu melihat foto Jiyeon kecil adalah objek yang pertama kali matanya tangkap ketika membuka album foto itu. Myungsoo menyeringai tipis lalu memutuskan untuk mengambil dua album lainnya sebelum duduk di salah satu busa yang sudah lapuk disana.

Pada halaman – halaman awal, Myungsoo menjumpai banyak sekali foto Jiyeon saat gadis itu masih bayi. Semua foto disana tertata rapi, memotret setiap tumbuh kembang istrinya dengan begitu detail beserta tulisan kecil dibawah setiap foto.

“Langkah pertamaku, yeay~!”

“Appa, jangan rebut biscuitku!”

“Ayo kejar eonnie, Jiyeon-ah~!”

“’Ma! Ma!’ harusnya eomma, sayang kkk~”

Myungsoo tersenyum geli melihat pipi tembam Jiyeon dengan kulit kemerahan khas bayi, mata gadis itu sejak dulu membuat orang merasa jatuh cinta saat pertama kali melihatnya. Semakin jauh Myungsoo membuka halaman, Jiyeon semakin besar dan terlihat sangat lucu dan menggemaskan di usia balitanya.

“Aigoo…appa akan membelikanmu permen lagi, uljima~”

“Jiyeon selalu senang dikelilingi para kelinci kkk~”

“Eomma, mandikan aku lagi!”

“ Jiyeon kami sangat cantik di perayaan ulang tahunnya yang ke-3!”

“Kim-chi~!”

Hati Myungsoo terasa sejuk melihat album foto pertama, matanya kini menatap album kedua dan tanpa berpikir dua kali langsung membukanya. Kini Jiyeon muncul dalam balutan seragam sekolah, sepertinya gadis itu sudah masuk ke tingkat jenjang Sekolah Menengah Pertama. Beberapa foto remaja Jiyeon yang polos namun terlihat manis terpampang dimana – mana walaupun tidak ada lagi tulisan – tulisan yang menjelaskan suasana. Jiyeon beberapa kali mengambil gambar untuk dirinya sendiri, dengan pose – pose khas remaja bersama teman – temannya. Rambut gadis itu pendek dan berponi, membuat pipi tembamnya semakin menonjol namun hal itu membuat Myungsoo tertawa kecil, terlebih sebagai penutupan dirinya disuguhkan foto Jiyeon dengan seragam kotak – kotak merah hitam menggigit bunga dan tersenyum bahagia kearah kamera.

Kini darah Myungsoo berdesir lembut begitu sosok Jiyeon dalam balutan seragam Sekolah Menengah Atas mulai bermunculan. Gadis yang sebelumnya terlihat tembam dan sedikit gempal tumbuh menjadi gadis cantik dengan rambut lurus hitam melewati bahu, kulit putihnya terlihat bersinar lembut dibalik seragam kuning yang membalutnya. Gadis itu juga terlihat lebih segar dengan rambutnya yang kini tak berponi, Jiyeon cukup sering berpose dengan baju hanbok bersama teman – temannya. Myungsoo tidak menyangka Jiyeon bisa secantik ini, atau hanya karena ia memang tidak pernah memperhatikan gadis itu?

Rona bahagia di wajah Myungsoo meredup begitu melihat foto Jiyeon dan Jonghyun yang terlihat sangat akrab dan bahagia terpampang disana.

“Aish jinjja, mengapa pria itu bahkan muncul disinI?” ujar Myungsoo jengkel dan langsung menutup album foto itu dengan paksa. Myungsoo pun memutuskan untuk keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi.

**

Matahari sudah mulai beranjak pergi ketika Jiyeon dan Myungsoo berjalan ke balai desa untuk menghadiri festival yang diadakan di Muju, Provinsi Jeolla Utara. Karena Mokpo berada di Jeolla Selatan, warga desa—termasuk Jiyeon, Myungsoo, dan Jonghyun—menyewa lima buah bus besar untuk mengangkut seluruh warga desa kesana. Mengingat perjalanan kesana cukup jauh, mereka harus berangkat dari sore agar sampai disana tepat waktu.

Jiyeon sejak tadi tidak bisa duduk diam, ia gelisah karena belum melihat Jonghyun sejak tadi. “Myungsoo-ya, apa kau lihat Jonghyun?”

Dengan acuh, Myungsoo hanya mengangkat kedua bahunya tak peduli dan kembali menyibukkan diri dengan bacaan di depannya. Jiyeon mencibir kesal sebelum bersedekap tak tenang memikirkan sahabatnya itu. Namun naas, bahkan sampai bus itu berjalan meninggalkan desa, ia masih tidak melihat kehadiran Jonghyun dimana – mana. Jiyeon berusaha berpikir positif dan memutuskan untuk tidur.

Rembulan sudah memancarkan sinar keperakannya begitu bus – bus itu sampai di tempat diadakannya Muju Firefly Festival, yaitu festival di mana kunang-kunang bersinar dengan cantiknya menghiasi kegelapan malam.

Jiyeon masih sibuk mencari – cari sosok Jonghyun bahkan ketika semua penumpang bus sudah turun. Myungsoo mencibir, “Sepertinya ia tidak datang, sudahlah ayo kita menikmati festival ini.” Jiyeon mendesah kecewa sebelum akhirnya mengikuti Myungsoo yang sudah berjalan dulu.

Disepanjang jalan, banyak sekali pedagang yang menawarkan berbagai macam barang, penjual jajanan malam, photobooth hanbok, perform para artis yang sengaja diundang untuk mengisi acara, dan anak – anak kecil yang tampak memadati tempat bermain di taman yang disediakan disana, bahkan ada beberapa kendaraan seperti becak memenuhi area festival.

“Kau terlihat sangat gembira, Kim Myungsoo-ssi,” kata Jiyeon begitu mendapati wajah Myungsoo berseri – seri saat melihat sekelilingnya.

Myungsoo tertawa segan. “Aku tidak pernah pergi ke festival – festival seperti ini. Kukira acara –  acara seperti ini membosankan”

“Kenapa kau berpikir seperti itu?”

Well…karena aku akan pergi sendirian.” Jawab Myungsoo tanpa ragu.

Sejenak Jiyeon merasa kasihan pada Myungsoo, pria ini terlihat begitu kaku dan tak tersentuh, namun sebenarnya ia hanya kesepian karena kehilangan ibu yang sangat ia cintai. Jiyeon tersenyum lembut sebelum meraih jemari Myungsoo, ia akan membuat Myungsoo tersenyum malam ini. “Akan kutunjukkan cara bersenang – senang di sebuah festival, kajja!”

Jiyeon mengajak Myungsoo mencoba berbagai macam jajanan pinggir jalan khas Korea, seperti tteobokki, odeng, sundae, dan bbopki.

“Apa ini enak?”

Jiyeon mendengus pasrah mendengarnya, “Ya! Kau orang Korea tapi bertingkah seperti ini pada tteobokki? Yang benar saja, cepat makan!”

Myungsoo memejamkan mata menikmati enaknya kue beras itu sebelum mengambil makanan lainnya, kali ini ia mengamati odeng di tangannya. “Apa ini namanya? Oreng? Oneng? Onteng? Oteng—“

“Odeng, Kim Myungsoo! Kau akan rugi jika tidak memakannya.”

“Hmm…ini enak, oh dan ini…“ Myungsoo mengerutkan keningnya ragu melihat potongan usus, hati, dan jantung babi berwarna hitam yang dililit dalam lidi ini, “K-kau yakin ini enak? Bentuk dan warnanya membuatku sedikit—“

“Demi Tuhan, cepat dimakan!” balas Jiyeon kesal dan langsung menjejalkan kue beras pedas khas Korea itu ke dalam mulut Myungsoo dengan paksa.

“Untuk penutupnya, makan ini,” Jiyeon menyodorkan permen krispi rapuh yang terbuat oleh larutan gula dan baking soda, “ini bbopki, kau pasti tidak pernah memakannya ‘kan? Cobalah,”

Setelah itu, mereka menghabiskan waktu dengan memainkan beberapa permainan tradisional yang disediakan. Disana ada berbagai pilihan permainan seperti baduk, yut, tuho, dan ddakji. Namun mereka memutuskan bermain tuho—permainan tradisional Korea melempar anak panah atau tongkat ke dalam sebuah tempayan dari jarak jauh.

Myungsoo dongkol melihat Jiyeon yang terus menerus meledeknya karena tidak pernah berhasil melawannya. Tujuh dari sepuluh tongkat ditangan Jiyeon sudah masuk ke dalam tempayan, sedangkan miliknya sejak tadi tidak pernah berhasil. “Ya, Park Jiyeon! Kau pasti berbuat curang, bermainlah dengan jujur!”

Ya, bilang saja kau tidak bisa melakukannya dan takut melawanku, dasar otak udang!”

Keu yeoja jinjja! Kau menantangku? Ara, ayo kita mulai dari awal dan lihat siapa pemenangnya!”

Jiyeon mengangkat dagunya dengan penuh percaya diri. “Keurae, mari kita buktikan siapa yang terbaik!”

Selesai bermain tuho—yang tentu saja dimenangkan oleh Jiyeon—mereka kini sibuk mengambil gambar disekitar lampion – lampion dengan berbagai bentuk unik, mereka juga mengambil foto dengan hanbok bersama – sama sebelum Jiyeon menyadari sudah waktunya acara puncak dari Muju Firefly Festival, yaitu munculnya kunang – kunang diatas jembatan.

“Sepertinya acara puncak akan segera dimulai, kalau begitu kita harus membeli jipangyi!”

“Apa itu?”

“Astaga, kau bahkan tidak tahu jipangyi ice cream?”

Dan keduanya pun membeli jipangyi ice cream, atau es krim yang terdapat dalam sebuah roti kering berbentuk tongkat yang berlubang. Myungsoo terlihat takjub dengan apa yang ia makan ini.

Jembatan yang selalu digunakan untuk memperlihatkan kunang – kunang itu sudah dipadati pengunjung ketika mereka sampai. Tepat saat lampu diseluruh area festival dimatikan, suasana mendadak riuh karena ribuan kunang – kunang yang dinanti mulai bermunculan, menerangi kegelapan malam dengan cahaya kekuningannya yang terlihat begitu cantik. Suara flazz kamera semakin terdengar dengan jelas saat mengabadikan moment indah ini, begitupun Jiyeon dan Myungsoo. Mereka mengabadikan kebersamaan mereka dengan senyum lebar.

“Cantik sekali,” desah Myungsoo penuh kekaguman.

“Selalu, festival ini adalah salah satu festival terbaik yang Korea miliki.”

“Apa kau sering kesini?”

“Aku sudah terlalu sering ke festival ini, tapi ini pertama kalinya aku pergi bersama suamiku.”

Myungsoo bisa merasakan jantungnya berdebar kencang mendengar perkataan Jiyeon. Dengan wajah kaku, Myungsoo menoleh kearah Jiyeon yang ternyata sudah menatapnya dengan senyum kecil. Hal itu semakin membuat Myungsoo bergerak gugup dan pria itu memilih berdeham singkat untuk mengatasinya.

Sedangkan Jiyeon memilih diam sambil tersenyum miris. Ia menyesal sudah mengatakan kalimat yang seharusnya tidak perlu ia ucapkan, bagaimanapun hubungan mereka selama beberapa hari ini berjalan baik…dan Jiyeon ingin menikmatinya sebisa mungkin, tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Karena saat mereka kembali ke Seoul, semua akan kembali seperti semula, seperti seharusnya.

Kini mereka tiba di penghujung festival, yaitu pelepasan lampion – lampion yang sudah diberi penerangan ke langit. Setiap pasangan maupun keluarga akan mendapat satu buah lampion dan spidol untuk menuliskan harapan yang ingin dicapainya.

“Kau dulu saja yang menulis harapanmu,” kata Myungsoo menyerahkan spidol di tangannya ke tangan Jiyeon.

“Oh baiklah, berarti kau yang akan membentuk lampion ini.” Jawab Jiyeon lalu mulai menulis harapan yang selalu menggantung di kepalanya akhir – akhir ini. Gadis itu memukul kepala Myungsoo cepat begitu pria itu mengintip, “YA! Jangan mengintip punyaku, babo!”

“Ish, bisakah kau berhenti mengeluarkan kekuatan badakmu itu?!”

Kini giliran Jiyeon yang mendapat omelan dari Myungsoo ketika gadis itu berusaha mengintip harapan suaminya, Myungsoo menekan kepala Jiyeon jauh – jauh sambil berusaha menutupi lampion berisi harapannya. “Jangan mengintip, yeoja aneh!”

“Dasar pelit!”

Setelah itu, Jiyeon dan Myungsoo bersama seluruh pengunjung yang telah selesai memegang masing – masing sisi dari lampion itu. Keduanya terlihat santai namun mereka terus berharap bahwa harapan yang mereka tulis benar – benar terkabul.

“Baiklah, para pengunjung sekalian! Sekarang, mari kita lepaskan lampion – lampion itu bersama harapan kita,” Myungsoo dan Jiyeon saling menatap dengan senyuman, “hana, dul, set!”

Tepat di hitungan ketiga, ribuan lampion berwarna merah, kuning, dan oranye mengudara di langit malam Jeolla, menerbangkan harapan dan impian mereka ke langit dengan senyum merekah di wajah mereka. Jiyeon dan Myungsoo memandang langit bertabur lampion dengan penuh kekaguman, mereka juga berharap harapan mereka akan dikabulkan.

Myungsoo mengalihkan pandangannya kearah Jiyeon yang terlihat begitu bahagia dan masih sibuk menikmati acara. Namun ia melihat jemari Jiyeon sibuk memeluk dirinya sendiri, menghalau angin malam yang sanggup membekukan siapapun. Entah ada dorongan apa,  namun Myungsoo mendekatkan diri kearah Jiyeon, melepaskan kancing jaket kulitnya lalu memeluk Jiyeon dari belakang.

Tubuh Jiyeon menegang dalam pelukkan hangat Myungsoo, lidahnya terasa kelu, kupu – kupu di perutnya seakan berterbangan dengan bebas membuat kulit wajahnya kembali merona malu. “M-Myungsoo-ssi, a-apa yang kau lakukan?”

“Aku tahu kau kedinginan tapi masih ingin menikmati ini semua, karena itulah aku membantumu.”

“A-aku…gomawo,” gumam Jiyeon dalam hembusan nafasnya, Myungsoo hanya tersenyum penuh kasih dan meletakan kepalanya diatas kepala Jiyeon dengan mata terpejam, ia tidak tahu posisi seperti ini dapat membuat hatinya terasa damai.

“Jiyeon-ah?”

“Ya?” Jiyeon langsung mengumpat dalam hati, kecepatannya menjawab seakan menunjukkan ia memang menunggu Myungsoo bicara padanya sejak tadi.

“Terimakasih…sudah menunjukkan dunia yang tak pernah kutemui.”

“E-eo?”

Myungsoo tanpa sadar mengetatkan pelukannya dengan wajah berseri – seri. “Aku tidak pernah merasa selepas ini sepanjang beberapa tahun terakhir, menikmati dunia di sekelilingku, aku sudah lama tidak merasakannya. Karena itu, aku harus berterimakasih padamu.”

Jiyeon hanya menunduk malu tanpa mengucapkan apa – apa. Keduanya menikmati festival itu yang ditutup oleh penampilan kembang api di antara lampion – lampion yang berterbangan cantik di angkasa.

**

Malam itu keduanya tidak bisa tidur. Kejadian yang sebelumnya mereka alami berputar seperti potongan film secara terus menerus. Akhirnya, Jiyeon melangkah masuk ke ruangan baca, berhubung malam ini adalah malam terakhir ia ada di desa ini. Jiyeon menyeringai melihat tumpukan album foto yang lupa Myungsoo letakkan sebelumnya lalu membereskan semuanya.

Jiyeon pun memberanikan diri untuk mengambil album lainnya yang berisi foto keluarganya. Sesekali ia menghembuskan nafasnya yang terasa berat melihat betapa bahagianya keluarganya dulu, dimana masih ada ibunya yang selalu menghangatkan suasana. Kini, semua kenangan itu terasa begitu mencekiknya dan Jiyeon pun tidak tahan untuk tidak menangis. Ia berusaha keras untuk mengikhlaskan kepergian sang ibu namun dadanya seakan semakin tertusuk penuh kepedihan.

“Ya, neo waegurae?”

Jiyeon terlonjak kaget ketika Myungsoo sudah berdiri di depannya dengan wajah khawatir, “Kenapa kau menangis?”

Jiyeon hanya menggeleng namun pandangan matanya menuju kearah fotonya dan sang ibu yang sedang tersenyum manis di sawah. Seolah mengerti, Myungsoo pun menarik Jiyeon keluar dan membawanya ke ruangan madang di hanok itu. Myungsoo memeluk tubuh Jiyeon dengan erat, mengelus punggung dan rambut gadis itu dengan lembut seraya mengucapkan kalimat – kalimat untuk menenangkan.

Mianhae, tangisanku pasti membuatmu terbangun” sesal Jiyeon begitu tangisnya sudah reda.

“Tidak juga, aku memang tidak bisa tidur malam ini. Memikirkan besok kita akan kembali ke rumah membuatku senang sekaligus sedih,”

Jiyeon terkekeh pelan mendengarnya tanpa berkomentar. Sejenak keheningan kembali menyelimutinya sampai Myungsoo membuka suara. “Aku tahu bagaimana rasanya merindukan sosok yang kau cintai, aku pun sangat merindukan ibuku.”

“Kau sudah mendapatkan sosok ibu pengganti, Myungsoo-ya.”

“Tidak,” Myungsoo mendesis dengan penuh penekanan, “Dia bukan ibuku, dan tidak akan pernah menjadi ibuku.”

Jiyeon terdiam melihat ekspresi terluka yang terpancar jelas di wajah Myungsoo, ia menahan keinginan membelai wajah tampan itu. “Kenapa kau sangat membenci ibu tirimu? Kurasa dia adalah ibu yang baik.”

“Kau tidak mengerti. Wanita itu dan ayahku…mereka tidak pantas disebut manusia lagi setelah apa yang mereka lakukan pada kami, aku membenci keduanya.”

Jiyeon kembali tercengang mendengar nada suara Myungsoo yang dengan jelas mengatakan ia begitu membenci Tuan dan Nyonya Kim, dan aura dingin itu pun tak terelakan lagi. Melihat itu, Jiyeon tahu mereka harus segera mengganti topik, “Tapi walaupun ibuku sudah tiada, aku mendapat sosok ibu dari Jonghyun eomma, beliau selalu memperlakukanku dengan baik.”

Myungsoo berdecak sinis. “Ck, bisakah kau tidak membahas pria itu dengan wajah berbinar? Aku muak melihat wajah jelekmu itu!”

Jiyeon menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, lalu mendelik marah kearah Myungsoo. “Siapa yang kau bilang jelek, huh?!”

Neo! Kau adalah wanita terjelek di muka bumi ini!” ungkap Myungsoo sambil menjulurkan lidahnya keluar penuh ejekkan.

Dengan kesal, Jiyeon melempar bantal – bantal yang ada di sekitar mereka kearah Myungsoo yang hanya tertawa mendapat serangan itu. “Kau memang menyebalkan! Jonghyun saja selalu memujiku walaupun kami sudah berakhir!”

Jiyeon mengerjap sadar dengan apa yang ia katakan, reflek kedua tangannya segera menutup multunya rapat – rapat sementara Myungsoo masih berusaha mencerna kalimat Jiyeon dengan baik. “Chakkaman, kalian sudah berakhir? Apa kalian pernah…”

Jiyeon membuang mukanya untuk menghindari tatapan penuh menyelidik Myungsoo. “Katakan padaku, sebenarnya ada hubungan apa kau dengan Jonghyun?”

 

Jiyeon mengerling kearah Myungsoo dengan ragu, namun sepertinya tidak ada gunanya menutupi semuanya. “Dia…mantan kekasihku.”

 

MWO? D-dia…mantan kekasihmu?”

Jiyeon mengangguk dengan enggan tanpa memandang wajah Myungsoo, di suatu titik ia merasa bersalah menyembunyikan hal ini dari suaminya.

“Kenapa kau tidak pernah memberitahuku tentang ini, huh?”

“Kurasa ini bukanlah hal yang penting, memiliki mantan pacar bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan.”

“Tapi setidaknya kau bisa menjaga sikap jika berdekatan dengannya! Bagaimana mungkin kau berpelukkan dan melakukan hal-hal berdua dengan mantan pacarmu saat suamimu ada di depanmu!?”

Jiyeon mengerjap heran, ada apa dengan pria ini? “Neo waegurae? Aku tidak mengerti kenapa kau begitu marah karena masalah yang bahkan tak pernah kupermasalahkan jika kau pelakunya!”

“Maksudmu?”

“Memang kau pernah menceritakan mantan pacar maupun ‘wanitamu’ padaku? Tidak ‘kan? Lalu kenapa kau marah aku tidak menceritakan tentang Jonghyun? Aish, dasar pria aneh! Molla, lebih baik aku tidur saja.”

Sambil menggerutu dengan wajah kesal, Jiyeon bangkit berdiri dan langsung berjalan menuju kamarnya tanpa mengindahkan Myungsoo yang meneriaki namanya sejak tadi. “Ya…ya..YA! PARK JIYEON!”

Keu yeoja jinjja…apa aku salah marah karena dai tidak menceritakan apapun padaku? Aish…”

Namun ketika Myungsoo akan masuk ke kamarnya, ia mendengar ketukan pintu rumahnya. Dengan jengkel sekaligus mengantuk, Myungsoo pun memutuskan untuk membuka pintu rumah mereka. Namun ia kaget melihat sosok yang membuatnya sangat cemburu—walau ia tidak mau mengakuinya—berdiri tepat di depannya dengan senyum hangat miliknya.

“Mau apa kau kesini? Apa kau tidak tahu ini waktunya untuk tidur?”

Jonghyun kembali memasang senyum tak berdosanya, “Aku ingin bicara dengan—“

“Istriku sudah tidur, lebih baik kau pergi!”

Jonghyun segera menahan pintu yang akan ditutup Myungsoo sambil menatap Myungsoo dengan serius, sontak hal itu membuat Myungsoo semakin emosi. “Neo mwoya? Lepaskan tanganmu!”

“Tujuanku kesini bukan bertemu dengannya, tapi bertemu denganmu.”

Myungsoo menghela nafas sebelum membuka pintu rumah itu dengan lebar, dagunya terangkat menerima ‘tantangan’ itu. Keduanya pun keluar dari rumah dan memutuskan untuk membicarakan apapun yang ingi dikatakan Jonghyun.

**

Kepulangan Jiyeon dan Myungsoo diakhiri dengan kesedihan dari para penduduk desa, mereka berbondong – bondong membawakan keduanya berbagai macam hasil kebun atau laut mereka, terutama tuan Kang dan tuan Song yang sangat berterimakasih pada mereka. Alhasil, rencana mereka pulang di pagi hari pun mundur hingga sore hari.

“JONGHYUN-AH!”

Jiyeon langsung berlari memeluk Jonghyun setelah sejak kemarin ia terus mencari keberadaan sahabatnya ini. “Kenapa kau tidak datang ke festival itu?”

“Tidak, aku membiarkan seseorang menghabiskan waktu dengan pasangannya.”

Mendengar itu, sontak Jiyeon merona malu dan Jonghyun hanya tertawa melihatnya. “Mwoya…”

Jonghyun menatap wajah cantik Jiyeon sekilas sebelum mebawa gadis itu kembali tenggelam dalam pelukkannya, ia membelai kepala Jiyeon lembut. “Kabari aku jika sudah sampai di Seoul,”

“Eo? Kau tidak pulang sekarang?”

“Tidak, aku masih disini sekitar dua hari lagi.”

Arraseo, sepertinya aku harus segera pergi karena…hmm…Myungsoo—“

Jonghyun menggeleng tegas. “Tidak, dia tidak akan marah kau tenang saja. Kami sudah berdamai.”

Jiyeon mengangkat sebelah alisnya dengan bingung lalu menatap Myungsoo yang justru melempar senyum ramah kearah Jonghyun. Astaga, sebenarnya ada apa dengan mereka berdua? Kemarin mereka bertengkar, sekarang mereka terlihat sangat bersahabat. Pria.

Myungsoo memutuskan untuk naik ke bus lebih dulu dan membiarkan Jiyeon dan Jonghyun berbincang sedikit lebih lama lagi. Jiyeon dan Jonghyun kembali berpelukkan, namun ketika Jiyeon baru mencapai pintu bus, Jonghyun kembali menarik tangan gadis itu. “Jonghyun—“

“Kau harus bahagia bersamanya, arasseo?”

Pupil mata Jiyeon bergerak mencari jawaban dari pancaran mata Jonghyun yang menyiratkan ketulusan itu, entah apa maksud dari ucapan sahabatnya ini, namun Jiyeon memilih untuk tersenyum dan merangkul bahunya sayang. “Tentu saja, aku…pasti bahagia.” Jawab Jiyeon dengan nada tercekat—tanpa menyadari Jonghyun menyadarinya.

.

.

A/N: Disarankan untuk memutar lagu Love Song – Sungjae BTOB (Who Are You: School 2015 OST) karena scene ini ada karena lagu ini^^

Sepanjang perjalanan Jiyeon memusatkan perhatiannya pada pemandangan alam yang terlukis indah dibalik kaca jendela bus ini. Gadis itu merasa senang bisa kembali ke kampung halamannya, setidaknya tinggal disana selama lima hari membuatnya terkenang masa lalu dimana hanya kenangan indah saja yang tergambar. Dan mengingat jika ia mengenangnya bersama Myungsoo membuat hatinya berdesir penuh kebahagiaan, entah karena apa.

“Kau terlihat sedih sekali meninggalkan tempat ini.”

Jiyeon menoleh kearah Myungsoo yang ternyata sudah memandanginya. “Begitulah, terlalu banyak kenangan indah di rumah itu.”

“Apa kenangan kita selama lima hari disana termasuk dalam kenangan indah itu?”

Sontak Jiyeon terbelalak gugup mendengarnya, begitupun dengan Myungsoo yang mengerjap tak menyangka ia akan mengatakan kalimat ambigu itu. Keheningan bercampur makna menenangkan jantung yang berdetak lebih cepat kini kembali menyelimuti aura diantara keduanya sebelum Jiyeon kembali membuka suara. “T-tentu saja…b-bagaimana pun hanya kau satu-satunya orang yang kutarik secara resmi ke rumahku.”

“Woah, jadi bahkan aku mengalahkan mantan pacarmu jika berurusan dengan kenangan di dalam rumah itu, keuji?”

“Ya, kau benar.” Ujarnya seraya tertawa kecil.

Hati Myungsoo menghangat mendengarnya, sekali lagi gadis itu membuatnya merasakan perasaan bangga dan gembira dengan alasan yang tidak masuk akal. Mendengar dirinya dan Jiyeon memiliki kenangan yang tidak pernah Jiyeon alami dengan pria lain membuatnya seakan memenangkan piala berskala International. Ia tidak mau menerka apa maksud dari perasaan ini, namun ia tahu… apapun alasan gadis itu membawanya kesini, kenangan yang ia dapatkan di tempat ini bersama Park Jiyeon adalah kenangan yang akan ia kenang yang tak akan pernah ia lupakan.

Pria itu meletakkan kepalanya pada salah satu bahu Jiyeon yang sontak membuat tubuh gadis itu mendadak menegang. Debaran jantung Jiyeon berdebar kencang dan hatinya berdesir mengirimkan getaran-getaran kecil ke sekujur tubuhnya, menimbulkan kehangatan yang menyenangkan membanjiri seluruh tubuhnya.

“Ah, akhirnya aku mendapat sandaran empuk,”

Dengan gugup Jiyeon berusaha menyingkirkan kepala Myungsoo, “Y-ya n-neo m-mwohae? Menyingkirlah!”

Namun begitu Jiyeon berhasil menyingkirkannya, Myungsoo justru kembali ke pelabuhan pundak Jiyeon dan tangannya kini berhasil memeluk pinggang Jiyeon dengan manja. “Aku ingin tidur.”

“La-lalu mengapa kau tidur di bahuku!?”

“Hmm…” pria itu bergumam pelan saat matanya perlahan mulai menutup. “Bahumu terasa hangat, membuatku merasa nyaman.”

Serambi-serambi kecil dalam hati Jiyeon kini di terangi oleh cahaya pelangi yang begitu indah. Kupu – kupu berterbangan di dalam perutnya ketika rambut halusnya sesekali menggesek lekukkan leher jenjangnya. Myungsoo tersenyum kecil sebelum kembali menggumamkan kalimat yang membuat Jiyeon semakin berdebar. “Aku tidak tahu ternyata tidur dalam posisi seperti ini rasanya  sangat menyenangkan.”

Jiyeon tidak dapat mencegah dirinya sendiri untuk tidak memikirkan perkataan Jongin dua bulan lalu,

“Saat pria itu jatuh cinta, kau tidak akan pernah menduga tingkah manis apa yang akan kau dapat darinya.”

Mata Jiyeon langsung membulat pebuh penolakkan. Tidak! Apa yang sebenarnya kau pikirkan Park Jiyeon? Kau…tidak mungkin berpikir kalau Myungsoo mulai mencintaimu ‘kan? Aigoo, jangan membuat dirimu semakin merana karena harapan itu, batin Jiyeon menyuarakan pemikirannya sambil menatap Myungsoo yang kini sudah tertidur lelap disampingnya.

Tapi mengapa sikap Myungsoo perlahan semakin berubah padanya? Apa ia sudah berubah menjadi pribadi yang dulu?

Sementara Jiyeon sibuk memikirkan pergulatan batinnya, Myungsoo diam-diam tersenyum tipis dan mengeratkan pelukannya pada tubuh istrinya. Ia tidak akan membiarkan pria lain merasakan kehangatan tubuh ini, tidak akan.

.

.

A/N: Tolong baca pengumuman yang saya tulis di A/N setelah chapter ini selesai, terima kasih atas perhatiannya. Selamat membaca lagi^^

.

.

Namun siapa sangka kebahagiaan yang dialami keduanya harus berakhir saat mereka tiba di Seoul?

Dengan kondisi tubuh letih, Myungsoo benar – benar tidak menyangka ia akan melihat Luna kini menatapnya dengan ekspresi penuh kelegaan dan tanpa permisi langsung memeluk tubuhnya. Myungsoo jelas kaget, dan ia pun berusaha melepaskan pelukannya ketika menyadari Jiyeon mengamati mereka di tempat tidak tahu harus berbuat apa.

Gadis itu memilih bungkam dan meneruskan perjalanannya menuju penthouse keduanya, berusaha keras untuk melupakan fakta bahwa Myungsoo memang tidak mencintainya. Ia hanya terlalu berharap pada pria itu. Ia seharusnya sadar dirinya sangat tidak pantas dicintai oleh pria yang menjadi idaman banyak wanita seperti Kim Myungsoo.

“Myungsoo-ya, kau kemana saja selama ini? Aku terus menghubungi ponselmu tapi ponselmu selalu mati.” tanya Luna.

“Aku pergi dengan istriku dan ponselku…hmm…rusak, ya rusak.” dustanya.

“Oh geurae? Tapi mengapa—“

“Aku lelah Luna, bisakah kita membicarakannya besok saja?”

Hajiman—“

Annyeong~” tanpa menunggu balasan Luna, Myungsoo segera melesat masuk ke dalam bangunan apartement itu dan berlari menuju penthousenya, satu-satunya hal yang ia pikirkan saat ini adalah Jiyeon dan perkataan Jonghyun kemarin malam.

“Jiyeon, Jiyeon-ah? Kau sudah tidur?” tanya Myungsoo dibalik pintu kamar Jiyeon.

Jiyeon mendengarnya, namun ia memilih untuk diam dan mengistirahatkan tubuh dan kepalanya, besok ia harus kembali menguatkan pertahanannya kembali, bagaimanapun Myungsoo kembali bebas melakukan apapun.

Myungsoo tercenung selama beberapa detik, entah kenapa ia merasa bersalah dengan istrinya. Ia ingat ekspresi tercengan Jiyeon ketika melihat Luna memeluknya. Sungguh, ia bahkan tidak mengerti mengapa Luna bisa disini.

Myungsoo berjalan ke kamarnya sambil mengingat semua perkataan Jonghyun kemarin malam, yang dengan jelas mengingatkannya untuk menjaga Jiyeon.

Flashback

 “Sejujurnya, aku melakukan semua itu hanya untuk melihat reaksimu.”

Kening Myungsoo mengerut samar. “Apa maksudmu?”

Jonghyun membuang nafasnya sambil memandangi bintang – bintang yang bersinar diatas sana. “Aku hanya ingin tahu apa kau tertarik dengan Jiyeon atau tidak setelah gadis itu menceritakan bagaimana kalian bisa terikat dalam sebuah pernikahan. Dan melihat sikapmu padaku, aku bisa bernafas lega.”

“Kenapa kau bisa bernafas lega?”

“Karena setidaknya suaminya…walaupun terlihat membencinya, namun jauh di dalam lubuk hatinya mulai menerima kehadiran Jiyeon.”

Myungsoo terbelalak mendengarnya, bagaimana mungkin Jonghyun bisa menarik kesimpulan tentang perasaannya pada seorang gadis? “Kau tidak mengenalku,” desis Myungsoo.

Jonghyun hanya terkekeh kecil mendengarnya. “Aku memang tidak mengenalmu, tapi aku masih seorang pria, Kim Myungsoo-ssi. Dan sebagai seorang pria, aku tahu apa yang seorang pria rasakan terhadap suatu kondisi, misalkan jatuh cinta.”

“A-aku tidak jatuh cinta dengannya.” Tandas Myungsoo skeptis.

“Well, kalau begitu aku akan kembali menjadikannya milikku.”

Myungsoo tersenyum sinis. “Wae? Kau ingin mengenang kisah cinta lamamu dengannya?”

“Wow, aku terkejut sekali kau tahu tentang hubungan masa laluku dengannya, Myungsoo-ssi.”

“Tapi tidak…sekarang ia sudah resmi menjadi istriku, tidak ada pria yang boleh mendekatinya lagi.”

 “Kau tipikal pria yang posesif dan Jiyeon keras kepala, kalian memang menarik.”

Kini Myungsoo tidak mengelak melainkan memilih diam dan ikut menatap langit malam. Keheningan yang sempat terjadi selama beberapa detik dipecahkan oleh suara bass Myungsoo. “Aku tidak bisa menyimpulkan apapun sekarang, tapi…aku akan berusaha membuatnya bahagia, selama ini aku selalu menyusahkan hidupnya dengan semua sikap menyebalkanku. Tapi entah mengapa, untuk pertama kalinya aku ingin kembali seperti dulu…hanya karena kehadirannya.”

Jonghyun tersenyum penuh arti. “Kau sudah menyukainya, jangan mengelak lagi.”

“Sudah kubilang aku belum bisa menyimpulkan apapun”

“Baiklah, tapi aku mohon satu hal padamu, Myungsoo-ssi. Tolong buat Jiyeon tersenyum setiap harinya, selama ini hidupnya dililit oleh segala beban berat yang membuatnya tak pernah memikirkan kebahagiaannya sendiri. Jika kau mengenalnya lebih jauh, kau akan menemui pribadi Suzu yang sebenarnya. Bisakah kau berjanji sesama pria padaku untuk menjaga perasaannya?”

“Tentu, kau bisa memegang janji sesama pria ini.”

End of Flashback

Myungsoo hanya menatap langit – langitnya dengan hati resah. Bahkan belum sampai 24 jam ia sudah melanggar janjinya sendiri, ia sudah melukai Jiyeon lagi untuk kesekian kalinya. Namun tekadnya saat ini hanya satu…ia akan berusaha membuat Jiyeon bahagia bersamanya, sama seperti gadis itu membuatnya merasa nyaman hanya berdekatan dengannya. Ia akan menepati janjinya pada Jonghyun sebagai sesama pria—yang memiliki perasaan khusus pada Park Jiyeon.

Pria itu sudah setegah tidur ketika ponselnya kembali berbunyi. Myungsoo mengeram marah ketika melihat siapapun-orang-yang-meneleponnya dengan tidak sopan menelepon di waktu seganjil ini.

“NUGUYA!?”

“Bujangnim…mianhamnida, saya—“

“OH WAE? Apa kau tahu sekarang jam berapa huh?!”

“Joesonghamnida bujangnim, ta-tapi saya harus segera memberitahu anda tentang ini.”

“Cepat beritahu!”

“Se-sekretaris anda mengundurkan diri secara mendadak tanpa meninggalkan dokumen apapun.”

“MWO? Lalu bagaimana dengan Rapat Umum Pemegang Saham minggu depan?! A-apa kau sudah mendapat penggantinya?”

“I-itulah alasan saya menghubungi anda sejak beberapa hari yang lalu bujangnim, kami belum mendapat penggantinya…”

Myungsoo menghela nafasnya kasar lalu memijat pelipisnya sekilas, ia benar – benar tidak tahu apapun dengan perkembangan info kantornya mengingat selama lima hari ponselnya ditahan oleh Jiyeon, dan berita mengejutkan ini datang di pagi buta seperti sekarang.

Namun beberapa detik setelahnya Myungsoo tersenyum ketika mendapat sebuah ide yang sangat cemerlang, ia yakin ini jalan terbaik untuknya.

“Kalian tidak perlu khawatir, sepertinya…aku sudah menemukan calon pengganti sementara sekretarisku.”

“Ye, bujangnim? Secepat itu?”

– To Be Continue –

A/N: Mohon dibaca secara keseluruhan.

FF ini bakal aku jadiin cerita di wattpad loh temen, dan tentunya nama cast-nya aku ubah supaya yang non-kpopers pun bisa baca^^ aku rencananya mau bikin versi bahasa inggrisnya,m ohon dukungannya. Yang punya wattpad bisa add aku @kkezzgw. Dan bagi yang mau bertanya soal FF ini bisa hubungi author via ask.fm ya^^

*click the picture*

Such a long chapter, isn’t it? Kkk~ okay jadi gini nih ya, sebenernya ini FF tuh idenya lancar TAPI sialnya draft FF ini tuh ilang semua, padahal draft itu udah kubikin sampe chapter 16 T___T jadi mau gak mau aku harus mengingat2 dulu apa yang udah kutulis disan dan beginilah jadinya;;; semoga kalian suka deh. Dan soal chapter ini kalo emg kepanjangan sorry bgt ya, sebenernya author pengen dibelah 2 tapi kayaknya kurang sesuai dan terlalu mengulur alur jadi bertele-tele banget.  Jadi beginilah jadinya, itung2 panjang hadiah dan permintaan maaf author karena lama bgt keluarnya ya kan?

Scene yg di bus itu terinspirasi dari adegan City Hunter episode 4>< aduh jadi throwback MinMin /galau/ dan untuk suasananya bisa kebangun dalam imajinasi karena lagunya kang Gong Taekwang>< huhuhu #TeamTaebi /plak

Nah, sekarang si Jonghyun udah nongol nih, apa masih ada karakter yang belum nongol? WKWKWK ada beberapa yang sadar dan mempertanyakan kapan dia muncul? Ayo tebak siapa>< dia nongolnya masih agak sedikit kurang lebih/? Lama nih, mohon bersabar, karena konflik belum dimulai /alah/

Untuk next chapter berhubung lagi liburan panjang author usahain bisa upload 2 – 3 chapter ya>< makanya doain buku draft author ketemu ya semuanya, kalo buku itu ketemu mah bablas agine hajar terus lol!

SERIUS BENERAN DEH DOAIN BUKU DRAFT AUTHOR KETEMU WUHAAA AUTHOR GALAU BANGET SUER T_____T KARENA ITU MOHON DOANYA JANGAN MENDESAK TERUS, AUTHORNYA GALAU NIH HIKS T_____T

Oh, Selamat menjalankan ibadah Puasa bagi yang merayakan ya, walaupun aku gak merayakan, tapi mohon maaf sebesar – besarnya kalo ada salah^^

Oke, kayaknya author yang satu ini udah terlalu bawel ye-_- okelah, see you next time! :* bye-bye readersku, terimakasih sudah menyempatkan baca FF abal ini muah!

88 responses to “(Chapter 9) Belle in the 21st Century – Mokpo in Love

  1. serius aku puas banget baca chapter ini😀 panjang dan yg terpenting ga bosenin😀 scene myungyeon nya kawaii sangaaaaattttt😀 aku suka aku suka😀
    woah jonghyun perhatian banget ya dia sebagai ‘mantan’ kkkk suka deh gaya lo mas =))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s