High School (Chapter 2)

FF Highschool

This story belongs to brownpills.

Romance, Schoollife, Friendship I Chaptered I PG-14

Cast by Kim Myungsoo, Park Jiyeon, Jeon Jungkook, Bae Suzy, Jung Krystal

Pure of mymind. Inspired of some problems.

Let me see~

.

Ada sebuah dunia kosong di dalam hatiku, selamatkan aku.

Aku ingin mengulang, aku ingin mengulang, aku ingin mengulang.

Mata kesepian terjebak dalam kegelapan.

Apakah tidak ada seseorang yang memegang tanganku?      

Aku ingin mengulang, aku ingin mengulang, aku ingin mengulang.

-High School

Jiyeon’s PoV

 

Pertama kali dalam hidup aku merasakan kehangat tersalur melalui pergelangan tanganku. Dua kehangatan yang menyatu disaat angin musim gugur berhembus mengisi celah di antara kami ditambah dedaunan yang berguguran.

“Lepaskan,” titah Myungsoo.

Bukannya menuruti perintah itu, Jungkook justru mengeratkan cengkramannya padaku. Sorot matanya membalas sorot mata elang milik Myungsoo. Bahkan ia tersenyum meremehkan.

YA JEON JUNGKOOK!”

Tepat disaat itu aku menepis genggaman keduanya. Melepaskan diri dengan kasar sambil menjaga jarak dari kedua manusia ‘buas’ itu.

“Kalian ingin mempermalukanku?”

Pertanyaan itu keluar dengan sinisnya dari mulutku. Sambil melirik pedas dan mengedarkan pandangan.

Hampir kaum muda yang berlalu lalang di taman itu memusatkan perhatian pada kami. Tidak jarang mereka berbisik sesuatu yang belum tentu kebenarannya.

Myungsoo dan Jungkook pula segera menyadarinya. Jungkook menghela nafas berat. Sedangkan Myungsoo sedikit tidak peduli, rupanya ia benar-benar terburu.

“Ikuti aku,” ucap Myungsoo lebih pelan.

Kedua alisku masih berkerut. Mulutku terkatup rapat. Wajahku menoleh kepada Jungkook. Pria itu memasang ekpresi datar. Aku kembali bersisitatap dengan Myungsoo sambil menganggukan kepala.

.

.

MWOYA?!”

“Bantulah kami, Jiyeon.”

Ne. Kami sangat membutuhkanmu.”

“Sulit menyelesaikan soal fisika ini.”

Sepasang mataku terpejam. Bibirku sedikit menggeram melihat tiga orang pria yang berada di prestasi paling bawah sedang memohon padaku.

Kepalaku menoleh cepat pada Myungsoo. Pria yang membawaku kemari tengah menyandarkan tubuh di tembok batu bata sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.

“Kau membawaku ke gudang bekas ini, untuk mereka?” tanyaku pedas.

“Itu benar.”

YA!”

“Jiyeon-a!” salah satu menyela bentakanku. Minho memasang wajah memelas, “Tidak bisakah kau mengajari kami? Nilai ulanganmu tertinggi di kelas.”

Mendengarnya hanya membuatku mendecakkan lidah.

“Lagian apa susahnya mengajari kami,” ungkap namja berkulit cokelat, Kai.

“Kami harus melewati remidi kali ini dengan sukses,” yakin Tao, pembuat onar di kelas.

“Cari saja orang lain,” ujarku seraya membalikkan tubuh.

Tidak terima teman-temannya diabaikan, Myungsoo menghadang jalanku dengan tubuhnya.

“Minggir.”

Ketika aku menusuk manik mata hitam kelamnya, ada desiran di hati.

“Tidak ada orang lain,” jawabnya.

Aku mendecakkan lidah, “Aku sibuk, sebentar lagi kursus matematika dimulai.”

“Bolos saja.”

Neo micchesseo?! Jika aku melewatkan kursus ini aku akan ketinggalan materi baru!”

Meski tubuh pria itu berat, aku menyingkirkannya dengan emosi. Menghentakan kaki meninggalkan mereka yang terpatung di tempat. Aku harus hadir di kursus agar nilaiku semakin meningkat.

“Aku benci gadis-gadis rajin.”

Itulah kalimat yang masih bisa kutangkap dari suara Kai.

—o0o—

Satu per satu nama murid dibacakan oleh pria yang cukup muda untuk dijadikan guru. Guru Kim adalah wali kelas 1-5. Ia memberikan selembar kertas kepada muridnya yang berjalan ke depan. Termasuk aku.

“Hasil ulangan kalian cukup baik. Yang belum bisa mencapai nilai rata-rata, tingkatkan! Yang sudah melebihi, pertahankan!”

Bunyi bel menggema di seluruh penjuru kelas. Membuat Guru Kim mnelangkah keluar kelas setelah pamitan.

Biasanya jika panggilan surga itu berbunyi, murid-murid berhamburan menuju foodcourt. Tetapi mereka masih sibuk mengamati hasil nilai yang mereka dapatkan. Sebagian ada yang berkomentar soalnya sulit atau kehabisan waktu atau tidak belajar. Kebanyakan dari mereka mementingkan nilai temannya supaya nilai miliknya lebih tinggi.

Sedangkan aku menatap nanar kertas yang kugenggam. Terdiam seribu bahas. Merenungi nasib nilai merah yang tercantum di pojok kertas.

“Waa, Sooji-ya! Kau mendapatkan nilai sempurna,” kagum Krystal.

Suzy yang berada di sebelahku tersenyum seolah ia sudah biasa mendapatkan pujian seperti itu.

“Bagaimana kau melakukannya?” Naeun meraih lembaran dari tangan Suzy.

“Kau sangat pintar.”

Kemudian pujian lainnya terdengar samar dalam pendengaranku. Kertas dalam genggamanku bergetar. Aku mengatupkan rahang kuat seraya beranjak berdiri menghambur keluar kelas.

—o0o—

Awan bergumpal cerah. Tidak senada dengan suasana hatiku saat ini. Semalaman aku sudah belajar keras. Larut malam hingga mengurangi jam tidurku. Tetapi apa? Masih ada orang lain yang nilainya berada di atasku.

“Aish, menyebalkan!” bentakanku mengisi kekosongan di balkon sekolah. Lantai balkon yang terbuat dari kayu ek menjadi pelampiasanku karena aku menginjaknya keras.

Telapak tanganku meremas secarik kertas itu. Batinku mulai mengamuk meneriakan beberapa hal yang terkesan tidak sopan. Begitu kertas itu berbentuk seperti bola asal aku melemparnya ke sembarang arah.

“Arggh!” Tepat disaat itu kudengar suara berat seseorang.

Aku menengok melalui tiang penyangga balkon. Jantungku hampir tekuak keluar menyadari siapa yang tengah mengelus kepalanya.

“Jungkook,” ucapku terbata.

Sembari mengelus-elus kepalanya, ia meraih buntalan kertas itu. Melihatnya dalam sekali pandang. Tangannya menjulur ke depan menunjukan kertas yang sudah ringkas karena remasanku.

“Nilai ini tidak terlalu buruk,” komentarnya.

“Cih, katakan saja kau ingin meledekku.”

Pria itu menjejerkan diri di sebelahku. Kedua tangannya menyangga pada tiang pembatas balkon sambil membaca tiap tulisan rapi yang tertera sebagai jawaban.

“Padahal semalaman aku begadang,” ungkapku, “Tetapi aku rasa ada orang lain yang lebih keras belajarnya.”

“Jika kau belajar terlalu keras kau akan menghancurkan dirimu sendiri,” kata Jungkook masih meneliri jawaban di sehelai kertas kusut itu.

Mwo?”

Pandangannya beralih padaku sembari berkata, “Kau hanya perlu memahaminya. Itu saja cukup.”

“Apanya yang cukup?” kepalaku diharuskan mendongak sebab tubuh Jungkook lebih tinggi, “Aaa, kau mendapat nilai sempurna. Apa kau tidak tidur semalaman?”

Senyuman kecut terpampang jelas di wajahnya, “Aku tidak belajar.”

“Bagaimana kau bisa mengerjakannya? Kau membuat contekan?”

Ya! Buanglah pikiran negatifmu itu,” Jungkook tidak terima, “Meski aku sering membolos jam pelajaran, aku tidak akan melakukan itu. Aku percaya pada diriku sendiri.”

Kalimat terakhir yang ia ucapkan terdengar lebih pelan. Ia kembali menyandarkan diri di tiang pembatas. Pandangannya lurus ke depan sana. Sementara aku masih mengamatinya dengan tatapan menyidik.

“Lalu mengapa nilaimu lebih bagus daripada nilaiku?” ketika pertanyaanku terlontar, aku menyadari sesuatu. “Omo—“

Kedua mataku membulat sempurna. Bibirku menganga saat pikiran itu melintas di kepalaku.

“—itu berarti kau lebih pintar dariku?”

Sepertinya Jungkook tidak menyadari air mukaku yang berubah khawatir. Ia hanya mengangkat bahu tidak peduli.

Segera aku membalikkan badan. Kedua kakiku mengambil langkah lebar. Hendak meninggalkan balkon.

Ya! Eodieka?” tanya Jungkook.

“Perpustakaan,” sahutku yang sudah berjarak tiga meter dari Jungkook.

Pria itu mendecakkan lidah seraya mengejar diriku. Langkahnya berusaha menyamai langkah kakiku. Wajahnya meminta penjelasan ketika ia sudah kembali berada di sampingku.

“Mengapa ke perpustakaan?”

Pertanyaan itu jelas kuabaikan.

“Apa kau ingin mengembalikan buku pinjaman?”

Kedua kaki ini masih terus berjalan tegas.

Ya, Park Jiyeon!”

Merasa tidak diperhatikan, ia meneriaki namaku. Itu sia-sia, karena aku masih tidak menggubrisnya. Yang kuinginkan segera berada di antara rak-rak buku yang menjulang tinggi.

“Ini jam istirahat, sebaiknya kau makan siang dulu.”

Langkah ini menyurut mendengarnya. Kepalaku menengok kepada pria yang jujur saja kuakui memiliki wajah babyface. Tunggu dulu—apa? Babyface?

“Kau ingin makan bersamaku? Makanlah sendiri,” ketusku.

Baru beberapa langkah aku kembali terhenti. Sekujur tubuhku gemetar melihatnya. Tidak jauh dari posisiku, ia tengah tersenyum lebar. Yang membuat jantungku terasa berhenti berdetak adalah senyum itu ia bagi bersama gadis yang berjalan di sisinya.

Terlihat begitu manis. Bahkan gadis yang jarang tersenyum itu, kini terhanyut dalam tawa renyah pria di sampingnya.

Rupanya Jungkook mengikuti arah pandangku. Merasa diperhatikan, pria dan gadis yang sudah berada dekat denganku dan Jungkook menghentikan tawa mereka.

Lenyap begitu saja setelah menyadari ada diriku di hadapannya.

“Jiyeon-a,” lirih gadis itu.

Pikiranku kalut berusaha menguasai amarah. Hawa dingin terasa di sekitarku. Atmosfer berubah menjadi tidak enak. Tanpa takut aku menusuk manik mata hitam kelam miliknya. Milik pria itu, siapa lagi kalau bukan Myungsoo.

Tetapi yang membuatku paling kesal adalah gadis yang bersama Myungsoo. Ini aneh, padahal gadis itu adalah sahabatku sendiri, Bae Suzy.

 

to be continued–

Marhaban Ya Ramadhan~ bagi yang merayakan🙂. Semoga FF ini bisa buat ngisi waktu kalian kalo pas laper lapernya *plaak*. FF ini bisa bikin kenyang tanpa makan *dobelplaak*. Btw, quote di atas Hara ambil dari liriknya Reset Tiger JK ft Jinsil, suka sama lagunya hehe. See ya~~ ditunggu kelanjutannya yaa😉

51 responses to “High School (Chapter 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s