[CHAPTER – PART 6] Skinny Love

skinny-love-by-little-thiefcr: Exodium @ Hospital Art Design

Skinny Love by Little Thief

Cast: Park Jiyeon, Kim Myungsoo

Other cast: Park Sooyoung (Joy), Choi Minho, Lee Jieun (IU)

Genre: romance, little bit angst

Rating: PG-13

Length: Chaptered


 Pukul setengah sembilan malam, kafe mulai lengang dan hanya sedikit orang yang datang kembali. Hanya beberapa orang yang sibuk berbincang dengan cangkir kopi di tangan. Suasana hangat yang tadi tercipta perlahan mulai pudar. Tapi itu semua bukan lagi urusan Jiyeon. Seluruh tugasnya sudah selesai. Ia tinggal menyuruh Jongin si Pemalas untuk menyapu lantai selepas kafe tutup, menggantikan tugasnya. Ia ada janji dengan Jieun kali ini.

Tadi pagi, karena berhasil tertangkap basah, Jieun terpaksa disudutkan oleh Jiyeon berkali-kali. Awalnya dia diam. Tapi ketika Jiyeon tampak akan menyebarkan hal tersebut kepada pelayan lain, ia terpaksa harus menutup mulutnya. Bukan dengan cara biasa. Jiyeon baru akan diam kalau Jieun mau mentraktir dirinya. Maka terpaksa, Jieun mengajaknya ke sebuah restoran cepat saji yang tak jauh dari kafe, selepas kerja.

Namun Minho rupanya tak mengizinkan dirinya. Tapi dia mengizinkan Jieun. Tidak adil! geretak Jiyeon dalam hatinya. Jadi hampir puluhan menit mereka berdebat di dapur hanya karena urusan bersih-bersih kafe.

“Kau tidak bisa menyuruh Jongin seenaknya,” gumam Minho. “Bersihkan kafe sekarang. Sapu!”

“Tapi aku sudah janji,” kata Jiyeon dengan penekanan pada kata terakhir dengan kesal. “Aku bersumpah, Jongin tak perlu melakukan apapun esok kalau dia mau mengganti tugasku kali ini.”

Jongin yang menonton perdebatan itu tersenyum senang dan memberikan tatapan terimakasih sekaligus meledek pada Jiyeon. Namun senyumnya langsung sirna ketika Minho masih menatap mereka berdua tegas.

“Tidak, tidak,” Pelayan Senior itu menggeleng kencang. “Jiyeon tetap harus membersihkan lantai. Aku tak peduli tentang hadiah yang akan kau berikan pada Jongin. Disiplin adalah disiplin. Tak bisa dibiarkan.”

Jiyeon mengeluh. Ia menghembuskan napas keras-keras. Dengan langkah kaki yang diberatkan, dia berjalan menuju ke ‘sudut mengenaskan’. Namun tepat saat itu, dia terkaget ketika menyadari Myungsoo sudah berdiri di depan pintu di dapur yang menghubungkan ke kamar kerjanya.

Pria itu terkekeh kecil melihat wajah Jiyeon yang memberengut. Rupanya ia menonton perdebatan itu sejak tadi tanpa mereka berdua sadari. Myungsoo menatap Minho dengan tatapan lembutnya. Tangannya terlipat di depan dada.

“Sudahlah, Minho. Tak adil kalau kau membiarkan pacarmu pergi sementara Anak-Bawang ini dikurung. Lagipula, dia yang punya janji dengan Jieun. Kalau kau mengurungnya, sama saja membuat Jieun repot juga,” tutur Myungsoo.

“Jieun bukan pacarku.” Minho melotot tajam.

Myungsoo tertawa, namun kemudian matanya melirik ke arah Jiyeon yang masih berdiri di dekat Sudut Mengenaskan. Myungsoo menatap Anak-Bawang itu seperti tatapan seorang pengasuh anak ke seorang bayi. “Kau boleh pergi. Sampai jam kapanpun, sebebas kau sajalah. Tapi yang paling jelas, kau harus kembali. Jongin tak akan menggantikan tugasmu. Jangan coba kabur. Aku akan menunggu sampai kau mau menyapu. Kalau sampai kau tak datang…”

Jiyeon bisa melihat Myungsoo memberi gerakan seperti hendak memotong lehernya. Jiyeon terperanjat, namun pria itu malah tertawa tak peduli. Ia kemudian masuk kembali ke dalam pintu dan menghilang ke kamar kerjanya yang membosankan.

Tangan Jiyeon bahkan masih melayang di udara saat hendak mengambil sapu ketika hatinya bertanya-tanya, kapan dia menontonku di sini?

“Puas?” sahut Minho, terdengar memencak-mencak tajam. “Sana, pergi sepuasmu. Jangan kembali lagi. Biar Myungsoo memecatmu betulan sekalian.”

Jiyeon memberengut, memberikan tatapan mengancam. Ia berjalan dengan langkah lebar keluar dari dapur, melewati Minho. Begitu sampai di meja, ia melepas celemeknya. Melipatnya seperti tadi pagi dan meletakannya di laci bawah meja dapur.

Temannya si Jieun sudah menunggu di luar pintu. Sedang sibuk melamun menatap jalanan yang sepi. Setelah mengucapkan salam pamit kepada beberapa teman pegawai yang lain, Jiyeon menepuk pundak Jieun dengan ceria.

“Hei!” serunya girang. “Ayo, kita berangkat!”

Jieun mendengus mendapati Jiyeon sudah meloncat-loncat kegirangan. Seperti tidak pernah ditraktir saja, batinnya dalam hati. “Memangnya kau dapat izin dari Minho?”

Jiyeon tidak mungkin bahwa ia bisa lolos karena Myungsoo membebaskannya. Jadi ia mengangguk. “Ya. Dia sudah mengizinkanku. Tapi aku tetap harus kembali untuk menyelesaikan pekerjaan menyapuku.”

Jieun tersenyum kecil. “Duh, kasihan sekali kau. Oke, kalau begitu, daripada berlama-lama, kita berangkat saja. Perutku sudah kelaparan karena lama menunggumu, tahu.”

“Maaf.” Gumam Jiyeon sambil tersenyum tipis.

Mereka berjalan kaki sekitar beberapa puluh meter menuju ke sebuah restoran yang menghadirkan menu-menu masakan Amerika. Berbeda dengan Moong Café, restoran itu terlihat ramai. Mereka masuk dan menduduki sebuah kursi dengan nomor 27.

Tak lama ketika mereka telah duduk saling berhadapan, seorang pelayan mengantarkan mereka dua buah buku menu. Jiyeon membukanya, dan terdiam. Ada ratusan menu yang tertulis di situ. Membuat Jiyeon mengernyit. Latar belakang keluarganya yang mengenaskan membuatnya hanya tahu beberapa menu sederhana gandum dan daging.

“Er, bagaimana dengan burrito ini?” tanya Jiyeon kikuk. “Ditambah semangkuk nasi. Pasti enak.”

Pelayan segera mencatat apa yang baru saja ia katakan, terlihat menahan tawa. Jieun berusaha keras mengabaikannya. Gadis itu kini yang memesan. “Aku pesan gumbo dan minumanku, apa, ya? Es cokelat. Kau, Jiyeon?”

“Es lemon!” seru Jiyeon tanpa aba-aba. Ia hanya bisa menentukan pilihan sederhana itu ketika kepalanya dibanjiri menu minuman yang aneh. Berbagai jenis jus yang tak pernah ditemuinya.

Ketika pelayan itu pergi untuk mengirimkan pesanan mereka, Jieun terkikik melihat Jiyeon. “Belum pernah coba masakan luar Asia seperti ini, ya? Tenang saja, kok. Semua menu ini tetap disesuaikan dengan lidah Korea-mu.”

Jiyeon mengembuskan napas lega. Setidaknya, dia masih bisa menerima makanan tersebut. Kata seorang temannya di SMA dulu, masakan orang-orang Barat begitu hambar karena mereka kekurangan rempah-rempah. Namun, entahlah.

Jieun sedang menatap seorang pelayan yang mengantarkan beberapa gelas jus ke sebuah meja di sudut restoran yang dipenuhi cahaya putih terang. Kemudian, Jieun berbisik ke dekat telinga Jiyeon.

“Kalau melihat pelayan itu, aku jadi teringat masa laluku.”

Jiyeon pun ikut menoleh ke pelayan di mana mata Jieun tertuju.

“Kenapa?” sahutnya.

“Karena dari situlah aku berasal,” Jieun menghela napas. “Aku diciptakan untuk jadi pelayan.”

Hening sejenak, sebelum Jiyeon terpaksa tertawa. “Ah, kau jangan seperti itu. Kau cantik, Jieun, kau bisa jadi model kalau mau. Atau jadi pekerjaan lain. Masih ada yang lebih baik.”

“Jadi pelayan pun aku merasa sudah baik,” Jieun tersenyum tipis. “Buat apa cari yang sempurna kalau hal sederhana bisa membuatmu senang.”

Jiyeon tergugu. Ia hendak membalas namun sepertinya, Jieun sudah akan bercerita untuk kali ini. Jadi, yang perlu ia lakukan hanya duduk manis dan mendengarkan temannya bicara. Jika selesai, siapa tahu ia bisa memberi saran yang bagus.

“Pelayan. Di kafe yang dipimpin Myungsoo, aku benar-benar merasa suka menjadi orang dengan profesi seperti itu. Sebagian orang mungkin menganggapku kurang kemampuan, atau miskin. Di Moong Café, aku justru merasa kemampuanku semakin terasah, tapi aku enggan meninggalkannya. Begitu pun yang lain. Jiyeon, kalau boleh kukatakan, kau sangat cerdas melamar pekerjaan di sana. Tidak akan pernah menyesal untuk seumur hidupmu. Myungsoo dan Minho punya kemampuan aneh yang membuat pelayan-pelayannya merasa kerasan.

Dua tahun lalu aku pun masih jadi Anak-Bawang sepertimu. Disuruh ikut tes membersihkan kafe, dan memasak makanan dengan tingkat aneh dan tak wajar. Seorang temanku membawaku pada tempat itu. Kau tahu siapa?”

Jiyeon menggeleng perlahan. Jieun lantas mengetukkan jari telunjuknya di atas meja kayu.

“Jongin. Jongin yang menawarkanku ke situ. Dia yang mengenalkan padaku apa itu kafe Moong, dan, yah, saat itu aku terpaksa. Kurasa aku tak punya hal lain lagi. Aku lantas menerima tawaran Jongin, dan bekerja di sana untuk menyambung hidupku.”

“Persis sepertiku,” gumam Jiyeon. “Aku masuk ke Moong karena untuk menyambung hidup. Dan, oh, dua orang lainnya. Keluargaku.”

Jieun tersenyum tipis, melanjutkan. “Akar dari semua hal sampai aku bisa berbicara di depanmu adalah dimulai dari Ibuku. Aku tinggal bersamanya sejak kecil di Busan. Ibuku bekerja sebagai seorang bartender di suatu klub malam. Yah, jadilah kau tahu sendiri. Tiap malam, aku tak pernah diurus. Dia sibuk menyiapkan berbagai minuman di sana. Harusnya seorang suami melarang istrinya bekerja malam, bukan? Tapi Ibuku tak perlu mendapat larangan itu. Ayah sudah bercerai dengan Ibuku sejak kecil.”

Jiyeon cuma diam. Tapi menatap Jieun dengan antusias.

“Menjadi bartender jelas bukan pekerjaan yang mewah. Penghasilan Ibuku begitu kecil. Semakin dewasa, pekerjaan ini justru semakin menyulitkan. Aku berkali-kali meminta Ibuku berganti pekerjaan yang lebih baik daripada hanya memberikan minum-minum seperti itu. Tapi Ibuku menolak. Dia sudah terlalu terlena dengan pekerjaannya. Pekerjaan yang, di mana ia bisa menemui puluhan pria tampan yang datang ke klub.

Sejak kecil aku berdagang hal-hal kecil di sekolah untuk menambah uang saku. Kau tahu, aku punya jiwa dagang dan kerja yang begitu kuat. Aku telah menjual segalanya, dan berbagai puluh macam modal dari berbagai orang…tapi itu semua kalah dengan kerasnya hidup yang semuanya berlabel dengan uang, uang dan uang. Semua jerih payah yang kulakukan masih tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sekolahku saat itu.”

Mereka bahkan tidak peduli ketika seorang pelayan sudah mengantarkan makanan mereka ke meja.

“Kemudian aku menghubungi salah satu sepupuku di Seoul. Meminta bantuan. Aku melakukannya karena aku merasa kacau sekali. Ibu telah menjalin hubungan dengan seorang pria dari klub malam. Itu sebabnya dia semakin menelantarkanku. Aku sudah kecewa besar padanya. Aku meninggalkannya ke Seoul. Baik, sepertinya Ibuku pun tidak begitu peduli. Buktinya, ia tak meraung sewaktu kepindahanku. Justru kepergianku malah membuat beban hidupnya berkurang, bukan?

Sepupuku di Seoul berbaik hati memberiku berbagai pelatihan kecapakan kerja. Hingga ia membawa salah seorang temannya ke rumah, dan aku berkenalan dengan temannya itu. Dia itu Kim Jongin.”

Jieun mulai menikmati semangkuk gumbonya, tapi matanya tak lepas dari Jiyeon. Masih semangat melanjutkan cerita kehidupannya. Melihatnya, Jiyeon pun ikut menyantap burrito miliknya. Matanya pun masih persis menatap Jieun.

“Jongin orang yang begitu baik pada awal kami berjumpa. Waktu bekerja di kafe saja, jadi tampang berandal begitu. Waktu itu dia adalah satu dari beberapa pegawai pertama di Moong Café. Jadi bisa saja dia yang mengujimu waktu itu karena dia adalah pelayan senior, tapi sifatnya yang malas membuatnya masih berada di posisi yang sama.

Dua tahun lalu, dia menawarkanku bekerja di kafe saat tahu aku memang butuh pekerjaan. Moong saat itu masih membuka rekrut untuk staf-staf baru. Aku menerimanya dengan senang hati. Jongin menjadi teman pertamaku di kafe. Tapi ternyata permulaan itu tak semudah yang kau bayangkan. Aku sempat tidak betah dan rasanya ingin meringkuk saja mendengar ketegasan juga kegalakan Myungsoo dan Minho. Namun semakin lama, aku justru merasa bersahabat dengan Moong Café. Aku mencintai pekerjaanku. Dan kemudian, di sinilah aku, Jiyeon. Terperangkap.”

Bunyi denting sendok beradu dengan mangkuk, menunjukkan Jieun mulai serius menyantap makanannya. Dia mengunyah beberapa kali sebelum akhirnya bertanya. “Kalau kau, bagaimana, Jiyeon?”

Jiyeon tak sadar bahwa burrito dengan nasi itu sudah habis sejak tadi, dan ia rasanya ingin pesan satu lagi. Enak. Tapi Jiyeon menghela napas. “Kau tidak tahu?”

Jieun menggeleng pelan.

“Apakah kafe tak pernah memberitahumu? Rasanya mereka suka sekali mengumbar ketika aku pingsan di situ,” dengus Jiyeon keras-keras. Jieun tertawa terbahak-bahak.

“Ya, latar belakang awal kau tahu kafe ini, semua orang sudah tahu. Tapi tak ada satu dari kami yang tahu kenapa kau bekerja di sana. Dan juga latar belakangmu sampai ke detail.”

Ia mengambil tisu lebih dahulu, mengusapkan ke mulutnya padahal tak ada noda bercecaran di sana. Jiyeon menggembungkan pipinya. Matanya menatap kosong ke jam dinding di sudut kafe.

“Awalnya tadi, aku pergi karena-“ kalimat Jiyeon terpotong ketika menyadari jarum jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Selama itu, kah? Padahal rasanya Jieun hanya bercerita singkat saja.

Akhirnya Jiyeon memilih untuk berdiri saja dari mejanya. “Duh, aku tak bisa menceritakannya sekarang. Ada tugas menyapu yang menungguku.”

“Hei, ini bahkan baru sejam yang lalu kau meninggalkan kafe!” protes Jieun.

“Duh, aku pun tak bisa berlama-lama. Keluargaku menunggu di rumah.”

Jieun menghela napas. “Kau serius sudah akan ke kafe?” tanyanya. Dibalas anggukan kencang Jiyeon.

“Dasar rajin,” gumamnya. “Ya sudah, ayo. Aku temani kau sampai perempatan. Rumahku belok kanan dari perempatan dekat Moong Café.”

Mereka berdiri dari meja, dan keluar dari restoran. Makanan di restoran tadi sungguh enak. Kalau sudah gajian, Jiyeon janji mentraktir Sooyoung dan Ayahnya di sana. Mereka harus mencobanya. Jiyeon merasa bersalah karena ia yang mencicipinya sendiri.

Ketika sampai di perempatan, mereka melambaikan tangan. Jieun menyebrangi jalan dan lurus, sementara Jiyeon berbelok kanan dan menyebrang untuk sampai ke ruko tempat Moong Café berada.

Dari kejauhan kafe itu terlihat redup. Para pelayan sepertinya sudah pulang ketika Jiyeon makan tadi. Jiyeon segera membuka pintu kafe tanpa basa-basi begitu sudah menyebrangi jalan.

Benar saja. Kafe sudah kosong melompong. Meninggalkan Jiyeon sendirian di sana. Gadis itu mendengus. Ia berjalan ke dapur. Sepertinya Myungsoo masih ada di kamar kerjanya. Masih ada suara sayup di atas, dari keheningan panjang ini. Dengan keinginan cepat-cepat pulang, ia mengambil sapu di Sudut Mengenaskan dan keluar. Mulai menyapu kafe dengan gerakan yang cepat dan tak tenang.

Saat asyik menyapu di sudut, suara kaki menuruni undakan anak tangga terdengar. Bunyi logamnya beradu. Jiyeon langsung tahu siapa orang itu. Tapi itu membuatnya bertanya-tanya lagi. Masa iya bos seperti Myungsoo menunggu Anak-Bawang sepertinya selesai bekerja? Padahal orang itu bisa saja langsung pergi ke rumah, meninggalkan Jiyeon di kafe sendirian biar ia takut.

Ada bunyi lampu dapur yang dimatikan. Celah pintu yang tadinya terang berubah hitam pekat. Kemudian pintu berderit terbuka. Keluarlah Myungsoo, dengan tas ransel sudah siap di pundak.

“Jiyeon?” sapa suara berat tersebut. “Kau sudah selesai?”

“Baru saja sampai,” gumam Jiyeon.

Myungsoo menyambutnya dengan kekehannya yang khas. “Wah, okelah. Tapi kau menempati janji bahkan lebih cepat dari perkiraanku. Baiklah, kerja yang bagus. Aku akan awasi kau.”

Selanjutnya yang dilakukan Myungsoo adalah duduk di salah satu kursi. Ia menatap lamat Jiyeon yang sedang menyapu ruangan, namun sesekali melirik buku catatan kecilnya dengan puas. Catatan keuangan minggu ini.

Jiyeon mengeluh dalam hati. Siapa juga yang menempati janji. Ini semua, kan, karena dia juga yang terpaksa. Yang ada, dia justru berusaha untuk tidak dapat kebagian tugas menyapu.

“Yang lain sudah pulang?” tanya Jiyeon, membuka percakapan.

“Yang terakhir baru saja pulang semenit sebelum kau datang,” balas Myungsoo.

“Bagaimana kau tahu?” selidik Jiyeon.

Myungsoo terkekeh lagi, kemudian jari telunjuknya menunjuk ke sebuah benda kecil yang tertempel di langit-langit kafe. “Ada kamera pengintai, Jiyeon. Aku tahu siapa yang keluar dan siapa yang masuk. Jadi ketika kau masuk, aku langsung bersiap untuk mengawasimu.”

Astaga. Jiyeon bahkan baru menyadari ada alat CCTV itu terpasang di kafe. Kamera itu hanya berupa satu bulatan hitam kecil di langit-langit. Begitu kecil, praktis dan menipu. Pasti banyak orang yang tak sadar ada kamera yang mengintai mereka. Myungsoo cukup cerdas untuk menentukan keamanan di kafenya.

“Tidak perlu mengawasiku. Kinerjaku cukup bagus juga, kok,” cibir Jiyeon, separuh meledek.

“Tidak usah banyak bicara. Cepat kerjakan. Aku juga mau istirahat ke rumah,” sela Myungsoo tajam.

“Pria mana yang tidur jam sepuluh malam?” alis Jiyeon bertautan.

Myungsoo menyeringai. “Pekerjaanku lebih rumit daripada yang kau bayangkan. CEPAT KERJAKAN!”

Dua kata terakhir itu diucapkan Myungsoo dengan nada tegas dan penuh amarah, membuat Jiyeon terperanjat keras. Ia segera cepat-cepat menyapu debu-debu di lantai. Mengatupkan mulutnya.

Selanjutnya Myungsoo bahkan enggan pula bicara. Ia ikut mengatupkan mulutnya. Bahkan asyik dengan buku catatannya. Jiyeon sudah takut-takut Myungsoo bahkan memecatnya setelah ini. Siapa tahu di buku catatan itu ia tengah menuliskan namanya, dalam daftar “Pegawai Yang Kupecat” di satu halaman khusus.

Sepuluh menit kemudian, lantai kafe sudah bersih. Hanya perlu dipel esok pagi. Buru-buru Jiyeon menuju kembali ke dapur, meletakkan sapu di Sudut Mengenaskan dan keluar sambil membawa tas kecilnya.

Myungsoo baru mendongakkan kepala ketika melihat Jiyeon keluar dari pintu. “Sudah selesai?”

Jiyeon mengangguk. “Ya.”

Alih-alih pergi, pria itu merapikan ranselnya dan menyampirkan di pundak. Ia mendekati Jiyeon. “Oke, aku minta maaf karena membentakmu pada dua kata terakhir tadi. Mau pulang bersamaku?”

Jiyeon mengernyitkan keningnya. Kenapa orang ini jadi bipolar? Tadi marah-marah, mendadak jadi baik hati sekali. Bahkan menawarinya pulang bersama. Jiyeon memikir-mikirkan jawabannya. Dia jelas tak bisa menolaknya, walaupun ingin. Dia harus tahu apa itu sopan santun.

“Ya, oke,” desah Jiyeon. “Serius?”

Myungsoo mengangguk. “Di mana rumahmu?”

“Hanya sepuluh menit kalau kau berlari kecil, lima belas menit kalau kau berjalan kaki. Kenapa? Rumahmu sendiri, di mana?”

“Tak begitu jauh dari sini,” balas Myungsoo singkat. Ia lantas mematikan tombol lampu yang berada di dekat pintu. Kafe langsung gelap seketika, hanya ada pantulan cahaya dari lampu lain di luarnya. Myungsoo tersenyum ramah pada Jiyeon. “Ayo.”

Mereka pun keluar dari pintu kaca kafe. Myungsoo menguncinya dan setelah diberitahu Jiyeon patokan menuju rumahnya, mereka pun berjalan bersama menuju arah itu. Langkah kaki Myungsoo dengan ringan mengikuti tuntunan langkah kaki gadis di sampingnya. Mereka menusuri trotoar dengan gemerlap lampu jalan yang kuning redup.

“Tadi, kenapa janjimu dengan Jieun begitu penting, sih? Kau bisa melakukannya saat hari libur. Kalian berdua tinggal memintaku waktu istirahat kerja untuk pergi makan ke restoran.”

Jiyeon nyengir lebar. “Maaf. Habisnya, aku merasa begitu lapar. Sayang sekali melewatkan hal itu.”

Myungsoo mendengus, tapi kemudian tersenyum. Ia menggaruk batang hidungnya. “Memang ada rangka acara apa dia mengajakmu makan?”

“Aku menyudutkannya karena tadi pagi, aku memergokinya bersama Minho,” kata Jiyeon dengan penuh sorak kemenangan. “Jadi untuk menutup mulutku, dia mentraktirku ke sana.”

“Ah, ya, Jieun dan Minho. Aku sudah menduganya sejak awal.” senyum Myungsoo terkulum.

Yang kemudian keluar dari mulut Myungsoo adalah rentetan cerita masa lalunya. Entah mengapa, cerita sejarah kehidupan Myungsoo selalu Jiyeon suka. Walaupun pria itu menyebalkan, Jiyeon suka dengan masa mudanya sebagai pekerja keras, dan kini sudah makmur dengan usaha yang ia buat sendiri.

Dari cerita itu Jiyeon tahu banyak hal.

Myungsoo dan Minho adalah teman sejak kecil. Ketika umur delapan tahun, mereka suka menjual koleksi kartu-kartu Pokemon kepada teman-teman kecil mereka. Bisnis iseng Kartu Pokemon ini bahkan bertahan lama, sampai mereka nyaris lulus sekolah dasar. Selama bisnis kartu tersebut, semua hasilnya dibagi rata untuk mereka berdua. Tak kurang, tak lebih. Mereka berhenti berjualan kartu saat naik kelas enam, karena minat sudah berkurang. Teman-teman dan adik kelas mereka, sudah bosan dengan Kartu Pokemon.

Kemudian mereka terpisah saat SMP karena catatan prestasi yang berbeda jauh. Myungsoo bukan anak yang cemerlang pada masa kecilnya, sementara Minho selalu mencetak angka yang bagus. Namun itu bukan lagi masalah. Jiwa bisnis mereka kembali lagi jadi satu. Kali ini mereka berbisnis jasa reparasi sepeda yang bertepat di rumah Minho yang persis berada di sebelah rumah Myungsoo. Mereka sangat ahli membetulkan sepeda, karena memang itulah hobi mereka. Usaha ini bertahan selama hampir empat tahun lamanya.

Kemudian saat SMA, mereka memutuskan menutup reparasi dan sibuk dengan kegiatan sekolah. Hingga akhirnya, saat kelulusan, ayah Minho menawarkan mereka satu bisnis yang pastinya lebih mendobrak. Sebuah kafe. Beliau menyiapkan kafe itu, hanya untuk mereka berdua yang memang pantas memilikinya. Ayah Minho yang membeli ruko, mengajarkan mereka resep di kafe, menyiapkan menu-menunya, alat, dan segala hal. Myungsoo dan Minho hanya perlu mengelola apa yang telah diberikan.

Jiwa bisnis mereka yang kompak membuat kafe itu menarik perhatian dalam sekejap mata. Awalnya, nama kafe itu saat hari pertama adalah M & O, sesuai dengan abjad awal dan terakhir nama mereka. Namun Minho menggantinya dengan nama panggilan ayahnya kepada Myungsoo, yaitu Moong. Nama tersebut cukup unik dan lucu bagi Minho, jadilah nama Moong Café terus ada sampai sekarang.

Jiyeon tersenyum ketika Myungsoo mengakhiri ceritanya yang panjang lebar itu. “Cerita yang manis sekali. Kau beruntung memiliki sahabat seperti Minho yang terus mendaki bersamamu, hingga kau sampai di puncak.”

“Ya, tapi bukan berarti tanpa hambatan, Ji. Entahlah, sudah tak terhitung berapa kali kami bertengkar karena masalah kafe ini. Kemudian, kami tersadar bahwa kafe itu adalah milik kami bersama, jadi kami merasa akan ada satu penyelesaian untuk masalah kami berdua masing-masing. Kami tak boleh egois.”

Lagi-lagi Jiyeon tersenyum sampai tak sadar, kakinya sudah mendarat di depan pagar rumahnya. Ia berhenti dan berbalik badan, menatap Myungsoo. “Nah, ini rumahku.”

Bahkan mereka tidak sadar bahwa sudah nyaris tiga puluh menit berjalan. Dua kali lipat dengan durasi Jiyeon kalau berjalan pulang sendiri. Jiyeon tak ingin melewatkan cerita tentang Myungsoo tadi, jadi ia melambatkan langkah kakinya.

Myungsoo agak terperanjat, namun akhirnya ia mengangguk. “Oke, kalau begitu. Selamat malam.”

Jiyeon mengangguk. “Tapi kenapa kau mengantarkanku sampai sini? Kita hanya pulang bersama, bukan? Harusnya kau sudah berbelok sejak tadi.”

Myungsoo hanya terkekeh, menggaruk rambutnya yang tak gatal. “Aku baru sadar bahwa rumahku dan rumahmu tak terlampau jauh.”

“Berarti kau tetanggaku?”

“Duh, tidak juga.” Myungsoo mulai kebingungan dan salah tingkah. “Maksudku, tidak jauh dari sini. Tapi bukan berarti kita satu lingkungan tempat tinggal.”

Jiyeon balas mengangguk sekali lagi. “Oh, begitu. Oke, baiklah, hati-hati dalam perjalanan ke rumahmu. Selamat malam, Bos. Sampai bertemu besok.”

Gadis itu lantas membuka pagar rumahnya, menutupnya. Kemudian melepas sepatunya. Ia melempar senyum pada Myungsoo sebelum akhirnya menutup pintu kayu rumahnya.
Begitu bunyi pintu ditutup disusul keheningan, Myungsoo menghela napas.

Alih-alih menuju ke rumahnya yang ia sebut-sebut tak jauh dari rumah Jiyeon, ia malah memutar balik arah jalan. Ia berjalan kembali menuju kafenya. Kafenya terletak di tepi perempatan jalan. Terletak di sisi kanan.

Jadi begitu melewati kafe, dia berbelok ke tikungan kanan di depan kafe. Melewati perempatan. Di dekat tikungan yang baru Myungsoo lewati, ada sebuah halte bus di mana ia biasa menunggu busnya untuk pulang ke rumah.

Ini jelas berbeda dengan arah rumah Jiyeon. Rumah Jiyeon tidak melewati perempatan jalan. Ia membohongi gadis itu tadi bahwa rumahnya tak jauh. Rupanya, dia harus memutar balik ke arah kafe. Itu pun, masih harus dilanjutkan dengan naik bus beberapa kilometer ke depan. Myungsoo, berbohong demi Jiyeon.

Myungsoo melirik arlojinya. Sudah akan pukul sebelas malam. Dia harus cepat-cepat pulang.


Oke, sebelumnya, aku sudah janji post chapter 6 pada minggu ini. Tapi untuk chapter 7, aku belum tahu betul kapan akan dipost, ya. RCL jangan lupa!😀

HAYO, JANGAN PADA BAPER SAMA MYUNGSOO, YA!😀

33 responses to “[CHAPTER – PART 6] Skinny Love

  1. Walah knp myungsoo hrs berbohong pda jiyeon? Apa dia melakukan itu demi memberi perhatian pda jiyeon? Jgn2 myungsoo mulai suka dgn jiyeon lg??? ^^
    Makin seru cerita’y… Next….😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s