[One Shoot] Confession

nyimasRDA - Confenssion

nyimasRDA present

Confession

Cast:

Park Jiyeon

Kim Myungsoo

Lee Chaerin

Lee Jonghyun

Genre: Romance, friendship

Rating: G

Length: one shot

Desc: Cerita ini baru aku buat tadi pagi setelah bener-bener ngehayatin lagu yang dinyanyiin Nam Taehyun. Semoga kalian semua suka sama ceritanya. Harap tinggalkan Komentar!

-oOo-

 This is my confession

 

-oOo-

 

Apa yang akan kau lakukan saat kau mencintai seseorang? Menjahilinya? Menjaganya? Membuatnya terus tersenyum? Berusaha untuk tidak membuatnya menangis dan terluka?  Atau menyatakannya? Aku sudah melakukannya. Aku sudah melakukan semua hal yang dapat ku lakukan untuk wanita yang ku cintai, kecuali yang terakhir, menyatakannya.

Jangan sebut aku laki-laki pengecut. Aku bahkan cukup berani untuk menemui kedua orang tuanya saat kami akan pergi bersama, meminta izin akan pulang sedikit malam. Yah, walaupun aku ditemani Chaerin saat itu, tapi tetap saja aku berani. Aku juga berani menantang Sunbae ku yang terus mengganggunya, walaupun Jonghyun datang untuk membantuku, tapi setidaknya aku berani. Aku berani menggenggam jemari lentik Jiyeon saat ia ketakutan, menenangkan dan berkata semua akan baik-baik saja. Aku berani melakukan apa saja untuknya, untuk melindungi gadis yang ku cintai. Tapi tidak untuk menyatakan perasaan.

Entah mengapa bibirku selalu kelu setiap kali aku sudah bertekat untuk menyatakan perasaanku. Pernah satu hari, Jiyeon memandangku dengan bingung lantaran aku yang tiba-tiba berwajah pucat dan seolah tercekat oleh kata-kataku sendiri.

To: Jiyeonnie

Jiyeon-a, bisa temui aku sepulang sekolah? Ada yang ingin aku katakan padamu. Aku tunggu di taman belakang.

Pesanku pada Jiyeon. Chaerin juga Jonghyun menyemangatiku, mengatakan bahwa aku bisa melakukannya.

“Kau hanya perlu menatap matanya dan katakan bagaimana perasaanmu.”ujar Jonghyun padaku.

“Tidak perlu panjang lebar Myungsoo-ya, cukup katakan dengan tegas bahwa kau menyukainya, sejak sekolah dasar. Sejak Ia pindah ke dekat rumahmu.”timpal Chaerin.

Aku menganggukan kepala pada kedua sahabatku ini kemudian melangkahkan kaki menuju taman belakang sekolah yang aku jadikan tempat bertemu Jiyeon. Aku duduk diantara rerumputan, memandang beberapa kupu-kupu juga burung yang berterbangan disekitar bunga-bunga indah yang dirawat Jiyeon, lalu tersenyum.

“Myungsoo-ya.”

Suara merdu Jiyeon mengalun lembut, masuk ke dalam gendang telingaku. Aku menolehkan kepalaku, kemudian berusaha tersenyum saat iris mataku bertemu pandang dengan bola matanya yang berwarna coklat.

“Kau lama menunggu ya? Mian, tadi aku menjalankan jadwal piketku dulu.”

“Ah aniya, aku juga baru datang.”

Lalu hening. Hening yang cukup lama sampai Jiyeon kembali bersuara.

“Kau ingin mengatakan apa?”

Deg. Deg. Deg.

Jantungku berdetak cepat, aku bahkan dapat mendengar laju jantungku. Wajahku terlihat panik, aku tahu itu hanya dari melihat tatapan bingung Jiyeon.

“Myungsoo-ya, gwaenchanha-seyo? Kau tak apa? Wajahmu pucat sekali. Apa kau sakit?”

Iris mata Jiyeon terlihat berkilat kebingungan, ia melangkah maju kemudian tangan kanannya menempel lembut di keningku. Tanpa sengaja aku menepis tangannya yang membuat Jiyeon semakin terkejut.

“Ah mianhe, aku hanya khawatir kau sakit. Wajahmu tiba-tiba saja pucat.”lanjut Jiyeon.

“Aniya, nan gwaenchanha.”

Jiyeon menganggukan kepalanya sedikit canggung, ia melirik ke arahku kemudian tersenyum simpul. Senyum yang sungguh manis.

“Jiyeon-a.”panggilku pelan.

“Wae?”Jiyeon tersenyum semakin lebar, matanya menatapku lurus membuat jantungku kembali berdetak.

“Nan joh-ahaji.”

Jiyeon memandangku terkejut, ia bahkan mengedipkan matanya beberapa kali.

“Aku.. suka jepitanmu.”lanjutku sebelum Jiyeon menjawab.

“Ne?”

“Jepitanmu. Kau cocok memakainya.”

Myungsoo, neo jinjja babo-ya!

Aku menjerit dalam hati, merutuki kebodohanku. Setelah tiga tahun aku berhasil mengatakannya, keunde aku juga yang mengacaukannya!

“Nde, gamsahabnida.”

“Ah ye.”

“Kalau begitu, aku pulang Myungsoo-ya. Ahjussi sudah menunggu di depan sekolah.”

Setelah itu Jiyeon meninggalkanku yang terus menatap punggungnya yang semakin menjauh.

“Yya Myungsoo!”teriak seseorang tepat ditelingaku.

Aku terkejut mendengar teriakan yeoja yang kini menatapku penuh tanda tanya.

“Memikirkan Jiyeon, eoh?”tanya seorang namja sambil meletakkan tiga gelas minuman di depanku juga Chaerin.

“Ei, aku tahu, kau pasti memikirkan kejadian jepit rambut itu kan?”goda Chaerin yang berhasil membuat wajahku memerah.

“Museun suriya, a-aniya! Untuk apa memikirkannya.”

“Neo jinjja babo Myungsoo. Setelah kau berhasil mengatakannya, kau justru menghancurkannya.”kekeh Chaerin yang membuatku semakin kesal.

“Yya!”

“Jonghyun-ah, kau ingatkan bagaimana wajah Myungsoo saat itu? Wajahnya sangat memerah.”

“Lee Chaerin!”

“Keumanhe Chaerin-a.”ujar Jonghyun menghentikan tawa Chaerin, aku tersenyum lebar mendengar sahabatku sejak TK ini membelaku. “Aku sungguh malu mendengar tingkah si bodoh ini.”lanjutnya lagi.

“Yya Lee Jonghyun!!”bentakku yang semakin membuat mereka tertawa.

“Keunde Myungsoo-ya, saat itu kenapa kau justru membahas jepitannya?”tanya Chaerin dengan wajah serius.

“Mola. Aku hanya tiba-tiba mengatakan hal bodoh seperti itu. Melihat wajah Jiyeon terkejut begitu, tiba-tiba kata-kata itu keluar. Aku bahkan masih membenci diriku.”

“Arra arra, sudahlah tidak perlu dibahas lagi. Lagipula, saat itu Myungsoo baru kelas 1 SMP, wajar kalau dia melakukan hal bodoh begitu.”ujar Jonghyun membelaku.

“Ei Jonghyun-ah, si bodoh ini selalu melakukan hal yang sama! Dia selalu bertingkah bodoh, apa kau lupa saat kita kelas 1 SMA? Si babo ini berlagak berani, menantang Joon Sunbae.”

Aku melotot kearah Chaerin yang terus mengungkit kejadian bodoh yang aku lakukan. “Itu karena kau memaksaku, gadis tengik!”kesalku.

Fikiranku mulai melayang, mengingat-ngingat kembali kejadian yang sungguh membuatku malu. Saat itu baru satu bulan kami masuk ke Anyang High School. Aku, Chaerin, Jonghyun juga Jiyeon berada dikelas yang berbeda. Aku sekelas dengan Jonghyun sementara Chaerin dan Jiyeon bersama. Aku ingat dengan benar bagaimana wajah bodoh Chaerin yang mengatakan kalau Jiyeon sering diganggu oleh Sunbae kami. Sunbae yang terkenal sekali kenakalannya.

Chaerin berlari keras ke arah kelasku yang terletak diujung koridor, dengan nafas tersengal-sengal ia mencari Jonghyun.

“Chogiyo. Apa kalian melihat Jonghyun?”

Seisi kelasku menatap bingung ke arah Chaerin.

“Lee Jonghyun, kalian lihat? Atau Myungsoo?”tanya Chaerin lagi.

“Aku rasa mereka masih di kamar ganti, kami baru selesai pelajaran olah ra..”

“Keure, gomawo!”teriak Chaerin Tanpa mendengarkan penjelasan temanku sampai selesai.

Dengan terburu-buru gadis ceroboh itu masuk ke dalam ruang ganti. Chaerin tak memperdulikan sorakan dari teman-teman pria kelas ku yang terkejut lantaran ia masuk dengan terburu-buru.

“Yya babo! Apa yang kau lakukan, eoh?!”bentakku pada Chaerin sambil menutupi tubuh atasku dengan tangan.

“Jonghyun-ah, ini gawat!”

“Wae? Ada namja yang mengganggumu?”ujar Jonghyun tenang, meski begitu aku tahu kalau ia sedikit panik melihat wajah Chaerin.

“Eoh! Ah, aniya.”

“Yya, katakan dengan benar. Ada apa? Ada yang mengganggumu? Dimana yang sakit?”Jonghyun mendekat ke arah Chaerin kemudian memutar tubuh gadis itu, mencari luka di bagian tubuh Chaerin.

“Aniya! Bukan aku yang diganggu, tapi Jiyeon.”

Mendengar nama Jiyeon dengan mulus keluar dari bibir Chaerin sontak membuatku terkejut. Wajahku langsung memerah seiring helaan nafas lega Jonghyun.

“Mwo?! Siapa yang berani mengganggu Jiyeonku?!”kali ini aku yang berjalan mendekat ke arah Chaerin dan mengguncangkan tubuhnya keras.

“Yya michieoso?!”teriak Chaerin.

“Chaerin-a, katakan padaku siapa yang mengganggu Jiyeon?”

“Joon Sunbae.”sebuah nama itu keluar dengan mulus dari bibir mungil Chaerin yang langsung membuat kedua tanganku lemas.

“Aish jinjja appo.”aku masih dapat mendengar gerutuan Chaerin yang mengelus kedua lengannya pelan. “Yya babo.”panggil Chaerin.

“Myungsoo-ya, gwaenchanha?”tanya Jonghyun mengguncang tubuhku.

“Ini kesempatanmu, Myungsoo-ya.”ujar Chaerin yang tak dapat ku mengerti.

“Mu-museun suriya?”

“Kau bisa jadi pahlawan untuk Jiyeon, dengan begitu Jiyeon akan menyadari perasaanmu. Kemungkinan Jiyeon jatuh cinta pada namja sepertimu akan terbuka lebar!”

“Yya neo michieoso? Kau tahu kan Joon Sunbae itu juara taekwondo?”tanya Jonghyun.

Aku melirik kearah Chaerin yang terlihat sedang menggerutu ke arah Jonghyun.

“Arrayo, tapi ini kesempatan emas untuk Myungsoo.”

“Kesempatan emas untuk bunuh diri?”ujar Jonghyun membuatku semakin lemas.

“Yya, keumanhera.”bisikku pelan.

“Myungsoo, kau tidak boleh menyerah! Seperti yang aku katakan kalau ini adalah kesempatan emas untukmu! Tenang saja, Jonghyun akan membantu.”putus Chaerin yang membuatku terkejut sedangkan Jonghyun hanya menghela nafas.

“Yya Chaerinnie, aku tidak mau membuat sahabatku ini mati sia-sia karena membantuku. Aku tidak mau Jonghyun menanggung kebodohanmu. Biarkan aku yang mati.”

“Ei, pokoknya kau tenang saja. Jonghyun akan membantumu.”

“Chaerin-a, kenapa kau selalu memutuskan semua hal semaumu.”lirih Jonghyun.

Setelah perdebatan panjang dan keputusan yang diambil secara sepihak oleh Chaerin, aku memberanikan diri menemui Joon Sunbae. Aku menoleh ke belakang, menatap Chaerin yang tersenyum sumringah dengan telapak kanan terkepal, bibirnya menggumamkan kalimat semangat seolah semua akan berjalan sesuai rencana sedangkan aku hanya menghela nafas berat, tahu semua tidak akan mudah.

“Gugup?”tanya Jonghyun tanpa menoleh ke arahku.

Aku menganggukan kepala, bagaimana tidak gugup kalau yang akan aku hadapi ini adalah Lee Joon, legenda Anyang yang sungguh terkenal kepiawannya dalam merubuhkan seseorang. “Tenang saja, aku akan membantumu.”

Aku menoleh ke arah Jonghyun yang berdiri dengan sebelah tangan masuk ke dalam saku celananya, cih, dalam keadaan begini kenapa dia tetap tampan?

“Kau tidak perlu mengorbankan dirimu, Jonghyun-ah.”

“Tentu aku tidak akan mengorbankan diriku. Kau fikir aku akan datang menemui Joon bersamamu? Aku akan berdoa agar kau selamat, setidaknya Joon Sunbae tidak melukaimu terlalu banyak.”

“Yya!”

Aku mendengar Jonghyun terkekeh melihat wajah kesalku. “Tenanglah, seperti yang dikatakan Chaerin. Mungkin Jiyeon akan menyukaimu setelah ini. Meski kau hanya tinggal nama.”

“Aish! Nappeun saeki.”umpatku pada Jonghyun yang membuatnya semakin tertawa.

Aku melangkahkan kaki memasuki gudang belakang sekolah yang sudah tak terpakai. Dapat ku rasakan kaki ku semakin berat seiring semakin dalam aku melangkah. Sedangkan Jonghyun terlihat tenang-tenang saja. Saat sudah hampir berhadapan dengan Joon Sunbae, aku melirik ke samping dan tidak menemukan Jonghyun disana. Sial!

“Yya brengsek, apa yang membawamu kesini, eoh?”tanya seseorang dari balik tubuhku.

“J-Joon Sunbae eodisso?”ujarku dengan gugup.

“Wae? Kenapa mencariku?”

Aku melirik sekilas ke arah namja yang bersuara kemudian menelan ludah dan merutuki kebodohan Chaerin. Yah, semua ini salah Chaerin. Andai saja dia tidak mengajukan ide gila ini, aku tidak perlu berhadapan dengan pimpinan komplotan menyeramkan ini.

Wajahnya yang dingin. Tatapan matanya yang menusuk ke dalam mataku, seolah mengoyak pertahananku bahkan sebelum kami bertanding.

“Su-sunbae ja-jangan ganggu Jiyeon lagi.”ujarku terbata yang dijawab senyum mengejek di wajah Joon.

“Mworagu?”

“Jiyeon, siswi jelas 1-2. Aku minta Sunbae tidak mengganggunya lagi.”

“Wae?”

“Pokoknya jangan.”

“Ah, kau menyukainya?”

Aku menundukkan kepalaku saat mendengar langkah kaki mendekat.

“Kau fikir kau siapa bisa memerintahku, eoh?”

Satu tamparan mengenai wajahku.

“Yya, siapa namamu?”

“Myungsoo.”

“Ah, jadi kau yang mengirimkan surat kaleng ini?”

Joon merogoh saku celananya dan membacakan sebuah surat tepat di depan wajahku. “Aku akan membunuhmu.”

Mataku terbelalak saat mendengar isi surat yang diatas namakan nama ku.

“Neo juggo-le?”

“A-aniya! Aku tidak pernah menulis surat itu.”

“Kau mempermainkanku?”

“Mwo?”

“Disini tertulis dengan jelas namamu, Myungsoo-ssi. Kau benar ingin membunuhku?”

“S-Sunbae..”

“Habisi dia.”ujar Joon Sunbae lalu meninggalkanku, membiarkan empat anak buahnya menghajarku sementara dirinya dan dua yang lain memperhatikan dari jauh.

Tubuhku sudah remuk redam, rasanya aku sudah tak sanggup lagi untuk bertahan. Dengan sisa kekuatanku aku menatap Joon yang tersenyum sinis sampai aku mendengar sebuah teriakan.

“Hentikan Joon!”

Detik berikutnya aku kehilangan kesadaran.

“Kau ingat Jonghyun? Wajah Myungsoo saat itu benar-benar hancur. Ia bahkan tidak bisa pergi ke sekolah selama dua minggu.”oceh Chaerin.

“Kau fikir karena siapa aku begitu, eoh?!”

“Kau menyalahkanku, Myungsoongie?”tanya Chaerin dengan wajah tak bersalahnya.

“Yya, Lee Chaerin, andai kau tidak mengajukan ide gila itu, andai kau tidak menulis surat kaleng atas namaku semua itu tidak akan terjadi.”

“Yya!!”kesal Chaerin. “Keunde, uri Jonghyunnie benar-benar hebat! Hanya seorang diri dia berhasil mengalahkan anak buah Joon juga membuat si biang masalah itu patah tulang.”puji Chaerin.

Aku melirik ke arah Jonghyun yang tersenyum bangga sekaligus malu mendengar pujian Chaerin. Ia bahkan menggaruk belakang kepalanya yang aku tahu tak gatal.

“Ah matta, Chaerinnie, kau ingat saat kelulusan kita di Anyang? Jonghyun yang berniat memberikan surat cinta untuk Jiyeon malah salah memberikan surat tagihan listrik rumahnya.”

“Tentu aku ingat!! Aku sungguh dibuat sakit perut dengan tingkah bodohnya.”tawa Chaerin semakin kencang sementara Jonghyun menatap Chaerin dengan tersenyum senang.

Apa hidupku hanya untuk bahan tertawaan mereka? Aku menghela nafas berat kembali mengingat kebodohanku yang entah keberapa kali tiap berhadapan dengan Jiyeon. Bagaikan sebuah film, semua memori yang tersimpan itu terputar kembali.

Hari itu adalah hari kelulusan kami. Satu minggu sebelum acara kelulusan, aku menuliskan surat cinta yang akan aku berikan pada Chaerin. Surat cinta yang ku tulis penuh ketulusan hatiku. Hari itu Jiyeon sangat cantik. Dengan dress selutut berwarna putih juga rambut panjang yang ia biarkan tergerai indah. Make up tipis menyapu wajahnya, membuat Jiyeon semakin cantik. Aku menunggu Jiyeon di kedai kopi tempat kami sering menghabiskan waktu bersama, dengan Chaerin juga Jonghyun tentunya. Dengan wajah manisnya itu Jiyeon memasuki kedai kopi, tersenyum lalu melangkah ke arah kursi yang ku duduki.

“Myungsoo-ya. Chukkae atas kelulusanmu, aku tahu kau akan menjadi lulusan terbaik.”

Aku hanya tersenyum mendengar jawaban Jiyeon.

“Jiyeon-a..”

“Hmm?”

“Ada yang ingin aku berikan padamu.”

Aku mengeluarkan satu kotak dari dalam tas ransel yang ku bawa kemudian meletakannya di atas meja. Sebuah kotak berukuran sedang dengan warna pink juga putih, warna kesukaan Jiyeon. Kotak berhiaskan pita itu tergeletak manis dihadapan kami.

“Apa ini?”

“Bukalah saat kau sampai di rumah dan segera hubungi aku untuk memberi jawabannya.”

Aku mengatakannya dengan sangat tenang. Seolah benar-benar yakin bahwa semua ini adalah puncaknya, hari ini adalah akhir dari semua kebodohan-kebodohanku yang dulu.

Malam hari setelah aku memberikan kotak hadiah untuk Jiyeon aku berjalan uring-uringan. Ditemani Jonghyun juga Chaerin yang memaksa untuk menginap demi mendengar secara langsung jawaban dari Jiyeon.

“Yya keumanhe, kau membuatku pusing.”omel Chaerin yang mulai jengah dengan sikapku.

Tepat pukul sepuluh malam ponselku berdering. Dengan cepat aku menekan tombol hijau kemudian mengaktifkan vitur speaker agar dua pengganggu itu dapat mendengar jawaban Jiyeon.

“Yoboseyo.”sapaku pelan.

“Yoboseyo Myungsoo-ya.”

“Ah Jiyeonnie. Kau sudah memiliki jawaban?”

“Sebelumnya aku ingin mengucapkan terima kasih. Aku sungguh suka dengan baju dan boneka yang kau berikan. Dan maaf aku tidak menyiapkan hadiah kelulusan untukmu. Keunde Myungsoo-ya apa kau bermaksud memintaku membayar tagihan listrikmu?”

“Nde?”

“Aku tidak tahu alasannya apa, tapi ku fikir keluarga kalian sedang dalam masalah. Apa bisnis hotel keluargamu sedang tidak lancar?”aku mengerutkan keningku tidak mengerti sementara Chaerin sudah bertanya maksud perkataan Jiyeon pada Jonghyun.

“Ye?”

“Igeo, di dalam kotak hadiah ini aku menemukan sebuah surat. Keunde saat ku buka, itu surat tagihan listrik kediaman keluarga Kim.”

“Mwo?”

“Aku akan memberikan uang tabunganku jika itu bisa membantumu.”

“Joesonghabnida Jiyeonnie, bisa kita bicara nanti?”

“Nde?”

“Aku akan menghubungimu lagi nanti. Selamat malam.”

Aku memutuskan sambungan telephone kemudian memandang Jonghyun juga Chaerin. Chaerin terlihat putus asa sementara Jonghyun hanya menggelengkan kepalanya dan aku, aku seperti ingin mati saja.

“Yya Kim Myungsoo, kenapa kau bisa begitu bodoh?”tanya Chaerin menyadarkanku dari lamunan.

“Mwo?”

“Dari semua hal, surat tagihan listrik adalah hal paling bodoh yang kau lakukan.”lirih sahabatku itu lagi.

“Apa mungkin aku dan Jiyeon tidak dapat bersama?”

“Yya! Apa yang kau fikirkan eoh? Tentu itu tidak benar. Kalian akan hidup bersama nanti.”hibur Chaerin.

“Setelah semua yang terjadi, Chaerinie, apa kau yakin aku dan Jiyeon dapat bersama eoh?”

“Tentu! Kalian pasti akan bersama.”hibur Chaerin dengan wajah bodohnya.

Terkadang aku bingung dengannya. Chaerin selalu terkenal sebagai gadis serampangan dan ketua genk sekolah, ia tidak bisa bersikap baik pada siapapun bahkan cenderung kasar dan semaunya, ia jago berkelahi dan menyebalkan tapi ia selalu baik padaku dan bersikap manis di hadapan Jonghyun. Saat aku mulai lelah dengan semua perasaanku pada Jiyeon, Chaerin akan dengan sukarela memberikan dukungannya padaku. Ia akan terus menyemangatiku dan mengatakan kami akan bersama.

“Lalu bagaimana dengan kalian berdua?”

“Mwo?”tanya Jonghyun dan Chaerin bersamaan.

“Apa kalian tidak mau bersama saja?”

“Yya michieoso?”tanya Jonghyun.

“Neo juggo-le?”umpat Chaerin.

“Aigoo, kalian bahkan sangat kompak dalam hal mengumpat.”

Aku melirik ke arah kedua sahabatku ini. Chaerin sibuk menggerutu dengan wajah memerah sementara Jonghyun terlalu sok cool dan terus memperhatikan Chaerin. Mungkin aku terlalu egois, selalu saja menyusahkan keduanya dengan seribu permasalahkanku pada Jiyeon sementara aku tidak menyadari bagaimana perasaan keduanya.

Keduanya terlihat sempurna bersama. Jonghyun selalu memperhatikan Chaerin sedangkan Chaerin hanya bersikap manis pada Jonghyun. Aku bahkan ingat dengan benar bagaimana Jonghyun selalu menuruti setiap kata yang Chaerin keluarkan, mematuhi apa saja yang Chaerin perintahkan dan berlari seperti orang gila saat kami mendapat kabar Chaerin berkelahi dengan preman sekolah khusus putri kota sebelah. Jonghyun akan selalu ada untuk Chaerin, tak peduli bagaimanapun keadaannya. Bahkan saat Chaerin menangis karena anjingnya yang mati, Jonghyun dengan sukarela memeluk dan menemani Chaerin sampai gadis itu terlelap. Aku sungguh iri dengan Jonghyun yang bisa menunjukan rasa cintanya pada Chaerin.

-oOo-

Malam itu tidak seperti biasanya. Chaerin sibuk dengan urusan pernikahan kakaknya Lee Dong Wook, ia tidak bisa ikut berkumpul denganku juga Jonghyun.

“Arraso, aku akan membantumu nanti.”

Aku melirik ke arah Jonghyun yang kini sibuk bicara dengan telephonenya.

“Eoh, aku akan ajak Myungsoo ke rumahmu. Kau mau kubawakan apa? Hanya itu? Tidak ingin yang lain? Ayam goreng? Arraso, aku akan bawakan pesanmu. Kau jaga diri baik-baik, jangan terlalu lelah arra?”

Sebuah senyum mengembang di wajahku saat mendengar Jonghyun begitu perhatian pada Chaerin.

“Wae? Kenapa tersenyum seperti orang bodoh begitu?”

“Aniya, aku hanya merasa kalian berdua benar-benar serasi.”

“Museun suriya?”

“Yya Lee Jonghyun, kenapa tidak utarakan saja perasaanmu, eoh?”

“Michieoso?”

“Sampai kapan kau akan seperti ini? Memendam semuanya sendiri. Apa kau takut Chaerin menolakmu?”

“Ani, aku hanya takut bertindak bodoh sepertimu.”

“Eish yya!”

“Sudahlah, kajja kita ke rumah Chaerin.”

Setelah membeli semua pesanan Chaerin, aku juga Jonghyun kembali melangkahkan kaki menuju kediaman si mata elang itu. Sesekali aku mendengar Jonghyun melantunkan sebuah lagu kemudian bersenandung riang. Tiba-tiba sebuah ide gila melintas di kepalaku dan aku harus mengatakannya pada Chaerin juga Jonghyun.

“Apa lagi sekarang?”tanya Chaerin disela-sela kesibukannya mencoba baju.

Saat ini aku juga Jonghyun sedang menemani Chaerin mencoba baju yang akan ia kenakan nanti. Kami hanya terpisah oleh sebuah tirai panjang dan besar.

“Aku akan bernyanyi untuk Jiyeon.”jawabku.

“Kau yakin?”tanya Chaerin lagi. “Aah tidak muat? Bisa kau paksa mengancingnya?”lanjut Chaerin pada seseorang yang petugas menemaninya di dalam kamar ganti.

“Eoh. Mengungkapkan perasaan secara langsung.”

“Bukankah sudah pernah? Apa kau mau mengulang kejadian jepit rambut?”

“Yya kali ini berbeda. Aku akan menyanyikan sebuah lagu yang diciptakan untuk Jiyeon.”

“Geulaeseo? Siapa yang akan menciptakan lagunya? Kau bahkan tidak mengerti tangga lagu.”

“Yya!!”

“Wae? Aku mengatakan yang sebenarnya.”

“Arraso. Aku akan menciptakan lirik sedangkan Jonghyun yang menciptakan nadanya.”

“Sudah selesai.”ujar petugas pada Chaerin.

“Nde gomapseumnida”

“Bagaimana Jonghyunie, kau akan membantukukan?”tanya ku bertepatan dengan kemunculan Chaerin.

Aku dapat melihat wajah Jonghyun yang terkejut kemudian melirik ke arah sahabatku Chaerin. Tubuhnya terbalut sempurna dress selutut berwarna gading dengan hiasan rambut yang terpasang manis di kepalanya.

“Otthe?”tanya Chaerin dengan wajah yang dibuat menggemaskan.

“Yeppo. Geure Jonghyun-ah?”

“Oh yeppo.”ujar Jonghyun yang masih mentap takjup ke arah Chaerin.

“Kalau begitu aku pilih yang ini. Kalian tunggu sebentar ya, aku berganti pakaian sebentar.”

“Bagaimana? Kau bisa membantuku, kan?”

“Oh? Membantu apa?”tanya Jonghyun bingung.

“Aigoo, kau bahkan kehilangan fikiranmu karena Chaerin.”

“Yya pelankan suaramu!”

“Kau akan kehilangan Chaerin jika tidak cepat-cepat menyatakannya. Hatiku bahkan sedikit bergetar melihatnya.”

“Kau mau mati?”

“Nongdam.”

Jonghyun melirik kearahku dengan tatapan membunuhnya. Aku hanya tersenyum kaku.

“Sudah ku katakan aku hanya bercanda.”ujarku pelan. “Jadi bagaimana? Mau membantuku?”

-oOo-

Malam ini adalah malam penentuan, malam dimana aku akan menyatakan perasaanku pada Jiyeon yang sudah ku pendam sembilan tahun lamanya. Perasaan yang terus tersimpan bahkan saat kami masih sekolah dasar.

“Bagiamana? Bisa?”tanyaku pada Chaerin yang ku minta mengajak Jiyeon pergi ke sebuah taman bermain.

Aku tidak ingin bertemu dengan Jiyeon sampai waktu aku bernyanyi tiba. Aku tidak mau mengacaukan semuanya. Karena itu aku meminta Chaerin mengajaknya pergi. Ini adalah hari yang besar. Hari dimana semua yang kurasakan akan ku lepas. Hari aku akan benar-benar menyatakan perasaanku pada Jiyeon dan memintanya menjadi kekasih, ani, aku akan memintanya menikah denganku. Terdengar gila, bukan? Tapi begitulah cinta. Cinta mampu membuat seseorang menjadi gila.

“Tentu saja! Apa kau lupa kalau aku bersahabat dengan Jiyeon? Aku beralasan ingin melepas stress karena pria yang ku suka tidak menggubrisku.”jelas Chaerin.

“Kau.. Menyukai seseorang?”tanya Jonghyun.

“Anniya, itu hanya alasanku saja.”

“Bukankah sudah ku katakan? Kalau kau tidak segera mengatakannya, Chaerin akan direbut orang lain.”bisikku pada Jonghyun.

“Jadi nanti, jam 8 malam aku akan mengajak Jiyeon ke area kuda-kudaan kemudian beralasan ke toilet. Setelah aku pergi lampu taman bermain akan dimatikan dan akan ada lampu sorot yang menyorot dirimu. Saat itulah kau bernyanyi.”jelas Chaerin sambil menyerahkan sebuah kertas padaku.

Aku menganggukan kepalaku mengerti. Beruntung sekali punya sahabat cerdas sepertinya, ia yang mengatur semua rencana dan memesan taman bermain ini untuk acaraku.

“Kali ini jangan gagal lagi, Myungsoo-ya.”

“Eoh, arraso.”

Aku merasakan jantungku berdetak cepat bahkan sangat cepat saat melihat jarum jam yang semakin lama semakin mendekat ke arah jam 8. Kegugupan langsung saja menguasaiku, keringat dingin mulai bercucuran di keningku.

“Jangan gugup. Semua akan baik-baik saja.”ujar Jonghyun.

Aku melirik ke arah Jonghyun yang terlihat sama gugupnya.

“Aku juga akan menyatakan perasaanku pada Chaerin.”

Aku tersenyum senang mendengar pernyataannya. Aku memeluknya kemudian saling memberikan dukungan.

Tepat jam 8 malam rencana kami dijalankan. Taman bermain area kuda-kudaan sudah disepikan, pengunjung dialihkan pada wahana lainz Semua lampu sekeliling wahana sudah dipadamkan. Inilah saatnya. Ini waktunya aku menyatakan perasaanku.

Lantunan musik terdengar merdu keseluruh penjuru wahana. Lampu sorot mulai menerangiku. Aku dapat melihat keterkejutan diwajah Jiyeon. Aku tersenyum. Tersenyum bangga sebelum memulai nyanyianku.

When I wake up, I don’t like mornings without you

It feels like something’s empty

I want to put you by my side and look at you so only I can have you

I want to give myself to you baby

I’m going to tell you right now

I hope you will smile

I’m confessing now, I want to make you my girl

I want to open my eyes with you, smile and kiss you

Just stay by my side

This is my confession

Honestly, I’m not a good guy, there might be times I make you cry

But I promise there will be more days when I’ll make you smile

I want to hold hands and watch movies

Like the beautiful stories in song lyrics

Just the two of us

I’m going to tell you right now (please my baby)

I hope you will smile

I’m confessing now, I want to make you my girl

I want to open my eyes with you, smile and kiss you

Just stay by my side

From the moment you came to me

My world only had you in it, I want you, I want you

With your soft voice, tell me you love me

Then time will stop

I’m confessing now, I want to make you my girl

I want you to be in my arms when I wake up every morning

Just stay like this

This my confession

Aku melihat dengan jelas wajah terkejut Jiyeon kini berubah haru. Air mata mengalir deras di kedua pipinya. Aku melangkahkan kakiku maju. Tersenyum bangga dengan apa yang aku lakukan.

“Myungsoo-ya.”lirih Jiyeon membuatku semakin tersenyum. “Igeo mwoya.

“Jiyeon-a. Nan joh-ahaji.”ujarku menbuat air mata Jiyeon semakin mengalir deras.

“Kau ingat kata-kata itu, kan? Kata-kata yang kuucapkan saat kita masih duduk dibangku sekolah menengah pertama. Kata-kata yang kurusak dengan kebodohanku mengomentari jepit rambutmu. Jiyeon-a, aku sudah menyimpan perasaan ini sejak lama bahkan jauh sebelum kejadian jepit rambut yang membuatku malu setengah mati. Jauh sebelum aku menantang Joon Sunbae dan jauh sebelum tragedi tagihan listrik kediamanku. Selama itu, dengan semua kebodohaku, aku mencintaimu.”aku tersenyum, merasa benar-benar lega dengan semua pengakuanku.

“Myungsoo-ya. Aku benar-benar tersentuh.”

“Mian karena ku tidak bisa jadi laki-laki romantis dalam mengungkapkan perasaanku. Aku bahkan meminta bantuan Chaerin untuk mengajakmu ke tempat ini dan meminta bantuan Jonghyun dengan lagu yang ku nyanyikan. Keunde aku benar-benar tulus mengakuinya. Semua yang tertulis dan yang aku katakan adalah perasaanku. Jiyeon-a, mau kah kau menikah denganku?”

“Mwo? Menikah?”

“Hmm, mungkin jika aku menyatakannya saat kita masih SMP atau SMA aku akan memintamu menjadi kekasihku, keunde saat ini kita sudah menyelesaikan kuliah kita. Aku tidak lagi ingin berpacaran denganmu, aku ingin langsung menjadikanmu istri. Apa kau mau?”

Aku melihat sedikit anggukan kepala Jiyeon, kemudian ia tersenyum dan mengecup pipiku.

“Aku sudah menunggu lama sekali, Myungsoo-ya.”ujarnya lalu memelukku.

Aku menghirup dalam-dalam aroma chocolate dari tubuh Jiyeon. Memejamkan mata dan menikmati setiap debar jantung lantaran dekapan yang begitu erat. Saataku membuka mata, aku dapat melihat Jonghyun juga Chaerin sedang menautkan bibir mereka. Mengungkapkan cinta yang sudah lama mereka pendam. Sama sepertiku, akhirnya Jonghyun juga Chaerin saling mengakui. Sama sepertiku, akhirnya kami bahagia dengan masing-masing orang yang kami cintai.

END

70 responses to “[One Shoot] Confession

  1. Waahhh ternyata jiyi jga menyukai myungppa,,
    Knpa gak dri dulu aja mrnyatakanya pasti jiyi langsung mnerimanya hanya sj myung belum ad keberanian ㅋㅋ
    Klo jodoh emg gak kemana kok,,

  2. Hwaaaaa ini lucu bgt dan sweet di akhir cerita
    Saluttt deh sama myungyeon yg sama2 lama memendam perasaan
    Dan myungsoo… hadeeeehhh gegara gugup di depan jiyeon dy banyak menyia2kan kesempatan kkkk
    Tp beneran deh kocak2 semua
    Myungsoo harus bertahun2 jadi bahan tertawaan teman2 nya wkwkwkwk

    Nice story thorr

  3. hehe
    q ska bgt…feel’y dpt…kcak biz typ kbdhan myung yg lkukan saat ingn mytkn cnta’y ap gi mslh tgihan lstrik…sngguh ntuch mbwtku ngakak gling”…:D
    sweet…pas myung mytkn…bhkn dy mlmr jiyi…;)

  4. ckclck,myung kalau terlambat dan tiba2 ada minho bagaimana?gigit jari kan jadinya.
    hahaha tapi suka gayamu yg langsung melamar..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s