[ ONE SHOT ] MARRYING SOMEONE WHO COMES SUDDENLY

MSWCS

 

Tittle : Marrying Someone Who Comes Suddenly.

Author : gazasinta

Main Cast : Choi Minho ” SHINee ” , Park Jiyeon ” T-ara “, Bae Suzy ” Miss A “

Genre : Marriage life, Hurt (?)

Rating : PG-17+

Hai….hai aku kembaliiiii*melambaikantanganalamissuniverse – nyengir kuda ^_^

Bukan membawa lanjutan COT or AMOH ( singkatannya ga ada yang enak thor ff nya  ) melainkan one shot yang tiba-tiba idenya datang begitu saja setelah ngeliat ibu-ibu bersarung yang lagi nonton India sambil makan rengginang =))….* Ah itu mah elu kali thor, ngaku dahhhhh!!!!gkgkgkkggk

Tahu Chori-Chori Chupke Chupke ?

Ga tau ?

Payah !!!!

Ituloh sejenis makanan yang di emut……..Lolipop *Plakkkkk

Hehehehe, Itu film Bollywood chingudeul, yang main entahlah siapa aku ga tau, yang pasti salah satu cast cewenya Rani Mukherjee * Tuh kan elu tau banget, ibu2 bersarung tadi pasti elu kan ? wkwkwkwk.

Sebenarnya aku ga tahu persis jalan ceritanya, Cuma minta diceritain si ibu2 bersarung sekilas, pas tau rada mikir juga sih mau dibuat ff atau engga, karena ceritanya menurutku rada tabu, tapi setelah konsultasi sama pemuka agama setempat ( LOL ) akhirnya author memutuskan tetap membuat cerita yang seperti ini….walaupun jauh dari kata bagus, hehehe.

Baiklah ini pemanasan otak author aja, sebelum bergelut lagi dengan ff chapter, tanpa banyak ajak ijik *yang diatas apaan ?

Silahkan dinikmati, mian jika banyak typo (s) bertebaran dan ga nanggung jika akhirnya mengecewakan.

Marrying Someone who comes suddenly.

“ Kajja lempar bolanya….berikan padaku….paliwa !!! “

“ Kejar bolanya…kejarrrrrr….cepat, jangan sampai membobol gawang kita !!!! “

Benda berbentuk bundar itu menggelinding menyusur tanah lapang, tak berapa lama gerakkannya terhenti karena terhalang kaki seorang pria yang sejak tadi memperhatikan dengan seksama anak-anak kecil yang bermain begitu bersemangat

“ Ahjussi, bola itu milik kami “

Pria bertubuh tinggi tegap yang dipanggil ahjussi membungkukkan tubuh, mengambil bola dengan kedua tangannya. Mata tajam namun teduh miliknya menatap anak kecil yang merengek meminta bolanya kembali “ Ini milikmu “ Ucapnya tersenyum seraya menyerahkan kembali bola tersebut .

“ Kamsahamnida ahjussi “ Anak laki-laki itu membungkuk berterimakasih “ Kajja !!! kita main lagi !!! “ Teriaknya berlari meninggalkan pria yang perlahan-lahan senyum dibibirnya menghilang.

“ Aku pulang !! “

Seorang wanita cantik dengan rambut yang digelung keatas dan masih menggunakan apron ditubuhnya muncul tergesa-gesa dari arah dapur ketika mendengar suara seseorang yang sejak tadi dinantinya sudah kembali.

“ Eoh oppa, sudah pulang ? “ Sambut wanita cantik itu lembut seraya mengambil alih tas kerja si pria yang tak lain adalah suaminya “ Akan ku siapkan air hangat untukmu, setelah itu kita makan bersama “ Ucapnya dan dengan cepat bergerak masuk kedalam kamar.

Choi Minho pria tampan itu menatap lekat sosok sang istri hingga menghilang dibalik kamar mereka, tak berapa lama matanya beralih pada sofa empuk dihadapannya. Minho menghempaskan tubuh dan merentangkan kedua tangannya mencoba untuk sejenak melepas lelah.

Tak berapa lama sang istri kembali muncul dari balik pintu kamar, ia tersenyum ketika melihat suaminya sudah tertidur kelelahan disofa, kaki mulusnya perlahan mendekat “ Oppa….Oppa “ Ucapnya menyentuh tubuh suaminya lembut.

Kedua mata Minho terbuka cepat “ Eoh, apa air hangatnya sudah siap ? “ Tanyanya mencoba mengangkat tubuh lelahnya dari sandaran empuk sofa.

“ Eoh, mandilah….aku akan menunggumu dimeja makan “ Ucap sang istri tersenyum lembut.

Suasana diruang makan nampak sunyi, hanya sesekali terdengar suara sendok dan garpu yang beradu. Wanita cantik nan lembut yang sudah 5 tahun mendampingi Choi Minho mengarungi rumah tangga menatap suaminya perlahan “ Apa…..kau masih memikirkannya ? “ Tanyanya seolah tahu apa yang sedang suaminya pikirkan.

“ Apa ? “ Tanya Minho tak mengerti-lebih tepatnya mungkin berpura-pura tak mengerti.

“ Permintaanku ketika itu “ Ucap wanita yang duduk dihadapan Minho nampak berhati-hati “ Rumah ini memang akan terasa menyenangkan jika aku bisa memberikan keturunan untukmu….”

“ Suzy-ah……aku tidak lagi memikirkan tentang hal itu “ Potong Minho cepat, ia meletakkan sendok garpu dari tangannya kemudian meraih tangan sang istri yang bernama Bae Suzy lembut “ Bukankah sudah kukatakan, cukup kau selalu bersamaku, semuanya bukanlah masalah “ Ucap Minho menatap lekat kedua mata istrinya yang sudah berkaca-kaca.

“ Mianhae……aku beruntung memiliki seorang suami seperti dirimu “ Ucap Suzy dengan perasaan menyesal yang begitu mendalam.

Minho tersenyum dan mengelus lembut tangan istrinya, meski dalam senyumnya tersimpan rasa kecewa yang tak mungkin ia tunjukkan. Selama 5 tahun ia telah bersama dengan Bae Suzy, mengemas rapi harapan kosong yang mungkin benar-benar hanya sebuah harapan. Ia tak ingin Suzy terluka, karena dirinya lah yang begitu menginginkan sosok wanita itu hadir dalam hidupnya. Sudah tentu ia harus menerima kelebihan ataupun kekurangan Suzy, meskipun mengorbankan perasaannya.

Hari ini Minho mengajak Suzy mengunjungi keluarga besarnya, rutinitas bulanan yang ingin sekali ia hindari, namun tentu saja tak bisa ia lakukan. Tak ada yang salah pada keluarga besarnya, mereka sangat menyayangi dan memanjakan Suzy, namun hal itulah yang justru membuat Minho semakin merasa terbebani.

“ Kajja, kita berfoto bersama !!! Eoh Luna-ah tolong ambilkan kursi untuk para unnie mu, mereka yang hamil berfoto sambil duduk saja, mereka pasti lelah “ Ucap Choi Sooyoung memerintah Luna, anak perempuan yang paling kecil, adik dari Choi Minho “ Eoh Suzy-ah, kau dekat eomma eoh, kajja!!! “ Sooyoung menarik tangan Suzy dan membawa dalam pelukkannya.

Minho melihat Suzy menjadi kikuk, namun wajah cantik itu tetap berusaha tersenyum. Tiba-tiba Minho merasakan bahunya begitu hangat, ia menoleh dan mendapati Choi Siwon appanya sedang menatapnya dengan pandangan yang menenangkan.

“ Bersenang-senanglah, tak ada yang perlu kau pikirkan “ Ucap Siwon seolah tahu apa yang Minho rasakan.

Minho mengangguk dan menampakkan senyumnya agar terlihat biasa ketika hasil foto keluarga dipajang nanti.

Hari sudah sore dan hampir semua keluarga besar Choi telah kembali, namun Minho dan Suzy masih disana, menunggu eommanya yang sedang menyiapkan oleh-oleh untuk mereka. Harus Minho akui, dari sekian banyak menantu, Suzy-lah kesayangan keluarganya, selain cantik Suzy adalah wanita yang sangat baik dan perhatian pada keluarganya. Tak heran jika semua terutama eommanya begitu menyayangi istrinya itu, meski mereka tahu apa yang menimpa Suzy menghempaskan harapan mereka, namun rasa sayang mereka tak sedikitpun pudar.

“ Ini bawalah, eomma khusus membuat ini untuk uri Suzy “ Sooyoung menyerahkan bungkusan kearah Suzy.

“ Kamsahamnida eomma “ Ucap Suzy.

Sooyoung tersenyum dan mengelus rambut Suzy lembut “ Semoga….ini…” Sooyoung menghentikan kalimatnya “ Semoga kau menyukainya “ Ucap Sooyoung akhirnya.

Minho menatap sosok Suzy yang memunggungi tubuhnya, ia tahu jika istrinya belum bisa memejamkan matanya. Oleh-oleh yang diberikan eommanya sore tadi membuat istrinya terlihat gusar. Sup rumput laut di Korea merupakan makanan yang wajib wanita konsumsi ketika sedang hamil atau dipercaya untuk mempercepat proses kehamilan. Keluarga Minho memang tak pernah menyinggung tentang hal itu langsung, mungkin tak ingin membuat Suzy tak nyaman, namun mengenai mitos sup rumput laut, semua pasti mengetahuinya.

Minho memang tak pernah menceritakan kepada orangtuanya jika Suzy tidak akan pernah bisa mengandung lagi. Kejadian 4 tahun lalu dokter terpaksa mengangkat rahimnya, Suzy mengalami keguguran karena terjatuh dari tangga rumah pada tahun pertama kehamilannya. Keputusan yang sangat berat, namun Minho meyakinkan Suzy bahwa tidak ada hal yang lebih membahagiakan untuk Minho selain keberadaan Suzy disisinya.

Perlahan Minho menggeser tubuhnya, dan memeluk Suzy dari belakang “ Kau belum tidur ? “ Tanya Minho seraya mencium lembut bahu istrinya.

“ Aku belum mengantuk “ Ucap Suzy jelas suaranya sedang menahan tangis.
Minho semakin mengeratkan pelukannya, membenamkan wajahnya pada rambut indah sang istri “ Tidurlah, aku akan memelukmu sampai kau tertidur “ Ucap Minho.

“ Oppa……” Ucap Suzy dengan suara tertahan.

“ Eumm….” Balas Minho.

“ Aku mohon…… kali ini kau menyetujui permintaanku “ Ucap Suzy masih dengan suara yang bergetar menahan tangisan.

Minho terdiam, ini bukanlah pertama kali Suzy membahasnya, ide gila yang sama sekali tidak masuk akal dan tidak akan mungkin ia lakukan “ Sudahlah kita tidur “ Acuh Minho enggan membahas.

Suzy melepaskan tubuhnya dari pelukan Minho, ia lalu mengambil posisi duduk “ Tidak, aku tidak mau terus menerus dihantui perasaan bersalah padamu, aku tahu jika kau sangat menginginkan keturunan dariku, tapi kau tahu ! aku….aku tak akan pernah bisa mengandung anakmu“ Ucap Suzy kini tak lagi sanggup untuk menahan kesedihannya.

Minho lelah, namun ia tak mau Suzy mengetahuinya, Minho pun bangkit dan berusaha meraih tubuh Suzy kembali dalam pelukannya “ Harus berapa kali aku bilang, aku sudah tak mempermasalahkannya, meski kita akan hidup selamanya seperti ini …. aku bahagia “ Ucap Minho mencoba kembali meyakinkan. Lagi-lagi Ia tak mampu berkata jujur. Ia telah berbohong jika ia baik-baik saja dengan keadaan Suzy, namun untuk memiliki seorang anak, ia hanya menginginkan itu terlahir dari rahim Suzy, bukan wanita lain.

“ Ini bayaran untukmu, gomawo atas servicemu malam ini, kau memang sangat memuaskan “ Bisik pria paruh baya seraya memberikan setumpuk uang pada wanita seksi yang masih berada dalam dekapannya.

Wanita itu mengangguk seraya tersenyum, jari lentiknya dengan cepat menghitung uang yang baru saja didapatnya. Setelah memastikan uang yang diterimanya sesuai dengan perjanjian, wanita itu bangkit dan meraih pakaiannya yang berserakan dibawah ranjang.

“ Aku juga sangat senang bisa melayanimu, panggil aku kapanpun kau membutuhkanku “ Ucapnya dengan kerlingan nakal dan berlalu begitu saja dari hadapan pria paruh baya yang entah mengapa setelah melihat wajah seksi wanita itu gairahnya kembali meningkat.

Brukkk….

Terlambat, wanita itu telah pergi dan meninggalkannya.

“ Jiyeon-ah, seseorang mencarimu !!! “ Ucap Ms’ Hyorin si pemilik pub.

Wanita dengan dress hitam seksi dan ketat bernama Park Jiyeon menaikkan tali gaunnya yang terjatuh , ia nampak acuh dengan kalimat “ ibu asuh” nya. Masih terlalu pagi untuk melayani pria hidung belang, tubuhnya pun masih begitu lelah setelah semalaman bergumul dengan pria paruh baya yang seharusnya menyibukkan diri dengan anak dan cucunya dirumah.

“ Aku ambil cuti hari ini, aku lelah “ Ucap Jiyeon pergi begitu saja.

“ Yya!!! kau mau kemana ? temui dulu orang itu “ Ucap Ms ‘Hyorin meraih pundak Jiyeon menghalangi anak asuhnya itu pergi “ Dia seorang wanita, bukan laki-laki, dan aku tidak tahu apa tujuannya, hanya saja dia mencarimu “ Ucap Ms’Hyorin membuat Jiyeon menyipitkan kedua matanya penasaran.

“ Aku Choi Suzy “ Ucap Suzy menjulurkan tangan ke arah Jiyeon.

Jiyeon hanya menatap heran wanita asing yang tiba-tiba muncul dan memperkenalkan diri padanya.

“ Ahh…kita memang belum pernah bertemu sebelumnya “ Ucap Suzy menjawab keheranan Jiyeon.

Jiyeon menyusuri sosok Suzy dari ujung kepala hingga kaki, tidak menemukan fakta jika Suzy adalah wanita yang memiliki profesi sama dengannya. Wanita dihadapannya jelas terlihat dari kalangan atas yang berpendidikan. Wajahnya lembut dan kharismatik, gayanyapun begitu anggun, berbeda sekali dengannya yang terlihat begitu liar dan acuh.

“ Aku Park Jiyeon, ada apa kau mencariku ? “ Tanya Jiyeon tanpa basa-basi, ia sangat lelah dan ingin segera beristirahat.

Suzy meremas jemarinya resah, berbeda sekali ketika awal ia datang dan memutuskan untuk meminta pertolongan wanita dihadapannya yang bernama Park Jiyeon. Sedikit demi sedikit keyakinannya luntur, terlebih ia sama sekali tak melibatkan Minho dalam mengambil keputusannya kali ini.

“ Maaf agassi, aku memang bukan pegawai kantor yang memilik jam teratur dalam bekerja, tapi jika hanya diam saja seperti ini, bukankah sama saja dengan membuang waktu tidurku yang begitu berharga ? “ Ucap Jiyeon sedikit kesal karena wanita dihadapannya belum juga menjelaskan tujuan menemuinya.

“ Aku akan memberikan berapapun yang kau minta, asalkan….” Suzy menghentikan kalimatnya.

Jiyeon memicingkan mata, tak mengerti dengan kalimat yang baru saja meluncur dari bibir wanita bermarga Choi dihadapannya. Hanya kalimat yang menjelaskan tentang uang yang akhirnya membuat ia bersabar untuk menunggu apa yang akan selanjutnya Suzy katakan, meski ia begitu gemas.

“ Apa maksudmu dengan berapapun yang aku minta ? “ Tanya Jiyeon menyelidik.

Minho masih asyik mengamati anak-anak kecil yang bermain bola dilapangan, beberapa orang wanita yang sedang menyuapi anaknya makan, dan ibu hamil yang sedang berbincang dengan para orangtua lainnya. Ada perasaan sedih yang kembali hadir, harapan 4 tahun lalu yang tak mungkin akan terwujud. Minho membayangkan ia dan Suzy sedang sibuk mengajak bayinya berkeliling, seorang bayi laki-laki yang meramaikan pernikahannya, hanya khayalan….ya hanya sebuah khayalan.

Jiyeon terdiam tanpa mampu berkata apapun, dalam hati ia men-cap gila Suzy yang memintanya untuk menikah dengan suaminya sendiri, terlebih pernikahan itu hanya untuk mendapatkan keturunan. Bukan hal yang sulit baginya untuk datang dalam kisah asmara laki-laki asing, berhubungan badan, lalu ditinggalkan begitu saja, asal mendapat banyak uang itu memang tujuannya. Toh pekerjaannya memang seperti itu, namun baru kali ini ada wanita yang notabene adalah istri dari lelaki yang justru akan berhubungan dengannya langsung yang meminta.

“ Bagaimana, apa kau bersedia menolongku ? “ Tanya Suzy cemas.

Jiyeon menatap Suzy lekat, tak tahu harus menjawab apa, namun iming-iming uang yang banyak begitu menarik minatnya “ Ada banyak wanita baik-baik diluar, kenapa kau memilihku ? apa suamimu tahu tentang ini ? “ Tanya Jiyeon nampak hati-hati.

“ Aku sudah membicarakannya “ Ucap Suzy tak memberikan jawab yang Jiyeon inginkan.

Jiyeon hanya menggeleng tak percaya, tidak hanya istrinya saja yang gila, suaminya pun sama gilanya, tapi siapa yang peduli, mereka yang meminta, jadi tentu saja sangat sayang jika Jiyeon mengabaikan kesempatan baik ini “ Baiklah, aku bersedia menikah dengan suamimu, dan perjanjian ini berakhir ketika anak dalam kandunganku sudah lahir “ Ucap Jiyeon tanpa beban.

Mata Suzy berkaca-kaca, ia tahu jika Jiyeon adalah wanita penghibur, namun saat ini hanya Jiyeon yang bersedia membantunya mewujudkan harapannya. Dimatanya Jiyeon adalah seorang malaikat yang begitu memahami perasaan seorang perempuan yang menginginkan hadirnya buah hati untuk Suzy dan Minho.

“ Mwo ? kau gila !!!! “ Mata Minho memerah marah, nafasnya memburu tajam ketika mendengar apa yang baru saja Suzy katakan.

Minho menggeleng tak percaya Suzy bisa melakukannya, baru kali ini ia benar-benar sangat marah dan kecewa pada istrinya.

Prangg!!!!

Prangg!!!!

Prangg!!!!

“ Arrkkkgghh…….hentikan oppa, hentikann!!!! Dengarkan dulu penjelasankuuuuu…..“ Teriak Suzy seraya menutup telinganya.

Minho tak peduli, ia terus membanting apapun yang ada dihadapannya, hingga akhinya Suzy terjatuh luruh dan menangis kencang. Minho tak sanggup melihatnya, ia tak pernah membuat Suzy meneteskan airmata seujung kukupun selama ini. Tak tega, perlahan Minho mendekat dan memeluk erat tubuh Suzy yang menangis “ Aku begitu mencintaimu dan berkali-kali mengatakan jika aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja dengan keadaan kita saat ini, mengapa kau menyakitiku eoh ? “ Ucap Minho semakin memeluk Suzy erat.

“ Hikss…hiks….ini memang gila, jadi maafkan aku, aku hanya ingin kau memiliki keturunan dari darah dagingmu sendiri, yang tak bisa aku berikan padamu, mianhae “ Ucap Suzy terisak.

Minho tak mampu membalas, terlalu lelah menjelaskan pada istrinya , dan juga terlalu lelah untuk terus menyimpan keinginannya untuk memiliki keturunan, jika jalan ini memang yang ditunjukkan Tuhan. Ia rela, ia rela melakukannya.

Lagi-lagi Minho harus mengambil keputusan berat dalam hidupnya, lebih miris hal ini justru ia lakukan karena paksaan seseorang yang ia cintai, orang yang ia cintai yang justru menorehkan luka dihatinya. Seberapa besarpun ia menolak, hanya airmata yang ia lihat dari mata indah Bae Suzy, dan ia tak ingin melihat itu lagi.

Minho kini berada disebuah ranjang besar, ranjang yang mungkin akan merubah hidupnya kedepan, ranjang yang disodorkan istri tercintanya untuk hal yang tak pernah sedikitpun terbersit dalam pikirannya. Minho memandang kosong pintu yang tertutup tepat dihadapannya, didalamnya ada seseorang yang sangat asing yang beberapa waktu lalu ia berajnji untuk selalu setia dalam keadaan suka maupun duka, menjaga wanita itu sampai akhir hayatnya. Janji keduanya pada seorang wanita, memikirkan hal itu membuat Minho rasanya ingin mengamuk.

Dengan alasan bulan madu Minho terpaksa membohongi keluarganya. Ia bersama Suzy dan wanita asing itu bertolak ke Swiss. Menjalankan rencana gila yang mungkin akan menjadi boomerang untuk pernikahannya nanti. Ia mengutuk dirinya yang menjadi lemah dan bodoh, semakin menyesal karena mengetahui ada wanita yang mau diajak untuk menikah kontrak dengannya, melahirkan bayi yang diinginkannya, lalu pergi setelah ia memberikan setumpuk uang. Tak sebanding dengan nyawanya ketika melahirkan malaikat kecil yang tak berdosa nanti. Ironis.

Kriettt…

Pintu berderit, dari dalam muncul sesosok wanita bertubuh seksi hanya menggunakan selembar handuk yang melilit ditubuh mulusnya, rambut panjangnya masih terlihat basah. Minho melirik sekilas , dilihatnya wanita itu hanya berdiri memandang tak canggung kearanhnya, membuat Minho harus mengatakan jika wanita ini adalah wanita murahan yang hanya memikirkan uang dalam hidupnya.

“ Mengapa kau mau menerima ini semua ? “ Tanya Minho tajam.

Jiyeon memutar bola matanya malas, untuk apa menanyakan hal yang tidak lagi berguna, pada akhirnya ia dan Minhopun sudah menikah dan kini berada dalam satu kamar, jadi jelas Minhopun menginginkannya. Pria dimanapun sama saja bukan ? tidak tahan jika sudah menyangkut seorang wanita“ Aku sebenarnya, hanya ingin….”

“ Uang “ Potong Minho cepat.

Jiyeon sedikit tersinggung, ia memang bukan wanita yang diinginkan pria baik seperti Minho, namun bukan pula dirinya yang datang tiba-tiba dihadapan Minho. Bahkan, hidup Jiyeon baik-baik saja sebelum istrinya datang dan memohon padanya.

“ Berapa uang yang istriku janjikan ? aku akan memberikannya lebih asal kau mengatakan jika kita telah melakukannya dan kau….kau sebenarnya tidak bisa mengandung “ Ucap Minho tegas.

Jemari Jiyeon terkepal kuat, ia merasa dilecehkan, meskipun setiap pria yang datang hanya menginginkan tubuhnya, namun tak pernah ada yang terang-terangan merendahkannya “ Aku tidak memaksamu untuk melakukannya, tapi untuk berbohong pada istrimu, maaf aku tidak bisa “ Ucap Jiyeon menatap Minho lekat.

Minho tersenyum sinis, benar-benar tak habis pikir dengan apa yang sekarang terjadi pada dirinya, istrinya, bahkan wanita yang masih berdiri dihadapannya. Tak ada lagi orang waras yang bisa menyadarkan kegilaan yang ketiganya lakukan, Minho merebahkan tubuhnya perlahan dan menatap Jiyeon begitu lekat, menyusuri tubuh seksi dihadapannya “ Kajja, kita mulai permainan gila ini “ Ucap Minho, tangannya kini melepaskan pakaian yang ia gunakan.

Jiyeon merasa menang, ia tahu Minho hanya berpura-pura mempertahankan harga dirinya. Kaki mulusnya melangkah perlahan menuju ranjang yang diatasnya sudah menunggu Minho, tak ada perasaan gugup atau apapun yang ia rasakan, karena ia telah terbiasa melakukannya. Hanya saja baru kali ini pria yang akan berhubungan dengannya menatap tak suka dan seolah jijik melihatnya, namun bayangan uang yang melintas membuat Jiyeon melupakan perlakuan tak enak “ suami “ nya ini.

Tepat dibalik pintu yang tertutup rapat, Suzy tak sedikitpun beranjak dari sana dengan tangan yang sibuk menghapus airmatanya yang menetes tak henti, meski bibirnya mengulas senyum, namun perasaannya remuk. Ia tak bisa menyalahkan siapapun, karena ia lah yang menginginkannya, meminta suami yang teramat dicintainya merengkuh tubuh wanita lain dalam pelukannya.

3 Month’s later,

Minho dan Suzy mengundang kedua keluarga untuk memberitahukan pasal kehamilan Suzy yang memasuki usia 6 minggu. Semua sangat terkejut dengan kabar yang tiba-tiba, seperti merasakan kehadiran malaikat yang datang kedalam rumah. Terlebih eomma Suzy dan Minho yang sudah menunggu sejak lama, keduanya kemudian terlibat obrolan seru mengenai pembagian jadwal bertemu dengan calon cucunya.

Minho hanya mampu tersenyum tipis mendengarkan keributan orangtuanya – eomma dan mertuanya. Tak sengaja mata Minho menangkap sosok Jiyeon yang mengintip dari balik gorden. Minho menarik senyumnya dan memperhatikan apa yang Jiyeon sedang lakukan. Sepertinya Jiyeon tak sadar jika ia memperhatikannya.

“ Eoh oppa, tolong ambilkan agar-agar yang aku simpan dilemari es “ Teriak Suzy ketika melihat Minho beranjak dari tempat duduknya.

“ Eoh “ Ucap Minho singkat.

Minho berjalan menuju dapur, ketika melewati kamar Jiyeon, ia menghentikan langkahnya. Minho menghela nafasnya sejenak dan meraih gagang pintu kamar Jiyeon perlahan.

Kriettt.

Jiyeon terkejut ketika tiba-tiba seseorang membuka pintu kamarnya tanpa mengetuknya terlebih dahulu, ketika wajah Minho ada dihadapannya ia semakin gugup.

“ Kau harusnya mengetuk pintunya terlebih dulu, meskipun aku hanya menumpang, tapi yang kau lakukan benar-benar tidak sopan, bagaimana jika aku sedang berganti pakaian “ Cerocos Jiyeon tak sadar menutupi kegugupannya.

Minho hanya memandang datar ke arah Jiyeon “ Kajja keluar !! “ Perintah Minho membuat Jiyeon terbengong sempurna.

Jiyeon tak lantas beranjak dengan perintah Minho, ia justru tak mengerti apa yang dipikirkan pria ini dengan membawanya kehadapan keluarganya, apa ia akan dikenalkan sebagai istri kedua, atau istri yang hanya dibutuhkan untuk melahirkan anaknya ? Keduanya hanya saling menatap dan menerka apa yang masing-masing mereka pikirkan. Jujur Minho pun tidak tahu apa maksud dirinya membawa Jiyeon untuk menemui keluarganya, yang pasti hal ini tidak bisa disembunyikan terus menerus. Ia ingin keluarganya tahu bahwa ada orang lain selain anak dan menantu yang diakui keluarganya yang tinggal bersama Minho agar tidak menimbulkan masalah lebih besar dikemudian hari.

“ Oppa !!! “ Suzy tiba-tiba muncul memecah keheningan keduanya.

“ Eoh, Suzy-ah..kau sudah mengambil agar-agarnya ? “ Tanya Minho sedikit gugup, ia takut Suzy berprasangka buruk melihatnya sedang berada dikamar Jiyeon “ Aku…berniat mengenalkan Jiyeon pada eomma dan appa, aku rasa…”

Belum selesai Minho menjelaskan “ Kajja !!!! “ Suzy menarik tangan Jiyeon dan membawanya keluar sebelum sempat Jiyeon menolaknya.

Minho tersentak dengan langkah cepat Suzy, namun ia percaya Suzy sudah menyiapkan apa yang harus dikatakan pada kedua orangtuanya untuk menjelaskan pasal siapa Jiyeon.

“ Namanya Park Jiyeon, suaminya adalah sahabat oppa yang sedang berlayar, untuk sementara suaminya meminta kami untuk menjaganya, karena Jiyeon juga sedang hamil “ Ucap Suzy menjelaskan tentang Jiyeon pada keluarga besarnya.

Jiyeon tersenyum dan menundukkan kepalanya sopan, hampir saja jantungnya copot menebak-nebak apa yang akan Suzy lakukan. Meski sedikit kecewa dengan skenario pengenalannya, namun ia cukup tahu diri jika ia memang tak berhak menjelaskan apapun.

Minho tersenyum lega, saking gugupnya tak terpikir sama sekali di otaknya mengenai alasan itu. Kini ia dan Suzy tak lagi harus merasa bersalah pada Jiyeon jika keluarganya datang.

“ Ah syukurlah jadi kami tidak merasa khawatir jika uri Suzy sendiri dirumah, jaga kandungan kalian dan perhatikan kesehatannya, aigo pasti berat sekali sedang hamil tanpa suami yang mendampingi “ Ucap eomma Minho melangkah mendekat dan memeluk erat tubuh Jiyeon “ Tak perlu bersedih eoh, ada kami yang menjagamu “

Jiyeon mematung mendapat perlakuan hangat dari eomma Minho, selama ini yang didapatnya hanya pelukan penuh nafsu dari para lelaki hidung belang, rasanya sangat berbeda dengan pelukan seorang ibu. Penuh kehangatan hingga hatinya kini bergetar. Jiyeon tak lagi memiliki keluarga, ia hanya tinggal sebatang kara selama hampir 10 tahun. Terlalu bahagia hingga tak sadar air matanya menetes.

Hari terus berganti dan keadaan masih baik-baik saja. Tak ada hambatan berarti dengan sandiwara yang ketiganya lakukan. Perut Jiyeon semakin membesar seiring usia kehamilannya bertambah, dan Suzy pun harus mengganti bantal yang ada dibalik pakaiannya agar keluarga tak curiga dengan kehamilannya.

Tangan kanan Jiyeon memegang segelas susu, sementara tangan kirinya ia gunakan untuk mengelus perut besarnya seraya menikmati matahari pagi yang begitu cerah. Jiyeon meneguk habis susunya dengan semangat, tak menyangka ia akan mengalami tubuh yang seperti ini.

Minho tersenyum melihat Jiyeon yang terlihat bahagia dengan kehamilannya, membuat perlahan-lahan pandangannya berubah terhadap wanita yang kini sedang mengandung benihnya. Jiyeon begitu baik menjaga masa kehamilannya, tak pernah mengeluh dan merepotkan seperti kebanyakan perempuan ketika sedang mengandung.

“ Kau belum berangkat ? “ Tanya Suzy yang menyadari Minho hanya berdiri menatap Jiyeon.

“ Eoh, aku menunggumu untuk menciumku “ Ucap Minho seraya memejamkan matanya menunggu Suzy menciumnya, rutinitas pagi hari sebelum ia pergi kekantor.

Jiyeon menoleh tepat ketika Suzy menempelkan bibirnya di bibir Minho, tiba-tiba Jiyeon merasa ada yang berbeda dengan perasaannya, jika sudah seperti itu maka perutnya akan terasa sangat sakit. Seperti bayinya menendang-nendang perutnya. Jiyeon membuang pandangannya kearah lain, berusaha tak memikirkan apa yang baru saja ia lihat.

Minho melingkari kalender dimeja kerjanya, hanya 2 bulan lagi ia akan melihat anaknya terlahir kedunia.Perasaannya tak pernah sebahagia ini, dan besok adalah perayaan tepat 7 bulan kehamilan Jiyeon. Minhopun berniat mencari hadiah untuk diberikan pada wanita itu.

Sebelum petang Minho memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya. Ia mengunjungi toko perlengkapan bayi, meski tak tahu sedikitpun tentang persiapan seseorang yang akan melahirkan, ia memilih perlengkapan makan yang sudah pasti akan terpakai nanti. Tidak lupa Minho memilih sebuah pakaian hamil berwarna pink untuk Jiyeon, dan ….Minho nampak berpikir, mengapa ia hanya teringat untuk membelikan untuk wanita itu. Minho mengusap wajahnya pelan dan memilih satu lagi yang berwarna biru untuk Suzy, meski yang ada dibalik perut Suzy tak berarti apa-apa.

“ Wah bagus sekali, Jiyeon-ssi Minho oppa membelikan ini khusus untukmu “ Ucap Suzy seraya menyerahkan baju hamil pada Jiyeon.

Tangan Jiyeon meraih perlahan apa yang Suzy berikan padanya, menyadari ada 2 potong pakaian Jiyeonpun tersenyum miris, ia tahu Minho tak hanya membelikan untuknya. Pakaian yang sama hanya berbeda warna tentu saja yang 1 akan Minho berikan pada istri resminya “ Ahniya, yang 1 ini pasti untukmu “ Ucap Jiyeon mengembalikan 1 yang berwarna pink untuk Suzy.

“ Benarkah ? “ Tanya Suzy pada Minho.

“ Eoh “ Ucap Minho yang entah mengapa ia bisa merasakan jika Jiyeon kecewa.

“ Bolehkah aku meminta yang berwarna biru saja, aku tidak menyukai warna pink “ Ucap Suzy.

Jiyeon dengan santai memberikannya, ia tak memiliki masalah tentang perbedaan warna. Hanya saja masalahnya kini ada pada hatinya. Entah mengapa ia menjadi tak suka jika Minho membagi perhatian untuknya juga, ia tak ingin Minho berubah yang justru akan membuat dirinya merasa sulit untuk menjalankan perjanjian dengan Minho dan Suzy kedepannya.

Tak ada yang tahu jika diam-diam Jiyeon memiliki perasaan pada Minho, perasaan yang tentu saja tidak boleh terjadi karena artinya ia melanggar perjanjian, dan terlebih pria itu telah memiliki wanita yang sangat dicintainya. Suzy adalah segala-galanya yang tak mungkin bisa digantikan oleh wanita murahan seperti dirinya.

Perhatian Minho yang berlebihan padanya, membuat Jiyeon menganggap Minho mulai menyukainya, meski itu hanya sebuah khayalan, entah mengapa Jiyeon menganggapnya benar-benar seperti itu. Berawal ketika Jiyeon memandang dengan minat gambar kue beras dilayar televisi saat acara kuliner. Ia tak menyangka Minho akan menyadarinya, padahal Suzy yang seharusnya lebih paham tentang seseorang yang hamilpun tak menyadarinya. Tak peduli hari sudah malam Minho bergegas untuk membelikannya, meski pada akhirnya Jiyeon sama sekali tak menyentuh kue beras itu.

Minho juga tak membiarkan Jiyeon sendirian menaiki tangga rumah, pria itu selalu memegang tangannya menuntunnya untuk berjalan, hal-hal seperti itu yang menyentuh perasaannya. Sejak itulah Jiyeon sangat menginginkannya, menginginkan Minho benar-benar menjadi suami, appa dari anak yang dikandungnya.

Beruntung akal sehatnya mengalahkan perasaan egoisnya, Jiyeon tak ingin menyakiti Suzy yang sudah sangat baik padanya terlepas dari kepentingan wanita itu padanya. Terlebih perlakuan hangat yang ia dapat dari keluarga Minho dan Suzy. Jiyeon harus rela mengubur impiannya dalam-dalam.

“ Selamat ya, kau harus menjaga kandunganmu, ini adalah masa rawan dari seseorang yang hamil “ Ucap Salah satu tamu yang hadir pada Suzy dan Minho yang menyambutnya.

Suzy tersenyum dan mengangguk, suasana semakin ramai dengan para tamu yang hadir pada perayaan 7 bulan kehamilan Suzy, sampai-sampai Minho tak melihat Jiyeon sejak tadi, pemilik perayaan yang sebenarnya. Mata Minho berkeliling, mencari keberadaan Jiyeon, dan bernafas lega ketika mendapati Jiyeon sedang bercengkrama dengan eommanya.

Wanita itu terlihat sangat cantik dengan gaun warna pastel yang digunakannya, rambut pirangnya tergerai indah, Minho tak berkedip dan hampir saja lupa jika Jiyeon hanyalah istri kontraknya. Tak sadar jika kini kakinya sudah melangkah, membelah kerumunan orang-orang untuk menghampiri wanita itu.

“ Eomma, ada yang harus aku sampaikan pada Jiyeon, aku meminjamnya sebentar “ Ucap Minho.

Nyonya Choi tak curiga sedikitpun, ia kemudian mengijinkan Jiyeon yang dibawa oleh anaknya. Sementara Jiyeon hanya memandang Minho tak mengerti.

“ Jangan melakukannya, berhenti bertingkah seperti istri sungguhan untukku “ Ucap Minho membuat Jiyeon terhenyak.

Jiyeon benar-benar tak mengerti dengan maksud Minho membawanya menjauh dari keramaian dan berkata seperti itu, ia merasa biasa-biasa saja dengan sikapnya “ Waeyo ? apa aku melakukan kesalahan ? “ Tanya Jiyeon.

Minho memandang tajam penampilan Jiyeon, dan tersenyum sinis “ Pakaian ini adalah milik istriku, dan semua perhiasan yang kau pakai, adalah yang hanya aku berikan untuk ia pakai, mengapa ini semua ada ditubuhmu ? “ Tanya Minho.

Jiyeon memandang seluruh penampilannya, semua ini memang milik Suzy, pakaian yang begitu bagus serta perhiasan mewah yang mengkilap-kilap ditubuhnya. Jiyeon mengerti, ia paham sekarang Minho tak akan pernah suka padanya “ Baiklah, aku akan menggantinya sekarang juga “ Ucap Jiyeon hendak pergi, namun belum jauh ia kembali dan menatap tajam ke arah Minho “ Jangan memperlakukanku seperti aku ini adalah Suzy, meskipun aku mengandung anakmu, kau bukan siapa-siapa untukku “ Ucap Jiyeon yang entah mengapa setelah mengatakannya hatinya begitu hancur.

Minho terdiam, ia hanya memandang kepergian Jiyeon dengan pandangan penuh penyesalan. Ia tak mengerti ada apa dengan dirinya ? mengapa ia mengatakan hal yang menyakitkan Jiyeon padahal hatinya baru saja mengagumi kecantikan wanita itu.

Jiyeon mencengkram kuat seprai dengan kedua tangannya, tiba-tiba ia merasakan perutnya begitu sakit seperti diremas-diremas, sangat sakit hingga membuat airmatanya menetes keluar. Ia tak mungkin meminta pertolongan pada Suzy ataupun Minho setelah kejadian tadi “ Ahhh….sakit….sakit, perutku sakit sekali “ Dahi Jiyeon berkeringat tak kuasa menahan sakit.

Sementara,

Minho tak bisa tertidur, ia beranjak dari ranjang dan menoleh kearah Suzy yang nampak sudah pulas tertidur. Ia mengkhawatirkan keadaan Jiyeon dengan kalimatnya tadi, untuk kesalahan yang wanita itu tidak tahu dengan apa yang dilakukannya.
Minho sudah berada tepat dikamar Jiyeon, meski hanya bisa mengetahui keadaan luar namun Minho merasa lega Jiyeon masih ada didalam dan tak berniat kabur karena sakit hati padanya.

Brughhh

Prang!!!

Minho terkejut ketika mendengar suara gaduh dari kamar Jiyeon, tanpa ijin dari penghuni kamar, ia membuka pintu Jiyeon yang memang tak terkunci dan mendapati wanita itu terjatuh dibawah ranjang “ Jiyeon-ssi, apa yang terjadi ?? “ Tanya Minho panik dan dengan sigap meraih tubuh Jiyeon.

“ Perutku sakit sekali, aku tidak kuat, aku tidak kuat….sakit sekali “ Rintih Jiyeon wajahnya sangat pucat.

“ Bertahanlah, aku akan membawamu kerumah sakit “ Minho langsung menggendong Jiyeon dan bergegas menuju bagasi. Ia melihat sekilas kamarnya, istrinya masih tertidur dan ia tak ingin membangunkannya.

Sepanjang perjalanan Minho menggenggam erat tangan Jiyeon, berusaha memberikan ketenangan pada wanita itu. Matanya masih fokus menatap jalan, ia juga harus memastikan mereka harus selamat sampai di rumah sakit “ Bertahanlah, sebentar lagi sampai “ Ucapnya berusaha tenang padahal jelas wajahnya menunjukkan jika ia lebih panik dari Jiyeon.

Tiba dirumah sakit, dokter kandungan yang menangani Jiyeon sedang berada diluar kota. Minho semakin panik dan meminta siapapun untuk menolong Jiyeon yang terlihat begitu lemah. Beruntung dokter jaga hari ini adalah seorang dokter kandungam, Jiyeonpun segera mendapat penanganan.

Minho menunggu dengan cemas diluar, ia menatap ponselnya dan mendapatkan nama Suzy disana.

“ Yeobboseo, Suzy-ah mianhae aku tidak ingin membuatmu khawatir, aku sedang bersama Jiyeon dirumah sakit, tapi tenanglah ia akan baik-baik saja “ Ucap Minho tanpa jeda, padahal Suzy belum sempat berkata sedikitpun.

“ Eoh, syukurlah….bayinya… jaga bayinya untuk kita “ Balas Suzy.

Entah mengapa Minho merasa kalimat Suzy tak mewakilkan harapannya, ia memang menginginkan bayi dalam kandungan Jiyeon dalam keadaan baik, namun untuk sekarang ini harapannya adalah keadaan ibu dari bayi itu.

Klik

“ Tuan Choi Minho “ Panggil dokter baru saja selesai menangani Jiyeon.

Minho menoleh dan segera masuk ke ruang dokter “ Bagaimana uisa, apa keadaannya baik-baik saja ? “ Tanya Minho tak sabar untuk mengetahui keadaan Jiyeon.

Wajah dokter yang tenang membuat Minho sedikit lega, setidaknya itu menunjukkan tidak terjadi hal-hal yang serius dengan Jiyeon dan kandungannya “ Istri dan bayi anda baik-baik saja “

Minho terdiam dengan anggapan dokter tentang status Jiyeon untuknya “ Dia adikku “ Ucap Minho menunduk pelan.

“ Eoh, sayang sekali, harusnya suaminya yang datang menemaninya “ Ucap Uisa.

Minho terhenyak, tidak mungkin ia meralat statusnya diwaktu yang sama “ Akan aku sampaikan padanya, jadi apa yang harus suaminya lakukan ? “ Tanya Minho ingin tahu.

“ Perhatian, semua wanita yang sedang hamil memerlukan perhatian lebih suaminya, jadi dia tidak akan merasa stress seperti adikmu sekarang ini alami “ Ucap dokter.

Minho merasa bersalah, keadaan Jiyeon saat ini sudah tentu karena sikapnya tadi yang menyakiti hati wanita itu dengan kata-kata pedasnya.

“ Sebentar lagi kami sampai, kau belum tidur ? “

Jiyeon membuang pandangan tak ingin menatap Minho yang sedang berbicara ditelepon dengan istrinya. Namun tak bisa dipungkiri jika ia menguping dan menebak-nebak isi pembicaraan mereka, menanyakan kabar tentang dirinya yang dibalut dengan kalimat-kalimat mesra, Jiyeon menebak seperti itulah pembicaraan mereka.

“ Nde nado…..saranghae “

Klik

Setelah Minho mengakhiri pembicaraannya dengan Suzy keadaan kembali sepi. Jiyeon menunggu Minho memulai pembicaraan padanya, meminta maaf atau menceritakan hasil pemeriksaan dokter tentang kehamilannya barusan, namun Minho tak mengatakan apapun.

“ Aku lelah “ Ucap Jiyeon tiba-tiba.

Minho menoleh kearah Jiyeon “ Jika begitu tidurlah, aku akan membangunkanmu jika sudah sampai “ Ucap Minho enteng.

Jiyeon mendengus kesal, hatinya kecewa mendapatkan jawaban Minho yang hanya seperti itu “ Berhenti bersikap seolah-olah kau mengkhawatirkanku “ Ucap Jiyeon dengan intonasi tinggi tak tahan dengan yang ia rasakan.

Minho mengarahkan setir untuk menepi, setelahnya ia terkejut mendapati Jiyeon menangis “ Kau, kenapa ? “ Tanya Minho tak mengerti, tangannya hendak menghapus airmata Jiyeon, namun wanita itu segera menepisnya kasar “ Waeyo ? “ Tanya Minho semakin tak mengerti.

Jiyeon tak lagi perlu menyembunyikan isak tangisnya, ia ingin Minho melihat jika ia terluka “ Sikapmu….membuatku tak nyaman, aku hanya seorang wanita yang mengandung anakmu, bukan seseorang yang kau cintai, jadi berhenti seolah-olah kau mengkhawatirkanku “

Minho kembali hendak meraih Jiyeon dan lagi-lagi ditolak oleh wanita itu “ Kau menyukaiku ? “ Tanya Minho menatap lekat Jiyeon.

“ Pria bodoh “ Ketus Jiyeon.

Minho mengalihkan tatapannya, menatap lurus kedepan “ Hanya 2 bulan tersisa, dan setelah itu kau akan pergi, aku melakukannya karena Suzy yang memaksaku, dan akupun hanya mengkhawatirkan bayiku “ Ucap Minho tajam, pandangan matanya mulai tak bersahabat.

“ Dia bayiku, bukan bayi kalian!!! aku bisa saja pergi tanpa memberikannya pada kalian !!! “ Teriak Jiyeon penuh amarah.

Minho mendekatkan wajahnya kearah Jiyeon, matanya memerah marah “ Silahkan kau lakukan, jika kau tak lagi membutuhkan uang “ Tajamnya.

Jiyeon terpaksa menutup mulutnya, dan menarik wajahnya dari Minho yang masih begitu dekat, pemandangan gelap diluar jendela lebih baik daripada dadanya terasa sesak  melihat sosok Minho disampingnya.

Mobil meluncur lambat membelah jalan, isak tangis Jiyeon seolah mengiringi perjalanan mereka. Minho hanya membiarkan wanita disampingnya menumpahkan segala perasaannya. Apa yang ditakutinya terjadi, kehadiran wanita lain yang akhirnya menjadi boomerang dalam rumah tangganya. Ia tak menyalahkan Jiyeon, bagaimanapun Jiyeon hanya seorang wanita yang lebih banyak menggunakan perasaan ketimbang logikanya ketika bertindak. Dan jika boleh jujur, keberadaan Jiyeon dirumahnya selama 7 bulan menimbulkan sesuatu yang lain pada hatinya, berkali-kalipun ia mencoba menepisnya, namun perasaannya justru semakin kuat.

Sosok Suzy, pada akhirnya menyadarkan Minho bahwa ia tak boleh menghadirkan wanita lain dalam hidupnya, entahlah Minho tak tahu seberapa kuat ia menjalani ini semua, ia hanya berharap 2 bulan itu akan segera datang, dimana Jiyeon harus pergi meninggalkan kehidupannya.

Suzy menatap heran Jiyeon yang sudah sesiang ini masih menutup rapat pintu kamarnya. Awalnya ia mengira jika Jiyeon sedang tak enak badan, namun hingga sore Jiyeon tak juga keluar bahkan wanita itu juga tak memintanya untuk mengantarkan makanan.
Suzy membuka paksa kamar Jiyeon dan begitu syok mendapati wanita itu terlihat kacau dengan penampilannya. Jiyeon terlihat seperti orang yang putus asa, wajahnya pucat dan rambutnya terlihat acak-acakkan. Suzy membantu Jiyeon untuk bangkit dan merubah penampilannya.

Keresahannya ia ceritakan pada Minho, Minho yang mengetahui apa yang terjadi pada Jiyeon hanya menghela nafas berat. Sepulang dari kantor ia menyambangi kamar Jiyeon. Kehadiran Suzy disampingnya membuat Minho tak leluasa untuk mengungkapkan kalimat yang ingin sekali ia ucapkan.

“ Jika kau merasa lelah, kau bisa pergi membawa serta bayi dalam kandunganmu, kami tidak akan lagi memaksamu “ Ucap Minho pada akhirnya.

Suzy terkejut, ia tidak menyangka Minho akan mengucapkannya, namun perubahan wajah Jiyeon setelah Minho mengatakan hal itu membuat akhirnya Suzy memilih diam.

“ Eeerggghhkkkk “

“ Ayo sedikit lagi nyonya….sedikit lagi, lebih kuat…biarkan mata anda terbuka, jangan menutup matamu eoh “

“ Eerrrrrggkkkk…hosh…hoshh “

“ Ambil nafas lebih kuat nyonya “

“ Errggkkkk “

“ Eaaaa….eaaaaa…..eaaaaa “

Kepala Jiyeon terkulai lemah, namun tak berapa lama senyumnya merekah, setelah mendengar suara bayinya menangis, ia berhasil. Berhasil menjalankan tugasnya, melahirkan bayinya untuk seseorang yang teramat dicintainya.

Sementara diluar…

Suzy menangis terharu dipelukan Minho setelah mendengar suara bayi yang menangis dari dalam sana. Begitupun keluarga Minho dan Suzy, mereka saling berpelukan erat. Ya, semuanya telah terungkap, malam setelah Minho memasrahkan segala keputusan ditangan Jiyeon, ia pun memilih untuk mengatakan hal yang jujur pada kedua keluarganya. Meski mendapat amarah, namun Minho menerimanya dengan lapang dada, karena ia tak ingin hidupnya selalu dihiasai oleh kebohongan yang akan mencelakakan keluarganya kelak.

Dan Minho, ia sangat berterimakasih pada Jiyeon yang berjanji untuk tetap memberikan bayi dalam kandungan padanya dan Suzy. Minho awalnya ingin menolak, namun Jiyeon meyakinkan jika ia lebih bahagia jika bisa memberikan bayi itu pada Minho ketimbang Jiyeon mengasuhnya sendiri. Dari sana Minho tahu jika Jiyeon adalah seorang wanita penghibur, namun Minho tak marah karena meski memiliki profesi yang mendapatkan cemoohan orang, dimatanya Jiyeon terlalu baik sebagai seorang manusia.

Choi Minji, Minho yang memilihkan nama untuk bayi lucunya , seorang bayi laki-laki yang sangat mirip dengannya dan…..

Jiyeon.

Minho tersenyum menyadari jika nama bayinya ia ambil dari namanya dan Park Jiyeon, wanita asing yang tiba-tiba hadir dan kini begitu takut Minho akan kehilangan sosoknya. Tak bisa ia pungkiri, meski bahagia dengan kehadiran bayi dalam keluarganya, dilain sisi ia merasa khawatir akan ada kebahagian lain yang akan segera menghilang dari kehidupannya. Minho ingin selalu mengenang kebaikan seorang Park Jiyeon, hanya mengenang ? hanya Minho dan Tuhan yang tahu perasaannya saat ini.

“ Oppaa…..palliwa, kemari !! “ Teriak Suzy kencang.

Minho menoleh dan tidak mendapati Suzy dekat dengannya, kaki panjangnya melangkah mencari keberadaan istrinya. Dan perasaannya seketika menjadi was-was, ada apa ? kenapa Suzy memandang kamar Jiyeon seperti itu ?

Minho mempercepat langkah kakinya, dan mendapati kamar Jiyeon telah bersih, tidak ada make up yang memenuhi meja rias seperti biasanya. Minho semakin melangkah kedalam, membuka lemari dan tidak juga mendapati pakaian yang menggantung. Tubuh Minho melemas, separuh kebahagiannya telah pergi, pergi dari hidupnya dan mungkin tak akan pernah kembali. Minho mengalihkan tatapannya ke arah ranjang, Suzy disana sedang menimang bayi mereka. Bukan, itu adalah bayinya dan …

Park Jiyeon.

Jiyeon tersenyum bahagia menatap rumah yang selama 9 bulan memberikan kenangan yang tak akan mungkin ia lupakan. Rumah yang mengenalkannya pada kehangatan sebuah keluarga, kakinya tak rela beranjak, namun ia harus pergi karena tugasnya telah selesai. Ia telah memberikan kebahagian baru pada pasangan Minho dan Suzy, meski tak menagih sepeserpun uang, namun ia sangat bahagia, wajah bayinya sangat mirip dengannya, dan juga Minho….suaminya. Tidak, seorang pria hangat yang menyewa rahimnya.

“ Minho-ah, Suzy-ah, aku harap kalian bahagia “ Ucapnya mengusap lembut air matanya.

Jiyeonpun membalikkan tubuhnya, dan melangkah jauh kedepan. Meski tak bisa bersama selamanya, sepotong kenangan yang telah ia genggam akan selalu ia ingat.

Minho…..

Ia akan menyimpan sosok pria itu dalam hatinya…..

Selamanya.

The End.

93 responses to “[ ONE SHOT ] MARRYING SOMEONE WHO COMES SUDDENLY

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s