High School (Chapter 1)

FF Highschool

This story belongs to brownpills.

Romance, Schoollife, Friendship I Chaptered I PG-14

Cast by Kim Myungsoo, Park Jiyeon, Jeon Jungkook, Bae Suzy, Jung Krystal

Pure of mymind. Inspired of some problems.

Let me see~

.

Sekolah? Cinta? Sahabat? Berbagai permasalahan remaja akan dikemas dalam satu cerita. Kisah yang mengawali musim gugur, mengakhiri musim panas.

-High School

.

.

Akhir musim panas,

Ganghwa Highschool, Seoul

 

Teriknya matahari tidak menyurutkan semangat namja itu. Namja berpostur tubuh tinggi yang menggiring bola melewati lawannya dengan mudah. Ia bersorak dengan senyumnya yang melebar begitu bola itu masuk ke dalam gawang.

Kebanyakan yang menonton ikut bergembira, termasuk salah seorang gadis yang duduk di pinggir lapangan sembari memeluk kedua lututnya. Ia tidak berseru seperti lainnya, hanya tersenyum dalam diam.

Sedari tadi gadis itu mengamati tiap gerakan namja itu. Rasanya ia ingin mengelap keringat namja yang sedang istirahat sejenak sambil menegak sebotol air mineral.

“Jiyeon!” suara cempreng menghancurkan lamunannya.

Mulutnya mengerucut mendapati salah satu temannya yang berwajah oriental duduk di sebelahnya.

“Mengapa kau hanya diam?” tanya gadis bernama Krystal, “Ini jam olahraga, kau harus memanfaatkannya.”

Namun yang diajak bicara masih memandangi namja jangkung itu. Merasa diacuhkan, Krystal mengikuti pandangan Jiyeon.

“Aaa, jadi begitu,” sadar Krystal tersenyum jail, “Rupanya kau terus memperhatikan Myungsoo.”

Mwo?”

“Coba lihat! Bahkan saat aku menyebut Myungsoo kau langsung menoleh padaku.”

“Ish,” Jiyeon mendengus.

“Jika kau menyukainya, nyatakan saja perasaanmu.”

Ya! Aku ini yeoja.”

Wae? Bukankah sekarang zamannya yeoja menyatakan perasaan terlebih dahulu pada namja yang disukainya.”

“Kau pikir aku akan melakukannya?” gemas Jiyeon pada teman dekatnya.

“Kau benar. Seseorang sepertimu tidak akan melakukannya,” Krystal menggangguk-angguk membenarkan seraya ia kembali berdiri, “Sepertinya kau hanya ingin di sini. Kalau begitu, aku akan bermain volli dengan yang lainnya.”

Jiyeon memandangi punggung Krystal yang tertutupi oleh rambut kecokelatannya. Gadis itu melanjutkan permainan volli bersama teman perempuan lainnya. Hanya Jiyeon sendiri yang duduk diam.

Lantas Jiyeon beranjak berdiri, berniat berbaur dalam permainan itu. Tetapi—

 

BUGH!

 

Bola melayang tepat di dahi Jiyeon. Membentur keras hingga Jiyeon mundur beberapa langkah. Kedua matanya mengerjap-ngerjap mencoba mengatur keseimbangan tubuhnya. Darah segar mengalir melalui hidung bangirnya.

Jemari Jiyeon menyentuh darah merah itu. Dadanya mulai terasa sesak.

“Jiyeon!” yang ia tau itu pekikan Krystal.

Namja yang tidak sengaja menendang bola itu mendekati Jiyeon.

Gwenchana?” tanyanya cemas.

Dalam pandangan kabur Jiyeon, ia dapat menangkap itu adalah sosok Myungsoo. Ia hendak menyahut pertanyaan itu. Namun telat, karena kakinya goyah tak kuasa untuk berdiri.

Semua aktivitas di lapangan itu berhenti sekejap. Jungkook lawan permainan sepak bola Myungsoo segera mendekati Jiyeon seraya akan membopong tubuh gadis itu.

Tetapi dengan kasar Myungsoo mengambil alih Jiyeon. Ia mengangkat tubuh gadis itu tanpa beban, seolah tubuh Jiyeon begitu enteng.

Semua terpana melihatnya. Kebanyakan gadis merasa iri sambil melemparkan pandangan tidak suka.

Jungkook menggertakan rahangnya. Sedangkan Krystal menganga tidak percaya. Dan seorang gadis lain dengan rambut hitam kelamnya tersenyum miris –name tag di kaos olahraganya tertera Bae Suzy-.

—o0o—

Langit-langit penuh lampu bercahaya menyilaukan pandangan Jiyeon yang baru saja membuka mata. Ia menyentuh keningnya yang terasa pusing sambil mencoba untuk duduk.

“Kau sudah sadar?” tanya Krystal.

“Eum,” Jiyeon mengangguk.

“Aku akan memberi pelajaran padanya,” nada khas itu keluar dari mulut Suzy.

“Apa yang kau katakan? Myungsoo yang sudah menolong Jiyeon ke uks,” bela Krystal.

“Ini semua salahnya tidak berhati-hati.”

Ketiga gadis itu memiliki hubungan dekat. Jung Krystal adalah gadis populer yang buruk dalam pelajaran. Bae Suzy dan Jiyeon? Ooh entahlah, bagaimana bisa Jiyeon berteman baik dengan Suzy. Keduanya terkenal akan sikap dingin dan sensitif, mungkin karena ada Krystal -gadis bawel- yang berada di tengah-tengah keduanya.

“Jangan berdebat di depan orang sakit,” potong Jiyeon.

Krystal mencibir Suzy yang masih berlagak tidak peduli sembari menyandarkan tubuh di dinding.

Melihat kedua sahabatnya, Jiyeon hanya menahan senyumnya. Lucu terkadang memperhatikan pertengkaran kecil itu.

—o0o—

Tumpukan buku itu berada di dekapannya. Ketukan sepatunya menggema di sepanjang koridor. Helaian rambut ikalnya bergoyang seiring langkah kakinya. Hingga kini ia berada di ambang pintu kelas.

Udara dingin terasa karena jendela kelas sengaja tidak dibuka saat pagi hari. Hanya ada dirinya di ruangan itu. Ia segera meletakkan tumpukan buku di loker paling atas.

Jujur saja buku-buku tebal itu terasa semakin berat saat ia menjulurkan tangannya ke atas. Ditambah postur tubuhnya yang tidak setinggi loker dengan nama Park Jiyeon itu.

Jiyeon mulai kesulitan. Dan tinggal menunggu teriakannya saja, buku paket itu akan terjatuh menimpanya.

Reflek Jiyeon memejamkan kedua matanya sambil menundukkan kepala. Barangkali hal itu dapat melindunginya dari buku yang akan terjatuh.

Beberapa detik berlalu ia tidak merasakan apa-apa. Kedua alisnya berkerut, perlahan ia membuka mata sambil mengangkat kepala.

Pupil matanya membesar menyadari seorang pria menahan buku paket miliknya sehingga tangan pria itu terjulur ke atas dan tubuh jangkungnya terlihat menjulang dari pandangan Jiyeon.

“Jung—kook—“

Namja bernama Jungkook itu tersenyum dengan polosnya. Ia membenarkan posisi tumpukan buku seraya menutup pintu loker Jiyeon.

“Dasar ceroboh,” ledeknya sambil membersihkan telapak tangannya.

Mulut Jiyeon membisu. Tidak tau harus berkata apa.

“Kau tidak mengatakan apapun?”

Ne?”

Ekspresi Jiyeon membuat Jungkook gemas. Maka ia suka mengacak-acak rambut Jiyeon yang terasa lembut jika disentuh.

“Jika ada seseorang menolongmu, kau harus mengucapkan terima kasih,” jelas Jungkook.

“Aaa, terima—kasih—“

Mwo? Aku tidak dengar.”

Gomawo.”

“Coba ulangi, kau sangat pelan mengucapkannya.”

Go—ma—wo.”

Mwo?”

“Aku tidak akan mengulanginya,” ujar Jiyeon kembali dingin merasa dipermainkan oleh Jungkook. Gadis itu menghentakan kaki sambil menghempaskan diri di bangkunya.

Senyuman mengembang di wajah Jungkook. Hal bahagia ketika menggoda Jiyeon. Ingin sekali ia mencairkan es yang ada di hati gadis itu. Lantas pria itu melangkah lenggang duduk di sebelah Jiyeon.

Ia suka memandangi gadis itu dari samping. Rambut kecokelatan yang tertimpa sinar matahari. Sepasang mata dengan softlens abu-abu dan dipoles eyeliner. Semakin sempurna dengan hidung bangir dan bibir berwarna merah muda.

Tetapi senyumannya memudar seiring kesadarannya bahwa hanya dia seorang yang memperhatikan tanpa ada balasan.

Suara pintu bergeser menyeruak keheningan kelas itu. Membuat Jiyeon yang tadinya membaca catatan kimia beralih pada seseorang yang baru saja masuk ke dalam kelas dengan kemeja tanpa dasi, hanya berbalut jas yang tidak dikancing, dan rambut berantakan.

Jiyeon menelan saliva susah payah. Tubuhnya menegang. Sedangkan Jungkook mengalihkan pandangan. Ia acuh tak acuh dengan kehadiran Myungsoo dan memasang earphone di kedua telinganya.

“Kau sudah merasa baikan?” tanya Myungsoo.

Jiyeon diharuskan mengangkat kepala untuk menatap Myungsoo yang berdiri di hadapannya, “Huh?”

“Kemarin—“

Gwenchana,” sela Jiyeon.

“Aku tidak sengaja menendang bola itu. Aku ingin memasukannya ke gawang tetapi malah keluar lapangan mengenaimu. Jika kepalamu masih terasa pusing, katakan saja padaku.”

Tanpa mempedulikan wajah bingung Jiyeon, Myungsoo berjalan menuju bangkunya di sudut kelas.

Ekor mata Jungkook melirik pada Jiyeon yang masih melamun setelah mendengar ucapan dari Myungsoo. Dan ia tau obrolan itu karena nyatanya tidak ada lagu yang mengalun dari earphone-nya.

—o0o—

Kini pepohonan mulai terlihat gundul. Dedaunan berguguran sehingga tanah yang tadinya kering tertutupi oleh daun berwarna cokelat. Musim panas segera berakhir tergantikan musim gugur.

Karena itu, ia mengabadikan momen ini dalam kamera yang sengaja ia bawa sambil dikalungkan di leher.

Tubuh mungilnya ada di antara beberapa kaum muda yang berlalu lalang di sekitar jalanan itu. Ia tampak manis dengan crop tee berwarna putih dipadukan rok mini dan kedua kakinya terbalut boots merah muda.

Dirinya semakin terlihat mencolok di antara pepohonan kering di sepinggir jalan.

Ia suka menikmati waktu sendirinya. Senyuman mengembang seiring ia menghirup udara awal musim gugur.

Kilatan dari sebuah kamera mengejutkannya. Membuka kelopak matanya yang tadinya terpejam menjadi terbelalak seraya mencari sumber flash kamera itu.

Jackpot!”

Namja sebaya dengannya mengacungkan kamera yang tidak beda jauh dengan miliknya sambil memamerkan sederetan giginya.

“Apa yang kau lakukan?” sungut Jiyeon.

Masih dengan wajah tak berdosa namja itu mendekati Jiyeon dan menjawab, “Memotret.”

“Hapus gambar itu,” perintah Jiyeon.

Sirheo.”

YA! Jeon Jungkook!”

Yang disindir malah sibuk melihat-lihat galeri kameranya sambil cekikikan.

“Apa yang kau tertawakan?” tanya Jiyeon curiga.

Kyeopta~” Jungkook masih bergulat dengan hasil jepretannya.

“Berikan padaku!” Jiyeon langsung menyaut kamera milik Jungkook. Dengan sigap Jungkook mengangkatnya tinggi-tinggi.

Merasa putus asa karena Jiyeon lebih pendek darinya, ia mendengus kesal.

“Mengapa kau di sini?” akhirnya Jiyeon menyerah dan mencari topik lain.

Wae? Ini tempat umum.”

“Kau sendirian?”

“Eo, sama sepertimu.”

Jiyeon menyipitkan mata sambil mendekatkan wajahnya pada Jungkook, “Kau—apa kau mengikutiku?”

Jungkook tertawa renyah, “Kau pikir aku psikopat?”

“Bisa jadi,” sahut Jiyeon datar.

Lagi, Jungkook mengacak gemas pucuk kepala Jiyeon. Membuat Jiyeon kudu membenarkan bando yang ia kenakan.

Hening beberapa saat hingga Jungkook berdehem sambil berkata, “Bukankah banyak anak seumuran kita menyambut musim gugur di taman ini.”

Keduanya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Itu benar.

“Jiyeon-a, apa kau tidak sadar?”

Mwo?”

“Daritadi aku—“

 

“Jiyeon!”

 

Kalimat itu terputus oleh teriakan suara barriton namja yang berlari tergesa-gesa mendekati keduanya. Lebih tepatnya mendekati Jiyeon.

Nafasnya menderu. Poni yang menutupi dahinya basah keringat. Bau tidak sedap menguar dari namja itu.

“Myungsoo? Mengapa kau ada di sini?” itu pertanyaan yang sama yang dilontarkan Jiyeon kepada Jungkook tadi awal bertemu.

“Kau harus ikut denganku!”

Cengkraman Myungsoo kuat menggenggam pergelangan tangan Jiyeon. Menarik gadis itu untuk berjalan. Tetapi Jiyeon menahannya. Ia menatap Myungsoo bingung dengan dahi berkerut.

“Ada apa?” tanya Jiyeon.

“Akan kujelaskan nanti. Cepat!”

Myungsoo bahkan tidak menyadari ada Jungkook yang sedari tadi melemparkan tatapan sengit. Pria itu memaksa Jiyeon untuk menyamai langkahnya.

Tidak diduga, Jungkook menarik lengan Jiyeon sebelah kanan. Menahan tubuh gadis itu. Dan membuat Myungsoo berhenti.

Kini, Myungsoo dan Jungkook saling melempar tatapan laser. Ada hawa menakutkan yang tercium. Seolah akan terjadi perang dunia hebat. Sedangkan Jiyeon memandang kedua namja itu dengan alis yang terangkat. Sambil menahan nafas karena kedua lengannya digenggam erat oleh Myungsoo dan Jungkook.

 

to be continued~

 

“Jiyeon-a, apa kau tidak sadar?”

“Mwo?”

“Daritadi aku—“

 

“Jiyeon!”

 

Kalimat itu terputus oleh teriakan suara barriton namja yang berlari tergesa-gesa mendekati keduanya. Lebih tepatnya mendekati Jiyeon.

Dan di dalam hati Jungkook melanjutkan kalimatnya yang sempat terpotong, “Daritadi aku sibuk memotretmu.”

Yuhu~~~ setelah FF Clash selesai, Hara bawa ff baru lagi🙂 Kayak biasanya Hara suka bikin ff masa masa sma wkwk. Soalnya biasanya di  masa masa remaja itu puncak-puncaknya masalah *halah*. Berhubung Hara lagi tergila-gila sama Jungkook *-*, Hara jadiin Jungkie oppa jadi salah satu main cast cowoknya. Abisnya Jungkie oppa imut imut, multitalent, cakep, pokoknya plus plus. Curhat dikit gakpapa kan😉 Oya, Happy Holiday, guys!

 

61 responses to “High School (Chapter 1)

  1. Aigo aigo kayaknya seru bgt ni ff aku suka 2 2 nya ni ga kebayang bakal liat jk potek kkk. Izin baca ya thor :3 kamsha~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s