[CHAPTER – PART 2] My Teacher is My Girlfriend

© Art Fantasy by: mclennx

Title : My Teacher is My Girlfriend | Author : dindareginaa | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Sooji | Other Cast : Find by yourself! | Length : Twoshots | Genre : Comedy – Romance – School-Life | Rating : Teen

Myungsoo kini sedang membaca buku pelajarannya. Seperti janjinya pada Sooji, ia akan mendapatkan nilai seratus pada ujian mendatang. Didepannya, Jackson dan Sehun melongo tak percaya. Kim Myungsoo belajar? Daebak!

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Sehun.

“Bermain bola,” jawab Myungsoo polos. Jawaban apa yang diharapkan Sehun memangnya?

Jackson bertepuk tangan seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Oh, sejak kapan kau punya catatan?” Mata lelaki keturunan Hongkong itu beralih pada buku yang berada disamping Myungsoo.

“Kalau buku yang itu bukan punyaku. Punya…” Myungsoo berhenti membaca sejenak, mencoba mengingat nama gadis baik hati yang meminjamkannya buku, atau lebih tepatnya catatan. “Ah, Son Naeun. Gadis paling pintar di kelas kita dan juga penggemar beratku,” Myungsoo terkekeh bangga. “Ya! Sebaiknya kalian pergi!” usir Myungsoo mulai kesal. “Kalian pikir untuk apa aku membaca ke perpustakaan seperti ini? Untuk menggosip dengan kalian? Pergi!” usirnya. Untung saja perpustakaan pagi itu cukup sepi, sehingga mereka tak begitu menarik perhatian penghuni perpustakaan.

“Baiklah, kalau kau bosan, hubungi kami.”

Bosan? Tidak akan! Ia sudah berjanji akan mendapat nilai 100. Dan dia akan melakukan apapun demi berkencan dengan guru cantiknya.

 ∞

Sooji menatap Myungsoo tajam lalu kembali pada kertas yang baru saja diserahkan lelaki itu padanya.

“65.”

Myungsoo tersenyum lebar. “Assa!

“Lumayan untuk seorang pemula,” ujar Sooji meremehkan. Jujur saja, sebenarnya ia sedikit khawatir. Bayangkan saja! Ini baru seminggu semenjak ia membuat perjanjian dengan Myungsoo, tapi lelaki ini sudah berhasil mendapatkan nilai setengah dari yang mereka janjikan.

“Berikan aku soal lagi!”

Sooji mendengus. Sombong sekali lelaki ini! Jangan pikir karena ia berhasil mendapat nilai “lumayan”, ia mempunyai peluang untuk berkencan dengannya. Sooji tak akan membiarkan itu terjadi!

Setelah Sooji memberikan soal berikutnya pada Myungsoo, lelaki itu tampak serius mengerjakannya. Sooji tersenyum kecil begitu mendengar gerutuan Myungsoo karena soal sulit yang diberikannya. Jujur saja, Myungsoo banyak berubah setelah kejadian beberapa hari yang lalu. Lelaki itu tak banyak bercanda seperti biasanya. Sooji suka melihat wajah Myungsoo yang serius seperti ini. Tunggu dulu! Apa yang kau pikirkan, Bae Sooji?! Sadarlah!

Tapi, apa yang terjadi jika Myungsoo benar-benar berhasil? Apa ia harus benar-benar menepati janjinya? Tapi, jika Sooji menyetujui hal tersebut, akan berbahaya bagi karirnya sendiri. Kau tahu? Hubungan antara guru dan murid tentu saja dilarang oleh pihak sekolah! Sekarang, Sooji benar-benar menyesal menantang Myungsoo karena ia sadar bahwa ia menantang orang yang salah.

“Sudah jam berapa ini?” gumam Sooji lalu melirik arloji yang tersemat dipergelangan tangan kirinya. “Oh, sudah larut. Sebaiknya aku pulang.”

“Biar kuantar,” Myungsoo bangkit berdiri.

“Tidak usah.”

“Aku tidak mungkin membiarkan gadis cantik sepertimu jalan sendirian. Ini sudah terlalu larut!”

Sooji mendesis. Sepertinya Kim Myungsoo sudah kembali pada tabiat aslinya. Lihat! Ia sudah mulai menggoda Sooji sekarang. Kuatkan imanmu, Bae Sooji!

“Ayo,” Myungsoo menarik lembut tangan Sooji agar gadis itu mengikuti langkahnya.

Sooji dan Myungsoo berjalan dalam diam. Sudah berapa lama mereka seperti ini? Sebenarnya Myungsoo bisa saja menyuruh supirnya untuk mengantar gadis itu, tapi Sooji bersikeras ingin pulang naik bis. Dan Myungsoo hanya akan mengantarnya sampai pada halte.

“Emmm…” Sooji sedikit menggumam. Matanya menoleh pada tangan Myungsoo yang sedari tadi menggenggamnya. “Kau sudah bisa melepaskan tanganmu.”

“Ah,” Myungsoo yang tersadar segera melepaskan tangan Sooji dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Maaf.”

Sooji tak menjawab. Gadis itu hanya mengangguk. Cukup lama hening menyelimuti mereka hingga akhirnya Sooji memutuskan untuk membuka pembicaraan. “Kau sebenarnya pintar. Kenapa dari dulu kau tidak seperti ini?”

Myungsoo tersenyum. “Jangan bilang, kau mulai terpesona denganku?”

Sooji rasanya ingin memukul kepala lelaki itu. Bisa-bisanya Myungsoo bercanda disaat gadis itu serius. “Aku serius, Kim Myungsoo.” Jika biasanya Sooji menggunakan nada tinggi untuk berbicara dengan makhluk tampan disampingnya itu, kali ini ia berusaha untuk tidak melakukannya. Entahlah. Ia merasa bahwa sebenarnya Myungsoo adalah anak yang baik, hanya saja terlalu berani menggoda gurunya sendiri.

Myungsoo terdiam beberapa saat. Biasanya Myungsoo akan menolak membicarakan kehidupannya, namun kali ini Myungsoo memutuskan untuk membuka suara. “Ayahku… Dia terlalu mencintai uangnya. Setiap hari yang dilakukannya hanya bekerja dan bekerja, tanpa memperdulikan aku bahkan ibuku yang sedang sakit.”

“Sakit?”

Myungsoo mengangguk lalu kembali melanjutkan ceritanya.”Ibuku sakit keras, tapi ayahku tetap tak peduli dengannya. Hingga sampai akhirnya ibuku pergi untuk selamanya, lelaki itu tetap tak berada disisi ibuku.” Myungsoo tersenyum sinis. “Aku marah! Sangat marah! Lelaki itu tak pernah sekalipun menunjukkan penyesalannya. Ia malah terus menyuruhku belajar agar kelak aku bisa menjadi penggantinya. Ch! Aku tak akan membiarkan lelaki itu mengubahku menjadi penjahat sepertinya. Tidak akan!” Myungsoo menghentikan langkahnya. Lelaki itu mengepalkan kedua tangannya, berusaha menahan bulir-bulir yang kini berdesakan ingin keluar dari pelupuk matanya. Baru kali ini Myungsoo terlihat lemah dihadapan seorang gadis.

Sooji tertegun. Ia tak menyangka Myungsoo memiliki cerita yang menyedihkan. Ternyata, dibalik keceriannya yang setiap hari ditunjukkannya pada Sooji, lelaki itu kesepian.

Entah apa yang ada dipikiran Sooji saat itu, gadis cantik itu segera memeluk Myungsoo dan menepuk pundaknya pelan secara berulang. Sooji juga tidak tahu apa yang ia lakukan sekarang, tapi ia berharap, dengan begini, kesedihan lelaki itu juga akan sedikit berkurang.

“Kenapa bisnya lama sekali?” gerutu Myungsoo. Sudah lebih dari setengah jam Myungsoo dan Sooji menunggui bus di halte, tapi tak satu pun yang lewat.

Myungsoo membulatkan maniknya begitu ia merasakan kepala Sooji bersamdar dipundaknya. Gadis itu tertidur. Ia pasti kelelahan sekali karena mengajarinya. Myungsoo memegang dadanya. Kenapa jantungnya berdetak cepat seperti ini? Sadarlah, Kim Myungsoo! Gugup didekat gadis yang ia suka sama sekali bukan gaya seorang Kim Myungsoo.

Myungsoo meneguk salivanya. Ia menghembuskan nafasnya perlahan, berharap dengan begitu jantuknya akan berdetak normal seperti sebelumnya. Myungsoo menoleh kearah Sooji. Ia tertegun begitu pandangannya tertuju pada bibir merah muda milik Sooji. Myungsoo tak tahu apa yang dipikirkannya hingga ia memutuskan untuk mendekatkan wajahnya pada Sooji.

Baru saja Myungsoo berniat mencium Sooji begitu bunyi klakson bis mengagetkannya, membuat Myungsoo sontak menjauhkan wajahnya dari Sooji.

Karena suara yang cukup memekakkan telinga itu, Sooji terbangun. “Apa?” tanya gadis itu kebingungan.

“Oh, bisnya sudah datang,” ujar Myungsoo. Ia segera beranjak berdiri. “Sebaiknya kau pulang sekarang.”

Sooji mengangguk. “Baiklah kalau begitu. Aku pulang dulu. Selamat malam.”

Myungsoo menghembuskan nafasnya lega. Hampir saja. Tapi sedetik kemudian ia tersenyum membayangkan apa yang baru saja terjadi. Apa yang akan terjadi jika Myungsoo benar-benar mencium gurunya?

“Kenapa baru jam segini kau pulang?”

Myungsoo yang baru saja akan naik ke tangga langsung menoleh. Ia tersenyum sinis kepada ayahnya yang entah sejak kapan sudah berada dihadapannya. “Sejak kapan urusanku pulang menjadi urusanmu?”

“Kim Myungsoo! Begitukah caramu berbicara pada ayahmu?!”

Myungsoo tertawa hambar. “Masih ayah juga namanya meski kau tak pernah meluangkan sedikit waktumu ada istri dan juga anakmu?” Myungsoo menatap lekat ayahnya sejenak sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Myungsoo masih bisa mendengar teriakan ayahnya memanggil namanya, tapi ia tak peduli.

Saat yang dinanti-natikan Myungsoo pun tiba. Saat untuk ujian. Baru kali ini Myungsoo antusias dengan hal yang bernama ujian, yang biasanya sangat ia hindari. Myungsoo mengerjakan ujian dengan serius. Tanpa melihat kiri kanannya, seperti yang dilakukan oleh beberapa temannya. Myungsoo menjawab soal ujian dengan yakin. Semoga saja ia mendapatkan hasil seperti yang diinginkannya.

Ujian yang diadakan selama seminggu penuh itu telah selesai. Para siswa dan siswi sibuk menceritakan tentang ujian. Banyak yang merasa mereka akan mendapat nilai “lumayan” dan ada juga yang menyerahkan semuanya pada sang pencipta.

“Menurutmu, kau dapat nilai berapa?”

Sehun mengidikkan bahunya mendengar pertanyaan Jackson. “Bagaimana denganmu?”

Jackson menghela. “Entahlah. Kurasa aku akan banyak mengulang.”

“Bukankah aku sudah menyuruh kalian belajar?!”

Keduanya sontak menoleh pada Myungsoo yang akhirnya ikut bergabung dalam pembicaraan mereka lalu tersenyum meremehkan. “Memangnya kau yakin dapat nilai bagus? Seingatku, diantara kita bertiga, kaulah yang selalu mendapat nilai paling rendah.”

Myungsoo tersenyum lebar lalu merentangkan kedua tangannya seraya menguap. “Entahlah. Aku mendaatkan perasaan yang baik tentang ini.”

Kemudian, kelas mendadak hening karena wali kelas mereka sudah tiba. Ia masuk ke kelas dengan wajah kakunya seperti biasa. Ditangannya, Myungsoo dan juga teman-temannya dapat melihat kertas ujian mereka.

“Hari ini saya akan membagikan hasil ujian kalian,” ujar Guru Kim. Ia lalu mulai mengambil satu per satu kertas ujian serta membacakan nilai ujian mereka. “Jackson Wang, 30.”

Seisi kelas sontak tertawa. Sehun bahkan menepuk pundak Jackson. “Nilaimu rendah sekali!” ejeknya.

“Oh Sehun, 25.”

Kali ini giliran Oh Sehun yang ditertawakan.

“Setidaknya nilaiku lebih tinggi darimu!” balas lelaki itu.

“Son Naeun, 95.”

Kali ini seluruh kelas tampak heboh. Son Naeun si peringkat pertama bahkan tak bisa mencapai nilai 100. Siapa lagi yang bisa dikelas mereka? Entah kenapa rasa percaya diri Myungsoo menguap entah kemana.

“Lee Hyeri, 75.”

“Kim Myungsoo…”

Myungsoo berdoa dalam hati, semoga hasilnya sesuai dengan yang ia harapkan. Walau ia rasa itu tak mungkin.

“…100.”

Seisi kelas sontak melongo. Kim Myungsoo mendapatkan nilai 100? Daebak! Haruskah mereka memasukkan hal ini pada guinness book?

“Ibu tidak percaya akan mengatakan ini, tapi selamat Kim Myungsoo. Kau mendapat nilai tertinggi dikelas.”

Myungsoo tersenyum. Akhirnya! Ia berhasil!

Sooji noona, aku datang!

Sooji mengedarkan pandangannya, mencari sosok Myungsoo. Entah ada angin apa tiba-tiba saja Myungsoo mengirimkan pesan singkat padanya, menyuruhnya untuk datang ke atap sekolah. Sooji tersenyum begitu mendapati Myungsoo tengah berdiri di pojok atap sekolah sambil memandangi sekelilingnya. Namun, sedetik kemudian senyumnya menghilang. Ia segera menghampiri lelaki itu.

“Ada apa?” tanya Sooji berpura-pura ketus.

Mendengar suara Sooji, Myungsoo segera membalikkan badannya. Ia tersenyum lebar lalu menunjukkan kertas yang sedari tadi dipegangnya. “100!”

Sooji sedikit terkejut sebenarnya, namun sedetik kemudian ia mengembangkan senyum termanisnya. “Selamat,” ucapnya tulus.

Myungsoo terdiam. Ia bisa merasakan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Ia benci ketika Sooji melakukan hak-hal yang bisa membuatnya seperti orang bodoh, seperti sekarang ini.

Ya! Berhenti tersenyum!” teriaknya. “Senyummu itu selalu membuat jantungku berdegup kencang.”

Kali ini, giliran Sooji yang terdiam. Ia juga tak tahu mengapa perlakuan sederhana Myungsoo bisa membuat darahnya berdesir hebat.

“Jadi, bagaimana? Kau mau berkencan denganku bukan?”

Sooji tersentak dari lamunannya. Ya, sebagai guru yang baik, Sooji memang sudah seharusnya menepati janjinya.

“Baiklah.”

“Kalau begitu, waktu dan tempatnya akan kuberitahukan padamu.” Myungsoo lalu pergi.

Sooji sedang sibuk meng-input nilai ujian para murid di kantor guru ketika Myungsoo datang menghampirinya. Sooji mengernyit bingung. Ada apa lelaki itu menghampirinya?

“Ini,” Myungsoo memberikan secarik kertas pada Sooji.

Hanya itu yang ia katakan. Setelah itu Myungsoo pergi tanpa rasa bersalah. Sooji melirik kertas tersebut. Oh, ternyata ia sudah memikirkan tempat kencan mereka.

“Apa yang diberikan anak lelaki itu?”

Sooji tersentak kaget begitu suara Guru Kim terdengar tepat ditelinganya. “Ah, tidak. Bukan apa-apa. Sebaiknya aku mengajar dulu.”

Guru Kim hanya mengernyit heran. Sepertinya ada yang aneh dengan Miss Bae dan juga Kim Myungsoo. Tapi, apa?

TO BE CONTINUED

Awalnya ini mau aku tamatin disini. Cuma ternyata kepanjangan dan takutnya kalian jadi bosan makanya aku tbc-in. Yaudah, monggo di komen😉

80 responses to “[CHAPTER – PART 2] My Teacher is My Girlfriend

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s