[CHAPTER – PART 7] THE WEREWOLF

THE WEREWOLF

Kim Myung Soo adalah seorang remaja SMA berumur enam belas tahun yang bersekolah di Fellas Hills High School. Gigitan seekor Vargulf membuat kehidupan remaja Myung Soo berubah. Setidaknya dia perlu memikirkan bagaimana cara menghadapi dirinya sendiri yang selalu berubah wujud menjadi werewolf setiap bulan purnama tiba. (Note : terinspirasi dari Teen Wolf)

Previous Chapter : 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 |

the werewolf cast

PENERUS CHUN DONG

“Ayolah, jawab cell phonemu!” gumam Jin Ki yang sudah lebih dari tiga kali mencoba menghubungi cell phone Myung Soo. “Sedang apa sih dia,” gerutunya seraya mengembalikan cell phone milik Jiyeon yang hanya bisa terduduk dengan wajah khawatir.

“Kenapa kau memberitahu soal Jacheon?” tanya Jiyeon masih terlihat marah pada Jin Ki.

“Sudah aku bilang, percakapan antara aku dengan Mrs. Song terlihat wajar. Dia bilang dia mau membantu kita untuk menghancurkan Vargulf asalkan dia tahu dimana keberadaan In Guk saat ini,” jawab Jin Ki memprotes tuduhan Jiyeon pada dirinya. “Jika kau berada diposisi yang sama denganku, aku yakin kau akan dengan cepat memberitahunya. Perlu kau tahu, aku ini memang tipe cerewet, tetapi aku penuh perhitungan untuk menghadapi keadaan seperti ini. Jauh lebih perhitungan daripada kekasih serigalamu itu!”

Jiyeon tidak bisa menjawab lagi dan hanya bisa mendengus gusar. Ditatapnya jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua belas siang.

“Menurutmu kapan Mrs. Song tiba di sana?” tanya Jiyeon.

“Entahlah,” jawab Jin Ki. “Aku tidak tahu apa nyonya besar itu langsung berangkat saat aku memberitahunya. Atau mungkin dia mengulur waktu setelah jam makan siang karena aku yakin anak bungsunya itu butuh lebih dari sekedar sebungkus Gummy Bear.”

“Gummy Bear,” ucap Jiyeon teringat akan sesuatu. “Jin Ki-ah, Gummy Bear!”

“Ada apa dengan Gummy Bear?” tanya Jin Ki tidak mengerti.

“Kita bisa minta bantuan anak kecil itu untuk membebaskan kita,” ucap Jiyeon terdengar yakin akan idenya itu.

“Oh ya, lalu bagaimana caranya kita memanggil si gundul kecil itu untuk bisa sampai ke bawah sini?” tanya Jin Ki berusaha mengingatkan bahwa ide Jiyeon sama tidak bergunanya dengan dirinya saat ini. Seharusnya otaknya mampu mengatasi semuanya saat ini, tetapi entah mengapa satu ide pun tak hadir dalam pikirannya. “Sedang apa kau?” tanya Jin Ki saat melihat Jiyeon sedang sibuk dengan cell phone di telinganya.

“Kau mengaku lebih pintar dari kita semua, tetapi tidak untuk saat ini,” jawab Jiyeon setelah mengakhiri sambungan teleponnya.

“Siapa yang kau hubungi?” tanya Jin Ki masih tidak mengerti.

“Nana,” jawab Jiyeon. “Kau bilang dia satu-satunya orang yang tahu tentang keberadaan Werewolf saat malam itu disekolah. Dan dia satu-satunya orang yang paling dekat dengan keluarga Dong saat ini.”

“Lalu kau menceritakan semuanya padanya?” tanya Jin Ki.

“Yeah, tentu saja,” jawab Jiyeon. “Aku perlu memberitahu semuanya untuk meyakinkan dia bahwa kita benar-benar butuh bantuannya.”

**

“Jacheon,” gumam Mrs. Song seraya mengepak tas senjatanya sebelum dimasukkan ke dalam mobilnya.

“Apa tamumu sudah pulang?” tanya Taeyang seraya menghampiri sang ibu.

“Mereka sudah pulang dan aku perlu pergi,” jawab Mrs. Song yang sudah membuka pintu garasi rumahnya. “Jaga rumah ini sampai aku kembali nanti malam…”

“Kurasa aku punya urusan sendiri jam tujuh nanti,” jawab Taeyang menolak. “Aku harus bertemu Nana.”

“Nak, kau punya delapan jam di sekolah untuk merangkul dan menciumi kekasihmu itu,” ucap Mrs. Song mulai terlihat kesal. “Tolong ibumu ini selama aku masih menggunakan bahasa yang halus.”

“Aku tidak pernah mencium Nana di sekolah,” gerutu Taeyang seraya membukakan pintu gerbang rumahnya.

**

Kediaman Keluarga Kim…

“Aku tidak segan-segan untuk memperlakukanmu layaknya narapidana yang sering aku temui diluar sana hanya untuk melihat kau buka mulut soal pertanyaanku tadi, Kim Myung Soo,” ucap Woo Bin terlihat sedang menghakimi adiknya di meja makan.

“Aku mengerjai Taeyang dan Nana,” jawab Myung Soo akhirnya, membuat Woo Bin otomatis menaikkan sebelah alisnya. “Taeyang sering membully-ku. Dan bukan hanya aku, tetapi seluruh siswa lemah di sekolah. A-aku hanya ingin memberinya sedikit…pelajaran.”

“Jika kau lupa…” Woo Bin kembali bersuara, siap menyemburkan api kemarahannya. “…ayahmu adalah orang yang paling dihormati di sekolah karena statusnya sebagai pemilik sekolah. Bisakah kau mengerti bahwa kelakuan absurdmu itu bisa membuat orang lain merubah pandangan mereka pada ayah?”

“Aku…”

“Dan kau telah mengundang bahaya untuk dirimu sendiri dan orang lain!” sela Woo Bin seraya menuding wajah Myung Soo tepat diantara kedua matanya. “Perlukah aku membawamu patroli untuk memperlihatkan bahwa sedang terjadi kasus pembunuhan belakangan ini yang sialnya selalu terjadi pada malam hari. Korban-korban itu dibunuh bukan dengan ditembak atau dicekik biasa, tubuh mereka dikoyak seperti santapan binatang buas!”

Myung Soo pun menghela nafas berat seraya berkata, “Kau tidak perlu menjelaskannya secara rinci. Ada televisi dan koran yang setiap hari memberitakannya.”

“Kalau begitu berpikir pintarlah sedikit,” ucap Woo Bin. “Kau hanya perlu pergi ke sekolah dan mengerjakan tugas-tugasmu bersama dengan Jin Ki. Bukannya mengundang keributan dengan meneror dua teman sekolahmu sampai akhirnya Nana melihat sesuatu yang dia yakini bukan manusia biasa.”

Myung Soo tidak menjawab lagi. Dia rasa cukup melontarkan perlawanan pada Woo Bin hari ini sebelum pembicaraan mengalir lebih jauh lagi sampai akhirnya bisa membuka kedok tentang dirinya sendiri.

**

“Wow, ada apa ini?” tanya Taeyang dengan wajah super terkejut. Seingatnya dia tidak pernah memberitahu pasal keberadaan rumah keduanya ini pada Nana. “Darimana kau tahu tentang rumah ini?”

“Jangan banyak tanya,” ucap Nana seraya menerobos masuk ke dalam rumah tanpa permisi. “Ibumu menghubungiku dan menyuruhku untuk membantumu menjaga rumahmu ini.”

Dengan dahi berkerut bingung Taeyang pun bertanya, “Sejak kapan Eomma memberitahu orang lain pasal keberadaan rumah ini.”

“Kenapa? Apa aneh calon mertuaku sendiri memberitahu keberadaan rumahnya?” tanya Nana. “Dan lagi kenapa kau tidak pernah memberitahuku kalau kau punya dua rumah? Apa kau lupa tentang aturan kelima yang kita punya bahwa dilarang merahasiakan apapun pada satu sama lain?”

“Aku hanya punya ini yang belum pernah aku ceritakan padamu,” desah Taeyang seraya membawa Nana ke dalam kamarnya.

“Tunggu dulu,” ucap Nana seraya menahan tangan Taeyang. “Aku kesini bukan untuk bertemu denganmu, tetapi untuk menjaga rumah besarmu ini.”

“Rumah ini tidak perlu dijaga,” ucap Taeyang mendesah. “Justru aku berharap ada orang diluar sana yang berencana untuk menghancurkan bangunan tua ini.”

“Oh jangan mulai berkata kasar lagi hanya karena kau sulit menahan ego besarmu itu,” ucap Nana seraya memutar matanya seakan sedang mencari sesuatu. Sampai akhirnya dia berbicara lagi, “Aku lupa, mobilku agak sedikit bermasalah, mogok sebentar sebelum aku berhasil menyalakannya kembali. Aku tidak mau ambil resiko jika mobil itu merengek lagi saat aku dalam perjalanan pulang nanti.”

“Baiklah,” ucap Taeyang langsung mengerti permintaan Nana, ia pun berjalan keluar rumahnya menuju mobil Nana yang diparkir di halaman rumahnya. “Setelah ini aku akan meminta bayaranku. Kebetulan kamarku kosong dan…”

“Cepatlah,” ucap Nana seraya melambaikan tangannya ke arah luar.

Segera setelah Taeyang menghilang dari pandangan, Nana langsung meluncur menuju halaman belakang rumah kekasihnya itu. Sesuai info yang Jin Ki berikan, walaupun terdengar kurang meyakinkan, Jin Ki merasa keberadaan ruang bawah tanah tempat dimana ia dan Jiyeon disekap berada dekat dengan halaman belakang  bangunan ini. Dan itu pun jika Jin Ki tidak salah lihat sewaktu Mrs. Song membuka pintu sebelum keluar meninggalkannya bersama dengan Jiyeon.

“Pacarku memang benar-benar orang kaya,” desah Nana merasa takjub dengan apa yang ia lihat saat ini di depan pelupuk matanya.

Di depannya saat ini terdapat pintu besi yang sudah agak berkarat pada bagian bawahnya. Nana yakin bahwa dibalik pintu inilah ruang bawah tanah itu berada. Belum sempat tangannya membuka kenop pintu besi itu, seseorang menyetuh kakinya, membuat Nana mau tak mau meloncat ketakutan.

“Nana Noona?” gumam seorang anak kecil dengan kepala gundul ditambah seringai lebarnya.

“S-siapa kau?” tanya Nana masih berusaha menjaga jarak dengan si anak kecil dihadapannya ini.

“Dong Taeyong,” jawab si anak kecil. “Hyung bilang suatu saat nanti dia akan memperkenalkan wanitanya padaku. Nana Noona kau cantik sekali,” si anak kecil ini mengacungkan jempol kecilnya ke arah Nana.

Mendengar si anak berceloteh, Nana hanya mampu tersenyum sambil menggeram rendah, “Berapa banyak lagi yang dia sembunyikan dariku selain keberadaan rumah ini dan adik kecilnya ini?”

“Hyung sedang sibuk diluar dan tidak menjawab pertanyaanku,” gumam Taeyong kecil. “Padahal Eomma sudah berpesan bahwa dia harus mengajakku bermain.”

“Ah…Taeyang, maksudku…Taeyang-Hyung sedang memperbaiki mobilku. Selagi dia sedang sibuk, bagaimana kalau kau bermain bersamaku?” usul Nana kehabisan ide. Dia harus segera membebaskan Jin Ki dan Jiyeon tanpa sepengetahuan Taeyang dan sialnya keberadaan adik kecilnya ini menghambat rencananya.

“Cool!” pekik Taeyong kegirangan. “Aku punya banyak mainan di kamarku dan kuda-kudaan besar yang Eomma belikan untukku…pasti sangat mengasikkan jika kau mau membantu menggoyang-goyangkannya dari belakang!”

“Daebak!” ucap Nana berusaha mengembangkan senyum selagi ponselnya berbunyi. Jiyeon kembali menghubunginya. “Tetapi aku punya permainan yang lebih bagus daripada kuda-kudaan itu. Bagaimana jika kau bersembunyi dimana pun di dalam rumah ini, sementara itu aku akan mencarimu.”

“Ah, cool,” ucap Taeyong terlihat sangat bersemangat. “Kau pasti tidak akan bisa menemukanku.”

“Tentu saja,” jawab Nana seraya menutup kedua matanya sebelum Taeyong berlari untuk bersembunyi. “Huh, kenapa aku harus terlibat urusan seperti ini. Dan kenapa Taeyang tidak boleh tahu?”

**

“Thanks God!” ucap Jiyeon saat melihat kedatangan Nana. “Dimana Taeyang dan ibunya?”

“Ibunya sudah pergi dan Taeyang sedang memperbaiki mobilku,” jawab Nana seraya mengeluarkan tusuk rambutnya untuk membuka jeruji besi di depannya saat ini.

“Apa kau selalu seperti ini?” tanya Jin Ki dengan pandangan takjub. “Membobol pintu dengan tusuk rambut, entah kreatif atau apa namanya…”

“Diamlah sebelum aku mengurungkan niatku untuk membebaskanmu,” ucap Nana menatap sebal ke arah Jin Ki. “Kalian berdua berhutang banyak setelah ini padaku. Aku sengaja merusak mobilku sendiri untuk memudahkanku menyelamatkan kalian berdua tanpa Taeyang harus tahu. Lagipula aku tidak mengerti mengapa kalian harus merahasiakan ini dari Taeyang? Bukankah dia juga ada di sekolah sewaktu Myung Soo berubah menjadi serigala hutan itu?”

“Panjang ceritanya,” jawab Jin Ki. “Pada intinya, kami berada disini karena ibu kekasihmu itu. Dan jika Taeyang tahu soal ini, dapat kupastikan dia akan jauh lebih merasa bebas untuk menyiksa kami disini setelah menyadari bahwa ibunyalah yang menyekap kami.”

“Aku benar-benar tidak mengerti,” ucap Nana setelah berhasil membuka pintu jeruji besinya. “Lalu bagaimana cara kalian bisa keluar dari rumah ini tanpa Taeyang harus tahu? Dia ada di halaman depan…”

Jin Ki mulai berpikir seperti biasanya dan tak lama kemudian kedua alis matanya terangkat. “Kau ajak saja dia kamarnya.”

Mendengar ucapan Jin Ki, membuat Nana semakin sebal dengan sosok pemain cadangan Ice Hockey ini.

“Bukankah kalian sering melakukannya?” tanya Jin Ki tanpa merasa bersalah telah mengucapkan hal macam itu bahkan di depan Jiyeon.

“Tentu saja kami sering melakukannya,” ucap Nana seraya menatap tajam Jin Ki. “Tetapi tidak pada saat aku sedang bermain dengan adiknya.”

“Apa?” tanya Jin Ki terlihat bingung. “Si gundul itu? Gummy Bear Boy?”

“Yeah, aku mengajaknya bermain dan menyuruhnya bersembunyi agar aku bisa lebih bebas menyelamatkan kalian,” jawab Nana penuh penekanan.

“Kita tidak bermaksud kasar padamu, Nana-ah,” ucap Jiyeon mencoba mengambil alih percakapan. “Aku yakin kau bisa mengalihkan perhatian Taeyang selagi kami berdua menyelinap keluar dari rumah ini. Hanya butuh beberapa detik dan si Gummy Bear itu pasti bersedia bersembunyi lebih lama lagi darimu.”

Nana mendesah berat seraya menunjukkan wajah kenapa-aku-harus-terlibat-urusan-seperti-ini. “Baiklah,” desah Nana pada akhirnya. Tangannya tengah merogoh sesuatu dari dalam tasnya dan bukan main terkejutnya Jin Ki dan Jiyeon saat benda yang dikeluarkan Nana ternyata kondom.

“Oh…My…God…” gumam Jin Ki tanpa berkedip.

“Dia selalu berhasil dibujuk dengan benda ini,” gumam Nana seraya melenggang pergi menuju halaman depan.

**

Tepat seperti apa yang Nana katakan, Taeyang dengan mudahnya dibujuk masuk ke dalam kamar saat benda menjijikan itu keluar dari dalam tas Nana. Jin Ki dan Jiyeon pun langsung melesat keluar dari rumah tua ini. Sementara Jin Ki sedang sibuk mencari tumpangan untuk kembali sebelum Mrs. Song berhasil menembak mati ayah dan sahabatnya, Jiyeon berusaha menghubungi cell phone Myung Soo.

“Myung Soo-ah!” ucap Jiyeon bernafas lega. “Kau tidak apa-apa?”

Belum sempat Jiyeon mendengar jawaban Myung Soo, Jin Ki sudah menarik cell phone Jiyeon dan langsung menyembur, “Yaa! Bocah serigala! Kemana saja kau seharian aku menghubungimu tidak ada jawaban? Kau tahu siapa keluarga Chun Dong yang In Guk maksud? Mereka keluarga Dong Taeyang. Dan ibunya berhasil mengurung kami di dalam sel bawah tanah selama dia pergi menghampiri ayahku di Jacheon!”

**

“Apa kita tidak menunggu Myung Soo datang dan…”

“Membiarkan Mrs. Song Sinting itu lebih dulu sampai di Jacheon untuk menghabisi ayahku?” sela Jin Ki pada Jiyeon. Wajah Jin Ki benar-benar kusut siang itu. Matahari sudah naik tepat diatas kepala mereka, membuat Jin Ki semakin kehabisan akal sehat. “Aku tahu aku tidak sepintar yang aku kira. Mulutku ini penyebab utamanya!” gumam Jin Ki kesal seraya memukul pelan mulutnya sendiri. “Seharusnya aku tidak mengatakan soal Jacheon. Sekarang hanya tinggal menunggu saja, siapa yang lebih cepat sampai, Myung Soo atau si Nyonya pemburu itu.”

“Tenanglah,” ucap Jiyeon berusaha menenangkan Jin Ki. “Mereka bukan manusia biasa kalau kau lupa. Dan Mrs. Song hanya manusia biasa, wanita dan sendirian.”

“Semoga benar apa yang kau ucapkan, Jiyeon-ah,” desah Jin Ki. “Ayahku tidak boleh mati disaat keputusan terburuknya untuk membiarkan Vargulf menggigitnya sudah dia pilih. Aku tidak mau itu menjadi sia-sia. Paling tidak aku butuh dia untuk membantuku mengambil keputusan apa aku harus tetap hidup dengan menjadi Werewolf atau lebih baik mati karena penyakit keturunan itu.”

**

“Jacheon,” gumam Mrs. Song seraya menyipitkan matanya. Absolute Sniper berlapis emas kesayangannya sudah siap di tangannya sementara kedua anak buahnya sudah berdiri di kanan kirinya dengan senjata serupa. “Vargulf, Seo In Guk dan makhluk jejadian lainnya, aku akan menghabisi kalian hari ini juga!”

Maka masuklah Mrs. Song ke dalam hutan diiringi anak buahnya. Mrs. Song pemburu makhluk supernatural yang sangat lihai dan tidak pernah gagal melakukan tugasnya. Hanya saja, sejak dirinya memiliki Taeyang sebagai anak pertama mereka, sang suami melarangnya untuk ikut serta dalam perburuan. Sampai pada akhirnya sang suami harus menantang maut bersama dengan ketiga kakak laki-lakinya dan mati dibawah taring tajam Vargulf. Bertahun-tahun Chun Dong Family redup dan tidak ada kabarnya sampai akhirnya tiga tahun belakangan ini Mrs. Song mulai membuka kembali luka lama atas kematian sang suami dan kakak-kakanya. Balas dendam, hanya itu tujuannya saat ini. Tidak hanya kepada Vargulf, melainkan kepada semua makhluk supernatural yang dia ketahui dimana keberadaannya.

Mrs. Song sudah tiba di depan pondok kecil yang berada di tengah Jacheon Forest tempat Seo In Guk bersembunyi. Sniper sudah siap di tangannya saat sebelah tangannya yang lain mencoba membuka pintu tua reyot di hadapannya. Sunyi. Hanya itu yang Mrs. Song lihat di dalam ruangan kecil itu. Tidak ada siapa-siapa kecuali pakaian bekas pakai yang tergeletak begitu saja di atas meja. Mrs. Song pun mengambilnya sebelum mengendusnya. Hidung seorang pemburu memang tidak bisa dibohongi, bakat penciuman mereka hampir menyamai kekuatan penciuman Werewolf.

“Bau anjing yang sangat memuakkan,” geram Mrs. Song seraya meremas pakaian itu sebelum melemparnya ke lantai. “Mereka sudah pergi,” ucap Mrs. Song pada kedua anak buahnya. “Mereka sudah tahu bahwa aku akan datang kesini. Dan sudah pasti dua anak ingusan itu yang memberitahu mereka.”

**

Myung Soo baru saja mengirimi Jiyeon pesan teks, menyuruh mereka berdua untuk datang ke National Folk Museum di Gyeongbokgung tempat Lee Jin Guk bekerja dan tinggal. Sesampainya di museum, Jin Ki langsung memeluk erat sang ayah.

“Kukira kau sudah jadi serigala panggang,” desah Jin Ki penuh keringat.

“Bagaimana bisa Song Han tahu tempat persembunyianku?” tanya In Guk langsung menghampiri Jin Ki dengan penuh amarah.

“Wo wo wo….tenanglah dan akan aku jelaskan setelah  kau berhenti mengancamku dengan mata serigalamu itu,” ucap Jin Ki setengah takut. “Kau pikir aku sudah gila, heh? Membeberkan Jacheon untuk melihat ayah serta sahabatku ini mati di tangan ibu dari musuhku sendiri? Terima kasih. Aku sudah cukup lelah menghadapi Taeyang di sekolah. Kenapa harus dia? Kenapa harus Chun Dong? Ibunya sama gilanya dengan anaknya. Dia meracuniku dan Jiyeon dengan obat tidur sebelum mengurung kami di dalam sel bawah tanahnya yang bau apak dan kotoran tikus…”

“Jin Ki tidak sengaja mengucapkan Jacheon karena Mrs. Song berjanji akan membantu kita untuk menghancurkan Vargulf,” ucap Jiyeon membantu menjelaskan. “Semuanya terjadi begitu saja dan tidak disangka-sangka.”

Myung Soo mengangguk mengiyakan ucapan Jiyeon. “Paling tidak kita semua selamat sekarang.”

“Dan aku kehilangan tempat berlindungku yang paling aman…” ucap In Guk sebal. “…berkat sahabatmu ini,” tunjuk In Guk pada Jin Ki.

“Oh ayolah, mau sampai kapan kau bersembunyi seperti Scrappy Doo sementara teman-teman manusiamu ini berusaha keras mencari tahu bagaimana cara menghancurkan orang yang sedang memburumu!” timpal Jin Ki kesal. Dibantingnya pintu kamar sang ayah sebelum keluar menuju halaman museum.

Tak lama kemudian datang Myung Soo menyusul Jin Ki.

“Ayolah, sobat…” ucap Myung Soo mencoba membesarkan hati Jin Ki. “Kau sudah melakukan hal besar hari ini demi kita semua. Berhasil atau tidaknya bukan masalah buatku.”

“Tetapi In Guk benar,” desah Jin Ki masih meratapi kebodohannya sendiri. “Kalian semua tidak mungkin kembali ke Jacheon lagi setelah kejadian hari ini. Kalian telah kehilangan tempat persembunyian kalian…”

“Werewolf tidak bersembunyi, Jin Ki-ah,” ucap Myung Soo. “Dan sialnya aku baru menyadari hal itu. Tetapi untuk saat ini, In Guk memang butuh tempat persembunyian sebelum kode-kode itu terpecahkan.”

“Kalau begitu kalian bisa pakai museum ini,” ucap Jin Ki seraya menunjuk bangunan besar National Folk Museum di depannya. “Dan jangan lupa dengan Mountain Ash-nya. Aku akan ambil tugas itu selagi kalian mengatur rencana ulang pasal kode-kode sinting itu.”

**

“Loser!” Taeyang menggebrak meja kantin tepat di bawah tangan Jin Ki yang sedang memangku dagunya sendiri. Jin Ki spontan menjauhkan tubuhnya ke belakang. “Aku hanya bertanya sekali saja dan kau harus menjawabnya dengan benar. Ada urusan apa kau dengan ibuku?”

Jin Ki terdiam sementara matanya diam-diam melirik ke arah Myung Soo yang sedang duduk di sebelahnya.

“Kenapa tidak kau tanyakan saja pada ibumu?” tanya Jin Ki balik. “Kurasa jawaban dari ibumu akan terdengar lebih baik daripada…” Jin Ki tersungkur saat Taeyang mendorong dadanya hingga tubuh Jin Ki terjatuh ke belakang bersama dengan bangku kantinnya. Myung Soo yang duduk disebelahnya otomatis terbangun dengan kedua tangan menghadang Taeyang yang hendak menyerang Jin Ki lagi.

“Kau!” tuding Taeyang ke arah Myung Soo. “Mendadak pandai bermain Ice Hockey, tchah! Kau tahu? Kau ini apa sekarang? Dan kau tahu akibatnya saat aku memberitahu ibuku siapa sebenarnya dirimu?”

Mendengar ucapan Taeyang, Jin Ki dan Myung Soo saling melempar pandang. Tentu Taeyang sudah tahu soal keberadaan Werewolf sekarang setelah entah bagaimana Taeyang memaksa ibunya untuk buka suara soal rahasia yang selama ini berhasil Mrs. Song sembunyikan dari anak-anaknya.

“Melihat dari kepengecutanmu, kurasa kau masih manusia,” ucap Taeyang pada Jin Ki dengan tatapan meremehkan. “Bahkan siapa yang pernah menggigitmu Myung Soo pun tidak mau menggigit manusia lemah sepertimu.”

Jin Ki menggeram dalam diam. Cuma itu yang bisa dia lakukan disaat dirinya mulai merasa emosi akibat cercaan Taeyang. Suasana kantin kebetulan sudah sepi karena jam istirahat hampir berakhir. Hanya ada penjaga kantin yang sempat keluar dari dalam dapur sebelum masuk kembali ketika mendengar suara berisik saat Jin Ki terjatuh dari bangku.

“Terima kasih, Loser,” ucap Taeyang pada Jin Ki. “Karena kau akhirnya aku tahu bahwa selama ini ibuku menyimpan segudang senjata yang mampu membuat temanmu ini lari tunggang langgang,” cibir Taeyang seraya menatap kedua mata Myung Soo. “Apa? Kau mau menyerangku sekarang? Silahkan! Setelah itu dapat kupastikan ayahmu akan merasa sangat malu karena memiliki anak seekor anjing.”

Taeyang tertawa sekeras-kerasnya seraya melenggang pergi, sementara Myung Soo di tempatnya berdiri sudah terlihat sangat marah.

“Jin Ki-ah, sepertinya aku akan berubah sekarang,” geram Myung Soo.

“Oh Tidak,” gumam Jin Ki terlihat panik. Tanpa banyak berpikir, Jin Ki langsung membawa Myung Soo keluar dari sekolah menuju parkiran mobil. “Tidak. Jangan sekarang. Kau akan membuat keributan besar jika…”

“Aku tidak perduli,” geram Myung Soo sementara cakar-cakarnya sudah mulai keluar dari ujung kuku-kukunya.

Jin Ki hampir kehabisan ide sampai akhirnya muncul Jiyeon dari kejauhan. Jin Ki pun langsung meluncur mendekati Jiyeon dan kembali lagi tepat saat Myung Soo meloncati pagar sekolahnya menuju hutan belakang.

“Sepertinya kita terlambat,” desah Jin Ki seraya menatap gusar gerbang sekolah yang sedikit rusak akibat Myung Soo.

**

“Matahari…Bulan…Kebenaran…” gumam Myung Soo dalam keadaan bungkuk menatap tanah. Diulangnya kalimat itu terus-menerus untuk membuatnya tenang, tetapi kemarahannya kali ini sepertinya sulit diredam. “Dong Taeyang…” Menyebut namanya ternyata membuat emosi Myung Soo semakin tersulut layaknya tali sumbu didekatkan pada korek api. “Sekali saja aku ingin menghajarnya. Sekali saja aku ingin membuatnya kesakitan luar biasa. Sekali saja…”

“Jangan, Myung Soo-ah…” ucap seseorang yang tiba-tiba saja membuat Myung Soo tersadar dari luapan emosinya sendiri. Saat Myung Soo berbalik untuk melihat si pemilik suara, kemarahannya berangsur-angsur menghilang, begitupun dengan wajah serigalanya. Park Jiyeon menghampiri Myung Soo tanpa takut, diletakkannya kedua tangannya pada wajah tampan Myung Soo. “Aku hanya merasa, menyakiti Taeyang hanya akan mengotori tanganmu saja.” Jiyeon tersenyum lalu dikecupnya bibir Myung Soo dengan amat dalam, membuat si Werewolf satu ini mau tak mau mengikuti gerakan bibir Jiyeon yang berirama. Setelah keduanya saling melepaskan ciuman, Myung Soo pun membalas senyum Jiyeon.

“Kau dengar ucapanku tadi?” tanya Myung Soo agak ragu.

Jiyeon mengangguk seraya berkata, “Semuanya…”

“Dan menurutmu aku adalah pria jahat yang memiliki segudang fantasi mengerikan untuk menghancurkan teman sekolahku sendiri?” tanya Myung Soo lagi.

“Terdengar cukup mengerikan,” jawab Jiyeon. “Tetapi bukan masalah buatku selagi kau tidak benar-benar melakukannya.”

Myung Soo pun tertawa. “Tetapi aku Werewolf, salah satu dari banyak makhluk mengerikan lainnya yang hobi sekali tersulut emosinya.”

“Tetapi kau Werewolf yang baik, Myung Soo-ah,” ucap Jiyeon sekali lagi mengecup bibir Myung Soo.

**

Taeyang melempar tasnya ke ranjang sebelum dirinya duduk pada sofa biru yang terletak dekat jendela kamarnya. Matanya menatap lurus ke arah figura foto yang tergantung di balik pintu kamarnya. Foto sang ayah terlihat gagah—membuat Taeyang akhirnya mengerti darimana keberanian yang terpeta jelas pada wajah sang ayah didapatkannya. Taeyang begitu marah karena rahasia yang selama ini dia tidak tahu, tetapi ada semburat rasa bangga terselip dihatinya mengetahui bahwa sang ayah adalah seorang pemburu dengan puluhan senjata berbahaya koleksiannya. Yang membuat Taeyang semakin menyukai sosok sang ayah, bahwa sang ayah bukanlah pemburu biasa, melainkan pemburu makhluk supernatural. Dia sangat yakin, jika sang ayah masih hidup saat ini, tanpa menunggu satu detik pun dia akan langsung memberitahu keberadaan Kim Myung Soo.

Mengingat Kim Myung Soo, membuat Taeyang berpikir hal lain, tentang sesuatu yang menarik lebih dari sekadar menyerahkan teman serigalanya itu kepada sang ibu yang masih setia pada pekerjaan pemburunya. Tak lama kemudian Taeyang menyunggingkan senyum liciknya seraya bergumam, “Hari-hariku kedepan akan semakin menyenangkan.”

Tiba-tiba terdengar ketukan pintu disusul munculnya wajah sang ibu dari balik pintu kamarnya.

“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu,” ucap Mrs. Song mengambil posisi duduk agak jauh dari Taeyang. Sikapnya dari dulu selalu sama, terlihat kaku terhadap anak sulungnya ini. Mendengar ucapan Mrs. Song saat ini saja sudah membuat Taeyang setengah terkejut karena sejujurnya percakapan intim seperti ini jarang sekali terjadi antara dirinya dengan sang ibu.

“Soal?” tanya Taeyang dengan wajah tanpa minat.

“Soal pekerjaanku selama ini,” ucap Mrs. Song tanpa ragu.

Sebelah alis Taeyang spontan terangkat. Rasanya topik pembicaraan ini mulai menuju ke arah yang sedang sangat Taeyang minati.

“Selain pekerjaan yang selama ini kau tahu, aku memiliki pekerjaan lain yang sudah menjadi pekerjaan turun temurun dari keluarga Dong,” ucap Mrs. Song terlihat sangat serius.

“Lalu apa pekerjaan itu?” tanya Taeyang berbasa-basi. Tentu saja dia sudah tahu pekerjaan seperti apa yang berhasil sang ibu rahasiakan darinya selama bertahun-tahun.

“Hunters,” jawab Mrs. Song. “Dan yang kami buru bukan binatang biasa.”

Kedua alis Taeyang bertaut bingung. “Apa maksudmu?”

“Makhluk supernatural,” ucap Mrs. Song dengan penekanan. “Khususnya Werewolf.”

“Werewolf?” Mata Taeyang menyipit bingung. “Jadi menurutmu kasus pembunuhan belakangan ini terjadi karena makhluk jejadian itu?”

“Tepat sekali,” ucap Mrs. Song. “Aku memang sempat berhenti melakukan pekerjaan ini setelah ayahmu tewas dibunuh oleh pemimpin mereka, Sang Alpha. Tetapi kurasa cukup sudah aku beristirahat. Tidak ada lagi trauma berkepanjangan yang selama ini menghantuiku. Alpha sudah kembali ke Seoul dan kurasa dia semakin kuat dari terakhir kali aku bertemu dengannya.”

“Lalu untuk apa kau menceritakan semua ini sekarang setelah kau berhasil merahasiakannya dariku selama bertahun-tahun?” tanya Taeyang kini terdengar marah.

“Aku hanya ingin kau terlindungi,” jawab Mrs. Song. “Saat itu kau masih terlalu kecil. Aku tidak mau kau menjadi korban Vargulf hanya karena kedua orangtuamu ini berkali-kali mencoba membunuhnya. Percayalah, nak. Vargulf memiliki dendam yang sama denganku pada dirinya. Nyawa harus dibayar dengan nyawa. Aku tidak pernah rela atas kematian ayahmu. Dan sampai saat ini misiku tetap sama, menghancurkan Vargulf dan makhluk sebangsanya, kawanannya, anak buahnya.”

Mendengar ucapan sang ibu, pikiran Taeyang langsung tertuju pada Myung Soo, sosok Werewolf pertama dan satu-satunya yang pernah dia lihat langsung dengan matanya sendiri—walaupun awalnya dia mengira itu hanya topeng serigala biasa.

“Sekarang sudah waktunya kau membantuku, nak,” ucap Mrs. Song. “Sudah waktunya kau mengetahui tentang keberadaan makhluk lain selain manusia. Dan sudah waktunya kau mengambil kembali apa yang sudah Vargulf ambil dari keluarga kita.”

Taeyang terdiam seperti tidak percaya dengan kata-kata terakhir sang ibu.

“Kau ingin aku ikut bergabung dengan kumpulan pemburu?” tanya Taeyang. “Sungguh?”

Mrs. Song mengangguk seraya berkata, “Kau berhasil tumbuh menjadi pria dewasa yang kuat dan gagah. Ayahmu pasti akan bangga jika kau mau meneruskan apa yang tidak pernah ayahmu berhasil lakukan, memburu sang Alpha.”

To Be Continue

22 responses to “[CHAPTER – PART 7] THE WEREWOLF

  1. waduhhhh kira2 ntar apa yg bakal taeyang lakuin ke myung?
    moga aja vargulf sama ibunya taeyang gak bisa nemuin tempat persembunyian myung, in guk, sama ayah nya jin ki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s