[CHAPTER – PART 5] Skinny Love

skinny-love-by-little-thiefposter credit: cr: Exodium @ Hospital Art Design

Skinny Love by Little Thief

Cast: Park Jiyeon, Kim Myungsoo

Other cast: Park Sooyoung (Joy), Choi Minho and Lee Jieun (IU)

Genre: romance, little bit angst

Rating: PG-13

Length: Chaptered

Disclaimer: karena FF ini sudah lama sejak update terakhir, untuk readers yang ingin membaca, disarankan membaca chapter-chapter sebelumnya agar tidak kebingungan.

(Prolog) (1) (2) (3) (4)

Malamnya, Jiyeon masuk ke dalam rumah dengan berisik dan gaduh. Buru-buru, ia meletakkan sepatu miliknya dan berlari ke kamar Sooyoung. Jiyeon membuka pintunya dengan keras. Seperti biasa, adiknya itu sedang sibuk berkutat dengan buku tebalnya. Dan berbagai kertas yang penuh dengan coret-coretan angka.

Sooyoung mendecak dan menatap Kakaknya kesal. “Ada apa, sih? Mengganggu saja.”

Bukannya menjawab, Jiyeon menjerit nyaring dan keras sekali, menghambur ke pelukan adiknya yang duduk di kursi meja belajar. Membuat napas Sooyoung sesak, dan tangannya berusaha melepaskan rengkuhan Jiyeon di lehernya.

“Kakak! Mengganggu saja!” omelnya. Jiyeon melepaskan rangkulan di leher adiknya, kemudian menyunggingkan senyum sok misterius.

“Betulan, aku mengganggumu?” tanya Jiyeon.

“Iya, kalau kau masuk secara tidak jelas, dan berteriak sangat nyaring. Harusnya kau masuk ke kamar orang lebih sopan dan tenang.” Sooyoung melotot tajam.

“Aku tak bisa tenang, sungguh!” sangkalnya, namun kemudian ia bersimpuh di depan adiknya, menatap Sooyoung dengan serius. “Karena kau tahu apa?”

“Apa?” tanya Sooyoung keheranan melihat Kakaknya yang terlihat begitu senang.

“Aku dapat pekerjaan!”-Jiyeon berteriak girang-“Aku. Dapat. Pekerjaan. Baru.”

Perlu waktu yang lama bagi Sooyoung untuk mencerna kata baru yang rasanya begitu asing tersebut. “Heh?” hanya itu yang mampu dia ucapkan.

Jiyeon dengan gemas mencubit pipinya, berkata dengan nada yang lebih tinggi. “Aku dapat pekerjaan baru, jadi kau tidak perlu kelaparan lagi. Karena aku dapat pekerjaan.”

Sooyoung hanya terdiam. Lama sekali. Sampai akhirnya matanya membulat dengan begitu besar. “Serius?”

Jiyeon mengangguk. “Duh, aku kan sudah berkata sejak tadi.”

Kini bergantian, Adiknya yang membulatkan matanya besar-besar. Ekspresinya berubah drastis, baru kemudian, suara jerit nyaringnya memenuhi seisi rumah. Jiyeon hanya tertawa, namun Sooyoung sudah melompat berdiri dan memeluk kakaknya.

Benar-benar membahagiakan.

***

Kaki mungil Jiyeon berlari kecil dengan penuh keceriaan. Gadis itu bersiul pelan sembari mengitari jalanan bernuansa klasik menuju Moong Café. Ia tak perlu repot-repot melongok ke kanan dan ke kiri ketika hendak menuju tempat kerjanya yang berada di seberang jalan itu. Sepanjang jalur lalu lintas itu memang masih sunyi. Matahari baru saja menyingsing. Pukul setengah tujuh pagi.

Jiyeon memiliki semangat baru yang besar dalam hidupnya kali ini. Ia bahkan sudah bangun sejak tadi, siap bekerja. Setidaknya dia bisa melakukan sesuatu. Setidaknya, dengan datang lebih pagi daripada barista dan pegawai yang lama, ia bisa meyakinkan Myungsoo bahwa pria itu tak menyesal menerima dirinya.

Ketika masih terhanyut akan keceriaan dan siulan lembutnya, tiba-tiba tanpa diasadari ia menabrak seseorang dengan keras. Jiyeon nyaris saja terjatuh, namun ia terkesiap dan menahan diri. Ia sedikit meringis dan baru saja akan memaki orang tadi, namun dia kalah cepat.

“Duh, hati-hati kalau jalan.” Sebuah suara memotong, nadanya agak jengkel. Namun kemudian ekspresi orang tersebut berubah kembali. “Eh, kau lagi.”

Jiyeon baru menyadari bahwa orang yang ia tabrak adalah bosnya, Kim Myungsoo. Jiyeon mendengus, menahan makian yang hendak ia keluarkan. Namun dia harus ingat, pangkat mereka berbeda sekarang. Jiyeon tidak bisa sembarangan mengatakan sesuatu di depannya.

“Pagi, Bos,” sapa Jiyeon dengan nada hormat yang dibuat-buat. Ia terpaksa melakukannya. Duh, kenapa orang ini mengacaukan paginya, sih?

Bukannya membalas, Myungsoo merogoh saku celananya dan suara gemericing logam terdengar. Kemudian tangannya keluar dan sudah menggenggam sebuah kunci perunggu, tanpa basa-basi melemparkannya kepada Jiyeon.

“Bukakan pintunya. Untukku.” perintahnya. Sukses membuat Jiyeon memberengut lagi. Memangnya tidak bisa membukanya sendiri, apa? Tapi tersadar ia adalah seorang pegawai yang masih berstatus Anak Bawang, maka Jiyeon membukanya dengan ekspresi seikhlas mungkin. Kemudian pintu klik pun terdengar.

Begitu kuncinya terbuka, buru-buru Myungsoo mendorong pintunya dan masuk ke dalam. Membuat Jiyeon memberengut lagi dan menghentakkan kakinya. Bilang terimakasih saja tidak! Langsung melengos sembarangan begitu ke dalam. Benar-benar merusak keceriannya kali ini.

Jiyeon menghela napas kesal dan lantas ikut masuk ke dalam. Ia membalikkan plakat yang tertempel di pintu, menandakan bahwa kafe resmi dibuka. Ia masuk ke dapur, dan meletakkan ranselnya di salah satu sudut, dekat dengan pintu ruang kerja Myungsoo. Pria itu sudah pergi entah ke mana, mungkin mengurung diri di kamar kerjanya itu.

Lantas tiap hari pergi ke sini itu untuk apa? Batin Jiyeon dalam hati.

Ia kemudian mengambil peralatan kebersihan di ujung dapur yang lain, di sudut paling mengenaskan yang mungkin bisa disebut ‘gudang’. Namun tak ada gudang di sini. Ia pun mengambil pel dan ember. Kemudian bergegas menuju ke kamar mandi para pelayan. Ia menumpahkan beberapa liter air, menuangkan satu tutup botol pembersih lantai dan merenung kosong selagi membasahi pelnya.

Bekerja tanpa disuruh, itu kalau dia mau terus bertahan di sini. Entah mengapa, Jiyeon berpikir bahwa Myungsoo membiarkannya begitu saja di sini karena orang itu ingin melihat tekad dan niatnya bekerja.

Ia memeras kain pelnya dan keluar, lantas mengepel bagian lantai kafe yang berwarna hitam-putih-merah, membentuk pola yang berulang-ulang di sepanjang ruangan. Lantainya tak ada sampah karena pastinya sudah disapu semalam setelah tutup, jadi Jiyeon hanya tinggal mengepel saja.

Ia nyaris berpikir ada pelanggan yang akan masuk, namun ternyata suara-suara itu adalah derap kaki Myungsoo yang berjalan menuruni anak tangga, keluar dari pintu dapur. Sejenak di meja kasir ia menatap Jiyeon yang asyik menggosok-gosokkan sebuah noda membandel yang melekat.

Gadis itu baru sadar ia ditonton. Ia melirik pria itu sebentar, namun kembali sibuk dengan lantainya. “Mau kopi?”

Bukannya menjawab, Myungsoo melipat kedua tangannya di depan dada, “Aku bahkan tidak menyuruhmu mengepel lantai.”

“Memangnya aku harus menunggu suruhanmu, begitu?” sembur Jiyeon. “Percuma saja datang pagi-pagi.”

“Kau semangat sekali,” komentarnya. “Ada sesuatu yang membuatmu bergantung pada kafeku, tempat yang sedang kau pijaki?”

Jiyeon menghentikan tangannya yang sedang bekerja sejenak, kemudian menghela napas. “Ada. Keluargaku.”

Myungsoo mengangguk, wajahnya terlihat yakin. “Itu mengherankan. Aku paling sebal dengan Anak-Bawang yang begitu manja. Kalau disuruh, baru mau kerja. Tapi kau di hari pertama sudah rajin begitu. Oke, bagus, baguslah.”

“Jadi selama ini kau selalu merekrut pegawai yang malas, begitu?” Jiyeon balas bertanya.

Myungsoo memutar bola mata, tampak berpikir-pikir sejenak. Namun kemudian kepalanya mengangguk pelan. “Ya, begitulah. Entah apa maunya mereka ini. Begitu meyakinkan saat seleksi, namun setelahnya malas sendiri. Aku pun hanya betul-betul percaya hanya pada satu-dua pegawai saja. Mereka yang benar-benar bekerja dari hati.”

“Seperti Pelayan Minho, contohnya?” satu sudut bibir Jiyeon terangkat, ia tersenyum miring.

“Kalau soal dirinya, aku bukan percaya lagi,” Myungsoo mengernyit. “Dia sudah bagian paling penting. Ngomong-ngomong, kau mau tahu sesuatu?”

“Apa?”

“Aku dan Minho. Kami membuat kafe ini sekitar…tiga atau empat tahun lalu, mungkin? Yang jelas kami masih muda. Baru lulus SMA, mungkin. Kami membuatnya bersama-sama, berdua. Kemudian ketika sudah jadi, ada masalah siapa yang akan memimpin. Harusnya Minho yang menempati jabatanku saat itu. Karena dia yang berkontribusi paling besar.”

“Lalu, kenapa dia malah memilih menjadi Pelayan Tingkat Atas?”

Myungsoo mengangkat bahunya, menggumam. “Yah, dia tidak mau. Dia lebih suka jadi barista. Dia tak mau jadi pemilik, atau pemimpin di sini. Kau tahu? Karena dia aktif. Karena dia suka bekerja. Menjadi barista, menurutnya, setidaknya dia punya banyak hal untuk dilakukan.”

Jiyeon terdiam sejenak, tampak berpikir. Kemudian dia angkat bicara lagi. “Karena pemimpin sepertimu hanya bisa diam di atas kamar kerjamu sana?”

“Ya, tugasku hanya mengawasi kalian, menanggapi bila ada sesuatu yang darurat, menerima laporan keuangan. Itu saja. Sedikit sekali ada sesuatu yang terganggu, terakhir kali itu saat kau pingsan saat itu. Seluruh barista baru heboh memanggilku.” Myungsoo terkekeh.

Jiyeon merasa pipinya panas karena kejadian paling memalukan seumur hidupnya itu. Untuk mengalihkannya, ia pun mengepel ke sudut lantai di dekat pintu. Membuat ia bisa melihat Myungsoo dari jarak yang lebih dekat. Pria itu masih bersandar di meja kasir sambil melipat tangan di depan dada.

“Hanya Minho saja? Tidak ada yang lain? Jieun? Dia punya kepercayaan untuk mengujiku waktu lalu.”

“Lee Jieun?” Myungsoo merenung. “Ya, awalnya aku tidak suka dengan dia. Kemudian ia menjadi bawahan kesayangan Minho saat itu. Aku tak tahu pasti, yang jelas Minho berkata Jieun punya kinerja yang baik. Minho yang tahu karena dia mengawasinya tiap hari. Tapi ternyata, memang bagus juga. Ya sudah, aku mempercayainya.”

“Lalu, pertanyaanku, untuk apa kau turun ke bawah? Untuk bercerita bahwa kau tidak suka jadi pemilik dan ingin jadi barista saja?” timpal Jiyeon.

Myungsoo menyeringai sejenak, kemudian mendekati Jiyeon sampai jaraknya dekat sekali. Jiyeon terperanjat dan menghentikan kegiatannya. Ia berdiri tegak, sampai Myungsoo hanya terpaut dua jengkal darinya. Jiyeon melotot, jantungnya berdegup ketika manik Myungsoo menatap matanya.

Pria muda itu menepuk pundaknya, “Buatkan aku kopi.”

Bibir Jiyeon mengerucut, ia langsung mendorong Myungsoo pelan dengan satu telunjuknya. Pria tersebut tertawa, dan protes, “Hei, aku hanya minta buatkan satu cangkir saja.”

“Buat sendiri,” gumam Jiyeon. “Kalau yang kudengar, kau menceritakan tentang jabatanmu seolah itu jadi jabatan paling membosankan sedunia. Jangan manja. Buat sendiri. Setidaknya kau punya satu hal lain untuk dilakukan selain berdiam diri di atas sana.”

Myungsoo terdiam, menatap Jiyeon yang tampaknya tidak peduli dengan kata pedas yang baru ia lontarkan. Kembali melanjutkan pekerjaan mengepelnya di sudut lain, menjauhi Myungsoo. Pemilik itu kali ini menatapnya…kagum. Belum ada satu pun barista yang pernah seberani itu padanya. Dan Myungsoo tidak merasa marah dengan perkataan itu. Ucapan tadi tepat sasaran, menampar dirinya.

“Ya, oke, deh. Tapi kalau kopiku tak enak, kau buatkan ulang, ya.” desah Myungsoo, beranjak menuju ke pintu dapur.

“Ya.” Balas Jiyeon singkat. “Setidaknya ada usaha.”

Myungsoo tersenyum simpul, kemudian kembali menghilang dari pintu dapur.

Mata Jiyeon masih menyusuri pintu dapur tempat Myungsoo baru saja menghilang. Ia mengusap peluh di pelipisnya dan mengembuskan napas panjang. Kemudian setelah dirasanya pekerjaan mengepelnya selesai, ia menumpahkan air yang tadi ia gunakan. Kemudian mengembalikan alat kebersihan tersembut ke tempatnya di ‘sudut mengenaskan’ di dapur.

Ketika masuk, ia tak menemukan Myungsoo di sana. Baguslah, mungkin ia sudah kembali ke ruang kerjanya. Setidaknya, Jiyeon tak perlu repor-repot membuatkannya kopi. Setelah itu ia pun keluar dari dapur.

Kafe masih tampak sunyi lengang. Tak ada suara. Hanya ada cahaya matahari yang menembus dari pintu dan dinding kaca. Merambat lurus yang membentuk berkas-berkas cahaya, membuat lantai menjadi lebih terang dan mengkilap.

Masa, sih, tiak ada  yang mau datang kali ini?

Jiyeon pun menumpukan kedua tangannya pada tepi meja kasir, menunggu satu saja orang yang datang untuk ia layani. Dan, oh, ya, yang lebih parah lagi, kemana pegawai yang lain?

Ia menggerutu. Kalau yang senior saja malas, Anak-Bawang sepertinya ‘kan juga ikut malas. Seolah Tuhan hendak menghentikan gerutuannya ketika sudut mata Jiyeon menatap sosok yang tak asing dari seberang jalan. Melongok kanan dan kiri jalan untuk memastikan penyebrangan mereka akan aman.

Jiyeon kemudian menyipitkan matanya agar bisa terlihat lebih saja. Bukan satu sosok saja. Melainkan dua orang. Laki-laki dan perempuan. Ia terus memperhatikannya dari meja kasir, kemudian menepuk dahinya sendiri.

Astaga, dua orang itu, bukankah Minho dan Jieun?

Dua orang itu tertawa-tawa kecil, kemudian Minho, dari belakang Jieun, membukakan pintu untuknya. Jieun masuk, disusul Minho dan kemudian tertawa lagi. Namun tawa mereka terhenti ketika melihat Jiyeon yang menatap mereka tak bergeming di sana.

Suasana berubah canggung seketika. Jiyeon memperhatikan dua orang yang tadi berjalan bersama itu. Kemudian untuk mengusir kecanggungan, ia menyapa dengan wajah riang. “Selamat pagi! Lama sekali datangnya.”

Jieun langsung tersenyum kaku. “Maaf. Aku tadi bangun agak terlambat. Bertemu Minho juga di jalan.”

Minho menatap Jiyeon, dan meniliknya dari atas sampai bawah. “Kau sudah bersihkan lantai, ya?”

“Sudah.”

“Sudah siapkan kopi-kopi dan bahan untuk yang lain?” tanya Minho.

Jiyeon mengernyitkan keningnya. “Bahan-bahan?”

“Ya ampun, belum, ya?” suara Minho langsung melengking, jauh di luar sangkaan Jiyeon. “Harusnya siapkan daritadi, Bodoh!”

“Kau yang bodoh. Kau yang harusnya pertama di sini. Aku tak tahu apa-apa.” Balas Jiyeon tak mau kalah.

Minho mendecak jengkel, tanpa babibu langsung melengos masuk ke dalam pintu dapur. Pintunya mendebam tertutup, membuat Jiyeon mencibir kemudian mengalihkan pandangan pada Jieun.

Gadis tersebut tertawa kecil melihat Minho dan Jiyeon, kemudian masuk ke dalam meja kasir. Ia mengambil sebuah laci di bawah meja, kemudian mengambil celemek berwarna putih dengan beberapa corak warna oranye.

Jieun melempar satu celemek padanya. “Kau bahkan belum pakai seragam resmimu. Pakai celemek ini.”

Jiyeon tersenyum kecil. “Terimakasih.”

“Jadi, bagaimana?”-Jieun berdiri, menutup laci tersebut-“Sudah lama datang?”

“Ya, kira-kira. Dua puluh menit lalu,” Jiyeon menjawab singkat dengan nada tidak-apa-apa-kau-datang-sangat-terlambat-padahal-kau-barista-lama-di-sini. “Kau bagaimana? Sudah sarapan?”

Jieun mengangguk. “Ya. Dari tadi. Bersama Min-“

Gadis itu bahkan terdiam sebelum melanjutkan omongannya. Ia mengatupkan mulutnya sejenak. Kemudian berkata lagi, “Bukan apa-apa.”

Tapi Jiyeon tahu lanjutannya. Ia tersenyum penuh misterius. “Dari tadi? Bersama Minho?” kekehnya.

Wajah Jieun langsung merah padam. “Tadi, maksudku. Aku bertemu dengan Minho di warung tempatku sarapan.”

Jiyeon bersiul tidak jelas. “Sekiraku tak ada warung makan yang buka jam segini.”

Gadis di sebelahnya terlihat salah tingkah. “Ada, tahu. Kau hanya belum pernah mengunjunginya.”

Seolah perkataan mengelak Jieun itu adalah salah, Jiyeon menunjuk kembang kapas yang ada di genggaman Jieun. Kembang kapas yang juga ada di genggaman Minho tadi, ketika mereka masuk.

“Uh, manisnya.” Jiyeon berkata dengan nada dibuat-buat. “Jadi aku bisa menyimpulkan dengan tepat. Kau dan Minho sudah janjian sebelumnya untuk sarapan bersama pagi ini. Mungkin dari tadi, mungkin waktu aku bahkan belum datang ke sini. Kalian menghabiskan dan menikmati tiap detik kalian. Kemudian aku tak tahu kenapa kau bisa begitu lama, yang pasti kau ingin berlama-lama bersamanya sebelum ke kafe. Lantas kalian membeli kembang kapas bersama-“

Jiyeon harus berhenti sejenak. Ia sangat bersemangat. Ia mengambil napas sejenak, kemudian melanjutkan lagi, “-kemudian kalian mendapati aku menatap kalian seperti, ‘wah, ini pasangan yang amat serasi’. Kemudian untuk menghindari pikiranku yang berlebihan pada kalian, kau berbohong bahwa kau bangun kesiangan dan berdalih bahwa kau bertemu dengan Minho di jalan.”

Jieun tak tahu harus menanggapi apa tuturan panjang lebar Jiyeon yang seperti baru saja membacakan pidato. Pipinya semerah stroberi sekarang, ia tampak salah tingkah. Tergagap. Ekspresinya begitu malu. Ia bertanya-tanya dalam hatinya. Bagaimana Jiyeon bisa tahu sampai detail begitu? Itu semua tepat sasaran dengan yang terjadi sebenarnya.

“Aha, kau ketahuan!” Jiyeon bersorak, kemudian tertawa terbahak-bahak.

Mau tak mau, karena tak punya jawaban dan alasan lain, Jieun hanya memukul-mukul teman barunya itu. “JIYEON!”

-tbc-

Chapter berikutnya akan dipost minggu depan. Doakan aja, ya ^^ maaf untuk keterlambatannya. Kritik dan saran ditunggu ^^

27 responses to “[CHAPTER – PART 5] Skinny Love

  1. Wah kapan nich kisah cinta antara jiyeon & myungsoo trjadi…. Sprti’y blm ada tanda2 sinyal tuch…. Lanjut ^^

  2. Jiyeon berangkat pagi2 ajh terus, biar bisa lama2 ketemu myung tanpa gangguan 😀 eh jiyeon betani banget sama myung, tapi si myung di gituin juga ngak merasa teesinggung 😁 eh jieun sama minho ada apa2 kayax 😃 di tunggu kelanjutanx thor 😉

  3. Wkwkwkwkk daebakkk.. hahah ngakak bca jiyi gmpg bngt bacax.. ketahuan bngt bhngx ya.. y ampun.. apa myung itu jd sk sm jiyi? Jebal dong next myungyeon udh jdian kwkwk plak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s