Clash (Chapter 10 – END)

FF Clash new

Tittle : Clash

Author : brownpills

Main Cast:

  • Kim Myungsoo
  • Kim Taehyung (V BTS)
  • Park Jiyeon

Support Cast :

  • Bae Suzy
  • Krystal Jung.

Lenght :  Chaptered

Genre : Romance, Family, Schoollife

Rating : PG-14

A/N : Pure of my mind. Also share in FFH. Don’t be a Plagiator! WARNING! SANGAT PANJANG~

.

.

“Jika jalan pikiranmu seperti itu maka kau akan kehilangan keduanya.”

 

Sepasang manik mata cokelat itu terlihat intens di depannya. Memberikan keyakinan pada sahabatnya. Mulutnya sedikit terbuka mendengar kalimat yang terasa mendengung di telinganya. Jiyeon sedikit bergidik.

“Sooji-ya,” lirihnya.

Pandangan Jiyeon terlihat kosong seolah ia sedang memaksa otaknya untuk mencari jawaban.

“Aku sangat serakah, keuchi?” tanyanya sambil melamun.

Suzy memutar kedua bola matanya sekaligus iba terhadap sohibnya. “Semua jawaban ada dalam hatimu. Kau bertanya padaku itu tidak akan berhasil. Karena aku yakin saranku pasti berbeda dengan isi hatimu yang sebenarnya.”

Kepala Jiyeon menoleh pada gadis berambut hitam kelam di sebelahnya. Kedua alisnya terangkat meminta penjelasan.

“Ayolah, Jiyeon. Aku sudah berteman denganmu tiga tahun ini, aku mengerti seperti apa dirimu.”

“Aku?”

Suzy mulai menerawang ke depan, mengingat-ingat akan tingkah laku Jiyeon, “Kau itu… selalu menyimpan perasaanmu sendirian. Menutupnya rapat dalam buku harianmu. Sering kali, aku memergokimu membolak balik buku harianmu—“

Jiyeon memperhatikan tiap kalimat yang diutarakan Suzy. Ia tak menyangka Suzy bisa mengerti hal sedetail itu.

“—kau selalu membawa buku harianmu, menulisnya disaat kau sedang bosan—“ Suzy tertawa sekilas, “—kau bahkan tidak sadar saat aku mengintip isi buku harianmu. Babo-ya—“ kekeh Suzy.

“—darisitu aku menarik kesimpulan, apa yang selalu kau ucapkan berbeda dengan isi hatimu. Tidakkah kau tau, Jiyeon, itu sama saja kau membohongi perasaanmu sendiri.”

Pura-pura? Mungkin singkatnya seperti itu. Jiyeon menundukkan kepalanya membuat helaian rambutnya jatuh dengan indah. Jemarinya saling bertautan, bingung.

Suzy menghembuskan nafasnya dengan keras sambil melanjutkan perkataannya, “Aku tidak memaksamu untuk membuka hatimu, aku hanya ingin sahabatku menyadarinya.”

Lantas Suzy menoleh sambil menyunggingkan senyum tulusnya, “Janganlah sedih. Fighting!”

Ketika Jiyeon mengangkat kepala, ia sudah mendapati Suzy tengah mengacungkan kepalan tangannya di depan muka sembari tersenyum hangat. Sehingga bibir Jiyeon perlahan terangkat, membalas senyuman itu.

—o0o—

Derap kaki memantul di sepanjang koridor gelap yang menghubungkan laboratorium biologi, fisika, dan komputer. Sesampainya di sudut koridor, mereka segera meletakkan tas mereka masing-masing.

“Huaaahh, ini akan menghabiskan banyak tenaga,” ujar Woohyun.

Ya~ kita harus membantu seonsangnim,” rangkul Baekhyun.

Sementara Jiyeon masih meneteng tasnya di punggung. Naeun menyikutnya memberikan kode agar Jiyeon segera meletakkan tas di depan laboratorium biologi.

“Hari ini membersihkan lab biologi,” bisik Naeun. Gadis itu langsung mengenakan masker dan meninggalkan Jiyeon yang masih terdiam.

Jiyeon menghela nafas pelan sambil meletakkan tasnya sesuai perintah Suzy. Baru sampai ambang pintu, langkah gadis itu berhenti mendadak. Mata keabuannya membulat. Tangannya segera membekap mulutnya sendiri.

Kondisi di dalam lab biologi benar-benar kotor. Debu bertebaran dimanapun. Semua teman Jiyeon sudah sibuk dengan aktivitas mereka. Ada yang menyapu, membereskan peralatan ilmiah, sedangkan murid laki-laki memindahkan kardus.

Pelan-pelan Jiyeon memundurkan langkahnya. Badannya segera berbalik, dan langkahnya cepat menuju balkon sekolah yang memang letaknya sangat dekat.

Nafasnya sesenggukan ketika ia sudah mendapati cahaya terang. Ia memejamkan mata memulihkan kondisi sejenak. Lantas tubuhnya menyandar pada pembatas balkon.

Ia sendiri dapat merasakan detak jantungnya yang tidak normal. Ia menenggelamkan wajahnya.

“Egois itu ketika kau menyimpan perasaanmu sendiri.”

Ada suara yang seolah dapat membuat angin yang berhembus terhenti.

Dengan wajah pucat Jiyeon mengangkat kepalanya. Silau, hanya tubuh jangkung yang dapat ia tangkap.

Pria itu berjongkok menyamai tinggi Jiyeon yang sedang duduk.

Gwenchana?” tanyanya tidak mempedulikan kebingungan yang tertera jelas di paras gadis itu. “Kau seharusnya tidak usah ikut membantu. Kembalilah ke kelas.”

Merasa selesai dengan ucapannya, ia beranjak berdiri. Membalikkan badan dengan kedua tangannya masuk ke dalam saku celana sekolah.

“Taehyung.”

Bahkan Taehyung belum melangkah satu jengkalpun.

“Egois? Siapa yang sebenarnya paling egois di sini?”

Terpaksa Taehyung kembali berhadapan dengan Jiyeon. Merasa tidak nyaman dengan posisinya, ia memegang pundak Jiyeon dan mengangkatnya hingga gadis itu berdiri tegap.

Jiyeon mengerjapkan mata dua kali, kaget dengan reaksi Taehyung. Mata elang itu kini menatapnya langsung. Begitu dekat.

“Apa kau akan tetap di sini?” suara Taehyung meninggi, “Kau sudah tau jika kau punya asma. Kau masih tetap di sini? Ingin membantu membersihkan lab yang penuh dengan debu?”

“Bagaimana denganmu?”gadis itu muak. “Kau juga, tidak beda denganku.”

Taehyung merenggangkan cengkraman tangannya di bahu mungil gadis itu. Rasa sengitnya mengikis mendapati tatapan tajam dari Jiyeon. Bahkan ia baru menyadari jika bola mata gadis ini mematikan.

“Kau sangat lucu,” sinis Jiyeon, “Bagaimana bisa kau mengkhawatirkan kondisiku sementara kau juga sakit asma?”

“Penyakitku tidak separah penyakitmu,” sangkal Taehyung.

“Jadi kau pikir asma yang kuderita ini asma akut, begitu?”

Rasanya seperti mendapatkan pukulan telak. Taehyung melepaskan cengkramannya tanpa ia sadari.

“Kau sangat menyebalkan. Mengapa kau selalu mengajakku bertengkar? Kau selalu berpikir bahwa semua yang kau katakana adalah benar. Dan sekarang kau mencoba mengambil kesimpulan bahwa aku ini lemah—“

“Aku tidak bilang bahwa kau lemah,” potong Taehyung.

“Menyuruhku kembali dan mengatakan bahwa asmamu tidak separah asmaku. Apa kau pikir aku tidak sedih mendengar kau membanding bandingkan hal seperti itu?”

Taehyung menatap nanar kedua bola mata yang berkaca-kaca di hadapannya.

“Aku, bukan gadis lemah. Aku gadis normal seperti lainnya.”

 

Jiyeon’s PoV

 

“Aku, bukan gadis lemah. Aku gadis normal seperti lainnya. Karena itu akan kubuktikan sekarang.”

Bodoh. Aku ini gadis lemah.

Perkataan itu meluncur tanpa disaring terebih dahulu. Aku terlanjur tersulut kemarahan. Kesabaranku terbakar habis. Kim Taehyung selalu berhasil menghidupkan iblis di dalam hatiku.

Dengan hentakan keras aku masuk ke dalam lab yang penuh dengan udara kotor. Aku mulai merasakan cairan hangat membasahi pipiku. Pandanganku begitu remang. Kugelengkan kepalaku keras dan memantapkan diri untuk membantu temanku.

“Apa yang dia lakukan di sini?” kudengar Baekhyun mengatakannya.

“Dia sudah gila.”

Aku yakin semua mulai memusatkan perhatian padaku. Melemparkan pandangan tidak suka atas kehadiranku.

“Jiyeon, wae irae? Kau tidak bisa berada di sini,” bahkan Suzy kini mendekatiku.

Aku tersenyum padanya, “Bukankah kita harus cepat membersihkan lab.”

“Hentikan ini. Aku akan membawamu ke uks.”

Aku mengelak genggaman tangan Suzy. Tepat disaat itu aku mulai merasakan nyeri dada. Dengan hati-hati aku membalikkan badan dari Suzy. Tidak ingin ia tau aku kesulitan bernafas.

Tetapi dengan hawa mengamuk aku bisa merasakan sesuatu menyeret lenganku. Genggaman erat yang terasa hangat memaksaku untuk menyamai langkah lebarnya.

Punggung itu terlihat dalam pandanganku yang berkunang-kunang. Aku yakin dia sengaja menrik lenganku menjauhi laboratorium dan berhenti di ujung koridor.

Masih berusaha mengatur nafas, aku mencoba menguatkan kaki untuk tetap berdiri.

Mianhae.”

Begitu lirih hingga terkalahkan oleh bising angin. Mwoya? Seorang Kim Taehyung meminta maaf—kepadaku?

Dirinya yang berhadapan denganku, wajah cemas itu, terpampang jelas.

“Sebegitu bencinya kau padaku, aku minta maaf,” ulangnya.

Setelah itu semuanya menjadi gelap.

.

.

Apa kau pernah merasakan desiran aneh ketika kau bertatap muka dengan seseorang?

Apa kau merasakan keinginan ingin mendekapnya erat?

Kau mencoba untuk menutupinya tetapi kau tau itu tidak akan berhasil.

Perasaanmu terlalu memuncak.

Bagaimana jika perasaan itu ada ketika berhadapan dengan dua pria.

.

.

Dari arah berlawanan sesosok pria berjalan sambil menatapi layar ponselnya. Langkah kakiku yang dipercepat tidak sengaja menyandung undakan tangga. Dan…

 

BUGH!

 

Kedua mataku terpejam sudah siap menerima benturan lantai. Tetapi tubuhku menimpa sesuatu yang tidak sekeras dugaanku. Perlahan aku membuka kedua bola mataku. Mulutku menganga lebar.

Jarak antara diriku dan sosok di bawahku tidak sampai 5 centimeter. Bahkan hidung kami saling bersentuhan. Seketika foodcourt hening tanpa suara.

Mulai detik itu, ada sedikit benih masa muda yang tumbuh.

Angin berhembus mengisi celah di antara kami. Waktu seakan berjalan melambat. Membiarkan kami bercengkrama dalam diam.

Senyum itu yang membuat tubuhku diam tak bergerak. Siluet jangkungnya terpantul di tanah. Tatanan rambutnya terkibas oleh angin. Mulut tipisnya yang ia tarik dikedua sisi, membentuk dengan sempurna. Membuat kedua kelopak matanya nyaris tertutup.

“Kim Myungsoo?”

Bahkan lidahku sedikit kelu mengucapkannya.

“Mengapa kau menatapku seperti itu?”

Pertanyaannya membuyarkan lamunanku. Mengembalikanku ke alam sadar.

“Apakah aku begitu tampan sampai membuatmu tidak mengedipkan mata.”

Tetapi namja lain menggagalkan benih itu untuk tumbuh.

“Hey, kau!”

Pria itu bersuara, namun aku pura-pura tidak mendengarkannya.

“Kau, yang duduk paling depan!”

Aku mendesah keras sambil menengok ke belakang.

Tanpa menunggu persetujuanku, ia melemparkan sebuah buku. Kali ini daya reflekku kuat, aku menangkap buku itu tanpa merusaknya.

“Gomawo,” ujarnya kembali bersantai.

Tetap saja hanya sifat kekanak-kanakannya yang selalu terlihat benar di mataku.

Montor berwarna merah kini berhenti di hadapanku. Saat pria itu membuka kaca pelindung kepalanya, aku membulatkan kedua mata.

“Kuantar kau pulang.”

Itu terdengar bukan sebagai pertanyaan, tetapi pernyataan. Sekujur tubuhku terpaku di tempat. Pikiranku bergulat sendirinya. Pria itu masih menunggu responku.

 

Padahal saat itu aku berharap dialah yang datang.

Ya, Park Jiyeon!”

“Kau seharusnya marah padaku,”

“Marah? For what?”

“Untuk apa yang terjadi hari ini. Untuk aku yang–“

“Merendahkan Myungsoo?”

Saat itu aku tidak paham mengapa aku membela namja lain.

“Lalu apa? Apa gunanya aku marah pada orang yang tidak bisa menghargai orang lain?”

“Apa itu yang kau harapkan? Memperlihatkan Myungsoo sebagai pecundang di hadapan teman-teman? Apa kau sekarang puas?”

“Apa kau pikir dengan membeberkan masa SMP Myungsoo dapat membuat aku menyesal didekati pria itu? Begitu?”

Aku hanya dikuasai emosi yang sulit untuk dipadamkan.

“Aku… tidak menyukaimu.”

 

Ini aneh. Mengapa rasanya sakit sekali?

Sebenarnya itu adalah kebohongan yang paling menyakitkan.

“Berhenti menatapku seperti itu.”

“Kau…” “… gadis culun. Tidak bisa berbaur dengan yang lain. Kau hanya bergantung pada Suzy dan Krystal. Pendiam, menutup diri, dan pemalu.”

“Mwo?”

“Kau juga—selalu tidak percaya diri. Menganggap dirimu yang paling kesepian. Bersikap seolah tak ada yang mau berteman denganmu—“

“—dengan kata lain kau itu pecundang. Pecundang yang gagal mendapatkan teman banyak.”

Serasa ingin mati mendengarnya mencaci makiku dengan mudah.

“BAA!”

“Ah, kamjakke!” kagetku.

Myungsoo hanya menyengir tanpa dosa. Sementara aku menimpuk pundaknya, kesal karena dia membuat jantungku hampir copot.

Pria itu masih tertawa, mungkin lucu membayangkan ekspresi terkejutku tadi. Mulutku memberengut, tetapi semakin melihat tawanya, semakin aku terhanyut. Ikut dalam tawanya yang seolah memiliki magnet tersendiri.

Mengapa harus namja lain yang bisa membuatku tertawa? Mengapa itu bukan kau?

“Wah,” wajahnya sumringah seperti bunga yang baru saja mekar.

Puas melihat aksi musik, aku dan dirinya kembali berjalan santai. Di antara pepohonan besar dan di antara pasangan lainnya atau segerombol anak muda.

“Jiyeon, kau tidak capek senyum terus?”

Tentu saja Jiyeon menghentikan senyuman riangnya. Berubah menjadi wajah cemberut.

“Ayolah aku hanya bercanda,” namja itu mengerlingkan mata. “Jika senyummu tidak ada, maka oksigen yang kuhirup juga tidak ada.”

Aku pikir aku harus segera melupakan perasaanku dan mengalihkannya pada namja lain.

Dan perlahan ia menurunkan kuasnya, mengangkat kepala, detik ini pula dunia serasa berhenti berputar. Pandangan kami bertemu. Di suatu titik yang sulit untuk dijangkau.

Alisnya berkerut mendapati diriku. Ia memiringkan kepalanya seolah memikirkan sesuatu. Dan aku masih mematung layaknya aku adalah model yang akan dilukisnya.

Tetapi ia tak kunjung meraih kembali kuasnya. Kami terhanyut dalam pikiran masing-masing. Bingung bagaimana cara melepasnya.

Tetapi ternyata rasa itu masih ada ketika aku memandangnya.

“Aku akan tetap mencintaimu, Jiyeon.”

Padahal ada namja lain yang jelas jelas menyatakannya di hadapanku, tetapi mengapa aku terus memikirkannya?

 

“Jika jalan pikiranmu seperti itu maka kau akan kehilangan keduanya.”

“Egois itu ketika kau menyimpan perasaanmu sendiri.”

“Sebegitu bencinya kau padaku, aku minta maaf,”

.

.

Kemudian aku membuka kedua kelopak mataku. Seperti bangun dari mimpi musim panas yang begitu panjang, aku tersadar.

Tulang belulangku terasa linu. Butuh banyak tenaga untuk mendudukan diriku. Hal pertama yang kurasakan ada selang oksigen yang terpasang di hidungku. Aku meraba selang berwarna hijau yang melingkar di pipiku. Aku menghela nafas pelan.

Bau rumah sakit menyeruak di hidung. Kamar ini hening, membiarkan denting jarum jam mengisi kekosongan. Sejak kapan aku menginap di sini?

Mataku beralih ke seseorang yang tengah tertidur di sisi ranjang. Meski rambutnya menutupi wajah, aku bisa mengenalnya. Bae Suzy. Sebelahnya ada Krystal yang tidur dengan mulut yang terbuka. Tak sadar aku tersenyum kecil.

Kemudian mataku terus bergerak hingga berhenti pada ibuku yang tertidur. Lalu—Kim Myungsoo? Tubuh pria itu tertutupi selimut dan ia terpejam dalam damai di sofa.

Aku menundukan kepala. Sepertinya hanya mereka yang menemaniku ketika aku tidak sadarkan diri.

 

 

TAK!

 

 

Kuas terjatuh di lantai. Menggelinding lalu berhenti tepat di sisi ranjangku. Mataku menyipit mengamati kuas yang terlihat familiar itu.

Degub jantungku berdetak lebih cepat ketika dengan hati-hati aku menaikkan pandanganku kea rah jatuhnya kuas itu berasal. Di balik tirai yang memang sengaja dipasang untuk memisahkan penjenguk dan pasien, aku dapat melihat kaki.

Kedua mataku membulat saat tirai itu disibakkan. Dan sosoknya muncul dengan waja kusut. Masih memakai seragam sekolah.

“Kau sudah sadar?”

Lantas diriku termenung. Mencoba membedakan antara mimpi dan nyata. Oh, aku percaya itu sadar ketika ia meraih kuasnya dan mendekatiku.

“Apa kuas ini membangunkanmu?” tanyanya, “Akan kupanggilkan dokter.”

Suzy, Krystal, ibu, dan Myungsoo tentu terbangun mendengarnya berbicara. Krystal menguap sebentar seraya langsung menatapku dengan mata bulatnya.

“Jiyeon-a! Kau akhirnya sadar!”

Gwenchana? Apa ada yang sakit?” Suzy menyentuh pundakku.

“Omo, Jiyeon,” sepertinya ibuku kehabisan kata-kata. Yang dia lakukan hanya memelukku sambil menangis.

Mwoya? Aku tidak apa-apa,” sahutku memang aku sudah merasa baikan.

“Ish! Yeoja babo! Kau membuat kami semua khawatir,” sungut Krystal.

Kulihat Myungsoo menghela nafas lega. Tetapi ia tidak mengatakan apapun. Sebatas memperhatikanku saja.

Setelah ibuku melepaskan pelukannya, aku bertanya, “Sejak kapan aku di rumah sakit?”

“Tujuh jam yang lalu,” sahut Suzy, “Taehyung yang membawamu kemari.”

Lantas ekor mataku beralih pada pria yang masih memegang kuasnya.

Eomma senang kau sadar. Eomma akan memanggilkan dokter.”

Kemudian ibuku menggeser pintu kamar. Meninggalkan kami di ruangan ini.

Sesaat hening. Aku masih memandang Taehyung dan berganti ke Myungsoo. Begitu terus sambil memikirkan potongan kejadian mimpi yang berhasil mengembalikan alam sadarku.

“Kami semua sengaja menemanimu,” ujar Krystal tersenyum manis.

“Ini, ibuku membuatkannya untukmu,” Suzy mengatakannya sambil menyerahkan sekotak brownies, “Ini kesukaanmu.”

“Aku rasa aku harus berterima kasih padamu, Taehyung,” akhirnya Myungsoo angkat bicara membuat kami semua menolehkan kepala padanya, “Ah tidak! Aku berterimakasih pada kuasmu yang terjatuh dan membangunkan Jiyeon.”

Taehyung menarik salah satu bibirnya. Sedangkan Suzy dan Krystal tertawa renyah.

Ya, sebelum kuasnya terjatuh aku sudah bangun,” belaku.

Dan kurasa itu membuat mereka terkejut dengan nada bicaraku yang sudah kembali.

“Jiyeon-a kau kembali bawel,” kagum Krystal.

Aku mendengus.

“Tetapi Taehyung, mengapa kau membawa kuas?” tanya Krystal, “Apa kau sedang melukis di sini?”

Tampak Taehyung menggaruk-garukan tengkuk kepalanya.

“Kau sedang melukis!” Krystal menarik kesimpulan sendiri, “Apa yang kau lukis? Huh? Dimana-mana kau selalu melukis. Aku ingin melihatnya.”

Taehyung merasa risih dengan rengekan Krystal. Dengan kasar, Suzy menarik rambut Krystal untuk kembali duduk.

“Diamlah, jaga harga dirimu sebagai perempuan,” ketus Suzy.

Tidak sadar ruangan yang tadinya sepi ini berubah menjadi lebih– hangat. Dengan tawa kami yang saling berbaur.

Jiyeon’s PoV END

—o0o—

Selimut yang melingkupi tubuhnya ditarik oleh wanita paruh baya yang entah sejak kapan berada di kamarnya.

“Bagunlah, Jiyeon. Sudah siang.”

“Aish, sebentar lagi.”

Ia semakin meringkukkan tubuh. Wanita yang notabenenya adalah ibunya berkacak pinggang.

“Baiklah kalau begitu eomma akan menyuruh mereka pulang.”

Kelopak matanya terbuka. Ia berdiri begitu saja.

“Mereka?” ucapnya tak percaya.

Eomma menggangguk.

“Seharusnya daritadi eomma membangunkanku,” omelnya langsung beranjak ke kamar mandi.

Eomma hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya yang sudah tidak sakit lagi.

.

.

“Aku dulu.”

Aniy, aku yang lebih sampai di sini.”

Mwosun suriya, sudah daritadi aku berada di rumah ini.”

Pertengkaran kecil kedua leaki itu terhenti begitu eomma meletakkan senampan yang berisi dua cangkir teh dan cemilan di atas meja.

“Kalian sangat lucu,” ujar eomma.

“Aku memang lucu, tetapi dia tidak, eommoni,” bela seorang namja berambut pirang, siapa lagi jika bukan Taehyung. Ia bahkan berani mengucapkan kata eommoni. Membuat kesal pria yang duduk di sebelahnya.

“Aku sudah membangunkan Jiyeon. Kalian tunggu sebentar lagi.”

Ne, eommoni,” keduanya serempak menjawab.

Mereka kembali melempar tatapan sengit saat eomma masuk ke dalam dapur.

Ya, Myungsoo, apa kau pikir dengan potongan rambut barumu itu bisa melulukan hati Jiyeon?” ledek Taehyung.

“Ckck, kau merasa tersaingi.”

MWO? Aku? Tersaingi olehmu?”

Baru saja mereka hendak memberantakan rambut satu sama lain. Jiyeon datang sambil mendengus.

“Kalian kekanak-kanakan,” ujarnya.

Taehyung dan Myungsoo serempak beranjak dari duduk. Merapikan penampilan mereka. Dan saling memasang senyum menawan.

“Pagi, Jiyeon,” sapa Myungsoo manis.

“Kau memang kebo. Jam segini baru bangun,” Taehyung malah meledeknya.

Lantas Jiyeon berjalan nyempil di tengah-tengah mereka. Dengan gemas ia menjewer kedua kuping pria itu.

“Kalian mengganggu acara tidurku. Dan kalian bertengkar di rumahku. Aku akan membawa kalian keluar.”

Masih dengan tangan kanan menjewer telinga Myungsoo, tangan kiri menjewer telinga taehyung, Jiyeon menarik keduanya sampai ambang pintu. Tidak mempedulikan ringisan nyeri mereka.

YA, lepaskan!” ujar Taehyung.

Jiyeon tidak menggubrisnya.

“Jiyeon, bukannya kau berjanji makan denganku hari ini,” giliran Myungsoo merengek.

YA! Jiyeon denganku hari ini,” Taehyung tidak terima.

Kasar Jiyeon melepaskan jeweran keduanya. Mereka seperti sampah saja kekeke. Masing-masing dari mereka mengelus telinganya.

“Hari ini kita akan makan bersama,” ujar Jiyeon.

MWO?!”

Bola mata kedua namja itu hendak keluar mendengarnya.Tanpa mempedulikan reaksi itu,  Jiyeon menggandeng lengan Myungsoo dan Taehyung. Sehingga gadis itu berada -lagi- di tengah keduanya. Dan mereka mulai berjalan di bawah sinar mentari hangat.

.

.

Setiap cerita memiliki akhir sendiri. Sahabat. Jiyeon merasa itu hal terpenting dibandingkan cinta. Baik Myungsoo ataupun Taehyung, ia menerimanya sebagai sahabat.

-END-

.

EPILOG

“Apa yang kau lukis ketika aku dirawat di rumah sakit?” tanya seorang gadis kepada pria yang duduk di hadapannya.

Pria itu tak langsung menjawab. Ia sibuk menggoreskan pensilnya di atas kertas. Jiyeon memberengut merasa tidak dipedulikan. Gadis itu menyeruput secangkir moccha hangat yang ia pesan.

“Selesai,” namja itu menghembuskan angin ke kertas gambarnya seraya mengalihkan perhatian pada Jiyeon. “Aku melukismu.”

“Aku?”

“Sama seperti sekarang.”

Lekuk wajah Jiyeon tergambar di atas lembaran itu. Meski tinta hitam putih, namun senyuman mengembang di wajahnya.

“Eum, Taehyung,” gumam Jiyeon.

“Mm?”

“Aku menganggap bahwa sahabat lebih berharga daripada namjachingu.”

Taehyung lantas tertawa mendengarnya, “Apa aku terlihat seperti menembakmu?”

Nde?”

“Tentu saja, aku bisa menerimanya juga sebagai sahabat.”

-Thank You-

Jiyeon memilih dua duanya. Tetapi sebagai sahabat. Itu cukup kan? hehehe. Hara nongol setelah sekian lama menghilang *halah*. Maafin Hara karna tiba tiba ff ini jadi rada aneh endingnya. Maaf juga kalo semisal endingnya gak sesuai harapan kalian :”. Dan makasih yang masih mau baca ff abal abal ini. Salam peluk hangat dari Hara~~ Oya happy holiday juga! Yuhuyy, karna menjelang liburan dan bulan ramadhan, Hara bahagia soalnya bisa nyentuh lap top dan bikin ff lagi, yey! Ditunggu ff Hara lainnya yang baru yaaa😉

28 responses to “Clash (Chapter 10 – END)

  1. Hah dan pda akhirnya jiyeon nerima myung sma taehyung cma sebagai sahabat😀
    padahal berharap bnget jiyeon ama taehyung ><

  2. Dan akhirx mereka berdua malah di anggap sahabat sama jiyeon 😊 bagus lah akhirx kaya gini solax kalo akhirx sama yg aku ngak inginin malah kecewa, jadi lebih baik kaya ginih 😊
    Tapi suatu hari nanti jiyi hatus pilih salah satu antara dua orang itu *atau cari yg lain*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s