[CHAPTER – PART 6] THE WEREWOLF

THE WEREWOLF

Kim Myung Soo adalah seorang remaja SMA berumur enam belas tahun yang bersekolah di Fellas Hills High School. Gigitan seekor Vargulf membuat kehidupan remaja Myung Soo berubah. Setidaknya dia perlu memikirkan bagaimana cara menghadapi dirinya sendiri yang selalu berubah wujud menjadi werewolf setiap bulan purnama tiba. (Note : terinspirasi dari Teen Wolf)

Previous Chapter : 1 | 2 | 3 | 4 | 5

the werewolf cast

CHUN DONG FAMILY

Yoo Bi menatap garis polisi yang melintang mengelilingi arena Ice Hockey Fellas Hills High School di depannya saat ini. Beberapa polisi sudah berdatangan, termasuk Sheriff Kim Woo Bin bersama rekannya, Deputy Lee Jong Suk.

“Jadi kau melihat binatang itu?” tanya Kim Woo Bin pada Lee Yoo Bi yang masih terlihat shyok. Tentu saja, dia belum pernah melihat binatang berbulu sebesar itu berada di sekolahnya, atau dimanapun selama hidupnya.

Yoo Bi mengangguk seraya menjawab, “Dia berbulu putih. Matanya berwarna kuning. Seperti seekor serigala…”

“Jadi apa yang Nana katakan benar?” timpal Mr. Keahu yang sebelumnya sedang berbicara dengan Lee Jong Suk. “Dia bilang ada manusia serigala di sekolah ini.”

“Manusia serigala?” Dahi Woo Bin berkerut bingung.

“Apa yang aku lihat hanya wujud dari binatang serigala, bukan manusia serigala,” ucap Yoo Bi menjabarkan apa yang dia lihat. “Dia tidak punya kaki yang dapat berdiri layaknya manusia.”

“Lalu apa lagi yang kau lihat?” tanya Woo Bin terlihat tidak sabaran. “Apa kau menyaksikan sewaktu makhluk itu menyerang wanita itu?” Woo Bin menunjuk si korban yang sedang bawa masuk ke dalam mobil ambulans.

Yoo Bi menggeleng. “Namanya Kim Nam Joo. Dia temanku di kelas Kimia. Aku tidak perduli, entah manusia serigala atau makhluk lain yang menyerupai serigala…aku hanya ingin kalian segera menangkap makhluk itu.”

“Tentu saja kami akan melakukannya,” ucap Woo Bin seraya menepuk bahu Yoo Bi. “Kami akan memperketat keamanan di kota ini, khususnya di sekolah ini. Karena sebelumnya kasus pembunuhan seperti ini pernah terjadi beberapa kali di tempat lain di kota ini. Dan ngomong-ngomong soal siswi bernama Nana, Mr Keahu….” Woo Bin mengalihkan perhatiannya kearah Mr. Keahu yang masih berdiri di sebelahnya. “Bagaimana bisa Nana bertemu dengan makhluk yang dia lihat seperti manusia serigala itu?”

“Malam lusa, Nana melihatnya di dalam sekolah ini,” jawab Mr. Keahu menjelaskan.

“Malam? Salah satu siswi berani masuk ke sekolah ini saat malam hari?” tanya Woo Bin setengah terkejut.

“Yeah, dia berani karena dia tidak sendiri,” ucap Mr. Keahu. “Dia bersama dengan Dong Taeyang, kekasihnya. Dan dua siswa lain, yang jika aku katakan siapa dia…kau pasti akan terkejut…”

**

“Kita harus melakukan sesuatu,” ucap Jin Ki yang berada di parkiran mobil bersama dengan Myung Soo. “Vargulf sudah berani masuk ke sekolah kita dan membunuh salah satu diantara siswa disekolah ini. Dan dia melakukannya pada siang hari. Gila!”

“Kita tidak bisa menghentikannya sampai ayahmu memecahkan kode Chun Dong Family,” ucap Myung Soo seraya masuk ke dalam mobil diikuti Jin Ki di sebelahnya.

“Kalau begitu ayo kita ke tempat ayahku,” ucap Jin Ki mengusulkan.

“Itu bukan ide yang baik,” ucap Myung Soo yang sudah menyalakan mesin mobilnya. “Aku sudah kesana kemarin malam dan belum ada kemajuan.”

“Bagaimana jika kita kesana untuk membantunya?” tanya Jin Ki tidak berniat berhenti.

“Tidak dalam keadaan seperti ini, Jin Ki-ah,” ucap Myung Soo dengan wajah memohon pengertian. “Ayahmu harus selalu dalam kondisi yang aman selagi dia berusaha memecahkan kode-kode itu.”

Jin Ki spontan memukul dashboard mobil Myung Soo seraya mendesah, “Kau benar. Aku lupa bahwa ayahku sekarang berpotensi mendapatkan ancaman dari serigala sialan itu. Dia hanya pria cacat penghuni museum tua. Kita telah membawanya ke dalam bahaya besar.”

Myung Soo hanya bisa diam tanpa harus membocorkan rahasia besar milik Lee Jin Guk kepada Jin Ki. Jin Guk memang hanya punya satu kaki, tetapi dia masih manusia serigala, yang artinya masih memiliki kekuatan untuk melindungi dirinya sendiri. Dan satu lagi, membawa Jin Ki pada ayahnya itu hanya akan memperburuk keadaan untuk saat ini. Karena selain Seo In Guk, Vargulf sudah pasti sangat menginginkan Lee Jin Guk.

Tak lama kemudian cell phone Myung Soo berbunyi. Jiyeon yang menghubunginya, menyuruhnya untuk segera datang ke Jacheon Forest. Maka meluncurlah mobil Myung Soo kesana tepat setelah Kim Woo Bin tak sengaja melihatnya.

“Mau kemana anak itu?” desah Woo Bin seraya mengambil cell phone-nya dari saku jaketnya.

**

Jacheon Forest…

“Bisakah kau angkat saja teleponmu itu?” tanya Jin Ki yang sudah jengah dengan suara bising dari cell phone Myung Soo yang berbunyi sepanjang jalan.

“Aku tidak punya alasan untuk membohonginya hari ini,” ucap Myung Soo yang akhirnya memutuskan untuk mematikan cell phonenya. “Dan aku memang tidak pernah berhasil membohongi Hyung-ku itu.”

Mereka berdua sudah sampai di depan pintu tempat tinggal In Guk sebelum akhirnya pintu tersebut terbuka dan muncul seorang pria yang berhasil mengejutkan Myung Soo dan Jin Ki.

“Appa!” Jin Ki benar-benar terkejut dengan kehadiran sang ayah di dalam hutan ini. Tentu saja, hutan ini sudah lama hanya dihuni oleh manusia serigala, bukan manusia biasa seperti sang ayah. Paling tidak itulah yang ada di pikiran Jin Ki saat ini, sampai akhirnya dia kembali bertanya, “Kau tahu soal semua ini?”

“Soal kehidupan Werewolf maksudmu?” tanya Jin Guk seraya memeluk Jin Ki yang sudah lama tidak dilihatnya.

“Yeah, kau pasti sudah tahu soal ini, apalagi setelah kau berhasil memecahkan bagaimana caranya membuat Vargulf menjadi daging barbecue musim panas,” desah Jin Ki.

Jin Guk pun tertawa. “Kau selalu cerewet dan tidak pernah gagal membuatku kesal. Masuklah dan akan aku jelaskan sesuatu padamu.”

**

Jin Kin mengerjapkan kedua matanya sementara telinganya berusaha untuk tidak mempercayai apa yang baru saja didengarnya dari mulut sang ayah.

“Jangan main-main, Appa,” ucap Jin Ki. “Menyadari bahwa sahabatku ini bukan manusia lagi saja sudah berhasil membuat jantungku naik turun.”

“Ini memang salahku,” ucap Jin Guk seraya menepuk bahu Jin Ki. “Aku yang meminta Vargulf menggigitku.”

“Kau tahu itu permintaan terkonyol yang pernah aku dengar yang aku ketahui dari bibirmu! Bagaimana bisa kau menyuruh serigala sialan itu menggigitmu?” tanya Jin Ki kini terdengar marah dalam nada suaranya. Dengan agak serampangan dia kembali keluar rumah, disusul Jin Guk di belakangnya.

“Jika dia tidak menggigitku, mungkin sekarang aku sudah mati,” ucap Jin Guk menjelaskan, memohon pengertian pada sang anak. “Dan kau pasti akan tumbuh menjadi yatim piatu yang sangat menyedihkan.”

“Hidupku selalu menyedihkan kalau kau perlu tahu,” ucap Jin Ki keluar begitu saja, membuat Jin Guk menatap terkejut padanya. “Dan tidak pernah menjadi lebih baik.”

“Mengapa kau bicara seperti itu?” tanya Jin Guk. “Pada ayahmu ini yang sudah lama tidak kau jumpai?”

“Kau menghilang, maksudku bersembunyi. Apa aku yang memintanya?” tanya Jin Ki melontarkan balik. “Kau menjadi Werewolf, putus asa setelah kematian Eomma, itu juga bukan aku yang memintanya. Semua keadaan buruk yang terjadi selama bertahun-tahun dalam keluarga kita bukan aku yang memintanya!”

“Jin Ki-ah…”

“Aku hanya menganggap semuanya sebagai lelucon,” desah Jin Ki setelah mengacungkan sebelah tangannya, menyuruh sang ayah diam sementara dirinya terus saja mengoceh. “Aku menganggap ketidakhadiranmu di rumah sebagai kesalahan Eomma yang memutuskan untuk meninggalkan kita berdua…”

“Ibumu meninggalkan kita karena penyakit, Jin Ki-ah…” ucap Jin Guk mencoba meralat.

“Kau mengatakannya dengan mudah sekarang,” ucap Jin Ki semakin terlihat marah. “Lalu bagaimana dengan sepuluh tahun yang lalu? Kau depresi dan menghabiskan waktumu mengisi buku setebal dua centi dengan curhatan pasal istrimu yang tidak bisa bertahan lebih lama lagi dan harus meninggalkan aku sebagai beban yang wajib kau tanggung sebagai seorang ayah.”

Jin Guk benar-benar kehabisan kata-kata setelah Jin Ki membongkar semua rahasianya di depan pelupuk matanya sendiri.

“Maafkan aku, tetapi aku harus membacanya. Aku harus tahu seperti apa ayahku yang sebenarnya,” ucap Jin Ki tidak terlihat menyesal sama sekali.

Lama Jin Guk tidak berbicara, sampai akhirnya dia bertanya, “Kenapa kau tidak pernah mengunjungiku ke museum?”

“Apa ada gunanya?” tanya Jin Ki terlihat acuh. “Aku tahu kau akan baik-baik saja di sana, di museum tua yang memiliki dinding yang kuat, yang selalu setia melindungi Werewolf pensiunan sepertimu.”

Jin Guk tersenyum sejenak sebelum berkata, “Kau benar. Gigitan Vargulf, itu satu-satunya permintaan terbodoh yang pernah keluar dari bibirku. Tetapi aku harus mendapatkannya  agar janjiku pada ibumu bisa aku tepati.”

Jin Ki menggeleng lalu bertanya, “Ada apa dengan sepuluh tahun yang lalu? Kenapa harus gigitan Vargulf yang dapat membuatmu bertahan hidup?”

“Aku mengidap penyakit serupa dengan ibumu,” jawab Jin Guk. “Walaupun tidak lebih parah, tetapi kemungkinan aku bertahan hidup sama kecilnya dengan yang ibumu miliki. Dan aku sudah terlanjur berjanji untuk selalu menjagamu, membuatmu selalu hidup di rumah kecil kita.”

Kini Jin Ki yang terdiam. Kepalanya tertunduk sementara hidungnya menghembuskan nafas berat. Jelas ini berita baru baginya. Walaupun semuanya sudah berlalu, entah mengapa penyakit itu masih menjadi beban yang mengganjal di hati Jin Ki.

“Huntington,” ucap Jin Ki menyebutkan penyakit mematikan yang berhasil bersemayam ditubuh kedua orangtuanya. “Aku pernah mencari tahu soal penyakit itu dulu. Dan, yeah…aku tahu bahwa penyakit itu kemungkinan besar memiliki kemampuan menyebar lewat darah, hubungan seksual dan yang paling terlihat jelas, keturunan gen.”

Jin Guk tidak bisa menjawab apa-apa, karena pada dasarnya kekhawatirannya soal itu sudah lama dia rasakan.

“Appa…” Jin Ki kini memegang kedua tangan Jin Guk. “Aku berpotensi mengidap penyakit itu. Dan aku yakin kau pasti sudah menyadari hal itu. Melindungiku dari Vargulf, kini aku sadar itu hanya akan berakhir dengan sia-sia. Yeah, untuk saat ini aku memang tidak merasakan apa-apa, selain otakku yang terus berdenyut karena terlalu sering berpikir dan bibirku yang jarang sekali diam. Aku sangat energik sekarang, tetapi aku tahu hal ini akan segera berakhir setelah aku memasuki umur dua puluhan. Atau mungkin tiga puluhan. Tergantung seberapa besar keberuntungan masih berpihak padaku. Aku hanya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk hidup bersama dengan orangtuaku yang sudah berhasil melewati fase manusianya bersama dengan penyakitnya itu.”

“Jin Ki-ah, aku pernah berpikir untuk menjadikanmu sama denganku…”

“Wow itu ide paling buruk yang pernah aku dengar. Aku tidak mau sama seperti dirimu dan Myung Soo dan pria dekil itu—In Guk maksudku,” ucap Jin Ki.

“Yeah, aku juga tidak menginginkan hal itu,” ucap Jin Guk. “Percayalah, kehidupan Werewolf tidak sebaik yang orang kira. Ada lebih banyak kekuatan, artinya ada lebih banyak ancaman dan kekhawatiran. Aku tidak ingin kau hidup di bawah ketakutan akan dirimu sendiri. Tetapi penyakit itu…aku juga tidak bisa melihatmu mati sementara aku tetap hidup di bawah atap museum entah sampai kapan.”

“Appa, pasti akan jalan keluarnya,” ucap Jin Ki seraya memeluk sang ayah. “Bukan menjadi Werewolf, atau makhluk lain. Aku pasti bisa bertahan selama aku bisa.”

**

“Aku sudah berhasil menerjemahankan kode milik Chun Dong ini,” ucap Jin Guk yang berdiri melingkar bersama dengan In Guk, Myung Soo, Jin Ki dan Jiyeon. “Tetapi hanya tujuh puluh persen. Lihat bagian ini. Ini ditulis bukan menggunakan bahasa Yunani. Aku bisa paham bagaimana keluarga Chun Dong tidak menginginkan kode-kode ini diketahui oleh orang lain, terutama Vargulf dan kroninya. Pada intinya, ada satu bagian dari tubuh Vargulf yang sangat lemah yang bisa kita jadikan sasaran untuk menghabisinya dalam sekali bidik. Bukan jantung, kepala atau bagian tubuhnya yang lain. Batang tenggorokan. Kita bisa membunuhnya dengan menghancurkan batang tenggorokannya. Masalahnya, tiga puluh persen yang belum aku ketahui adalah dengan apa kita bisa menghancurkan batang tenggorokannya itu. Yang pasti bukan crossbow atau sniper biasa.”

“Lalu bagaimana kita bisa mengetahui yang tiga puluh persennya?” gumam Myung Soo seraya mengetuk-ngetukan jari telunjuknya pada meja.

“Chun Dong Family…” gumam Jiyeon berpikir. “Sepertinya kita harus bertemu langsung dengan keluarga pemburu itu…”

“Dan membiarkan keluarga pemburu itu akhirnya tahu siapa Myung Soo dan ayahku?” tanya Jin Ki langsung memprotes. “Itu bukan ide yang bagus.”

“Yeah,” sahut Myung Soo. “Itu ide yang bagus, selagi bukan aku atau Ahjussi yang menemui mereka.”

“M-maksudmu, aku dan Jiyeon yang harus menemui Chun Dong Family?” tanya Jin Ki mencoba menebak isi kepala Myung Soo. “Vargulf ada di luar sana. Dan kita tidak tahu apakah masih ada yang tersisa dari keluarga pemburu itu. Dan dimana mereka berada sekarang…”

“Aku masih ingat tempat terakhir kali aku mendatangi mereka bersama dengan Soyeon,” ucap In Guk. “Dulu mereka suka berpindah tempat, tetapi sejak kepala keluarga mereka meninggal, istri dan anak tunggalnya memutuskan untuk menetap di Korea.”

“Istri dan anak tunggal?” gumam Jin Ki. “Hanya itu yang tersisa dari mereka? Kurasa aku dan Jiyeon bisa mengatasinya.”

“Kalau begitu kalian berdua akan berangkat besok pagi,” ucap Myung Soo.

**

Esok pagi…

Perjalanan menuju Cheonmachong merupakan perjalanan yang cukup jauh bagi Jin Ki, Jiyeon dan Myung Soo—yang memutuskan mengantar kedua teman manusianya dengan mobilnya. Jin Ki sedang sibuk menyusun pertanyaan-pertanyaan di buku kecilnya sementara Jiyeon yang duduk di sebelah Myung Soo berkali-kali melontarkan statement, “Kau bisa langsung pergi setelah mengantar kami.”

“Tidak,” jawab Myung Soo untuk yang kesekian kalinya. “Aku akan menunggu sampai kalian keluar dari rumah itu. Dan kau Jin Ki-ah, kau hanya cukup menanyakan satu pertanyaan soal kode mereka yang belum terpecahkan. Untuk apa kau membuat list macam itu?”

“Aku orang yang terprogram dan kau tahu itu,” jawab Jin Ki tanpa melepaskan pandangannya dari buku kecilnya.

“Pembicaraanmu dengan ayahmu cukup serius kemarin,” sahut Jiyeon tiba-tiba mengubah topik. “Walaupun aku sedikit kesal karena hanya aku yang tidak bisa mendengarnya dari dalam rumah dan Myung Soo sama sekali tidak mau memberitahuku…”

Myung Soo hanya diam sementara pandangannya tertuju ke arah spion dalam mobilnya—menatap Jin Ki yang masih tertunduk.

“Yeah, masalah keluarga,” ucap Jin Ki terlihat tidak begitu perduli. “Memang sebaiknya tidak perlu dibahas karena tidak begitu menarik.”

“Kurasa aku sudah menjadi bagian dari kalian,” ucap Jiyeon terlihat marah, khususnya pada Myung Soo. “Dan aku cukup penasaran untuk mengetahui jenis masalah seperti apa yang sedang melandamu dan keluargamu.”

“Itu sudah berlalu lama sekali,” ucap Jin Ki seraya bertukar pandang dengan Myung Soo. “Kau sudah mengetahuinya, Sobat. Usahakan untuk tidak terlalu memperdulikannya. Ini masalahku.”

**

Akhirnya mereka tiba di Cheonmachong, tepatnya di kediaman keluarga Chun Dong. Rumah di depan mereka sekarang ini layaknya kastil besar yang hampir menutupi cahaya matahari bagi rumah-rumah kecil di depannya. Myung Soo sudah kembali ke dalam mobilnya sementara Jin Ki dan Jiyeon bersiap masuk ke dalam kastil besar nan megah di depan mereka melewati gerbang besi yang tinggi menjulang.

“Aku agak gugup,” ucap Jiyeon tiba-tiba.

“Seharusnya aku yang mengatakannya setelah melihat pengalamanmu yang pernah dikejar-kejar Vargulf dan berhasil selamat,” ucap Jin Ki yang sudah tiba di depan pintu utama kastil, bersama dengan Jiyeon di sebelahnya. “Jiyeon-ah, ingatkan aku hal bahaya seperti apa yang kemungkinan kita hadapi di dalam nanti?”

“Crossbow?” jawab Jiyeon. “Sniper? Micro Galil?”

“A-apa?” Jin Ki spontan menoleh dengan wajah panik. “Mereka juga punya Micro Galil? Itu senjata berdaya tembak kuat milik tentara Israel!”

“Mereka tidak akan menembak kita,” ucap Jiyeon berusaha mengusir pikiran tersebut jauh-jauh dari otaknya. “Ayo, Jin Ki-ah. Ketuk pintunya…”

Dengan keberanian sebesar kutu, Jin Ki pun mengetuk pintu di depannya saat ini.

Tak lama kemudian muncul seorang anak kecil bersama dengan miniatur mobil di dalam pelukannya.

“Kalian siapa?” tanya anak kecil itu polos.

Jin Ki dan Jiyeon pun saling pandang sebelum menjawab, “Kami ingin bertemu dengan ibumu.”

“Eomma sedang tidak ada di rumah,” jawab si anak kecil.

“Jadi ibumu sengaja meninggalkanmu sendirian di kastil sebesar ini?” tanya Jin Ki terkekeh tidak percaya. “Bagaimana jika kau beritahu ibumu bahwa ada tamu yang ingin bertemu dengannya setelah aku memberikan Gummy Bear ini padamu?” Jin Ki pun mengeluarkan Gummy Bear dari sakunya.

“Aku sudah bilang Eomma sedang tidak ada di rumah,” ucap si anak kecil mulai menunjukkan wajah sebal. “Kau pikir aku anak kecil tukang bohong yang mudah disogok dengan sebungkus kecil Gummy Bear?”

“Oh Tuhan, menyebalkan sekali anak ini,” gumam Jin Ki seraya memasukkan kembali Gummy Bear-nya.

“Kau bisa bicara dengan Hyung-ku kalau kau mau,” ucap si anak kecil lagi.

“Hyung? Kau punya Hyung?” tanya Jin Ki sebelum berpaling pada Jiyeon. “Serigala dekil itu bilang mereka hanya memiliki satu anak!”

Setelah menaikkan kedua bahunya, Jiyeon pun akhirnya berkata, “Kalau begitu bisa kami bertemu dengan Hyung-mu?”

“Hyung-ku dengan sebungkus Gummy Bear besar kurasa pertukaran yang cukup adil,” ucap si anak kecil seraya menadahkan tangannya ke arah Jin Ki dan Jiyeon.

“Kupikir anak ini benar-benar polos,” geram Jin Ki berusaha untuk tetap tersenyum. “Baiklah, kau ambil ini dulu dan sisanya akan aku beri setelah aku bertemu dengan Hyung-mu…”

“Janji kau tidak akan membohongiku?” tanya si anak kecil seraya menyipitkan kedua matanya yang sudah sipit.

“Aku berjanji,” ucap Jin Ki masih berusaha untuk menahan tangannya agar tidak menjitak kepala botak si anak. “Kini aku yakin, semua yang berkepala botak itu menyebalkan!”

Keduanya sudah masuk ke dalam rumah besar milik Chun Dong. Jin Ki sampai dibuat lupa mengatupkan rahangnya saat melihat begitu besar nan megahnya rumah itu. Si anak kecil sudah masuk ke dalam untuk memanggilkan Hyung-nya sementara Jiyeon dan Jin Ki mengambil tempat di salah satu sofa terbesar yang pernah mereka lihat.

Beberapa menit kemudian muncul si Hyung anak kecil tadi. Sama botaknya dan sama menyebalkannya.

“Sekarang aku tahu asal dari nama Chun Dong,” gumam Jin Ki setelah cukup lama terbelalak melihat sosok si Hyung ini. “H-hai, Taeyang-ah…”

**

“Ada urusan apa kalian berdua mencari ibuku?” tanya Taeyang terlihat sangat tidak bersahabat.

“Ada yang kami ingin tanyakan,” jawab Jin Ki mencoba melempar senyum.

“Soal?” tanya Taeyang mulai melempar pandangan curiga.

“Um…kurasa kau pastinya sudah tahu tujuan setiap tamu ibumu yang datang kesini,” ucap Jin Ki yang merasa sulit untuk menjelaskan. “Kode…”

“Kode?” Kedua alis Taeyang bertaut bingung. “Kode apa maksudmu?”

“Kau tidak tahu soal kode itu?” tanya Jin Ki balik. “Kau benar-benar anggota keluar Chun Dong kan?”

“Dia ayahku,” ucap Taeyang masih terlihat bingung. “Ada urusan apa kalian dengan ibu dan ayahku? Dan mengapa kalian bisa tahu tentang keberadaan rumah ini?”

“A-apa?” tanya Jin Ki sama bingungnya dengan Taeyang. “Bukankah ini rumahmu? Kenapa harus terheran-heran setelah ibumu mencatumkan alamat rumahmu sewaktu mendaftarkanmu ke Fellas Hills?”

“Tidak ada teman-teman atau guru yang tahu tentang keberadaan rumah ini,” ucap Taeyang. “Ini rumah ayahku yang sudah lama sekali tidak pernah kedatangan tamu.”

“Oke, jadi kau punya dua rumah dan kastil besar ini yang ayah dan ibumu jadikan markas sebagai tempat penyimpanan senjata mereka beserta dengan…”

“Bicara apa kau ini?” tanya Taeyang semakin dibuat tidak mengerti. “Keluargaku bukan keluarga militer yang memiliki tempat penyimpanan senjata kalau kau perlu tahu. Dan kau belum jawab pertanyaanku dengan benar, ada urusan apa kalian dengan ibu dan ayahku?”

“Dong Taeyang!” Sebuah suara tiba-tiba terdengar memanggil dari arah pintu masuk. Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat segar dan cantik kini menghampiri mereka. “Kau bisa masuk dan biar aku layani tamuku.”

Taeyang akhirnya kembali masuk setelah mendengus kesal. Ibu dari Taeyang—begitulah Jin Ki menebaknya—kini duduk berhadapan dengan mereka berdua.

“Siapa kalian dan ada urusan apa mencariku?” tanya si wanita paruh baya ini. “Kalian bisa panggil aku Mrs. Song.”

“Begini, Mrs. Song…” Jin Ki mulai mengeluarkan lembaran kode Chun Dong Family dalam bentuk salinan tulisannya sendiri. “Ini bukan yang aslinya dan aku tahu kode-kode milik keluargamu.”

Mrs. Song terlihat cukup terkejut setelah kode-kode itu menghilang cukup lama dari lemari penyimpanannya.

“Bagaimana bisa kalian tahu soal kode-kode ini?” tanya Mrs. Song.

“Ceritanya panjang dan percayalah, tujuan kami menunjukkan kode-kode ini adalah baik,” jawab Jin Ki.

Mrs. Song terlihat sangat tidak nyaman sebelum beranjak bangun ke dalam dapurnya.

“Minumlah dan kita bicarakan soal ini pelan-pelan,” ucap Mrs. Song seraya menyajikan dua gelas orange juice kepada Jin Ki dan Jiyeon.

Keduanya langsung meminumnya sebelum kembali fokus kepada kode-kode itu.

“Maaf, perjalanan menuju kesini cukup jauh dan kami sudah sangat haus…” ucap Jin Ki setelah meletakkan gelasnya yang sudah kosong. “Jadi begini, Mrs. Song…” Jin Ki tak kunjung melanjutkan ucapannya setelah merasa ada yang tidak beres dengan kepalanya yang mendadak terasa berat. Tanpa Jin Ki sadari, Jiyeon sudah tertidur di sebelahnya. “J-Jiyeon-ah…” Jin Ki berusaha mengguncang-guncang bahu Jiyeon dengan lemah sebelum dirinya ikut tertidur akibat pengaruh obat yang Mrs. Song masukkan ke dalam orange juice mereka.

**

Myung Soo masih menunggu di luar. Dia menyerah setelah gagal mencoba mencuri dengar apa yang Jin Ki dan Jiyeon bicarakan di dalam kastil besar ini. Keluarga Chun Dong sudah pasti memasang sesuatu pada lapisan dinding kastil mereka upaya untuk menghindari makhluk seperti Myung Soo dapat mencuri dengar pembicaraan mereka di dalam. Dan yang Myung Soo bisa lakukan hanya menunggu, paling tidak sebelum cell phone-nya berbunyi. Si Hyung-nya menelpon, menyuruhnya untuk pulang ke rumah setelah semalaman ditunggu tak kunjung datang batang hidungnya.

Setelah memukul setirnya dengan kesal, Myung Soo pun menyalakan mobilnya, berputar arah menuju rumahnya.

**

Jin Ki membuka matanya selagi rasa pusing masih mengganjal pada rongga di kepalanya. Di sebelahnya tergeletak Jiyeon yang masih tak sadarkan diri.

“Keluarga gila,” erang Jin Ki saat menyadarinya dirinya dan Jiyeon berhasil dikerangkeng di dalam ruangan yang persis seperti penjara bawah tanah. “Dimana ini?”

“Di dalam rumahku, diruangan bawah tanah persisnya,” jawab Mrs. Song yang sudah lama menunggu keduanya sadar. Dia tersenyum setelah berhasil meracuni orange juice mereka dengan obat tidur.

“Kita bukan orang jahat,” ucap Jin Ki mencoba menjelaskan. “Kita datang baik-baik kesini untuk membicarakan pasal kode kuno milik keluargamu.”

“Ini hanya caraku untuk menghindari adanya kekerasan atau mungkin tipuan anak umur belasan tahun yang mencoba membohongiku dengan membawa kode palsu buatan mereka sendiri,” ucap Mrs. Song. “Bukan hal baru bagi kami, melihat beberapa orang bodoh diluar sana mencoba membohongi keluargaku dengan membawa kode palsu demi mengharapkan imbalan uang sebagai gantinya.”

“Aku mengerti,” ucap Jin Ki langsung menalari ucapan Mrs. Song. “Kau pikir kami salah satu dari orang-orang diluar sana yang mengharapkan uangmu dengan menyerahkan kode palsu? Percayalah, Taeyang kenal kami dan dia pernah berada di Fellas Hills bersama Vargulf…”

Mrs. Song terdiam cukup lama sebelumnya akhirnya berkata, “Aku belum pernah dengar kebohongan seperti itu…”

“Oh Tuhan, kami bukan penipu!” ucap Jin Ki mencoba meyakinkan Mrs. Song. “Tujuan kami datang kesini hanya untuk menanyai kode-kode itu. Ada yang belum terpecahkan disana. Kami perlu tahu benda seperti apa yang mampu menghancurkan batang kerongkongan Vargulf!”

“Kau tahu?” tanya Mrs. Song setelah cukup lama terdiam. “Suamiku mati saat misi pemburuan Vargulf. Begitupun dengan ketiga kakak laki-lakiku yang bertubuh besar. Bagaimana bisa kalian berdua—hanya anak remaja belasan tahun—berusaha membunuh Vargulf setelah mendapatkan kode palsu entah darimana…”

“Ini bukan kode palsu,” ucap Jin Ki. “Kami punya yang aslinya. Dan ini hanya salinannya. Aku yang menulisnya.”

“Kau punya yang aslinya?” Mata Mrs. Song spontan menatap tajam ke arah Jin Ki. “Bagaimana bisa? Terakhir kali aku ingat bahwa Werewolf sialan itu yang mencurinya dari lemari penyimpanan keluargaku.”

“Seo In Guk, serigala dekil itu yang mencurinya. Aku tahu semuanya. Dan dia tidak sendiri. In Guk datang ke rumahmu bersama dengan Werecoyote pujaan hatinya, Park Soyeon. Wanita ini adiknya,” ucap Jin Ki seraya menunjuk Jiyeon.

“Sebenarnya siapa kalian berdua?” tanya Mrs. Song mulai terlihat penasaran. “Kenapa kau bisa tahu banyak soal kode Chun Dong dan Werewolf?”

Jin Ki harus menahan mulutnya untuk tidak membocorkan identitas Myung Soo, apalagi identitas sang ayah bahwa keduanya adalah Werewolf yang sedang bekerja sama dengan In Guk dalam misi menghancurkan batang kerongkongan Vargulf. Karena sepertinya, wanita paruh baya ini cukup kuat dan sulit diajak bekerja sama untuk tidak membunuh ayah dan sahabatnya yang notabenenya adalah makhluk supernatural.

“Singkatnya a-aku naksir Jiyeon, membuatku akhirnya harus masuk ke dalam urusan In Guk dan Soyeon,” ucap Jin Ki mencoba berdiplomasi. “A-aku pun baru tahu bahwa mereka adalah Werewolf dan Werecoyote yang sedang terjebak urusan pack dengan Vargulf, si Alpha yang berhasil melintasi Seattle menuju Seoul. Percayalah, tujuanmu dan tujuan kami sama saat ini. Kau ingin membunuh Alpha dan In Guk pun ingin menghabisinya demi membalas kematian Soyeon.”

“Soyeon sudah mati?” tanya Mrs. Song tidak terlihat begitu terkejut.

“Yeah…” jawab Jin Ki. “Dia mati dibunuh Kanima piaraan Vargulf. Tetapi In Guk sudah membunuh Kanima itu dan merasa belum cukup sebelum dia berhasil membunuh Vargulf.”

“Dimana In Guk sekarang?” tanya Mrs. Song. “Aku akan beritahu dia soal semuanya tentang kode ini. Tentang bagaimana cara menghancurkan Vargulf.”

“Jacheon,” jawab Jin Ki. “Jacheon Forest.”

Mrs. Song pun mengangguk seraya tersenyum. “Kalau begitu terima kasih atas informasinya. Sudah lama aku mencari keberadaannya…”

“M-maksudmu?” tanya Jin Ki tidak mengerti.

“Aku memang ingin menghancurkan Vargulf, tetapi kalau kau lupa aku dan keluargaku adalah pemburu makhluk supernatural yang tidak pernah menyisakan satu pun makhluk yang bisa kami buru,” ucap Mrs. Song seraya pergi setelah menutup pintu rapat-rapat.

“Sialan,” gumam Jin Ki menyadari kebodohannya.

To Be Continue

12 responses to “[CHAPTER – PART 6] THE WEREWOLF

  1. Pingback: [CHAPTER – PART 7] THE WEREWOLF | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s