[CHAPTER – PART 6] MY PRINCESS

© High School Graphics by: xilvermist

Title : My Princess | Author : dindareginaa | Main Cast : Bae Sooji, Kim Myungsoo | Additional Cast : Find by yourself! | Genre : Comedy – Romance | Rating : Teen

DISCLAIMER :

Inspired by Taiwanese Drama

Myungsoo membersihkan meja dengan malas. Dihadapannya, Sehun hanya menggelengkan kepalanya. Untung saja restaurant sedang sepi pagi itu dan Tuan Bang juga tidak ada diruangannya. Kalau tidak, tamatlah riwayat Myungsoo!

Ya! Ada apa dengan wajahmu itu? Apa kau sedang datang bulan?” tanya Sehun polos – teramat polos.

“Sehun-ah,” panggil Myungsoo setelah terdiam cukup lama.

“Apa?” Sehun masih sibuk dengan majalahnya, ia bahkan tak menoleh pada Myungsoo.

“Aku… punya teman. Dia tidak sengaja berciuman dengan seorang gadis saat mabuk. Dan ketika gadis itu sadar, ia malah mengatakan bahwa ciuman itu hanyalah sebuah kecelakaan. Menurutmu bagaimana?”

Mendengar cerita Myungsoo, Sehun sontak meletakkan bacaannya dan menatap wajam Myungsoo. “Jangan bilang bahwa ‘teman’ yang kau ceritakan ini adalah dirimu? Tebakanku benar bukan? Siapa gadis yang sial itu?” Sehun menaik-naikkan kedua alisnya.

Myungsoo sontak memukul pelan kepala Sehun. “Bukan aku! Temanku,” bohongnya. “Jadi, bagaimana?”

Lelaki imut itu mengusap dagunya seolah berpikir. “Mungkin, kalau ciuman itu bukan ciuman pertamanya, ciuman itu memang benar sebuah kecelakaan. Tapi, jika ciuman itu benar ciuman pertamanya, aku yakin dia akan memikirkan temanmu itu. Kau tahu bukan, bagi wanita ciuman pertama itu sangatlah penting.”

Myungsoo mengangguk mengerti. Tumben sekali Sehun bijak mengenai hal seperti ini. Padahal Myungsoo tahu bahwa dalam hal berkencan, Sehun tidaklah lebih baik dari dirinya.

Sooji tampak mengulas senyum dibibirnya begitu melihat angka yang tertera dari mesin ATM. Gaji pertamanya! Ya, ini memang sudah sebulan semenjak Sooji menjadi seorang waitress di sebuah hotel bintang lima yang cukup terkenal di Korea. Sekarang harus ia apakan uang ini?

Sooji kemudian teringat sesuatu. Dengan cepat, ia merogoh tasnya dan mengambil posel lalu mencari kontak seseorang. Setelah menemukan nomor yang dicarinya, barulah Sooji mendekatkan ponsel ketelinga kanannya.

Myungsoo sedang memasak ketika ponselnya berbunyi. Dengan malas, lelaki itu langsung meraih ponselnya yang ia letakkan didalam kitchen set. Ia mendengus begitu membaca nama Sooji dilayar poselnya. Jika biasanya ia semangat enjawab panggilan gadis itu, kali ini ia menekan tombol dial dengan ragu.

“Hal..”

Myungsoo tak sempat melanjutkan kalimatnya karena sudah terlebih dipotong oleh Sooji. Dasar!

“Aku? Tidak sibuk. Kenapa?”

Myungsoo tersenyum sinis begitu mendengar ucapan Sooji diseberang telepon. “Kali ini, aku yang bayar atau kau?” tanyanya. Mengingat terakhir kali ketika mereka berdua minum, Myungsoo yang membayar semua tagihannya.

Myungsoo dapat mendengar Sooji tertawa renyah karena ucapannya. “Baiklah. Baiklah. Aku mengerti. Sampai bertemu dirumah.”

Myungsoo segera memutuskan panggilan. Ia lalu tersenyum. Sooji baru saja menyuruhnya pulang dengan cepat karena ia ingin memasak untuk Myungsoo dan juga ibunya dengan gaji pertamanya. Sepertinya boleh juga.

“Aku pulang,” seru Myungsoo. Lelaki tampan itu segera mengganti sepatunya dengan sandal rumah. Sedetik kemudian, hidung ancungnya sudah mencium aroma yang sangat menggugah selera. Ia segera bergegas ke ruang makan.

Myungsoo membesarkan matanya. Ia bisa melihat berbagai macam makanan sudah terhidang diatas meja.

“Oh, kau sudah pulang?”

Myungsoo menoleh pada Sooji. Gadis itu segera meletakkan mangkuk berisi kimchi yang baru saja dibawanya dari dapur ke atas meja. Myungsoo tersenyum simpul melihat Sooji mengenakan celemek dan juga menggulung rambutnya. Ia masih ingat saat dirinya mengajar Sooji memasak, gadis itu bahkan tak mau menguncir rambutnya. Gadis itu mengatakan bahwa perawatan rambutnya sangat mahal. Tapi, sekarang, kehidupan gadis itu benar-benar berubah. Jujur saja, Myungsoo sedikit iba pada Sooji.

“Kenapa diam saja? Duduklah,” suruh Sooji.

Myungsoo tersadar dari lamunannya. Lelaki tampan itu segera mengikuti perintah Sooji. “Omong-omong, kau yang memasak semua ini?” tanya Myungsoo. Ia mulai mencomot daging panggang tanpa disuruh.

“Tentu saja,” jawab Sooji tanpa ragu.

“Apa yang kau katakan?”

Keduanya tersentak kaget begitu mendengar suara Nyonya Kim. Wanita paruh baya itu segera duduk di cushion – bantal duduk yang biasa digunakan orang Korea –  yang berada disamping Myungsoo.

“Aku yang memasak semuanya! Kau hanya membantuku memotong sayur. Itupun tak bisa kau lakukan dengan baik. Lihat! Tanganmu saja sudah penuh dengan plester.”

Mendengar itu, Myungsoo sontak mengalihkan pandangannya kearah tangan Sooji. Lelaki itu bisa melihat bahwa kini tiga dari sepuluh jari Sooji kini terbalut plester. Dasar! Bagaimana ia bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anak Myungsoo? Memasak saja tidak bisa! Tunggu dulu! Apa yang baru saja ia pikirkan?!

“Ibu! Apa salahnya mengiyakan ucapanku?” Sooji merengut kesal.

“Jadi, untuk apa kau memakai celemek?” tanya Myungsoo bingung.

“Hanya untuk action saja,” Sooji terkekeh kecil. “Oh, tunggu sebentar,” ujar Sooji begitu teringat sesuatu. Ia lalu pergi kekamarnya. Tak lama, ia kembali dengan tangan yang tidak kosong.

“Ini,” Sooji kemudian memberikan sebuah amplop putih pada Nyonya Kim.

“Apa ini?” tanyanya sedikit bingung setelah menerima amplop tersebut dari tangan Sooji.

“Kau akan tahu setelah membukanya, bu.”

Nyonya Kim kemudian membuka amplop putih tersebut. Ia membulatkan matanya begitu melihat uang yang ada didalam amplop, “Uang apa ini?”

“Uang sewa. Seperti katamu. 100 ribu won. Aku bahkan memberikan bonus 15 ribu won, ibu!”

Nyonya Kim menggelengkan kepalanya. Ia segera menyerahkan kembali amplop tersebut pada Sooji. “Kau benar-benar berpikir aku sejahat itu untuk memerasmu? Sudahlah, lupakan saja. Ambil kembali uang ini. Kau lebih membutuhkannya dari padaku.”

“Tidak, bu. Ambillah. Kumohon. Aku sudah terlalu banyak merepotkan kalian.”

“Merepotkan bagaimana? Bukankah kau sudah berkencan dengan Myungsoo? Bukankah itu berarti kau akan segera menjadi anggota keluarga kami?”

Myungsoo yang sedari tadi asik mencomot apa yang bisa ia makan sontak tersedak. Melihat itu, Sooji segera memberikan segelas air pada Myungsoo.

“Aku mohon ibu mau menerima uang ini,” ujar Sooji lagi. “Sekali ini saja. Ini kali pertama aku mendapatkan uang dengan usahaku sendiri. Aku ingin aku bisa memberikan sesuatu yang berarti untuk orang-orang didekatku. Aku…” Sooji mengusap pipinya yang mulai basah. “… aku tidak punya siapa-siapa lagi untuk saat ini. Orangtuaku, aku bahkan tak tahu mereka dimana. Maka dari itu, aku ingin menyenangkan ibu yang sudah kuanggap seperti ibu kandungku sendiri.”

Nyonya Kim dan juga Myungsoo tersenyum mendengar ucapan Sooji. Mereka harus akui bahwa meskipun sifat Sooji cenderung kasar dan suka bertingkah seenaknya, gadis itu memiliki hati yang baik. Wanita paruh baya itu segera menghampiri Sooji dan memeluknya erat. “Kau tenang saja. Selama aku disini, kau tidak akan pernah kehilangan sosok seorang ibu.”

“Terimakasih, bu.” Sooji membalas pelukan Nyonya Kim.

Myungsoo tersenyum simpul. “Ya! Apa kita akan terus mengobrol dan menyia-nyaikan makanan lezat ini?” Myungsoo memecah keheningan.

“Kita? Kau bahkan sudah menghabiskan jatah makanmu, Kim Myungsoo!”

Sooji tersenyum melihat banyaknya bintang dilangit. Angin bertiup sepo-sepoi, membuat anak-anak rambut Sooji berterbangan.

“Apa yang sedang kau lihat?”

Sooji tersentak begitu Myungsoo sudah duduk disampingnya. Ia tersenyum. “Aku hanya sedang memikirkan bahwa mungkin ayah dan ibuku – entah dimanapun mereka berada sekarang – sedang memandangi langit yang sama denganku.”

Myungsoo mengangguk mengiyakan. “Mungkin. Omong-omong, bagaimana dengan tanganmu?”

Sooji menoleh kearah jari-jarinya yang kini terbalut plester. “Rasanya seperti digigit semut.”

Myungsoo mendesis. “Dasar! Kalau kau tidak bisa melakukan sesuatu, sebaiknya jangan lakukan dari pada hal itu menyakiti dirimu sendiri. Kemarikan tanganmu.”

“Untuk apa?”

“Ikuti saja perintahku!”

Sooji hanya menatap Myungsoo dengan bingung. Tapi, ia tetap memberikan tangannya pada Myungsoo. Myungsoo tersenyum. Ia segera memegang tangan Sooji dengan lembut lalu memejamkan matanya.

“Wahai tangan, cepatlah sembuh. Cepatlah sembuh. Cepatlah sembuh.”

Sooji tak bisa menahan senyumnya. Myungsoo seolah sedang mengobati tangan seorang gadis kecil dengan caranya itu. Diam-diam, Sooji menatap lekat Myungsoo. Lelaki ini tampan. Ia memiliki mata elang yang tajam – Sooji sangat suka cara Myungsoo menatapnya. Myungsoo juga memilki hidung yang mancung, kulit putih bersih dan tingginya yang ideal. Oh, dan jangan lupa Myungsoo juga memiliki lesung pipi, membuat tampilan fisik lelaki itu nyaris sempurna.

Myungsoo membuka matanya perlahan. Ia tertegun begitu menyadari jaraknya dan Sooji kini hanya kurang dari lima sentimeter. Entah apa yang ada dipikiran Myungsoo, ia langsung mencium lembut bibir plum Sooji. Sooji tak menolak. Ia malah ikut memejamkan matanya. Kejadian dulu seakan terulang kembali. Hanya saja, keduanya – baik Sooji maupun Myungsoo – kali ini dalam keadaan seratus persen sadar.

Lima belas detik – setidaknya dua belas detik lebih lama dari ciuman pertama mereka. Myungsoo bisa melihat pipi Sooji yang memerah.

“Oh, lihat! Bintang jatuh!” Sooji menunjuk ke langit, tepatnya pada sebuah cahaya putih.

Myungsoo sontak mengikuti arah pandang Sooji.

“Sebutkan permintaanmu,” suruh gadis itu.

“Kau percaya dengan hal seperti itu?”

Sooji mengidikkan bahunya. “Kau tidak akan tahu sebelum mencoba. Cepatlah!” Sooji mulai memejamkan matanya. Berdoa dalam hati.

Myungsoo tersenyum simpul lalu ikut memejamkan matanya.

Kabulkanlah apa permohonan gadis ini. Kumohon.

“Sooji-ah!”

Sooji tersenyum kearah Jieun yang kini melambai kearahnya. “Ada apa, unnie?” tanyanya begitu ia sudah berada dihadapan Sooji.

“Ada kabar gembira!”

“Kabar gembira? Apa?”

“Tuan Jung – atasan kita – menunjukmu sebagai karyawan terbaik bulan ini.”

Sooji sontak membulatkan matanya, antara senang dan terkejut dengan berita ini. “Benarkah? Tapi bukankah aku baru sebulan bekerja disini? Kenapa Tuan Jung menunjukku?”

“Katanya dia sangat puas dengan hasil kerjamu. Kau juga pekerja keras. Maka dari itu ia tak segan-segan menunjukmu sebagai karyawan terbaik! Dan tebak…” Jieun segera mengeluarkan 2 buah kertas bertulis dari dalam saku roknya dan memberikannya pada Sooji.

“Apa ini?”

Voucher liburan ke Jeju untuk dua orang!”

“Benarkah? Ya! Unnie! Berarti kita bisa berlibur bersama! Bukankah begitu?”

Jieun mendengus. “Aku sebenarnya ingin sekali ikut jika kau mengajakku. Tapi, aku harus bekerja. Bisa-bisa, setelah kita pulang liburan, gajiku yang dipotong oleh si tua bangka itu,” geramnya.

“Jadi, siapa yang harus kuajak?”

“Memangnya kau tidak punya kekasih atau mungkin teman dekat?”

Kekasih? Dia sudah tidak punya lagi sekarang! Teman dekat? Sooji tersenyum simpul. Sepertinya dia punya.

“Liburan?”

Sooji mengangguk semangat, sedangkan lelaki disampingnya masih sibuk berpikir sambil sibuk mendorong sepedanya. Myungsoo memang memutuskan untuk menjemput Sooji setelah pulang kerja.

“Aku tidak bisa,” ujar Myungsoo. “Aku bekerja. Kau tidak tahu bagaimana kerasnya Tuan Bang pada para karyawannya?”

“Memangnya kau tidak bisa mengambil cuti? Aku bisa saja menyuruh Jieun unnie untuk cuti, tapi ia baru mengambil cutinya kemarin karena neneknya sakit. Ayolah, Kim Myungsoo! Jangan sia-siakan kesempatan ini!”

Myungsoo terdiam sejenak. Jujur saja, ia ingin berlibur berdua saja bersama Sooji. Kapan lagi ia memiliki waktu berdua seperti ini dengan gadis itu? Dan mereka sedang membicarakan Jeju! Bayangkan saja, Myungsoo bisa menikmati matahari terbenam bersama Sooji disampingnya. Kkk~

Ya! Kim Myungsoo! Jadi bagaimana?”

“Oh, baiklah. Akan kuusahakan.”

Sooji mengembangkan senyumnya. “Jeju! Kami datang!”

TO BE CONTINUED

Hello there! Long time no see! Maaf ya lanjutnya lama banget. Kemarin aku kena writer block makanya aku malah buat ff baru -_- Dan berhubung karena aku lagi nggak masuk kuliah, makanya aku langsung ngebut ngetiknya. Oiya aku nggak tau kapan ini akan tamat. Tapi seperti halnya yang aku lakuin sama fanfiction-ku yang udul-udul  dulu-dulu, chapter terakhir bakalan aku protect. Kemarin sebenarnya aku juga malas ngelanjutin soalnya HSF tidak memperbolehkan ff ber-ptotect. Tapi karena sekarang udah boleh, makanya I’m back! Oke, akhir kata, selamat bertemu di chapter berikutnya!

79 responses to “[CHAPTER – PART 6] MY PRINCESS

  1. akhirnya suzy bs hidup mandiri….wah suzy mw k jeju…kira2 myung bisa g ya ikut ke jeju…nextnya min…part terakhir ak ijin minta pwnya…tx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s