[CHAPTER – PART 5] THE WEREWOLF

THE WEREWOLF

Kim Myung Soo adalah seorang remaja SMA berumur enam belas tahun yang bersekolah di Fellas Hills High School. Gigitan seekor Vargulf membuat kehidupan remaja Myung Soo berubah. Setidaknya dia perlu memikirkan bagaimana cara menghadapi dirinya sendiri yang selalu berubah wujud menjadi werewolf setiap bulan purnama tiba. (Note : terinspirasi dari Teen Wolf)

Previous Chapter : 1 | 2 | 3 | 4

the werewolf cast

AFECTA

Jin Ki mengerjapkan matanya tanda bingung. “P-Park Jiyeon?” tanyanya mencoba memastikan.

“Yeah, dia…” jawab Myung Soo yakin.

“Aku tidak pernah menyangka anak baru yang kau sama-samakan dengan mantanmu itu mampu mengalahkan kekuatan ajaran Budhis,” ucap Jin Ki terlihat tidak percaya. “Vargulf berhasil mengontrolmu dan Jiyeon, hanya dia…yang mampu membuatmu kembali?”

“Yup,” ucap Myung Soo terlihat semakin yakin. “Dan aku tidak tahu mengapa aku bisa memikirkannya.”

“Aneh,” gumam Jin Ki terlihat berpikir.

Tak lama kemudian datang Taeyang menghampiri keduanya.

“Ada yang tidak beres disini,” ucap Taeyang seraya menatap Myung Soo dengan tatapan mencurigai. “Kau…Werewolf?”

Myung Soo melempar pandang ke arah Jin Ki sebelum mengangguk.

“Bulsyit!” ucap Taeyang terlihat sangat tidak percaya. Entahlah, ada raut iri yang terpancar dari wajah pongahnya. Dan Myung Soo hanya menanggapinya dengan menaikkan kedua bahunya. “Kau hanya menakut-nakuti kami dengan topeng serigala murahanmu itu. Aku tahu soal pesan teks yang pecundang ini kirim pada Nana…” sambung Taeyang seraya menuding Jin Ki penuh nafsu. “…dan kau, kau pasti terlibat di dalamnya. Kalian berdua sengaja menyusun rencana idiot ini untuk mengerjai kami di malam hari di dalam sekolah ayahmu ini!”

Lagi-lagi Myung Soo hanya menanggapi emosi Taeyang dengan menaikkan kedua bahunya. Jin Ki pun hanya manggut-manggut dan lebih tertarik mengecek keadaan sekitar karena siapa tahu ada sepasang mata Vargulf yang masih mengintai mereka dari kejauhan.

“Dengarkan aku, Loser!” Taeyang kembali pada kebiasaan buruknya, menarik kerah baju Myung Soo, membuat Werewolf satu ini terlihat seperti anak kucing yang siap dimasukkan ke dalam kolam. “Kalian berdua sukses mengerjai aku dan Nana. Tetapi perlu kau tahu, masih ada hari esok dan esok dan esok dan seterusnya bagimu dan teman sok pintarmu ini untuk merasakan pembalasan dariku.”

Setelah melepas kerah baju Myung Soo, Taeyang pun beranjak pergi. Sebelum dirinya pergi, Taeyang sempat menoleh sebentar dan berkata, “Ngomong-ngomong, bagaimana bisa kau mendapatkan topeng serigala itu?”

**

Keesokan paginya di Fellas Hills…

“Myung Soo-ah!” Jiyeon mencoba mengejar Myung Soo yang baru saja melewati parkiran mobil Fellas Hills.

“Kenapa kau keluar dari Jacheon?” tanya Myung Soo yang langsung membawa Jiyeon masuk ke dalam gedung sekolah. “Jung Woo bisa melihatmu. Dia hampir mencelakai aku dan Jin Ki semalam…”

“Aku tahu soal itu,” ucap Jiyeon. “Jin Ki sudah menceritakan semuanya. Dan aku tidak bisa berdiam diri setelah tahu bahwa karena aku kau mampu mengontrol dirimu untuk tidak menyerang Jin Ki, Nana dan Taeyang.”

Myung Soo sontak terdiam mendengar ucapan Jiyeon. Ada kekesalan pada dirinya terhadap Jin Ki yang besar mulut. Myung Soo sudah berencana untuk menyimpan rahasia itu dari Jiyeon. Karena jika Jiyeon tahu, akan seperti inilah keadaannya. Myung Soo masih membisu dan hanya menatap kedua bola mata Jiyeon yang berwarna hitam.

“Aku tahu hal ini terdengar konyol…”

“Tidak sama sekali,” sela Jiyeon dengan cepat.

“O-oke…” ucap Myung Soo gugup. “Um, itu memang real. Aku melihatmu dan aku mampu mengontrol diriku sendiri. Entah mengapa karena semua itu terjadi begitu cepat. K-kau…” Kata-kata selanjutnya seperti tertahan di ujung lidahnya. Haruskah dia mengatakan bahwa dialam sadarnya dia mampu merasakan begitu nyatanya sentuhan Jiyeon pada wajahnya?

“A-aku apa?” tanya Jiyeon yang ternyata masih menunggu kelanjutan ucapan Myung Soo.

“Kau menyentuhku,” ucap Myung Soo akhirnya. Benar, dia tidak bisa menyembunyikan yang satu itu. Jiyeon sudah tahu, jadi untuk apa disembunyikan lagi. Dan kini, muncul satu harapan yang memenuhi dadanya, seperti menunggu jawaban dari bibir Jiyeon. Entahlah jawaban seperti apa yang Myung Soo harapkan. Mungkin…

Satu kecupan hangat untuk kedua kalinya berhasil Myung Soo dapatkan. Dan layaknya idiot, Myung Soo hanya mampu mengerjapkan kedua matanya tanpa bereaksi apa-apa.

“Aku menyukaimu,” ucap Jiyeon singkat, tetapi mampu menggetarkan seluruh syaraf pada tubuh Myung Soo. Jadi begini cara wanita yang sudah lama hidup dan tinggal di negeri barat mengutarakan perasaannya. Mereka dengan mudahnya mengecup lawan jenisnya sebelum benar-benar mengatakan apa yang mereka rasakan. Walaupun masih dalam keadaan terkejut, tetapi Myung Soo masih mampu menggerakan kedua tangannya, bahkan untuk menyentuh wajah Jiyeon.

“Kita belum saling mengenal,” ucap Myung Soo sementara tangannya masih menyentuh wajah Jiyeon.

“Kalau begitu ayo kita mulai mengenal satu sama lain,” ucap Jiyeon seraya tersenyum.

Cupid-cupid sinting yang datang entah darimana kini mulai menancapkan panah-panah asramanya di hati Myung Soo, membuat Werewolf satu ini mau tak mau mengangguk setuju. Manusia serigala juga butuh berkomitmen dan Myung Soo bukan tipe pria yang hobi coba-coba. Untuk urusan pelajaran dia memang agak lemah, tetapi dia yakin seratus persen untuk urusan cinta dia cukup kuat untuk menghadapinya, mengalaminya bahkan mempertahankannya.

Myung Soo akhirnya mulai berani mendekatkan kedua wajahnya sebelum membalas dua kecupan dari Jiyeon yang belum sempat dilakukannya. Dan aksi mereka terhenti tepat saat Mr. Keahu membuka ruangan sapu dan menemukan keduanya.

“Kim Myung Soo!” teriak Mr. Keahu. “Ikut ke ruanganku. Dan kau Park Jiyeon, kembali ke kelas sebelum aku memberikan detensi padamu!”

**

“Jawab pertanyaanku, Kim Myung Soo!” ucap Mr. Keahu pada Myung Soo yang terdiam dan hanya bisa bertukar pandang dengan Jin Ki yang berdiri di sebelahnya. “Taeyang bilang kau yang merusak ruanganku ini kemarin malam. Bayangkan, tengah malam, siswa idiotku, datang ke sekolah dan mencoba membobol ruanganku. Apa yang kau cari? Seingatku aku tidak pernah mengambil sesuatu darimu. Apa kau mencoba membantu Jin Ki mengambil cell phone-nya? Karena aku tidak menemukannya ditempat terakhir kali aku menyimpannya.”

Setelah menatap Taeyang dengan tatapan kau-benar-benar-pengecut-tukang-ngibul, Myung Soo akhirnya berkata, “A-aku tidak mengambil cell phone Jin Ki, justru aku mencoba menahan Taeyang yang berusaha masuk ke dalam ruanganmu.”

“A-apa?” Kini pandangan Mr. Keahu beralih pada Taeyang. “Kau bilang kau yang sengaja menahan Myung Soo untuk menghentikan aksi bobol-membobol ruanganku ini?”

“C-Couch-nim, demi Tuhan percayalah padaku,” ucap Taeyang terlihat gugup. “Myung Soo dan Jin Ki meneror Nana dengan pesan teks yang sangat menakutkan, membuat aku dan Nana pada akhirnya harus datang ke sekolah demi menghentikan aksi gila dua orang ini. Dan aku lihat ada Myung Soo di depan ruanganmu, mencoba membobol pintunya dan masuk untuk mencari sesuatu. Aku sudah coba larang dia…”

“Kau brengsek sekali!” geram Myung Soo seraya menatap Taeyang dengan amarah luar biasa. Jin Ki yang melihatnya spontan mencoba merangkul bahu Myung Soo untuk menenangkan.

“Aku tahu kau sahabatnya, Jin Ki-ah. Tetapi bisakah kau hentikan tanganmu untuk tidak mengelus bahu pria di depan mataku?” tanya Mr. Keahu sebelum kembali kepada Taeyang. “Dong Taeyang, kau memang pemain Ice Hockey yang hebat. Dan kau seorang kapten yang hebat juga. Walau aku sedikit bermasalah dengan kebrutalanmu yang tidak bisa kau kontrol. Tetapi demi stick Ice Hockey-mu, bilang yang sejujurnya bahwa semua yang kau ceritakan tadi adalah kejujuran!”

“A-aku jujur!” ucap Taeyang masih tidak perduli dengan tatapan super-garang yang Myung Soo lemparkan saat ini padanya.

Mr. Keahu akhirnya menghela nafas dengan wajah frustasi.

“Jin Ki-ah, panggil Nana kemari,” ucap Mr. Keahu sebelum duduk dibangkunya.

Tak lama kemudian Jin Ki datang bersama Nana yang sedang terlihat bingung.

“Um, aku tidak pernah mendaftar untuk masuk ke timmu, Couch-nim,” ucap Nana yang langsung mengambil tempat duduk di depan Mr. Keahu.

“Bukan itu maksudku, Im Nana…” ucap Mr. Keahu seraya tersenyum. “Aku hanya ingin mengulas kejadian kemarin malam di dalam ruanganku ini.”

Mendengarnya, spontan Nana menelan ludah dan langsung bertukar tatapan dengan kekasihnya, Taeyang yang sedang menunjukkan wajah patut-dibela-karena-status-kekasih.

“Ceritakan apa yang sudah terjadi di dalam ruanganku ini kemarin malam,” ucap Mr. Keahu.

“A-aku tidak terlalu tahu karena…” Im Nana terbelalak saat Mr. Keahu mengeluarkan AliExpress Coupon Free Shopping Deals & Sales miliknya. Nana pun dengan cepat melanjutkan kata-katanya, “…Taeyang yang mengobrak-abrik ruanganmu, Couch-nim.”

“Y-yaa!” ucap Taeyang seraya memutar-balik bangku yang sedang diduduki Nana saat ini.

“Belum waktunya kau berbicara, Dong Taeyang!” ucap Mr. Keahu seraya kembali fokus pada Nana. “Lanjutkan, anak manis.”

“Yeah, begitulah. Aku memang sempat dapat pesan teks dari nomor Jin Ki. Akhirnya aku dan Taeyang memutuskan untuk ke sekolah kemarin malam. Singkatnya bukan Jin Ki pelakunya dan Taeyang justru melakukan hal lain di dalam ruanganmu. Entah mencari apa, yang aku tahu selanjutnya hanyalah muncul makhluk jejadian berwujud serigala di dalam sekolah ini.”

Mr. Keahu terdiam sebelum akhirnya tertawa. “Ceritamu mulai kelewatan, Im Nana. Aku tidak menyuruhmu untuk melebih-lebihkannya dengan gaya supernatural yang paling aku benci itu. Cukup terangkan padaku kenapa si gundul ini menyelinap masuk ke dalam ruanganku.”

“Aku tidak sedang mengarang cerita, Couch-nim,” ucap Nana merasa tersinggung. “Ada manusia serigala di sekolah ini dan Myung Soo…”

Mendengar namanya disebut, spontan Myung Soo berkata, “Dan aku mencoba…um…m-mencoba…”

“Mencoba apa?” tanya Mr. Keahu tidak sabaran.

Oke, lebih baik mendapatkan detensi daripada status manusia serigalanya diketahui seisi sekolah. Dan bisa lebih gawat jika sampai terdengar ke telinga sang ayah dan Hyung-nya.

“Dan a-aku mencoba memperpanas keadaan,” ucap Myung Soo akhirnya, membuat Jin Ki yang masih berdiri disebelahnya otomatis mengerutkan kening. “Aku mengaku. Aku yang membuat pesan teks konyol itu. Aku memakai topeng serigala untuk menakut-nakuti Taeyang dan Nana.”

“Kau tahu, Myung Soo-ah? Jika ayahmu tahu soal tindakan kekanak-kanakanmu ini, kau bisa habis,” ucap Mr. Keahu seraya menunjuk dada Myung Soo. “Detensi jam tiga sore nanti!”

Taeyang akhirnya mampu tersenyum lega, walaupun hanya sebentar. Karena sesudahnya Taeyang pun ikut mendapatkan detensi yang sama untuk alasan membobol ruangannya.

**

“Nana-ah, aku mohon padamu tidak memberitahu soal siapa aku sebenarnya,” pinta Myung Soo saat jam istirahat.

“Untuk hal seperti itu, semua orang akan dengan mudah mengetahuinya,” ucap Nana yang sedang sibuk menyendokkan aprikot ke dalam mangkuknya.

“Tidak jika kau menutup mulutmu,” sambung Jin Ki yang tiba-tiba muncul dan menghalangi jalur Nana untuk mengambil menu selanjutnya. “Pacar gundulmu itu berhasil selamat karena Myung Soo!”

“Dia juga didetensi kalau kau lupa,” ucap Nana terlihat tidak perduli.

“Kau tahu detensi macam apa yang akan Taeyang dapatkan jika Mr. Keahu menyadari bahwa majalah porno milik Daesung menghilang dari ruangannya?” tanya Jin Ki. “Bersyukurlah dia hanya disuruh merapikan perpustakaan bersama sobat serigalaku ini.”

“Jujur saja, aku tidak mau terlibat urusan apalagi rahasia-rahasiaan dengan kalian berdua,” ucap Nana seraya menginjak kaki Jin Ki agar bocah satu ini minggir dari hadapannya. “Lagipula apa kau tidak sadar? Kau Werewolf yang bisa saja menyakiti orang-orang terdekatmu.”

“Baiklah, jadikan itu ancaman buat dia, Myung Soo-ah,” ucap Jin Ki pada Myung Soo. “Jika kau besar mulut, mungkin Myung Soo akan menjadikanmu Grilled Steak terenak yang pernah dia coba.”

“Aku bukan kanibal, Jin Ki-ah,” desah Myung Soo.

“Begini saja, daripada kalian masih berada disini, berusaha merusak selera makanku yang bahkan belum sempat duduk berhadapan dengan kekasihku yang jagoan itu….” Nana pun menunjuk Taeyang yang sudah terlihat garang di mejanya di ujung sana. “…lebih baik kalian pergi. Sebelum kau sempat menjadikanku Grilled Steak, aku yakin kau sudah lebih dulu jadi menu makan Taeyang siang ini.”

Dengan tatapan agak takut, Jin Ki pun berkata, “Kau benar. Jika Myung Soo dibakar, aku pasti akan diperahnya sampai kering.”

**

Jacheon Forest…

“Aku yakin kau sudah mempersiapkan jawaban atas kejadian yang aku alami kemarin malam,” ucap Myung Soo pada In Guk sore itu.

“Semua Werewolf pernah mengalami apa yang kau rasakan,” ucap In Guk mulai menjelaskan. “Bangsa Werewolf biasa menyebutnya dengan Afecta, yang artinya dalam bahasa Romanian adalah Mempengaruhi. Hanya Alpha yang mampu mempengaruhi seluruh syaraf dan indera Beta-nya.”

“Lalu apa namanya disaat kau berusaha mempengaruhi pikiran anjing-anjing liar di depan hutan ini untuk membantumu menghapus jejak Mountain Ash?” tanya Jin Ki.

“Itu hanya intuisi makhluk sejenis,” jawab In Guk. “Aku hanya berkomunikasi dengan anjing-anjing itu. Kemudian anjing itu merasakan apa yang aku butuhkan. Dan dia membantuku. Semua Beta bahkan Omega mampu melakukannya.”

“Lain kali kita sewa sekumpulan anjing untuk menyerang Taeyang kalau begitu,” ucap Jin Ki seraya menepuk bahu Myung Soo, seakan-akan itu solusi terbaik untuk mengalahkan si gundul itu.

“Lalu kenapa Jiyeon?” tanya Myung Soo mencoba mengambil kesempatan untuk menanyakan hal itu tepat saat Jiyeon keluar untuk menerima telepon. “Kenapa wajahnya yang muncul di hadapanku? Bahkan ajaran Budhis itu tidak berguna untukku.”

“Entahlah,” jawan In Guk. “Untuk pertanyaan itu, hanya kau yang tahu jawabannya.”

“Kau perlu bantu karena aku benar-benar sudah putus asa memikirkan hal ini seharian,” ucap Myung Soo dengan nada memohon.

Akhirnya In Guk pun menjawab, “Aku pernah merasakannya. Jung Woo melemparkan Afecta-nya padaku dan aku berusaha melawan. Ajaran Budhis yang aku ucapkan sama tidak berlakunya seperti dirimu. Dan ketika aku mencoba membayangkan wajah Soyeon, aku kembali menjadi diriku. Afecta itu lenyap dan aku selamat.”

“Untuk soalmu itu kau memang sengaja membayangkannya, tetapi aku berbeda,” ucap Myung Soo. “Wajah Jiyeon  tiba-tiba saja muncul di hadapanku.”

In Guk mulai berpikir sampai akhirnya Jiyeon kembali ke ruangan dan langsung menghampiri Myung Soo.

“Kau bisa datang ke rumahku malam ini,” ucap Jiyeon seraya menggantungkan kedua tangannya pada sebelah bahu Myung Soo.

“O-oke,” ucap Myung Soo seraya melempar senyum.

Dan tak lama kemudian In Guk pun menjawab, “Sepertinya kau sudah tahu jawabannya.”

**

Jam tujuh malam di kediaman Park Jiyeon…

“Sungguh kau memiliki benda-benda seperti ini di dalam rumahmu?” tanya Myung Soo terbelalak saat mendapati setengah dari rumah Jiyeon berisi senjata. “Kau sengaja membawaku kesini untuk membunuhku?”

Jiyeon pun tersenyum seraya berkata, “Aku sudah memiliki ini semua sejak Soyeon menjadi Werecoyote.”

“Jadi kau berusaha membunuh Soyeon?” tanya Myung Soo.

“Aku berusaha melindungi Soyeon dan keluargaku dari Jung Woo,” ucap Jiyeon meralat. “Nyatanya senjata-senjata ini tidak berguna sama sekali. Soyeon dan kedua orangtuaku tetap mati.”

Mendengarnya membuat Myung Soo kembali merasa berduka. Membayangkan Jiyeon tinggal sendirian di rumah sebesar ini saja sudah membuat Myung Soo khawatir.

“Apa kau tidak punya saudara lain?” tanya Myung Soo mulai teringat dengan pertanyaan satu itu.

“Aku punya Paman yang tidak tinggal disini,” jawab Jiyeon setelah memberikan sekaleng softdrink.

“Lalu dimana Pamanmu tinggal?” tanya Myung Soo tak kunjung selesai rasa penasarannya. Paling tidak pengetahuan dasar tentang kehidupan kekasih barunya ini patut dia ketahui.

“Entahlah,” jawab Jiyeon membuat kening Myung Soo berkerut bingung. “Setelah dia menikahi seorang janda, dia meninggalkan adiknya, ayahku maksudku. Tidak ada kabar sedikitpun, seakan-akan berusaha memutuskan hubungan persaudaraan secara perlahan-lahan. Tetapi ayahku tidak perduli. Pamanku bukan tipe orang yang menyenangkan. Dia seorang pemanah dan kau bisa mati jika bertemu dengannya.”

“Yeah…” desah Myung Soo disertai tawa renyah. “Aku serigala. Dia pasti akan memburuku.”

“Aku sudah tidak butuh mereka semua,” ucap Jiyeon tiba-tiba. “Aku sudah biasa kesepian sejak mereka semua meninggalkanku. Hanya sedikit ketakutan disaat malam hari. Aku terlalu sering mengalami mimpi buruk. Wajah Soyeon berkali-kali hadir memenuhi pikiranku, disusul dengan wajah kedua orangtuaku. Aku ingat tatapan mata kedua orangtuaku sebelum Jung Woo membunuhnya. Hanya itu yang menyiksaku.”

“Hanya itu katamu?” tanya Myung Soo merasa sangat bersimpatik dengan keadaan yang Jiyeon alami saat ini. “Mungkin aku sudah gila jika aku yang merasakannya.”

“Aku nyaris gila kalau kau perlu tahu,” ucap Jiyeon seraya menggerakan kedua tangannya untuk merengkuh wajah Myung Soo. “Tetapi aku harus bertahan. Ancaman Jung Woo pernah menyadarkanku akan sesuatu. Aku tidak boleh lengah. Jung Woo mungkin akan mengubahku menjadi makhluknya yang dapat dia perintah dengan seenaknya. Karena itulah aku datang kesini. Jika Jung Woo mengira kedatanganku kesini karena atas perintahnya, dia salah. Aku datang kesini karena mencari perlindungan. Dan aku sudah menemukan pelindungku.” Ditatapnya kedua mata Myung Soo yang menyiratkan rasa simpatik terdalam padanya. “Aku tidak butuh mengenalmu terlalu jauh. Aku hanya tahu bahwa kau adalah orang yang tepat.”

“In Guk bilang aku sudah menemukan jawaban atas pertanyaanku,” ucap Myung Soo setelah lama berdiam diri. “Aku hanya Beta biasa. Tidak memiliki pengalaman menghajar musuh. Dan belum pernah melindungi seorang wanita. Tetapi mulai saat ini aku akan melakukannya untukmu.” Disentuhnya bibir merah muda Jiyeon yang sangat menggairahkan.

“Kini aku punya alasan untuk melanjutkan hidupku,” ucap Jiyeon. “Kau Kim Myung Soo. Kau alasan itu.”

Dikecupnya bibir Myung Soo dengan amat lembut. Inilah awal komitmen keduanya. Semuanya kembali pada tujuan inti, saling menjaga dan saling melindungi. Dan dapat dipastikan, Afecta Vargulf tidak akan pernah berlaku bagi Kim Myung Soo, karena Werewolf ini sudah tahu bagaimana cara menanganinya.

**

Keesokan harinya…

Lee Yoo Bi mematikan stopwatch pada jam tangannya setelah berhasil mengitari kompleks perumahannya pagi ini. Setelah selesai berjogging, Yoo Bi pun kembali ke rumahnya. Dia masuk ke dalam dapurnya untuk meneguk segelas air sebelum kembali ke kamarnya. Sesampai dikamarnya dia mulai membuka laman chatnya dengan Nana.

Yoo Bi, Lee :

“Aku akan tiba di Fellas jam sepuluh nanti. Aku harus menjemput ibuku dari rumah sakit.”

Nana, Im :

“Oke, aku tunggu bersama spanduk bergambarkan kepala gundul kekasihku ;)…”

Yoo Bi tertawa sejenak saat membaca balasan chat dari Nana. Hari ini adalah hari pertandingan Ice Hockey Fellas Hills High School melawan Seoul Institute of the Arts. Nana harus hadir karena Taeyang si kapten akan bertanding. Dan Yoo Bi, selain karena ingin menemani Nana, kedatangannya saat pertandingan nanti demi melihat Jin Ki dari bangku pemain cadangan.

**

Hospital…

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Yoo Bi pada ibunya yang duduk di sebelahnya, sementara dirinya menyetir mobil.

“Seperti kataku kemarin-kemarin, aku baik-baik saja,” jawab sang ibu berusaha terlihat sangat sehat.

“Baiklah, setelah menyuruhku untuk tidak mengunjungimu selama satu minggu di rumah sakit, kau masih berusaha membohongiku tentang keadaanmu yang sebenarnya,” desah Yoo Bi terlihat kecewa. “Radang usus besar bukan penyakit biasa, Eomma. Bisa-bisanya kau merahasiakan penyakit seperti itu dariku.”

“Sudah kubilang padamu jangan coba-coba tanyakan soal diriku pada dokter…”

“Lalu apa yang harus aku lakukan sementara ibuku yang bodoh ini terus memaksaku untuk tetap berada di rumah?” tanya Yoo Bi seraya berbelok pada tikungan di ujung jalan. “Paling tidak aku harus tahu sampai kapan aku bisa melihatmu di dunia ini.”

Sang ibu hanya tersenyum tanpa menjawab apa-apa.

“Kau selalu begitu,” desah Yoo Bi. “Kau tidak pernah mengizinkanku untuk tahu apa yang kau rasakan selama ini. Kau berlagak sehat, walaupun kenyataannya sakit.”

“Ayolah, ibumu ini bukan Drama Queen…”

“Dan aku bukan anak durhaka yang tidak memperdulikan kesehatan ibunya sendiri,” sambung Yoo Bi yang tiba-tiba saja menghentikan mobilnya, membuat sang ibu mau tak mau memandang terkejut ke arah Yoo Bi. “Aku tidak pernah melarangmu menjadi Drama Queen. Bahkan aku menginginkan hal itu, saat dimana aku melihatmu berteriak padaku karena butuh ke kamar mandi…”

“Aku belum setua itu dan aku masih mampu mengurus diriku sendiri,” ucap sang ibu meralat.

“Aku hanya ingin merawatmu,” ucap Yoo Bi pelan. “Itu saja. Apa kau masih tidak bisa mengabulkannya?”

Sang ibu akhirnya menjawab, “Kalau begitu jangan diteruskan. Kau bisa bawa aku sekarang ke rumah karena aku ingin tidur. Dan kau perlu ke sekolah.”

Dengan wajah kusut Yoo Bi kembali menjalankan mobilnya.

**

Fellas Hills, Arena Ice Hockey…

Pertandingan sudah berlangsung sejak satu jam yang lalu. Fellas Hills memimpin skor dan Taeyang dari bangku penonton terlihat sangat brutal. Kadang Yoo Bi merasa bingung dengan keputusan Mr. Keahu menjadikan Taeyang sebagai kapten. Taeyang hanya menang tampan, menang gundul dan menang otot. Selebihnya permainannya sama seperti yang lain, standar. Bahkan hari ini Myung Soo terlihat jauh lebih keren. Nana pun mengakui bahwa skor yang sudah berhasil Fellas Hills dapatkan sejauh ini berkat goal dari Myung Soo. Lalu Jin Ki? Seperti biasa, dia penghuni setia bangku cadangan dan akan keluar ketika Mr. Keahu sudah tidak punya stok pemain lagi. Menyedihkan.

“Sekali saja, aku ingin lihat Jin Ki bermain di arena,” ucap Yoo Bi seraya memandang Jin Ki yang duduk di bawah sana.

“Untuk mengacaukan pertandingan maksudmu?” tanya Nana yang terlihat tidak perduli.

“Kau menyebalkan…” desah Yoo Bi seraya duduk dibangkunya sementara Nana masih setia berdiri untuk menyemangati sang kekasih.

Tiba-tiba saja mata Yoo Bi menangkap sesuatu dekat pintu masuk arena Ice Hockey. Matanya kekuningan, berbulu putih dan…

“ARRRRRRRRRRRRRRRGGGGH!!!!!!”

Pekikan seorang wanita menghentikan jalannya permainan. Wanita diujung sana, dekat dengan pintu masuk yang baru saja Yoo Bi lihat, tergeletak dengan berlumuran darah. Semua penonton di dalam arena pun menjerit panik. Mr. Keahu terlihat sibuk mengurus si wanita itu sementara para pemainnya sebagian membantu dan sebagian tercenung di tempatnya masing-masing. Sedangkan Myung Soo melempar tatapan penuh tanda tanya sebelum dia mampu mendengar apa yang Jin Ki katakan dari bangku cadangan di sudut sana.

“Vargulf, dia datang…”

To Be Continue.

9 responses to “[CHAPTER – PART 5] THE WEREWOLF

  1. akhirnya bisa baca lg ni ff ><
    di tunggu bngt lho
    ciyeee myungyeon udah jaidan ini ceritanya kkkk

  2. Omoooooo vargulf apa2an sih slalu muncul bkn hebih sj.. taeyang mmg ga huna bngt lbh ga guna dr jinki.. ckckck.. omo myungyeon akhirx yeay

  3. Woahh.. Udah lama banget rasanya gak baca ff ini.. Jadi, alasan kenapa myung bisa bebas dari pengaruh afecta, karena dia ama jiyi aaling menyukai gituh? Apa gimana? Horeee, akhirnya mereka pacaran.. Hoho, taeyang bodoh, tetep aja ga percaya myung itu werewolf, saking iri atau kepengen? Itu, wanita yg berdarah itu siapa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s