[Ficlet] Pheromone

jy
Mini fanfiction from

astriadhima

Pheromone

Romance, Fluff // G // Ficlet

cast :

Myungsoo, Jiyeon, Sunggyu (Myungsoo’s friend)

          “Tidak ada wanita yang bisa mengalahi tipeku!”

“Kau gila?” ujar Sunggyu setelah mendengar Myungsoo mengutarakan janjinya dengan semangat.

“Jika begini tak aka nada wanita yang mau menjadi istrimu.” Tambahnya.

Myungsoo kembali menyeruput kopinya. Matanya berkeliaran mengawasi setiap wanita yang berkunjung di café itu. Wanita dengan rambut panjang berponi, wanita dengan rok pendek, wanita berambut pirang semuanya telah ia lihat. Ia sangat yakin jika tipe wanitanya adalah yang terbaik. Itu alasan yang ia pegang selama ia melajang.

“Lalu tipe wanita seperti apa yang kau mau?” Sunggyu terlihat serius. Ia memajukan wajahnya agar Myungsoo tetap bisa mendengar bisikannya. Myungsoo malih menampik tatapan itu. Seolah Sunggyu hanya memancingnya makan udang, makanan yang sangat ia benci.

“Coba tebak!” pancing Myungsoo. Ia menaikkan salah satu alisnya yang semakin mebuat Sunggyu bingung. “Jangan-jangan kau sendiri tak tau tentang tipemu sendiri. Ada kalanya kau harus perhatian. Sebentar lagi kau harus menikah.”

“Dengar. Daripada cepat-cepat menikah dan tidak bahagia. Aku akan memilih agak lama menikah namun bahagia. Aku bisa menunggu.” Kini giliran Myungsoo yang memajukan wajahnya. Merasa jarak mereka terlalu dekat, Sunggyu rela menjauh.

“Aku tahu. Mana ada orang yang ingin hidupnya tidak bahagia. Jadi apa kau masih ingin melajang?”

“Aku bilang aku akan menunggu.”

‘Arrayo!” Sunggyu balas membentak.

Sunggyu tergelitik untuk bertanya lagi. Wanita seperti apa yang akan kencan dengan Myungsoo, lalu apakah Myungsoo akan bersikap romantis pada pasangannya atau tidak. “Apa tandanya jika kau sedang jatuh cinta?” Sunggyu bertanya dengan usil.

“Bagaimana ya? Mungkin aku akan merasa lonceng yang ada dalam hatiku berbunyi. Lalu secara tidak sengaja aku akan terus mengikutinya. Begitulah.”

Lonceng kecil diatas pintu kafe berbuyi. Seorang wanita dengan paras cantik berjalan lebar-lebar menuju meja terdekat. Setelah duduk, ia mengipasi wajahnya dengan tangan. Jelas sekali ia tengah menahan amarah. Seorang pelayan mendatanginya dengan membawa daftar menu. “Tinggalkan saja, aku hanya ingin duduk.” Ujarnya pada pelayan dengan sedikit membentak. Sontak seluruh pengunjung kafe menatapnya, termasuk Myungsoo. Kesan dingin dan cerewet langsung melekat saat itu juga pada si gadis.

Tak tahan dengan belasan pasang mata yang mengawasinya. Jiyeon keluar dari kafe tanpa memesan apapun. Kemudian ia berlari meninggalkan kafe itu.

Meninggalkan kesan yang membekas dalam hati Myungsoo.

Apakah baru saja aku mendengar lonceng?

Kelasnya usai beberapa saat lalu. Sambil menunggu Sunggyu menemui professor, Myungsoo menunggunya di perpustakaan kampus. Hanya tersisa satu meja kosong disana. Sebuah meja kecil dengan empat kursi di dekat jendela. Segera Myungsoo duduk disana. Sinar terik mulai menusuk kulitnya, ia menghalangi sinar itu dengan tangan. Ia melihat Sunggyu melambaikan tangan dari arah berlawanan. Lalu ia mengisyaratkan agar Sunggyu menghampirinya. Disaat yang bersamaan Jiyeon melangkah dengan santai menuju meja Myungsoo. Di bawanya beberapa buku dengan mantap.

Sangat tidak terduga. Sunggyu dan Jiyeon menarik kursi yang sama. Mereka saling berpandangan. “Tapi maaf nona, saya akan duduk disini dengan teman saya.” Ujar Sunggyu.

Jiyeon menerima alasan Sunggyu, ia menarik kursi yang lain lalu segera menekuni buku yang ia bawa. Tiga buah buku tebal yang seluruhnya berisi tentang asal-usul sekolah, denah sekolah, dan pengenalan jurusan. Tak ada satupun buku yang menegaskan bahwa wanita yang tengah duduk disampingnya itu seorang mahasiswa.

“Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?” sela Myungsoo. Jiyeon menegakkan kepaanya. Ia mengangkat kacamat yang hapir melorot dari hidungnya. “Benarkah?” balasnya.

“Ooh, lonceng. Kau yang datang ke kafe tempo hari.” Pekik Myungsoo gembira. Jiyeon terlihat berbeda saat ia mengenakan kacamata. Saat gadis itu melepas kacamatanya barulah Myungsoo me jika gadis itu adalah gadis yang ia temui di kafe tempo hari.

“Kau mahasiswi baru?” tanya Sunggyu. Jiyeon kembali menegakkan kepalanya. Lalu ia mengangguk mantap. “Ya! Aku baru saja masuk universitas.”

Myungsoo serta Sunggyu mengangguk seirama. Mereka berdua mengawasi Jiyeon yang tengah membaca buku mengenai asal universitas mereka di bangun. Entah apa yang ada di benak wanita itu sehingga ia repot-repot mempelajari hal yang tidak penting.

Jiyeon menutupi dahinya yang terpapar matahari. Menyadarinya Myungsoo lalu menutup terik matahari itu dengan kedua tangannya sehingga Jiyeon tidak terkena sinar matahri lagi. Awalnya Jiyeon tak menyadari kemudian ia melihat Myungsoo dengan susah payah menghalangi sinar matahari untuknya. “Kau bisa menggunakan buku ini. Maaf, tetapi tidak ada tempat lain selain disini.” Ujar Jiyeon.

“Tidak apa-apa. Kau bisa melanjutkan membaca.”

Apa baru saja aku mendengar lonceng?

“Maaf, alarm ponselku berbunyi. Aku harus pergi. Terima kasih.” Kata-kata Jiyeon tak terdengar jelas. Ia lari tunggang-langgang meninggalkan perpustakaan.

“Gadis yang aneh.” Kata Sunggyu.

Berbeda dengan Myungsoo. Ia tetap melihat gadis itu hingga sosoknya tak terlihat lagi. Ia melihat buku yang diberikan Jiyeon. “Ilmu dasar psikologi?”

Hari itu Myungsoo mengakhiri kelas lebih cepat. Sunggyu mengeluh sakit perut sehingga ia pulang segera. Myungsoo alih-alih ingin mengembalikan buku, dirinya justru penasaran akan sosok wanita yang ia temui. Pasalnya bayangan gadis it uterus berputar di kepalanya. Ia masih ingat ketika gadis itu tergesa-gesar berlari dari kafe, serta saat dirinya menghalangi sinar mentari dengan buku. Entahlah apa yang tengah berkecamuk dalam diri Myungsoo.

Seolah ditakdirkan bertemu. Jiyeon terlihat melangkah melintasi lorong. Nampaknya ia baru saja menyelesaikan kelas. Dari belakang Myungsoo dapat melihat Jiyeon melepas kacamatanya lalu menaruhnya dalam tas. Myungsoo kembali mengeratkan buku psikologi yang ada di tangannya.

“Tunggu! Nona perpustakaan.” Teriak Myungsoo.

Jiyeon tetap melangkah meninggalkan lorong. Ia tak menyadari jika seseorang mencoba untuk memanggilnya. Sebuah tangan mendarat di bahunya dengan lembut.

“Aaaarrkh!” Jiyeon berteriak sambil menutu wajahnya. Di sisi lain Myungsoo panik karena membuat Jiyeon takut. Ia menyilangkan tangan dan mencoba menyadarkan Jiyeon yang malah membuatnya semakin buruk.

“Ini aku. Kau masih ingat dengan buku ini? Kau meninggalkannya di perpustakaan.” Jelas Myungsoo. Buku itu tepat berada di depan wajah Jiyeon. Gadis itu menatap buku yang tak asing baginya serta Myungsoo bergantian.

“Maaf. Banyak  sekali orang yang ku temui. Mungkin aku sedikit lupa. Bagaimanapun terima kasih.” Jawab Jiyeon lembut. Ia mengambil buku yang terus teracung di hadapannya. Myungsoo serasa membeku. Tak ada ekspresi lain setelah buku itu beralih ke tangan Jiyeon.

Merasa diacuhkan Jiyeon berniat pergi. Sedikit aneh meninggalkan seseorang seperti itu.

“Tunggu!”

“Bisakah kita bertemu lagi besok?”

Deg

Sesuatu yang berat seolah menggerayangi tubuh Jiyeon. Ia yakin mendengar kata-kata itu dari seorang laki-laki. Ia berbalik. Myungsoo menatapnya dengan sungguh-sungguh. Ada ketulusan dalam matanya.

“Bisa kau mengulanginya?”

“Bisakah kita bertemu lagi?”

“Kenapa?”

Perutnya terasa bergolak. Ia tak menyangka jika gadis itu akan memutar-mutar perkataannya.

“Aku tidak tahu. Ku rasa kita bisa makan siang bersama.”

“Kau bisa makan dengan tenang? Apa selera makanmu sedang baik?”

“Maksudnya? Sebenarnya sedikit buruk hehe.” Myungsoo mengumbar tawa setelah ia bermain kata-kata dengan Jiyeon.

“Baiklah. Akan ku tunggu kau di kantin. Jangan sampai terlambat.”

Cukup menarik

Bam

Teori professor memang benar. Setiap manusia memiliki aroma yangt khas dari tubuhnya. Aroma itu bisa memikat lawan jenis. Entah disadari atau tidak, area paling sensitive dalam hidung dapat merasakannya bahkan di radius yang cukup jauh. Faktanya, feromone wanita lebih ampuh ketimbang laki-laki.

Tetapi bukan feromone yang membuat Myungsoo tak enak makan, melainkan dopamine. Hormon khusus yang membuat pikiran kita terus menggali sesuatu yang berhubungan dengan si penghasil feromon. Sehingga nafsu makanmu akan menurun sedkit-demi sedikit.

“Sial. Tetapi dia adalah tipeku.” Myungsoo berkata lirih sambil berbalik.

End.

Just here..

Terima kasih sudah menyempatkan membaca ficlet yang satu ini. Rencananya setelah UKK nanti bakalan kambek sama ff baru, semoga ada yang penasaran dan nungguin hihaaay..

Selamat bersenang-senang. Marhaban ya ramadhan!

31 responses to “[Ficlet] Pheromone

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s