[ CHAPTER – PART 4 ] A MINUTE OF HOPE

AOF

AMH

Tittle : A Minute of Hope

Author : gazasinta

Main Cast :

– Park Jiyeon as Jiyeon
– Kim Jaejoong as Dr Jae
– Kim Myungsoo as Myungsoo
– Bae Suzy as Suzy
– Jeo Min Seo as Park Jeo Min ( Jiyeon’s sister )

Extended Cast :

– Shin Goo as Seo Sin Goo ( Harabeoji )
– Kang Bo Ja as Halmeoni Kang ( Yongha’s mother )
– Park Won Sook as Won Sook ( Yongha’s sister )
– Yun Yoo Sun as Yoo Sun ( Jaejoong and Myungsoo’s mother )
– Kim Soo Ro as Soo Ro ( Jaeejong and Myungsoo’s father )
– Kim Mi Sook as Mi Sook ( Suzy’s mother )
– Kim Ji Young as Bibi Lee Eun Cha
– Lee Kwang soo as Kwang Soo
– Son Ye Jin as Seo Ye Jin ( Jiyeon and Jeo Min’s mother )
– Park Yong Ha as Yong Ha ( Jiyeon and Jeo Min’s father )

Genre : School, Family, Drama

Rating : PG-17

Poster created by @olivemoon2

Disclaimer : FF ini terinsprirasi dari Kdrama yang sangat menyentuh Thank You, tapi alur dan ceritanya pure milik author.

Sorry for typos, and happy reading ya guys!!!

“ Be a strong wall in the hard times and be a smilling sun in the good times. “

Previous part

“ Aku hanya ingin milikku “

Brukkkkk…..

Seseorang yang muncul tiba-tiba itu terjatuh menelungkup tepat dikakinya tanpa sempat Jiyeon menangkapnya karena terlalu terkejut “ Cho…cho…gi..yo…k-kkau si-a-p-a ??? “ Tanya Jiyeon tak melihat jelas wajah pria itu.

Merasa bukan sosok hantu yang ada didekatnya, Jiyeon menjongkokkan tubuhnya dan memberanikan diri untuk menyentuh pria itu “ Jwesonghamnida, nuguseyo ? “ Tanyanya kemudian. Tak ada jawaban, pria itu sedikitpun tak bergerak. Jiyeon mulai cemas, ia pun membalikkan tubuh pria itu.

Dan tubuhnyapun jatuh terduduk seraya tangannya ia gunakan untuk menutup mulutnya yang terbuka lebar ketika berhasil mengenali wajah pria yang matanya tertutup rapat itu.

“ Dok-ter ? “

Part 4 ~ A Minute of Hope

Rumah Kel.Park,

Jiyeon menurunkan tangan yang menutupi mulutnya, masih begitu syok mendapati pria yang ia kenal sebagai seorang dokter tiba-tiba muncul dan tubuhnya ambruk begitu saja dihadapannya. Ia mengatur nafasnya yang tak beraturan, dan kembali mendekati tubuh Jaejoong.

“ Dokter, apa kau baik-baik saja ? “ Jiyeon mencoba mengguncang bahu Jaejoong.

Tangan Jaejoong terangkat, ia menatap Jiyeon dengan matanya yang hanya segaris karena pengaruh alkohol yang dikonsumsinya “ Dimana milikku ? aku hanya ingin milikku “ Oceh Jaejoong tak sadar membuat Jiyeon mengernyit heran apa yang Jaejoong maksud “ Kembalikan…kau tidak boleh mengambilnya, itu sangat berharga untukku “

Jiyeon tak tahu apa yang harus ia lakukan, Jaejoong terus saja mengoceh membuat ia khawatir jika tetangga lainnya mendengar. Jiyeon tak ingin menimbulkan masalah dilingkungan barunya “ Dokter tenanglah “ Dengan terpaksa dan sekuat tenaga Jiyeon mencoba meraih tubuh mabuk Jaejoong dan membawanya keatas punggungnya. Jiyeon menguatkan kaki dan mulai bangkit, wajahnya mengkerut menahan berat tubuh Jaejoong “ Aaghh “

Brukkk

Baru beberapa langkah tubuh keduanya terjatuh bersamaan, beruntung tangan Jiyeon masih menggenggam kuat tangan Jaejoong yang melingkar dilehernya, sehingga kepala Jaejoong terhindar dari tertumbuk ketanah, keduanya jatuh terduduk “ Apa yang kau lakukan padaku ? Tanya Jaejoong masih diluar kesadaran, kepalanya terkulai lemah dibahu Jiyeon.

“ Eoh maafkan aku “ Ucap Jiyeon meminta maaf dan bersiap kembali untuk membopong Jaejoong.

Jiyeon merasa putus asa, ia sadar tubuhnya terlalu kecil untuk membawa Jaejoong sendirian. Jiyeon berpikir sejenak mencari cara agar tubuh Jaejoong bisa ia bawa masuk kedalam rumahnya.

“ Changkaman “ Ucap Jiyeon entah apa yang akan dilakukannya, Jiyeon meletakkan tubuh Jaejoong perlahan dan melesat masuk kedalam, membiarkan tubuh Jaejoong tergeletak begitu saja diluar.

“ Milikku….kembalikan milikku “ Racau Jaejoong.

.
.
.

Myungsoo menatap tak percaya sosok yang Dosen Hong perkenalkan didepan kelas, wajah dingin menyebalkan yang telah menorehkan luka dihatinya. Rasa perih itu masih begitu membekas dipipi yang tertinggal jejak telapan tangan yeoja itu.

“ Annyeonghaseyo, jeo neun Park Jiyeon imnida “

“ Jiyeon-ssi, silahkan duduk dikursi pilihanmu “

Mata Myungsoo tak lepas menatap tak suka sosok yang kini berjalan ke arahnya, dan ketika yeoja itu menoleh kearahnya, Myungsoo memperlihatkan smirk dan membuang pandangan ke arah lain. Dari ekor mata yang masih mencuri-curi pandang, Myungsoo lihat yeoja itu mengambil kursi tepat disampingnya.

“ Aura sial sudah terasa “ Ucap Myungsoo pelan, ia tak peduli Jiyeon menatapnya tajam.

“ Baiklah kita lanjutkan untuk pembagian kelompok duet “ Ucap Dosen Hong, tangannya kembali sibuk dengan pulpen yang ia pegang, mulai mencoret daftar murid yang akan dipasangkan sebagai partner “ Kim Myungsoo kau berusahalah dengan Park Jiyeon “

Apa yang Dosen Hong katakan seperti suara petir yang menggelegar di telinga Myungsoo, sampai kapanpun ia tidak akan sudi bekerjasama dengan yeoja yang membawa kesialan untuknya “ AKU TIDAK MAU “ Tekan Myungsoo.

“ Jika begitu kau boleh keluar dari kelasku “ Ucap Dosen Hong enteng.

“ Mwo ? hanya karena anak baru ini aku harus keluar dari kelas ? “ Tak percaya Myungsoo semakin menyematkan kata musuh pada Jiyeon “ Tch….. “ Myungsoo sontak berdiri, kali ini ia menghampiri Jiyeon.

“ Kau tidak akan pernah bisa menyingkirkanku “ Ucap Myungsoo berbisik ditelinga Jiyeon.

“ Waeyo ? kemampuanmu kurasa tak sebanding denganku “

Myungsoo menyusuri pandangannya menatap dari ujung kaki hingga kepala Jiyeon “ Dari penampilanmu, kelihatan kau hanya seorang gadis miskin yang tidak punya kemampuan apa-apa selain kecantikan yang tidak seberapa ini “ Ucapnya membuat mata Jiyeon memerah marah.

“ Dan kau !!! “ Mata coklat Jiyeon tampak mengkilat, terlihat mengerikan “ Hanya seonggok manusia tak berguna yang ingin dipandang tinggi orang lain, sudah kubilang kau tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti manusia “

Darah diseluruh tubuh Myungsoo terasa mendidih, tangannya terkepal kuat untuk menahan marah, selama ini tidak ada yang membuat mulutnya harus terbuka lebar mendengar kalimat yang merendahkan dirinya. Myungsoo hampir saja tak sadar jika yang dihadapinya hanya seorang yeoja, ia sudah mengangkat tangannya untuk memukul Jiyeon yang kini terenyum sinis menyingkirkan tubuh Myungsoo untuk tak menghalangi jalannya.

Myungsoo tersenyum penuh arti, tak perlu berpikir lama, kakinya sudah bergerak cepat menyengkat ( ? ) kaki Jiyeon.

Brughhh

Ha…ha…ha…ha

Terdengar tawa membahana seisi kelas, Myungsoo tersenyum penuh kemenangan, namun tidak berapa lama.

Bughhh

“ Arghk “ Tubuh Myungsoo mundur beberapa langkah kebelakang, ia mengerang sakit memegangi wajahnya yang mendapat bogem-an mentah Jiyeon “ Ommo !!! kau ?? “ Myungsoo tak percaya darah memenuhi tangannya. Wajahnya terluka hingga mengeluarkan banyak darah.

“ Oh…ti….ttidak…KAU ? “ Myungsoo menunjuk kesal wajah Jiyeon “ SAEKI…..”

Rumah Kel.Kim – Kamar Myungsoo,

“ SAEKIYAAAAAAAAAAAAAAAA !!!!!!!!!!!! “

Hosh…hosh…hosh.

Myungsoo terbangun dengan tubuh berkeringat, nafasnya memburu tajam. Dilihat tak ada darah dikedua tangannya seperti yang baru saja ia lihat, dengan cepat Myungsoo menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Ia menuju cermin untuk memastikan jika tak ada lagi luka diwajahnya. Bahunya luruh seiring hatinya yang merasa lega menyadari jika ia hanya bermimpi.

“ Tch tentu saja tidak mungkin “ Decaknya.

Moodnya kembali buruk ketika melihat pipinya masih terlihat sedikit bengkak efek tamparan Jiyeon yang begitu kencang sore tadi “ Ini harus menghilang cepat “ Myungsoo membuka laci, mencari obat untuk menyembuhkan lukanya.

Sakit diwajahnya tak seberapa ia rasakan, beberapa kali olesan obat penghilang sakit dan bengkak dapat menutupi lukanya. Namun sakit dihatinya, tak menghilang begitu saja meski ia telah tertidur beberapa jam. Semakin kesal karena nyatanya yeoja itu kembali datang melalui mimpinya. Myungsoo benar-benar membenci yeoja itu hingga emosinya memuncak ke ubun-ubun jika mengingatnya.
.
.
.

Next Day – Rumah Kel.Park,

Mata tajam itu terbuka perlahan, mencoba mengumpulkan cahaya untuk melihat jelas pandangannya yang masih nampak samar. Sinar mentari yang menyorot tajam wajahnya membuat pria itu kembali mengangkat telapak tangan besarnya untuk menghalangi silaunya matahari. Baru melakukan sekali gerakan “ Arrghhkk “ Pria itu mengerang, tubuh dan kepalanya terasa begitu sakit.

“ Paman hantu sudah sadar ? “

Kalimat yang terdengar, sontak membuat Jaejoong terdiam, ia menolehkan kepala menatap kearah datangnya suara. Seorang anak kecil dan kakek tua nampak tersenyum disampingnya. Jaejoong mengamati keduanya bergantian, meski sulit dan tulangnya terasa ditusuk-tusuk ia tetap berusaha bangkit.
Jaejoong duduk dengan diiringi pandangan dua orang yang masih menyunggingkan senyum disampingnya. Malas untuk bertanya, Jajeoong coba mencari tahu sendiri dimana dirinya sedang berada, dan mengingat-ingat mengapa dirinya bisa sampai berada disini, bersama dengan orang asing.

Dahinya mengernyit heran menyadari jika tubuhnya tertidur begitu saja tanpa alas ataupun bantal disekitarnya. Mungkin inilah yang membuat tubuhnya terasa begitu sakit, ia tak terbiasa tertidur dalam keadaan menyedihkan seperti ini.

“ Kalian siapa ? “ Tanya Jaejoong

Jeo Min dan harabeoji saling berpandangan dan tersenyum lebar.

“ Aku Park Jeo Min, paman hantu bisa memanggilku Jeo Min “

“ Dan aku Seo Sin Goo, paman hantu bisa memanggilku harabeoji “ Ucap harabeoji senang mengikuti Jeo Min.

Jaejoong nampak tak tertarik dengan perkenalan diri anak kecil dan kakek tua didekatnya, ia kemudian membuang pandangannya kearah lain, menyusuri sekeliling rumah membuat Jeo Min dan haraeoji bertatapan sedih.

Kosong, tidak ada barang yang berharga sedikitpun yang Jaejoong temukan, disudut ruangan hanya ada sebuah koper, tas punggung dan selembar kain yang ia yakin merupakan alas tidur. Jaejoongpun perlahan bangkit dan hendak keluar.

“ Paman hantu, kau mau kemana ? eonni bilang kami harus menjaga paman hantu jangan sampai paman hantu pergi, paman hantu !!! “ Cerocos Jeo Min menghalangi langkah Jaejoong yang menatapnya kesal.

“ Jangan memanggilku seperti itu, aku bukan hantu “ Tak suka Jaejoong dan menyingkirkan tubuh kecil Jeo Min dengan tangannya.

“ Dokter sudah sadar ? “

Langkah Jaejoong terhenti didepan pintu ketika seorang gadis tiba-tiba muncul, Jaejoong memicingkan mata mencoba mengingat yeoja yang wajahnya tidak terasa asing dihadapannya ini, dan panggilan dokter ? darimana gadis ini tahu profesinya ? “ Kau…yang membawaku kemari ? “ Tanyanya masih berpikir siapa yeoja yang kini melewati tubuhnya dan masuk dengan menenteng bungkusan ditangannya.

“ Jeo Min-ah, harabeoji, cuci tangan kalian lalu kita makan bersama “ Ucap Jiyeon membuka bungkusan yang ia bawa, mengabaikan sementara pertanyaan Jaejoong.

“ Nde, eonni, harabeoji kajja !!! “ Jeo Min menarik tangan harabeoji mengajaknya untuk mencuci tangan.

Jiyeon kembali menoleh ke arah Jaejoong “ Aku membelikan satu untuk dokter juga “ Ucapnya meraih bungkusan milik Jaejoong dan meletakkan didekatnya.

Jaejoong mengernyit heran, nasi bungkus ? seumur hidupnya ia tidak dibiarkan makan makanan seperti itu oleh eommanya. Jaejoong kemudian membalikkan tubuhnya hendak melangkah kembali.

“ Apa dokter bisa menolong adikku ? “

Ucapan Jiyeon kembali membuat langkah Jaejoong terhenti. Menolong ? ia tidak mengerti dengan maksud permintaan Jiyeon, memang ada apa dengan adiknya ?

Jiyeon memang memiliki alasan lain menolong Jaejoong semalam, ia tahu Jaejoong seorang dokter yang bisa membantunya untuk menyembuhkan Jeo Min yang kakinya masih membutuhkan perawatan. Awalnya ia hanya akan membiarkan Jeo Min sembuh dengan sendirinya, karena ia juga tidak memiliki kemampuan untuk membawa adiknya kerumah sakit, namun siapa sangka takdir Tuhan mempertemukannya lagi dengan dokter ini. Langkahnya tak surut meski Jiyeon tahu sifat kasar yang dokter dihadapannya miliki, ia yakin seorang dokter tidak akan mungkin tega membiarkan seseorang didekatnya kesulitan dengan kesehatannya.

“ Aku bukan seorang dokter “ Ucap Jaejoong ketus.

Jiyeon terdiam, tidak mungkin ia salah mengenali pria dihadapannya ini “ Adikku, belum sembuh karena kecelakaan yang keluarga kami alami, meskipun sekarang ia sudah berhasil berjalan, maukah dokter memeriksanya lagi ? “ Ucap Jiyeon memohon sekaligus membuat pria ini mengakui jika dirinya seorang dokter.

Tubuh Jaejoong menegang ditempat setelah mendengar kalimat yang baru saja ia dengar dari bibir gadis ini. Kecelakaan keluarga ? Jaejoong membalikkan tubuhnya menatap lekat wajah Jiyeon.

Keluargamu mengalami kecelakaan di Seoul, operasi eommamu tidak berjalan lancar dan kami tidak berhasil menyelamatkannya, dan appamu…….dia meninggal dalam perjalanannya kesini, aku harap kau dapat menerimanya dengan ikhlas

Jaejoong ingat siapa yeoja ini. Putri sulung keluarga Park yang ditangani Im Nana ketika mengalami kecelakaan hampir satu bulan lalu di Seoul, eonni dari anak kecil yang selalu Im Nana sebut sebelum kematiannya “ Kau ? “ Tanya Jaejoong bingung harus mengatakan apa “ Apaaa… kau…. orang yang sama ….. dipantai ketika itu ? “ Tanya Jaejoong terbata.

Jiyeon tak mengerti dengan perubahan wajah Jajeoong, ia hanya menganggukkan kepala “ Nde, mianhae aku turut berduka cita atas kematian istri anda dokter “ Ucap Jiyeon.

Jaejoong merasa tubuhnya lemas, ia terhenyak dan menyandarkan tubuhnya lemah pada dinding kayu rumah Jiyeon, kalimat Nana kembali terngiang dalam ingatannya.
.
.
.

Kyunghee University,

“ Apa ini ? “ Kernyit Myungsoo menemukan sekotak susu di loker miliknya.

Myungsoo meraih susu tersebut dan mengamati sekitarnya, tidak ada yang mencurigakan, Ia lalu mencari-cari siapa pengirimnya dikotak susu tersebut. Tidak ada, tidak ada keterangan apapun yang menjelaskan tentang si pengirim . Myungsoo mengendikkan bahu dan tak ambil peduli, dengan santai ia berjalan menuju kelas dan membuang kotak susu itu kedalam tempat sampah yang ditemuinya.

Seseorang menatap sedih susu yang ia berikan untuk Myungsoo, ternyata hanya terbuang kedalam tempat sampah. Ia menunduk dan menghela nafasnya lemah dan berbalik untuk menuju kelasnya.

Dikelas,

Myungsoo yang awalnya serius dengan not not balok di buku musiknya, tak sadar kini menatap lekat kearah Dosen Hong yang mengatakan akan ada murid baru yang masuk. Tiba-tiba ia teringat akan mimpinya semalam. Mata tajam Myungsoo tak lepas mengamati Dosen Hong yang berjalan keluar kelas hendak menjemput murid baru, ia tak habis pikir bagaimana bisa kampus sehebat Kyunghee menerima murid baru ketika tahun ajaran sudah berjalan.

Tap…tap..tap

Derap langkah kaki terdengar, entah mengapa ada sebuah pengharapan didalam hati Myungsoo, padahal ia sendiri tidak tahu apa yang ingin ia lakukan jika harapannya menjadi nyata. Bibir Myungsoo berhasil mengulas senyum menejek, mengejek dirinya sendiri yang telah bodoh berpikir jika mimpinya semalam bisa saja menjadi nyata hari ini. Murid baru sudah berdiri didepan kelas, seorang namja yang kemudian Dosen Hong kenalkan kepada seluruh murid. Myungsoo tak lagi tertarik, ia kembali fokus pada not-not balok dibukunya.

Dosen Hong menyadari jika Myungsoo mengabaikannya, namun ia sudah malas menegur “ Apa kalian sudah mempersiapkan diri ? kelas kita akan bersaing dengan kelas A untuk mencari 5 orang yang akan mengikuti pelatihan selama 1 minggu di SM, meski hanya pelatihan bukankah itu adalah pengalaman berharga ? jadi jangan kalian sia-siakan “ Ucap Dosen Hong.

“ Kim Myungsoo !!! “ Panggil Dosen Hong.

Myungsoo menghentikan pikirannya tentang yeoja itu dan menoleh kearah Dosen Hong. Ia tahu Dosen Hong malas berbicara padanya, terlihat jelas dari raut wajahnya yang seperti itu.

“ Kau kami andalkan untuk membawa nama baik kelas B “ Ucap Dosen Hong berhasil menciptakan senyum pongah dibibir Myungsoo “ Kau tahu Bae Suzy ? “ Tanya Dosen Hong kemudian.

Myungsoo hanya terus menatap datar Dosen Hong, sikap yang tidak seharusnya ditunjukkan jika ia memang menggantungkan cita-citanya di Kyunghee. Bagaimana mungkin ia hanya bersemangat pada pelajaran tanpa menyukai dosen yang mengajar, entahlah mungkin karena bakatnya hingga bisa membuatnya melakukan apapun yang ia inginkan.

“ Kau tahu Bae Suzy “ Tanya Dosen Hong sekali lagi, namun sadar Myungsoo tidak akan menjawab atau bahkan tidak tahu siapa sosok yang sedang ditanyanya “ Bakatnya adalah yang terbaik di Kyunghee ketika kami menerimanya, aku tak berharap banyak kau akan mengalahkannya, tapi berada satu tingkat dibawahnya tidaklah buruk “ Ucap Dosen Hong membuat Myungsoo menaikkan alisnya jengkel karena lagi-lagi Dosen ini tak mengakui kehebatannya.

“ Kita lihat saja nanti “ Ucap Myungsoo membuat Dosen Hong tak lagi berkata-kata.

.
.
.

Rumah Kel.Park,

Jaejoong hanya mengamati Jiyeon, adik serta harabeojinya yang memakan lahap nasi bungkus didepan matanya, bahkan kini nasi bungkus yang Jiyeon berikan untuknyapun hampir habis mereka nikmati. Tak ada raut sedih yang ia tangkap dari mereka, tentu saja diantara mereka tidak ada yang tahu jika sesuatu telah menimpa keluarganya. Dan Jaejoong, ia tidak tahu apakah ia harus mengatakan apa yang ia ketahui atau cukup diam saja, meski ia sadar ia tidak boleh hanya diam saja. AIDS bukanlah penyakit yang biasa-biasa saja, namun juga tidak perlu harus begitu takut menghadapinya.

“ Paman hantu !!! “

Lamunan Jaejoong buyar, ia pun terkejut tiba-tiba Jeo Min ada dihadapannya. Jaejoong menggeser tubuhnya sedikit menjauh dan tak mau menatap Jeo Min. Jiyeon yang memperhatikan apa yang Jaejoong lakukan merasa tersinggung, namun tentu saja ia tidak akan memprotesnya dihadapan Jeo Min.

“ Paman hantu, dimana rumahmu ? apa aku dan harabeoji boleh kesana jika kami merasa bosan ditinggal eonni ? “ Ucap Jeo Min seraya tersenyum.

“ Sudah ku katakan aku bukan hantu, jangan memanggilku seperti itu “ Ucap Jaejoong terlihat kaku berbicara pada Jeo Min, ia memang tidak menyukai anak kecil. Tidak hanya anak kecil, bahkan ia tidak menyukai jika ada orang lain didekatnya.

“ Tapi aku melihatmu seperti hantu ketika itu, tergeletak dan tak tak bergerak sedikitpun, lalu kau melangkah seperti zombie mendekatiku….hiiiyyy “ Ucap Jeo Min dengan mimik ketakutan, tentu saja itu menjengkelkan dimata Jaejoong “ Jwesonghamnida “ Jeo Min sadar ia telah bersikap tidak sopan, ia membungkukkan tubuh meminta maaf “ Eummm… jadi aku harus memanggil paman hantu apa ? “ Tanyanya kemudian.

Jaejoong tak peduli, ia berdiri dan hendak pergi dari sana, namun matanya kembali melihat boneka miliknya dipelukan Jeo Min “ Bisakah kau mengembalikan itu untukku ? “ Tanya Jaejoong menunjuk boneka dipelukan Jeo Min, tidak peduli jika dirinya terlihat konyol dan kekanakan “ Aku….akan memberikan boneka yang lainnya nanti “ Ucapnya ragu dengan janjinya sendiri.

“ Bomi millikku, jangan pisahkan kami, dia pasti akan bersedih “ Ucap Jeo Min raut wajahnya berubah sedih.

Mata Jaejoong melotot kesal, mengapa jadi begitu sulit meminta barang yang adalah miliknya “ Aku…. akan membelikannya yang lebih besar lagi, jadi…..kembalikan padaku “ Ucap Jaejoong terlihat memaksa.

“ Jangann…..bomi tidak boleh kemana-manaa “ Jeo Min menyembunyikan boneka dibalik punggungnya cepat, namun….. “ Argghhhkk “ Teriak Jeo Min kesakitan.

“ Jeo Min-ah !!! “

“ Jeo Min-ah !!! “

Jiyeon dan harabeoji berteriak bersamaan dan langsung menghampiri Jeo Min yang meringis sakit “ Eoh, Jeo Min-ah…kau berdarah “ Kaget Jiyeon.

Jaejoong tak kalah kaget, ia tidak tahu jika sikut Jeo Min terbentur dinding yang menancap paku disana, ia melihat Jiyeon yang panik, baru saja Jiyeon akan membersihkan darah Jeo Min dengan cara mengisapnya….

“ Menyingkirlah “ Jaejoong mendorong kasar tubuh Jiyeon hingga gadis itu hampir saja terjatuh.

Dengan cepat Jaejoong mengangkat Jeo Min dan membawanya menuju sumur yang ada didepan rumah, membuat semuanya heran dengan sikap heboh Jaejoong.

“ Itu hanya sedikit darah, memangnya ada masalah jika aku mengisapnya ? “ Tanya Jiyeon yang tak mengerti.

Ia kemudian melihat Jaejoong begitu hati-hati memperlakukan luka ditangan Jeo Min, pria itu menggunakan air dan mengalirkannya untuk membersihkan darah ditangan adiknya.

.
.
.

“ Kamsahamnida “ Ucap Jiyeon selesai Jaejoong mengobati luka Jeo Min.

Jaejoong tak mendengar apa yang Jiyeon katakan, matanya sejak tadi hanya mengamati Jeo Min yang sedang bermain dengan harabeoji diluar.

“ Aku terbiasa mengisapnya untuk menghentikan darah yang mengalir, jadi……”

“ Lain kali kau tidak boleh sembarangan menyentuh lukanya “ Ucap Jaejoong tiba-tiba memotong kalimat Jiyeon.

Jiyeon memandang sedikit kesal pada Jaejoong, ia tak habis pikir ada seorang dokter yang begitu galak berbicara pada orang lain, apa ada pasien yang mau berobat padanya ?

“ Aku….bukan seorang dokter, jadi aku…..tidak tahu apa yang harus aku lakukan “ Ucap Jiyeon mengalah.

Jaejoong bangkit dari duduknya, merasa sudah terlalu lama berada disekitar mereka. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan keluarga Jiyeon hingga bisa bertemu kembali dengan ketiganya di Hwanghee. Untuk bertanya, Jaejoong rasa itu tidak terlalu penting.

“ Aku harap kau mau mengabulkan permohonanku, hanya memeriksa apakah kaki adikku benar-benar tidak apa-apa dikemudian hari ? “ Ucap Jiyeon ketika melihat Jaejoong akan meninggalkannya.

“ Sudah ku katakan, aku bukan lagi seorang dokter “ Ucap Jaejoong kembali mengingatkan Jiyeon “ Kau bisa pergi ke rumah sakit dan memeriksanya langsung “ Jaejoongpun pergi meninggalkannya.

Jaejoong melangkah cepat tanpa lagi menoleh, meski ada sesuatu yang mengganjal dihatinya ketika ia melangkah pergi dan mencoba tak peduli.

“ Jaga dia untukku, aku ingin kau menjaganya untukku, anak kecil itu dia tidak bersalah, karena kecerobohanku ia harus menanggungnya, kesalahanku pasti tidak akan termaafkan, maukah kau menebusnya untukku ? aku mohon “

Janjinya, ia rasa janjinya yang membuat perasaannya menjadi tak menentu. Ia tidak berniat untuk mengingkari, hanya saja ia belum tahu bagaimana ia akan merealisasikan janjinya untuk menolong keluarga gadis itu.

“ Eonni, apa paman hantu akan datang lagi ? “ Tanya Jeo Min dan harabeoji menghampiri Jiyeon yang matanya sedang mengamati pria itu hingga benar-benar menghilang.

“ Mwola, jika ia seseorang yang memiliki hati, ia pasti kembali “ Ucap Jiyeon tanpa melepaskan pandangannya meski Jaejoong sudah tidak lagi terlihat.

.
.
.

1 Month Later,

Jari Jiyeon sibuk menghitung uang yang didapatnya hari ini. Tak seperti kemarin, ia hanya mendapatkan sedikit hari ini. Hanya mengandalkan suara dan alat musik yang ia buat, tentu saja tidak menarik banyak orang untuk melemparkan beberapa koin untuknya. Kakinya melangkah lemah menyusuri jalan, seraya berpikir bagaimana cara memisahkan antara membayar sewa rumah yang sudah jatuh tempo dengan kebutuhan sehari-hari, dan sedikit menabung untuk melanjutkan kuliahnya. Ya, keinginan Jiyeon begitu menggebu-gebu untuk kembali meneruskan pendidikan, walau hanya sedikit, ia berusaha menyisihkan penghasilan untuk mewujudkan keinginannya.

Jiyeon kembali berhenti ditempat yang sama. Ya, hampir setiap malam selesai sepulang bekerja ia hanya berdiri memandang gedung tinggi dihadapannya seperti sekarang ini. Kyunghee bukanlah universitas yang Jiyeon inginkan, namun ….

“ Eonni, suaramu cukup merdu, tidakkah kau ingin menjadi seorang penyanyi “

“ Benarkah ? apa suaraku seperti BoA ? “

“ Aku sangat menyukai BoA, Queen of Kpop apakah kau bisa menjadi sepertinya ? “

Jiyeon hanya tersenyum jika mengingat apa yang Jeo Min katakan. Sejujurnya ia hanya bisa bernyanyi, tidak pandai. BoA, adiknya terlalu menyukai BoA dan menginginkan Jiyeon untuk menjadi seperti bintang pujaannya itu. Tentu saja masuk Kyunghee tidak hanya bermodalkan kemampuan. Uang, itu yang paling penting.

Dulu ia bersikeras meminta orangtuanya untuk mendukung langkahnya masuk ke universitas kedokteran, oleh sebab itu Jiyeon serius dalam belajar. Ia tidak memiliki motivasi khusus untuk menjadi seorang dokter, hanya kagum dengan tangan-tangan dokter yang bisa menyembuhkan orang sakit, menunda kematian seseorang meski orang tersebut dinyatakan tak lagi bisa diselamatkan. Kecelakaan itu, ketika kedua orangtuanya tak bisa tertolong meski telah ditangani dokter hebat, sejak saat itu pandangannya berubah. Jiyeon tak lagi berniat menjadi dokter. Ternyata dokter hanyalah manusia biasa, hanya Tuhan yang mengetahui takdir seseorang.

Sementara ,

“ Payah !!!! baru beberapa gelas saja kau sudah mabuk parah, kemampuanmu tidak meningkat dari dulu “

“ Ha…ha…ha “ Tawa beberapa teman Myungsoo serempak.

Myungsoo mengangkat kepalanya yang terkulai diatas meja, semua yang ia lihat nampak berputar “ Huks… Aku sudah menjadi mahasiswa….huks, jadi mana boleh sampai mabuk ? huks….. jika Kyunghee tahu…huks…. aku pasti akan dikenai hukuman, jadi aku tidak boleh sampai mabuk…huks “ Racau Myungsoo padahal jelas-jelas ia sudah sangat mabuk.

“ Tidak enak sekali menjadi mahasiswa, terlalu banyak larangan, tenang saja kau akan aman-aman saja bersama kami….kajja!! tinggaal beberapa botol “ Salah satu teman Myungsoo mengangkat botol dan menyodorkan padanya.

Myungsoo menggelengkan kepala seraya tersenyum, ia tentu saja tidak mau dianggap payah, namun baru saja ia menerima sodoran bir dari temannya suara sirine keamanan terdengar.

“ Jangan bergerak, kami dari kepolisian, tetap ditempat atau kalian akan berurusan dengan kami !!!! “

“ Celaka, ayo kita lari !!! “ Seru beberapa teman Myungsoo.

Sontak keadaan menjadi kacau, semua sibuk menyelamatkan diri masing-masing, tak peduli botol-botol yang masih berisi penuh bir mereka tinggalkan begitu saja. Meski setengah sadar Myungsoo tahu jika keadaan sedang dalam bahaya, namun tidak satupun dianara teman-temannya yang mempedulikannya, Myungsoo mencoba bangkit dan berlari namun sial penglihatan serta kepalanya tak sanggup untuk berlari cepat.

“ Hey…yang disana !!!!! jangan lari !!! “

“ Sial, ini akan menjadi masalah besar “ Kesal Myungsoo ia terus berlari entah kemana, menyusuri lorong lorong kecil dan gelap menghindari kejaran para polisi.

Brughhh

“ Ahhhhh “

Myungsoo terjatuh dan tak mampu bangkit setelah menabrak seseorang, matanya tak sanggup lagi untuk ia buka, hanya pasrah saja tergeletak dijalan, tak juga memaki seperti biasa jika ada oranglain yang berurusan dengannya, karena ia tak sanggup lagi melakukannya.

Jiyeon meringis sakit, telapak tangannya memerah terkena aspal jalan, dilihat seorang namja yang tergeletak didepannya. Jiyeon menghela nafasnya lelah, begitu banyak orang mabuk sepanjang jalan yang ia jumpai tadi.

“ Apa semua pemuda Korea tidak berguna seperti ini “ Kesalnya seraya bangkit dan tak peduli dengan orang yang baru saja menabraknya, namun suara derap langkah banyak pasang kaki membuatnya panik, ia tak mau menjadi sasaran salah tangkap polisi yang sedang patroli.

“ Tolong akuuu….huks…huks”

Baru saja beberapa langkah ia berlari, seseorang yang tergelatak meminta pertolongan padanya, Jiyeon kembali menoleh dan bingung tak tahu harus menyelamatkan diri sendiri atau membantu orang itu juga.

“ Eoh otthokae ? “ Bingung Jiyeon melihat bergantian orang yang meminta pertolongannya dan polisi yang semakin mendekat “ Terpaksa “ Ucap Jiyeon dan berlari kearah tubuh namja yang sedang mabuk.

Jiyeon membantu namja itu berdiri dan memapahnya untuk mencari tempat bersembunyi, karena terlalu gelap ia tak bisa mengenali rupa seseorang yang ditolongnya, ia hanya yakin orang mabuk tidak akan bisa mencelakainya. Jjangankan mencelakainya, berdiri saja namja ini kesulitan.

“ Disini saja “ Pikir Jiyeon dan bersembunyi didalam sebuah gang sempit yang hanya muat untuk dua orang.

Jiyeon terpaksa membuang wajah karena tak tahan dengan bau alkohol namja dihadapannya, dan ia harus menahan napas serta geraknya agar polisi itu tidak berhasil menemukannya.

“ Apa masih ada lagi ? “

“ Sepertinya tidak “

“ Aigoo, mengapa mereka semakin banyak saja kriminal didaerah ini, kita harus melakukan patroli setiap malam disini “

“ Huks…huks “

“ Suara apa itu ? “

Mulut Jiyeon terbuka lebar dan matanya membelalak panik, dengan cepat ia membungkam mulut namja yang ia tolong dengan tangannya. Nafasnya tertahan seiring para polisi itu semakin mendekat, Jiyeon memejamkan matanya pasrah, namun mulutnya tak lepas untuk selalu berdoa.

“ Tidak ada, kajja “

Terlalu lega hingga Jiyeon tak sadar meletakkan kepalanya pada dada bidang namja dihadapannya.

“ Go….huks…ma….huks…wo “ Ucap Namja itu.

Jiyeon mengangkat kepalanya, kini wajahnya berhadapan tepat dengan wajah namja itu, dan jelas ia sangat mengenali siapa namja yang ditolongnya, seketika itu juga Jiyeon melepaskan tubuhnya yang tak sengaja menempel ketat pada namja itu, membuat akhirnya namja itu kembali terjatuh.

Brughhh

“ Aaargkkk “

Kali ini Jiyeon benar-benar tidak peduli, bahkan ia merasa sangat menyesal telah menolong orang yang pernah merendahkan dirinya.

“ Pabbo “ Sungutnya semakin menjauh.

.
.

.

Rumah Kel.Park – Halaman rumah,

Jaejoong tak sadar telah menarik bibirnya untuk tersenyum mengamati dua orang yang sedang asik bermain batu dihalaman rumah. Anak kecil yang ia tahu bernama Park Jeo Min selalu mengerjai harabeoji yang bertampang lucu hingga tak sadar membuat Jaejoong melupakan kesedihannya. Jaejoong juga tak tahu apa yang sebenarnya ia lakukan. Setiap hari, waktunya hanya dihabiskan untuk mengamati sembunyi keluarga Park, dari dalam rumah yang terletak disamping rumah keluarga Park.

“ Eonni !!!! “

“ Eoh uri Jiyeon sudah pulang “

Jaejoong menoleh kearah seseorang yang dipanggil eonni itu. Gadis yang hanya bisa ia lihat ketika hari menjelang malam, gadis itu merentangkan kedua tangannya menyambut adik dan kakeknya yang berlari kearahnya. Wajah gadis itu terlihat lelah dan tubuhnyapun semakin kurus dari satu bulan lalu. Jaejoong terus mengamati hingga ketiganya masuk kedalam rumah.

.
.
.

“ Tuan, ini bukti pembayarannya “

Baru saja Jaejoong menutup pintu untuk melangkah pulang, bibi pemilik rumah datang dan menyerahkan sebuah kwitansi pembayaran. Jaejoong menerimanya untuk memastikan, 2 buah kwitansi atas namanya sendiri dan keluarga Park.

“ Ada apa ? “ Tanya Jaejoong menyadari bibi pemilik rumah masih berdiri dan nampak heran menatapnya.

“ Eoh…ah-ahniyo “ Gugup bibi pemilik rumah.

Wajah dingin Jaejoong tentu saja membuat takut siapapun, tidak terkecuali bibi pemilik rumah yang begitu penasaran ada hubungan apa antara Jaejoong dengan ketiga orang yang menyewa rumah lain miliknya ? Jaejoong hanya membayar rumah yang ia sewa, tanpa menginap didalamnya. Terlebih pria itu melarang dirinya untuk memberitahukan apa yang Jaejoong lakukan pada orang lain, terutama keluarga Park sendiri.

Jaejoong meninggalkan rumah sewa setelah sebelumnya ia memandang lekat kearah pintu rumah yang Jiyeon tempati. Masih dapat ia dengar tawa canda penghuni didalamnya.

.
.
.

Next Day – Rumah Kel.Kim,

Dengan tubuh yang kotor dan bau alkohol yang menyeruak, Myungsoo mengendap-endap masuk kedalam kamarnya, hari sudah menunjukkan pukul 04.00 KST. Beruntung kepalanya sudah terasa lebih baik, meski tubuhnya masih terasa sakit, ia harus segera memejamkan matanya karena beberapa jam lagi ia harus kembali ke kampus.

“ Kau baru pulang ? “ Tiba-tiba suara berat appanya terdengar.

“ Nde “ Ucap Myungsoo tanpa berbalik.

“ Istirahatlah, jika masih terasa lelah ambil libur untuk beristiraat “ Ucap Soo Roo menasehati.

Myungsoo terdiam, dirumahnya hanya appanya yang sedikit mengerti tentang dirinya, meski jarang berbincang seperti keluarga laiinya, namun appanya tidak pernah melarang untuk Myungsoo melakukan apapun, itulah yang membuatnya bisa bertahan selama ini dirumah keluarganya.

“ Terimakasih, tapi aku baik-baik saja “ Ucap Myungsoo dan melangkah masuk.

Soo Ro tahu apa yang baru saja putranya lakukan, namun ia tak ingin Myungsoo merasa dimusuhi oleh semua orang, buatnya kedua putranya adalah harapannya, ia tidak akan menekan, hidup keduanya ada ditangan mereka sendiri. Soo Ro kembali masuk kedalam, ia lihat istrinya sudah tertidur lelap.

.
.
.

Kyunghee university,

Why don’t you remember?
Don’t you remember?
The reason you loved me before,
Baby,pleaseremembermeonce more,

When will I see you again

( Don’t you remember – Adele )

Prok…prok…prok

“ Kamsahamnida “ Suzy membungkuk dan tersenyum senang, ia melangkah kembali menuju kursinya.

Suzy telah menutup penampilan hebat teman-temannya dengan spektakuler, tidak salah jika kelas A begitu mengandalkan dirinya untuk menjadi perwakilan menembus training di SM entertainment. Suzy membereskan tas dan menyusul teman-teman lainnya yang lebih dulu berhamburan pulang.

“ Apa kau yang bernama Bae Suzy ? “

Suzy menoleh ke arah datangnya suara, hampir saja ia pingsan ditempat mengetahui siapa seseorang yang menyapanya. Namja dengan tas hitam dan gitar yang selalu ia bawa dipunggungnya, nampak menyandarkan diri di dinding kelas. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celana, menambah kesan cool pada dirinya. Wajah dengan garis-garis tegas seperti pahatan patung itu kini menatap lekat kearah Suzy.

Suzy merasa cemas, otaknya sudah berpikir macam-macam. Takut akan namja ini sudah mengetahui tindakannya, menaru sekotak susu setiap pagi dilokernya. Namun pikiran buruknya berhasil terpatahkan ketika pria itu mengulurkan tangannya ke arah Suzy dan mengatakan…

“ Suaramu sangat bagus, sepertinya kau akan menjadi seseorang yang pantas bersaing denganku, mari kita bersaing secara sehat “ Ucap namja yang ternyata adalah Kim Myungsoo.

Dan Suzy hampir saja mengutuk dirinya yang begitu bodoh membalas uluran tangan Myungsoo ketika jantungnya masih sulit ia kendalikan, alhasil tangannyapun masih terlihat jelas gemetar “ Eoh maaf “ Ucap Suzy segera menarik tangannya menyadari jika Myungsoo menatap heran tangannya yang tak berhenti gemetar.

“ Aku akan mengingatmu “ Ucap Myungsoo membuat Suzy tersipu malu, namun langsung berubah ketika kalimat yang Myungsoo ucapkan selanjutnya “ Sebagai saingan berat untukku “ Setelahnya Myungsoo berbalik meninggalkan Suzy yang masih terdiam mematung untuk menenangkan jantung dan otaknya, tak sadar Myungsoo telah menghilang dari hadapannya.

.
.
.

Desa Hwanghee,

“ Harabeoji, kau tidak seharusnya memukulku “ Ucap Jeo Min berbisik marah.

“ Jeo Min-ah, mianhae ini harus aku lakukan, jika tidak kau akan membuat lingkunganku tidak nyaman “ Terang harabeoji juga berbisik.

“ Aku tidak mencuri, bukankah kau tahu itu adalah milikku, kau ini berpura-pura menutup matamu yah ? “ Emosi Jeo Min naik karena harabeoji tak memahami apa yang dirinya lakukan.

“ Sudahlah, kau memang harus masuk kedalam penjara, eoh igeo…..lihat kau sudah diborgol “ Senang harabeoji tak sadar suaranya tak lagi berbisik, dan seketika itu juga…..

“ Yya!!!! apa yang kalian lakukan eoh, kalian ini penguntit ya ? “ Seorang bibi berperawakan besar menyeramkan dengan sebuah ember berisi air membuka lebar jendela ketika mendengar suara ribut-ribut diluar.

“ Harabeoji lariiiiiiiiiiiiiiii !!!!”

Jeo Min dan harabeoji pun lari tunggang langgang, namun bibi itu tak membiarkan mereka mudah untuk melarikan diri. Bibi itu terus mengejar kali ini dengan sebuah kayu panjang yang ia pungut dari jalan. Akhir-akhir ini banyak anak-anak nakal yang awalnya hanya bermain namun akhirnya merusak tanaman bahkan mencuri buah dari pohon.

Jeo Min semakin berlari kencang, tidak sadar jika harabeoji tertinggal jauh dibelakangnya, ketika ia menoleh bibi itu hampir saja berhasil menangkap harabeoji. Jeo Min menghentikan larinya, wajah harabeojinya nampak begitu ketakutan ketika bibi itu mencengkeram kerah dilehernya dengan lengannya yang besar.

“ Sudah setua ini masih kekanakan eoh ? “ Geram bibi gendut.

“ Tidak jangan pukul aku, aku hanya ingin menonton televisi dirumahmu, kami tidak memilikinya dirumah, ampuni kami “ Mohon harabeoji wajahnya menahan tangisan.

“ Bibi, kau tidak boleh bertindak seperti itu pada harabeojiku “ Tiba-tiba Jeo Min berteriak dan menarik baju bibi gendut hingga sobek.

“ Ommo !!!! anak nakal, katakan siapa orangtuamu eoh ? dimana rumahmu ? “ Ucap bibi beralih menjewer telinga Jeo Min hingga memerah.

Tidak ada sama sekali perasaan iba melihat harabeoji dan Jeo Min yang berteriak memohon ampun, bibi itu bahkan kini mencubit kaki Jeo Min bertubi-tubi.

“ Hentikan, jangan sakiti cucuku “ Kali ini harabeoji yang menarik-narik baju bibi gendut, sementara Jeo Min sudah menangis kencang.

“ Hanya orang gila yang menganiaya seorang anak kecil dan kakek tua dijalanan “ Tiba-tiba suara berat seseorang terdengar.

“ Paman hantuuuuuuuuu !!! huhuhuuhu “

“ Jeo Min-ahhhhh “ Harabeoji memeluk Jeo Min berusaha melindunginya.

“ Kau, apakah kau orang gila ? jika begitu tempatmu dirumah sakit jiwa, bukan disini “ Ucap pria yang ternyata adalah Jaejoong tiba-tiba muncul.

“ Mereka mencuri mangga dirumahku, mengapa kau membelanya “ Ucap bibi warung mencari pembenaran atas tindakan yang ia lakukan.

Jaejoong tak begitu saja percaya, ia mengalihkan tatapannya ke arah Jeo Min dan harabeoji, tak ada mangga atau apapun ditangan keduanya. Jaejoong tahu bibi ini merasa terpojok dengan tuduhannya “ Kau, apa akan terima jika oranglain memukul anakmu dihadapanmu ? “ Tanya Jajeoong dengan pandangan marah.

“ Jika pencuri untuk apa membelanya ? “ Balas bibi gendut tak terima.

“ Kau tidak memiliki bukti jadi jangan mengada-ada, mereka bukan pencuri seperti yang kau tuduhkan, aku akan memperkarakan hal ini dikantor kepolisian, apa kau berani AHJUMA ? “ Tantang Jaejoong membuat bibi gendut merasa takut.

Tentu saja takut, ia tak melihat jika Jaejoong hanya menggertaknya, lagipula ia memang asal menebak jika anak kecil dan kakek yang belum pernah ia lihat sebelumnya adalah seorang pencuri “ Aigoooo, aku harus memiliki hati yang lapang membiarkan orang-orang jahat berkeliaran “ Ucap bibi itu berpura-pura mengalah dan pergi begitu saja agar urusannya tidak rumit seperti yang Jaejoong katakan.

“ Paman hantu terimakasih, jika tidak ada dirimu, mungkin kami berada dirumah sakit sekarang “ Ucap Jeo Min yang tiba-tiba menghambur memeluknya, dan tidak lupa harabeoji ikut serta melakukan apa yang Jeo Min lakukan.

Jaejoong merasa tak nyaman, tubuhnya seperti terpasung oleh dua orang cucu dan kakek yang berani-beraninya memeluk tubuhnya “ Aku tidak mau pakaianku kotor “ Ucap Jaejoong dan kemudian melangkah meninggalkan keduanya.

Jeo Min dan harabeoji tak bersedih dengan sikap Jaejoong, keduanya kini berpegangan erat berjalan pulang sebelum hari gelap dan Jiyeon menemukannya dengan keadaan kacau seperti sekarang ini.

Jaejoong keluar dari balik persembunyian, ia kemudian mengikuti langkah keduanya dari kejauhan, memastikan keduanya tiba selamat dirumahnya.
.
.
.

“ Terimakasih, kamsahamnida…..kamsahamnida “

Jiyeon menjongkokkan dirinya untuk mengumpulkan semua uang yang didapatnya, ia memandang berbinar-binar won ditangannya, hari ini sungguh luar biasa, ia bahkan hampir saja menangis terharu tidak biasanya, iya tidak biasanya ia mendapat uang sebanyak ini, jika dipikir-pikir ini sama dengan mengamen selama 3 hari, begitu semangatnya ia membereskan uang tak sadar seseorang sudah berdiri didepannya.

“ Apa kau ingin bersekolah di Kyunghee ? “

Tangan Jiyeon berhenti bergerak, ia mendongakkan kepala dan melihat seorang wanita sekitar 40-an namun masih terlihat cantik berdiri dihadapannya.

“ Kau….berbicara padaku ? “ Tanya Jiyeon menunjuk dirinya sendiri memastikan.

Wanita itu tersenyum penuh arti, ia telah beberapa kali melihat gadis ini dipertunjukkan jalannya, suaranya memang biasa-biasa saja jika dibandingkan dengan murid-muridnya yang lain, namun ada sesuatu yang berbeda yang ia temudi pada diri gadis ini, ia memiliki aura yang begitu menarik, dan terpenting ia akan menjadikan gadis itu untuk melecut semangat muridnya yang sombong.

.
.
.

Jaejoong meletakkan sebuah kardus besar tepat didepan pintu rumah keluarga Park, ia tersenyum penuh arti dan berharap Jeo Min dan harabeoji tidak merasa kesepian jika mereka hanya berdua dirumah.

Jaejoong berbalik dan melangkah ke arah rumah yang terletak disamping keluarga Park. Ia membuka pintu dan meletakkan sebuah koper besarnya disana. Sudah ia putuskan, ya ia sudah memutuskan untuk memenuhi janjinya pada Nana untuk menjaga ketiganya dengan cara seperti ini. Hidup berdampingan dengan mereka, entah sampai kapan. Mungkin sampai sosok Nana datang dalam mimpinya dan mengatakan jika ia telah benar-benar merasa bahagia, atau hingga keluarga Park terutama gadis bernama Park Jiyeon sanggup menerima kenyataan bahwa adiknya seorang penderita AIDS.

Benar, hingga hari itu datang Jaejoong akan merasa lega untuk meninggalkan mereka.

To be continued…

150 responses to “[ CHAPTER – PART 4 ] A MINUTE OF HOPE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s