[One Shot] The Night

night-walk-park-hd-wallpaper

[OS] The Night

Kiyomizu Mizuki’s Present

Kim Myungsoo & Park Jiyeon

Genre : Romance, Drama, Fluff | Rated : Teenager | Length : One Shot

Disclaimer : Plot and story is mine. I’m sorry if there same any title or characters. Main cast belong to God, their parents, and their agency. I’m sorry if there’s any same title or characters. This is just a fan fiction. Sorry if you find typo(s)

Sebuah ketulusan.

.

Enjoy~

.

Semilir angin berhembus pelan. Memainkan daun yang mulai bergoyang kala mengikuti arah gerak angin. Seperti biasanya, malam hari selalu dingin. Langit pun sudah menggelap dan tidak ada matahari kali ini. Hanyalah sebuah kekelaman yang tampak.

Bintang dan bulan, serta benda langit lainnya. Dua benda langit yang saling berteman ini selalu dapat kita temui di setiap malam, walau sebenarnya bintang juga akan tetap ada jika siang hari. Hanya saja siang itu terlalu terik hingga kita tidak dapat melihat keberadaan nya. Mereka, selalu menghiasi cakrawala, agar selalu indah dan membantu manusia yang tersesat di kegelapan malam.

Karena sekarang sudah zaman modern. Tidak hanya para benda langit disana yang bekerja, tapi lampu yang tergantung disana juga semakin membuat kita tidak merasa ketakutan akan gelap. Lampu jalan itu menyoroti tiap-tiap sudut taman.

Taman ini sudah sepi, juga aspal yang selaku jalan di sana. Sebuah kursi panjang yang sengaja di taruh di bawah pohon yang rindang, mempermudahkan para pengunjung untuk sedikit terhindar dari cahaya nya yang menyengat. Ya, taman ini akan ramai ketika pagi, siang, dan senja tiba.

Suara gemerisik dari rumput disana seakan berteriak karena mereka diinjak oleh sebuah sepatu sport putih. Akibat semua rumput hijau disana ikut terinjak. Suara tambahan itulah yang semakin mengacaukan keheningan malam.

Dia seorang pria. Jika kita lihat lebih dekat, paras nya begitu tampan dan hampir mendekati kata sempurna. Namun, setiap manusia mempunyai kekurangan dan kelebihan ‘kan? Rambut kelam miliknya yang hampir menyerupai warna langit di atas, tertiup sehingga membuat anak rambutnya sedikit berantakan. Tapi itu sama sekali tidak masalah bagi sang pria.

Sesekali merapatkan syal serta jaket, untuk membuat tubuhnya hangat dan terhindar dari dingin. Di taruhnya kedua telapak tangan itu pada saku celana hitam yang dikenakan. Langkah pria itu terhenti, membuat sorak yang tak terdengar dari sang rumput hijau. Jadi mereka tidak perlu mengaduh kesakitan lagi.

Mendudukan dirinya pada kursi panjang tersebut. Memberikan waktu istirahat bagi alat jalan nya walau hanya sementara waktu. Mengambil napas dari udara disini membuat rongga paru-parunya terasa lebih lancar. Tidak ada polusi sama sekali.

Pria itu berdesis. Ada sebuah rasa cemas tengah hingga di hatinya. Perasaan takut sekali. Mencemaskan seseorang. Sang pria mengutuk atas kecerobohan yang diperbuat, menggetuk dahinya. “Harusnya aku menjemputnya. Astaga!”

Meremas kedua kepalan tangannya dengan kuat, sehingga buku-buku jarinya memutih atas perbuatan itu. “Kalau sampai terjadi sesuatu padanya aku akan menyesal seumur hidup.” Dia berucap kembali, namun entah pada siapa.

Desau angin malam yang lembut menggelitik lehernya, memberi kesan aneh tersendiri. Sesekali sang pria memainkan ponsel nya untuk membunuh rasa bosan kala menunggu seseorang. Terkadang dia memainkan udara disana dengan membuat embun lewat deru napasnya atau memantau taman sekitar.

Sunyi dan sepi.

Dua kata yang cocok untuk mendeskripsikan tempat ini. Saking sunyi-nya bahkan hanya terdengar angin yang berhembus serta pergesekan antara dahan pohon. Sesekali ada beberapa mobil yang melewati taman, itupun kita dapat menghitungnya menggunakan jari.

Krek~

Terdengar bunyi kayu kemudian merambat masuk ke telinga sang pria. Dia merasakan adanya beban yang bertambah, tepat di sampingnya. Pria ini memilih untuk mencerna dahulu baik-baik, sebelum kepalanya benar-benar menoleh ke sang sumber suara.

“Myungsoo?”

Suara lembut khas seorang wanita merambat masuk kembali ke telinga nya, setelah beberapa saat melalui proses disana akhirnya bisa dirangsang di otak sang pria. Membuatnya bisa mengetahui siapa pemilik suara lembut yang mengalun disana.

Myungsoo—sang pria—melengkungkan senyumnya yang menawan, langsung membuat kadar ketampan yang ia punya meningkat. Segeralah di tolehkan kepala tanpa menggunakan mulutnya dan tanpa memfungsikan pita suara. Suara tadi bagaikan melody terindah yang pernah di dengar olehnya.

“Kenapa kau datang sendirian Jiyeon? Aku mencemaskanmu,” kedua lengan Myungsoo berpindah tempat. Merengkuh sang terkasih di dekapan hangatnya. “Harusnya saat aku menyuruhmu kesini. Lebih baik kau meminta Soojung untuk mengantar.”

Jiyeon—sang wanita—berdecak dan terkekeh kecil, kemudian melepaskan tubuhnya di penjarakan oleh lengan kekar Myungsoo dengan paksa. “Aku tidak semanja itu Myungsoo. Aku bisa sendiri. Lagipula jika aku meminta Soojung, aku akan merepotkannya.”

Myungsoo berdesis. Dia tidak menyukai sifat wanita-nya yang selalu merasa merepotkan orang-orang di sekitarnya. “Soojung tidak akan pernah menolak sayang. Aku mohon, lain kali tolong minta bantuan dari Soojung. Kau membuatku begitu gelisah.” Pesan nya lagi.

Jiyeon mengangguk lemah. Di taruhnya tongkat penyangga yang membantu wanita itu untuk berjalan. Kemudian menaruh pula kedua tangan kurus miliknya di atas rok yang dikenakan. Sebuah senyuman manis terpantri di wajah Jiyeon, membuat siapapun yang melihat akan terpesona akan senyuman manis serta tulus itu.

Salah satu tangan nya terangkat, meraba-raba wajah Myungsoo menggunakan ruas jemarinya. “Walau aku tidak bisa melihat, tapi aku yakin kau adalah pria yang tampan Myungsoo.” Puji Jiyeon. Menganggumi betapa tampan nya wajah sang terkasih, meski dia tidak tahu betapa tampan nya rupa itu.

Wajah Myungsoo seketika datar seperti tembok saat perkataan tadi di ucapkan kekasihnya, namun dia menikmati elusan tangan Jiyeon yang bergerilya di pipi nya. Hati nya seakan mencelos mendengar, rongga paru-parunya menyempit sekarang. Sempit sekali dan sesak. “Aku mohon Jiyeon jangan berbicara seperti itu!”

Gerak tangan itu seketika terhenti. Telinga nya yang masih berfungsi dengan menangkapnya. Myungsoo berucap dengan nada tinggi. “Tapi aku hanya mengatakan sesuai kenyataan Myungsoo,” ujar Jiyeon. Segeralah dia balikan tubuh ke depan. “Rasanya aku ingin melihat keindahan pahatan wajahmu Myungsoo, pasti banyak yang menyukaimu.” Ia melanjut, sebuah senyuman tulus tersungging.

“Jiyeon!” Tangan itu kembali mendekap tubuh ringkih Jiyeon. Aroma strawberry menguar dari tubuh sang terkasih. Aroma kesukaan Myungsoo dan sudah akrab dengan indera penciuman nya. Di kecupnya pucuk kepala Jiyeon. “Jangan berbicara seperti itu, kau bisa melihatnya Jiyeon! Meski secara tidak langsung.”

“Baiklah Myungsoo.”

Di lepasnya dekapan itu. Keheningan melanda keduanya. Myungsoo mengalihkan pandangan kearah sang rembulan yang bersinar cerah di atas sana. Baginya, bulan itu seperti Jiyeon. Meski bentuknya bulat dan warna yang abu-abu penuh dengan lubang-lubang jika dilihat secara langsung—jika kita berada di luar angkasa. Tapi sinarnya mampu menyinari malam ini, seperti Jiyeon yang memancarkan sebuah sinar yang terang.

Jiyeon, sang wanita hanya memainkan jemari tangan nya. Tidak menikmati atas keindahan disini. Dia tersenyum miris. Di matanya hanya tampak sebuah kegelepan dan kekelaman, belum menemukan sebuah titik cahaya.

Kim Myungsoo dan Park Jiyeon.

Kedua insan manusia yang terlibat dalam permainan takdir ini sudah menjalin hubungan dewasa sejak dua tahun yang lalu. Keduanya belum merencakan sebuah pernikahan dan menunda nya dahulu. Karena menurut keduanya, pernikahan harus dalam pemikiran yang matang. Bukan permainan yang hanya ingin mendapat kesenangan belaka.

“Jiyeon?”

Suara baritone Myungsoo menyadarkan sang wanita dari lamunan panjang nya. Jiyeon hanya merasa kalau kepalanya untuk menyentuh salah satu anggota tubuh Myungsoo, insting-nya mengatakan itu bahu lebar milik kekasihnya. Tangan Myungsoo memoles surai ebony-nya dengan kelembutannya.

“Sekarang aku tengah berdampingan dengan seorang Dewi. Mungkin aku sempat mengira dia adalah Dewi Aphrodite, karena wajahnya yang sangat cantik juga manis bahkan hampir terkalahkan oleh kecantikan Aphrodite. Tapi ternyata dia juga manusia yang tidak mempunyai kekuasaan, sama sepertiku,” Myungsoo berujar namun terhenti sejenak. “Dia itu adalah seorang Dewi yang di utus Tuhan untukku dan mewarnai hariku.”

Di peluknya Jiyeon dari samping. Sang wanita hanya bisa menikmati setiap perlakuan yang dilakukan Myungsoo. Membuatnya begitu nyaman. Perlahan, Jiyeon menarik kedua sudut bibirnya. Senyum yang sempat memudar sekarang kembali tampak. Kata-kata Myungsoo tadi sungguh sangat manis sekali, rasanya kedua pipi Jiyeon memunculkan sebuah semburat berwarna merah jambu di kedua pipi mereka.

Myungsoo menahan tawanya. Segeralah dia angkat dagu Jiyeon dengan hati-hati, untuk lebih menelusuri seluk-beluk wajah manis ini. Dia tahu Jiyeon merespon perbuatannya. Di tatapnya kedua mata itu dalam, walau sang wanita tidak dapat membalasnya. “Sekarang aku melihat sosoknya. Lihat! Di kedua pipi nya terdapat warna merah, semakin manis saja ya!” Myungsoo menyentuh pipi Jiyeon.

“Myungsoo!!!”

Dengan sekuat tenaga walau akhirnya menimbulkan rasa sakit, Jiyeon menjauhkan wajahnya dari Myungsoo. Ucapan sang pria malah akan membuat kedua pipi nya semakin panas bukannya mereda! Pria itu memang terkadang suka sekali bersikap menyebalkan, anehnya Jiyeon menyukainya.

Myungsoo terkikik geli. Kelakuan wanita-nya yang sangat polos serta menggemaskan membuat tangan Myungsoo gatal, terasa ingin mencubit hidung serta pipinya. “Astaga, Park Jiyeon!” Myungsoo kembali menyatukan tangan mereka berdua yang sempat berpisah dan merangkul bahu milik sang gadis.

“Myungsoo, kau tahu. Rasanya aku sangat beruntung bisa memilikimu.” Ujar Jiyeon sambil membalas pelukan Myungsoo. Mereka saling berbagi kehangat ditengah keheningan malam. Jiyeon menyukai ini.

Sang pria Kim ini menghela napas panjang. Entah kenapa dada nya sekarang di penuhi oleh kupu-kupu yang berterbangan disana. Senang sekali mendengar ucapan sederhana Jiyeon, namun begitu bermaksa bagi Myungsoo. “Apalagi aku Jiyeon. Sangat beruntung bila bisa dipersatukan oleh wanita yang sangat baik sepertimu.”

Perlahan, senyuman Jiyeon memudar. Deretan kalimat yang terucap dari belah bibir Myungsoo rasanya membuat hatinya mencelos. Sakit dan sesak yang dirasa. Baginya, ucapan tadi bermakna lain. Sedikit dia renggangkan balasan pelukan. Jiyeon tidak menjawab.

Myungsoo belum menangkap balasan dari Jiyeon. Dia segera melihat ke rupa wajah sang kekasih, pandangan gadisnya meredup dengan wajah datar dan tidak ada senyum sama sekali. Padahal sebelumnya, sebuah lengkungan bibir selalu menghiasi wajah Jiyeon. Juga, tangan gadis itu yang merenggang.

Dan dia merasa ada berubah dengan sikap Jiyeon sekarang, semenjak dia berucap terakhir tadi. Maka dari itu sekarang Myungsoo tengah mencerna setiap deretan kalimat tadi, mengoreksinya kembali. Takutnya ada kosa kata yang salah dan mengakibatkan makna lain bagi Jiyeon.

YA!

Myungsoo tertegun. Benar saja. Ucapan tadi benar-benar ada sedikit kesalahan. Kalimat itu telah berhasil memenjarakan Jiyeon dalam takdirnya yang buruk. Namun gadis itu begitu menerimanya dengan ikhlas, tapi dia selalu menjalani hidup ini dengan penuh semangat. Tanpa henti, Myungsoo merutuki kebodohan nya. “Maaf Jiyeon.” Gumam Myungsoo.

“Ibu Ayah, kenapa semuanya begitu gelap? Aku tidak bisa melihat apa-apa. Ayolah salah satu dari kalian masih ingin menjahiliku sehingga mematikan lampu bukan?”

“Myungsoo, maafkan aku?” suara Jiyeon bernada lemah menyapa lembut telinga Myungsoo. Di jauhkan segera tubuhnya dari dekapan Myungsoo sehingga terlepas, jarak diantara mereka terjauh.

Alis tebal yang bersembunyi di poni magenta-nya mendekat satu sama lain, sebuah tanda kalau dia merasa keheranan. “Hey, kau kenapa Jiyeon? Bukankah kau tidak pernah melakukan kesalahan padaku kenapa harus meminta maaf?” di angkatnya kembali dagu Jiyeon. Pandangan Myungsoo menjauhi Jiyeon sesaat sebelum menatapnya kembali.

“Aku bukan wanita yang sempurna Myungsoo. Aku tahu kita harus menunda pernikahan. Tapi kenapa kau masih memilihku?! Kenapa kau tidak melepasku saja? Aku tidak sepadan lagi denganmu Kim Myungsoo yang sempurna!” Jiyeon berdiri, tadi dia berucap dengan nada tinggi. “Seorang gadis buta… Sepertiku, tidak pantas bersanding dengan orang setampan dan sekaya Kim Myungsoo.”

Pandangan lembut berubah menjadi pandangan tajam. Myungsoo berdiri. Sungguh, apakah telinganya tidak bermalah sekarang? Kalau dia akhirnya Jiyeon mengatakan seperti itu, Tuhan harusnya menulikan telinganya agar tidak mendengar kalimat menyakitkan itu.

“A-apa yang kau katakan Jiyeon? Jangan berbicara sembarangan! Apakah kau sedang mabuk?” Di pegangnya tangan Jiyeon, namun segera di tepisnya dengan kasar.

“Berhenti berkata seakan kau kasihan padaku Kim Myungsoo! Aku tidak membutuhkan seseorang yang hanya mengasihaniku dan secara terpaksa menjalin hubungan! Aku tidak suka di bohongi!” Kedua mata cantik itu tidak kuat lagi menaham sekumpulan air mata yang sudah mengenang di pelupuk mata miliknya. Pertahan Jiyeon runtuh sudah.

Tidak! Myungsoo sama sekali tidak terbeban dengan keadaan Jiyeon yang sudah tidak ‘sempurna’ lagi seperti sekarang. Semua ini malah membuatnya ingin lebih melindungi Jiyeon dan lebih memperluas kecintaan nya terhadap wanita itu.

“Aku tidak pernah bersikap seperti itu Park Jiyeon! Tidak pernah terlintas di benakmu kalau kau adalah beban bagiku sekarang, tidak!” Sang pria Kim berusaha menetralkan napasnya yang tidak beraturan, dia takut malah membentak Jiyeon. Walaupun akhirnya akan tersulut emosi juga. “Apakah kau tidak pernah melihat ketulusan dari mataku Jiyeon?”

[Kau adalah pria yang paling bodoh Kim Myungsoo]

Kim Myungsoo bodoh! Batin nya. Kembali merutuki diri sendiri, perkataan yang sebelumnya harus dirangsang oleh otak kemudian di keluarkan lewat ucapan. Ucapan nya tadi tidak bisa terkontrol sama sekali. Perkataan nya sungguh frontal dan tanpa menyaringnya untuk lebih jernih lagi.

Jiyeon berbalik. Salah satu sudut bibirnya terangkat sempurna, senyuman sinis. Baru kali ini Myungsoo melihat betapa menyeramkannya senyuman itu, sebelumnya Jiyeon tidak pernah menunjukannya. Hanya sebuah senyum tulus yang kerap di lihat Myungsoo. Bukan senyuman seperti ini.

See? Kau sendiri yang berkata seperti itu? Jadi tak perlu mengelak lagi kalau kau hanya menganggap aku selama ini sebagai beban!” kata Jiyeon tenang. Tangan miliknya yang diam sekarang bergerak kembali, meraba-raba sebelahnya untuk menemukan tongkat yang selama ini telah membantu dalam berjalan.

Dalam hati Jiyeon bersorak. Tangannya berhasil mendapatkan benda panjang yang di carinya. Namun, air mata terus mengalir deras dari pelupuk matanya. Masih tidak percaya jika akhirnya ucapan ‘kotor’ itu keluar langsung dari bibir Myungsoo. Ternyata selama ini, pria itu tidak mencintainya lagi semenjak ‘mimpi buruk’ Jiyeon di mulai. Hanya memanfaatkannya sebagai butiran debu yang tidak berarti.

Tongkat berwarna batang kayu itu di gerakan Jiyeon, berpindah tempat dengan cekatannya. Gadis itu melangkah perlahan. Untuk menjauhi Myungsoo dan meninggalkan status mereka yang sekarang ini sudah tidak jelas lagi.

Mata elang Myungsoo meredup. Memandangi punggung Jiyeon yang menjauhinya perlahan. Namun sebuah cahaya yang sebelumnya memudar kembali bersinar terang dalam hati kelam Myungsoo, memberi kesempatan bagi sang manusia untuk menggapai semuanya sebelum terlambat. Pria Kim membulatkan tekadnya. Menyusul sang—hmm, apakah masih pantas di terkasih?

“Aku mohon Jiyeon, jangan tinggalkan aku.”

Myungsoo memeluk Jiyeon dari belakang. Untuk menghalangi sang gadis dalam melangkah. Di dekapnya erat seolah tidak mau melepaskannya lebih jauh lagi. “A-aku tidak sengaja mengatakannya Jiyeon. Aku mohon, berilah aku kesempatan satu kali lagi dan aku akan memperlakukanmu dengan baik. Malah lebih baik lagi.”

Tubuh itu dan kaki itu terasa melemas sempurna kala tubuh Myungsoo berhasil menubruknya kemudian memeluk dengan sangat erat. Bisa dirasakan Jiyeon, deru napas tenang Myungsoo di belakang punggungnya. Tubuhnya sendiri rendah. “Baiklah,” ucapnya lirih.

Helaan napas lega dikeluarkan Myungsoo. Dibalikannya dengan hati-hati tubuh Jiyeon yang melemah, menuntun gadis itu untuk memulai kembali pembicaraan mereka yang sempat terpotong dengan sebuah peristiwa, sempat membuat hati keduanya hancur berantakan namun mereka berhasil untuk menyusun dan kemudian menyatukan hati itu kembali.

Jiyeon mengambil napas. “Uh! Alangkah indahnya jika aku bisa melihat kembali langit malam ini. Sekarang saja aku tidak tahu apakah keindahanya masih ada atau malah menjadi lebih bertambah?” sang wanita memulai percakapan dengan sedikit gurauan, untuk memecah keheningan diantara keduanya yang sempat ada beberapa detik.

“Bertambah indah Jiyeon. Aku melihat bintang disana bersinar dengan terangnya, seakan ingin banyak orang yang melihat betapa indahnya dia dan juga kehebatan Tuhan. Ah, jangan lupakan bulan itu juga yang tidak pernah dikalahkan oleh sang teman sendiri.” Sahut Myungsoo. Tangan nya sedikit terangkat ke udara hanya untuk menunjuk kedua benda langit itu, meski…. Jiyeon tidak melihatnya.

Semenjak kejadian ‘itu’ membuat hari-hari tidak indah harus dilewati Jiyeon. Tapi dia harus menerimanya, walau sebenarnya kejadian ‘itu’ memang dia sendiri yang lalai melakukannya. Jiyeon mencoba menerimanya dengan ikhlas tanpa penyesalan. Semua dilakukannya dengan hati yang riang hanya untuk mencoba melupakannya.

Namun semuanya bagaikan film di bioskop yang terus diputar dan di putar tanpa tahu kapan penayangan nya selesai. Membuat Jiyeon harus kembali menonton film itu dengan hati yang berserakan.

Saat itu langit memang sedang dituruni embun dan entah kenapa. Rumahnya memang berada di komplek perumahan yang sepi, namun begitu nyaman ditinggali karena jauh dari jalan raya yang berisik. Sehingga banyak para pengusaha atau pejabat memilih tinggal disana untuk menjernihkan pikiran mereka.

Dan sebuah kecelakaan tragis menimpa Jiyeon. Sebuah truk besar penabraknya sehingga kehilangan kendali dan menabrak sebuah pohon besar, tubuhnya sedikit terpental hingga mengenai salah satu serpihan kaca yang pecah. Mengenai matanya.

“Myungsoo aku tidak sempurna? Masih maukah kau menerimaku sebagai pendampingku tanpa ada paksaaan?” Di pegangnya kedua tangan Myungsoo dengan erat, meski bola matanya tidak dapat melihat mata elang Myungsoo. “A-aku hanya menginginkan sebuah ketulusan saja Myungsoo tidak lebih.”

Kedua lengkungan bibir bernama senyuman itu berhasil kembali terpahat diwajah tampan Myungsoo. Tangan nya terangkat, memoles surai Jiyeon dengan kelembutan nya. Kemudian memeluk gadis itu juga mengusap punggungnya.

“Aku menerimamu apa ada nya Jiyeon. Hati, pikiranku serta semuanya hanya tertuju pada satu wanita bernama Park Jiyeon. Aku tidak perduli apa kata orang-orang disana terhadapmu. Yang pasti semua itu malah menjadi tantangan tersendiri bagiku untuk lebih sabar, melindungimu, juga semakin membuka lebar hatiku kepadamu. Kau mengerti sayang?”

Di balasnya pelukan Myungsoo dengan erat. “A-aku mengerti Myungsoo. Terimakasih atas segalanya yang telah kau berikan kepadaku. Aku mencintaimu.”

“Aku lebih mencintaimu.”

.

.

.

Sebuah cinta tidak akan pernah memandang seberapa jeleknya orang itu.

Sebuah cinta hanya menginginkan ketulusan.

Cinta yang tulus adalah cinta yang abadi, sampai maut yang memisahkan sekalipun cinta tulus itu akan tetap hidup.

END

Hallo! Aku author baru disini, semoga pada suka sama alur nya. Meski aku yakin ini GJ, tapi semoga aja kalian ngerti dan nikmatin nya ^^ Setelah baca, hmm jangan lupa comment nya ya? Sangat di tunggu lho!! ^^

28 responses to “[One Shot] The Night

  1. terharuu guee bacanyaaa, author nyaa daebak 👍👍
    myungsoo oppa mauu nrima keadaan jiyeon eonni apa adanyaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s