[CHAPTER 2 – I Hate My Sister] What Should I Do, Then?

image

redvelvs presents~~

[CHAPTER 2 – I HATE MY SISTER] What Should I Do, Then?
With Jiyeon, Myungsoo and Chorong as the main casts.
Romance, family, etc.

Holla~ maaf baru post sekarangㅠ.ㅠ aku harus rombak berkali-kali biar bisa bagus T_T mianae.. nah, buat yang penasaran sama chapter 2, langsung dibaca, ya^^ happy reading! Dont forget to comment and like!♥

Jiyeon melangkah keluar dari rumah dengan tangan kiri menjinjing tas dan tangan kanan memegang ponsel dan dompet. Ia tak tahu mau kemana. Matahari sudah hampir terbenam, dan sang kakak mengusirnya dari rumah?

Jiyeon hanya mengikuti langkahnya. Ia tak tahu kemana kedua kaki jenjangnya itu akan membawanya pergi. Dan sampailah ia di sebuah taman. Taman yang kecil, tapi nyaman untuk dipandang mata. Ia duduk disebuah kursi taman. Jiyeon meratapi nasibnya sendiri. Aku harus bagaimana? Kakakku sungguh kejam. Aku bahkan tak tahu apa-apa,

Sudah makan?

-Kim Myungsoo

Makan? Aku saja sudah kesusahan. Bingung harus kemana lagi. Walaupun perutku sudah berbunyi dari tadi, batin Jiyeon. Jiyeon hanya membalas dengan sebuah kata.

Belum.

Jiyeon memasukkan ponsel ke saku jaketnya, dan segera meninggalkan taman. Ia akan menginap di motel malam ini.

—-.

Langit sudah gelap. Bintang dan bulan sudah ada di langit sejak 15 menit yang lalu. Jiyeon masih berjalan kaki menuju motel yang akan ia tinggali. Entah sampai kapan ia akan tinggal disitu. “Park Jiyeon!”

Jiyeon menoleh ke samping, dan ia mendapati Myungsoo bersama 2 teman lelaki, dan 3 anak perempuan lainnya. Dan ia melihat kakaknya. “Sedang apa kau disini? Kau belum makan ‘kan? Ini sudah malam, Jiyeon-a,”

Jiyeon tersenyum miris. Ia tahu bahwa ia belum makan. Dan ia tak perlu diingatkan. Ia sedang tak mood untuk makan. “Kau bawa apa di tangan kirimu? Sepertinya banyak sekali,”

“Oh? Eh, iya.. aku akan pergi menginap di rumah temanku,” bohong Jiyeon. “Baiklah, senang-senanglah dengan temanmu, Jiyeon. Kami pergi dulu, annyeong!”

Jiyeon melangkah pergi menuju motel itu. Nama motel itu terpampang jelas di depan gedung. “Eoseo oseyo (selamat datang). Ada yang bisa dibantu?” Jiyeon tersenyum simpul. “Ne, satu kamar standar.” Jawabnya singkat. “Maaf, kamar di sini sudah penuh. Tidak ada yang tersisa. Semua kamar sudah direserved oleh tamu. Kami mohon maaf,”

Lagi-lagi, nasibku.. Ia pergi melangkah keluar dari motel yang cukup ramai itu. Ia sekarang bingung. Ia sudah tak ada tujuan. Ia sudah kelaparan. Sebaiknya aku cari makan dahulu.

—-.

“Ah, enaknya,” komentar Jiyeon saat mencicipi makanan yang dipesannya. Ia sedang makan disebuah restoran Jepang yang sering ia kunjungi bersama sang kakak. Ia mencapit sebuah gyoza dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Ia mengunyah dan ia tersedak melihat siapa yang menghampirinya. Myungsoo dengan Chorong.

“Jiyeon? Kau makan sendiri? Kau bilang, kau akan ke rumah temanmu?” Interogasi Myungsoo. “Ah.. ne,” ia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. “Kami melihatmu saat kami sedang arah pulang,” jelas Myungsoo. Jiyeon hanya bisa mengangguk.

“Aku pulang duluan,” Chorong meninggalkan mereka berdua di restoran tersebut. “Ada apa dengannya?” Tanya Myungsoo bingung. “Apa aku sudah berkata sesuatu yang salah?”

“Aku.. aku bertengkar dengannya,” gumam Jiyeon. “Ber.. bertengkar? Bagaimana bisa?” Jiyeon hanya menggeleng singkat lalu tersenyum. Ia kembali sibuk dengan makanannya. Myungsoo duduk tepat di depan Jiyeon.

“Coba jelaskan. Mengapa kalian bertengkar?” Jiyeon yang sedang sibuk makan menatap mata Myungsoo dengan ragu. “Aniyo, sunbae. Tidak ada apa-apa. Tenang saja,”

“Ya sudah, cepat habiskan. Aku akan mengantarmu pulang,” Sahut Myungsoo. Ia tersenyum pada Jiyeon. “Tidak usah repot-repot. Sunbae tak perlu mengantarku pulang. Aku bisa pulang sendiri,” balas Jiyeon tak enak. “Tidak baik seorang gadis pulang ke rumah sendiri di malam hari.”

Perhatian sekali, sunbae ini. “Dan oh, jangan panggil aku ‘sunbae‘. Panggil aku ‘Oppa‘. Aratji?” Jiyeon mengangguk kikuk. “Pintar,” puji Myungsoo yang sedang mengacak-acak rambut Jiyeon. Myungsoo sangat mirip dengan Appa. Entah mengapa. Mungkin dari sikapnya yang sangat perhatian itu.

—-.

Sun.. eh, Oppa, aku pulang sendiri saja. Aku sudah cukup merepotkanmu,” Myungsoo menggeleng ringan. “Tidak, Park Jiyeon. Aku akan mengantarmu pulang. Memang kenapa kalau aku ingin mengantarmu? Tidak boleh?”

“Ah, aniya.. bukan begitu,” aish, satu manusia ini sungguh repot. Tapi, aku suka. “Ya sudah, ayo jalan,” Saat keduanya berjalan, Myungsoo melihat Jiyeon menggigil kedinginan. Jiyeon tak kuat dengan dinginnya angin malam. “Kau kedinginan?”

“Ah, tidak..” sanggah Jiyeon. “Gotjimal! Lihat, bibirmu bergetar,” Myungsoo langsung melepas jaketnya, dan mengenakkannya kepada Jiyeon. “Sudah hangat?” Jiyeon terpana dengan semua ini. Lelaki yang disukanya sangat perhatian kepadanya? Oh, ini seperti dongeng.

“Iya.. gomawo. Kau tak kedinginan?” Jiyeon balas bertanya. Myungsoo hanya mengenakan sebuah pakaian tangan panjang yang tipis. Sedangkan udara sudah sangat dingin. “Ya, gwaenchana. Aku tak kedinginan,”

Jiyeon melepas jaket Myungsoo dan memakaikannya untuk sang pemilik jaket tersebut. Apa yang sudah kau lakukan, Park Jiyeon? Aish, memalukan. “Bagaimana denganmu? Kau bisa kedinginan kalau begitu,” tegur Myungsoo. Ia melepas jaketnya kembali dan memakaikannya lagi untuk Jiyeon. Ia memeluk punggung Jiyeon dari belakang.

Ada apa denganku? Kenapa aku merasa wajahku memanas? Hey, ada apa denganku? “Jiyeon-a, jangan dilepas, aratji? Kau terlihat tersiksa karena udara malam. Ayo jalan,” Bagaimana bisa aku tertarik pada lelaki yang diincar kakakku? Aku harus bagaimana?

“Aku.. aku tak bisa pulang ke rumah malam ini,” ucap Jiyeon. “Wae? Karena bertengkar dengan kakakmu? Ya sudah, tinggallah bersamaku malam ini.” Jiyeon membulatkan matanya. “M-mworago? Denganmu? Kau gila, Oppa?”

Ya, bukan hanya aku sendiri. Ada adikku dan orangtuaku. Tenang saja. Kami masih punya kamar kosong di sebelah kamar adikku.” Jiyeon menangguk mengerti. Ia malu dengan apa yang sudah ia katakan. Ia menepuk kepalanya berkali-kali dengan menggumamkan, “Park Jiyeon bodoh.”

“Hey, kepalamu bisa sakit kalau seperti itu.” Myungsoo menghentikan gerakan Jiyeon yang dianggapnya bodoh. Ia mendekati Jiyeon dan mengusap kepala Jiyeon yang ia pukuli sedari tadi. Lagi-lagi ia perhatian padaku. Apa hanya padaku saja? Oh, ya Tuhan.. apa yang terjadi padaku? Jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya.

—-.

Annyeonghasimnikka. Jeoneun Jiyeon imnida.” Jiyeon memperkenalkan diri pada keluarga Myungsoo yang sedang asyik menonton di ruang keluarga. “Oh, ne. Kau kekasih Myungsoo?” Tanya Eomma Kim pada Jiyeon. “Aniyo.. aku adik kelas Myungsoo, ahjumma.”

“Oh, geurae. Mengapa kau kesini, Jiyeon?” Tanya Appa Kim. “Jiyeon sedang bertengkar dengan kakaknya. Jadi, ia diusir dari rumah. Ia tak punya tempat tinggal lain. Jadi aku mengajaknya kemari.” Jelas Myungsoo. “Oh begitu. Ya sudah, Yeri-ya, siapkan kamar untuk Jiyeon. Kamar sebelahmu. Dan Jiyeon-a, anggap saja rumah sendiri.”

Wah, baik sekali. Apa semua ibu seperti itu? Aku belum pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu. “Gamsahamnida, Ahjussi, Ahjumma, dan Yeri-ssi telah menerimaku untuk tinggal disini malam ini,” Appa dan Eomma Kim tersenyum tulus padaku. “Ne, lagipula besok libur. Jadi, bangunlah sesukamu. Besok, aku akan membuatkanmu sarapan,” Jelas Eomma Kim. “Gamsahamnida, Ahjumma. Saya ke kamar dahulu, kalau begitu. Selamat malam,”

—-.

Setelah dipandu oleh Myungsoo menuju kamar yang telah disiapkan oleh Yeri, aku langsung berganti baju dengan baju piyama. Kamar ini kecil, tapi sangat nyaman. Lebih nyaman dari kamarku sendiri.

Tok, tok..
“Jiyeon-a, boleh aku masuk?”
Ne, masuklah, Oppa.

“Jiyeon, karena aku sudah mengizinkanmu tinggal di rumahku, ceritakanlah masalahmu. Mengapa kau bertengkar dengan Chorong?” Jiyeon menghela nafasnya. Ia menceritakan apa yang terjadi. Dan sepertinya, Myungsoo harus tahu Chorong menyukainya. Benarkah begitu?

“Oh begitu. Aku baru tahu setelah mendengar ceritamu. Ya sudah, kau bisa tinggal disini sampai kau berbaikan dengan kakakmu. Aku akan membantumu untuk berbaikan dengan kakakmu. Tenang saja.. aku seperti cupid ya? Hahaha,” aku tertawa singkat lalu ia menyela. “Sudah malam, istirahatlah. Aku keluar dulu,”

“Baiklah, Oppa. Selamat malam. Mimpi indah,” sahut Jiyeon. “Ya, aku akan mimpi indah kalau dimimpiku kau dengan kakakmu berbaikan seperti sebelum-sebelumnya. Selamat malam,”

Myungsoo Oppa ada-ada saja. Ia menghiburku dikala aku frustasi seperti ini. Ia pangeranku. Aku menyukainya. Saat aku hendak mematikan lampu, aku melihat sebuah surat terselip di bawah pintu.

Dari: Myungsoo^^

Jiyeon-a, tidurlah dengan nyenyak. Mimpikan aku~ Bangunlah pagi, lalu kita bisa jogging bersama. Terserah kau, mau bangun pukul berapa, aku akan menunggumu untuk jogging bersama, OK?😉

Myungsoo Oppa, aku menyukaimu. Lalu, aku harus bagaimana? Apa aku harus menyerah dalam cinta ini? Apa aku harus? Demi kakakku? Begitukah? Sungguh, aku tak tahu harus berbuat apa..

Jiyeon terlelap di kasur setelah membaca surat Myungsoo. Myungsoo membuka pintu kamar Jiyeon, dan mengintip dari celah pintu. “Tidurlah yang nyenyak. Aku tak tahu bahwa aku menyukaimu. Jadi begini caraku untuk membantumu. Aku harap, aku ada di hatimu, Park Jiyeon,” gumamnya pelan.

-TBC-

Eotteoke? Kurang memuaskan kah? Kurang panjang? Apa alurnya kecepetan? Maaf kalau begitu ㅠ_ㅠ ditunggu chapter berikutnya yaa ^^)/

59 responses to “[CHAPTER 2 – I Hate My Sister] What Should I Do, Then?

  1. ya ampun.. chorong segitunya
    jiyeon smpe diusir.. gak ada apa kasian sama jiyeon tidur di luar sana..
    tapi myungsoo lah penyelamatnya.. yeeay
    lanjuut..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s