[ONESHOOT] Still.

PicsArt_1432440557665

Author : MJS

Title : Still.

Main Cast : T-ARA’s Jiyeon – INFINITE’s L – F(x)’s Krystal.

Other Cast : Lovelyz’s Jin – GOT7’s Jr.

Genre : romance, sad.

Lenght : Oneshoot.

Rating : T.

Banyak orang bilang bahwa cinta itu datang karena terbiasa, aku sendiri telah mengalaminya. —Jiyeon.

-•-

Jiyeon memainkan kuku-kuku jarinya sambil bersenandung disalah satu dinding yang dijadikan sandarannya. Beberapa kali Ia melihat jam tangannya dan menghela nafas. Sudah pukul 9am. Namun sosok yang dinantinya belum datang.

CLINGG.

Dengan sigap Jiyeon langsung berdiri tegak dan membungkukkan tubuhnya mengira salah satu pengunjung datang. Namun ternyata Ia adalah sosok yang ditunggunya sedaritadi.

Jiyeon tersenyum dan menyapanya, “Oh, Myungsoo-ssi. Biasanya jam 8 kau sudah sampai.” cibirnya. Myungsoo hanya tersenyum geli lalu menjawab, “Eommaku tiba-tiba datang ke Korea.”

Jiyeon mengangguk paham sambil mengikuti Myungsoo yang berjalan ke salah satu meja. Ia langsung menyahut, “Seperti biasa kan? 2 Americano. Akan kusiapkan.” Myungsoo hanya tersenyum dan mengangguk.

Jiyeon berlari kecil dan membuatkan americano untuk Myungsoo. Ia sesekali menatap kearah Myungsoo yang kini sibuk membaca buku dan beberapa menatap lemah kearah jendela.

Jujur saja, sampai sekarang Jiyeon masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengenai Myungsoo. Kenapa namja itu selalu datang ke tempat Jiyeon bekerja sampingan ini pada pukul 8 pagi dan kembali pada pukul 3 sore. Selama 7 jam Ia hanya duduk, membaca, dan melamun. Bahkan Jiyeon juga tidak mengerti mengapa Myungsoo selalu memesan 2 americano, namun Ia hanya meminum salah satunya saja.

Jiyeon segera menaruhnya diatas meja, “Boleh aku duduk disini?” pintanya.

“Tentu,” balasnya tersenyum. Jiyeon mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja kemudian langsung memantapkan hatinya.

“Myungsoo, aku boleh bertanya?” Lagi-lagi Myungsoo hanya mengangguk dan tersenyum. Jiyeon menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Hanya saat ini kesempatan yang dimiliki.

“Kenapa kau selalu memesan 2 americano sementara yang kau minum hanya satu? Kau juga selalu datang dan pulang pada waktu yang sama.” Myungsoo tersenyum dan menaruh americanonya diatas meja.

“Kau pernah mencintai seseorang dan Ia menyuruhmu menunggunya? Itulah yang kulakukan. Aku menunggunya kembali, entah kapan. Academics Cafe inilah tempat kami selalu bertemu. Pada waktu yang sama juga. Aku dan dia sama sama disibukkan dengan urusan kami. Sudah sekitar 3 tahun aku menunggu. Dan aku baru melihatmu bulan lalu.”

Jiyeon menelan ludahnya. Dramatis sekali. Tapi mengesankan. Baru pertama kali Ia menemui namja seperti Myungsoo. Bahkan Myungsoo masih mau menunggu yeojanya yang sama sekali tak Ia ketahui keadaannya.

“Ah, sebenarnya aku sudah hampir 1 tahun bekerja disini. Hanya saja baru kali ini aku bertukar shift dengan temanku.”

“Semenjak kehadiranmu, aku tak lagi merasa kesepian.” Jiyeon tersenyum malu namun tetap berusaha tenang.

“Myungsoo, kau keberatan tidak kalau aku-” Jiyeon menjadi ragu untuk melanjutkan kata-katanya namun Myungsoo masih saja tersenyum menatapnya.

“kalau aku- yang akan menemanimu selama kau menunggu yeojamu?” Jiyeon menggigit bibir bawahnya setelah menatap Myungsoo yang hanya terdiam tanpa tersenyum padanya seperti tadi.

“Ah, aku salah bicara ya? Lupakan saja.” ujarnya tertawa canggung dan bangkit berdiri. Namun pada saat itu juga Myungsoo bersuara, “Aku akan merasa senang sekali, Jiyeon.”

-•-

“Jinyoung, boleh aku bertukar shift denganmu hingga seterusnya?” Jinyoung mengangkat alisnya heran.

“Tak biasanya. Kau kan paling malas bangun pagi.” Jiyeon hanya tersenyum memohon. Namun Jinyoung langsung mengiyakannya saja. Pembagian shift tak masalah baginya.

“Aku melihat perubahanmu semenjak kehadiran Myungsoo.” sindir Myungeun. Jiyeo  hanya menyengir mendengar pernyataan sahabatnya.

“Myungsoo? Myungsoo siapa?”

“Aku yakin kau pasti mengenalnya, Jinyoung. Pengunjung kita yang selalu datang pukul 8 pagi hingga pukul 3 sore dan membeli 2 americano untuk dirinya sendiri.” Jinyoung segera ber-Oh mengerti. Hampir seluruh pekerja disana mengetahui Myungsoo.

“Dulu Ia sering datang dengan seorang yeoja kan? Aku sudah bekerja disini sekitar 5 tahun dan aku yakin sudah sekitar 3 tahun aku tak melihat yeojanya. Apa mereka putus?” Jiyeon menggeleng lesu.

“Myungsoo masih menunggunya. Ia yakin Soojung akan datang.” jawabnya lemah. Baru beberapa hari setelah Myungsoo megatakan hal itu, Jiyeon telah jatuh hati pada Myungsoo. Namja itu sangat sempurna bagi Jiyeon.

Jiyeon termenung. Bagaimana jika yeoja itu kembali sebelum Jiyeon membuat Myungsoo dapat merasakan perasaannya? Sepertinya Ia punya satu pertanyaan lagi yang akan Ia berikan bagi Myungsoo.

-•-

“Myungsoo, apa jika yeojamu kembali kau akan berkunjung kembali kesini?”

“Tempat ini sudah menjadi tempat kenangan aku dengannya. Tentu saja aku sudah menganggap tempat ini sangat berharga. Aku takkan melupakan tempat ini. termasuk kau Jiyeon.” Pernyataan Myungsoo membuat Jiyeon kembali tersenyum dan menatap Myungsoo penuh harap.

“Sejujurnya, aku tak lagi yakin apakah Soojung akan kembali atau tidak.” Jiyeon mendengar suara Myungsoo yang terdengar lemah. Myungsoo benar-benar mencintai Soojung. Ini membuat Jiyeon tak berani menyatakan perasaannya dan menambah beban dipikiran Myungsoo.

“Kenapa?”

“Ia sama sekali tak pernah memberikanku kabar. Ia hanya menyuruhku menunggu 3 tahun lalu. Di cafe ini. Ia mengatakan Ia akan datang. Tapi kenapa aku merasakan semua itu palsu.”

Jiyeon kembali merasakan secercah harapan untuk mendapatkan Myungsoo. Namun setiap kali mendengar suara Myungsoo yang lemah membuatnya semakin iba pada Myungsoo.

Lalu bagaimana dengan dirinya? Harus sampai kapan Jiyeon menunggu Myungsoo menyerah pada Soojung? Bagaimana jika akhirnya Myungsoo sama sekali tak menyadari bagaimana Jiyeon mencintainya? Bagaimana jika selama ini Myungsoo hanya menganggap Jiyeon datang hanya untuk menyemangatinya?

Kenapa mencintai harus sesakit ini? Yang Jiyeon tahu, cinta dapat membuat orang lain bahagia. Tapi kenapa Jiyeon lebih sering merasakan sakit ini?

“Mungkin Ia ingin mengetes kesetiaanmu.”

“Aku juga takkan sanggup jika harus bertahan tanpa dirinya. Setidaknya Ia perlu memberikan kabar padaku.” Jiyeon menghela nafasnya perlahan. Sungguh, Ia ingin menghindar dari Myungsoo dulu untuk saat ini. Ia tak sanggup mendengar bagaimana Myungsoo selalu memikirkan Soojung.

“Aku merasa-”

“Jiyeon! Bersihkan dapur dulu, Seulgi tak masuk hari ini.” sahut Myungeun cukup keras yang langsung dibalas anggukan Jiyeon.

“Sepertinya aku harus kembali bekerja.” Myungsoo hanya tersenyum dan mengangguk. Jiyeon segera menghela nafas dan langsung tersenyum berterima kasih pada Myungeun. Ia hanya mengangguk dan tersenyum.

Sebenarnya tak ada yang perlu dibersihkan didapur. Myungeun sudah menatap Jiyeon sedaritadi dan mengerti bagaimana sakitnya Jiyeon. Ia harus menghadapi cinta sepihak.

Myungeun berjalan perlahan menuju kemeja disamping meja Myungsoo. Lalu tercengang dan tak lama tersenyum penuh arti. Setidaknya Ia tahu satu hal yang sama sekali Jiyeon ketahui.

-•-

Jiyeon hanya bisa terdiam menatap Soojung yang memeluk Myungsoo erat. Myungsoo tak bisa terlihat oleh Jiyeon karena menghadap kearah lain. Namun Jiyeon tahu, Myungsoo tak kalah bahagianya.

“Gomawo, Jiyeon. Untuk menemaniku selama ini.” ujar Myungsoo tersenyum dan memeluk Jiyeon. Jiyeon tersentak kaget, namun Ia lalu tersenyum tipis dan membalas pelukan Myungsoo sambil menatap Soojung.

Soojung hanya mengangguk dan tersenyum pada Jiyeon. Setidaknya Jiyeon tahu mengapa Myungsoo menyukai Soojung, yeoja itu pengertian juga ramah.

Jiyeon menghela nafas dan menatap mereka lesu, “Kalian akan kembali kan?” Keduanya hanya tersenyum canggung lalu menjawab mungkin saja.

Myungeun dan Jinyoung menatap Jiyeon berusaha menyemangati. Jiyeon hanya tersenyum tipis dan mengangguk, “Aku baik-baik saja.” Jiyeon kembali menatap keluar jendela dimana Myungsoo tengah berpegangan tangan dengan Soojung.

Selamat tinggal Myungsoo.

-•-

Sudah dua minggu semenjak kepergian Myungsoo, Ia tak pernah kembali lagi. Menurut Myungeun, katanya mereka sudah pindah ke London dan menjalani hidup mereka. Jiyeon sudah mulai kembali lagi seperti biasa.

“Jiyeon, tolong pasang ini didepan.” perintah Myungeun memberikan sebuah poster besar pada Jiyeon. Jiyeon segera memasangnya lalu menatapnya puas. Salah satu kalimat membuatnya tersenyum.

Love is a ruthless game, unless you play it good and right. -Taylor Swift.

.

2 years later..

“Jinyoung-ah, meskipun kau sudah keluar. Seringlah berkunjung kesini ya?” pinta Myungeun sedih. Jiyeon hanya tersenyum geli. Myungeun memang selalu seperti ini.

“Pasti. Aku akan merindukan kalian. Selamat tinggal.” Keduanya melambaikan tangannya pada Jinyoung.

Sudah 2 tahun.

Dan Jiyeon masih menunggu Myungsoo.

Dan Myungsoo yang membuatnya seperti ini.

Myungsoo sendiri yang mengatakan bahwa Ia masih menunggu seseorang.

Jiyeon juga sedang menunggu seseorang.

Dan akan selalu menunggunya.

Meskipun mungkin saja Myungsoo sudah bahagia dengan Soojung.

Selama Myungsoo bahagia, Jiyeon juga akan bahagia. Sesederhana itu.

.

.

Myungeun tengah berjalan kearah samping meja Myungsoo begitu Jiyeon melangkahkan kakinya menuju dapur. Ia mulai mengelap meja itu dan terdengar Myungsoo bersuara.

“Aku merasa-“

“Aku merasa lebih membutuhkanmu, Jiyeon.” Myungeun tersentak kaget namun tetap bersikap tenang. Lagi-lagi Myungsoo bersuara pelan, “Aku rasa aku sudah mencintaimu.” Myungeun tersenyum. Myungsoo dan Jiyeon memiliki perasaan yang sama. Namun keduanya juga tak bisa mengungkapkannya.

.

.

Myungsoo hanya tersenyum tipis begitu Soojung memeluknya, Ia tak merasakan apapun. Lantas Ia langsung berbalik dan berbicara pada Jiyeon dan memeluknya.

Selamat tinggal Jiyeon.

.

.

.

END.

okee, sebenernya aku buat ff ini untuk menutupi janjiku untuk buat ff baru. ff nya memang udh kubuat, hanya saja aku blm nentuin judul yg pas. jadi aku buat ff oneshoot ini. sekalian juga, sehabis ini aku akan ukk, jadi belum bisa post ff lagi.

thankyou~~

38 responses to “[ONESHOOT] Still.

  1. Pda akhirnya mrk ttp tdk bersatu… emm.. pdhl myungsoo pny perasaan yang sama dgn jiyi… n smga penantian jiyi tdk sia2…

  2. Aaa padahal mereka saling suka, tpi kenapa mereka ga bisa ngungkapin perasaannya sih ><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s