[ CHAPTER – PART 3 ] A MINUTE OF HOPE

AOF

AMH

Tittle : A Minute of Hope

Author : gazasinta

Main Cast :

– Park Jiyeon as Jiyeon
– Kim Jaejoong as Dr Jae
– Kim Myungsoo as Myungsoo
– Bae Suzy as Suzy
– Jeo Min Seo as Park Jeo Min ( Jiyeon’s sister )

Extended Cast :

– Shin Goo as Seo Sin Goo ( Harabeoji )
– Kang Bo Ja as Halmeoni Kang ( Yongha’s mother )
– Park Won Sook as Won Sook ( Yongha’s sister )
– Yun Yoo Sun as Yoo Sun ( Jaejoong and Myungsoo’s mother )
– Kim Soo Ro as Soo Ro ( Jaeejong and Myungsoo’s father )
– Kim Mi Sook as Mi Sook ( Suzy’s mother )
– Kim Ji Young as Bibi Lee Eun Cha
– Lee Kwang soo as Kwang Soo
– Son Ye Jin as Seo Ye Jin ( Jiyeon and Jeo Min’s mother )
– Park Yong Ha as Yong Ha ( Jiyeon and Jeo Min’s father )

Genre : School, Family, Drama

Rating : PG-17

Poster created by @olivemoon2

Note : Mian jika aku melanjutkan A Minute of Hope duluan ketimbang CoT, kebetulan ide yang muncul untuk ini dulu….kekeke.

Kalo banyak siders author mau ngambek, minta ijin ica untuk hiatus 3 bulan.

Emang boleh thor ?

MAKSA ICA UNTUK BOLEHIN.

Seenak Jidatnya aja lu thor :p

Disclaimer : FF ini terinsprirasi dari Kdrama yang sangat menyentuh Thank You, tapi alur dan ceritanya pure milik author.

Sorry for typos , and happy reading ya guys!!!

“ Be a strong wall in the hard times and be a smilling sun in the good times. “

Previous part

“ Berikan ini untuk gadis itu “ Ucap Nana tersenyum bahagia, tidak menyangka ia menemukan seseorang yang dengan susah payah ia cari keberadaannya.

Jaejoong menoleh kearah belakang, dan mendapati yeoja yang tadi menahan langkahnya sedang menatap tak mengerti kearah Nana yang menunjuk sosoknya.

“ Apakah dia ? “ Tanya Jaejoong.

Nana menganggukkan kepala dan tersenyum bahagia, airmata haru menetes dari kedua matanya, satu beban telah terlepas, ia telah berhasil mempertemukan Jaejoong dengan seseorang yang harus dibantunya. Entah apa yang Nana rasakan, tiba-tiba ia merasa tubuhnya terasa dingin dan ringan, keringat membanjiri tubuhnya, Nana tidak dapat lagi merasakan hangatnya tubuh Jaejoong yang tiba-tiba mendekapnya erat, telinganya pun tidak lagi bisa menangkap suara-suara disekitarnya, ia hanya sadar Jaejoong begitu panik berteriak memanggil namanya dari gerakan bibir kekasihnya itu, dan ia hanya melihat wajah takut yeoja bernama Park Jiyeon yang melihatnya sedang meregang nyawa.

Nana, menghembuskan nafas terakhirnya dipelukan Jaejoong setelah berhasil mempertemukan Jaejoong dengan yeoja yang kelak harus Jaejoong tanggung hidupnya, demi membuat arwahnya tenang dan perasaan bersalah itu hilang.

Sementara Jiyeon terlihat syok, ia menutup mulutnya menyaksikan kematian dokter yang pernah menolong adiknya Jeo Min, sekarang Jiyeon merasa bingung, ia tidak mungkin meminta bantuan pada pria yang sedang dalam keadaan berduka ini.

Part 3 ~ A Minute of Hope

Pagi hari – pantai,

Hening, tak ada suara diantara keduanya – Jaejoong dan Jiyeon. Jaejoong tidak ingin menangis, tapi rasanya sangat sulit untuk menahan airmatanya untuk tidak mengalir. Bahu Jaejoong bergetar, tidak lagi terlihat sorot tajam yang biasa terpancar dari kedua matanya. Sekeras apapun sifatnya, ia tetaplah seorang manusia yang memiliki sisi lemah. Jaejoong mendekatkan wajahnya kearah Nana yang matanya telah terpejam, airmatanya jatuh diwajah Nana. Perlahan ia menciumi kening, mata hingga bibir wanita yang tubuhnya tidak lagi bernyawa itu bergantian, tidak nampak raut kesakitan ataupun kegelisahan diwajah Nana. Im Nana terlihat begitu damai melepas raga meninggalkan tubuhnya dalam dekapan Jaejoong.

Meski hanya jasad yang tertinggal, tidak membuat Jaejoong dengan mudah ingin melepaskan Nana, aroma khas tubuh Nana, seperti candu yang membuatnya ingin selalu bersama sosok wanita lembut dan cantik itu. Terakhir kalinya, ya ini adalah terakhir kalinya ia masih bisa merasakannya. Jaejoong akan sangat merindukannya, merindukan seorang wanita yang entah pada kehidupan keberapapun tidak akan mungkin pernah lagi ia temui.

“ Mianhae…jika aku selalu memintamu untuk bertahan, pergilah….aku merelakanmu…..meninggalkanku “ Ucap Jaejoong menahan kesedihannya, tangannya kemudian membelai lembut rambut Nana dan sekali lagi mencium keningnya mencurahkan semua yang ia rasakan “ Saranghae “

Sesak, Jiyeon meremas tepat bagian jantungnya, tak sadar airmatanya turut jatuh menyaksikan apa yang ada dihadapannya, ia tahu rasanya ditinggal orang yang begitu berharga dalam hidupnya. Tidak lagi ia temui wajah sombong dokter yang dulu pernah menghardiknya karena menganggap dirinya terlalu cengeng menghadapi sebuah kematian. Wajah dokter itu terlihat sama bahkan lebih terpukul dibandingkan dengan dirinya ketika itu. Jiyeon menarik isakan tangisnya, membuat Jaejoong akhirnya menyadari jika tak hanya dirinya dan tubuh tak bernyawa Im Nana yang ada disana.

Ada seorang gadis mungil dengan mata cokelat teduh yang kini menunjukkan wajah turut bersedih. Seseorang yang sebelum kekasihnya menghembuskan nafas terakhirnya itu titipkan untuk ia jaga, tapi sungguh, Jaejoong belum sanggup memikirkan apapun selain kesedihan yang sedang dihadapinya. Tubuh lemah Jaejoong mencoba bangkit membopong tubuh Nana kedalam mobil, namun ia kembali terjatuh.

“ Dok-ter…” Jiyeon reflek melangkah serta menjulurkan tangan kecilnya ketika berkali-kali Jaejoong gagal untuk berdiri, namun pria itu seolah tak menganggapnya ada. Dan ketika akhirnya pria itu berhasil membawa sosok Nana masuk kedalam mobilnya, Jiyeon hanya mampu terdiam tanpa bisa mencegah. Dan, harapannya pun hilang seiring dengan mobil pria itu yang hanya meninggalkan deru mesin dan pasir pantai yang menerpa wajah letih Park Jiyeon. Ia berjongkok pasrah dan menatap nanar mobil yang semakin menjauh.

Sepi kini, tidak ada lagi kesempatan dan harapan. Hanya dirinya dan boneka besar yang berada tak jauh dari dirinya yang ditinggal oleh pemiliknya. Jiyeon benar-benar tidak tahu bagaimana perjalanan hidupnya, bahkan 1 detik setelah ini.

.
.
.

Pagi hari – Kyunghee University,

Flashback On

Apa sepagi ini kau harus meninggalkan rumah ? memang apa yang kau pelajari disana ? hanya menyanyi dan bermain alat musik yang memekakkan telinga bukankan itu juga bisa kau lakukan disini ? “ Ucap Yoo Sun – eomma Myungsoo – seraya menuang secangkir teh untuk suaminya yang menatap bosan ibu dan anak yang seringkali membicarakan hal-hal yang sebenarnya hanya menyulut pertengkaran dipagi hari.

Myungsoo tidak peduli, ia terus memasukkan roti ke dalam mulut dan mengunyahnya cepat, seolah hanya dirinya yang berada diruangan tersebut. Sehebat apapun ia membanggakan universitasnya yang telah melahirkan idol-idol Korea Selatan ternama, tetap saja eommanya tidak akan pernah mengerti. Masa depan cerah dimata eommanya hanya jika dirinya bisa menyamai atau bahkan melebihin prestasi hyungnya.

Myungsoo bosan untuk dibandingkan dengan keberhasilan anak kesayangan eommanya itu. Menjadi orang pandai bukanlah tujuannya, sudah ada seseorang yang seperti itu dikeluarganya, jadi untuk apa menambah lagi orang yang seperti itu ? Tidak berwarna. Myungsoo merasa dirinya nyaman jika sedang bersama dengan gitar, drum, piano atau apapun jenis alat musik, dan ia akan menjadi orang yang sangat tenang dan bersahabat jika seseorang membicarakan tentang lukisan indah, entahlah. Myungsoo juga tidak tahu darah siapa yang mengalir ditubuhnya.

“ Myungsoo….Kim Myungsoo !!! “ Panggil Yoo Sun jelas terlihat kesal dengan ulah Myungsoo.

Sekali lagi Myungsoo melengos, ia tak menggubris panggilan eommanya. Kupingnya pasti akan terasa gatal dan panas jika ia tetap bertahan disana, rumah yang membosankan dengan orang-orang yang tidak pernah memahami keinginannya. Jika tidak karena menghormati appanya, sudah pasti ia akan meninggalkan rumah dan berjuang untuk hidupnya sendiri.

Flashback Off

“ Kim Myungsoo-ssi !!! “

Myungsoo tersadar dari lamunan tentang sikap eommanya ketika Dosen Hong tiba-tiba ada didekatnya, ia menegapkan tubuhnya dan mendapati semua teman-teman kini menatapnya “ Nde “ Ucap Myungsoo santai, tak merasa jika Dosen Hong menatap tersinggung padanya.

“ Apa kau tak menyukai mata pelajaranku ? “ Tanya Dosen Hong mengintimidasi.

Bukannya merasa bersalah Myungsoo justru tersenyum enteng membuat Dosen Hong mengernyitkan dahinya, ia kemudian kembali ke tempat duduknya “ Gunakan alat musik yang kau bawa sekarang dan mainkan nada ini dengan gubahanmu sendiri “ Ucap Dosen Hong menantang Myungsoo.

Myungsoo memasang tampang dingin seperti biasa, dengan kepercayaan diri yang tinggi ia menenteng gitar ke depan kelas. Suara-suara sumbang teman-teman sekelas mengiringi langkah kaki Myungsoo. Hanya mengandalkan wajahnya yang tampan ? Tch, akan Myungsoo buktikan ia memang layak berada di Kyunghee.
Myungsoo duduk dikursi yang telah disediakan dan menatap sekilas wajah Dosen Hong yang seolah merendahkannya. Ia pastikan wajah menyebalkan itu akan berubah menatapnya kagum ketika jemarinya mulai memainkan gitar, memadukan setiap nada menjadi rangkain lagu yang Dosen Hong perintahkan untuknya.

Jreng….

Jemari Myungsoo meliuk-liuk cepat memainkan tiap nada menjadi bait lagu yang mengagumkan, tidak ada sedikitpun nada yang meleset bahkan Myungsoo membuat lagu sederhana itu menjadi begitu luar biasa hanya dengan sebuah gitar. Dan demi mempertahankan gengsi, Dosen Hong menahan dengan susah payah ekspresi kekagumannya pada muridnya itu, namun tentu saja itu menjadi sia-sia, karena murid lainnya tak henti-hentinya berdecak kagum bahkan tidak sungkan bertepuk tangan sepanjang penampilan Myungsoo didepan sana.

.
.
.

Kantin Kyunghee university,

Dengan gayanya yang bak jagoan kampus Myungsoo berjalan santai menuju kantin. Wajah dingin dan acuhnya tak menyurutkan para yeoja untuk bersikap centil memanggil-manggil namanya. Setelah penampilannya tadi, bukan hanya yeoja yang jatuh hati padanya, para namjapun ingin menjadikan Myungsoo teman mereka. Myungsoo mendadak jadi pujaan kampus ditahun pertama pendidikannya. Tentu saja tak segampang itu menjalin hubungan dengan Myungsoo, masih ingat dengan semua sifat yang dimilikinya? Ya, dengan semua sifatnya tak heran jika Myungsoo juga orang yang pemilih untuk menjadikan orang lain sebagai temannya.

Bae Suzy, yeoja dengan rambut coklat tebal yang ia gerai hampir saja tersedak dengan makanan yang sedang ia santap jika saja tidak tersedia sebotol air didekatnya. Suzy tak menyangka pria yang ia kagumi sudah duduk dihadapannya. Kim Myungsoo, pria tampan itu memilih duduk satu meja dengannya. Suzy tak berani mengangkat wajahnya, ia mengalihkan kegugupannya dengan berpura-pura fokus pada makanan yang ada dihadapannya.

Karena terlalu gugup, Suzypun tak sadar jika sejak tadi makanan dihadapannya tak kunjung ia nikmati, ia hanya mengaduk-ngaduknya hingga rupa makanan itu terlihat menjijikkan dimata Myungsoo yang tak sengaja menatapnya, namun bukan Myungsoo jika ia mempedulikan hal-hal kecil yang orang lain lakukan. Myungsoo melanjutkan makannya tanpa menyadari jika dirinyalah yang membuat yeoja cantik dihadapannya menjadi terlihat aneh.

Srettt….

Myungsoo menggeser kursinya, tidak sampai 15 menit ia sudah menghabiskan semuanya dan berjalan santai meninggalkan kantin.

“ Hufff “ Lega Suzy seraya menahan debaran jantungnya, ia menoleh dan mengamati sosok Myungsoo hingga benar-benar menghilang dari pandangannya.

Seketika rautnya berubah sedih, ia menyesal mengapa tadi tidak mengatakan terimakasih untuk pertolongan pria itu beberapa hari lalu. Suzy meraih formulir lecak dan terdapat cetakan sepatu yang ada didalam tasnya, formulir berisikan data Kim Myungsoo yang dibuang oleh senior yang berang dengan apa yang Myungsoo lakukan untuk menolongnya. Ya, Suzy memungutnya demi mengetahui siapa pria yang telah memikat hatinya “ Huhh, mengapa aku sampai seperti ini ? “ Lenguh Suzy menundukkan wajah dan membuang nafasnya lelah. Ia kemudian bangkit dari duduknya tak lagi berselera untuk menikmati makan siangnya.

.
.
.

Desa Hwanghee,

“ Eonni, kau lelah ? “ Tanya Jeo Min, wajah lelah eonninya membuat ia ingin segera sembuh dan kembali kuat berjalan, tidak seperti sekarang hanya duduk manis di kursi roda menerima bantuan eonninya untuk mendorong.

Jiyeon menundukkan wajah dan tersenyum menatap wajah imut adiknya “ Lelah ? tidak aku sedang memikirkan apalagi yang harus aku ceritakan, sepertinya semua cerita lucu sudah aku berikan pada kalian “ Ucap Jiyeon menyembunyikan apa yang sebenarnya ia pikirkan.

Demi berjuang untuk tidak mati kelaparan dijalan atau mati dipukuli orang-orang karena kedapatan mencuri hanya untuk mengisi perut, Jiyeon menceritakan cerita-cerita lucu yang mampu mengalihkan perhatian kedua adik dan harabeojinya itu dari rasa lelah dan lapar, meski dibalik tawa mereka rasanya Jiyeon ingin berteriak kencang mengutuk takdir yang sedang mereka jalani. Memang bukan waktunya untuk mengenang kehidupan serba nyamannya ketika appa dan eommanya dulu masih ada, namun tentu saja hal itu sering terlintas dan ia banding-bandingkan. Jiyeon tidak pernah membayangkan kehidupannya akan berubah mengenaskan seperti ini, bahkan ia pun tidak akan pernah menerima jika ini hanyalah sebuah mimpi.

“ Aku tidak punya cerita lucu, satu-satunya yang aku anggap lucu adalah ketika Lee Eun Cha jatuh tercebur kedalam parit karena mengejar-ngejarku “ Ucap harabeoji membuat Jeo Min harus membuka mulutnya lebar.

“ Hahahahhaha….harabeoji kau masih mengingat hal itu ? “ Seru Jeo Min tak percaya “ Aku ada disana ketika itu, iya benar….hahaha Bibi Lee sepertinya menyukai harabeoji, eumm….jika dilihat-lihat meski ratusan keriput memenuhi wajahmu, tapi harabeoji memang masih terlihat sangat tampan “ Ucap Jeo Min membuat pipi harabeoji bersemu merah, dan langsung membuang pandangan tak tahan diledek Jeo Min.

Jeo Min terkekeh memandang wajah harabeoji yang menahan malu seperti itu, jika sudah begini harabeoji akan sangat baik padanya, harabeoji memang sangat suka disanjung.

Jiyeon hanya tersenyum mendengar celotehan adik dan kakeknya itu, tiba-tiba langkahnya terhenti tepat didepan sebuah rumah dengan halaman cukup luas dan suasana tenang yang ada dihadapannya, dan seketika itu juga Jiyeon tersadar akan sesuatu. Hal yang pertama kali menyita perhatiannya adalah nomor rumah yang tertulis begitu besar dipagar rumah berwarna putih tersebut. Jiyeon melepas cepat ransel dipunggung dan mencari-cari panik keberadaan kertas yang menuntun jalannya selama ini untuk menemukan rumah halmeoni. Jiyeon yakin ia menghapalnya karena sepanjang perjalanan ia selalu membaca alamat tersebut, hanya saja ia ingin meyakinkan, bahwa alamat yang ia cari cocok dengan yang tertera dikertas yang sudah nampak kusam oleh tangannya itu.

Tangan Jiyeon bergetar dan tak terasa ia menitikkan airmatanya. Tuhan mendengar permohonannya, rasa lelah, bosan dan putus asa yang selama ini datang silih berganti akan berakhir sampai disini, ia telah menemukannya, menemukan rumah yang mungkin akan mengganti nasib tak beruntungnya.

“ Jiyeon-ah waeyo ? kajja kita harus berjalan lagi “ Ajak harabeoji menyadari hari sebentar lagi akan gelap.

Jiyeon menggelengkan kepala dan menghapus airmatanya kasar “ Ahniya, hiks….ahniya harabeoji…Jeo Min-ah, kita berhasil……kita berhasil “ Ucap Jiyeon tak kuasa menahan haru, berkali-kali ia menghapus airmata yang jatuh dari kedua matanya.

“ Eonniii….apa maksudmu ? apa ini rumah halmeoni ? “Tanya Jeo Min berharap dugaannya benar.

Jiyeon mengangguk cepat dan memeluk keduanya haru “ Hiks…..benar kita menemukannya, perjalanan kita selesai, kita menemukannya, rumah halmeoni…huhuhuhu “

“ Huhuhuuhuh….huhuhuhu benarkah eonni ? harabeoji kita menemukannya !!! rumah haleoni, ini rumah halmeoniiiii…huhuhu Ya Tuhan terimakasih kau mendengar doa kami “ Teriak Jeo Min semakin mengeratkan pelukannya pada Jiyeon dan harabeoji.

“ Rumah halmeoni kita menemukan rumah halmeoni !!! “ Seru harabeoji membeo, ia pun membalas pelukan cucu-cucunya, meski euforia keduanya sebenarnya tidak begitu sampai kepada dirinya hingga harus menangis begitu kencang seperti sekarang ini.

.
.
.

Rumah Kel. Kang,

“ Nuguseyo ? “ Tanya seorang wanita bertubuh gemuk dengan usia yang hampir memasuki kepala 6 dengan wajah heran karena anak perempuan yang tinggal bersamanya begitu banyak membawa tamu kedalam rumahnya.

Nyonya Kang, eomma dari Park Yong Ha, anak laki-laki semata wayang yang pergi meninggalkannya karena lebih memilih seorang wanita yang tidak ia restui menjadi menantunya. Dilihatnya wajah anak perempuannya yang masih lajang itu nampak sedikit ragu untuk mengenalkan siapa tamu dihadapannya.

Nyonya Kang menatap tak nyaman kedua tamunya yang berpenampilan lusuh dan seperti gembel duduk dikursi empuk yang setiap hari ia jaga kebersihannya dengan tangannya sendiri. Ah bahkan bukan dua tetapi tiga, pria tua yang berdiri menatap kagum lukisan-lukisan yang ia pajang didinding membuat hampir saja ia berteriak marah.
“ Eomma, mereka ini….mereka tamu kita “ Ucap anak perempuan bernama Won Sook mencegah eommanya memarahi kakek tua yang sedang asyik dengan dunianya sendiri.

“ Jika sudah datang kesini memang namanya tamu, tapi ada keperluan apa mereka kemari ? “ Tanya Nyonya Kang dengan intonasi sedikit tinggi.

Tidak seperti harapan Jiyeon, meski wanita yang ia tahu adalah halmeoninya ini belum mengenal siapa dirinya, tetap saja caranya menerima tamu kurang mengenakkan. Jiyeon terdiam sejenak, sadar langkahnya tidak akan mudah untuk meyakinkan wanita galak yang ada dihadapannya ini, selain pengakuan yang keluar dari bibirnya, ia seharusnya bisa menunjukkan bukti otentik agar halmeoninya percaya jika Jiyeon dan Jeo Min adalah cucu-cucunya, anak dari putranya yang telah meninggal. Jiyeon memang tidak tahu persis bagaimana hubungan orangtuanya dengan halmeoninya ini, mengingat ia tak pernah diajak bertemu, pasti ada sesuatu yang telah terjadi, namun untuk sekarang ini ia benar-benar mengharapkan pengakuan wanita dihadapannya ini.

“ Jadi kalian ini siapa ? ada apa datang kerumahku ? “ Tanya Nyonya Kang sesekali matanya mengawasi harabeoji, takut pria tua itu menghancurkan barang-barang miliknya.

Mata tuanya kemudian mengernyit ketika anak yang paling kecil itu terlonjak mendengar suaranya. Jeo Min ia segera memeluk Jiyeon merasa takut dengan sikap Nyonya Kang.

“ Hal-me-o-n-iiii….” Ucap Jiyeon yang berhasil membuat mata Nyonya Kang terbelalak tak percaya.

Tentu saja, ketiga orang asing ini datang entah darimana dan dengan penampilan yang memalukan tiba-tiba memanggil dirinya halmeoni, jelas ia tidak dapat dengan mudah mempercayainya. Nyonya Kang memijit keningnya, dan sudah bersiap dengan pertanyaan yang akan keluar dari mulutnya.

Sementara Won Sook menundukkan wajahnya, ia sadar akan ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, eommanya bukan orang jahat, hanya saja sikap keras kepala, gengsi dan cerewetnya membuat siapapun akan mengelus dada dan bersabar menghadapinya, sikap eommanya itulah yang membuat adik laki-laki, saudara satu-satunya yang ia miliki pergi meninggalkan mereka belasan tahun yang lalu, yang membuat luka dalam dihati eommanya.

.
.
.

Next Day – St.Mary Hospital, Seoul,

“ Mengundurkan diri ? Apa kau sudah memikirkannya matang-matang ? “ Ucap Direktur Kwon nampak terkejut dengan kehadiran tiba-tiba Dr Jae yang ingin mengundurkan diri.

“ Aku akan beristirahat sejenak dari dunia kedokteran “ Ucap Jaejoong terlihat wajahnya begitu letih dan tak bersemangat, tak ada raut keyakinan ketika ia mengucapkannya. Entahlah, Jaejoong berharap ia tak akan pernah menyesali keputusan yang ia ambil saat ini.

“ Apa ini ada hubungannya dengan Dr Nana ? “ Selidik Direktur Kwon.

Jaejoong hanya diam, tanpa harus mengatakannyapun, orang-orang yang mengetahui hubungannya dengan Nana pasti akan menebak hal yang sama. Jaejoong, ia kehilangan motivasi dalam pekerjaannya. Nana yang meninggal dihadapannya tanpa bisa ia berbuat apa-apa, Jaejoong menganggap dirinya tak pantas menjadi seorang dokter, meski sebenarnya menjadi seorang dokter adalah cita-citanya sejak kecil.

“ Jwesonghamnida, tidak seharusnya seorang dokter melibatkan perasaannya dalam hal ini “

Direktur Kwon hanya bisa menghela nafasnya. Siapa yang tidak mengenal Dr Jae, seorang dokter hebat dengan sifat keras kepala yang dimilikinya.

Koridor St.Mary,

Jaejoong menarik koper dan melangkah gontai meninggalkan rumah sakit yang begitu banyak meninggalkan kenangan, tepat dihadapannya berdiri Dr Nam, orang yang menjodohkan dirinya dengan Nana dulu.

“ Apa hari ini ? “ Tanya Dr Nam ketika berhadapan dengan Dr Jae “ Kau….seharusnya tetap seperti Dr Jae yang aku kenal dulu, tidak cengeng, sedikit angkuh dan tak peduli masalah apapun yang sedang kau hadapi, kau tetap saja bisa memarahi oranglain yang tidak kau sukai, jika seperti ini aku merasa tidak mengenalmu “

Jaejoong tersenyum sinis dengan gambaran dirinya yang Dr Nam uraikan, yang ia tahu ia memang pria yang seperti itu “ Gomawo “ Ucap Jaejoong lirih.

“ Tch… “ Decak dokter Nam “ Jangan terlalu larut dengan kematian kekasihmu, semua orang pernah merasakan ditinggal seseorang yang ia cintai “ Ucap Dr Nam menasehati, ia memegang lembut bahu Dr Jae “ Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk sahabatku, tetaplah semangat untuk meneruskan hidupmu, mungkin tidak dengannya, tapi kepergiannya akan membuka jalan bagi oranglain yang benar-benar adalah jodoh yang Tuhan kirim untukmu “ Ucap Dr Nam memahami kesedihan rekannya itu. Sebagai teman tentu tidak ada lagi yang bisa ia perbuat selain menguatkannya, meski ia sendiri tidak tahu akan berbuat apa jika berada pada posisi Dr Jae.

Jaejoong tersenyum dan menepuk balik bahu Dr Nam, ia pun memeluk erat tubuh sahabat satu-satunya itu “ Sekali lagi gomawo “ Ucap Jaejoong.

Dengan diiringi tatapan sedih Dr Nam, Jaejoong melangkah pasti meninggalkan St.Mary. Meninggalkan tempat pertama kalinya ia bertemu wanita pujaannya. St.Mary menjadi saksi bisu ketika ia meminta Nana untuk menjadi istrinya, memberikannya banyak keturunan, menghabiskan masa tua bersama. Hanya dalam waktu 2 minggu, setelah Nana memberi tahu tentang penyakitny. Dan kemarin, ia harus merelakan semua rencananya tak terwujud.

“ Jangan membenciku karena aku melakukan ini, aku hanya tidak sanggup untuk terus mengingatmu “ Ucap Jaejoong ketika mobilnya bergerak meninggalkan Seoul.

.
.
.

Rumah Keluarga Kang,

Flashback On

“ Kau tahu mengapa suamiku meninggal ? itu dikarenakan anak itu yang membuat penyakit jantungnya kambuh, hingga jasad suamiku dimakamkan pun, anak itu tidak pernah datang, bagaimana bisa aku menganggap kalian cucuku sedangkan ia pun tidak lagi kuanggap sebagai anak “

“ Halmoeni, appa…..ia pun sudah tidak lagi berada didunia ini, aku harap kau mau memaafkanya “

“ Mwo ?? “
———————————-

“ Aku ijinkan kau bermalam disini untuk hari ini, ingat hanya hari ini “

“ Kamsahamnida halmeoni “

“ Jangan memanggilku seperti itu, aku bukan halmeonimu “
———————————
“ Halmeoni, namaku Park Jeo Min, bangepsumnida “

“ Sudah aku bilang jangan memanggilku seperti itu “

“ Jeo Min-ah kajja !!! “

“ Eonni, kita akan kemana ? bukankah kita hanya memiliki halmeoni sekarang ini ? “
———————————

Flashback Off

“ Eomma, makanlah “ Won Sook menyodorkan sesendok bubur hangat kehadapan eommanya. Usahanya yang kesekian kali, sejak pagi eommanya belum memasukkan apapun kedalam perutnya.

“ Aku tidak sedang berniat untuk makan “ Ucap Nyonya Kang menepis lemah sendok yang Won Sook sodorkan.

Won Sook menghela napasnya lemah, ia tahu eommanya sedang berduka mendengar kabar jika Yong Ha telah meninggal. Semalaman ia mendengar eommanya menangis, memanggil-manggil nama Yong Ha, dan sekarang jika eommanya tak mau menatapnya, itu karena mata eommanya telah membengkak. Seburuk apapun hubungan ibu dan adiknya dulu, tetap saja wanita ini yang melahirkan dengan susah payah Yong Ha, dan bisa ia rasakan betapa sedih hati eommanya ini mendengar kematian putranya. Hanya saja yang Won Sook tak habis pikir, mengapa eommanya masih harus gengsi mengakui anak-anak itu adalah cucu-cucunya dan begitu tega membiarkan mereka hidup sendirian diluar sana.

Won Sook ingin sekali membujuk eommanya dan meyakinkan jika keluarga mereka akan lebih bahagia jika ada banyak orang yang tinggal dirumah ini, terlebih mereka adalah anggota keluarga sendiri, namun ia tidak berani, ia tak ingin membuat eommanya terluka dengan pembelaannya. Won Sook berharap pertolongan sembunyi-sembunyinya tadi tidak akan diketahui eommanya.

.
.
.

“ Untuk berapa orang ? “ Tanya pemilik kontrakan menyelidik.

“ Tiga orang “ Ucap Jiyeon datar.

Pemilik kontrakan mengernyitkan dahi dan menatap satu-persatu calon penyewa rumahnya, hanya seorang gadis berwajah datar, anak kecil yang bertampang polos, dan kakek tua dengan tampang bodoh, sepertinya tidak berbahaya “ Baiklah, uang yang kau berikan hanya cukup untuk membayar 1 bulan sewa rumah ini, biasanya aku hanya mengijinkan jika mereka menaruh uang untuk 1 tahun, tapi sepertinya…..kalian tidak memilikinya “ Ucap pemilik rumah membuat Jiyeon melirik padanya “ Aku akan memberi kamar yang jauh dari tetangga lainnya, ada dua rumah disana, terserah kalian ingin menempati yang mana “ Ucap pemilik rumah seraya mengantar Jiyeon menuju kesana.

Rumah kontrakan,

Jiyeon mengamati penampakan rumah yang akan ia tempati. Letaknya jauh dari rumah lainnya, disini hanya ada dua rumah yang berjarak kira-kira 100 meter kesamping dan menghadap pada sebuah sumber air yang terletak ditengah-tengah, dindingnyapun hanya terbuat dari kayu yang hampir sebagian sudah lapuk, namun jauh lebih baik daripada mereka harus tidur dijalan. Setidaknya, mereka tidak akan merasakan kehujanan ataupun kepanasan, dan Jiyeon bisa dengan tenang meninggalkan Jeo Min dan harabeoji untuk mencari pekerjaan kelak.

Jiyeon menghela nafasnya lembut, hampir saja ia bersikap arogant tidak mau menerima bantuan Won Sook imo-nya karena sikap tak menyenangkan halmeoninya, halmeoni ? bahkan wanita itu melarang Jiyeon dan Jeo Min memanggilnya dengan sebutan itu, beruntung logikanya masih sadar jika ia akan benar-benar kesulitan jika tak menerima bantuan imo-nya “ kami akan menempati yang ini “ Tunjuk Jiyeon mempertimbangkan kedekatan rumah yang akan ia tempati dengan sumber air yang berada tepat didepan rumah pilihannya.

Skip >>

“ Asa!!!! Harabeoji kita akan tinggal disiniiiii….kita tidak perlu berjalan jauh lagiiiii…..” Teriak Jeo Min senang berjalan dengan kursi rodanya menyusuri rumah yang akan ditempatinya.

Harabeoji hanya diam, ia terlihat bersedih mengamati rumah yang akan ditempati “ Jeo Min-ah, aku ingin pulang “ Ucapnya tiba-tiba membuat Jeo Min menatapnya.

“ Harabeoji, waeyo ? kita sudah sampai disini, kau ingin pulang kemana ? “ Tanya Jeo Min mendekat pada harabeoji.

“ Seoul, disana ada Bibi Lee yang biasa menemaniku jika kalian tidak ada “ Ucap harabeoji menunduk.

Jeo Min memegang tangan keriput harabeoji dan mengusapnya lembut, ini adalah yang kesekian kalinya harabeoji mengatakan ingin pulang, beruntung eonninya tidak pernah mendengar sekalipun “ Harabeoji, aku akan selalu berada disampingmu, kita akan selalu bersama-sama “ Jeo Min menyakinkan harabeoji, namun raut sedih dari wajah tua itu tidak serta merta hilang “ Eum….apa…aku harus meminta eonni untuk membawa Bibi Lee kesini ? kau begitu merindukannya ya ? “

“ Jeongmal ? apa Bibi Lee bisa tinggal bersama kita ? “ Tanya harabeoji antusias.

“ Eummm…..” Jeo Min menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tentu saja itu adalah permintaan yang sulit terwujud.

“ Jeo Min-ah, harabeoji kajja kita makan dulu “ Jiyeon tiba-tiba masuk dan mengeluarkan bungkusan dari kantong plastik yang ia bawa.

Jeo Min buru-buru melepas tangan harabeoji, ia tidak ingin eonninya tahu jika harabeojinya sedang bersedih “ Harabeoji tersenyumlah “ Bisik Jeo Min pelan.

.
.
.

Malam hari – Rumah Kel.Kim,

Yoo Sun terlihat begitu syok mendengar apa yang anak tertuanya katakan, selama ini ia begitu bangga memamerkan pada orang-orang jika anak pertamanya Kim Jaejoong adalah seorang dokter hebat dan terkenal di rumah sakit St.Mary – Seoul, sebuah profesi yang sangat langka yang bisa dicapai seorang anak disebuah desa yang jauh dari ibukota, namun kini Jaejoong datang dan entah dengan alasan apa ia mengatakan ingin berhenti menjadi seorang dokter. Yoo Sun hampir saja tak sadarkan diri jika suaminya tidak mencoba menenangkannya.

“ Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang ? “ Tanya Soo Ro appa Jaejoong mencoba bersikap tenang.

Jaejoong terdiam, bodohnya, ia datang untuk mengatakan keinginannya tanpa tahu rencana apa yang selanjutnya akan ia lakukan. Ia tahu ia adalah kebanggaan orangtuanya, namun untuk saat ini ia benar-benar telah kehilangan motivasi untuk menjadi seorang dokter, meski sebenarnya itu hanya disebabkan oleh kegagalannya yang tidak mampu berbuat apapun untuk menyelamatkan seseorang yang dicintainya, tentu saja itu tidak akan pernah ia katakan kepada orangtuanya “ Aku belum memikirkannya “ Ucap Jaejoong menunduk.

Yoo Sun memegang kepalanya yang semakin pusing, kini tidak ada lagi dari anak-anaknya yang akan membuat hidupnya nyaman dihari tua. Bukan mengenai harta, jika itu ia bisa mengandalkan dari kekayaan suaminya, hanya saja ia ingin melihat anak-anaknya menjadi orang sukses, orang yang akan disegani oleh banyak orang, dan terpenting bisa ia banggakan dihadapan teman-temannya.

“ Pikirkanlah apa yang akan kau lakukan, tapi maafkan appa, untuk berpikir kau tidak kami ijinkan untuk berada disini, dengan usiamu sekarang ini kau memang harus tinggal terpisah dengan kami, apa kau berani ? “ Tanya Soo Ro membuat Yoo Sun terbelalak.

Jaejoong menatap lekat wajah appanya, ia seorang pria, tentu saja terpisah dengan orangtua bukan hal yang sulit, selama bertahun-tahun ia telah melakukannya, namun ia pikir ia bisa menenangkan diri seraya menunggu motivasi itu kembali “ Tidak masalah, aku akan melakukannya “ Ucap Jaejoong berdiri dan menarik kembali kopernya meninggalkan rumah.

Yoo Sun memegang kepalanya tak tahu akan berbuat apa, ia ingin memprotes namun jika suaminya telah mengatakan sesuatu, tidak akan mungkin bisa berubah. Soo Ro adalah orang yang tidak banyak bicara, tetapi ia adalah pria tegas jika telah mengambil keputusan, kini Yoo Sun hanya bisa menatap sedih anak tertuanya yang melangkah pergi.

.
.
.

Halaman rumah Kel.Kim,

“ Hyung ? “ Myungsoo sedikit terkejut ketika berpapasan dengan hyungnya dihalaman rumah.

Wajah kusut, koper besar yang diseret, serta penampilan berantakan hyungnya. Tidak seperti biasa, dan sudah selarut ini mengapa oppanya tidak menginap ? satu lagi, kemana eomma dan appa yang selalu mengantar oppanya jika hendak kembali ke Seoul ? Myungsoo tidak melihat mereka ada untuk mengantar oppanya.

Keduanya duduk dibangku halaman, memandang langit biru yang bertaburan banyak bintang diatasnya, moment langka yang tidak tentu datangnya. Jaejoong dan Myungsoo memang jarang sekali berbincang, kesibukan Jaejoong dan sikap tertutup Myungsoo. Ah tidak bahkan sifat keduanya hampir tidak ada beda, orang yang kurang pintar mengekspresikan kemauannya, tidak peduli pada orang lain, dan arogant.

“ Apa kabar ? lama tak bertemu “ Jaejoong membuka pembicaraan.

Lama tak melihat adiknya, ia bahkan hampir saja tak mengenali Myungsoo, adiknya sudah menjadi pria yang terlihat lebih manly, entah mengapa Jaejong merasa seperti bercermin ketika berhadapan langsung dengan adiknya.

“ Baik, hyung sendiri ? “ Tanya Myungsoo.

“ Aku baik-baik saja, kau sudah menjadi mahasiswa ? “ Tanya Jaejoong kemudian.

“ Nde “ Jawab Myungsoo singkat.

Canggung, tentu saja. Keduanya tidak terbiasa berada ditempat yang sama dalam jangka waktu yang lama, terlebih saling berbercerita. Akhirnya malam itu berjalan hanya dengan dua orang pria yang memandang langit, hanya sesekali pertanyaan klise yang dilontarkan masing-masing.

.
.
.

Next Day – Sekitar Kyunghee University,

Jiyeon mengamati gedung besar dan tinggi yang ada dihadapannya, sebuah kampus yang seharusnya ia juga berada disana tahun ini, namun harus ia kubur dalam-dalam semua cita-citanya. Jiyeon tak mungkin lagi merasakan pendidikan. Tch pendidikan ? untuk mengisi perutnya saja ia harus berjuang sampai seperti ini. Bencikah Jiyeon terhadap takdirnya ? untuk membencipun, ia tidak tahu pada siapa ia harus marah dan benci.

Harapan itu sempat ada, ketika ia melangkahkan kaki untuk mencari keberadaan rumah orangtua dari appanya, namun tidak ada manusia yang tau apa yang akan terjadi kelak didepannya. Halmeoninya bahkan tega mengusir dan tak mengakui mereka sebagai anggota keluarga ? Entahlah Jiyeon tidak tahu, yang pasti ia merasa usaha panjangnya sia-sia, sudah sampai lelah dan hampir mati demi menemukan rumah halmeoninya ternyata harus berjuang kembali sendirian entah sampai dititik mana.

“ Aku akan berusaha untuk bisa kembali bersekolah “ Tekad Jiyeon, baru saja ia hendak berbalik dan melanjutkan perjalanan untuk mencari pekerjaan….

“ Sedang apa kau disana ? apa kau ingin mencuri ? ini kampus bukan toko makanan “ Teriak seseorang membuat Jiyeon mengepalkan tangannya.

Jiyeon menoleh dan menatap tajam ke arah pria yang berkata lancang tentang dirinya, seketika ia terpaku mengetahui siapa pria yang menuduhnya tak beralasan itu. Pria yang telah dua kali ia temui, wajah pria itu terlihat merendahkannya. Tidak membalas, terakhir kali bertemu, pria itu memang memergokinya sedang mencuri. Jiyeon melangkahkan kakinya untuk melewati pria itu, namun pria itu mencegah dengan menggeser tubuhnya kesamping seiring dengan langkah Jiyeon, mencoba menghalangi jalannya.

“ Kau lihat ini ? “ Ucap pria bernama Kim Myungsoo menggulung lengan panjang jaket yang melekat ditubuhnya, nampak tangannya masih biru-biru seperti dipukul seseorang.

Jiyeon menatap Myungsoo tak mengerti, untuk apa pria ini memamerkan “ tatto di lengannya “ padanya ?

“ Bibi warung tempat kemarin kau mencuri yang melakukannya “ Ucap Myungsoo memahami kebingungan Jiyeon “ Tidak hanya tanganku, tubuhkupun seperti ini “ Kesal Myungsoo hendak membuka juga kancing kemeja untuk memperlihatkan bahunya yang tercetak tanda yang sama dengan lengannya.

Jiyeon memundurkan membuang wajah tak ingin melihat Myungsoo memamerkan tubuh dihadapannya “ Itu tidak ada hubungannya denganku “ Ucap Jiyeon dan segera memutar arah tubuhnya untuk pergi.

Tap,

Jiyeon melihat bahunya yang dipegang Myungsoo begitu kuat, ia berbalik dan menatap Myungsoo tidak suka “ Aku tidak ingin berhubungan denganmu “ Ucap Jiyeon dengan memasang tampang dingin.

“ Woaahhh, kau pikir aku mau berhubungan denganmu, kau itu siapa ? seseorang yang penting yang pantas dianggap oleh orang lain eoh ? kau ini hanya seorang pencuri kan ? bahkan menghirup udara yang sama disekitarmu membuatku ingin muntah “ Ucap Myungsoo semakin kesal.

Jiyeon terhenyak, ia ingin sekali menampar mulut tak sopan pria dihadapannya, namun lagi-lagi ia harus menahan kesabarannya. Jiyeon menyesal harus berhenti dan berdiri berlama-lama memandang gedung ini jika ia tahu akan bertemu dengan pria berperangai buruk dihadapannya “ Katakan apa maumu ? “ Ucap Jiyeon, setelahnya ia khawatir sendiri, jika pria ini benar-benar ingin ia bertanggungjawab.

Myungsoo memasang kembali kancing kemeja yang sempat ia buka, dan menaikkan kerah jaketnya dengan gaya sok, ia memandang Jiyeon sinis dan kemudian membuang ludahnya kesamping, membuat Jiyeon melotot karena merasa dilecehkan dengan cara Myungsoo seperti itu “ Aku ingin kau bersujud memohon maaf padaku, bagaimanapun aku tidak mungkin memukulmu untuk menggantikan rasa sakitku “

Jiyeon meggeleng tak percaya, bersujud pada pria ini ? meskipun miskin dan mati kelaparan sekalipun ia bersumpah tidak akan melakukannya “ Aku tidak mau “ Ucap Jiyeon pongah.

Myungsoo merasa geram, baru sekarang ini ia bertemu dengan orang yang angkuhnya melebihi dirinya, setidaknya itu menurut Myungsoo. Myungsoo meletakkan tangan besarnya diatas kepala Jiyeon, kemudian menekannya kuat untuk memaksa Jiyeon untuk berlutut.

Jiyeon terjatuh, kedua kaki Myungsoo menjadi pemandangannya saat ini. Hatinya sakit, selama ini tidak ada yang berani memegang kepalanya dengan kasar seperti pria asing yang dihadapannya lakukan sekarang, tidak siapapun bahkan orangtuanya. Dengan menarik nafas dalam dan membuangnya kasar Jiyeon bangkit dan….

PLAK

“ KAU TIDAK PANTAS MENDAPAT PERLAKUAN SOPAN DARI ORANG LAIN !!! “ Nafas Jiyeon memburu tajam dan matanya memerah marah. Ia tidak akan pernah merasa menyesal telah menampar sosok kurang ajar dihadapannya. Pria asing yang ia temui baru beberapa kali namun telah berani menjatuhkan harga dirinya.

Myungsoo terhenyak dan reflek memegang pipinya yang terasa perih karena menerima tamparan keras Jiyeon, tidak ada satu kalimatpun yang ia keluarkan untuk membalas apa yang ia terima. Myungsoo hanya memandang dengan tatapan membunuh sosok Jiyeon. Seperti Jiyeon yang baru pertama kali dilecehkan orang asing, Myungsoopun baru kali ini mendapatkan perlakuan yang serupa dari orang yang baru tiga kali ia temui. Ia menyesal Tuhan menakdirkan dirinya untuk bertemu dengan yeoja dihadapannya. Myungsoo berbalik dan menghampiri motornya yang tak jauh ia parkir disana, moodnya anjlok untuk masuk kelas. Dengan kasar ia menggas motornya hingga Jiyeon harus menutup telinga dan wajahnya yang dihujani asap motor Myungsoo.

.
.
.

Sore hari – Pantai,

Jejak kaki Jaejoong tertinggal tak beraturan diatas pasir pantai karena tubuhnya yang berjalan terhuyung. Ia berjalan hanya mengikuti kemana kakinya melangkah “ Hug “ Sementara mulutnya tak berhenti bersendawa, pengaruh alkohol yang ia masukkan kedalam mulutnya.

Jaejoong terus berjalan, namun tak membuat pikirannya lepas dari hal-hal yang ingin ia lupakan “ Arrrgkkkkkkkkk “ Teriak Jaejoong dan kemudian jatuh tersungkur. Ia enggan bangkit, membiarkan saja tubuhnya seperti ini, jatuh bersama dengan perasaannya “ Hug…hug “ Jaejoong hanya memutar tubuhnya dengan tangan terlentang.

Cahaya matahari menyilaukannya, Jaejoong menggunakan sebelah lengannya untuk menutupi wajahnya. Air mata mengalir dari kedua sudut matanya, Jaejoong menangis tanpa isakan. Untuk yang kesekian kali ketika wajah Im Nana muncul kembali dalam ingatannya.

Tak jauh dari tempat Jaejoong,

“ Harabeoji, lihat orang itu, ada apa dengannya ? mengapa tidak bergerak ? apa ia mati ? “ Teriak Jeo Min ketika melihat tubuh tergeletak seseorang, ia kemudian mendorong kursi rodanya untuk menghampiri Jaejoong.

“ Jeo Min-ah, jangan mendekat, orang itu pasti akan menjadi hantu “ Ucap harabeoji entah sadar atau tidak dengan ucapannya telah membuat Jeo Min takut.

Jeo Min menghentikan kursi rodanya, dan tubuhnya menjadi gemetaran, ia memang takut sekali jika ada yang menceritakan tentang sosok hantu. Hantu yang ia tahu adalah makhluk yang suka menculik anak kecil dan tidak pernah mengembalikannya lagi pada keluarga, ia tahu hal itu ketika menonton sebuah film horor, sejak itu Jeo Min tidak mau lagi ada seseorang yang menyebut kata hantu “ Hantu ?? “ Takut Jeo Min “ Harabeoji……tolong cepat dorong kursi roda ini…..kita harus segera pergi “ Jeo Min terbata, matanya tak bisa ia alihkan dari sosok hantu yang harabeojinya katakan.

Harabeoji melangkah cepat untuk meraih kursi roda Jeo Min, namun sial rodanya sulit untuk ia putar, entahlah apa ada hubungannya dengan hantu yang tergeletak.

“ Harabeoji….harabeoji cepat “ Ucap Jeo Min gemetar melihat seperti ada gerakan dari sosok Jaejoong.

Apa yang keduanya lakukan benar-benar menimbulkan suara gaduh, Jaejoong menurunkan lengan yang menutupi wajahnya. Ia menoleh kearah sumber suara, meski samar-samar ia masih bisa melihat tiga orang, ahni !!! Jaejoong menggelengkan kepala untuk melihat dengan jelas orang yang berada tak jauh dari keberadaannya, dua orang bersama dengan boneka besar yang berada dipangkuan seorang anak kecil. Jaejoong memicingkan matanya, ia seperti mengenal boneka itu.

“ Itu milikku “ Ucapnya lirih, ia kemudian mencoba bangkit namun kepalanya begitu pening dan ia kembali terjatuh.

Jeo Min dan harabeoji yang menyadari hantu itu bangkit semakin ketakutan “ Harabeoji, apa yang terjadi ?? cepat kita harus pergi dari sini, sebelum hantu itu memakan kita “ Takut Jeo Min.

“ Jeo Min-ah, rodanya tidak bergerak, aku harus bagaimana ? eoh hantunya…hantunya bisa bergerak, ia melihat kita Jeo Min-ah “ Harabeoji benar-benar ketakutan, ia menoleh kebelakang dan melihat sosok hantu yang ia sematkan pada Jaejoong semakin dekat, reflek kakinyapun berlari, menyelamatkan dirinya tanpa membawa Jeo Min serta.

“ Harabeojiiiiiii…..kau jangan meninggalkanku…huhuhuhu “ Jeo Min menangis.

“ Chogiyo…..itu milikku, kembalikan “ Ucap Jaejoong berjalan terhuyung untuk mendekat dan hendak mengambil miliknya.

Jeo Min berusaha berdiri dari kursi rodanya, tapi kakinya begitu lemas untuk ia gerakkan. Air mata sudah deras keluar. Semakin panik ketika menyadari hantu itu semakin dekat. Dari jauh harabeoji bersembunyi dibalik batu sebesar tubuhnya, ia hanya bisa menatap cemas cucunya yang sudah menangis kencang. Jaejoong yang tidak mengerti terus mendekat.

” Jangan makan aku, aku masih kecil, dagingku tidak enak, pergilah ” Mohon Jeo Min masih berusaha sekuat tenaga untuk menggerakkan kakinya.

Berhasil, kaki Jeo Min bisa ia gerakkan, setapak demi setapak, meski harus menangis kencang. Entah keajaiban darimana langkah Jeo Min semakin cepat, ia berusaha untuk berlari.

“ Kembalikan, itu milikku “ Ucap Jaejoong, tanganannya berusaha untuk menggapai Jeo Min yang menjauh.

.
.
.

Rumah Kel.Kim,

“ Aku tidak ingin mendengar eomma memarahiku, nasibku sudah buruk hari ini “

Brukk

Yoo Sun memegang jantungnya kaget ketika Myungsoo datang dan menahan bibirnya untuk mengatakan sesuatu, putranya itu langsung masuk kedalam kamar dengan wajah angker dan membanting keras pintu “ Aigo…..semua anak-anak itu mengapa jadi seperti ini ? “ Tak mengerti Yoo Sun.

Di dalam kamar Myungsoo,

Bugh

Prang !!!!

“ Siallll!!! “

Tangan Myungsoo memerah, tak lama darah keluar dari sela-sela jarinya. Dadanya bergerak naik turun menggambarkan kemarahannya, akan ia ingat wajah itu, wajah yeoja yang menimbulkan luka tidak hanya di tubuhnya, tapi hatinya “ Kau !!! Selamanya akan menjadi musuhku, kali ini aku sangat berharap Tuhan akan mempertemukan kita lagi, aku akan membalas apa yang kau lakukan padaku hari ini…huh “ Ucap Myungsoo pelan namun jelas sorot matanya tak menunjukkan kebaikan.

.
.
.

Rumah Kel. Bae,

Suzy terkejut ketika tiba-tiba eommanya masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia buru-buru menyembunyikan ponselnya yang terdapat sosok Myungsoo disana. Ia berpura-pura untuk bersikap biasa saja, meski ia tahu eommanya menatap curiga padanya.

“ Kau sedang apa “ Tanya Mi Sook duduk diranjang putrinya.

Suzy terdiam untuk berpikir jawaban apa yang bisa membuat eommanya percaya “ Apa eomma tadi melihatku menyembunyikan ponselku atau tidak ya ? “ Ucap suzy dalam hati.

“ Apa eomma boleh lihat apa yang baru saja kau sembunyikan ? “ Tanya Mi Sook.

Suzy mengutuk dirinya dalam hati, mengapa ia lupa mengunci pintu kamarnya tadi. Mau tak mau ia menyerahkan ponsel yang ia sembunyikan dibalik bantal “ Igeo “

Mi Sook mengecek satu-persatu pesan masuk diponsel Suzy, sesekali ia menatap wajah khawatir putri satu-satunya itu “ Tidurlah “ Ucap Mi Sook mengecup kening putri kesayangannya itu dan mengembalikan ponsel milik Suzy.

Suzy merasa lega, eommanya tidak curiga dengannya, ia mengangguk dan menarik selimut untuk segera tidur, meskipun ia tidak yakin apa ia akan benar-benar langsung mengistirahatkan mata dan tubuhnya itu atau tidak.

“ Suzy-ah “ Panggil Mi Sook kembali di ambang pintu “ Fokus pada pendidikanmu, jangan memikirkan hal lainnya, terlebih seorang pria, kau….sudah eomma pilihkan pria yang akan menjadi pendampingmu “ Ucap Mi Sook dan kemudian mematikan lampu dan menutup pintu kamar Suzy.

Suzy menghela nafasnya lelah, lagi-lagi ia harus terkungkung dengan peraturan eommanya, ia ingin sekali bebas seperti gadis lain yang seusia dengannya, bermain dengan teman sebaya, pergi ke mall untuk berbelanja, dan ….merasakan jatuh cinta pada pria yang membuat hatinya bergetar. Hanya angan-angan, nyatanya ia tidak pernah sedikitpun membantah apa yang eommanya katakan.

.
.
.

Rumah kontrakan Jiyeon,

“ Harabeoji, apa hantu itu sudah pergi ? “ Tanya Jeo Min berbisik.

Jeo Min dan harabeoji berada dibalik pintu yang ia sisakan sedikit celah untuk melihat keadaan luar. Sepi, tidak ada siapapun yang Jeo Min dan harabeoji temukan.

“ Sepertinya ia sudah pergi, ayo kita periksa “ Ajak harabeoji.

“ Shireo !!! harabeoji, kita harus tetap waspada, yang aku tahu hantu akan muncul jika korbannya lengah, kita tidak boleh lengah harabeoji “ Ucap Jeo Min seperti seorang detektif.

“ Ahhh choco pie, sudah lama aku tidak makan choco pie, Jeo Min-ah aku ingin choco pie “ Harabeoji menyenderkan tubuh dan tiba-tiba merengek.

“ Sssttt harabeoji jangan berisik, jika hantunya mendengar ia akan menangkap kita “ Jeo Min meletakkan jarinya dibibirnya dan berbisik kencang.

Sretttt…..

“ Aarrggkkkkk !!!!! jangan makan kamiiiiii !!!!! “

Tiba-tiba pintu terbuka, dan muncul seseorang dihadapan Jeo Min dan harabeoji, keduanya berteriak dan menelungkupkan tubuhnya untuk bersembunyi.

“ Jeo Min-ah, harabeoji, waeyo ? “ Jiyeon muncul dari balik pintu, ia menatap tak mengerti apa yang sedang adik dan kakeknya lakukan.

“ Eonniiii !!!! “

“ Jiyeon-ahhhhh !!!! “

Keduanya merangkak memeluk erat kedua kaki Jiyeon ketakutan.

.
.
.

Jiyeon menelusuri halaman rumahnya dengan langkah hati-hati, menurut Jeo Min dan harabeoji hantu itu mengikuti mereka sampai kerumah, tentu saja sekarang Jiyeon mencarinya bukan karena sosok hantu. Ia yakin adik dan harabeojinya itu hanya menyebut julukan saja. Tidak ada siapapun, tak terlihat tanda-tanda ada orang lain disekitar rumahnya, meski ada sedikit rasa takut, namun kaki Jiyeon sudah melangkah sampai keluar pagar rumahnya, hanya jalan raya panjang yang sepi, yang disekelilingnya penuh dengan padi-padi yang sudah menguning.

Tidak berhasil menemukan ada oranglain disekitar rumahnya, ia pun mematikan senter yang ada digenggamannya dan membalikkan tubuhnya untuk kembali masuk “ Arrrgkkkkkkk “ Jiyeon berteriak kencang ketika tiba-tiba dihadapannya ada seseorang yang mencegat langkahnya.

“ Aku hanya ingin milikku “

Brukkkkk…..

Seseorang yang muncul tiba-tiba itu terjatuh menelungkup tepat dikakinya tanpa sempat Jiyeon menangkapnya karena terlalu terkejut “ Cho…cho…gi..yo…k-kkau si-a-p-a ??? “ Tanya Jiyeon tak melihat jelas wajah pria itu.

Merasa bukan sosok hantu yang ada didekatnya, Jiyeon menjongkokkan tubuhnya dan memberanikan diri untuk menyentuh pria itu “ Jwesonghamnida, nuguseyo ? “ Tanyanya kemudian. Tak ada jawaban, pria itu sedikitpun tak bergerak. Jiyeon mulai cemas, ia pun membalikkan tubuh pria itu.

Dan tubuhnyapun jatuh terduduk seraya tangannya ia gunakan untuk menutup mulutnya yang terbuka lebar ketika berhasil mengenali wajah pria yang matanya tertutup rapat itu.

“ Dok-ter ? “ Panggilnya .

To be continued…

Kalo ada pertanyaan seperti dibawah ini :

– Kapan Jaejoong tinggal bersama keluarga Jiyeon ?
– Kapan Jiyeon berada satu kelas dengan Myungsoo ?
– Kapan Jiyeon tahu jika adiknya menderita AIDS ?
– Dan pertanyaan lainnya yang ada dikepala kalian* emang author tau ? :p

Mungkin alurnya akan menjadi terlalu cepat jika aku mewujudkannya di part 4, tapi aku memang ga mau A Minute Of Hope ini terlalu panjang seperti RATR. Apakah terlalu banyak konflik yang aku angkat di ff ini selain perjuangan Jiyeon untuk bertahan bersama adik dan kakeknya ? Entah itu tentang :

1.Jaejoong – Jiyeon yang dihubungkan dengan penyakit adiknya.
2.Myungsoo – Jiyeon yang dihadapkan pada permusuhan hingga persaingan mewujudkan mimpi di Kyunghee.
3.Jiyeon – Keluarga Kang demi mendapat pengakuan dari halmeoni.
4.Cinta segitiga ke-4 tokoh utamanya

Eumm apalagi yah ? ahh aku berharap kalian ga pusing, sediain panadol yang banyak selama membaca ini ff, jika sakit berlanjut hubungi author, nanti obatnya paling berupa saran, SARAN UNTUK GA MELANJUTKAN BACA FF INI kekekkeke.

Untuk yang ud kebelet pengen bingit CoT dilanjut *Kayaadaaja ? – Aku jadwalkan minggu depan, itu juga kalo banyak orang yang jujur untuk tak membaca sembunyi-sembunyi ff author. Semoga good readers ditambahin rejeki sama Allah.Aamiin Ya Rabb 

136 responses to “[ CHAPTER – PART 3 ] A MINUTE OF HOPE

  1. ih myung jahat!!!!
    gimanaya kalo jiyi tahu penyakitnya adik nya?
    jeo min& kakenya lucu msa orana se ganteng jae d kira hanto kekekkkkk
    penasaran nanti jiyi ma siapa?
    myung or jae

  2. Jaejoong ‘hiatus’ jadi dokter, yah, ngerti lah, dia dokter, pengen nyembuhin orang dan uda nyelametin banyak orang, tapi nyelametin cewenya sendiri aja dia ngerasa ga becus . poor jaejoong..

    Masalah cerita, aku malah lebih milih banyak konflik gini dibanding konfliknya cuma jiyeon-yang-ditinggal-mati-orangtuanya, ga monoton aja.. kalo cuma 1 konflik ntar jadinya ngebosenin lagi, jiyeon mulu yg diceritain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s