[Chapter 6] Knock to My Heart

knock to my heart

PREVIOUS STORY

Starring:
Park Jiyeon | Kim Myungsoo | Oh Sehun

Co. Starring:

Bae Suzy | Lee Ahreum | Yoo In Na | Jeon Jungkook | Eden LC9 | Park Gyu Ri | Lee Donghae

Genre:

School life | Romance | Hurt/Comfort  | AU

Length:
Multichapter

Rating:
PG – 13

 Everything about this FF is mine, except the casts. Casts belong to their families.

Sorry for typos 😀

 

Eunji datang dengan raut wajah tak menyenangkan. Salah satu sudut bibirnya ditarik ke kiri dan salah satu alisnya terangkat. Ia terdiam sejenak di tempat Sehun kemecahkan pigura pengumuman beberapa menit yang lalu. Eunji tak ingin termangu layaknya Jiyeon yang berdiri di depannya. “Yaak Kim Myungsoo!” seru Jung Eunji berusaha menghentikan aksi Myungsoo yang menyeret Suzy secara paksa. Dia berlari mengikuti jejak sepatu Myungsoo dan Suzy yang sama sekali tak membekas di lantai sekolah.

Sementara itu, Jiyeon masih tidak mengerti dan tak tahu apa yang telah terjadi. Sikap Myungsoo akhir-akhir ini sangat aneh, lain dari hari-hari biasa. Mungkinkah ada sesuatu yang disembunyikan oleh Myungsoo? Itulah yang terbersit dalam benak Jiyeon.

10 menit kemudian, Jiyeon telah memutuskan kembali ke kelasnya. Ia berharap dapat bertemu Sehun atau Myungsoo di sana.

Tap!
Satu langkah telah ditapaki kaki Jiyeon di atas lantai kelas 2-1, di mana ia menemukan sosok yang mirip sekali dengan Sehun. Jiyeon berjalan menuju bangkunya yang terletak di depan bangku Sehun. Sebelum ia menjejalkan bokongnya memenuhi bangku miliknya, Jiyeon memanggil Sehun. “Yaak Oh Sehun! Apa yang telah terjadi?” Jiyeon memutar tubuhnya menatap nanar pada seorang siswa laki-laki yang tengah asyik menggeletakkan kepalanya di atas meja. Kedua mata sipit itu tertutup rapat.

Pertanyaan Jiyeon mampu membuat Sehun terbangun. “Mwo?”

“Apa yang kau lakukan barusan?” tanya Jiyeon.

“Oh Sehun! Pergi ke kantor guru sekarang juga!” Lee Seung Gi memerintahkan Sehun untuk segera meluncur ke ruang guru. Dapat dipastikan bahwa hari ini adalah hari sial bagi Sehun.

Sehun memukul mejanya sendiri. Baru saja dia mendapat hukuman. Sekarang dirinya harus kembali ke ruang guru yang menurutnya tak lebih indah dari penjara.

“Kim Myungsoo, kau berhutang banyak hal padaku,” lirih Sehun yang mendelik kesal karena harus menerima hukuman atas perbuatannya yang melanggar aturan.

Sehun dan guru Lee kembali ke ruang guru.

Myungsoo masih menarik lengan Suzy dengan kasar. Dia sama sekali tidak memikirkan sakit yang dirasakan Suzy pada pergelangan tangan kanannya.

“Yaak! Ige mwoya?”

“Berdirilah di situ!” perintah Myungsoo yang langsung melempar lengan Suzy di depannya sembarangan hingga membuat Suzy hampir jatuh terjungkal. Dia membawa gadis sombong itu menuju

“Apa yang telah kau lakukan terhadap Jiyeon?” Myungsoo tidak ingin berbasa-basi dengan gadis super menyebalkan bernama Bae Suzy.

Suzy menatap kedua mata elang Myungsoo yang tengah mengintimidasinya melalui tatapan dingin. “Opso,” jawabnya singkat.

Myungsoo geram. Dia berniat membuat Suzy mengakui perbuatan terkutuknya yang telah dilakukan untuk membuat Jiyeon bersedih. “Rupanya kau adalah gadis yang menyedihkan.”

Jleb!
Kata-kata Myungsoo mampu menusuk-nusuk hati Suzy hingga membuat gadis itu mengerutkan dahi.

“Apa alasanmu bicara seperti itu?” tanya Suzy angkuh.

“Cih! Aku baru sadar kalau ternyata dirimu merupakan penyebar gosip murahan. Kau membuat skandal dan gosip sesuai dengan keinginanmu, itu tidak masalah bagiku. Kau membuat kabar angin yang menyatakan bahwa kita akan bertunangan, dan skandal tentangmu yang ingin mencari perhatian, semua itu tidak ada artinya bagiku. Tapi sekarang kau membuat fitnah besar yang menyebabkan seseorang kehilangan haknya di sekolah ini.”

“Mwo?” Suzy berpura-pura tidak mengerti apa yang dibeberkan oleh Myungsoo.

“Aku tahu semua yang kau lakukan. Kau yang membuat Jiyeon kehilangan beasiswanya, iya kan? Benar, ternyata kau adalah gadis yang menyedihkan. Aku akan menggugat hasil keputusan ayahmu jika pengumuman itu tidak segera dirubah dan nama Jiyeon tidak tercantum di dalamnya. Akan ku pastikan ayahmu mendapat malu yang tak bisa kau bayangkan.”

“Oppa, kau boleh menuduhku seperti itu. Asalkan kau tahu, aku sama sekali tidak melakukan apapun yang kau tuduhkan itu. Aku hanya….”

“Hanya apa? Katakan pada ayahmu untuk tidak mengabaikan ancamanku. Kau pikir aku tidak punya hak hukum? Aku berhak menggugatnya karena aku lah penerus sekolah ini nantinya.”

Jlegeeer!!
Pengakuan Myungsoo membungkam mulut Suzy yang mengatakan bahwa dirinya tak tahu apa-apa mengenai beasiswa yang seharusnya diterima oleh Jiyeon.

“Meskipun ayahku tidak menyetujui gugatan itu, aku akan tetap melanjutkannya hingga membuat ayahmu bertekuk lutut di hadapan Jiyeon. Sikapmu ini menunjukkan bahwa kau ingin ayahmu melakukannya. Cih! Kenapa nasib tuan Bae malang sekali. Seharusnya dia menyesal telah memiliki putri seperti dirimu, Bae Suzy. Ingat ancamanku!” Myungsoo lega karena sudah mengatakan semua yang ingin ia katakan. Dia berharap kasus Jiyeon segera berakhir.

“Aku….”

“Sudah cukup! Tindakanmu ini membuatku harus berurusan dengan ayahmu. Satu lagu, aku ucapkan selamat karena akhirnya aku semakin membencimu.”
Tanpa berkata lebih banyak lagi, Myungsoo segera pergi menuju kantor guru untuk menjelaskan maksudnya memecah pigura pengumuman tadi.

Teeeng teeeng teeeng!
Bel istirahat berbunyi. Tanpa terasa, hari berlalu semakin cepat. Hal itu dirasakan oleh Jiyeon dan Sehun yang merasa tak memiliki masalah apapun. Jadi, mereka bisa memikirkan hal-hal lain yang membuat hati bahagia.

“Jiyeon-a, sepulang sekolah ada acara kah?” tanya Sehun dari belakang punggung Jiyeon.

Dengan malas, Jiyeon menjawab,”Entahlah. Aku belum tahu pasti. Sejauh ini aku belum punya acara sepulang sekolah nanti.”

“Bagaimana kalau kita ke Lotte Mart?” usul Sehun yang mendadak ingin pergi bersama Jiyeon.

Jiyeon harus mempertimbangkan ajakan Sehun karena hari ini dia berencana ingin mencari pekerjaan. Beasiswa yang diharapkan tak mungkin bisa didapatkan, oleh karena itu, Jiyeon harus kerja keras mendapatkan uang dengan hasil jerih payahnya sendiri.

“Mian, aku tidak bisa. Hari ini aku ada acara, Sehun-a.”

Sehun tercengang. Jiyeon baru saja mengatakan kalau dirinya belum memiliki acara sepulang sekolah nanti. Tetapi sekarang ucapannya berbeda. “Kenapa cepat sekali berubah pikiran? Ayolah, Jiyeon-a… jebal, ne?”

Jiyeon tak mengindahkan rayuan Sehun. Hari ini dia harus mencari pekerjaan.

“Yaak Jiyeon-a! Besok, besok lusa dan besoknya lagi… aku tidak bisa masuk sekolah.”

“Mwo? Waeyo?” tanya Jiyeon penasaran.

“Aku diskors gara-gara si Pabbo Myungsoo itu. Hah! Apa yang harus aku katakan pada orangtuaku?” Sehun memikirkan alasan yang pas untuk dikatakan pada kedua orangtuanya terkait hukuman skors 3 hari yang ia terima.

Sehun terdiam di atas bangku, merenungi nasibnya yang tiba-tiba sial sejak ia mulai akrab dengan Myungsoo. Akrab? Lebih tepatnya rukun.

“Kau mau menemaniku mencari kerja?” tanya Jiyeon yang masih menghadap ke arah Sehun yang duduk di belakang bangkunya.

Sehun langsung menatap Jiyeon. “Gurae, aku mau,” jawabnya spontan seraya melebarkan senyumnya. “Kau mau mencari pekerjaan sebagai apa?”

Dengan santai, Jiyeon mengalihkan pandangannya dari Sehun ke arah lain. Otaknya mulai bekerja untuk menemukan jawaban atas pertanyaan Sehun yang sukses membuatnya kelabakan. “Apa saja,” jawab Jiyeon sekenanya.

“Ah iya, ada yang ingin aku tanyakan padamu.”

Jiyeon penasaran. “Mwonde?”

“Ttarawa!” Sehun menarik lengan Jiyeon dan mengajaknya ke atas atap sekolah. Ia ingin menceritakan sesuatu pada Jiyeon. Tentu saja sesuatu yang seharusnya menjadi rahasia dan tak selayaknya diberitahukan kepada orang lain.

Tap tap tap!
Terdengar irama langkah seseorang semakin cepat dan tak beraturan menuju ruang musik yang terletak di ujung lorong lantai 4. Sehun menambah kecepatan kakinya saat dirinya dan Jiyeon semakin mendekati ruang musik yang senantiasa kosong tak dipakai selain pada pelajaran musik.

Park Jiyeon, gadis berperawakan tinggi semampai hanya bisa menatap punggung laki-laki yang mengajaknya menjauhkan diri dari kebisingan para siswa di kelas. Ia berulang kali mendesah kecil tatkala rasa penasarannya hadir dalam benak dan pikirannya. Hanya satu pertanyaan yang saat ini bersemayam di dalam otaknya, ‘ada apa dengan Oh Sehun?’. Jiyeon sama sekali tak bisa menduga apa saja yang akan dikatakan oleh laki-laki pemilik kulit seputih susu itu. Menurutnya, Sehun adalah sosok laki-laki yang misterius tetapi baik hatinya.

Bagaimana Jiyeon tidak berpikir bahwa laki-laki itu misterius? Berulang kali Sehun berusaha menolongnya dari situasi-situasi yang tidak menguntungkan baginya. Tetapi saat di sekolah, Sehun adalah sosok yang dingin, pendiam, dan acuh. Dia tidak akan mudah bergaul dengan sesama siswa. Namun akhir-akhir ini, sikap Sehun menunjukkan hal lain yang berbeda dari biasanya. Tipe laki-laki acuh itu sedikit demi sedikit menaruh perhatian pada Jiyeon. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, tak ada seorang pun yang dapat memprediksi apa yang akan dilakukan Sehun. Bagaimana perasaannya, dan seperti apa sosok Oh Sehun yang sebenarnya.

Cekleeek!!
Pintu dibuka dengan sekali tekan pada knopnya. Sehun melangkah ke dalam ruang musik lebih dulu, disusul Jiyeon yang membisu karena tak tahu harus melakukan tindakan seperti apa selain mengikuti Sehun.

Suasana hening sesaat ketika mereka berdua melepaskan tangan. Jiyeon menatap Sehun dari jarak 3 meter. “Apa yang ingin kau katakan?” Dengan mengumpulkan segenap keberanian untuk bertanya pada Sehun, akhirnya Jiyeon melepaskan kata-kata itu.

Sehun balik menatap kedua manik mata Jiyeon yang terlihat bulat dan indah. “Aku ingin menceritakan sebuah kisah nyata padamu”

Dahi Jiyeon berkerut. “Kisah nyata? Tentang apa?” tanya Jiyeon lagi.

“Aku tahu kau menyukai Kim Myungsoo. Tapi menurutku, kau harus mengubur perasaan itu dalam-dalam.”

Deg!
Jiyeon cukup terkejut mendengar nama Myungsoo disebut-sebut sebelum Sehun memulai ceritanya. “Kenapa kau membahas hal itu? Apa hubungannya dengan cerita yang ingin kau sampaikan?”

Sehun mendesah pelan, menahan rasa gregetnya pada pertanyaan yang dilontarkan oleh Jiyeon. Oke, dia menganggap Jiyeon masih belum mengetahui yang sebenarnya. Maka dari itu, gadis berambut panjang berwarna coklat itu terlalu banyak melempar pertanyaan padanya.
“Tentu ada hubungannya. Cerita yang akan ku sampaikan adalah hubungan Kim Myungsoo dengan seseorang di masa lalu. Mungkin kau belum pernah mendengar cerita ini. Hmm, baiklah. Anggap saja pertanyaanku tadi hanya pendahuluan dari cerita ini. Kenapa aku memintamu mengubur perasaanmu pada Myungsoo? Tentu saja ada alasan khusus di balik pertanyaan itu.”

Jiyeon bersiap mendengarkan celoteh Oh Sehun dengan seksama.

“Dulu, aku dan Myungsoo ada sahabat dekat. Rumahku di Gongju berdekatan dengan rumahnya sehingga kami menjalin hubungan yang akrab. Setelah beberapa bulan, hubungan yang kami jalin dengan senang hati dan ketulusan, harus retak dan hancur begitu saja.”

“Waeyo?”

Sehun menatap ventilasi udara yang ada di ruang itu. Tatapannya kosong, seakan mengingat kejadian yang telah terjadi diantara dirinya dengan Myungsoo.

“Aku dan Kim Myungsoo menyukai wanita yang sama, namanya Bae Irene. Dia adalah kakak tiri Suzy. Beruntungnya Myungsoo mendapatkan cinta dari Irene. Sementara itu, aku harus menggigit jari mengetahui kenyataan bahwa Irene telah menjalin hubungan percintaan dengan Myungsoo. Namun… ternyata semua itu palsu. Myungsoo mengatakan bahwa dirinya menyukai Irene tetapi pada kenyataannya prasaan itu sama sekali tidak pernah ada dalam hatinya. Sedangkan Irene, dia selalu mengatakan bahwa dirinya telah berpacaran dengan Myungsoo. Aku sempat bingung dengan mereka berdua.” Sehun tertunduk sedih mengingat nama Irene yang selali ia sbeut dalam setiap doanya.

“Suatu hari, aku sangat terkejut melihat seorang Irene berdiri di atap sekolah dengan wajah yang teramat sedih. Airmata membasahi seluruh wajahnya. Pada saat itu, aku bingung dan kalut. Saat aku menyusulnya ke atap, Irene sama sekali tak bergerak mundur dari tepi dinding atap itu. Ia menangis terus menerus. Aku ingin mencari Myungsoo dan menyuruhnya menghentikan aksi nekad Irene. Aku tidak ingin dia bunuh diri.”

Jiyeon terdiam dengan kedua mata memerah.

Sehun melanjutkan ceritanya. “Aku bertanya padanya, kenapa dirinya nekad ingin bunuh diri. Kau tahu apa jawabannya?”

Deg!
Jiyeon tertegun dan bertanya-tanya kenapa Sehun malah menanyakan jawabannya? Bagaimana pun juga, Jiyeon tidak bis  menebak apa jawaban Irene. “A, anhiyo,” jawab Jiyeon ragu sambil menggelengkan kepalanya pelan.

“Dia bunuh diri karena Kim Myungsoo. Laki-laki brengsek itu telah membuat Irene cinta mati padanya tapi apa yang dia lakukan? Myungsoo mengacuhkan perasaan Irene yang tulus. Irene telah melakukan segala cara agar Myungsoo dapat luluh oleh ketulusan cintanya. Tapi… ternyata sekua itu hanya keinginan dan harapan. Kim Myungsoo sama sekali tidak peduli pada Irene hingga akhirnya….”

Sehun tak kuasa melanjutkan cerita tentang Bae Irene, wanita yang sangat dicintainya. “Irene meninggal.”

Tap!
Jiyeon melangkahkan kakinya mundur satu langkah hingga terdengar bunyi hentakan sepatunya di lantai ruangan itu. Jantungnya berdegub kencang dan nafasnya memburu. “Irene… meninggal?”

Dengan berlinang airmata, Sehun mengangguk pelan beberapa kali.

Seketika itu, Jiyeon mundur beberapa langkah, bersandar pada dinding di belakangnya, dan menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua telapak tangannya.

“Itulah alasannya aku memintamu melupakan Kim Myungsoo. Aku tidak ingin kau mengalami hal yang sama dengan Irene.” Sehun menundukkan kepalanya, menyembunyikan kesedihan yang selama ini ia rasakan. Kesedihan itu seharusnya bisa terkurangi karena ia telah menceritakan yang sebenarnya terjadi.

“Sehun-a, sebenarnya tanpa kau minta pun, aku berniat melupakan Myungsoo oppa. Aku memang mencintainya sejak lama. Tetapi apalah daya… dia sama sekali tidak mempedulikan perasaanku. Mungkin aku hanya dianggap sebagai hoobae-nya saat kami masih ada di SMA Jaeguk. Mungkin juga… sekarang dia hanya menganggapku sebagai seorang teman dan tak akan lebih dari seorang teman. Aku… pindah ke sekolah ini karena ingin menjauhi Myungsoo oppa. Tapi ternyata… kami malah berakhir di kelas yang sama.” Jiyeon menahan tangis sekuat-kuatnya. Dia tidak ingin meneteskan airmata untuk Kim Myungsoo lagi. Itulah janji yang ia ucapkan pada dirinya sendiri.

“Yaak Park Jiyeon! Sudahlah jangan bersedih. Aku akan membantumu melupakan Kim Myungsoo.” Sehun menyenggol siku Jiyeon. “Berjanjilah bahwa kau tidak akan menangisinya lagi!”

Jiyeon mendongak lalu menatap Sehun yang berdiri bersandar pada dinding di sebelah kirinya. “Gurae, jangan bersedih!” serunya diiringi senyuman tipis.

“Aakh, aku ingin ke toilet. Cepatlah kembali ke kelas. Sebentar lagi bel masuk berbunyi. Jangan sampai aku mendapat hukuman lagi karena telah mengajakmu ke tempat ini sehingga melupakan jam pelajaran.”

“Yaak!” Jiyeon tersenyum malu-malu. “Gomawo sudah berbagi cerita denganku. Kau juga sangat baik padaku. Pergilah ke toilet. Jangan sampai kau mengompol di sini!” ejek Jiyeon yang disambut cengiran khas seorang Oh Sehun.

Beberapa detik kemudian, Sehun melesat menuju toilet yang terletak di lantai 3. Toilet lantai 4 sedang dalam perbaikan. Jafi, dia terpaksa harus menuruni anak tangga untuk bisa menjangkau toilet terdekat.

Suasana koridor sekolah tampak masih ramai padahal beberapa menit lagi bel masuk berdering memenuhi seluruh ruang dengar penghuni sekolah yang masih disibukkan dengan kegiatan rutin yaitu bercanda dengan orang lain.

Menjelang berderingnya bel masuk, Jiyeon berjalan menapaki lantai koridor yang sangat bersih bahkan debu enggan menempel di sana. Jiyeon menikmati setiap langkah kaki jenjangnya. Dia sama sekali tidak mengindahkan tatapan sinis tanpa alasan dari beberapa orang. Mungkin mereka adalah bala tentara Bae Suzy, pikirnya.

“Park Jiyeon!”

Jiyeon tersentak kaget mendengar seseorang menyerukan namanya dengan nada tinggi. Ia membalikkan tubuhnya, mencari seseorang yang memanggil namanya tadi. Tept di depan ruang musik, Jiyeon melihat sosok gadis yang ia kenal. Ya, gadis yang dia lihat saat melewati ruang kelas 2-3. Siapa lagi kalau bukan si Eunji yang merupakan sahabat dari Bae Suzy.

“Kau dipanggil ketua yayasan.”

“Mwo?” lirih Jiyeon yang tersadar kalau Eunji baru saja mengatakan sesuatu padanya. “Eoh.”

Karena sang Ketua Yayasan mencari dirinya, Jiyeon bergegas berbelok arah untuk menuruni tangga yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Namun pada saat kaki jenjangnya baru saja terlangkah 2 jengkal, Eunji menghadang di depannya dengan mengeluarkan wajah tak menyenangkan. Jujur, Jiyeon sangat tidak menyukai ekspresi Eunji yang tak berbeda jauh dari monster jahat yang ingin melahap manusia.

Eunji mendekati Jiyeon yang berdiri di depannya dengan ekspresi wajah melukiskan tanda tanya besar di sana.

“Wae?” tanya Jiyeon berani. Dia merasa tidak melakukan apapun yang merugukan orang lain.

“Kau benar-benar perempuan jalang!” seru Eunji hingga membuat seluruh siswa yang berdiri di lorong itu terkejut.

“Yaak! Jaga ucapanmu! Kau kira aku tuli?” Jiyeon berusaha bersikap sinis pada Eunji yang telah menghina dirinya.

“Cih! Jadi, ini yang kau lakukan, huh? Kau menyukai dua orang laki-laki lalu mencampakkan mereka!”

“Mwo?”

Plaaakk!
Telapak tangan kanan Eunji mendarat mulus membuat warna merah semakin melebar. Dia sama sekali tidak mengir kalau Eunji akan melakukan hal gila dengan menamparnya.

Dengan perasaan kacau dan emosi yang membuncah, Jiyeon menatap Eunji setajam tatapan Myungsoo padanya.

“Wae? Kau tidak terima?” tanya Eunji sinis. Dia mengeluarkan seyum evil-nya.

“Aku yang tidak terima.”
Terdengarsuara seseorag yang sengaja mendengarkan pembicaraan mereka berdua itu menggema.

Jiyeon dan Eunji mengalihkan pandangan mereka pada seseorang yang dengan lantangnya mengatakan suatu kalimat yang mengandung unsur pembelaa

“Oppa…” lirih Jiyeon dengan sepasang manik mata menatap Myungsoo lekat-lekat.

“Yaak Jung Eunji! Kau juga berkomplot dengan Suzy, kan? Cih! Kalian para siswi kurang ajar. Beraninya main keroyokan.”

Tatapan mata Eunji tak beralih sedikit pun dari wajah tampan Kim Myungsoo. Jelas sekali bahwa gadis menyebalkan itu juga menginginkan Myungsoo, sama halnya dengan Suzy. Namun sayangnya, cara yang mereka lakukan untuk merebut hati Myungsoo salah besar. Myungsoo tidak akan bertekuk lutut pada gadis angkuh, sombong, dan kasar seperti mereka.

“Aku permisi dulu.” Jiyeon tak tahan lagi mendengar perdebatan antara Eunji dan Myungsoo. Dia ingin segera melarikan diri dari suasana tegang di tempat itu.

“Jiyeon-a!” Myungsoo memanggil nama Jiyeon dan berharap gadis itu menghentikan langkahnya menuju ruang Ketua Yayasan yang tidak lain adalah ayah kandung Myungsoo. “Yaak Park Jiyeon!”

“Wae?” Jiyeon berhenti dan berbalik.

Myungsoo berusaha menghilangkan raut wajah kekhawatirannya dengan menampilkan senyum terbaik yang ia miliki. “Butuh teman?” tanya Myungsoo aneh. Bukan kalimat itu yang ingin dia katakan pada Jiyeon. Dia ingin mengatakan sesuatu yang sifatnya… khawatir.

“Tidak usah, gomawo tawarannya.” Jiyeon berbalik lagi dan memantabkan langkahnya menuju satu tempat paling mewah di sekolah ini.

“Kau yang bernama Park Jiyeon?” Ketua Kim melihat penampilan Jiyeon dari ujung sepatu hingga ujung rambutnya. Kesan pertama setelah melihat gadis tinggi semampai itu… cantik. Ketua Kim mengangguk kecil. “Kau tinggal di mana?”

“Ne? Ehm… saya tinggal di pinggiran kota Seoul. Jarak dari sini cukup jauh.”

“Kau pernah ke tempat ini?” Ketua Kim menunjukkan sebuah foto yang ia dapatkan dari Suzy.

Jiyeon tertegun melihat foto itu. Foto di mana dia sedang asyik melangkah ke rumah Kim Dani dan Kim Hani. “Ne. Saya memang pernah ke rumah itu.”

“Ini bukan rumahmu?”

Jiyeon menggeleng pelan. “Rumah itu terlalu mewah untuk keluarga saya. Kami tidak pantas tinggal di rumah semewah itu. Maaf, kalau boleh tahu, mengapa Anda menanyakan hal itu?”

Ketua Kim sedikit tergagap. Ekspresi wajah Jiyeon tak menunjukkan suatu kebohongan pun. Gadis itu hampir saja meneteskan airmata jika saja dia tidak menyadari di mana tempatnya berada saat ini.

“Anhi, hanya untuk memastikan bahwa kau memang layak mendapatkan beasiswa.”

Deg!
Beasiswa?
“Be, benarkah demikian? Apakah saya masih memiliki kesempatan untuk mendapatkannya?” tanya Jiyeon pada ayah kandung Myungsoo yang telah menyembunyikan senyumnya.

“Ya, kau bisa mendapatkan beasiswa itu. Bendahara Bae yang akan mengurusnya.”

Manik mata Jiyeon seakan bersinar. Dia sangat terharu dan pastinya merasa sangat senang hingga akhirnya dia membungkukkan badannya.
“Jongmal gamsahamnida,” ucap Jiyeon seraya membungkukkan badannya beberapa kali

Tit tit tit
Tuuuuut tuuuut tuut!
Jiyeon menunggu seseorang yang tak kunjung menjawab telepon darinya. Dia sudah beberapa kali mencoba menghubungi Ahreum yang sampai pada panggilan ke-21 belum juga dijawab olehmya.

“Ahreum-a, neo eodiseo?” lirih Jiyeon menatap frustasi pada layar ponselnya touchscreen-nya.

Tuuut tuut tuuuuuuuut!
“Jebal… ayo jawablah, Areum-a!” Jari jemari milik Jiyeon tak henti-hentinya bergerak mengetuk meja belajarnya yang telah ditata rapi setelah digunakan untuk mengerjakan semua tugas sekolahnya.

Jiyeon harus kecewa untuk yang ke-22 ali karena tak mendapatkan jawaban dari sahabatnya itu. “Haaah! Eotteohke? Yaak Lee Ahreum, di mana kau? Kenapa sekian banyak panggilan tak ada yang dijawab? Aish!” Jiyeon menggeletakkan kepalanya di atas meja belajar, menatap deretan buku tugas yang berjajar rapi di bagian tepi dan di sampingnya ada sebuah lampu kecil yang khusus digunakan untuk belajar. Jiyeon memutar otaknya, mengingat-ingat tempat yang sering didatangi oleh Ahreum. Mungkin sahabatnya itu ada di suatu tempat yang menjadi tempat kesukaannya.
“Ah, benar! Aku akan ke sana sekarabg juga.” Tiba-tiba Jiyeon mengangkat kepalanya kemudian bangkit dari kirsi dan mengambil jaketnya. Hari sudah semakin gelap. Dia harus bertemu dengan Ahreum untuk menanyakan sesuatu.

Benar-benar ide gila dari kepala Park Jiyeon. Gadis itu nekad keluar rumah pada pukul 10 malam. Keramaian kota semakin menipis seiring semakin bergesernya jarum jam yang sebentar lagi menunjukkan pukul 11 malam. Cuaca dingin dan tak jaramg disertai angin yang berhembus cukup kencang.

Jiyeon berjalan menyusuri jalan menuju taman kota. Tak ada yang bisa dia lakukan di taman itu. Para petugas pasti telah menutup taman itu.

“Aah, dingin sekali.” Jiyeon menggosok-gosokkan kedua tangannya sebagai upaya untuk mengurangi dingin yang menyerangnya.

“Jiyeon-a!”

Hanya dalam waktu satu detik, Jiyeon menolehkan kepalanya ke arah kanan. Kedua sudut bibirnya ditarik secukupnya hingga membentuk sebuah lengkungan indah yang memamerkan deretan gigi putihnya. “Ahreum-a!”

Ahreum tertawa melihat wajah polos Jiyeon. Dia berlari mendekati Jiyeon yang tak bergerak sedikit pun dari tempatnya berada. “Yaak! Kau tidak mendekat?”

“Kau saja yang mendekat!” teriak Jiyeon kegirangan setelah melihat wajah yang ia rindukan.

“Yaak! Begosiposeo….” Ahreum memeluk Jiyeon erat-erat layaknya sepasang kekasih yang sudah bertahun-tahun tidak bersua. “Kau tambah cantik, eoh? Waah, warna rambutmu menjadi lebih menarik.” Ahreum membelai rambut panjang milik Jiyeon yang dibiarkan tergerai indah.

Jiyeon tersenyum senang. “Eoh. Yaak! Aku ingin menceritakan sesuatu padamu.”

“Mwonde?”

“Aku mendapatkan beasiswa,” ucap Jiyeon dengan amat senang karena dia telah berjuang mati-matian untuk mendapatkan beasiswa.

“Jinjja? Waaah chukae!”

“Sebenarnya ada beberapa hal yang membuatku ingin bertemu denganmu. Pertama, aku sangat merindukanmu, Ahreum-a. Kedua, aku ingin menceritakan tentang beasiswa itu. Yang ketiga, aku ingin kau menanyakan tentang seseorang kepada Eden.”

Ahreum terkejut mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Jiyeon. “Eden?” tanya Ahreum untuk memastikan bahwa tidak ada yang salah dengan pendengarannya.

Jiyeon mengangguk. “Eoh. Tolong tanyakan padanya, apakah dia mengenal gadis bernama Bae Irene yang telah meninggal… um, aku tidak tahu kapan dia meninggal. Mungkin saja Eden mengenalnya karena dia dan Myungsoo merupakan sahabat sejak kecil.

“Irene? Siap dia?”

“Nasib Irene sama denganku namun dia berakhir dengan… kematian. Gadis itu bunuh diri karena Myungsoo tidak mengindahkan perasaannya. Dia adalah korban Myungsoo.”

“Woah, daebak! Terdengar menyeramkan. Kim Myungsoo punya korban?” Ahreum mengerutkan dahi. “Gurae, aku akan menanyakannya besok.”

“Gomawo, Ahreum-a.”

Jiyeon dan Jungkook berangkat ke sekolah bersama-sama untuk kesekian kalinya. Jungkook yang dulunya terlalu royal dalam menggunakan fasilitas yang diberikan oleh ayahnya, saat ini telah berubah drastis menjadi seorang anak laki-laki yang sederhana. Ya, berkat pergaulannya dengan Jiyeon setiap hari, baik di rumah maupun di sekolah.

Hari ini, Jungkook memilih berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki bersama Jiyeon. Mereka berdua naik bus yang akan berhenti do halte depan sekolah. Jungkook baru merasakan nikmatnya berjalan kaki di pagi hari bersama sahabatnya, Park Jiyeon.

Setelah menempuh jarak beberapa kilometer, akhirnya Jiyeon dan Jungkook tiba di halte yang terletak tepat di depan sekolah. Keduanya turun dari bus dan berjalan lagi agar sampai di dalam lingkungan sekolah.

“Yaak! Jangan berjalan terlalu cepat!” Jungkook menarik tas milik Jiyeon dari belakang agar gadis itu memperlambat laju langkah kaki jenjangnya.

“Yaak Jungkook! Jangan menarik tasku!” Jiyeon memprotes aksi tarik tas yang dilakukan oleh si imut Jungkook.

Jungkook terkikik senang menjahili Jiyeon yang terpancing emosi akibat kelakuannya. “Bukankah sudah ku katakan untuk mengurangi kecepatanmu, eoh? Kajja! Kita masuk ke kelasku!”

“Yaak! Ini bukan kelasku. Lepaskan aku!” teriak Jiyeon pada Jungkook yang masih menarik tasnya hingga membuat dirinya berjalan mundur. “Yaak! Jeon Jungkook!”

“Inilah tempat di mana seharusnya dirimu berada. Anjaseo!” Jungkook menyuruh Jiyeon duduk di atas bangku miliknya.

Dengan terpaksa, Jiyeon menuruti kemauan Jungkook. “Yaak! Ada apa denganmu, eoh? Aku sudah setingkat lebih atas darimu.”

“Bisakah hari ini kau belajar di kelasku saja?”

“Waegurae? Aku akan ke kelasku.” Jiyeon berdiri dan siap berjalan menuju kelas 2-1 yang terletak di lantai dua.

“Jiyeon-a, sudah ku katakan belajar saja di kelasku untuk hari ini!” teriak Jungkook saat Jiyeon telah menghilang dari pandangannya.

“Shireo!” jawab Jiyeon yang terdengar samar-samar melalui indera pendengaran Jungkok.

Dengan santainya, Jiyeon menyusuri lorong deretan kelas 2 dan tak lama lagi dia akan sampai di tempat tujuan, yaitu kelas 2-1.

Cekleeek!
Jiyeon membuka pintu kelas yang biasanya tidak ditutup kecuali saat pelajaran berlangsung namun kali ini pintu itu tertutup rapat.

Setiba di dalam kelasnya, Jiyeon terkejut mendapat tatapan tajam dari semua teman-temannya di kelas yang telah datang lebih awal daripada dirinya. “W, waeyo?” tanya Jiyeon heran.

“Kau… benar-benar wanita murahan!” seru salah seorang siswi.

“Mwo?” Kening Jiyeon berkerut saat ia meletakkan tasnya di atas meja. Tak berapa lama kemudian, dia memutar badannya secara tidak sengaja.

Deg!
Sesuatu yang menusuk hatinya tertulis dengan jelas di papan tulis di depan matang. Kedua manik mata Jiyeon terasa memanas dan berkaca-kaca.

Cekleeek!
Seorang siswa  datang dengan raut wajah bingung dan heran. “Tumben pintunya tertutup.” Saat ia mengalihkan pandangannya dari pintu kelas ke arah papan tulis, siswa yang tidak lain adalah Myungsoo, membelalakkan kedua matanya. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba membaca kaliamat yang tertulis di papan tulis. “Ige mwoya?” serunya.

Jiyeon tak sanggup berada di dalam kelas itu lebih lama lagi. Dia menundukkan kepalanya kemudian bergegas meninggalkan kelas, tak peduli ada Myungsoo yang berdiri di depannya.

“Jiyeon-a,” panggil Myungsoo yang menatap iba pada Jiyeon. “Yaak! Kalian hapus ini semua! Jika aku kembali dan ternyata kalian belum menghapusnya, aku pastikan kalian akan mendapatkan masalah yang lebih berat,” ancam Myungsoo.

“Apa-apaan ini?” Tiba-tiba Yoo In Na muncul dengan raut wajah yang cukup menyeramkan. “Katakan siapa yang melakukan ini!”

“Kami semua, Saem.”

“Apa hak kalian menulis sesuatu yang menyakiti hati teman sekelas kalian sendiri? Apakah kalian tidak pernah diajari sopan santun? Tidak kasihan kah kalian pada Jiyeon yang membaca tulisan itu? Cepat hapus sekarang juga atau kalian akan diskors semua!”

Salah satu siswa maju ke depan untuk menuruti perintah Yoo In Na. Dengan cepat, ia menghapus kalimat yang tertulis di papan tulis:

PARK JIYEON WANITA MURAHAN, MERAYU DUA SISWA DAN KETUA YAYASAN UNTUK MENDAPATKAN BEASISWA

Tentu saja seseorang telah menyuruh siswa kelas tersebut untuk menuliskan kalimat itu di papan tulis.

Tbc

29 responses to “[Chapter 6] Knock to My Heart

  1. bener” masalah nya seh gara” myung belain jiyi terus jd jiyi di musuhin sampe segitu nya jinjaa parah ihh jahat semua yeh satu sekolahan itu -_-
    ehh boleh tanya kah !?
    kenapa ya waktu jiyi nunggu di taman pas mau ngasih cupcake ke myung itu loh , kenapa myung gg dateng yeh ??!
    itu pertanyaan aq hehehe
    dr part awal sampe part nie belum dapet jwaban nya , hehehehe
    dan apa alesan myung nyuruh sehun mecahin pigura itu gara” beasiswa kan ya !!?
    maaf ya otak nya aq rada terbatas , jd aja banyak nanyya ,hahahaha

  2. Pingback: [Chapter – 7] Knock to My Heart (End) | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s