[Chapter – 5] Knock To My Heart

knock to my heart

Prev: 1 | 2 | 3 | 4

Starring:
Park Jiyeon | Kim Myungsoo | Oh Sehun

Co. Starring:

Bae Suzy | Lee Ahreum | Yoo In Na | Jeon Jungkook | Eden LC9 | Park Gyu Ri | Lee Donghae

Genre:

School life | Romance | Hurt/Comfort  | AU

Length:
Multichapter

Rating:
PG – 13

 Everything about this FF is mine, except the casts. Casts belong to their families.

Sorry for typos 😀

Happy Reading

 

Keesokan harinya

Jiyeon berjalan tenang menjauh dari kediaman keluarganya yang masih berjarak 10 meter dari tempatnya berada saat ini. Pagi ini dia berangkat lebih pagi karena takut akan dibully oleh teman-teman sekelasnya gegara gosip yang beredar.

 

Flashback

Malam hari saat Eden dan Jungkook menangkap basah Myungsoo dan Jiyeon di depan sebuah kedai yang terletak tak jauh dari rumah Eden, seseorang mengintai keempatnya dari balik pagar tembok. Lebih tepatnya, orang itu mengintai Jiyeon, Myungsoo, Eden, dan Jungkook dari halaman sebuah gedung kosong, tepat di belakang kedai yang didatangi Myungsoo dan Jiyeon. Orang itu dapat melihat segala yang ingin diketahuinya. Sosok gadis cantik yang berjalan bersama Myungsoo sangat menarik perhatiannya hingga ia berpikir keras mengingat wajah cantik yang tak asing baginya.

 

Park Jiyeon. Itulah satu-satunya orang yang mirip dengan gadis yang sedang mengobrol dengan Eden dan Jungkook. Gadis itu nampak akrab dengan Eden dan Jungkook.

Aku pasti akan mengungkap siapa gadis itu sebenarnya,’ batin Eunji yang merupakan sahabat baik Bae Suzy. Eunji tersenyum licik. Dia meyakini bahwa gadis itu adalah Park Jiyeon yang menyamar menjadi orang lain. Eunji hafal betul bagaimana rupa Jiyeon, bahasa tubuh, mimik wajahnya, hingga cara Jiyeon tersenyum.

 

Saat Eunji ingin merubah posisinya yang semula berada di balik pagar tembok, Jiyeon dapat melihat keberadaannya di tempat itu meski hanya sekilas. Jiyeon merasa ada seseorang yang sedang menguntitnya. Meskipun tidak dapat melihat wajah orang yang mengintainya, Jiyeon yakin kalau orang itu kenal dengannya atau salah satu dari tiga pria yang sedang bersamanya.

Flashback end

 

“Yaak! Lupakan, Park Jiyeon! Anggap saja orang itu tidak ada hubungannya denganmu. Siapa tahu dia mengintai Eden atau Jungkook.” Jiyeon bicara pada dirinya sendiri sembari mengacak rambutnya yang sudah tertata rapi.

 

“Yaak! Nona Park! Sedang apa kau di sini? bicara sendiri seperti orang gila.”

 

Jiyeon menghentikan aktifitas kakinya dan menoleh ke arah samping kanan. Rupanya si imut Jungkook sedang menuntun sepedanya di samping Jiyeon. “Aku sedang mengukur panjang jalan ini. kau sendiri sedang apa, eoh?”

 

Jungkook tersenyum jahil. “Wah, daebak! Ekspresimu berbeda sekali dengan hari-hari kemarin. Penampilanmu semalam sangat mengagumkan. Aku berpikir bagaimana rasanya kalau punya kekasih seperti dirimu yang semalam. Pasti menyenangkan. Aku tidak akan menyia-nyiakan gadis cantik seperti itu.”

 

Jiyeon mendelik kesal. Berani-beraninya Jungkook membicarakan tentnag dirinya di hadapannya langsung? “Yaak! Buang jauh-jauh pikiran kotormu itu! Aku tidak akan mau menjadi kekasihmu. Bermimpi pun tidak pernah,” ketus Jiyeon.

 

Jungkook tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan ketus dari Jiyeon.

 

“Jung-a, apakah kau melihat seseorang sedang mengintai kita di deapan kedai semalam?” tanya Jiyeon yang berharap sekali Jungkook juga melihat orang yang mengintai mereka.

 

“Anhi,” jawab Jungkook singkat disertai dengan gelengan kepalanya yang begitu mantab.

 

Jiyeon mengernyitkan dahi.

“Memangnya ada apa?” tanya Jungkook balik.

 

“Tidak apa-apa. Kau ingin memboncengku?” Jiyeon memegang sepeda Jungkook.

 

“Shireo! Siapa yang ingin memboncengmu?” Jungkook menambah kecepatan langkah kakinya agar Jiyeon tidak bisa menggapai sepeda miliknya.

 

“Yaak! Jeon Jungkook! Awas kau!” teriak Jiyeon yang bersiap-siap mengambil langkah seribu untuk menyusul Jungkook yang berjalan cukup jauh di depannya.

 

Sesampainya di sekolah, Jungkook membelokkan kakinya ke arah deretan kelas satu yang terletak di lantai dua. Sedangkan Jiyeon tetap menaiki anak tangga menuju lantai tiga. Jiyeon berjalan santai menuju kelasnya. Belum banyak siswa yang sampai di sekolah karena hari masih sangat pagi. Baru kali ini Jiyeon berangkat ke sekolah di pagi buta. Hal yang lebih luar biasa adalah Jungkook yang biasanya terlambat ke sekolah, sekarang malah berangkat terlalu pagi.

 

Saat Jiyeon menyusuri lorong yang menghubungkan ruang-ruang kelas, dia terpaksa menghentikan langkah tepat di depan kelas 2 –3. Dia melihat seseorang sedang menatapnya tajam. Jiyeon menatap orang itu dengan tatapan serupa.

 

“Nuguya?” tanya Jiyeon yang memang tidak mengenak orang itu.

 

Orang itu tersenyum sinis pada Jiyeon yang berdiri mematung di depan kelas tetangga. “Kau tidak perlu tahu siapa aku. Mulai saat ini, perhitungkan aku sebagai sainganmu.”

 

“Saingan apa? Apa maksudmu?” tanya Jiyeon bingung. Tiba-tiba Jiyeon teringat sosok perempuan yang mengintainya semalam. “Kau… orang itu adalah dirimu, bukan?” Entah mendapat keberanian dari mana, Jiyeon langsung menanyakan hal itu pada gadis yang berdiri di depan loker kelas 2 -3.

 

“Aku adalah sahabat Bae Suzy tetapi mulai hari ini aku adalah saingan kalian.”

 

Jiyeon masih tidak mengerti. Dia menganggap gadis itu mengigau karena berangkat di pagi buta. “Terserah. Aku sama sekali tidak mengerti arah pembicaraanmu.”

 

“Yaak! Park Jiyeon!” panggil Hani (sebenarnya Dani) yang tengah berlari ke arah Jiyeon. “Apa yang kau lakukan di sini? Kelas kita di sana, bukan di sini.” Hani menunjuk sebuah ruang kelas tepat di samping kelas 2 – 3.

 

“Eoh, kajja!” ajak Jiyeon agar dia bisa menghindar dari orang asing tadi.

 

Jam pelajaran telah dimulai. 20 menit telah terbuang sia-sia karena guru Yoo tak kunjung datang. Para siswa yang senantiasa menanti kedatangan guru Yoo mulai merasa jenuh. Mereka telah menyelesaikan tugas dengan baik tetapi sang guru tak juga menunjukkan batang hidungnya.

 

Para siswa berkeliaran ke mana-mana. Berbagai macam aktifitas mereka lakukan untuk mengisi waktu luang yang mereka miliki karena jam pertama kosong.

 

Myungsoo menggeletakkan kepalanya di atas meja dengan mata tertutup. Hani sedang mengobrol dengan siswi lain. Sehun tengah sibuk mengerjakan soal matematika yang diberikan oleh guru privatnya. Sedangkan Jiyeon sibuk memikirkan maksud dari perkataan gadis yang berdiri di dalam kelas 2 – 3. Dia penasaran sekali dengan gadis itu.

 

“Sehun-a, kau kenal seluruh siswa kelas sebelah?” tanya Jiyeon pada Sehun yang duduk di bangku belakangnya. Jiyeon memutar bangkunya menghadap ke meja Sehun.

 

Sehun sedikit kaget karena tiba-tiba mendapat pertanyaan aneh dari Jiyeon. “Anhi,” jawabnya pelan.

 

Jiyeon ingin bertanya lagi pada Sehun namun sayangnya dia tidak memiliki foto gadis misterius itu sehingga tak dapat ditunjukkan pada Sehun. “Sebenarnya aku ingin bertanya tentang seseorang yang duduk di kelas sebelah.”

 

“Kalau begitu datanglah ke sana. Kau bisa berkenalan dengannya,” kata Sehun dengan entengnya.

 

Jiyeon agak kesal pada perlakuan Sehun yang terlalu acuh. Dia ingin bertanya pada Hani namun enggan dilakukannya karena ia takut Hani curiga pada orang itu dan dirinya. Jiyeon melirik Myungsoo yang tengah menikmati mimpi indahnya. Wajah tampan Kim Myungsoo mampu membuatnya tenang, setenangg air di dalam kolam. ‘Bagaimana bisa seperti ini? Hanya melihat wajahmu saja aku bisa merasa tenang,’ batin Jiyeon.

 

Tanpa sepengetahuan Jiyeon, ternyata Sehun melihat lirikan Jiyeon pada Myungsoo. Dia mengerutkan dahi dan bertanya-tanya dalam hati, apakah Jiyeon menyukai Myungsoo?

“Yaak Park Jiyeon!”

 

“Eoh! Wae?” Jiyeon kaget bukan kepalang mendengar panggilan dari Sehun yang membuyarkan lamunannya. Dia segera menoleh ke arah Sehun. “W, waeyo?” tanyanya tergagap karena jantungnya masih tak karuan akibat kaget.

 

Sehun menghela nafas panjang dan menghembuskannya kasar. “Kau mencaari seseorang yang ada di kelas 2 – 1?” tanya Sehun.

 

Dengan ekspresi bodohnya, Jiyeon mengangguk. “Eoh. Waeyo? Kau bilang tidak tahu….”

 

“Aku akan membantumu mencari orang itu.”

 

“Mwo?” Jiyeon bertambah kaget mendengar pernyataan Sehun yang bersedia membantunya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Sehun akan membantunya.“Jinjja? Eoh, gomawo.” Jiyeon menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal sama sekali. Dia tersenyum senang karena ada seseorang yang bersedia membantunya. ‘Kenapa aku merasa gugup begini?’ tanya Jiyeon dalam hati saat menatap mata kecil Oh Sehun yang duduk di depannya.

 

Jam istirahat tiba.

Semua siswa yang mengajukan beasiswa berkumpul di depan kantor guru untuk melihat pengumuman penerima beasiswa yang telah mendapatkan persetujuan dari sang Bendahara Yayasan yang tidak lain adalah ayah Bae Suzy. Nama siswa yang tercantum dalam pengumuman itu sebanyak 50 siswa yang terdiri dari siswa kelas 1, kelas 2, dan kelas 3.

 

“Akhirnya aku bisa mendapatkan beasiswa,” ucap seorang siswi saat masuk ke dalam kelas. Siswi tersebut seketika memamerkan ekspresi sumringahnya karena telah mendapat persetujuan beasiswa dari bendahara yayasan. Itu artinya sebentar lagi uang beasiswa akan masuk ke rekeningnya.

 

Myungsoo melihat siswi sumringah itu dengan tatapan aneh. “Yaak! Kau mendapatkan beasiswa?” tanyanya pada siswi itu.

 

Siswi itu mengangguk semangat. “Eoh. Sebentar lagi uangnya akan ditransfer ke rekeningku.”

 

“Jinjja?” Myungsoo tidak menyangka kalau jumlah uang beasiswa yang diterima siswa berprestasi dan kurang mampu di luar perkiraannya.

 

Siswa yang mendapat beasiswa akan dibebaskan dari iuran rutin bulanan dan biaya sekolah lainnya serta mendapatkan uang yang akan ditransfer ke rekening masing-masing siswa.

 

“Park Jiyeon!” panggil Myungsoo hingga membuat Jiyeon langsung menoleh ke arahnya. “Kau tidak pergi ke sana?”

 

Jiyeon bingung. “Ke mana?”

 

Myungsoo menepuk dahinya. “Pabbo! Tentu saja pergi ke ruang guru. Pengumuman penerima beasiswa yang mendapatkan persetujuan bendahara yayasan sudah dipasang, kan?”

 

“Eoh. Wae?” tanya Jiyeon polos.

 

Myungsoo merasa ada yang aneh pada Jiyeon. “Kenapa kau masih di sini? cepat pergilah ke sana!”

 

“Untuk apa aku ke sana? Namaku tidak tercantum di papan pengumuman,” jawab Jiyeon dengan datar.

 

“Mworago?” seru Myungsoo tidak percaya. “Kenapa begitu?”

 

Jiyeon menggeleng. “Aku juga tidak tahu.”

 

“Isshh!” Myungsoo mengangkat tubuhnya dan berdiri. Dia berjalan kelaur kelas menuju kantor kepala yayasan.

 

Ceklek!

Myungsoo membuka pintu ruang kerja kepala yayasan begitu saja. Dia menerobos masuk dengan tidak sopan lalu menatap pria paruh baya yang sedang sibuk bergelut dnegan lembaran berkas di atas meja kerjanya.

 

“Apa-apaan ini? Bagaimana hal ini bisa terjadi?” tanya Myungsoo dengan emosi memuncak.

 

“Kau tidak mengetuk pintu, menerobos masuk dan tiba-tiba marah dengan tak jelas seperti itu. Apakah itu yang diajarkan oleh gurumu di Jaeguk?”

 

Myungsoo mendesah kasar. “Abeoji….”

 

“Gunakan panggilan formal jika berada di sekolah.”

 

“Kim Ahjussi! Apa yang dilakukan oleh bendahara yayasan? Bagaimana bisa seorang siswi kurang mampu dan berprestasi tinggi tidak mendapat beasiswa?”

 

Tuan Kim selaku kepala yayasan, mendongakkan kepala agar bisa menatap sosok Myungsoo yang tengah marah-marah padanya. “Kau salah alamat. Seharusnya kau tanyakan langsung pada bendahara Bae.”

 

“Bendahara Bae? Ayah Bae Suzy?”

 

Tidak ada jawaban atas pertanyaan Myungsoo.

 

“Bagaimana… aish! Benar-benar menyebalkan!” Myungsoo memukul kursi yang terletak manis di depannya.

 

“Jaga sikapmu, Kim Myungsoo.”

 

“Abeoji, kenapa bisa begini. Keluarga Bae benar-benar menyebalkan! Jangan pernah berpikir untuk menjodohkanku dengan putri mereka!” Myungsoo membalikkan badannya menuju pintu.

 

Myungsoo memutar otaknya, berpikir keras untuk menemukan solusi agar Jiyeon mendapatkan beasiswa. Tetapi sebelum melakukan hal itu, Myungsoo akan menyelidiki perkara ini. Apa alasan bendahara Bae tidak mencantumkan nama Jiyeon sebagai penerima beasiswa? “Aneh, ini benar-benar aneh.” Myungsoo mengacak rambutnya sendiri.

 

Tap tap tap!

Suara sepatu mahal Myungsoo terdengar nyaring di ruang pendengaran setiap orang yang berpapasan dengannya. Meski bel masuk telah berbunyi, Myungsoo tetap melangkah menuju sebuah ruang yang tak kalah elit dari ruangan ayahnya.

 

Tok tok tok!

Kali ini Myungsoo mengetuk pintu berwarna putih di depannya. Dia menunggu seseorang menyuruhnya masuk ke dalam ruang itu.

 

“Masuklah!” Terdengar suara pria paruh baya yang begitu berat.

 

Myungsoo melangkah masuk dengan tenang. Dia berusaha keras menenangkan diri agar tidak terlihat sedang emosi di depan bendahara Bae yang sekaligus merupakan ayah kandung dari gadis yang sangat dibencinya, Bae Suzy.

 

Cekleek!

Pintu dibuka oleh Myungsoo dengan pelan.

 

“Eoh, Kim Myungsoo! Silahkan masuk. Aku merasa senang kau mau mendatangi ruanganku. “Ada apa? Pasti ada sesuatu yang membawamu datang ke sini.” Seakan bisa membaca pikiran, tuan Bae meneba-nebak maksud kedatangan Myungsoo ke tempatnya.

 

Myungsoo tersenyum tipis. Hanya itu yang bisa dilakukan untuk membalas keramahan tuan Bae. “Anda benar, Bendahara Bae. Aku datang ke sini untuk membahas sesuatu dengan Anda. Semoga Anda mempunyai waktu untuk itu.”

 

“Tentu saja. Silahkan, apa yang ingin kau sampaikan?”

 

“Ini tentang penerima beasiswa yang baru saja Anda setujui.”

 

Tuan Bae mengerutkan kening hingga membuat kedua alisnya nampak menjadi satu. “Apa ada yang salah?”

 

Myungsoo menarik salah satu sudut bibirnya. “Bagaimana cara Anda menentukan siapa yang berhak menerima beasiswa dan siapa yang tidak berhak menerimanya?”

 

“Apa maksudmu? Katakan saja apa yang ingin kau sampaikan, Kim Myungsoo.” Tuan Bae merasa tersinggung atas pertanyaan yang keluar begitu saja dari mulut seorang siswa biasa seperti Kim Myungsoo.

 

“Anggap saja aku adalah siswa biasa dari kalangan orang tidak mampu. Aku bertanya kepada Anda, kenapa Anda tidak mencantumkan namaku di papan pengumuman itu? Apa alasannya?”

 

Tuan Bae melepaskan kaca mata yang sedari tadi menghiasi wajahnya. “Survey, ya, aku memiliki tim khusus yang bertugas mendatangi rumah setiap siswa yang mengajukan beasiswa.”

 

“Benarkah? Lalu kenapa masih ada siswi yang luput dari survey itu?”

 

“Maksudmu siapa?”

 

“Park Jiyeon. Dia adalah gadis yang sangat cerdas dan berasal dari kalangan menengah ke bawah. Apakah Anda sengaja tidak mencantumkan namanya sebagai penerima beasiswa?” Myungsoo dapat melihat kegelisahan yang tiba-tiba menyerang tuan Bae. “Bendahara Bae, apa yang telah Anda lakukan?”

 

“Park Jiyeon adalah anak dari pengusaha kaya raya yang tinggal di kawasan perumahan elit. Aku mempunyai buktinya. Kau tidak bisa mengajukan protes begitu saja, Kim Myungsoo.”

 

“Oh ya? Apa buktinya?” Myungsoo menantang tuan Bae untuk menunjukkan bukti yang dia miliki.

 

Tuan Bae mengeluarkan sesuatu dari dalam map berwarna merah yang dia letakkan di dalam laci meja kerjanya. “Ini buktinya. Foto itu membuktikan bahwa siswi bernama Park Jiyeon memasuki rumah mewah. Menurut informasi tetangga sekitar, rumah itu milik seorang pengusaha kaya raya.”

 

Foto yang menggambarkan Jiyeon tengah berjalan memasuki gerbang sebuah rumah mewah itu disobek oleh Myungsoo. “Tuan Bae, aku sangat kecewa pada Anda. Bagaimana mungkin Anda menilai rumah orang lain sembarangan dan mengklaim bahwa rumah itu adalah kediaman keluarga Park? Perlu Anda ketahui, rumah itu adalah kediaman keluarga Kim yang memiliki dua putri kembar bernama Kim Dani dan Kim Hani. Salah satu dari putri mereka adalah teman sekelas saya dan teman dekat Park Jiyeon. Ayahnya adalah seorang pengusaha sukses yang telah mencapai nilai ekspor tertinggi untuk kategori perusahaan dalam negeri.”

 

Kali ini tuan Bae benar-benar dibuat malu oleh seorang Kim Myungsoo.

 

“Dari mana Anda mendapatkan foto ini?” tanya Myungsoo dengan maksud mengintimidasi.

 

“Kau tidak perlu tahu hal itu.”

 

“Hmm, biar saya tebak. Foto ini diberikan oleh putri Anda, Bae Suzy, bukan? Sudah ku duga….” Myungsoo menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang baru didudukinya. “Saya, Kim Myungsoo, secara pribadi akan menggugat hasil keputusan penerima beasiswa yang telah Anda cantumkan di depan ruang guru, Bendahara Bae. Jangan menganggap enteng gugatan ini. Jika dalam 3 hari keputusan itu tidak ada perubahan, saya akan melayangkan surat gugatan kepada Anda, Bendahara Bae.”

 

Tuan Bae atau biasa dipanggil dengan sebutan Bendahara Bae nampak kebingungan mencari solusi mengatasi masalah yang harus dia selesaikan. Foto yang diberikan oleh putrinya ternyata palsu. Tak sepatah kata pun terucap dari mulut tuan Bae.

 

“Terimakasih atas waktu yang Anda luangkan.” Seketika itu, Myungsoo bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari ruang kerja tuan Bae.

 

Brukk!!

“Auw!” seru Bae Suzy yang bertabrakan langsung dengan Myungsoo saat dia hendak masuk ke ruang kerja ayahnya.

Myungsoo sama sekali tidak memperhatikan apa yang terjadi pada gadis menyebalkan itu.

 

“Yaak! Kim Myungsoo!” panggil Suzy dengan suara nyaring hingga dapat memekakkan telinga orang yang tidak sengaja mendengar suaranya.

 

Myungsoo tak menghiraukan panggilan Suzy. Dia tetap berjalan menyusuri lorong sekolah hingga sampai di kelasnya.

 

“Jiyeon-a!” panggil Myungsoo.

 

Jiyeon menoleh ke arah Myungsoo. “Waeyo?”

 

“Aku ingin bicara denganmu.”

 

“Oppa, aku sedang menyelesaikan tugas matema…”

 

Tanpa menunggu Jiyeon menyelesaikan kalimatnya, Myungsoo menarik tangan gadis itu dengan paksa.

 

“Yaak! Kim Myungsoo!” seru Sehun yang tidak sengaja melihat Jiyeon terpaksa berlari mengikuti langkah kaki Myungsoo.

 

“Oppa!” Jiyeon berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Myungsoo.

 

“Katakan padaku, ada urusan apa kau mendatangi rumah Dani dan Hani?” Tatapan mata Myungsoo menampilkan betapa dinginnya karakter laki-laki itu.

 

“Aku….”

“Wae?”

 

Jiyeon menundukkan kepalanya dan tak berani menatap mata Myungsoo. Sementara itu, Myungsoo masih mencengkeram lengan Jiyeon.

 

“Katakan padaku! Kenapa sulit sekali bagimu untuk berterus terang padaku?”

 

Deg!!

Ucapan Myungsoo barusan benar-benar membuat jantung Jiyeon berdegub tak karuan. Ingin rasanya Jiyeon mengeluarkan airmatanya yang ingin menyeruak keluar dari dua sudut matanya.

 

“Kau tidak ingin mengatakannya padaku?”

 

“Anhi, bukan begitu.”

 

“Aku hanya ingin menolongmu. Tolong berterus terang lah padaku, Jiyeon-a.”

 

Jiyeon memberanikan diri mengangkat kepalanya menatap Myungsoo yang berdiri tepat di depannya dengan jarak yang sangat dekat. “Aku… mendatangi kediaman kelaurga Kim karena ingin mendatangi pesta ulangtahun Bae Suzy.”

 

Myungsoo mengernyitkan keningnya. “Apa hubungannya dengan ulangtahun Suzy?”

 

Jiyeon menundukkan kepalanya lagi. Airmatanya tak dapat ia tahan. Kenangan pahit saat Myungsoo mencium Suzy dan bernyanyi untuk gadis angkuh itu terlintas kembali di pikirannya. “Aku sadar seharusnya aku tidak ikut datang ke pesta itu. Dani memintaku datang ke rumahnya dan meminjamkan bajunya untukku. Aku mengiyakan ajakannya. Hanya itu.”

 

Myungsoo menghembuskan nafas kasar. Hanya karena masalah sepele seperti itu, sekarang Jiyeon harus mengorbankan beasiswa yang seharusnya ia dapatkan malah hilang begitu saja. Semuanya akibat ulah Suzy. “Kenapa kau menangis? Apakah aku menyalahkanmu?”

 

Jiyeon menggeleng pelan.

 

“Usaplah airmatamu!” Myungsoo menyodorkan sapu tangannya kepada Jiyeon namun gadis itu diam saja. Dia tidak menerima sapu tangan milik Myungsoo. Karena tak kunjung diambil, akhirnya Myungsoo mengangkat dagu Jiyeon dan menggusap airmatanya menggunakan sapu tangan motif kotak berwarna biru tua itu. “Kau akan terlihat sangat jelek jika menangis. Jangan pernah menangis di depanku lagi.”

 

Gegara mendengar kata-kata penghibur dari Myungsoo, Jiyeon semakin deras mengeluarkan airmatanya.

 

 

 

“Kembalilah ke kelas!” Myungsoo menepuk kedua bahu Jiyeon dan memberikan senyuman penuh arti pada gadis bermarga Park itu.

Jiyeon pun menurut. Dia segera membalikkan badan dan berjalan menjauhi Myungsoo yang menatap punggungnya. Sapu tangan milik Myungsoo tergenggam erat dalam telapak tangannya.

Myungsoo menatap sedih pada Jiyeon yang semakin menjauh. “Aku akan menebus kesalahanku padamu, Jiyeon-a. Mianhae….” Tatapan mata Myungsoo begitu teduh saat menatap Jiyeon.

Sebelum menginjakkan kaki di atas lantai kelasnya, Jiyeon menghela nafas panjang dan menata penampilannya agar tak kentara kalau dirinya baru saja menangis. Tak ada yang boleh mengetahui bahwa dirinya mengeluarkan air mata. Siapapun yang mengetahuinya pasti akan mengira kalau Myungsoo telah menyakitinya.

“Kenapa kau berdiri di sana?” tanya Sehun yang hendak melangkah keluar dari depan pintu kelas yang sukses mengejutkan Jiyeon.

“Anhi, ah, maksudku tidak ada apa-apa. Aku pikir telah lupa meninggalkan sesuatu. Makanya aku hanya berdiri di sini untuk mengingatnya. Oh ya, bagaimana dengan tugas kelompok kita?” tanya Jiyeon untuk mengalihkan perhatian Sehun agar laki-laki itu tidak menanyakan sesuatu padanya terkait pemaksaan yang dilakukan oleh Myungsoo tadi.

Sehun menyandarkan tubuhnya pada gawang pintu. “Tinggal sedikit. Aku akan menyelesaikannya hari ini juga.”

“Tidak usah, biar aku saja yang menyelesaikannya. Gomawo sudah membantu kelompok kita,” kata Jiyeon yang selalu merasa sungkan jika merepotkan orang lain.

Sehun tersenyum tipis. “Eoh, cheonma.”

Saat sedang asyik berbincang dengan Jiyeon, tiba-tiba Myungsoo muncul dari arah tangga yang terletak tepat di samping kelas mereka.

“Kim Myungsoo!” panggil Sehun. Meskipun usia Myungsoo lebih tua darinya, Sehun tetap memanggil Myungsoo tanpa embel-embel ‘hyung’.

Jiyeon hanya menatap datar pada Myungsoo. Ia berpura-pura cuek saat Myungsoo lewat di depan matanya.

“Wae?” sahut Myungsoo dengan ekspresi wajah cuek.

“Aku serahkan semua sisa tugas kelompok padamu. Tinggal 50 butir. Kau pasti bisa mengerjakannya.”

“Mwo?” Myungsoo kaget. Meskipun dia dapat mengerjakan soal-soal semua mata pelajaran sendirian, dia tidak mungkin bisa mengerjakan sisa tugas kelompok sebanyak 50 butir soal. “Michyeoseo?”

“50 butir adalah jumlah yang sedikit. Ku serahkan semuanya padamu.” Sehun melenggang pergi meninggalkan kelas, mungkin laki-laki itu pergi ke toilet.

“Mimpi apa semalam?” gumam Myungsoo.

“Aku akan membantumu,” kata Jiyeon yang masih berdiri di samping pintu kelas.

Myungsoo menoleh menatap Jiyeon. Dia baru menyadari kalau Jiyeon masih berdiri mematung di sana. “Tidak usah. Aku bisa mengerjakannya sendiri. Jangan menganggapku seperti anak mama. Aku bukan tipe orang seperti itu.”

“Aku serius. Hmm, aku yakin Oppa bisa mengerjakan semuanya tapi tidak dalam waktu satu malam. Maka dari itu, berikan separuh jumlah soalnya padaku.”

“Jinjja?” Myungsoo mengangkat salah satu alisnya. “Eoh, gurae. Kau bisa mengerjakan separuhnya.”

Jiyeon tersenyum senang. Akhirnya dia dapat membantu Myungsoo meskipun hanya membantunya mengerjakan soal kelompok.

“Tapi… kau sudah mengerjakan 30 soal, kan?”

Jiyeon mengangguk pelan. “Waeyo? Aku bisa mengerjakan soal lagi. Gwaenchana.”

“Andwae! Aku saja yang mengerjakan 50 soal itu. Hmmm, lembur di sekolah pun tidak apa-apa. Kalau ku kerjakan di rumah, akan ada godaan untuk mengabaikan tugas-tugas itu apalagi kalau Eden dan geng datang.”

Jiyeon menyembunyikan senyumnya mendengar keluhan Myungsoo yang selalu mengaitkan gengnya. Myungsoo pun tersenyum sendiri jika mengingat anggota gengnya yang sering melakukan hal-hal konyol.

“Oppa, apakah yang dikatakan oleh Eden kemarin malam memang benar adanya?”

“Mwoya? Memangnya apa yang dikatakan oleh Eden?” tanya Myungsoo balik.

Jiyeon memutar bola matanya malas. Terkadang Myungsoo memang lama dalam memahami sesuatu.

“Aku belum tahu kebenarannya. Kabar putusnya Ahreum dengan Eden masih simpang siur. Tapi kalau melihat ekspresi Eden yang seperti kemarin malam, aku yakin kalau mereka benar-benar putus.”

“Jongmal?”

Myungsoo mengangguk mantab. “Eden… Eden…. Aku saja belum pernah pacaran, dia malah sudah putus hubungan. Dasar!” gumam Myungsoo yang menyebabkan Jiyeon menundukkan kepalanya.

Jiyeon merasa benar-benar malu setelah mendapat penolakan dari Myungsoo beberapa waktu yang lalu.

Pukul 5 sore, Myungsoo benar-benar membuktikan bahwa dirinya lembur mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh Sehun tadi siang. Laki-laki tampan itu melepas dasi yang melingkar indah di kerah bajunya. “Kalau bukan karena menjaga image, aku tidak akan mengerjakan soal sebanyak ini.”

5 soal telah diselesaikan oleh Myungsoo dalam waktu 15 menit. Sebenarnya Kim Myungsoo merupakan siswa yang cerdas dan bertanggung jawab. Namun sayangnya kelebihan tersebut tertutupi oleh sifatnya yang keras kepala dan sikapnya yang semaunya sendiri.

Krieet!!
Myungsoo segera mengalihkan perhatiannya pada sebuah bangku yang ditarik keluar dari bawah meja.

“Annyeong,” ucap Jiyeon dengan senyum manisnya.

“Aigoo… aku kira ada hantu yang ingin menemaniku lembur,” ujar Myungsoo asal bicara. “Ada apa?”

“Aku akan membantumu, Oppa.” Jiyeon mengambil lembaran yang berisi soal-soal.

Myungsoo merebut kertas yang telah berhasil diambil oleh Jiyeon. “Andwae! Pulanglah! Aku tidak ingin kau bantu. Lihat! Aku sudah mendapatkan jawaban yang benar untuk beberapa soal ini.”

“Oppa, kau bisa mengerjakan soal yang mudah dalam waktu singkat. Lalu bagaimana dengan soal yang tingkatannya lebih sulit?”

“Tetap saja. Shireo! Pulanglah, Jiyeon-a. Lebih baik aku di sini daripada di jalanan seperti Jungkook.”

“Yaak! Jangan bicara seenaknya saja!”

Jiyeon dan Myungsoo sontak membalikkan badan menghadap ke arah pintu. Mereka mendengar suara Jungkook yang menggema di seluruh ruang sekitar kelas.

“Jeon Jungkook?” seru Jiyeon dan Myungsoo bersamaan.

Jungkook melangkah memasuki ruang kelas milik Jiyeon dan Myungsoo.

“Yaak! Kau tidak diijinkan menginjakkan kaki di kelas ini.”

“Itu kan bukan aturanmu, Hyung. Kalau yang mengatakan hal itu adalah ayahmu, aku akan menurutinya.”

Myungsoo mencubit lengan Jungkook sekeras mungkin. Laki-laki imut itu telah melakukan satu pantangan yang diberikan oleh Myungsoo.

“Aaakh, mianhae, Hyung. Jongmal mianhae…” ucap Jungkook yang langsung memegang lengan Myungsoo, meminta ampunan dari putra tunggal pemilik sekolah.

“Apa maksudmu, Jung?” tanya Jiyeon penasaran.

“Anhi. Aku hanya salah bicara. Serius.” Jungkook ingin meralat ucapannya yang terlanjur keluar begitu saja dari mulutnya.

Jiyeon tidak percaya dengan mudahnya pada tetangganya yang imut itu. “Ada yang kalian sembunyikan dariku?”

“Anhi,” jawab Myungsoo dan Jungkook kompak diiringi gelengan kepala.

Jiyeon menyipitkan sebelah matanya. “Jongmal?”

“Eoh, tentu saja,” sahut Jungkook. “Aku hanya mengatakan sesuatu yang tidak benar. Hahaha…”

Myungsoo menggelengkan kepala melihat tingkah konyol Jungkook yang masih kekanak-kanakan.

“Aku akan membantu kalian.” Jungkook menarik sebuah bangku dan meletakkannya di samping Jiyeon.

“Apa yang kau lakukan? Kau malah membuat onar di sini!” Myungsoo memarahi Jungkook yang diyakininya akan merusak konsentrasi dan mengganggunya mengerjakan puluhan soal yang tersisa.

Jungkook menepuk dahinya sendiri lalu berkata, “Kim Myungsoo, betapa bodohnya dirimu yang tidak mengetahui kecerdasanku. Tidak banyak yang tahu kalau sebenarnya aku adalah siswa yang cerdas, sama seperti Jiyeon.”

“Mwo?” Myungsoo melongo gegara mendengar pernyataan kebanggaan diri seorang Jungkook yang terlalu sering ia dengarkan namun tak ada buktinya jika laki-laki imut itu memiliki kecerdasan seperti Jiyeon.

“Kalau begitu cepatlah kerjakan soal-soal ini!” perintah Myungsoo pada Jungkook yang selalu senang membanggakan diri sendiri.

Jiyeon menahan tawa melihat tingkah konyol Myungsoo dan Jungkook.

Udara malam ini terasa dingin seakan menusuk tulang rusuk di dalam tubuh yang diselimuti kain tebal. Mungkin musim dingin akan menyapa Korea dalam waktu dekat ini. Malam ini Jiyeon mencoba membantu Myungsoo menyelesaikan 10 butir soal yang tersisa. Dia merelakan diri mengerjakan soal-soal itu di bawah naungan selimut tebalnya. Tugas itu harus selesai malam ini juga.

Kriiing!
“Ya Tuhan!” Jiyeon mengelus dadanya karena tersentak kaget mendengar ponselnya mendadak berdering. “Lee Ahreum?” lirihnya.

“Eoh, yeoboseo…” ucap Jiyeon.

“Jiyeon-aaaaaa!!” seru Ahreum melalui sambungan telepon.

Jiyeon harus menjauhkan ponselnya dari indera pendengaran karena suara Ahreun yang kelewat melengking bisa merusak gendang telinganya. “Yaak! Sudah larut malam, jangan berteriak seperti orang gila.”

“Oooh, Jiyeon-a… aku benar-benar merindukanmu. Kapan kita bisa bertemu? Aku ingin menceritakan banyak hal padamu.”

“Eoh, nado. Tapi… Ahreum-a… akhir-akhir ini aku masih sibuk.”

“Aigoo, yang sudah naik kelas dua…”

Jiyeon tersenyum kecil mendengar ledekan dari Ahreum. Sudah lama dia tidak mendengar ledekan-ledekan dari sahabatnya tersayang itu. “Ahreum-a, ada yang ingin aku tanyakan padamu.”

“Mwoya? Kau masih saja menyimpan pertanyaan untukku. Baiklah, asalkan pertanyaan itu bukan soal ujian, aku akan menjawabnya.”

“Gurae. Kemarin malam aku bertemu dengan Eden. Dia membicarakanmu.”

“Eden? Apa yang dia bicarakan?” tanya Ahreum dengan nada tinggi.

“Yaak! Sabarlah dulu. Dia hanya meminta tolong padaku untuk menyampaikan sesuatu padamu.”

“Mwonde?” Ahreum siap mendengarkan jawaban dari Jiyeon.

“Eden memintaku untuk mengatakan padamu kalau dia masih mencintaimu daa ingin kembali padamu.” Akhirnya Jiyeon bisa merasa lega setelah menyampaikanpesan dari Eden untuk mantan kekasihnya, Lee Ahreum.

“Aah, shireo!”

“Ahreum-a… apakah kau tidak merasakan kasihan pada laki-laki itu?” tanya Jiyeon yang tiba-tiba memikirkan Myungsoo berada di posisi Eden, pasti kasihan sekali.

“Biarkan saja. Dia telah membuatmu galau dan sedih. Akibat ulahnya, sekarang Suzy menjadi orang yang digosipkan akan bertunangan dengan Myungsoo.”

Deg!
“Jongmal?”

“Eoh. Aku memang mengancamnya. Jika Eden masih berusaha membuat Suzy dekat dengan Myungsoo, aku akan memutuskan hubungan kami. Entah apa yang dilakukannya, Eden tidak menghubungiku lagi.” Ahreum bicara dengan sangat cepat sehingga Jiyeon harus memecah konsentrasinya dalam mengerjakan tugas kelompoknya.

“Mungkin dia marah.”

“Biarkan saja.”

“Ahreum-a….”

“Mwoya? Aku tidak akan merubah sikapku. Itu adalah keputusanku. Aku tidak ingin kau menangis dan bersedih gara-gara Kim Myungsoo, Jiyeon-a.”

Jiyeon terdiam karena terharu mengetahui pengorbanan Ahreum untuknya. Lee Ahreum memang sahabat terbaik yang ia miliki. “Gurae, jongmal gomawo. Kau adalah satu-satunya orang yang mengerti diriku. Lee Ahreum-a, saranghaeyo chingu….”

“Yaak! Jangan mengucapkan kata ‘saranghae’ padaku! Simpan saja kata itu lalu katakan pada Kim Myungsoo pabbo yang telah mengobrak-abrik hatimu.”

Tiba-tiba Jiyeon terdiam. Otaknya terasa penuh dengan bayang-bayang Myungsoo. “Aku ingin melupakannya,” lirih Jiyeon.

“Mwo? Aku bersyukur sekali jika kau bisa melakukannya,” sahut Ahreum. “Setidaknya hal itu bisa membuat kesedihanmu berkurang.”

“Aku juga tidak tahu. Sejujurnya, aku pindah ke SMA Nam hanya untuk menghindari Myungsoo tetapi kami malah berada dalam satu kelas.”

“Kyaaa! Jongmalyo? Aku kira kabar itu hanya desas desus yang tak berguna sama sekali.” Ahreum menutup mulutnya dengan tangan kanan karena terlalu kaget mendengar kabar yang dikiranya hanya gosip belaka ternyata memang benar adanya. “Lalu apa yang akan kau lakukan? Kau masih menyimpan perasaan untuk Kim Myungsoo?”

“Anhi,” jawab Jiyeon yang disertai anggukan kepala. Ia tidak dapat memberanikan diri untuk mengatakan ‘iya’ pada Ahreum. “Aku sudah melupakannya… sedikit.”

Ahreum merasa sangat kasihan pada Jiyeon yang tak kunjung mendapatkan apa yang diinginkannya. Pengorbanannya untuk Kim Myungsoo sudah tak terbayangkan besarnya. “Sabarlah, Jiyeon-a. Menurutku, kau bisa melupakan Myungsoo seutuhnya dengan bersikap cuek padanya.”

“Mwo? Bersikap cuek?” Jiyeon meragukan dirinya sendiri. Dia tidak mungkin bisa bersikap cuek pada Myungsoo. “Aku akan mencobanya. Tapi aku tidak pandai berakting, Ahreum-a.”

Desahan nafas keluar dari hidung Ahreum. “Lakukan hanya dalam waktu beberapa hari. Kau tidak perlu melakukannya setiap hari, Jiyeon-a. Cobalah!”

Jiyeon menghela nafas panjang dan menghembuskannya pelan untuk mengurangi sedikit penat di kepalanya. “Gurae, aku akan mencobanya. Semoga saja berhasil.”

Teeeng teeeng!
Bel tanda masuk telah berbunyi dengan sangat nyaring hingga terdengar di seantero sekolah. Para siswa yang tidak ingin dinyatakan ‘terlambat’ oleh guru pengawas, berlari tunggang langgang menuju pintu gerbang yang telah ditutup setengahnya oleh seorang security.

“Chakkaman, Ahjussi!” teriak Myungsoo yang baru saja turun dari mobilnya.

Pagi ini ada pemandangan yang tak biasa. Kim Myungsoo yang biasanya pergi ke sekolah dengan motor sport miliknya, kini diantar oleh sang sopir yang memang disiapkan oleh ayahnya.

Myungsoo memacu kecepatan langkah kakinya agar bisa masuk melewati pintu gerbang.

“Di mana sepeda motormu?” tanya security saat menatap Myungsoo yang tengah membungkukkan badannya dan mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.

Myungsoo mengelap peluh yang menetes dari pelipisnya. “Dijual,” jawabnya asal. Dia tidak ingin mengatakan hal yang sejujurnya pada security itu. Bisa-bisa pria paruh baya itu malah menginterogasi dirinya. “Gomawo, Ahjussi,” ucapnya tegas saat hendak berlari menuju kelas tanpa menghiraukan keadaan sekitarnya.

Ciit!
Tiba-tiba Myungsoo menghentikan langkahnya saat melewati ruang guru. Dia menggelengkan kepalanya beberapa kali. “Bukan contoh yang baik.” Dengan mudahnya dan tanpa merasa bersalah, Myungsoo mengambil pigura pengumuman yang terpasang di dinding depan ruang guru.

“Kim Myungsoo! Apa yang kau lakukan?” Seorang guru kedisiplinan memergoki Myungsoo yang baru saja mengambil pigura itu tanpa ijin.

Myungsoo berpura-pura tidak mendengar teguran sang guru. “Yaak! Oh Sehun!” serunya saat melihat Sehun berjalan santai di depannya.

Sehun pun menoleh ke arah Myungsoo. “Wae?”

“Tangkap ini dan buang di manapun kau mau.” Myungsoo melemparkan pigura pengumuman itu pada Sehun.

“Ige mwoya?” tanya Sehun bingung. Ia membaca tulisan yang ada dalam pigura tersebut. PENGUMUMAN PENERIMA BEASISWA. “Yaak! Kim Myungsoo!”

“Cepat pergi sana! Banting saja pigura jelek itu!” seru Myungsoo.

Sehun masih mematung di tempatnya. Dia masih bingung dengan situasi saat itu.

“Bawa kemari!” Guru kedisiplinan bernama Lee Seung Gi memerintahkan Sehun untuk mengembalikan pigura yang dipegangnya.

“Bawa pergi! Kau tidak akan berdosa jika melakukannya!” seru Myungsoo untuk kesekian kalinya.

Sehun membalikkan badan dan membawa pigura itu pergo dari hadapan guru Lee.

Good!” Myungsoo mengacungkan kedua jempol tangannya pada Sehun. Tak berapa lama kemudian, dia menyusul Sehun dari arah yang berlawanan.

Pagi ini Jiyeon telah menyelesaikan tugas matematika yang dibebankan kepada tiap kelompok. Myungsoo membagi soal-soal tugas kelompok mereka dengan adil. Jiyeon dan dirinya mendapatkan soal tingakatan mudah dan tingkatan yang sulit.

“Haaah! Akhirnya selesai juga,” ucap Jiyeon yang sedari tadi duduk di kantin padahal kantin itu masih memajang tulisan ‘CLOSED‘.

Praaang!!
Terdengar bunyi benda berkaca jatuh dari tempat yang tinggi. Jiyeon kaget setengah mati. Dia segera berhambur menuju asal suara.

Tap tap tap!
Suara langkah kaki Jiyeon dan Myungsoo terdengar nyaring dan seirama. Mereka berdua kaget melihat pirgura mahal milik sekolah telah hancur, pecah berkeping-keping.

Jiyeon menatap sepatu keren yang dikenakan oleh seseorang. Dia menatap orang yang memecahkan pigura itu dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Tap tap tap!
Guru Lee baru saja sampai di TKP tempat Sehun memecahkan pigura pengumuman. “Oh Sehuuuuun!” teriak guru Lee.

Sehun menoleh. “Anggap saja Myungsoo yang melakukannya,” kata Sehun pada guru Lee yang bersusah payah menahan emosinya.

Myungsoo tersenyum senang.

“Kau berhutang penjelasan padaku, Kim Myungsoo,” ucap Sehun dengan tatapan setajam silet.

Myungsoo malah tertawa. “Dengan senang hati aku akan menjelaskan sejelas-helasnya padamu, Oh Sehun.”

“Oppa!”

Myungsoo dan Sehun menolehkan kepala mereka ke arah kanan. Seketika itu, ekspresi wajah Myungsoo yang senang bukan kepalang berubah mengerikan, suram dan sangat dingin.

“Jiyeon-a…” lirih Myungsoo. Beberapa detik kemudian Myungsoo berjalan ke arah Jiyeon tanpa merubah mimik wajahnya.

“Oppa….” Jiyeon berdiri tegak tepat di depan Myungsoo yang semakin dekat dengannya.

‘Myungsoo oppa pasti akan mengamuk lagi,’ batin Jiyeon.

Jiyeon telah siap mendapatkan tatapan tajam dari Myungsoo yang berjalan mendekatinya. Saat laki-laki bermarga Kim itu berada di depannya, rupanya Myungsoo masih melanjutkan langkahnya ke belakang Jiyeon.

Jiyeon membalikkan badannya. Ia mendapati Bae Suzy yang juga berdiri menatap Myungsoo.

Tap!
Myungsoo memegang tangan Suzy. “Ikut aku!” Dia pun menarik lengan Suzy secara paksa dan mengajaknya pergi ke suatu tempat.

Jiyeon dan Sehun melongo di tempatnya. Tak ada komentar maupun kata-kata lain yang keluar dari mulut keduanya.

“Myungsoo oppa…” lirih Jiyeon melihat Myungsoo menarik lengan Suzy yang semakin jauh hingga hilang dari pandangan setelah berbelok di dekat ruang perpustakaan.

Tbc

 

Hargai karya orang lain jika kalian juga ingin dihargai!!

 

34 responses to “[Chapter – 5] Knock To My Heart

  1. Sebelum nya aq mau minta maaf ya kl di tiap part nya coment aq ceplas ceplos , hhe
    kan biar kakak author nya bisa bikin ff yang lebih baik lagy , bukan karna ff kakak nya jelek loh , cuman aq agak ngerasa ditiap part slalu ada yang kurang , gg terlalu cepet seh alur nya cuman kurang detail juga seh tentang penjelasan masalah nya , jd jatoh nya acak”an aq sampe bingung , hehehe
    semoga ngerti deh coment aq ya , huhihi

  2. aq dah nyari2 ni ff aq dah coment ko dari part 1 cuma g tau di mana blognya beda2… trus data2 kmaren ilang.. huahhh akhirnya ktmu juga…..makin seru.

    et dah tuh salah aq malah nyalin teks itt kkk…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s