[ CHAPTER – PART 2 ] A MINUTE OF HOPE

AOF

AMH

 Tittle : A Minute of Hope

Author : gazasinta

Main Cast :

– Park Jiyeon as Jiyeon
– Kim Myungsoo as Myungsoo
– Kim Jaejoong as Dr Jae
– Bae Suzy as Suzy
– Jeo Min Seo as Park Jeo Min ( Jiyeon’s sister )

Extended Cast :

– Shin Goo as Seo Sin Goo ( Harabeoji )
– Kang Bo Ja as Halmeoni Kang ( Yongha’s mother )
– Park Won Sook as Won Sook ( Yongha’s sister )
– Yun Yoo Sun as Yoo Sun ( Jaejoong and Myungsoo’s mother )
– Kim Soo Ro as Soo Ro ( Jaeejong and Myungsoo’s father )
– Kim Mi Sook as Mi Sook ( Suzy’s mother )
– Kim Ji Young as Bibi Lee Eun Cha
– Lee Kwang soo as Kwang Soo
– Son Ye Jin as Seo Ye Jin ( Jiyeon and Jeo Min’s mother )
– Park Yong Ha as Yong Ha ( Jiyeon and Jeo Min’s father )

Genre : School, Family, Drama

Rating : PG-17

Poster created by @olivemoon2

Note : Part 2 A Minute Of Hope ini mungkin akan terasa membosankan karena masih menceritakan awal bagaimana cerita ini akan berkembang, memang banyak masalah yang Jiyeon sebagai lead femalenya alami, hingga membuat sebagian reader akan bilang “ pusing pala barbie “ , tapi aku berharap responnya ga berkurang dari yang kemarin bahkan kalo bisa bertambah, biar aku bisa nentuin ini harus lanjut atau stop sampai disini*jaelahsiauthormengancam.

Hehehe….aku hanya ga mau kerja keras otakku untuk berpikir dan jari yang lelah untuk mengetik useless . Untuk siders, aku hanya bisa mengelus dada dan berdoa semoga kalian mau tobat dan menghargai kerja keras para author yang dengan semangat 45-nya menyuguhkan ff yang terbaik yang bisa mereka persembahkan untuk kalian baca Cuma-Cuma#akumahgituorangnya 

Moment couple di part ini juga ga banyak, tapi perlahan-lahan akan muncul seperti jamur dikulit kalian…hohohoho. Jangan dulu menebak ini akan jadi MyungYeon – JaeZy ( ? ) atau MyungZy – JaeYeon, karena aku juga belum menentukan, seperti biasa author yang satu ini suka banget sama cinta segi rumit, berharap aku bisa membuat ceritanya menarik, dan ga melulu tentang cinta.

Olivemoon, gomawo untuk posternya, aku suka banget wajah angker Jae dan Bad Boynya Myung disana, jangan bosan kalo eonni req lagi yah lip….hehehe

Disclaimer : FF ini terinsprirasi dari Kdrama yang sangat menyentuh Thank You, tapi alur dan ceritanya pure milik author.

Sorry for typos, and happy reading ya guys!!!

“ Be a strong wall in the hard times and be a smilling sun in the good times. “

Previous part

“ Berhentiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii !!!!!!!!!!!! “

Mendengar teriakan yang membahana Myungsoo tersentak, ia pun baru sadar jika ada orang lain disekitarnya “ Bodoh “ Pekik Myungsoo merasa kesal, ia pun terpaksa membanting setir untuk menghindari menabrak kedua orang yang sedang menyebrang, alhasil ia harus merelakan dirinya dan motor miliknya jatuh ke pematang sawah dan merusak padi-padi yang siap panen.

Terlalu lega mengetahui dirinya selamat, gadis itu terduduk lemah ditempatnya berdiri.

“ Hey, apa kalian bodoh ??? untuk apa mata kalian ada ditempatnya jika menyebrang saja membahayakan orang lain ? “ Tubuh Myungsoo nampak kotor dengan bau tanah yang membuat perutnya mual, ia langsung saja menghardik dua orang yang membuatnya sial seperti saat ini.

Part 2 ~ A Minute of Hope

Desa Hwanghe,

Jiyeon masih terduduk lemah diatas aspal, sekujur tubuhnya begitu lemas dengan jantung yang berdegup kencang. Hampir saja ia dan Jeo Min mati konyol jika pengendara itu tidak berhasil membanting setirnya .

Jiyeon menoleh ketika mendengar suara seseorang sedang menahan isak tangisnya, didapati Jeo Min nampak ketakutan karena pria yang jatuh ke pematang sawah bernama Kim Myungsoo berteriak kencang memarahinya. Gadis berperawakan kurus itupun merangkak dan mendekap erat adiknya.

“ Kau tidak apa-apa ? gwenchana, semua baik-baik saja eoh “ Ucap Jiyeon menciumi puncak kepala Jeo Min yang masih menahan isak tangisnya, terlihat ia begitu khawatir karena wajah Jeo Min benar-benar sangat ketakutan.

Dengan tubuh yang kotor dan penuh lumpur Myungsoo naik dari pematang sawah dan mendekat kearah Jiyeon dan Jeo Min, tangannya meraih kasar bahu Jiyeon, membuat dekapan Jiyeon pada Jeo Min terlepas paksa “ Lihat apa yang telah kau lakukan padaku ?? “ Ucap Myungsoo marah.

Jiyeon mengamati sekujur tubuh Myungsoo dari ujung rambut hingga kakinya penuh dengan lumpur “ Aku tidak sengaja melakukannya “ Ucap Jiyeon datar, merasa itu bukan salah ia sepenuhnya. Jiyeon kemudian berdiri, membersihkan kedua lutut dari pasir-pasir yang menempel dengan tangannya, setelahnya ia meraih kursi roda Jeo Min kemudian mendorongnya meninggalkan Myungsoo.

Mata Myungsoo membelalak dengan mulut terbuka lebar tak percaya, gadis ini mengabaikannya “ Hey !! kau tidak sopan sekali, mintalah maaf padaku, kau sudah membuat hariku sial !! “ Teriak Myungsoo geram.

Jiyeon yang sudah berjalan mejauh menghentikan sejenak langkahnya, dirasakannya tangan Jeo Min menahannya untuk kembali menghampiri namja yang berwajah menyeramkan itu, namun dengan sorot mata teduhnya Jiyeon seolah berkata bahwa ia akan baik-baik saja.

Myungsoo tersenyum sinis menatap Jiyeon yang kembali mendekat ke arahnya, dengan sombong ia berkacak pinggang dan melempar pandangannya kearah lain, ia tidak akan mudah memberikan maafnya pada yeoja berwajah tengil yang membuat dirinya tercebur konyol ke pematang sawah.

Sreekkk

“ Mwo ? “

Myungsoo terbengong sempurna, ia pikir yeoja itu akan meminta maaf padanya, ternyata hanya mengambil bungkusan yang tertinggal didekat kakinya, setelahnya yeoja itu kembali berjalan lurus tanpa menoleh lagi kearahnya, dan yang membuatnya semakin takjub adalah wajah tanpa ekspresi yeoja itu. Benar-benar tidak ada perasaan bersalah sedikitpun.

“ Aisshh dasar tidak sopan !!! aku berharap kesialan menimpamu setiap hari !!! “ Teriak Myungsoo penuh emosi, ia lalu menatap jijik tubuhnya yang begitu kotor “ Sial sekali, bagaimana aku pergi dengan keadaan seperti ini ? “ Myungsoo mengibaskan tangan didepan hidungnya.

Dengan susah payah, Myungsoo menarik motornya naik dari pematang sawah sendirian, sepanjang usahanya itu, mulutnya tidak berhenti bersumpah serapah untuk yeoja yang membuatnya seperti ini, ketika hampir saja motornya berhasil ia selamatkan, sebuah cahaya menyorot tepat kearah wajahnya.

“ Yya!!! sedang apa kau disana eoh ? apa kau seorang pencuri ? “ Teriak seorang pria dengan senter yang diarahkannya pada wajah Myungsoo.

“ Aisshh jeongmal, sial sekali “ Kesal Myungsoo dengan cepat ia menstater motornya.

“ Hei, mau kemana kau ? kau ini pencuri ya ? tolong !!! tolong !!! ada pencuriiiii “ Teriak orang itu tidak disangka Myungsoo.

Myungsoo panik, ia kembali berusaha untuk menyalakan motornya, namun sial motornya tidak berpihak padanya, pria itu semakin berteriak kencang untuk mengumpulkan massa. Tidak berapa lama beberapa warga datang dan mengepung Myungsoo yang dikira pencuri.

“ Aisshhh, ahjussi aku bukan seorang pencuri !!! “ Kesal Myungsoo mencoba membela diri.

***

Tiba disebuah rumah kosong yang terletak ditengah-tengah sawah, Jiyeon langsung membangunkan harabeoji yang tertidur meringkuk menahan lapar, dengan cepat tangannya membuka bungkus makanan yang baru saja dibelinya, membiarkan harabeoji dan Jeo Min menikmatinya.

Ia memilih untuk duduk disudut ruangan, hanya mengamati harabeoji dan Jeo Min yang begitu lahap memasukkan makanan kedalam perutnya seraya sesekali bercanda, tidak terlihat raut sedih diwajah mereka, dan Jiyeon memang tidak mengharapkannya.

“ Jeo Min-ah apa kau tidak merasakan perutmu akan meledak ? berhenti makan dan segeralah tidur “

“ Appa, choco pie mu tidak akan hilang, tidak ada yang akan mengambilnya, mereka tahu ini adalah milikmu “

Jiyeon mengusap air matanya yang hendak jatuh, hari ini ia masih bisa membeli makan untuk mereka dan menyisihkan sedikit uangnya untuk choco pie harabeoji, tapi beberapa hari lagi atau mungkin besok ? entah apa yang harus Jiyeon lakukan agar mereka tetap bertahan hidup.

Rumah dan harta peninggalan orangtua yang Jiyeon kira akan membantunya, tidak sedikitpun jatuh ketangannya, semuanya disita akibat dugaan korupsi yang melibatkan appanya. Sementara asuransipun ditahan pihak kantor hingga kasus appanya itu selesai.

Satu-satunya yang bisa Jiyeon harapkan adalah mencari keberadaan halmeoni, orangtua yang dimiliki appanya. Ia hanya mengandalkan secarik kertas berisikan alamat halmeoni yang ia temukan pada lemari pakaian orangtuanya.

“ Eonni, ini untukmu “ Tangan mungil Jeo Min mencoba memberikan sesuap nasi untuk Jiyeon.

Jiyeon mencoba tersenyum, kemudian memiringkan kepalanya melihat bungkusan nasi yang Jeo Min dan Tuan Seo sedang nikmati. Hanya satu bungkus, Jiyeon tidak tega jika harus membaginya untuk tiga orang dengan dirinya.

“ Eonni masih sangat kenyang, kalian makanlah “ Ucapnya beralasan.

“ Aku tidak melihat eonni makan, bukankah sepanjang perjalanan kau selalu mendorongku ? “ Tanya Jeo Min dengan wajah menggemaskannya.

“ Jeo Min-ah, kajja makan lagi !! aku takut jika aku akan menghabiskannya “ Ucap harabeoji dengan mulut yang masih sibuk menngunyah.

Jeo Min menggeser tubuhnya dan menahan tangan harabeoji “ Harabeoji, apa tadi kau melihat eonni makan ? aku tidak melihatnya, jadi ini untuk eonni saja “ Jeo Min menarik bungkusan nasi menjauh dari harabeoji yang memandang itu sedih.

“ Eoh benar, aku juga tidak melihatnya, Jiyeon-ah….makanlah “ Ucap harabeoji.

Jiyeon melempar pandangannya kearah lain, ia tidak lagi bisa menahan airmata yang sudah menggenang dipelupuk matanya, dalam keadaan susahpun tidak ada diantara mereka yang bersikap egois. Ia tahu makan Jeo Min sangat banyak, dan harabeojipun kadang sulit untuk mengalah, namun kali ini keduanya begitu memahami keadaan yang dijalaninya.

“ Eum maafkan eonni “ Ucap Jiyeon dengan bahu yang sudah bergetar dan airmatanya yang berjatuhan, Jeo Min dan Tuan Seo saling menatap tidak mengerti.

“ Eonni “

“ Jiyeon-ah “

Ucap Jeo Min dan harabeoji bersamaan.

“ Mianhae, perut eonni sangat lapar sekali, jadi ketika kalian tertidur di bis tadi, eonni terpaksa hanya makan sendirian, sekarang kalian makanlah tidak usah memikirkan eonni eoh ? “ Ucap Jiyeon terpaksa berbohong.

“ Eonni, gwenchana….tidak apa-apa “ Ucap Jeo Min menyentuh lembut tangan Jiyeon dan tersenyum.

“ Jeo Min-ah, kajja!! Kita makan lagi “ Panggil harabeoji.

Jeo Min menjadi tak bersemangat, namun ia menikmati kembali makanannya bersama harabeoji seraya memandang eonninya sedih.

Jiyeon mengalihkan perhatiannya pada tas yang ia bawa, mengeluarkan beberapa selimut dan menggelarnya sebagai alas mereka tidur. Untuk malam ini ia memutuskan untuk beristirahat disini, besok pagi-pagi sekali ia akan melanjutkan perjalanan mencari rumah halmeoninya.

***

Malam semakin larut, hembusan angin begitu kencang dan membuat tubuh ketiganya sesekali menggigil menahan dingin, tak banyak pakaian hangat atau selimut yang dibawa. Jiyeon bangkit dari tidurnya menatap satu persatu wajah lelap harabeoji dan Jeo Min. Diangkat tubuhnya untuk menyingkirkan alas miliknya, dan dengan perlahan ia gunakan untuk menyelimuti keduanya.

Jiyeon memilih untuk tetap terjaga, menatap pekatnya malam seraya kepalanya bersandar lemah pada dinding kayu. Ia tidak ingin menyerah, namun juga tidak tahu bagaimana agar dirinya tetap memiliki semangat hidup, Jeo Min yang masih kecil dan ingatan harabeojinya yang terbatas, jujur….itu membuatnya takut. Jiyeon tidak ingin menganggapnya sebagai beban hidup yang harus dicari jalan keluarnya, ia tidak boleh terlihat lemah dan rapuh, harus menjadi dinding yang kuat ketika masa sulit datang menghampirinya.

***

Seoul,

Jaejoong memilih datang lebih pagi ke rumah sakit, ada hal yang harus ia bicarakan dengan Im Nana. Beberapa hari yang lalu ia menemui dokter Lee yang selama ini menangani penyakit Nana, dan meminta hak penanganan penyakit kekasihnya itu berpindah padanya. Kaki panjangnya melangkah terburu, hanya tinggal beberapa jengkal menuju ruangan Nana, ia melihat kekasihnya itu hendak keluar lengkap dengan peralatan medis.

“ Ada sesuatu yang harus kita bicarakan “ Ucap Jaejoong menahan tangan Nana.

Nana nampak terkejut, namun melihat Jaejoong yang datang Nana sedikit lega “ Kau ? kukira siapa, aku ada jadwal operasi, kembalilah 1 jam lagi “ Ucap Nana dengan sikap tenangnya seperti biasa, seolah yang akan Jaejoong bicarakan adalah hal biasa yang tak lebih penting dari pekerjaannya, kaki rampingnya kemudian berputar hendak meninggalkan Jaejoong.

Kali ini Jaejoong langsung memeluk dari arah belakang tubuh Im Nana untuk menahannya “ Pikirkanlah tentang dirimu, untuk apa memikirkan orang lain jika nyawamu saja harus diselamatkan “ Wajah Jaejoong terlihat begitu memohon, ia semakin mengeratkan dekapannya.

Nana menghembuskan nafasnya lembut, mencoba melepaskan tangan Jaejoong yang memeluknya begitu erat. Ia ingin sekali mengatakan jika sebenarnyapun ingin melakukan operasi, ia ingin ada seseorang yang bisa menyelamatkanya, membuat tubuhnya kembali sehat, ia ingin hidup lebih lama bersama dengan Jaejoong pria yang teramat dicintainya, namun ia harus sadar jika Tuhan berkehendak lain atas dirinya, dan ia tidak ingin siapapun menyesalinya, tidak dirinya ataupun Jaejoong.

“ Kau sudah menemui dokter Lee ? apa dia memberikanmu harapan tentang penyakitku ? “ Tanya Nana mencoba melayani pembicaraan Jaejoong, masih ada waktu 20 menit sebelum ia melakukan operasi.

“ Aku yang akan mengambil alih kasusmu, siapkan dirimu untuk menjalani operasi besok “ Ucap Jaejoong dengan satu tarikan nafas.

Nana terdiam, ia akui Jaejoong merupakan sosok dokter yang pintar namun ia tidak ingin lagi berharap, jika pada akhirnya ia akan terluka sangat dalam. Nana sudah dengan ikhlas menerima jika Tuhan memanggilnya justru disaat-saat ia ingin menata hidup bahagianya.

“ Hidup itu seperti piano, berwarna putih dan hitam. Jika Tuhan memainkannya, maka akan menjadi melodi yang sangat indah. Tuhan sangat baik padaku, Dia memberikan kematian yang aku ketahui kapan datangnya, tidakkah aku beruntung ? jadi mengapa kau harus mengasihaniku ? “ Ucap Nana bijak dan berhasil membuat tangan Jaejoong terlepas dengan sendirinya.

“ Mengapa kau memilih menyerah ? kita tidak akan pernah mengetahui jawaban yang sebenarnya, sebelum kita mencoba “ Ucap Jaejoong masih tidak ingin menyerah untuk membujuk Nana.

“ Baiklah, aku akan memikirkannya, beri aku waktu “ Ucap Nana tersenyum lembut, ia sadar Jaejoong tidak akan pernah menyerah sebelum ia menuruti keinginan pria itu.

Dokter Jae adalah pria yang sulit untuk tersenyum, namun kalimat Nana seolah melepaskan beban berat yang menghimpit sesak tubuhnya. Secercah harapan terlihat dimata Jaejoong, ia tak bisa menyembunyikan senyumnya kali ini. Pasti, sudah pasti ia akan melakukan hal yang terbaik untuk Nana, bahkan jika nyawa bisa ia tukar, ia akan menjaminkan untuk satu-satunya wanita yang bersemayam dihatinya, Im Nana.

Jaejoong masih menatap sosok Nana yang melangkah menjauh darinya, menunaikan tugas mulia seorang dokter, ia berharap Tuhan membalas apa yang telah Nana lakukan untuk orang lain.

***

Hari pertama masa orientasi mahasiswa, Myungsoo telah mencatatkan namanya sebagai seorang junior yang menjadi musuh para seniornya, awalnya ia tidak peduli dengan apapun yang dilakukan oleh para senior, berteriak sok galak, mengerjai sok ditakuti, dan bertingkah ingin dihormati. Myungsoo sama sekali tak ingin ikut campur, ia hanya ingin melanjutkan pendidikan demi cita-citanya.

Namun semuanya berubah ketika seorang senior semakin membuatnya muak. Myungsoo membenci orang yang seperti itu, meski ia pun adalah seseorang yang seringkali berurusan dengan oranglain, setidaknya ia tidak akan mengganggu jika orang tersebut tidak sama sekali menyentuh atau membuatnya kesal. Korbannya kali ini adalah seorang gadis bersurai coklat yang terlihat manis dengan gaya rambut kepang duanya, dilihatnya yeoja itu nampak ketakutan karena seniornya itu terus menggodanya.

“ Siapa namamu cantik ? “ Tanya seorang senior dengan gaya menjijikkan seraya menyentuh lembut pipi yeoja yang terus menunduk ketakutan “ Belle ~ beauty and beast ? tidak salah kau memang sangat cantik “ Ucap senior itu membaca julukan yang tergantung dileher sang yeoja.

“ Sebentar-sebentar, nama aslinya….emmm “ Ucap senior lainnya seraya sibuk mencari data yeoja itu pada tumpukan formulir yang ada ditangannya.

“ Bae Suzy !!! hey jangan ganggu dia yeojaku, awas jika kau macam-macam eoh ? “ Teriak senior lain nya yang berwajah paling tengil lalu menghampiri dan mengalungkan tangannya dileher yeoja bernama Suzy.

Myungsoo masih mencoba acuh, namun ketika wajah senior itu mendekat kearah yeoja yang bernama Suzy dan seperti ingin menciumnya, ia tidak bisa lagi untuk tetap berdiam diri, sontak Myungsoo berdiri, dan apa yang ia lakukan membuat semua perhatian tertuju padanya.

“ Sunbae, apa acara menjijikkan ini sudah bisa untuk ku tinggalkan ? ah sepertinya sudah “ Ucap Myungsoo berteriak lantang dan berhasil membuat semua orang menatap kearahnya.

Wajah beberapa senior itu memerah marah, mereka memandang Myungsoo dengan tatapan membunuh “ Apa kau tidak diajarkan bagaimana caranya berbicara pada kami eoh ? kemari kau…sebutkan namamu “ Panggil seorang senior yang mengaku sebagai namjachingu Suzy dengan gaya tengilnya yang membuat Myungsoo semakin muak.

Bukan Myungsoo namanya jika ia menuruti dengan mudah apa yang diperintahkan oranglain kepadanya, Myungsoo tak menggubris, ia menunjukkan senyum sinisnya lalu dengan yakin ia justru melangkah meninggalkan lapangan.

“ Yya !!! siapa namanya ? cari dan catat !! “ Perintah seseorang yang paling senior.

Myungsoo tidak peduli senior itu berteriak-teriak memanggil namanya. Tidak perlu beradu fisik untuk mengalihkan apa yang senior itu lakukan pada mahasiswa baru, cukup membuat mereka kesal maka senior itupun akan mengakhiri sikap menyebalkannya.

Semua mata memandang takjub dan terpukau oleh keberaniannya, tidak terkecuali Bae Suzy, ia merasa terkesan dengan apa yang Myungsoo lakukan untuk menyelamatkannya dari sikap usil seniornya, kedua mata indahnya menatap sosok Myungsoo yang berjalan semakin menjauh begitu kagum “ Gomawo “ Ucap Suzy dalam hati.

***

Jiyeon, Jeo Min dan harabeoji berjalan sudah sangat jauh, namun rumah yang dicarinya belum juga mereka temukan, padahal langkah kaki ketiganya sudah sesuai dengan alamat yang tertera dikertas. Tas yang berada dipundak terasa begitu ringan Jiyeon rasakan, menandakan jika persediaan yang dibawanya sudah semakin menipis.

Jiyeon menghentikan tangannya untuk mendorong kursi roda Jeo Min, dan mencari sebotol minuman disana, namun menyadari jika isinya tidak sampai separuh ia mengurungkan niatnya.
“ Eonni aku haus “ Keluh Jeo Min yang disusul dengan anggukan harabeoji.

Meski Jiyeonpun merasakan hal yang sama, namun sudah tentu ia harus mengalah “ Igeo, minumlah bagi adil dengan harabeoji eoh “ Ucapnya seraya menyerahkan botol minuman pada Jeo Min yang langsung meneguknya semangat.

Jiyeon membuang nafasnya lelah, ini adalah hari terakhir ia harus menemukan rumah halmeoni sebelum ketiganya mati kelaparan, saat ini memang tidak ada yang bisa ia andalkan selain meminta pertolongan halmeoninya itu.

“ Eonni, sebenarnya dimana rumah halmeoni, memangnya kau belum pernah kesana sebelumnya eoh ? aku lelah sekali, aku ingin tidur di ranjang yang empuk, apa kau juga menginginkannya harabeoji ? “ Cerocos Jeo Min.

“ Eoh tentu, udara diluar begitu dingin aku juga ingin memakai selimut tebal seraya memakan choco pie, eoh hari ini aku belum menikmati choco pie ku “ Tiba-tiba harabeoji teringat kembali akan choco pie.

Jiyeon terdiam, sudah seharian ia berhasil membuat konsentrasi harabeoji tentang choco pienya terlupakan, dan sekarang ? “ Harbeoji, choco pie mu…..aku belum membelinya lagi, bukankah kita belum melihat warung yang menjualnya, eoh nanti jika ada aku pasti akan membelinya, kau bersabar ya “ Ucap Jiyeon mencoba membujuk harabeojinya.

Harabeoji menatap Jiyeon dengan pandangan sedih, tidak tega membuat perasaan harabeoji seperti itu “ Jeo Min ah, jaga harabeoji sebentar eoh, jangan kemana-mana dan tunggu aku kembali “ Ucap Jiyeon.

“ Eoh baiklah “ Ucap Jeo Min mengerti.

Jiyeonpun melangkah meninggalkan keduanya, tidak ada uang ditangan dan ia tidak tahu akan berbuat apa, namun ia bisa mengandalkan tenaganya, meski nanti ia akan membuang rasa malunya.

***

Seusai melakukan operasi, Nana mengajak Jaejoong menikmati makan siang disebuah restaurant dekat dengan rumah sakit, ini adalah janji yang coba ia bayar kepada kekasihnya itu. Nana tahu keyakinan Jaejoong untuk kesembuhannya tidak akan pernah terwujud, oleh sebab itu ia mencoba melunasi janjinya sebelum ia benar-benar tidak lagi berada didunia ini.
Meski menikmati makan siangnya, otak Jaejoong terus sibuk berpikir. Ia sedang memikirkan syarat yang Nana ajukan sebelum melakukan operasi besok, kekasihnya itu ingin dirinya menemani berjalan-jalan. Jaejoong tidak familiar dengan Seoul, meski seorang dokter yang tentu saja banyak relasi ia adalah pria rumahan yang hanya tahu tempatnya bekerja, tempat-tempat yang ia kunjungi karena pekerjaan, serta kampung halamannya.

Tidak juga menemukan ide, Jaejoong memutuskan untuk membawa Nana mengunjungi kampung halamannya, pemandangan disana begitu indah dan menenangkan, ia berharap Nana akan senang dan bersemangat untuk menjalani proses penyembuhannya. Jauh dihati Jaejoong sebenarnya ia merasa sangat khawatir, tidak pernah ada pasien yang selamat ketika dokter telah memvonis penyakitnya berada pada tingkat stadium akhir, namun Jaejoong mencoba mengabaikannya.

“ Jae-ah, apa aku boleh meminta tolong padamu ? “ Ucap Nana masih fokus dengan sendok dan garpu ditangannya.

Sementara kini Jaejoong menatapnya serius “ Apa ? “

“ Aku ingin kau berubah “ Ucap Nana membuat Jaejoong mengernyitkan dahinya heran.

“ Memangnya ada yang salah dengan diriku ? “ Ucap Jaejoong.

Kali ini Nana menatap wajah Jaejoong, ada hal yang harus ia ceritakan. Kegelisahan yang akhir-akhir ini datang melalui mimpi, tentang kehidupan seseorang yang akan berubah karena keteledorannya, namun ia tidak tahu harus memulai ceritanya darimana.

“ Tidak, aku hanya ingin kau lebih baik lagi, aku ingin kau selalu tersenyum, tidak hanya denganku tapi semua orang yang kau temui “ Ucap Nana akhirnya.

Jaejoong hanya tersenyum sinis, dan kembali melanjutkan makannya, merasa apa yang Nana minta terlalu mengada-ada, ia tidak pernah besikap jahat pada orang lain, hanya saja ia juga tidak bisa bersikap berpura-pura manis pada orang lain, dan itu bukanlah sebuah masalah baginya, selama orang tersebut tidak merasa rugi karena sikapnya.

Nana hanya memandang Jaejoong sedih, ia membayangkan bagaimana hidup Jaejoong kelak jika tidak ada dirinya, ia tidak ingin Jaejoong menjadi seseorang yang semakin dingin dan tidak peduli pada oranglain setelah kematiannya. Belajar kehidupan dari kisah oranglain, Nana harap idenya untuk Jaejoong membantu keluarga Park kelak dapat merubah sikap kekasihnya itu perlahan-lahan.

***

Ramainya suasana dihalaman kampus, tak membuat yeoja berwajah manis bernama Bae Suzy sulit mencari keberadaan pria yang berhasil mencuri perhatiannya pagi tadi. Pria berwajah dingin dengan penampilan yang sangat cuek itu telah berhasil membuat Suzy penasaran, agar pria itu tidak menyadari jika dirinya sedang mengamati pria itu, Suzy menggunakan buku sebagai tamengnya, beruntung banyak mahasiswa dan mahasiswi lainnya yang memilih duduk disekitarnya.

Tidak seperti dirinya, ia melihat pria itu hanya sendiri dan terfokus pada pensil dan selembar kertas yang ia letakkan sedang dilututnya, terlihat dari gerakan tangan dan mata yang sesekali memandang kedepan, sepertinya pria itu sedang melukis sesuatu.

Suzy mencoba mencari tahu apa yang sedang pria itu lukis, namun tak sengaja mata pria itu kini menatapnya, Suzy tergugup dan menyembunyikan dirinya dibalik buku yang ada ditangannya, merasa sudah cukup lama ia menurunkan bukunya tersebut, kosong. Pria itu sudah tidak lagi berada disana.

Suzy mengitari sekeliling, dan akhirnya menemukan pria itu sudah beranjak pergi, ia hanya mendapati punggung pria itu yang semakin menjauh “ Masih ada kegiatan terakhir masa orientasi, tapi dia mau kemana ? “ Suzy bertanya pada dirinya sendiri.

Suzy menjadi tidak bersemangat melewati kegiatan terakhir masa orientasi, pria itu tidak lagi terlihat. Ada perasaan menyesal mengapa baru hari ini ia melihat pria itu selama 3 hari masa orientasi ? besok kegiatan kampus sudah dimulai dan ia tidak tahu apakah akan sekelas dengan pria itu atau tidak, bahkan ia belum mengetahui siapa nama pria itu.

***

“ Kau bilang kau tidak punya uang ? lalu dengan apa kau akan membayar ? jika begitu kembalikan saja apa yang sudah kau ambil “ Teriak bibi pemilik warung mencoba mengambil paksa apa yang ada ditangan Jiyeon.

“ Bibi, bolehkah aku membantumu melayani pembeli untuk ditukar dengan ini ? aku mohon “ Mohon Jiyeon dengan wajah pias mendekap erat makanan dan minuman yang ada ditangannya.

“ Mwo ? kau pikir aku memerlukannya ? ayo kembalikan atau aku akan berteriak jika kau pencuri eoh ? “

Jiyeon masih terus mempertahankan meski bibi itu telah mengancamnya, ia tidak akan kembali pada Jeo Min dan harabeoji jika tidak mendapatkan apapun. Bibi warung telah habis kesabaran, ia pun memukul punggung Jiyeon berkali-kali.

“ Kembalikan cepat sebelum kau kulaporkan pada polisi !!! “ Ancam bibi warung seraya memukul tubuh Jiyeon.

Jiyeon meringis sakit, namun ia bergeming dan hanya melindungi kepalanya dengan satu tangannya, tiba-tiba ia melihat jam tangan yang masih melekat ditangannya, ia melepas segera jam tersebut sebelum tubuhnya semakin diamuk oleh bibi warung.

“ Bibi, sebagai gantinya aku meninggalkan ini untukmu, jwesonghamnida, aku harap kau memaafkanku “ Setelah mengucapkan itu Jiyeon berlari menjauh.

“ Hey pencuri, mau kemana kau eoh ? Aisshhh “ Bibi pemilik warung menggusak rambutnya dan menatap jam tangan peninggalan Jiyeon kesal.

Sementara diluar,

Brukkkk

“ Arrggkk “ Jiyeon jatuh tersungkur, makanan dan minuman yang ada didekapannya pun berserakan.

Pria yang ada dihadapannya menatap kesal dan semakin membelalakkan matanya mengetahui siapa yang baru saja menabraknya “ Kau lagi ? aigo….sebenarnya ada berapa orang yang sepertimu didunia ini ? mengapa kau selalu ada disekitarku dan membuat hariku sial ? “ Omel pria yang ternyata adalah Kim Myungsoo.

Jiyeon tidak berkata apapun dan hanya memunguti miliknya yang berserakan, kepalanya sesekali menoleh memastikan jika bibi warung tidak mengejarnya, namun dugaannya salah, bibi pemilik warung yang melihatnya tertahan didepan oleh Myungsoo akhirnyapun keluar berniat untuk mengejarnya.

“ Yyaa!!!! Apa susah sekali mulutmu meminta maaf, jelas-jelas kau salah kali ini mengapa kau tidak meminta maaf “ Teriak Myungsoo merasa kembali diabaikan oleh yeoja yang sama kemarin ia temui.

Myungsoo pikir ia tidak akan pernah bertemu lagi dengan yeoja yang membuatnya sial kemarin, meski masih di desa Hwanghee, namun jarak dengan tempatnya kini berpijak berada lumayan jauh. Dan sosok yang ada didepan matanya kini seolah memberi tahu jika dunia ini ternyata sangat sempit. Merasa kesal Myungsoo menendang botol minuman yang ada didekat kakinya menjauh, tidak peduli tatapan tajam Jiyeon padanya.

“ Mwo ? kau akan mengatakan jika aku tidak sopan eoh ? “ Tantang Myungsoo.

“ Hey kau pencuri!!! “

Teriakan seorang wanita pemilik warung membuat Myungsoo mengalihkan tatapannya dari Jiyeon kearah wanita yang berteriak ke arahnya. Jiyeon yang menyadari jika dirinya dalam bahaya dengan sekuat tenaga meraih botol minuman yang ditendang oleh Myungsoo meski harus merangkak.

Myungsoo hanya mengamati tak mengerti keduanya – Jiyeon dan bibi pemilik warung – bergantian “ Kau ??? “ Tak percaya Myungsoo namun Jiyeon telah menghilang dari hadapannya.

“ Eoh, apa kau mengenal yeoja itu ? “ Tanya bibi warung ketika sampai dihadapan Myungsoo dengan nafas terengah.

Myungsoo memijit kepalanya kesal, niatnya kabur dari masa orientasi untuk menenangkan pikiran karena merasa kepalanya mau pecah, dan sekarang ? dua kali bertemu dan selalu kata pencuri yang ia dapati, sebelumnya ia yang dituduh pencuri dan kali ini ia dituduh sebagai teman pencuri, benar-benar yeoja yang sial.

***

Semburat langit sore terlihat dari dalam mobil yang Jaejoong kendarai, ia menoleh kearah samping dan melihat Nana yang sedang tertidur dengan nyenyak, bahkan mereka belum jauh meninggalkan Seoul. Jaejoong mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, ia tidak ingin membuat tidur Nana terganggangu karena ulahnya.

Hanya memiliki waktu 24 jam sebelum besok ia harus kembali lagi ke Seoul untuk melakukan operasi, harusnya hari ini Nana menjalani operasi, namun kekasihnya itu menundanya dengan alasan ingin melihat pantai, Jaejoong sengaja tidak menghubungi keluarganya di Hwanghee, karena ia memang tidak akan berada lama disana.

“ Mengapa kau berkali-kali menatapku ? apa kau takut aku pergi tiba-tiba ? “ Ucap Nana membuat Jaejoong menatap lekat kearahnya, Jaejoong pikir Nana masih tertidur pulas.

Wajah Nana nampak begitu pucat membuat Jaejoong menepikan kendaraannya. Nana menatap tidak mengerti dengan apa yang Jaejoong lakukan.

“ Tidak sekarang, bagaimana setelah kau menjalani operasi kita kembali lagi untuk melihat pantai eoh ? “ Ucap Jaejoong khawatir.

Nana menggeleng cepat, ia merasa tidak banyak memiliki waktu lagi, sudah beberapa hari ini ia merasa tubuhnya lemah dan bagian perutnya sangat sakit, namun ia berpura-pura kuat dan sekuat tenaga bertahan. Hari ini ia merasa gagal menyembunyikan rasa sakitnya dihadapan Jaejoong.

“ Jae-ah, aku ingin menitipkan sesuatu padamu, maukah kau melakukannya untukku “ Pinta Nana semakin membuat Jaejoong khawatir.

Jaejoong melepaskan sabuk pengaman, dan merengkuh tubuh Nana “ Dimana kau merasakan sakit eoh ? “ Tanya Jaejoong semakin mendekap erat tubuh Nana.

“ Jaga dia untukku, aku ingin kau menjaganya untukku, anak kecil itu dia tidak bersalah, karena kecerobohanku ia harus menanggungnya, kesalahanku pasti tidak akan termaafkan, maukah kau menebusnya untukku ? aku mohon “ Mohon Nana yang mulai terisak.

Jaejoong tidak mengerti apa yang sedang Nana bicarakan, dan baru kali ini, ya baru kali ini selama ia mengenal Im Nana, kekasihnya itu menangis dan terlihat begitu merasa bersalah, anak kecil ? Jaejoong benar-benar tidak mengerti siapa yang sedang Nana bicarakan.

Skip >>

Jaejoong terdiam mematung setelah mendengar apa yang Nana bicarakan, tidak menyangka seorang Im Nana salah satu dokter teladan ditempatnya bekerja telah melakukan kesalahan. Ia pun pernah melakukan kesalahan, namun kesalahan tranfusi darah terlebih darah tersebut mengandung HIV AIDS ? merupakan kesalahan fatal yang pelakunya pasti akan dituntun hukuman penjara.

“ Mereka sudah tidak memiliki orangtua lagi, dan aku tidak tahu bagaimana mereka menjalani hidup saat ini, dimimpiku mereka terlihat begitu menyedihkan tapi siapa yang dapat mempercayai mimpi ? bagaimana jika hidup mereka lebih menyedihkan dari mimpi yang hampir setiap hari mendatangiku “ Urai Nana masih terisak.

Jaejoong tidak tahu harus berkata apa, ia tidak terbiasa tersentuh dengan cerita-cerita yang terdengar cengeng, namun kali ini ia membayangkan bagaimana kehidupan keluarga itu, meski ia tidak begitu mengingat bagaimana rupa yeoja yang diceritakan Nana adalah eonni dari anak kecil itu, namun entah mengapa Jaejoong merasakan kepahitan yang begitu besar dengan hidup mereka.

“ Jangan mengatakan hal yang terlalu jauh, kau akan tetap hidup dan kita akan membantu kehidupan mereka “ Tidak tahu harus berkata apa Jaejoong mencoba menenangkan hati Nana dengan keyakinannya.

Merekapun kembali meneruskan perjalanan, Jaejoong semakin khawatir karena tubuh Nana terus menggigil, namun keras kepala Nana tidak mampu Jaejoong halangi. Menyusuri perjalanan panjang dan gelap, hanya berhenti di rest area untuk membeli makan serta minum. Hati Jaejoong semakin resah, Nana terlihat begitu lemah dan tidak ada sedikitpun kata yang terucap dari bibirnya, Jaejoong memacu kendaraannya cepat kali ini, jika ini adalah waktunya ia harus merelakan kekasihnya ini hanya sampai disini.

***

“ Buat apa cantik jika hanya seorang pencuri ? “ Ucap Myungsoo yang sedang mengobati lengannya yang memar akibat pukulan bibi pemilik warung yang menuduhnya teman yeoja pencuri itu.

Myungsoo masih tidak habis pikir mengapa harinya selalu sial jika bertemu dengan yeoja itu, dua kali bertemu dan dua kali kesialan, ia bergidik ngeri dan bersumpah akan menjauhi yeoja itu jikapun nanti akan kembali bertemu.

Tiba-tiba ponsel didekatnya bergetar, Myungsoo meraihnya dan mendapati nomor tidak dikenal.

“ Gomawo untuk hari ini “

Myungsoo mengernyitkan dahi, ia mencoba menebak siapa pemilik nomor yang mengirimka pesan tidak jelas itu, dan entah darimana pemikiran itu muncul, Myungsoo berpikir jika yeoja yang membuatnya sial-lah yang mengirimkannya, tapi ??

“ Tidak mungkin “ Elak Myungsoo dan membuang begitu saja ponselnya, tidak berniat mencari tahu siapa sebenarnya seseorang yang mengirimkan pesan singkat tersebut.

***

Jiyeon tidak tahu lagi kemana kakinya akan melangkah, baru kemarin ia yakin akan sanggup untuk bertahan hidup, namun pagi ini ketika membuka mata segalanya berubah. Ia tidak sanggup melihat wajah Jeo Min dan harabeojinya yang meringis menahan lapar, dan menyadari jika tidak ada lagi barang berharga yang bisa ia tinggalkan untuk menghilangkan rasa bersalahnya setelah mengambil paksa makan dan minuman di warung yang ia datangi.

Jiyeon merasa putus asa, dan disinilah ia berada. Mengajak Jeo Min dan harabeojinya bermain-main dipantai, bermain-main ? Jiyeon bahkan memiliki niat lebih, ia menatap adik dan kakeknya itu yang begitu senang menikmati bermain pasir dan air di pantai. Airmata sedikit demi sedikit menetes membasahi pipi mulusnya. Bayangan eomma dan appa yang menatap sedih dengan apa yang akan Jiyeon lakukan seolah terabaikan.

Jiyeon menjauh dari adik dan kakeknya, dengan perlahan kakinya menatapi batu karang yang begitu curam, dari atas sana ia melihat derasnya air yang menabrak karang hingga menimbulkan deburan yang entah mengapa membuatnya merasa takut.

“ Eomma, appa , aku tidak sanggup, aku benar-benar tidak sanggup untuk menanggung ini semua..hik…hiks “ Lirih Jiyeon.

***

“ Jae-ah, disini sangat indah, apa di syurga nanti akan lebih indah dari ini ? “ Tanya Nana dengan suara yang terdengar sangat pelan bersandar pada pundak Jaejoong.

Jaejoong menahan sekuat tenaga airmata yang hendak jatuh, feelingnya semakin kuat, Nana sudah tidak lagi sanggup untuk bertahan. Apakah ia pria bodoh yang begitu saja merelakan kekasihnya padahal bisa saja sekarang ia berlari untuk mendatangi rumah sakit dan melakukan operasi ? bukan, ia bukan pria yang seperti itu, Jaejoong hanya mencoba memakai akal sehatnya, kanker pankreas Nana tidak akan pernah bisa disembuhkan, bahkan ia telah berbohong demi membangkitkan semangat Nana jika dokter Lee menyerahkan kasusnya pada Jaejoong.

“ Jae-ah, apa kau melihat boneka besar diluar pantai sana ? aku ingin kau membelinya untukku ? “ Pinta Nana.

Jaejoong ingin sekali menolak dan terus menemani Nana, namun tidak ingin membuat Nana kecewa iapun dengan berat hati bangkit “ Kau harus menungguku, aku akan segera kembali “ Ucap Jaejoong.

Jaejoong berlari sekuat tenaga, meninggalkan Nana sendiri didalam mobilnya, ia tidak ingin terlambat kembali pada Nana, ia akan kembali dengan boneka besar yang Nana minta. Airmata tak berhenti mengalir dari mata tajam yang selama ini selalu terlihat angkuh dan merendahkan orang lain, hanya Im Nana yang dapat membuatnya seperti ini, dan ia tidak tahu apakah ia akan semakin mengutuk hidupnya atau merubah segala sikapnya jika Nana benar-benar tidak lagi ada disisinya.

***

Jeo Min menghentikan lemparan pasirnya pada harabeoji ketika menyadari jika eonninya tidak terlihat ada didekatnya, pandangannya berkeliling namun ia tidak juga menemukan sosok eonninya ada disana.

“ Harabeoji, dimana eonni ? “ Tanya Jeo Min sedikit takut.

Harabeojipun menghentikan kegiatannya yang sedang bermain-main dengan pasir, mata tuanya kemudian membantu Jeo min untuk mencari Jiyeon. Tidak juga melihat ia pun mendekat pada Jeo Min.

“ Mungkin eonni sedang membeli choco pie untuk kita “ Ucap harabeoji menebak.

“ Issh, eonni pasti akan bilang jika ingin pergi, harabeoji kajja !! kita cari eonni “ Ucap Jeo Min seraya meminta harabeoji mendorong kursi rodanya.

Keduanya pun berjalan menyusuri pantai, hati Jeo Min tidak tenang, tidak biasaya Jiyeon hilang begitu saja meninggalkan dirinya dan harabeoji, mencari makan ? eonninya pasti akan memberitahunya agar ia dan harabeoji menunggunya.

“ Harabeoji itu eonni “ Teriak Jeo Min ketika melihat sosok Jiyeon eonninya ada diatas batu yang begitu tinggi sedang merentangkan tangannya.

Harabeoji mendorong kursi Jeo Min cepat mendekat kearah Jiyeon.

“ Eonni!!!! Kau sedang apa ? “ Tanya Jeo Min penasaran.

“ Jiyeon-ah, itu tinggi sekali, apa kau tidak takut ? kajja turun “ Teriak harabeojinya kali ini.

Jiyeon terhenyak, baru saja kakinya ia gerakkan suara Jeo Min dan harabeoji mengurungkan niatnya, seandainya ia ingin mengakhiri hidupnyapun ia tidak ingin adik dan kakeknya itu melihatnya, tubuh Jiyeon jatuh terjongkok, ia kemudian menenggelamkan kepala pada lututnya dan menangis disana.

“ Eonni, sebenarnya kau kenapa ? maukah kau bercerita pada kami, uljima….kami tidak akan membiarkan kau menangis sendiri “ Ucap Jeo Min yang ternyata sudah menangis.

“ Jiyeon-ah, Jeo Min-ah, mengapa kalian menangis ? apa aku begitu menyusahkan hingga membuat kalian menangis ? “ Ucap Harabeoji yang merasa bersalah karena kedua cucunya yang menangis.

Jiyeon berusaha bangkit dan dengan cepat turun dari atas karang, ia berlari dan memeluk Jeo Min serta harabeojinya.

“ Mianhae…..maafkan eonni, eonni tidak akan lagi berniat meninggalkan kalian, kita akan bersama-sama…huhuhu “ Tangis Jiyeon pecah seraya merengkuh tubuh Jeo Min dan harabeoji dalam pelukannya.

“ Eonni, aku janji tidak akan menyusahkanmu dan menjadi anak yang penurut “ Ucap Jeo Min mengusap airmata Jiyeon.

“ Dan aku, tidak akan meminta choco pie lagi, jadi jangan menangis Jiyeon-ah “ Ucap harabeoji mengikuti Jeo Min mengusap airmata Jiyeon.

Jiyeon menganggukkan kepala menyesal, ia semakin memeluk erat Jeo Min dan harabeojinya “ Maafkan aku “ Jiyeon kehilangan kata-katanya, hampir saja ia mati sia-sia jika adik dan harabeojinya tidak datang menyelamatkannya.

Dalam suasana haru kedua mata Jiyeon tak sengaja menangkap sesosok pria yang sedang berlari kencang tidak jauh dihadapannya, Jiyeon memicingkan mata dan sesekali menarik isakan tangisnya mencoba mengingat jika ia pernah melihat pria itu. Wajah sedihnya seketika berubah dengan sebuah pengharapan, ia mengenal pria itu, dia adalah dokter yang beberapa lalu pernah menghardiknya, namun begitu Jiyeon tidak peduli, ia yakin dokter itu bisa membantunya, setidaknya dalam beberapa hari ini selama pencarian keluarganya.

“ Jeo Min-ah, harabeoji, kalian tunggu disini, aku akan segera kembali “ Perintah Jiyeon seraya menghapus airmata yang tersisa.

Jeo Min dan harabeoji mengangguk ragu, namun melihat kesungguhan diwajah Jiyeon “ Kami pasti akan menunggu eonni kembali “ Ucap Jeo Min tersenyum.

Jiyeon menggusak lembut puncak kepala adik kesayangannya itu, dan dengan cepat kakinya berlari menyusul dokter yang ia lupa siapa namanya.

***

Hari pertama ajaran baru, Myungsoo merasa risih dengan mahasiswi yang sibuk mencari perhatian padanya, ia pikir tidak akan ada orang yang akan sadar akan ketampanannya, ternyata meski hanya berdandan cuek, pesonanya tetap begitu kuat hingga membuat hampir setiap mahasiswi yang ia temui memanggil-manggil namanya.

Tanpa ia sadari ada seseorang yang bersembunyi dibalik dinding dan menatapnya kecewa, Bae Suzy yeoja yang kemarin mencari tahu apapun tentangnya dan mengirimkan pesan singkat ucapan terimakasih karena telah menyelamatkan dirinya dari tangan jahil senior yang akan menggodanya.

Suzy merasa kecewa karena Myungsoo tidak sekelas dengannya, meski sama-sama kelas musik yang mereka ambil, ternyata Myungsoo terpisah kelas olehnya. Baru kali ini ia terpesona pada pria yang baru pertama kali ia lihat, Suzy bahkan hampir tidak tidur seharian menunggu pria itu membalas pesannya, tapi sayang hingga saat ini ia melihat pria itu kembali, pesan balasan tidak pernah ia dapatkan.

***

“ Nugu ? “ Tanya Jaejoong yang langkahnya ditahan oleh seorang yeoja yang ia rasa pernah melihatnya, tapi dimana ia lupa.

“ Park Jiyeon, aku……” Jiyeon bingung menjelaskan tentang siapa dirinya.

Merasa tidak punya banyak waktu, Jaejoongpun enggan menunggu, kakinya kemudian berlari meninggalkan Jiyeon yang masih berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya.

“ Aku adalah keluarga pasien yang mengalami kecelakaan, dan kau pernah memarahikuuuuuu “ Teriak Jiyeon.

Terlambat Jaejoong sudah menjauh dan pasti tidak mendengar suaranya. Bahu Jiyeon luruh, merasa tidak harapan untuk mendapatkan bantuan, namun mengingat jika tidak ada lagi seseorang yang dapat menolongnya ia pun tersadar dan berlari cepat menyusul langkah Jaejoong.

Beberapa menit berlalu,

“ Ini kubawakan untukmu “ Jaejoong mengatur nafasnya perlahan menyerahkan sebuah boneka besar yang baru saja ia beli, ia tersenyum lega melihat kekasihnya itu duduk di kursi mobil yang pintunya terbuka dengan setengah tubuhnya berada diluar menikmati pemandangan pantai, meski matanya terlihat begitu sayu dan lemah.

Syukurlah ia tidak terlambat, Nana masih mau menunggunya, namun tangan Nana tidak mencoba meraih boneka yang Jaejoong berikan. Nana justru memiringkan kepalanya dan menunjuk sesuatu yang ada dibelakang Jaejoong.

“ Berikan ini untuk gadis itu “ Ucap Nana tersenyum bahagia, tidak menyangka ia menemukan seseorang yang dengan susah payah ia cari keberadaannya.

Jaejoong menoleh kearah belakang, dan mendapati yeoja yang tadi menahan langkahnya sedang menatap tak mengerti kearah Nana yang menunjuk sosoknya.

“ Apakah dia ? “ Tanya Jaejoong.

Nana menganggukkan kepala dan tersenyum bahagia, airmata haru menetes dari kedua matanya, satu beban telah terlepas, ia telah berhasil mempertemukan Jaejoong dengan seseorang yang harus dibantunya. Entah apa yang Nana rasakan, tiba-tiba ia merasa tubuhnya terasa dingin dan ringan, keringat membanjiri tubuhnya, Nana tidak dapat lagi merasakan hangatnya tubuh Jaejoong yang tiba-tiba mendekapnya erat, telinganya pun tidak lagi bisa menangkap suara-suara disekitarnya, ia hanya sadar Jaejoong begitu panik berteriak memanggil namanya dari gerakan bibir kekasihnya itu, dan ia hanya melihat wajah takut yeoja bernama Park Jiyeon yang melihatnya sedang meregang nyawa.

Nana, menghembuskan nafas terakhirnya dipelukan Jaejoong setelah berhasil mempertemukan Jaejoong dengan yeoja yang kelak harus Jaejoong tanggung hidupnya, demi membuat arwahnya tenang dan perasaan bersalah itu hilang.

Tubuh Jaejoong membeku ditempatnya, ia tidak merasakan lagi nafas Nana, suhu tubuh kekasihnya pun menurun, Jaejoong terhenyak dan sulit untuk menahan salivanya ” Nana, Im Nana ” Panggil Jaejoong lembut, namun tidak ada jawaban.

Jaejoong terduduk lemah menopang tubuh Nana, ia menyadari jika kekasihnya telah pergi meninggalkannya, meninggalkan dirinya sendirian dan ingin menyaksikan ia menepati janjinya di atas sana.

Sementara Jiyeon terlihat syok, ia menutup mulutnya menyaksikan kematian dokter yang pernah menolong adiknya Jeo Min, sekarang Jiyeon merasa bingung, ia tidak mungkin meminta bantuan pada pria yang sedang dalam keadaan berduka ini.

To be continued…

133 responses to “[ CHAPTER – PART 2 ] A MINUTE OF HOPE

  1. Aih, myungsoo ngakuin kalo jiyeon cantik. Haha..
    Ga kebayang kalo ntar jiyeon tau nana salah ngasih darah, pasti kecewa bgt. tapi seengganya si nana uda mau tanggung jawab dengan ngelakuin apa yg bisa dia lakuin, nitipin jiyeon ke jaejoong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s