[Chapter 17] Love is Not A Crime

LINAC NEW

Previous << 16

Story: Based on Princess Ja Myung Go “KDrama”

Author: kimleehye19 / Laykim

Main Cast:

Park Jiyeon (as Gongju), Kim Myungsoo, Yoon Soo Hee (as Park Soo Hee)

Other Cast:

Park So Jin, Park Jungsu ‘Leeteuk SJ’, Haeri ‘Davichi’, Kim Young Woon ‘Kangin SJ’, Kim Jaejoong, Im Siwan, Lee Donghae, Shindong SJ, Jung So Min, Changmin ‘DBSK’

Genre:

Romance, family, action

PG – 13

Sorry for typos

Jiyeon termenung sesaat setelah mendapat telepon langsung dari sang mantan kekasih sekaligus Menteri Pertahanan Korea Utara. Dia memikirkan apa yang akan terjadi pada negaranya jika Myungsoo terpilih sebagai Presiden atau yang lebih berbahaya adalah Perdana Menteri. Kekhawatiran Jiyeon mungkin saja menjadi kenyataan, mengingat pola pikir Myungsoo sulit ditebak dan semua yang diinginkannya pasti akan menjadi nyata. Jiyeon menghela nafas berat.

“Ada masalah?” tanya Soo Jin yang tengah menatap Jiyeon. Ekspresi wajah putri kandungnya itu berubah drastis setelah menerima telepon. Soo Jin curiga. “Kemarilah! Ayo kita makan makanan lezat yang sudah dimasakkan oleh koki-koki handal ini.”

Jiyeon menuruti perintah Soo Jin. Dia berjalan pelan sembari memikirkan ucapan Myungsoo yang sangat menusuk hati.

“Eomma, aku makan segini saja,” ucap Jiyeon lirih. Selera makannya hilang seketika.

“Kau harus makan lebih banyak, Jiyeon-a.”

“Ini sudah cukup, Eomma.” Jiyeon mengambil piring yang telah berisi sedikit nasi dan lauk.

Saat mengunyah makanan, Jiyeon tak dapat merasakan betapa lezat makanan yang terhidang manis di depan matanya. Seharusnya ia bisa makan dengan lahap karena makanan kesukaannya telah tersaji di atas piringnya.

Soo Jin memperhatikan apa yang dilakukan oleh Jiyeon. Dia menduga bahwa Jiyeon menyimpan sesuatu yang penting sehingga mengganggu pikiran putrinya itu.

Atmosfer tegang masih menyelimuti Korea Utara yang akan menyelenggarakan pemilu Presiden sekaligus pembentukan formasi pemerintahan baru. Presiden Kim mencalonkan diri sebagai Presiden Korut untuk periode kedua. Mayoritas pejabat dan rakyat dapat dipastikan memilihnya untuk menjadi kepala negara mereka.

Jika Presiden Kim terpilih untuk kedua kalinya, hal itu bisa menjadi ancaman bagi Korsel yang nasibnya sedang berada di ujung tanduk. Cepat atau lambat, Korut akan menyerang Korsel, nuklir akan diluncurkan ke arah Korsel dan sekutunya.

“Persiapan telah dilaksanakan dengan baik. Kau yakin rencanamu akan sukses besar, Myungsoo-a?” tanya Jaejoong yang mengkhawatirkan nasib Korsel jika rencana Myungsoo dijalankan secepat mungkin. Awalnya dia sangat mendukung rencana penyerangan Korsel. Namun setelah dirinya tahu bahwa Jiyeon tinggal di Korsel dan menjadi putri presiden di sana, sikap Jaejoong terhadap Myungsoo berubah drastis. Perubahan sikap itu selalu disembunyikan oleh Jaejoong untuk menutupi penyamarannya. Dia tidak tega menghancurkan rencana Myungsoo namun di sisi lain, dia juga tak tega jika Jiyeon menjadi korban kekejaman Korut di bawah pimpinan presiden Kim.

“Eoh, aku yakin. Pengunduran diriku sebagai calon presiden akan membuat sebuah kejutan besar dan akan ada kejutan yang lebih besar lagi nantinya, Hyung.”

Jaejoong mengernyitkan dahinya, memikirkan satu kata yang diucapkan oleh Myungsoo. Kejutan? Apa yang dimaksud dengan kata ‘kejutan’? Jaejoong curiga kalau Myungsoo merahasiakan sesuatu darinya. Ya, kejutan itu pasti bersifat rahasia yang hanya diketahui oleh Myungsoo dan presiden Kim, atau bahkan PM Lee juga mengetahuinya.

“Semua orang pasti menunggu kejutan darimu,” kata Jaejoong dengan nada dingin.

Myungsoo tersenyum sinis. “Tentu saja. Seseorang pasti menunggu kejutan dariku.”

“Aku mendadak tegang membayangkan bagaimana proses pemilu besok. Apalagi jika ayahmu yang terpilih. Semoga semua itu merupakan langkah yang tepat untuk kita semua.” Jaejoong bicara apa adanya dengan sedikit sindiran halus yang ia tujukan pada Myungsoo.

“Hyung, akhir-akhir ini kau sedikit berubah. Ada apa? Apakah ada sesuatu yang membuatmu tak nyaman?”

Jaejoong menghembuskan nafas kasar dan mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya. “Tak ada yang mengganggu pikiranku. Mungkin aku hanya terlalu lelah.”

“Atau mungkin kau perlu memikirkan pasangan, Hyung.”

“Tch! Pasangan? Aku sama sekali tidak memikirkan hal itu. Yang ingin ku lakukan adalah melindungi orang-orang yang aku sayangi. Mereka sangat berharga bagiku.” Jaejoong menatap kosong pada sebuah jendela yang selalu menjadi pusat perhatiannya saat berada di dalam ruang kerja Myungsoo. Ia berharap dapat melihat seekor rajawali yang membawa sepucuk surat untuknya. Yah, meski hal itu hanya harapan, Jaejoong ingin sekali ketidak-mungkinan itu benar-benar terjadi.

Myungsoo memperhatikan setiap perubahan mimik muka Jaejoong dan sikap yang ditunjukkan oleh pria yang berusia beberapa tahun lebih tua darinya itu. “Hyung, lebih baik kau pulang dan istirahat. Aku lihat wajahmu tampak begitu kusut dan tubuhmu terlihat sedang kelelahan.”

“Jangan terlalu mengkhawatirkanku. Aku tidak merasa seperti yang kau katakan itu. Oh ya, bagaimana dengan istrimu? Apa rencanamu untuk membuatnya menyerahkan Korsel?”

“Aku sudah membuat sebuah rencana untuknya. Hyung, aku tidak sabar menanti hari esok dan melihat bagaimana ekspresi Haeri jika mengetahui perubahan besar dalam pemerintahan kita. Aku yakin dia dan antek-anteknya pasti kebakaran jenggot dan kalang kabut mencari cara untuk meloloskan diri dari cengekeraman kita.”

Jaejoong menatap Myungsoo dengan heran. Ternyata di balik wajah imut dan tampan itu tersimpan sifat yang dapt dikatakan ‘kejam’. Meskipun tidak sekejam Haeri, sifat yang dimiliki oleh Myungsoo itu bisa menghancurkan masa depan sebuah negara. Bagaimana jika Myungsoo benar-benar menyerang Korsel tanpa ampun. Bagaimana jika suatu hari nanti dia akan melawan Jiyeon sebagai seorang perwakilan Korsel yang tak ingin negaranya diluluh lantakkan oleh mantan kekasihnya? Memikirkan hal itu saja bisa membuat Jaejoong stres. Sampai saat ini dia belum menemukan cara untuk mencegah perang saudara sesama bangsa Korea.

Jika dipikir matang-matang, apa yang dilakukan Myungsoo bisa masuk di akal karena Korsel sudah bertindak seenaknya terhadap mendiang Jung Kyung Ho dan Gongju. Begitu pula yang dilakukan oleh Jiyeon. Sebagai putri kandung presiden Korsel dan generasi asli Korsel, Jiyeon tentu tak akan menyerahkan negaranya begitu saja. Jaejoong dapat memastikan bahwa Jiyeon akan membela negranya mati-matian. Namun kini yang ia bingungkan adalah siapa yang akan dia bela? Jaejoong telah berjanji pada Jiyeon kalau dirinya akan membela Jiyeon dan membantunya, entah bantuan apa yang dimaksud oleh Jiyeon.

“Eoh, aku juga tidak sabar melihat mereka dirundung ketakutan,” tambah Jaejoong dengan pikiran yang super kacau.

Keesokan harinya, pemilu presiden Korsel  berjalan dengan lancar sesuai dengan rencana. Bagaimana tidak? Seluruh prajurit baik tentara maupun polisi telah diturunkan untuk mengamankan proses pemilihan presiden. Mereka dilengkapi dengan persenjataan lengkap yang tergolong senjata paling mutakhir di dunia. Untuk menjaga keamanan dari serangan pihak luar negeri, Korut juga telah siaga dengan nuklir yang siap diluncurkan sewaktu-waktu. Jika terjadi penyerangan yang mendadak, mereka akan langsung meluncurkan nuklir ke negara yang telah menyerangnya. Yang paling menakutkan dari persiapan nuklir ini adalah dua buah nuklir telah diarahkan ke Korsel karena negara Ginseng itu merupakan ancaman terbesar bagi Korut.

Semua persipan keamanan super ketat tersebut telah direncanakan oleh seorang menteri pertahanan yang tidak lain adalah putera kandung presiden Korut, yaitu Kim Myungsoo. Laki-laki tampan itu akan melakukan apa yang telah ia rencanakan dan apa yang telah ia katakan.

Setelah berlangsungnya proses pemilihan, Quick Count pun dilakukan untuk mengetahui siapakah calon yang diprediksi akan memenangkan pemilu. Untuk menghindari berbagai macam kecurangan, Myungsoo telah menyarankan kepada lembaga penyelenggara pemilu untuk menerima pengawalan ketat dari kepolisian Korut. Akhirnya Quick Count pun diawasi dengan ketat oleh Myungsoo dan beberapa lembaga pemerintah lainnya.

“Aku salut padamu, Myungsoo-a,” ucap Jaejoong yang berdiri di samping Myungsoo dengan menatap layar pemantau Quick Count di hadapannya.

Myungsoo tersenyum bangga. “Aku hanya tidak ingin rencanaku hancur berantakan, Hyung. Selain itu, aku juga ingin menunjukkan kepada Haeri dan orang-orang Korsel lain bahwa aku bukanlah orang yang lalai dan mudah dikalahkan.”

“Korut bangga memiliki menteri pertahanan sepertimu.”

Myungsoo menoleh ke arah Jaejoong. “Eoh, gomawo,” ucapnya singkat.

Wajah Haeri merah padam menahan amarahnya pada Korut yang telah melaksanakan pemilu dan Presiden Kim Young Won diprediksi akan menang sebagai presiden Korut untuk periode kedua. Inilah yang merupakan ancaman terbesar bagi dirinya dan mungkin untuk Korsel juga.

“Eomma…” panggil Soo Hee lirih. Pengantin baru ini masih tinggal di kediaman Presiden Korsel.

“Jangan menggangguku!” bentak Haeri yang memang sedang pusing setengah mati memikirkan nasib negaranya. Anhi, bukan nasib negara melainkan nasibnya sendiri. Dia menyadari bahwa alasan Korut ingin menyerang Korsel adalah sikap ketidak-adilannya terhadap Jung Kyung Ho dan kekasih Kim Myungsoo, Gongju alias Park Jiyeon. “Aku tidak habis pikir. Kim Myungsoo mati-matian ingin menyerang kita. Apakah dia buta kalau mantan kekasihnya adalah orang Korsel, begitu juga dengan istrinya. Apa yang ada di dalam otaknya hingga bisa berpikir seperti itu?”

“Eomma, aku yakin Myungsoo oppa tidak seperti yang kau katakan. Dia adalah orang baik dan penyayang.”

Haeri melirik Soo Hee dengan lirikan tajam. “Cukup, Soo Hee! Tutup mulutmu! Lebih baik kau diam saja daripada bicara tentang sesuatu yang bisa membuatku emosi.”

Soo Hee menundukkan kepalanya. Ia merasa bersalah telah mengatakan hal yang tidak ingin didengar oleh ibunya.

Tap tap tap!
Tiba-tiba Im Siwan menjejakkan kakinya di lantai ruang kerja Haeri yang pada saat itu pintu ruangan terbuka begitu saja.

“Maaf, Nyonya. Ada sesuatu yang penting ingin aku sampaikan pada Anda.” Siwan menjelaskan maksud kedatangannya.

“Kemarilah!” perintah Haeri yang langsung dituruti oleh Siwan.

Im Siwan telah memajang tubuhnya tepat di depan meja kerja Haeri.

“Ada apa?” tanya Haeri dingin.

Soo Hee menatap Siwan yang ingin membuka mulutnya.

“Hari ini Korut langsung mengumumkan nama presiden terpilih.”

“Mwo?” Wajah Haeri semakin merah padam. “Kenapa bisa secepat itu? Apakah mereka sudah melaksanakan sesuai prosedur?”

“Ya, Nyonya. Semua persiapan menjelang pemilu telah dilaksanakan dengan sempurna sehingga hasilnya dapat diketahui hari ini juga. Hasil pemilihan telah melewati tahap penghitungan suara. Presiden Kim unggul 60% atas lawannya. Dengan begitu, sudah dapat dipastikan bahwa Korut akan dipimpin oleh Presiden Kim untuk kedua kalinya.”

“Kurang ajar! Mereka selalu bertindak jauh lebih cepat dari kita. Ini semua pasti karena Kim Myungsoo. Dia tidak bisa dianggap remeh!” bentak Haeri yang tak tahan lagi menahan emosi dan amarahnya.

Soo Hee dan Siwan yang berdiri di dalam ruangan itu tersentak kaget mendengar ucapan Haeri bagaikan halilintar yang menyambar-nyambar.

“Eomma, jangan salahkan Myungsoo oppa terus-menerus!” Soo Hee tidak terima jika suaminya disalahkan terus oleh ibunya. Semua yang dilakukan Korut pasti disangkut-pautkan dengan Kim Myungsoo.

“Keluarlah, Soo Hee!” seru Haeri mengusir Soo Hee yang tak menghiraukan kata-katanya. “Aku bilang keluar!”

Soo Hee merasa sangat sakit hati dibentak dan diusir keluar oleh ibu kandungnya. Dia bergegas melangkah pergi sebelum ibunya mengamuk lebih gila lagi. Sementara itu, Siwan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Haeri mengusir Soo Hee. Ia dapat menarik kesimpulan bahwa Haeri bersikap keras dan dingin pada Soo Hee karena putri kandungnya itu lebih memilih bersama dengan Soo Jin dan Myungsoo daripada bersama dengannya. Selain itu, Haeri juga tidak menyetujui pernikahan Soo Hee dengan Myungsoo.

“Sabarlah, Nyonya,” lirih Siwan dengan lembut agar Haeri tak membentaknya seperti membentak Soo Hee.

Haeri berusaha mengatur nafas dan menormalkan detak jantungnya agar merasa lebih tenang. “Anak itu telah mengecewakanku. Awalnya dia sangat patuh padaku. Apapun yang aku katakan padanya selalu ia laksanakan. Pasti Soo Jin telah memberikan pengaruh yang buruk padanya. Dia ingin Soo Hee membenciku.”

“Maaf, Nyonya. Bukannya saya bermaksud membela nyonya Soo Jin. Menurut saya, nyonya Soo Jin malah memberikan perlajaran yang baik pada nona Soo Hee. Sampai saat ini, nona Soo Hee mampu menjaga sikapnya di depan para pejabat negara, di depan rakyat dan orang tuanya. Dia merupakan putri yang baik.” Entah apa yang akan dikatakan oleh Haeri padanya setelah ia mengatakan sesuatu yang terkesan membela Soo Jin.

Haeri masih berusaha tenang. Dia mengambil kipas tangan miliknya kemudian bergaya menggerakkan kipasnya ala orang terhormat. “Keluarlah, Im Siwan. Terimakasih atas infonya,” kata Haeri dengan suara datar seakan terdengar seperti ejekan yang ditujukan kepada  Siwan.

Siwan bisa mengelus dada karena Haeri tidak menyemprotnya dengan kata-kata yang kasar. “Baiklah, Nyonya. Saya pamit.” Siwan undur diri dari hadapan Haeri. Setelah meninggalkan ruangan bak neraka itu, Siwan dapat bernafas lega, selega-leganya, serasa keluar dari kandang singa.

‘Wanita itu bicara seenaknya saja. Bukankah sifat-sifat buruk yang dimiliki oleh Soo Hee itu warisan darinya? Kenapa menyalahkan nyonya Soo Jin?’ batin Siwan yang sedang melangkahkan kaki menuju halaman depan kediaman presiden Korsel.

Saat berjalan melewati ruang rekreasi, Siwan melihat Jiyeon yang tengah membaca sebuah buku yang terlihat cukup tebal. Wajah cantik itu nampak serius memahami apa yang ia baca dalam buku dengan sampul berwarna coklat tua. Karena penasaran dengan apa yang tengah dibaca oleh Jiyeon, akhirnya Siwan memutuskan untuk mendatangi gadis cantik itu.

“Jiyeon-ssi…” panggil Siwan lirih saat menjejakkan kakinya di atas lantai ruang rekreasi.

Jiyeon mengalihkan pandangannya dari buku yang tengah ia vmbaca ke arah Siwan yang berjalan mendekatinya. Ditutupnya buku itu lalu ia menyambut Siwan dengan senyum manisnya. “Kau…. Ah, aku lupa. Siapa namamu?” tanya Jiyeon yang tak berhasil memanggil ingatannya menyebut nama Siwan.

Siwan membalas senyuman Jiyeon. “Aku Im Siwan. Salah satu angkatan darat di Korsel,” jelas Siwan. Ia berdiri di depan Jiyeon dengan jarak 3 meter. “Senang bertemu denganmu lagi, Jiyeon-ssi.”

“Senang bertemu denganmu juga, Siwan-ssi. Oh ya, ada kepentingan apa hingga kau bersusah payah datang ke tempat ini?” tanya Jiyeon yang memang tidak mengetahui bahwa Siwan merupakan anak buah Haeri.

“Aku datang kemari untuk bertemu dengan nyonya Haeri.”

Jiyeon mengerutkan keningnya. “Haeri? Ada urusan apa dengan Haeri?”

Siwan sedikit kaget mendengar Jiyeon memanggil Haeri tanpa didahului dengan kata ‘Ibu’. Mungkinkah Jiyeon tidak menganggap Haeri sebagai ibunya seperti yang dilakukan oleh Soo Hee yang menganggap Soo Jin sebagai ibunya sendiri?
“Aku… baru saja menyampaikan informasi mengenai hasil pemilu yang diselenggarakan oleh pemerintah Korut pada hari ini. Hanya itu. Aku tahu nyonya Haeri adalah orang yang sibuk. Jadi, aku memberitahukan padanya tentang hal itu karena beliau pasti tidak sempat membaca surat kabar atau mendengar siaran berita di media elektronik.”

Jiyeon mengangguk kecil. Ia dapat memahami tujuan Siwan dengan melakukan hal itu. “Kau orang yang baik, ya? Sampai rela datang ke tempat ini hanya untuk memberitahukan tentang hal itu pada Haeri. Kau sudah mengatakannya pada Haeri. Jadi, tidak ada salahnya kalau kau juga memberitahuku. Toh, apa yang kamu sampaikan itu bukanlah rahasia jika hasil penghitungan suara di Korut selesai dilakukan.” Jiyeon mencoba membujuk Siwan dengan perlahan agar dia juga mendapat info yang sama dengan Haeri.

“Baiklah, tidak masalah. Begini, hasil penghitungan pemilu Korut sebentar lagi akan diumumkan. Hasil pemilu itu dimenangkan oleh presiden Kim.”

“Presiden Kim?”

“Ya, presiden Kim menang untuk kedua kalinya. Seharusnya Kim Myungsoo yang mencalonkan diri sebagai Presiden Korut namun beberapa minggu yang lalu, Myungsoo mengundurkan diri dan presiden Kim yang menggantikannya. Ada banyak spekulasi tentang mundurnya Kim Myungsoo dari pencalonan presiden. Namu  semua itu belum terbukti benar. Kebenarannya hanya diketahui oleh orang-orang tertentu yang memiliki hubungan dekat dengan anak dan bapak bermarga Kim itu.”

Jiyeon menanggapi info yang diberikan oleh Siwan dengan serius. “Dari mana kau tahu bahwa ada banyak spekulasi mengenai hal ini?”

“Aku mempunyai jaringan di beberapa tempat di Korut. Mereka mengatakan hal itu padaku. Tak ada yang tahu rencana apa di balik mundurnya Myungsoo. Menurut beberapa orang pejabat negara, orang yang memiliki hubungan dekat dengan duo Kim itu adalah PM Korut bernama Lee Donghae dan seorang asisten Kim Myungsoo yang bernama Kim Jaejoong.”

Deg!
Nama Jaejoong disebutkan oleh Siwan sebagai seorang asisten yang memiliki hubungan dekat dengan Myungsoo. “Apa kau bilang? Asisten? Setahuku, dia tidak memiliki seorang asisten.”

“Entahlah, itu yang aku dengar dari mereka. Semoga saja kabar itu tidak benar.”

“Siwan-ssi, maukah kau membantuku?” tanya Jiyeon serius.

Siwan bingung melihat sikap Jiyeon seserius itu. “Membantu? Bantuan apa yang kau minta dariku?” tanya Siwan balik.

Jiyeon maju satu langkah ke depan, membuat jarak dirinya dengan Siwan semakin dekat. Sebelum membuka mulut, Jiyeon melihat sekelilingnya agar tak ada orang lain yang mendengar apa yang akan dia sampaikan pada Siwan.
“Aku minta bantuanmu, Im Siwan. Kau tahu bagaimana posisiku sekarang, kan? Aku ingin melindungi negara ini dari serangan Kim Myungsoo. Tapi untuk saat ini aku belum bisa melakukan sesuatu karena Haeri mengawasiku dengan sangat ketat. Dia bahkan rela tinggal satu atap denganku. Kau juga tahu sendiri sebarapa benci Haeri padaku.” Jiyeon menghela nafas panjang lalu membuangnya dengan pelan. “Aku ingin kau membantuku mencari informasi terkait perkembangan politik dan Korut dan negara kita.”

“Aku tidak menyangka kalau kau akan bertindak sejauh itu.”

“Apa maksudmu? Aku tanya padamu, apa yang akan kau lakukan jika dirimu berada di posisiku?”

Siwan tak berkutik mendapat pertanyaan yang tak mudah dijawab. “Bukan hanya kau yang ingin melindungi negara ini.”

“Tch! Lalu siapa lagi yang akan berdiri di belakang garis yang sama denganku? Haeri? Soo Hee? Atau dirimu sendiri?” Nada bicara Jiyeon terdengar mencibir karena menurutnya Haeri dan Soo Hee adalah benalu di Korsel.

“Nyonya Haeri….”

“Dia hanya ingin menyelamatkan ambisinya,” sahut Jiyeon yang tak sabar ingin mengungkapkan apa yang bersemayam di kepalanya. “Haeri dan Soo Jee terkesan patriotik namun sebenarnya mereka tidak lebih dari benalu yang akan merongrong Korsel dari dalam.”

“Dari mana kau mengetahui hal itu?”

Jiyeon mendesah kasar. Dia kesal dan menyesal telah berbincang dengan Siwan yang tak mengerti apa-apa. Bagaimana mungkin ada prajurit yang tak tahu apa-apa?

“Kau bisa mencari tahu hal itu dengan usahamu sendiri, Siwan-ssi.” Jiyeon menutup bukunya lalu beranjak dari tempat itu.

Matahari semakin lama semakin menyingsing ke barat. Hal itu menandakan bahwa malam akan segera tiba dan gelap akan menyelimuti bumi bagian timur.
“Aku benci malam hari,” keluh Jiyeon setelah selesai membersihkan diri di kamar pribadinya. Sedari siang tadi, dia memikirkan sesuatu yang tak terlepas sedetik pun dari otaknya. Ya, apalagi kalau bukan memikirkan Jaejoong yang disebut oleh Siwan sebagai asisten Kim Myungsoo. Jiyeon mulai khawatir kalau Jaejoong akan berkhianat dan mengingkari janjinya. “Mungkinkah hal itu terjadi?” lirih Jiyeon saat duddk bersandar pada kursi di depan meja riasnya.

Dekat dengan orangtua, tidur di atas ranjang bermerk di dalam kamar yang indah dan segala kebutuhan terpenuhi. Itulah kehidupan Jiyeon saat ini. Sangat berbeda dengan hidupnya sebelum menemukan jati dirinya. Namun dalam lubuk hatinya yang terdalam, rasa rindu pada tanah Pyongyang dan semua keluarga yang tinggal di sana tak dapat ia hilangkan meski kini dirinya harus membenci Korut yang karena akan menyerang Korsel.

Jiyeon mendesah beberapa kali. Entah apa yang bisa dilakukannya sebagai putri presiden yang sebentar lagi akan lengser. Tujuannya kembali ke Korsel adalah untuk menyelamatkan tanah airnya dari rongrongan Haeri dan serangan Korut. “Aku masih bingung. Apa yang harus aku lakukan? Aku harus memulai dari mana? Yang pasti, aku akan melindungi negaraku meski harus mengorbankan nyawa.”

Dilihatnya pedang dan peluit yang ia letakkan di atas meja dekat dengan pintu kamarnya. Jiyeon berjalan mendekati meja itu. Sepersekian detik kemudian, Jiyeon sudah berdiri di depan meja itu. Ekspresinya datar saat menatap dia benda bersejarah dalam hidupnya.

“Haruskah aku membuangmu?” lirih Jiyeon saat memegang peluit pemanggil rajawali yang diberikan oleh Myungsoo. Pandangannya beralih pada seekor rajawali yang bertengger di jendelanya. “Kemarilah!” perintah Jiyeon pada rajawali itu. Tanpa mengucapkan kata perintah untuk kedua kalinya, burung itu hinggap di lengan kiri Jiyeon. “Maafkan aku yang telah menelantarkanmu selama 2 tahun. Kau pasti merindukannya. Mulai sekarang, aku akan memanggilmu dengan nama Gongju. Kau lah satu-satunya pendamping hidupku, bukan dia.”

Tanpa terasa, airmata Jiyeon jatuh mengalir membasahi kulit mulusnya dan terasa hangat di pipinya. “Andwae! Aku tidak boleh mengingatnya. Andwae!” Jiyeon menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan ingatan tentang Myungsoo yang selalu menghinggapi pikirannya, membuatnya merasa galau dan selalu bersedih. Jika dia ingin melindungi Korsel maka satu-satunya jalan adalah melupakan Kim Myungsoo. Pria itulah yang akan menghancurkan negaranya.

Keesokan harinya, Jiyeon berlatih pedang di halaman belakang rumah. Kembalinya putri Presiden Kim yang hilang selama lebih dari 20 tahun itu sama sekali tidak membuat suasana keduaman presiden berubah. Suasana di rumah mewah itu tetap saja sepi dan tak ada tegur sapa sesama penghuni rumah, apalagi Soo Hee dan Jiyeon. Namun pagi ini suatu pemandangan yang tak biasa terlihat di kediaman presiden Korsel, terjadi di halaman belakang rumah.

“Rupanya ilmu pedangmu tidak pernah hilang meski kau telah sekarat selama 2 tahun. Wow, daebak!” sindir Soo Hee yang tak tahu malu. Dia terlalu percaya diri bicara pada Jiyeon yang telah dikhianatinya. Jiyeon tak pernah ingin menyakiti Soo Hee. Bahkan jika ada bahaya pun Jiyeon akan melindungi Soo Hee.

Jiyeon menghentikan latihannya. Dia melirik ke arah Soo Hee dengan tajam. “Pergilah! Kita tidak punya urusan,” ketusnya.

Soo Hee tak mendengarkan Jiyeon sama sekali. Dia tetap berdiri dekat deretan tanaman bunga berwarna-warni yang sengaja ditanam oleh Soo Jin.

“Kau punya telinga, kan?”

“Kata-katamu semakin lama semakin menusuk, sama seperti pedangmu itu, Park Jiyeon. Untung saja Myungsoo oppa memilihku. Jika tetap bersamamu, aku yakin bahwa dia tidak akan bertahan lebih lama untuk tinggal bersamamu.”

Jiyeon merasa kata-kata Soo Hee lebih menusuk daripada sebilah pedang tertajam di dunia. Dia harus menahan emosinya.

“Lihat! Aku punya sesuatu yang pasti dapat membuatmu merasa kehilangan.” Soo Hee mengambil sesuatu dari saku blazer berbahan baby tery kemudian dia menunjukkan sebuah benda berbentuk panjang yang tidak asing bagi Jiyeon. “Ttada! Kau pasti terkejut.”

Benar saja. Jiyeon langsung terkejut bukan main saat melihat benda yang dipamerkan oleh Soo Hee padanya. Kalung berliontin peluit pemanggil rajawali ada di tangan Soo Hee.

“Apa yang kau lakukan di kamarku?” Jiyeon mulai geram meladeni Soo Hee yang bersikap makin tak wajar dan menyebalkan.

Soo Hee tersenyum licik, senyum khas miliknya yang diwarisi dari ibu kandungnya. “Kau bisa mengambilnya kalau kau bersedia memberitahukan sesuatu padaku.”

“Telingamu tidak akan mendengarkan sesuatu dari mulutku. Jika kau berani mengambil barang dari kamarku, aku juga bisa mengambil sesuatu yang kau miliki. Kembalikan kalung itu!” bentak Jiyeon yang sudah memanas karena setelah latihan langsung dipancing emosi oleh Soo Hee.

“Andwae!”

Jiyeon mengambil langkah untuk mendekati Soo Hee. Tangan kanannya menggenggam pedang kesayangannya begitu erat. “Rupanya aku harus mengancammu. Letakkan kalung itu atau…”

“Atau apa, huh?”

Tanpa basa basi, Jiyeon langsung mengarahkan mata pedangnya pada Soo Hee.

“Letakkan kalung itu atau pedangku akan menembus jantungmu.”

Kata-kata Jiyeon benar. Pedangnya siap menghunus jantung milik Soo Hee yang berdetak tak karuan karena takut jika Jiyeon benar-benar akan menghunuskan pedang lancip itu.

“Wae? Kau takut?”

Soo Hee menatap Jiyeon dengan penuh kebencian. Begitu pula yang dilakukan oleh Jiyeon. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan semua orang apalagi di depan orang yang memberikan kenangan pahit daa manis dalam ingatannya.

“Anhi. Aku hanya kasihan padamu, Park Jiyeon. Kau adalah anak terlantar, tidak mendapat perhatian dari orangtua dan bertindak semaumu. Kau kira aku salut padamu dengan semua yang kau alami dan yang kau lakukan? Kasihan…”

Jiyeon geram sekali. Dia menggenggam pedangnya erat dan tetap mengacungkan pedang itu pada Soo Hee. “Jangan bicara sembarangan! Kau pikir aku tidak bisa membunuh wanita berbisa sepertimu? Jangan terlalh berharap seperti itu. Aku tidak akan segan-segan menghabisi siapapun yang menghalangiku.”

Soo Hee berusaha mengatur nafas dan detak jantungnya. Ia tak boleh gentar hanya karena gertakan sambel dari seorang Jiyeon.

“Dasar tidak berguna!” ketus Soo Hee.
Jiyeon ingin sekali menebas leher wanita kurang ajar yang berdiri di depannya.

“Baiklah, tunggu saat appa sudah lengser dan dilantiknya presiden baru. Saat itulah aku akan mengaancurkanmu dan semua sekutumu. Hmm, kau bisa meminta pengamounan untuk hal itu.”

“Cih! Tidak akan sudi.” Soo Hee mekudah kasar.

Tiiiiiiiit!
Park Soo Hee meniup peluit pemanggil rajawali milik Jiyeon. Hanya dalam hitungan detik, sang rajawali datang danlajgsung mencakar rambut Soo Hee.

“Aargh!”

“Gongju-a, keumanhe!” teriak Jiyeon yang berusaha menghentikan amukan rajawalinya. Burung itu tidak terima jika Soo Hee yang meniup peluit itu.

“Yaak! Burung jelek! Kurang ajar kau!” Soo Hee memaki burung Rajawali yang telah mengacak-acak tatanan rambutnya. Soo Hee semakin kesal pada Jiyeon hingga dia berniat untuk membalas dendam. ‘Awas kau, Park Jiyeon!’ batinnya.

“Keumanhae! Sikapmu ini membuatku berada dalam masalah besar, Gongju-a.” Jiyeon menarik kaki rajawali itu dan langsung mendekapnya erat agar tidak menyerang Soo Hee lagi.

“Kau panggil dia dengan sebutan apa? Gongju?”

“Kenapa? Kau tidak suka? Apakah aku perlu memberinya nama Soo Hee? Bukankah nama Gongju cukup bagus untuknya,” ketus Jiyeon tidak terima.

Soo Hee tidak ingin meladeni Jiyeon lagi. Tanpa diperintah, Soo Hee pergi meninggalkan Jiyeon begitu saja. Jiyeon pun menatapnya dengan ekspresi datar.

Tok tok tok!
“Nyonya, saya datang,” ucap Siwan dengan nada rendah. Ia mengetuk pintu kamar Haeri dengan lembut.

Jiyeon yang baru saja menaiki tangga untuk kembali ke kamarnya, melihat pemandangan yang tak jarang ia lihat. Im Siwan mengetuk pintu Haeri dan setia menunggu di tempat itu hingga pintu terbuka. Saat hendak memutar knop pintu kamarnya, Jiyeon menghentikan ayunan langkah kaki jenjangnya. Ia menatap Siwan  yang nampak putus asa karena pintubitu tak kunjung dibuka oleh sang empunya ruangan.

“Im Siwan!” panggil Jiyeon.

Siwan menoleh ke arah kanan melihat siapa yang memanggilnya. Ia sedikit terkejut melihat Jiyeon berdiri di depan kamarnya dan menatapnya datar. “Eoh, Park Jiyeon.”

“Sedang apa kau di sana?” tanya Jiyeon berbasa-basi. Sebenarnya dia tahu apa yang dilakukan oleh Siwan di depan kamar Haeri namun Jiyeon memilih untuk berpura-pura tidak mengetahuinya.

“Apa urusanmu menanyakan hal itu padanya?”

Jiyeon dan Siwan terkejut mendengar suara Soo Hee.

“Apa urusanmu menanyakan hal itu padaku?” Jiyeon mengembalikan pertanyaan itu pada Soo Hee.

Soo Hee mengangkat kedua alisnya. “Tentu saja aku berhak bertanya seperti itu karena dia adalah anak buah ibuku.” Soo Hee mendekati Jiyeon yang sedang membuka kunci pintu kamarnya.

“Jiyeon-ssi, kenapa kau mengunci pintumu?” tanya Siwan mengalihkan perhatian Soo Hee.

“Aku takut ada pencuri yang dengan seenaknya menyelinap masuk ke dalam kamarku.” Jiyeon melirik Soo Hee.

Soo Hee membuang pandangannya.

“Kau harus lebih berhati-hati, Jiyeon-ssi.”

“Eoh, gomawo, Siwan-ssi. Kalau boleh aku tahu, ada apa kau mencari Haeri?”

Soo Hee langsung menatapa Jiyeon dengan tatapan membunuh. Dia merasa tersinggung karena Jiyeon memanggil ibunya tidak dilengkapi dengan embel-embel apapun, hanya memanggil dengan nama Haeri.

“Waeyo?” tanya Jiyeon pada Soo Hee yang menunjukkan ekspresi marah.

Siwan mengalihkan pandangannya dari Jiyeon ke arah Soo Hee. Dia terlalu takut untuk berterus terang pada Jiyeon karena Soo Hee pasti akan melaporkannya pada Haeri. “Ah, anhi. Hanya sesuatu yang tidak begitu penting.”

“Jinjja? Aku tidak berpikir begitu,” kata Jiyeon. Dia sama sekali tidak percaya kata-kata yang baru saja dikeluarkan oleh Siwan. Pria itu pasti berbohong. “Katakan saja. Kau tak perlu takut padanya.” Jiyeon melirik Soo Hee.

“Eoh, g-gurae.” Siwan terbata saat mengiyakan permintaan Jiyeon untuk berterus terang. “Sebenarnya aku membawa kabar tentang Korut.”

Jiyeon dan Soo Hee mengerutkan kening. Ekspresi wajah mereka tampak serius.

“Katakan!” perintah Soo Hee.

Siwan melongo mendengar perintah dari Soo Hee tadi.

Setelah bingung dengan apa yang harus dikatakan, akhirnya Siwan memutuskan untuk memberitahu Jiyeon dan Soo Hee tentang sesuatu yang ingin ia sampaikan kepada Haeri. “Sesuatu telah terjadi tanpa kita ketahui.” Pernyataan itu sontak membuat Jiyeon dan Soo Hee semakin penasaran.

“Sebenarnya apa yang ingin kau katakan? Aku sungguh tidak mengerti dengan ucapanmu itu,” ungkap Jiyeon berterus terang.

Soo Hee tetap diam. Dia tidak ingin mengatakan sesuatu yang malah akan membaut Siwan tutup mulut karena ucapannya yang sering menyakitkan hati orang lain.

“Katakan dengan jelas! Sesuatu yang terjadi pada Korut dan kita tidak mengetahuinya?” ulang Jiyeon.

Siwan hanya mengangguk. “Mereka telah….”

“Ada apa ini?”

Tiba-tiba Haeri muncul dari balik pintu yang baru saja dibukanya. “Oh, rupanya ada Park Jiyeon di sini.”

“Aku hanya lewat dan menyapa Im Siwan. Lanjutkan saja perbincangan kalian,” ujar seorang Jiyeon yang langsung memasang ekspresi acuh pada Haeri, musuh bebuyutannya. Jiyeon masuk ke kamarnya dan menutup pintu yang pernah dibobol Soo Hee itu rapat-rapat.

“Eomma, apa yang sebenarnya kalian lakukan di belakangku?” tanya Soo Hee yang kesal pada Haeri karena merasa diacuhkan oleh ibunya.

“Park Soo Hee, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Haeri.

Soo Hee berjalan mendekatinya dengan tatapan mata menusuk. “Aku ingin mendengar apa yang disampaikan Siwan padamu, Eomma.” Sejurus kemudian dia melangkah masuk ke dalam kamar Haeri yang bernuansa Romawi klasik. Kamar yang sangat aneh tetapi itu lah yang cocok untuk seorang Haeri, wanita kejam yang penuh ambisi.

Jiyeon merebahkan tubuhnya di atas ranjang King Size yang selalu menemani tidurnya. Dia menatap langit-langit kamar serya memikirkan sesuatu yang selalu mengganggu pikirannya. ‘Akankah Jaejoong oppa mengkhianatiku? Jika dia merupakan orang kepercayaan Myungsoo…. Ah, lupakan! Aku tidak ingin berpikiran negatif pada Jaejoong oppa,’ batin Jiyeon.

“Gongju-a!” seru Jiyeon saat melihat burung rajawali miliknya terbang menuju jendela kamarnya. Burung itu masuk ke dalam kamar melalui jendela yang terpasang pada posisi yang pas, yaitu di samping ranjang tidur Jiyeon. “Kau membawa pesan?” Jiyeon bangun dari posisi tidurnya lalu mengambil lipatan kertas kecil dari cengkeraman kaki burungnya. “Eoh, gomawo, Gongju-a. Kau benar-benar hebat!” Dibelainya burung gagah itu.

“Aku akan segera membukanya. Jika perlu, kau harus mengirimkan surat balasannya nanti.” Jiyeon duduk di tepi ranjangnya lalu membuka lipatan kertas itu dan membaca pesan yang tertulis di dalamnya.

Jiyeon-a, aku harap kau tidak berburuk sangka terhadapku. Aku ada di pihakmu tetapi untuk saat ini aku belum bisa berdiri di sampingmu. Myungsoo terlanjur percaya padaku. Aku pun tak enak hati jika harus berkhianat padanya. Aku akan berusaha membujuk Myungsoo untuk membatalkna serangannya terhadap Selatan. Oh ya, presiden Kim telah memilih perdana menteri yang baru.

 

“Gurae, kau benar, Oppa. Tetaplah di sana. Mwoya? Perdana menteri yang baru? Baru… berarti dia bukan PM Lee. Lalu siapa yang ditunjuk sebagai Perdana Menteri?”

Hari ini adalah hari terakhir kampanye untuk kandidat calon presiden Korea Selatan. Presiden Park yang tengah menikmati sarapan pagi nampak serius membawa beberapa email yang masuk pagi itu.

“Appa, sebaiknya habiskan dulu sarapanmu. Jangan memegang benda selain peralatan makan.” Jiyeon menarik satu kursi di samping ayahnya lalu menduduki kursi itu.

“Gwaenchana…” lirih presiden Park.

 

 

TBC

Comment please….

Next nya  dipublish tergantung dari respon kalian.

Semakin sedikit komentar, semakin lama pula update nya.

Ur comment is my spirit

Tinkyu for reading & comment.

Mian gak bisa bales komentar satu per satu. *lebay*

19 responses to “[Chapter 17] Love is Not A Crime

  1. ah makin pusing dg konflik nya bikin pnsaran ..
    keren thor tetep deh
    myungssoo bnran mau hancurin selatan? andwaee
    next thor fighting

  2. Bisa di pastikan PM baru korea utara myungsoo?? Sebenernya boomerang apa kalau myungsoo jd PM baru sii… Asli! Sejujurnya sampe sekarang aku gk terlalu faham dg strategi negara masing2 dan apa poin utamanya juga. Entahlah apa jadinya. Karena sampe saat ini msh menarik. Aku benar2 tahan buat terus baca😀 semangat author lay kim!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s