[CHAPTER — PART 1] Gone With The Wind

gwtw

prllnrhmwt’s present

MAIN CAST :

Kim Myungsoo

Park Jiyeon

SUPPORTING CAST :

Song Jaera

Lee Minhyuk

Kang Risae

GENRE :

Fluff || Romance || Fantasy (little bit) || School-life

LENGTH :

Chaptered

CREDIT POSTER :

Big thanks to blacksphinx@artfantasy ^^

DISLCAIMER :

All the stories belongs to God, their parents and themselves. But, this story is mine.

PREVIOUS CHAPTER :

Prolog+Introducing Cast

***

Myungsoo dan Jaera kini tengah berada di atap sekolah. Mereka sedang mendengarkan sebuah lagu dari Ariana Grande yang berjudul Love Me Harder sambil memejamkan kedua mata mereka seraya menikmati hembusan angin yang menerpa wajah cantik dan tampan milik keduanya. Walaupun kadang udara yang cukup dingin itu menusuk pori-pori kulit mereka, mereka tak menghiraukan itu.

“Myungsoo-ya, kau masih ingat saat kita pertama kali bertemu? Hm, seingatku saat itu kau berumur enam tahun sedangkan aku berumur lima tahun, kalau tidak salah sih,” Ujar Jaera tiba-tiba tanpa membuka kelopak matanya.

“Saat itu, keluarga kita mengadakan pertemuan di sebuah café atau tempat apa aku tidak ingat dengan jelas. Aku melihatmu serta Paman dan bibi Kim sudah berada didalam tempat itu, saat itu kau sangat dingin sekali dan wajahmu seperti mengatakan ‘eomma aku ingin pulang’ setiap kau menatap ibumu. Aigoo, aku jadi ingin tertawa”

Flashback
Myungsoo kecil kini tengah berada di dalam sebuah café VIP yang sudah dipesan oleh keluarganya. Ia tampak tidak terlalu senang berada di café ini, terbukti jelas dengan wajahnya yang kelihatan murung. Ibunya berkali-kali mengatakan ‘Sebentar lagi, nenek kakekmu serta bibi pamanmu dan juga sepupumu akan datang Myungsoo-ya, sebentar lagi…” Memang betul ibunya menyadari sikap Myungsoo yang sudah terlihat murung.
CIIITT
Decitan mobil terdengar membuat keluarga Kim—kecuali Myungsoo menengok ke arah jendela. Benar saja, dua mobil mewah berada di depan café. Mereka berdiri menunggu keluarga besarnya masuk ke dalam café tersebut.
Di sisi lain, Jaera kecil bersembunyi dibalik tubuh ibunya. Ia masih tampak malu untuk bertemu dengan keluarga Kim, apalagi saat melihat Myungsoo kecil dari jendela tadi membuat Jaera kecil semakin enggan bertemu dengan keluarga Kim. “Jaera, waeyo? Tak apa, bibi dan paman Kim bukan orang jahat, mereka orang baik,” Terang ibu Jaera.
Memang benar ini adalah pertemuan pertama Jaera dengan keluarga Kim, dan ini juga merupakan pertemuan pertama Myungsoo dengan keluarga Song. Keluarga Kim serta keluarga Song memang jarang bertemu, biasanya mereka akan bertemu jika ada acara saja di rumah ibu mereka. Selain itu mereka tidak pernah atau lebih tepatnya jarang bertemu akibat kesibukan masing-masing di dunia bisnis.
Keluarga besar itu kini sudah berada di dalam satu ruangan. Mereka tengah mengobrol. Dan isi obrolan itu kebanyakan tentang “bisnis” yang membuat dua anak kecil yang berada di antara mereka muak mendengarnya. Anak kecil itu sama sekali tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Ingin rasanya Jaera kecil mengatakan kepada ibunya ‘bisakah ibu mengganti topik pembicaraan?’ Tapi, setiap kali Jaera menarik baju ibunya, ibunya justru mengabaikannya.
“Ah, aku lupa sesuatu. Myungsoo-ya, kalian belum saling kenal ‘kan? Ini Jaera, Song Jaera, saudaramu, dia lebih muda satu tahun darimu,” Ujar ibu Myungsoo sambil mengulurkan tangan Myungsoo.
“Myungsoo imnida,” Ucap Myungsoo terkesan tak perduli.
Jaera menatap laki-laki kecil dihadapannya itu dengan tatapan meremehkan. Bisakah ia lebih sopan sedikit? Lihat caranya berkenalan, bahkan ia sama sekali tidak menatap Jaera. Huft. Menyebalkan.
“Song Jaera imnida,” Balas Jaera.
Setelah perkenalan singkat tadi, keluarga mereka kembali membahas tentang bisnis. Hingga setelah beberapa jam berada di dalam café tersebut akhirnya mereka berpamitan dan kembali ke rumah masing-masing.

“Myungsoo-ya, jika sedang libur nanti bermainlah ke rumah bibi di Busan,” Ujar bibi Song sebelum pergi.
Ne bibi,”

4 Months Later…

Mwo?”

Ibu Myungsoo kaget setelah mendengar ucapan ibu Jaera. Memang, keluarga Song tengah berada di rumah keluarga Kim sekarang. Ibu Jaera baru saja mengatakan kalau ia dan suaminya akan pergi ke London untuk beberapa tahun. Dan tentu saja Jaera tidak akan ikut kesana, karena mereka ke London juga untuk bisnis, bukan untuk liburan atau semacamnya.

“Aku serius, dan…”

“Aku titip Jaera padamu untuk beberapa tahun ini,” bisik ibu Jaera karena tidak mau Jaera mendengar ucapannya.

Ibu Myungsoo menghela napasnya pelan. “Baiklah,”

Flashback END

“Hhhhh, aku benci mengingat itu. Kalau tau saat itu aku akan kehilangan mereka, aku lebih memilih ikut mereka saja,” Jaera menghentikan cerita panjangnya. Ia mengakhiri itu dengan helaan napas panjang sembari memejamkan matanya kembali. Namun, ia sadar sedari tadi saat ia bercerita Myungsoo sama sekali tak berbicara atau mencelanya, padahal biasanya saat ia sedang bercerita Myungsoo selalu mencelanya. Ia membuka kelopak matanya dan menghadap kesamping. Ia merotasikan bola-matanya.

“Myungsoo-ya ireona!”

Aigoo, apa kau masih marah kerena masalah tadi? Hanya karena aku mengejekmu?! Ya! Sudah bertahun-tahun kita bersama baru pertama kalinya kau marah padaku hanya karena aku mengejekmu. Huft menyebalkan! Baiklah aku akan marah padamu juga! Ah ya, kudengar hari ini kau tidak diberi uang jajan ya oleh bibi Kim? Hahah, istirahat atau saat pulang nanti jangan merengek untuk ditraktir!”

Jaera bangkit dari duduknya dan hendak pergi meninggalkan Myungsoo. Namun, ia berhenti saat Myungsoo menahan lengannya. Ia menatap Myungsoo dengan tatapan jengkel dan seolah mengatakan ‘mau apa kau?’

Myungsoo melepas lengan Jaera dan berdecak. “Cha, pergilah, bukankah kau bilang tadi kau marah padaku?” Ujar Myungsoo tanpa memperdulikan tatapan Jaera yang seperti ingin menerkamnya sekarang juga.

Jaera menghentakkan kakinya dan beranjak pergi dari atap sekolah. Sebenarnya ia juga bingung, ia akan kemana karena bel masuk sudah berbunyi dari tadi dan juga ia malas masuk ke kelas karena sekarang adalah pelajaran fisika. Pelajaran yang amat dibenci olehnya.

Krryyuukkk.

Terdengar suara dari perut Jaera. Jaera memegang perutnya. “Matta! Lebih baik aku ke kantin saja, lagipula sekarang tidak ada murid-murid di kantin jadi aku tidak perlu mengantri lama,” Ujar Jaera.

***

KRIIINGG

Bel pulang telah berbunyi.

“Baiklah pelajaran hari ini cukup sampai sini saja. Untuk pekerjaan rumah kerjakan halaman 146 sampai dengan 150. Sekian dari saya, annyeong”. Pamit Oh Seonsaengnim.

“Ne saengnim” Balas para siswa serempak.

Jaera merapihkan buku-buku yang berantakan di atas mejanya dan memasukkannya ke dalam tasnya. Kemudian ia menyampirkan tas itu di bahunya. Ia langsung pergi keluar dari kelasnya tanpa memperdulikan Myungsoo yang terus menatapnya. ‘Aish, anak itu benar-benar marah rupanya. Ckckck’

Myungsoo mengejar Jaera yang sekarang sudah berada di depan gerbang sekolah. Ia memegang bahu Jaera dan Jaera pun berbalik. “Waeyo?” Tanya Jaera datar.

Ya, kau benar-benar marah? Aigoo, berapa umur jjaela(rd: Jaera) sekarang eoh?” Ujar Myungsoo seraya mencubit kedua pipi Jaera gemas.

Ya! Lepaskan bodoh! Ini sakit!” Rintih Jaera.
Myungsoo melepas tangannya yang berada di pipi Jaera. Ia kemudian merangkul saudara tersayangnya itu. Jaera kaget melihat perlakuan Myungsoo yang tiba-tiba itu. Ia menatap Myungsoo seakan meminta penjelasan. Myungsoo yang mengerti mengapa Jaera menatapnya seperti itu, iapun merotasikan kedua bola matanya dan melepas tangannya yang berada di bahu Jaera.

“Aku akan mengajakmu jalan-jalan hari ini, semua yang akan kau beli akan kubayar. Sebagai ucapan perminta maaf-an dariku,” Ucap Myungsoo tanpa cela.

Jaera mendengarnya dengan teliti meskipun ucapan Myungsoo hanya sebuah kalimat sederhana yang singkat saja. Jaera terdiam seketika. Namun detik berikutnya, Myungsoo atau bahkan para siswa yang berlalu-lalang di sekitar gerbang sekolah dapat mendengar tawa Jaera yang begitu keras. Jaera memegang perutnya yang sakit akibat terlalu banyak tertawa. Ia bahkan menangis karena terlalu banyak tertawa.

Myungsoo menatap jengkel saudara yang satunya ini. Kenapa ia harus tertawa disaat yang—menurutnya sedang serius ini? Apa ia menganggap remeh perminta maaf-an darinya? Ugh rasanya ia ingin menjedotkan kepalanya sekarang juga karena sikap bodohnya tadi, lagipula kenapa harus dirinya yang meminta maaf? Jika saja tadi ia tidak berkata demikian, mungkin ini hal semacam ini tidak akan terjadi.

Aigoo aigoo. Myungsoo, kau menganggapku benar-benar marah hanya karena tadi? Kalau itu benar, betapa bodohnya dirimu AJHAHAHAHAHA,” Tawa Jaera terdengar lagi.

“Sudah-sudah. Karena kau tidak benar-benar marah, maka yang tadi ucapkan batal. Tidak akan ada jalan-jalan,”

Mwoyaa? Tidak mau tau, ucapanmu tadi sudah terlanjur aku pegang jadi tidak akan ada penundaan atau pembatalan atau apalah itu…”

“Tidak.”

“Myungsoo-yaaa jebal…

“Hmm.. baiklah kita akan jalan-jalan. Tetapi, aku tidak akan mentraktirmu, soal tempat terserah kau,”

“Yayaya baiklah,”

***

Myungsoo berusaha mengejar Jaera yang kini berada jauh di depannya. Di saat ia berusaha mati-matian mengejar wanita itu dengan kantong-kantong plastik berisi banyak peralatan serta makanan yang ia jinjing dengan tangannya. Wanita itu justru sedang asyik ber-selfie ria sembari memamerkan es krim yang tadi wanita itu sempat beli.
Myungsoo amat menyesal beberapa menit, oh atau beberapa jam lalu ia mengajak Jaera jalan-jalan dan membiarkan Jaera memilih tempatnya. Jika saja ia ingat kalau Jaera merupakan seorang shopaholic atau penggila shopping, ia tidak akan membiarkan Jaera memilih tempatnya. Ugh, ia benar-benar mengutuk dirinya sendiri! Ia harus rela menerima akibatnya yaitu membawa barang-barang yang dibeli oleh Jaera.
“Ck. Kim Myungsoo! Ppalliwa! Kau ini lelaki atau perempuan sih? Lambat sekali”. Ejek Jaera tanpa menatap Myungsoo sedikitpun dan masih setia menatap layar ponselnya—mengedit foto selfienya tadi.

“YA! Kau pikir barang-barangmu ini tidak berat? Bodoh”.
Jaera menggeram kesal, ia menaruh ponselnya ke dalam tas kecilnya, “Bilang apa kau tadi? Bodoh? Kau yang bodoh!”

“Yayaya, terserah kau saja lah. Aku tidak ingin berdebat disini,”
Myungsoo sudah berada tepat di sebelah Jaera sekarang. Ia meletakkan kantong-kantong plastik itu di jalan dan sedikit membungkukkan badannya. Terlihat jelas ia sangat kelelahan karena memang tadi ia berlari mengejar Jaera. Keringat mengalir deras didahi Myungsoo, Jaera melihat Myungsoo sekilas. Terbesit rasa kasihan di dalam hatinya sekarang, dan juga rasa bersalah.
Mianhae“. Jaera mengucapkan kata-kata itu dengan tiba-tiba membuat Myungsoo kaget dan mengangkat kepalanya.

“Untuk apa?”

“Karena membuatmu membawa barang-barang yang begitu banyak ini dan juga membuatmu berlari mengejarku,”
Myungsoo terdiam, sejurus kemudian bibirnya melengkung. Bukan, bukan sebuah seringaian, ia tersenyum. Myungsoo meletakkan tangannya di atas kepala Jaera dan mengacak-acak rambut Jaera.
“Tak usah minta maaf, kalaupun kau minta maaf kau tak akan membawa barang-barang ini ‘kan?”
Jaera mendengus. Entah kenapa kalimat yang barusan terlontar dari mulut Myungsoo terdengar sebuah ejekkan baginya.

“Hhhhh… Tunggu di sini, aku akan membeli minuman” Jaera berlari meninggalkan Myungsoo.
Pria bertubuh tinggi itu menatap punggung Jaera yang semakin tak terlihat oleh kedua matanya. Kemudian matanya mencari-cari bangku kosong yang berada di luar Lotte Department Store.
Ahjumma, minuman ini berapa?” Tanya Jaera pada sang penjual.

“Itu 800 won,

“Saya beli dua ahjumma. Gamsahabnida,” Jaera menundukkan kepalanya—headbow seraya memberikan beberapa lembar uang kepada sang penjual dan kemudian ia berlalu pergi.
Jaera berada di tempat Myungsoo berdiri tadi. Tapi di sini ia tak melihat sosok Myungsoo sama sekali. “Oh gosh, jangan bilang kau meninggalkanku Myungsoo-ssi
Kedua mata Jaera mencari sosok Myungsoo di setiap tempat, iapun masih setia berdiri di tempat Myungsoo tadi. Ia tak berkepikiran untuk mencari Myungsoo di setiap sudut tempat itu. Ia berpikir Myungsoo pasti masih berada di daerah sini. Tapi, ia sama sekali tak mendapati sosok Myungsoo.

Di kejauhan Myungsoo tengah memperhatikan gerak-gerik Jaera yang tengah mencarinya. Ia terkekeh melihat tingkah Jaera yang entah menurutnya begitu lucu. “Jaera-ya!” Myungsoo berteriak membuat objek yang dipanggilnya menoleh. Jaera menyipitkan kedua matanya, berusaha meyakinkan bahwa laki-laki yang tengah duduk di sebelah toko ice cream adalah Myungsoo atau bukan. Myungsoo melambaikan tangannya bermaksud untuk menyuruh Jaera menghampirinya.

Jaera mengerti maksud Myungsoo iapun berlari menghampiri Myungsoo dengan dua botol minuman dingin ditangannya. Ia duduk di sebelah Myungsoo dan memberi minuman itu kepadanya. “Setelah ini, kita akan ke mana lagi?” Tanya Jaera setelah meneguk minumannya.

Myungsoo yang sedang meminum minumannya itu tersedak. Bagaimana bisa Jaera berpikir seperti itu? Ia tau bukan kalau ia sendiri yang membeli semua barang-barang yang berada di dalam kantong plastik itu, dan tentu saja ia pasti tau betapa banyaknya barang-barang yang ia beli? Jadi, bagaimana bisa ia berpikir akan melanjutkan jalan-jalan dengan membawa semua barang-barang itu? Jika itu benar-benar terjadi, Myungsoo yakin, mereka berdua—lebih tepatnya Myungsoo sendiri menjadi bahan ejekkan orang lain.

Gwaenchana?”

Myungsoo memilih tak menjawab pertanyaan Jaera barusan. Ia memilih mengalihkan pandangannya ke depan—menghindari tatapan khawatir Jaera yang justru membuat jantungnya berdetak tak karuan. Myungsoo meletakkan botol minumannya itu di sebelahnya tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.

Jaera tak mengerti dengan sikap Myungsoo sekarang. Kenapa ia tak mau menjawab pertanyaan dari dirinya? “Myungsoo-ya, kau kenapa? Kau bahkan belum menjawab dua pertanyaanku,”

Myungsoo menghela napasnya panjang. Jaera memang termasuk siswa yang pandai di sekolahnya, dan ia mengakui itu, tetapi ia tak bisa mengelak kalau Jaera bisa saja menjadi bodoh saat di luar sekolah. Sebenarnya kata ‘bodoh’ tidak terlalu tepat untuk mendeskripsikannya, mungkin kata yang lebih tepat adalah ‘lemot’. Ya semacam itulah menurut Myungsoo.

“Baiklah aku akan menjawab pertanyaanmu. Pertama. Jalan-jalan lagi? Apa kau gila, Song Jaera-ssi? Kau sudah membeli banyak barang-barang di Lotte Department Store tadi, dan kau menyuruhku untuk membawa semua barang-barang itu. Kalau kau ingin mendengar jawabanku secara singkat, tentu saja kita akan menyudahi jalan-jalan ini dan akan pulang ke rumah. Kau ingin tau alasannya kenapa? Tidak perlu kujelaskan sepertinya kau sudah tau jawabannya, terlihat dari ekspresimu yang seperti itu. Pertanyaan satu sudah kujawab. Kedua. Aku tidak baik-baik saja. Dua pertanyaanmu sudah kujawab? Apa ada pertanyaan lagi, Song Jaera-ssi?”

Jaera menghela napas panjang. Ia merotasikan kedua matanya setelah mendengar jawaban Myungsoo barusan. “Kau pikir aku sejahat apa membiarkanmu membawa semua barang-barang itu dan tetap melanjutkan jalan-jalan? Jika kau mau melanjutkan jalan-jalan, tentu saja kita akan pulang ke rumah terlebih dahulu! Kita harus menaruh barang-barang ini dan mengganti pakaian kita”

Myungsoo tak menghiraukan Jaera. Ia lebih memilih untuk memainkan game favoritnya. Jaera merasa kesal karena Myungsoo mengabaikannya. Ia pun mengambil ponselnya yang berada di dalam tas kecilnya. Namun saat ia meraba isi tas kecilnya itu, ia tak dapat menemukan ponselnya. Itu berarti…ponselnya hilang!

Jaera bagai terkena serangan jantung mendadak sekarang. Ia benar-benar panik. Bagaimana bisa ponselnya hilang padahal benda berbentuk persegi panjang itu sedari tadi ia taruh di dalam tasnya. Jaera benar-benar mengutuk dirinya sendiri karena kecerobohannya.

Myungsoo yang merasakan kalau Jaera sedang panik dan bingung karena keringat yang mengucur deras di dahi Jaera pun melirik wanita itu sekilas. Ia menarik bibirnya ke atas—membentuk sebuah seringaian. Tapi sedetik kemudian ia kembali menetralkan dirinya, seringaian yang tadi tercipta di bibirnya pun sudah hilang bagai ditelan bumi.

“Kenapa kau?” Tanya Myungsoo tanpa mengalihkan perhatiannya dari sebuah benda berbentuk persegi panjang.

“T-tidak,” Balas Jaera.

Myungsoo tau kalau Jaera sedang berbohong, jadi ia memilih untuk bertanya yang kedua kalinya. Namun hasilnya nihil, Jaera tetap menjawab seperti tadi. Pria itupun kembali memainkan game favoritnya yang tadi sempat tertunda. Myungsoo mendengar lenguhan panjang dari bibir Jaera, ia melirik gadis itu sekilas. Gadis itu sekarang sedang menunduk.

“Ponselku hilang,”

“Kenapa kau terlihat sedih sekali, padahal hanya ponselmu yang hilang bukan?”

“Di dalam ponsel itu ada banyak rahasia yang tidak diketahui oleh banyak orang, orang-orang disekitarku pun tidak tau, termasuk dirimu, dan di ponsel itu ada banyak kenangan-kenangan manisku dengan orang tuaku, jadi tentu saja ponsel itu sangat berharga,”

Myungsoo mengangguk paham. Iapun kembali melanjutkan kegiatannya tadi—bermain game.

Jaera menatap Myungsoo kesal, kemudian ia mendengus. Sebenarnya hati pria itu terbuat dari apa? Apa pria itu sama sekali tak memiliki rasa kasihan atau semacamnya? Seharusnya sebagai laki-laki ia harus berusaha mencari barang itu juga tanpa disuruh, tapi apa yang dia lakukan? Pria itu malah asyik bermain game, game, dan game.

Myungsoo tiba-tiba menyodorkan sebuah benda berbentuk persegi panjang kepada dirinya, ya tepat itu adalah sebuah ponsel. Jaera meneliti ponsel itu dengan cermat. Ponsel ini terlihat benar-benar mirip dengan ponselnya. Jaera menatap Myungsoo sambil mengambil ponsel tersebut dari tangan Myungsoo.

“Itu ponselmu,”

Mwo?! Bagaimana bisa ponselku ada pada dirimu? Sejak kapan kau belajar jadi maling, Myungsoo?”

“Ck, salah sendiri kenapa dirimu begitu ceroboh. Tasmu terbuka sedari tadi, dan saat kau berlari membeli minuman tentu saja ponselmu jatuh dan untungnya ponselmu tidak rusak parah, hanya saja layarnya sedikit tergores, jadi jangan salahkan aku,”

Jaera menepuk dahinya. “Gomawo,” Jaera tersenyum.

“Kurasa kita tidak bisa melanjutkan jalan-jalan, hari semakin gelap. Kau tau ‘kan bibimu itu paling tidak suka kalau kita pulang terlalu larut? Apalagi kita tidak izin dulu,” Myungsoo mengambil kantong-kantong plastik yang tadi ia taruh di jalan dan kemudian menjinjingnya. Jaera pun berdiri setelah menaruh ponselnya ke dalam saku bajunya.

Myungsoo dan Jaera berjalan ke halte bus. Mereka duduk dibangku yang sudah tersedia di halte bus sambil menunggu bus yang mengantar mereka ke rumah, atau lebih tepatnya halte di dekat rumah mereka. Tak lama kemudian, bus yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang. Mereka pun masuk ke dalam bus itu dan kemudian supir bus melajukan busnya karena penumpang di halte tadi hanya mereka berdua saja.

***

Eomma, kami pulang”.

Seorang perempuan setengah baya menghampiri Jaera dan Myungsoo. Perempuan itu memeluk mereka berdua dengan sangat erat. Kemudian saat melepas pelukannya, perempuan tersebut yang merupakan ibu dari Myungsoo yang sudah dianggap ibu sendiri oleh Jaera memukul pelan kepala kedua anaknya itu.

“Kemana saja kalian berdua? Apa kalian tidak tau kalau eomma benar-benar mengkhawatirkan kalian?”

Myungsoo hanya bisa memperlihatkan deretan gigi putihnya, sedangkan Jaera hanya bisa tertunduk karena ia benar-benar merasa bersalah.

“Dan… astaga… apa kalian, ani Jaera baru saja pergi shopping? Ini semua pasti barang-barangmu ‘kan? Aigoo Jaera-ya, bukankah eomma sudah bilang kalau kau tidak boleh menghabiskan banyak uangmu hanya untuk shopping? Dan kau, Myungsoo! Bukankah eomma sudah bilang kalau kau harus menjaga Jaera saat shopping, dan jangan meninggalkan Jaera sendiri saat shopping?”

“Aku sudah menjaganya, mom. Hanya dia saja yang susah dibilangin,”

Mwo? Hei, saat aku membeli barang-barang ini, kau berada di belakangku sambil terus memainkan ponselmu itu!”

“Sudahlah jangan berbohong Jaera”

“Kau yang berbohong!”

“Kau!”

“Kau!”

“STOOPPPP!!! Berhenti melakukan hal yang tidak ada gunanya!”

Myungsoo dan Jaera menghentikan adu mulut mereka. Namun tidak menutup kemungkinan jika mereka berdua kini sedang merutuk dalam hati masing-masing. Terdengar lenguhan panjang dari Ny.Kim, ia melipat kedua tangannya didada dan menatap anak dan keponakan yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.

“Lain kali, jangan lakukan hal seperti itu lagi. Jika kalian ingin pergi ke suatu tempat, pulanglah terlebih dahulu ke rumah, jangan langsung pergi seperti itu. Dan jika itu sesuatu yang mendadak atau semacamnya hubungi ibu terlebih dahulu. Arraseo?”

Ne eomma,”

“Sekarang masuk ke kamar kalian”

Myungsoo dan Jaera berhambur ke pelukan Ny.Kim

terlebih dahulu sebelum kembali ke kamar mereka. Mereka mencium pipi Ny.Kim dan mengatakan, “Saranghae eomma

Di kamar, kini Myungsoo dan Jaera sama-sama sedang berkutat dengan ponsel mereka masing-masing. Myungsoo yang sedang memainkan game favoritnya, dan Jaera yang sedang memainkan hampir semua akun social media miliknya. Dari mulai, Blackberry Messenger, Line, Facebook, Twitter, Instagram hingga akun Path miliknya.

Waktu menunjukkan menunjukkan pukul setengah delapan malam. Namun, Jaera dan Myungsoo masih belum melepas ponsel dari genggaman mereka. Padahal biasanya ketika sudah pukul setengah delapan, mereka akan berlomba untuk sampai di ruang makan terlebih dahulu.

TOK.TOK.TOK

Terdengar suara ketukan pintu. Mereka berdua mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ke sumber suara tersebut. “Nuguya?” Tanya mereka serempak.

“Ini bibi Kang. Tuan dan Nyonya Kim sudah menunggu kalian di ruang makan,” Ujar bibi Kang.

“Ah ne bibi, kami akan turun segera”. Balas Jaera.

Iapun turun dari tempat tidurnya dengan menggunakan tangga yang sudah menempel di tempat tidurnya dengan Myungsoo. Ia melihat Myungsoo masih asyik memainkan ponselnya. Ia menjambak rambut Myungsoo pelan. “Ya, kau tidak dengar tadi? Orang tuamu menyuruh kita untuk turun segera!”

Myungsoo meringis saat Jaera menjambak rambutnya. Iapun mematikan ponselnya dan menaruh benda itu asal di atas tempat tidurnya. Jaera berjalan mendahului Myungsoo.

Mereka kini sudah berada di ruang makan. Baik Jaera ataupun Myungsoo menatap makanan-makanan tersebut yang sudah ditata secara rapih oleh bibi Kang dan bibi Gong. Tuan dan Nyonya Kim merasa aneh dengan sikap mereka. Tidak biasanya kedua manusia itu menatap makanan dengan tatapan seperti itu. Namun, Tuan dan Nyonya Kim berusaha tidak memperdulikannya dan melanjutkan memakan makanan mereka.

Setelah makan malam bersama, Jaera masih duduk di ruang makan. Ia merasa benar-benar kenyang karena ia telah memakan hampir empat piring nasi, belum lagi dengan lauknya yang begitu banyak. Sepertinya ia memang benar-benar lapar karena setelah pulang sekolah tadi ia belum makan sama sekali.

“Ya, mau sampai kapan kau berada di situ? Cepat naik!”

“Hehe, ne eomma”

Jaera berjalan keatas. Perutnya benar-benar terasa kembung sekarang. Jika seperti ini ia justru tidak akan bisa tidur.

Jaera membuka pintu kamarnya dan mendapati Myungsoo sedang tertidur dengan lelapnya. Tapi, tidak biasanya Myungsoo tidur dengan menutup wajahnya dengan selimut. Biasanya ia akan menutupi tubuhnya saja, tidak sampai wajahnya. Jaera masuk ke dalam kamar itu dengan pelan. Ia kemudian mendekati Myungsoo dan ia dapat mendengar suara game yang biasa Myungsoo mainkan. Sudah pasti Myungsoo tidak sedang tidur sekarang. Ia menarik selimut Myungsoo dan benar saja.

Myungsoo tak menghiraukan Jaera. Ia lebih memilih melanjutkan ‘perang’ digame yang sedang Ia mainkan sekarang. Jaera menghela napas panjang dan merotasikan kedua bola matanya. Ia mengambil ponselnya yang tadi ia letakkan di atas meja dan kemudian ia naik ke atas tempat tidurnya.

Jaera menyalakan ponselnya. Ia mengecek akun social medianya dan memainkan akun-akun itu sebentar. Setelah itu Jaera menyalakan playlistnya. Ya, Jaera memang suka menyalakan lagu-lagu bergenre ballad sebelum tidur. Ia tidak bisa tidur jika tidak menyalakan lagu-lagu yang berada di daftar playlistnya itu.

***

Sinar matahari menembus jendela kamar Myungsoo dan Jaera. Sinar matahari itu mampu membuat kedua manusia yang tadinya sedang tertidur dengan lelap terpaksa membuka kedua mata mereka.

Myungsoo yang bangun pertama memilih untuk langsung membersihkan dirinya. Sedangkan Jaera, ia memilih untuk memainkan ponselnya sembari menunggu Myungsoo.

Beberapa menit kemudian Myungsoo keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar ditubuh kekarnya. Jaera tak ingin membuang-buang waktu, ia pun mengambil handuk miliknya yang berada di dalam lemari dan langsung pergi untuk membersihkan dirinya, sedangkan Myungsoo ia kini tengah memakai seragam sekolah.

Setelah Jaera memakai seragam sekolahnya serta berdandan, ia turun ke bawah menyusul Tuan dan Nyonya Kim serta Myungsoo yang sudah menunggunya di ruang makan untuk sarapan bersama. Jaera duduk di sebelah Myungsoo dan kemudian menyapa dua orang yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri tersebut, “Pagi eomma, appa”.

“Pagi juga Jaera, bagaimana tidurmu? Nyenyak?” Tanya Tuan Kim.

“Seperti biasa, appa

“Ya, tidurmu nyenyak, tapi tidurku tidak nyenyak karena lagu-lagumu yang sama sekali bukan seleraku. Telingaku sakit mendengarnya, bahkan sekarangpun sepertinya masih sakit”. Ujar Myungsoo sebelum menyuapkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya.

“Hehe…” Cengir Jaera.

Setelah menghabiskan beberapa menit untuk sarapan. Myungsoo dan Jaera pun berpamitan kepada Tuan dan Nyonya Kim. “Kami berangkat, annyeong”. Ucap mereka bersamaan.

“Mau appa antar?” Tawar Tuan Kim.

Aniyo, tidak usah. Kami akan berangkat naik bus saja”. Balas Jaera tersenyum.

Mereka pun berlari dan melambaikan tangannya kembali seraya meneriakkan kata “Annyeong”. Tuan Kim membalas lambaian mereka, namun tidak dengan Nyonya Kim karena ia sedang membenarkan dasi suaminya itu dan hanya membalasnya dengan senyuman. “Yeobo, aku berangkat,” Pamit Tuan Kim pada istrinya yang mendapat senyuman serta anggukkan dari wanita yang ia cintai.

Kembali ke Myungsoo dan Jaera, kini mereka sedang berlomba lari. Siapa yang terakhir sampai di sekolah, maka ia harus mentraktir makan di kantin selama tiga hari. Kekanak-kanakkan memang, tapi itu sudah menjadi kebiasaan bagi sepasang saudara itu.

“Myungsoo-ya, kejar aku!” Jaera berteriak.

“Kau menantangku? Baiklah Song Jaera-ssi

Myungsoo berlari mengejar Jaera yang sudah berada jauh di depannya. Bahkan Jaera sudah menyebrangi jalan raya sedangkan Myungsoo masih harus menempuh beberapa meter lagi untuk melewati jalan raya tersebut.

Saat Myungsoo berada dipinggir jalan raya, ia terjatuh. Kemudian saat ia berusaha bangkit ia dapat merasakan lampu mobil yang begitu terang menerpa wajahnya. Ia menoleh dan mendapati sebuah truk yang berada sekitar empat meter di hadapannya. Truk itu sudah berulang kali menekan tombol klakson. Myungsoo dapat mendengarnya. Namun, entah kenapa ia merasa kalau kakinya tidak bisa digerakkan.

Jaera yang merasa kalau Myungsoo tidak lagi berada di belakangnya pun berbalik. Betapa terkejutnya ia saat melihat Myungsoo tengah berada di tengah jalan raya padahal beberapa meter dihadapan Myungsoo ada sebuah truk. “MYUNGSOO-YA!”

Saat truk itu berada beberapa centimeter dihadapan Myungsoo. Jaera dapat melihat ada seorang wanita yang berpakaian serba putih mendorong Myungsoo ke pinggir jalan.

“AAAAAAAAA”

TBC

A/N :

Haahhh kelar juga akhirnya /elap keringet/ gimana chapter satunya? oya aku minta maaf cz ngilang tanpa kabar :3 aku pengennya sih chapter ini panjang tapi idenya mentok gitu aja :3 aku usahain chapter 2nya panjang, tp kayanya bakal diupload lama chapter 4nya :3 heheheheh :3 yaudah segini aja cuap-cuapnya kkkkkkkk~ Don’t be silent readers! Leave your comment below! See u~

31 responses to “[CHAPTER — PART 1] Gone With The Wind

  1. Pingback: [CHAPTER — PART 3] Gone With The Wind | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s