[Chapter] Secret – Myungsoo side Last Capter

nyimasRDA - secret 4

nyimasRDA present

Secret – Myungsoo side

Cast:

Park Jiyeon “T-ARA”

Lee Jonghyun “CNBLUE”

Kim Myungsoo “Infinite”

Lee Chaerin “2NE1”

Genre: Romance, friendship

Rating: G

Length: Chapter

-oOo-

Rahasia hanyalah sebuah rahasia. Rahasia tak seharusnya kau katakan, bukan? – Kim Myungsoo

-oOo-

jiyeon sidejonghyun side

“Jadi Myungsoo-ya, aku sudah memutuskan untuk meninggalkan Seoul dan menetap di Paris.”

Suara itu masih terngiang jelas ditelingaku kala aku memejamkan mata. Entah apa yang terjadi pada sosok Park Jiyeon sehingga ia dengan mudah menyetujui hal yang menurutku sangat tidak masuk akal itu. Bagaimana bisa sosok Jiyeon yang selama ini selalu enggan pergi ke Paris untuk melanjutkan studynya kini tiba-tiba menerima tawaran itu begitu saja. Aku menatap kosong langit-langit kamarku yang kini tanpa penerangan. Gelap. Sama seperti hidupku yang akan menjadi gelap kalau sosok itu sudah tidak ada disini.

Pagi-pagi sekali Jiyeon datang ke kediamanku, mengetuk pintu dengan keras seperti yang biasa ia lakukan dan langsung menerobos masuk saat pintu sudah terbuka. Wajahnya sangat serius. Tangannya menggenggam sebuah amplop berwarna putih yang kemudian ia berikan padaku. Wajahku menegang saat membaca kata tiap kata yang tertulis jelas pada kertas putih yang kini ada di tanganku. Aku menatapnya lurus, meminta penjelasan dari apa yang ia berikan.

Wajahnya terlihat sangat sedih, aku tahu ia sedih. Aku bisa merasakan hanya dengan menatap sorot matanya itu. Suaranya terdengar parau, seakan telah menangis semalaman dan menahan isakannya kali ini.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”tanyaku, Jiyeon hanya menundukkan kepalanya, tak berani menatapku.

Aku membacanya sekali lagi, berusaha meyakinkan diri dengan apa yang aku lihat, namun tulisannya tetap sama.

“Apa ini semua karena Jonghyun Hyung?”lirihku pelan.

Jiyeon tersenyum kecut atas apa yang aku katakan, kemudian menggeleng pelan.

“Anniya, semua ini murni karena keinginanku, Myungsoo-ya.”elak Jiyeon berusaha menjelaskan.

Bohong, aku tahu dengan jelas kalau Park Jiyeon berbohong. Ia tidak mungkin memutuskan untuk pergi jika ini semua memang tidak ada hubungannya dengan Jonghyun. Aku mengenal Jiyeon, sangat mengenalnya. Ia tidak mungkin meninggalkan Bom Ahjumma, ia sangat mencintai Eomma nya itu. Tawaran untuk menjalani study ke luar negeri bukan kali ini saja Jiyeon dapatkan, berkali-kali ini diminta untuk meneruskan pendidikannya di Inggris, Jepang ataupun Spanyol, tapi Jiyeon selalu menolak. Ia tak pernah ingin meninggalkan Bom Ahjumma, ia tidak akan rela dan tidak akan bisa. Jiyeon sendiri yang mengatakannya padaku. Aku yakin ada sesuatu yang terjadi sehingga ia memutuskan untuk pergi, dan aku tahu alasannya.

Aku kembali teringat dengan apa yang selama ini terjadi. Tentang perasaan Jiyeon yang selama ini ia pendam, tentang segala rasa sakit juga penderitaan karena harus tinggal satu rumah dengan pria yang ia cintai, harus menerima kenyataan bahwa lelaki itu adalah kakak tirinya dan tidak mungkin menjadi miliknya. Sekali lagi, karena rasa sayangnya pada Bom Ahjumma, Jiyeon harus mengorbankan kebahagiaannya.

Tidak, tidak, aku sama sekali tidak menginginkan Jiyeon mengutarakan perasaannya pada Jonghyun Hyung dan membuat sakit Eomma nya, kalau sampai hal itu terjadi, aku adalah orang pertama yang bisa gila karena pengakuannya. Aku tahu Jonghyun Hyung juga mencintai Jiyeon, terlihat sangat jelas dari tatapannya. Tapi aku tidak ingin sahabatku itu menjadi anak yang durhaka. Aku tidak cemburu. Sama sekali tidak. Ah baiklah-baiklah, aku mengaku, ya aku cemburu. Aku sangat cemburu.

Seperti Jiyeon yang mempunyai rahasia, aku juga sama. Jika Jiyeon merahasiakan perasaanya agar tidak kehilangan Jonghyun Hyung juga keluarga bahagianya, maka aku merahasiakan perasaanku karena tidak mau kehilangan sosoknya. Aku tidak ingin Jiyeon menghindariku lantaran aku mencintainya. Aku tidak mau. Aku tidak bisa.

Hey, buang fikiran kalian yang mengatakan bahwa aku adalah laki-laki pengecut. Kalian juga akan melakukan hal yang sama jika jadi aku. Sekarang aku tanya, saat kau mencintai sahabatmu tetapi sahabatmu mencintai orang lain, apa kau akan mengungkapkan perasaanmu? Apa kalian akan berbuat hal ceroboh begitu? Sehingga merusak persahabatan kalian? Kalian tidak mungkin melakukannya. Setidaknya kalian tidak ingin hubungan kalian menjauh karena perasaan konyol ini. Yah, cinta memang sesuatu yang konyol. Sangat konyol.

Bagaimana tidak konyol, lihat saja kehidupanku. Aku dibuat menjadi sosok yang paling bodoh di dunia ini. Hidupku dan Jiyeon memang sangat konyol. Jiyeon mencintai Jonghyun Hyung yang juga mencintainya tetapi tidak bisa saling mengungkapkan karena menjaga kebahagiaan orang tua masing-masing sementara aku mencintai Jiyeon yang hanya menganggapku sahabat juga Jonghyun dan Chaerin yang saling memanfaatkan satu sama lain untuk meraih kebahagiaannya. Konyol kan? Konyol dan tidak masuk akal.

Yah, aku tahu, sangat tahu kalau Jonghyun Hyung juga Chaerin memiliki kesepakatan. Aku tidak sengaja mendengar percakapan mereka.

“Setidaknya, jika kita berkencan kita bisa saling mengisi dan melengkapi. Kau bisa memanfaatkan aku. Aku akan melindungimu dari Jiyong, ia tidak akan bisa melukaimu lagi, begitu juga dirimu. Kau bisa melindungiku dari rasa cintaku pada Jiyeon, melindungiku dari rasa tersiksa dan sesak yang selalu aku rasakan tiap kali berdekatan dengannya.”

Aku tersedak orange juice yang sedang ku minum saat mendengar apa yang dikatakan oleh Jonghyun Hyung. Bukan, aku bukan sengaja mendengarkan percakapan mereka, hanya sepinya kafe ini membuat suara mereka terdengar jelas di telingaku, terlebih kami hanya berjarak beberapa meja saja. Andaikan saat ini Jiyeon ada, ia pasti akan kegirangan mengetahui perasaan Jonghyun Hyung. Senyum bodoh akan terukir manis di wajah cantiknya dan ia tidak akan bisa berhenti mengoceh tentang kegembiraan yang ia rasakan.

Jonghyun Hyung tidak melihatku, ia duduk membelakangiku sedangkan Chaerin, ia tidak mungkin mengingatku meski kami sering bertemu di kediaman Dong Wook Ahjussi atau di sekolah. Laki-laki sepertiku tidak mungkin masuk dalam ingatan Chaerin.

Sesungguhnya aku sangat ingin mengatakan apa yang aku dengar pada Jiyeon, meyakinkan dirinya bahwa pria yang ia cintai juga mencintainya, namun, lagi-lagi aku menjadi sosok yang egois. Aku tidak ingin kehilangan cintaku, tidak ingin wanita yang menjadi pemilik hatiku menjalin kasih dengan namja lain. Aku tahu hal ini pasti akan membuatnya menderita, tapi aku juga tidak bisa membuat hatiku tersiksa, kan? Bukankah semua manusia memang memiliki sifat egois?

-oOo-

Sore ini aku memutuskan untuk mengunjungi kediaman Jiyeon, membantunya mengepak pakaian juga membawakan sekotak penuh ayam goreng kesukaannya. Tanganku terulur mengetuk pintu sebelum seseorang membukanya, mataku terpaku pada sosok berambut pirang di hadapanku, tersenyum canggung kemudian menunduk.

“Myungsoo-ssi, mencari Jiyeon?”

Kepalaku yang tertunduk terangkat ketika mendengar suara Chaerin yang khas kemudian mengangguk. Ia membuka pintu lebih lebar, membiarkan kakiku melangkah masuk ke dalam.

“Jiyeon ada di kamarnya, aku baru saja membantunya mengepak buku desain yang pasti ia butuhkan selama disana.”

Jelas Chaerin lagi yang tetap ku jawab anggukan.

“Kau bisa langsung ke kamar Jiyeon, aku akan membuatkan makanan kecil juga minuman untuk kalian.”

Chaerin berjalan meninggalkanku di bawah anak tangga menuju dapur. Aku kembali melirik sekilas ke arah wanita yang penuh dengan kharisma itu. Terkadang aku berfikir, kenapa Jonghyun Hyung harus memanfaatkan gadis sebaik Chaerin. Ia cantik, lucu, pintar memasak juga baik. Kenapa Jonghyun tidak mencintai Chaerin saja, kenapa mereka harus berpura-pura. Dan kenapa harus Jonghyun yang Jiyeon cintai.

Aku mengetuk pintu kamar Jiyeon kemudian melongokan kepalaku, melirik sekilas ke arah gadis berambut panjang itu kemudian tersenyum lebar.

“Perlu ku bantu?”tanyaku masih dari balik pintu.

“Oh Myungsoo-ya, masuklah.”

Aku membuka pintu semakin lebar, melangkah mendekati Jiyeon yang kini sedang sibuk menutup satu kardus. Aku melirik sekilas, melihat barang apa yang ada dalam kardus itu kemudian mengambilkan segulung plester untuk menutup kardus. Jiyeon tersenyum. Ia tersenyum. Senyum yang paling cantik dari wanita yang aku cintai.

“Kenapa baru datang sekarang, eoh?”

“Mian, aku ada urusan tadi.”

“Urusan apa?”tanya Jiyeon tanpa menatapku.

“Membantu Eomma di toko.”

“Cih, kau pasti hanya membantu Ahjumma karena menginginkan sesuatu.”

Jiyeon meledekku dan langsung ku jawab dengan pelototan mataku. Ia tertawa renyah, seolah tidak ada beban di hidupnya.

“Apa yang kau bawa?”

Aku melirik kantung plastik yang sejak tadi ku genggam. “Ayam goreng kesukaanmu, aku tahu kau pasti akan merindukan ayam goreng buatan Ahjussi langganan kita saat di Paris nanti.”

“Kau memang sahabatku yang paling baik.”

Jiyeon bangkit, ia langsung menghambur memelukku kemudian mengecup pipiku kilat dan mengambil sekantung ayam goreng kesukaannya.

Melihatnya membereskan barang-barang yang akan ia bawa membuatku bersedih, namun bagaimanapun aku harus merelakan ia pergi meski itu menyakiti hatiku. Aku hanya ingin Jiyeon bahagia.

“Kau berangkat besok?”tanyaku terus memperhatikan Jiyeon.

“Hmm.”

Jiyeon masih sibuk dengan barang-barangnya dan menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dariku. Aku tahu ia sedang berusaha menghindari tatapanku.

“Jam berapa?”

“Kau ingin mengantarku?”

“Tentu saja bodoh.”

“Yya! Kenapa kau mengatai aku bodoh?!”kesalnya menatapku yang hanya ku jawab dengan senyuman. “Cih, bahkan kau masih bisa tersenyum saat sahabatmu akan pergi jauh.”rutuknya kemudian.

“Aku mengganggu?”

Terdengar suara khas Chaerin dari balik pintu. Sesuai dengan yang ia katakan, Chaerin datang dengan sepiring makanan kecil juga jus orange yang ia siapkan untuk kami. Jiyeon memalingkan pandangannya kemudian menggeleng perlahan. Chaerin melangkah masuk tanpa diminta kemudian meletakkan apa yang ia bawa di atas meja samping tempat tidur Jiyeon.

“Kau akan makan malam bersama kami, kan?”tanya Jiyeon terus menatap Chaerin. Chaerin menggelengkan kepalanya.

“Maaf Jiyeon, aku tidak bisa. Malam ini aku harus mempersiapkan pertunjukan untuk minggu besok.”jawab Chaerin penuh sesal.

“Bukankah pertunjukan itu masih minggu besok, kenapa tidak tunda dulu. Kau bisa mempersiapkannya setelah aku berangkat. Jonghyun Oppa akan membantu.”

Mendengar nama Jonghyun disebut langsung membuat air muka Chaerin berubah. Ia menunduk kemudian menggeleng pelan. Aku tahu sesuatu terjadi disini, pasti ada satu hal yang membuat Chaerin berubah. Jiyeon juga mengatakan padaku kalau Chaerin tidak datang lagi ke rumahnya sejak beberapa waktu lalu, sejak Jiyeon melihat Jonghyun mencium Chaerin. Chaerin juga selalu menghindari Jonghyun Hyung, ia akan pulang dengan terburu-buru dari sekolah dan mengacuhkan panggilan telephone nya.

“Mianhe, Jiyeon. Aku sungguh tidak bisa.”

Wajah Jiyeon menunjukkan kekecewaan begitu pula dengan Chaerin yang terlihat sangat menyesal.

“Begitukah? Padahal aku ingin kita menghabiskan malam ini bersama. Aku ingin semua orang yang kusayang berkumpul malam ini.”

“Mianhe, tapi aku janji akan mengantarmu besok. Bagaimana?”

“Jinjja? Kau janji?”

“Ne, yagso. Aku akan datang ke rumahmu pagi-pagi sekali dengan cake coklat kesukaanmu.”ujar Chaerin kemudian.

“Gomawo Chaerin-ah. Aku sungguh berterimakasih.”ujar Jiyeon tulus.

-oOo-

Aku keluar dari kamar Jiyeon tepat sebelum Chaerin meninggalkan rumah Dong Wook Ahjussi. Ia melirikku sekilas kemudian tersenyum.

“Eoh, Chaerin-ssi, sudah mau pulang? Kau tidak menunggu Hyung?”

Chaerin menggeleng pelan lalu tersenyum, ia menundukkan kepalanya kemudian melangkah menuju pintu utama. Namun, sebelum ia membuka pintu, Chaerin menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku.

“Myungsoo-ssi, bisa kita bicara sebentar?”

“Eh?”

“Ada yang ingin aku katakan padamu, ini rahasia, jadi hanya kau dan aku.”ujar Chaerin jenaka, kemudian menarik pergelangan tanganku.

Dan disinilah aku, duduk bersama si gadis mata elang di bangku panjang taman dekat kediaman Jiyeon juga aku. Chaerin menunduk, seolah mencari kata terbaik untuk memulai pembicaraan.

“Ada apa, Chaerin-ssi?”

“Kau mencintai Jiyeon?”

Aku tersentak mendengar pertanyaan tiba-tiba yang Chaerin lontarkan kemudian menatapnya. Ia tak sedikitpun memandangku. Ia hanya menatap ke depan, seolah ada orang lain yang sedang ia ajak bicara.

“Museun suriya jigeum..”jawabku terlalu terkejut.

“Aku pernah menanyakan hal itu pada Jonghyun.”

Aku mengerutkan keningku, tak mengerti dengan arah pembicaraan ini.

“Sekarang aku bertanya padamu, Myungsoo-ssi. Apa kau mencintai Jiyeon?”

“A-aniya! Bagaimana mungkin..”

“Kau sama seperti Jonghyun, menyangkal perasaanmu sendiri.”

Chaerin menoleh, mata elangnya menatap lurus iris mataku membuatku sedikit salah tingkah.

“Jika kau mencintainya, kenapa tidak ungkapkan saja?”

Aku menundukkan kepalaku. “Tidak semudah itu.”

“Kau takut kehilangannya?”

Aku mengangguk. Chaerin tersenyum. Lalu kami kembali terdiam.

“Kau harus membahagiakan Jiyeon, Myungsoo-ssi. Aku menyayanginya. Sangat. Aku bahkan ingin sekali melihat dia dan Jonghyun bersatu meski itu harus memberikan luka dan kekecewaan pada Bom Ahjumma, Dong Wook Ahjussi, dirimu bahkan diriku sendiri, demi senyum bahagianya. Dia sahabatku, sahabatku satu-satunya dan aku ingin melihatnya tersenyum bahagia. Bukan tersenyum menutupi kesedihannya.”

Diam. Aku hanya diam tanpa berniat menjawab apa yang dikatakan Chaerin, ia pun tak menunggu jawabanku seakan ia memang tidak butuh kemudian kembali melanjutkan ucapannya.

“Jonghyun terlalu pengecut untuk hanya sekedar menjaga perasaan Jiyeon. Ia selalu berlindung dibalik kedua orang tuanya, padahal aku tahu ia hanya tidak ingin kecewa lantaran mendapat penolakan dari Jiyeon. Keunde, aku yakin kau bias lebih baik dari si dingin itu. Aku tahu kalian akan saling melengkapi jika bersama.”

“Tidak, aku bahkan lebih buruk dari Jonghyun Hyung. Aku adalah manusia paling pengecut.”

Chaerin tersenyum. Ia hanya tersenyum mendengar semua perkataanku tanpa berniat menjawabnya.

“Jika kau menyayangi Jiyeon, kenapa kau menerima ajakan Hyung untuk berkencan?”

“Apa kau tidak tahu, bahwa merasa dibutuhkan jauh lebih membahagiakan daripada perasaan dicintai?”

Aku mengerutkan keningku, lagi-lagi tidak mengerti dengan apa yang dikatakan gadis ini.

“Bukankah kau membutuhkan Jiyeon? Kau membutuhkannya sebagai oksigen dalam hidupmu? Kau membutuhkannya seperti ia adalah makanan yang akan membuatmu bertahan dan juga mimpi indah yang akan menghapus semua mimpi buruk dalam seumur hidupmu? Merasa dibutuhkan akan sangat membahagiakan, Myungsoo-ssi dan itu akan membuat Jiyeon bahagia.”

“Apa ini alasanmu menerima Jonghyun Hyung?”

Chaerin hanya tersenyum kemudian mengangguk. “Setidaknya, aku tahu kalau Jonghyun membutuhkanku untuk melupakan Jiyeon dan aku juga membutuhkannya. Saling mencintai saja tidak cukup untuk bersama. Setidaknya, dengan perasaan saling membutuhkan kami bisa saling mencintai, nanti.”

“Tapi bagaimana jika dia menolakku?”

“Setidaknya kau sudah mencoba, setidaknya kau sudah berusaha untuk tidak menjadi pecundang seperti Jonghyun, benarkan? Akupun yakin kalau Jiyeon membutuhkanmu, ia hanya belum menyadari apa yang ia inginkan.”Chaerin tersenyum kemudian berdiri.

“Chaerin-ssi. Terima kasih, aku harap kau juga akan mendapatkan kebahagiaanmu.”ujarku sebelum Chaerin menjauh.

-oOo-

hari keberangkatan Jiyeon akhirnya tiba. Semalaman aku memikirkan apa yang dikatakan oleh Chaerin. Semalaman aku berusaha menata kalimat yang akan ungkapkan pada Jiyeon, sahabat yang sangat aku cintai. Semalaman aku berharap agar hari tidak berganti atau Jiyeon membatalkan keputusannya untuk meninggalkanku. Sayangnya semua itu hanya harapanku saja. Kenyataannya, pagi ini Jiyeon sudah siap dengan koper-koper berisi semua keperluannya juga tas jinjing yang akan ia bawa nanti.

Seperti yang sudah dijanjikan, Chaerin datang dengan sepotong cake coklat kesukaan Jiyeon yang langsung dilahap oleh gadis itu sampai habis. Aku melirik sekilas ke arah Chaerin juga Jonghyun Hyung yang kini berdiri berdampingan dengan jemari saling bertautan kemudian tersenyum ketika mata kami bertemu.

“Kau sudah memutuskan?”Tanya Chaerin ketika kami sedang memasukan barang-barang Jiyeon kedalam begasi mobil yang kubalas dengan tatapan seolah tak mengerti dengan pertanyaannya.

“Kesempatanmu hanya hari ini, Myungsoo-ssi. Aku harap kau mengerti jika kesempatan memang tidak datang dua kali.”ujarnya lalu tersenyum sambil berlalu dari hadapanku.

Aku melirik ke arah Jiyeon yang sedang bersandar di pundak Dong Wook Ahjussi sementara Bom Ahjumma sibuk menghapus air matanya. Jiyeon menatapku kemudian tersenyum dan berjalan mendekatiku.

“Kau akan baik-baik saja tanpa aku?”Tanya Jiyeon pelan.

“Berjanjilah kau akan tetap menghubungiku dan akan sering mengunjungi kami.”

Jiyeon hanya tersenyum mendengar perkataanku kemudian memelukku erat. Aku menghirup harum tubuh Jiyeon, sebanyak oksigen yang dapat ku hirup, sebanyak itupula aku mengumpulkan harum tubuhnya. Merekam setiap detak jantung yang berdetak juga menyimpan rasa hangat yang menjalar keseluruh tubuhku.

“Jangan menangis.”ujarku pelan. Menatap lurus mata Jiyeon yang kini sudah dipenuhi airmata.

“Aku pasti akan merindukan kebodohanmu.”

“Nado, aku juga pasti merindukan sikap cengengmu.”

“Jiyeon-nie, kita harus segera berangkat.”ujar Dong Wook Ahjussi memperingatkan.

“Myungsoo-ya, kau akan ikut mengantar Jiyeon, kan?”

“Ne, Ahjumma.”jawabku lalu mengangguk.

“Jiyeon, kau pergilah bersama Jonghyun juga Chaerin. Kalian pasti butuh waktu bersama kan. Biar aku dan Ibumu di satu mobil yang lain.”

“Ne, gomawo Ahjussi.”ujar Jiyeon kemudian menarikku mendekat ke arah Jonghyun juga Chaerin.

Diam. Hanya itu yang terjadi selama perjalanan. Tidak ada satupun dari aku dan Jiyeon yang ingin berbicara sementara Chaerin juga Jonghyun Hyung hanya bicara seadanya. Hal itu terus berlanjut sampai akhirnya mobil yang dikendarai Hyung memasuki area parkir Bandara Incheon.

Iris mataku terus memandangi sosok Jiyeon yang kini tengah berpamitan pada semua yang mengantarnya. Air mata Jiyeon menyeruak keluar, membanjiri pipi tirusnya dan membuat bekas disana.

“Jaga kesehatanmu disana, Jiyeon-ah. Aku pasti sangat merindukan saat-saat kita memasak bersama.”samar aku mendengar isak tangis lembut Chaerin.

“Aku juga akan merindukan suara merdumu, Chaerin-ah. Jaga Oppaku ya, jika Oppa menyakitimu, kau bisa mengadukannya padaku dan aku akan meminta Myungsoo untuk memukulnya.”

“Yya, kenapa kau menyeretku?”ujarku berusaha terlihat kesal.

“Chaerin, kau harus berjanji padaku. Jika suatu saat kau sudah menjadi penyanyi hebat, kau akan menemuiku di Paris dan menyebutku saat kau menerima penghargaanmu, arraso? Sebut aku sebagai adik iparmu yang paling cantik.”

“Kau juga harus berjanji akan membuatkan aku gaun yang akan aku kenakan pada malam penghargaan pertamaku.”

“Pasti, aku pasti akan membuatkan gaun paling indah untuk malam penghargaanmu juga hari pernikahanmu dengan Oppa kelak.”

Aku terus menatapnya, terlihat sedikit kesedihan disana saat membahas pernikahan Hyung bersama Chaerin tapi juga terlihat kelegaan juga keikhlasan. Aku tahu Jiyeon berusaha menghapus lukanya dan merelakan sahabat juga namja yang dicintainya bahagia. Keduanya sangat berarti dan Jiyeon tidak mungkin ingin kehilangan salah satu diantara mereka, terlebih jika keduanya menghilang.

Jiyeon menoleh ke arahku kemudian mendekat. Ia kembali mendekap tubuhku erat sambil sesekali menghirup nafas panjang.

“Jiyeon, sebelum kau pergi. Ada satu hal yang ingin aku sampaikan padamu.”

Jiyeon melepaskan pelukannya.

“Aku sudah lama sekali menyimpan semua ini dan tidak ingin menyesal ketika kau sudah pergi.”

“Yya, kau menyimpan rahasia? Cepat katakan.”

“Saranghae, Park Jiyeon.”

Jiyeon diam. Ia hanya menatapku tidak percaya.

“Aku mencintaimu dan tidak tahu kapan rasa ini mulai tumbuh. Yang aku tahu hanya aku membutuhkanmu sebagai detak jantungku, aku membutuhkanmu sebagai oksigen yang membantuku bernafas, aku membutuhkanmu untuk membuat hari-hariku ceria dan aku membutuhkanmu untuk menghapus semua mimpi burukku. Aku tahu, sangat tahu bahwa kau tidak sedikitpun memiliki perasaan padaku, kau hanya menganggapku sebagai sahabat dan selamanya tidak berubah jadi ku mohon tetaplah menjadi sahabatku karena seperti yang telah ku katakan, bahwa aku membutuhkanmu Jiyeon-ah. Aku sungguh tidak bisa hidup tanpamu.”

Tepat setelah aku mengutarakan perasaanku terdengar panggilan pesawat yang akan ia tumpangi. Tanpa menjawab pertanyaanku, ia pergi. Hanya setelah mengecup pipi dan memelukku erat untuk yang terakhir kali Jiyeon meninggalkanku bersama semua pernyataanku yang tak terjawab.

5 tahun kemudian

Menjadi musisi terkenal memang sudah menjadi cita-cita gadis bermata elang, Lee Chaerin. Selama dua tahun Chaerin menjalani masa trainer, akhirnya semua itu telah usai. Chaerin memulai debutnya pertengahan tahun lalu. Ia menjadi sosok yang paling diperhitungkan di industry music Korea. Memenangkan semua penghargaan dalam acara music mungkin sudah ditakdirkan untuk ia raih. Ia juga semakin cantik dan semakin menarik. Seperti yang sudah dijanjikan, Chaerin menyebut nama Jiyeon dalam pernghargaan pertamanya sebagai solois, ia di juluki sebagai the baddest female in Seoul City. Ia menjadi penyanyi solo terbaik setelah debutnya, menjadi sosok yang paling dikagumi dengan charisma yang ia miliki. Chaerin menerima banyak penghargaan, menyapu semua puncak tangga lagu dengan album pertamanya.

Jonghyun Hyung perlahan mulai melupakan Jiyeon dan bulan lalu melamar Chaerin untuk menjadi istrinya. Meski menerima banyak kontroversi lantaran Chaerin baru saja memulai debut, tak membuat Hyung mengurungkan niatnya untuk meminang gadis yang sangat ia butuhkan itu. Seperti yang Chaerin katakan, menjadi seseorang yang dibutuhkan jauh lebih baik dibanding menjadi seseorang yang dicintai. Karena saling mencintai memang tak cukup membuat dua manusia bersatu dan merasa saling membutuhkan adalah hal yang paling tepat untuk membuat mereka bersama. Cinta antara keduanya mulai tumbuh dan aku tahu itu. Chaerin selalu menceritakan segala hal yang ia rasa padaku, begitu pula Jonghyun Hyung.

Bom Ahjumma masih sering menangis karena mengingat Jiyeon yang hidup jauh darinya. Namun hal itu tak membuat Ahjumma kehilangan kreatifitasnya. Apapun yang Chaerin kenakan selalu dengan persetujuan Ahjumma, ia menjadi stylish Chaerin dan hal itu yang membuat Chaerin menjadi penyanyi pendatang baru paling dikagumi gayanya oleh masyarakat. Ia menjadi role model semua kalangan, bahkan tak jarang sesama penyanyi menyebutnya sebagai idola, hal itu berkat tangan Ahjumma.

Perusahaan yang dipimpin Ahjussi maju pesat, hotel dengan nama Spring mulai bermunculan dimana-mana hal ini memang sudah menjadi keinginan Ahjussi sejak lama. Memiliki hotel dengan nama istrinya yang sangat ia cintai. Spring adalah nama korea untuk Bom Ahjumma.

Jiyeon. Gadis yang aku cintai itu kini sudah menjadi desainer terkemuka. Ia bahkan beberapa kali merancang gaun khusus untuk penyanyi dunia ataupun aktris penerima oskar. Bahkan saat ia masih dalam masa belajarnya, ia sudah merancang khusus pakaian yang akan dikenakan oleh istri Pangeran Inggris, Williams untuk acara ulang tahun pernikahan mereka. Ia sudah berkali-kali menggelar fasion show atas nama dirinya. Dengan brand Spring ia melesat jauh ke depan.

Dan aku menjadi actor terkenal Korea. Berteman dengan penyanyi mudah berbakat Chaerin dan bersahabat dengan composer kenamaan Jonghyun membuat pamorku semakin naik. Namun gemerlap kehidupanku sebagai actor tak membuatku melupakan sedikitpun perasaanku pada Jiyeon. Namanya masih terukir dihatiku. Meski aku selalu digosipkan dengan aktris-aktris yang menjadi lawan mainku, namun tak membuat perasaan ini memudar. Benar yang dikatakan Chaerin, aku membutuhkannya. Aku membutuhkan Lee Jiyeon dalam hidupku.

“Myungsoo, kau tahu kan kalau akhir bulan ini Jiyeon akan mengadakan fashion shownya lagi?”Tanya Chaerin saat kami bertiga tengah makan siang bersama.

“Kau tidak ingin menemuinya?”ujar Jonghyun Hyung.

“Apa kau menyerah? Tidak ingin berjuang?”

Aku masih diam tanpa berniat menjawab.

“Atau… atau gossip yang beredar itu benar? Kau memiliki hubungan khusus dengan So Jung? Jung Sojung? Krystal?!”

Aku menggelengkan kepalaku. Chaerin, kau benar-benar.

“CL-ah, tenanglah. Kenapa kau justru berteriak, kita bisa jadi bahan perhatian.”

“Oppa.. aku tidak mungkin bisa tenang jika gossip itu benar. Sekarang Myungsoo-ya, jawab pertanyaanku. Kau masih mencintai Jiyeon kan?”

Aku menggeleng pelan.

“Mwo? Jadi kau sudah tidak mencintainya lagi?”

“Aku akan selamanya mencintai Jiyeon, Chaerin.”

Chaerin menatapku tak percaya.

“Dan gossip itu tidak benar. Krystal-ssi sudah memiliki kekasih, kau tahu Taemin, kan? Dia berkencan dengan Krystal.”

“Jinjja?”

aku menganggukan kepalaku kemudian mengeluarkan sebuah amplop dan menyerahkannya pada Chaerin juga Jonghyun.

“Igeo Mwoya? Tiket pesawat?”Tanya Chaerin bingung.

“Kau akan pergi ke Paris?”

“Bukan aku, Hyung. Tapi kita bertiga.”

“Mwo?”Tanya Jonghyun Hyung juga Chaerin bersamaan.

Paris

Paris. Kota yang dilambangkan sebagai kota penuh cinta. Disinilah gadis yang aku cintai tinggal, mengejar mimpi dan berusaha melupakan cinta pertamanya. Tidak pernah terbersit dalam fikiranku kalau aku akan menginjakan kaki di kota yang sangat indah ini. Terlebih alasan ku sampai disini karena sosok Jiyeon, wanita yang paling berarti dalam hidupku.

Selama dalam perjalanan menuju Paris, aku tak henti berdoa dan mempertanyakan keputusanku untuk mengunjungi Jiyeon adalah keputusan yang tepat. Yah, sejak pernyataan cintaku untuknya, aku tak pernah lagi berkomunikasi dengan Jiyeon. Ia tak pernah menghubungiku dan aku tak pernah berusaha untuk berkomunikasi dengannya. Semua cerita, berita dan kabar Jiyeon selalu aku tahu dari Chaerin. Ia selalu menyampaikan apapun kabar tentang wanitaku itu.

Fikiranku mulai dipenuhi dengan bagaimana perasaan Jiyeon bertemu denganku. Dipenuhi dengan apa Jiyeon telah melupakanku atau ia sudah memiliki pria lain dalam hidupnya. Pernah aku berfikir untuk melepaskan Jiyeon, namun lagi-lagi aku tersadar bahwa aku membutuhkannya. Aku membutuhkan Jiyeonku sebagai penyemangatku hidup.

Aku merapihkan jaket yang aku kenakan dan memandang pantulan diriku di depan cermin saat sebuah ketukan terdengar dari pintu kamar hotel yang aku dan Jonghyun Hyung tempati. Jonghyun Hyung memandangku sekilas kemudian berjalan ke arah pintu.

“Kalian sudah siap?”

terdengar suara wanita yang sudah sangat ku kenal dari arah pintu.

“Tinggal menunggu Myungsoo saja.”

“Myungsoo-ya, jangan terlalu lama bersi… woah, kau tampan sekali.”ujar Chaerin sambil memandangku sementara Jonghyun Hyung hanya tersenyum di belakangnya.

“Hei nona Lee, jangan menatapku seperti itu. Kalau nanti kau jatuh cinta bagaimana?”

“Cih. Yya, apa ini tidak berlebihan, eum?”

“Apa yang berlebihan? Dandananku? Hey hey, aku ini actor terkenal Korea, dimanapun aku berada, aku tetap harus menjaga penampilan.”

“Memangnya kau fikir akan ada seseorang yang mengenalimu? Kau bukan aku, Myungsoo-ssi. Mereka tidak akan mengenalimu.”ujar Chaerin menyombongkan dirinya.

Aku tarik kembali kata-kataku tentang karismanya. Dimataku, Chaerin hanya gadis cerewet. Dalam pertemanan kami, ia tak pernah sekalipun tidak mengangguku. Ia sangat berbeda dengan image nya yang cool sebagai the baddest female in Seoul City. Ya Tuhan, siapa yang memberikan julukan itu padanya.

“Sudahlah, apa kalian akan terus bertengkar begitu? Sebaiknya kita pergi. Persiapan pertunjukan Jiyeon akan segera selesai.”dan inilah dia, Jonghyun Hyung akan selalu melerai pertengkaran kami.

Aku mengangguk kemudian berjalan menjauhi Chaerin yang terdengar masih menggerutu di belakang.

Tidak menunggu lama, kini aku telah berdiri di depan gedung Hotel Martinez, hotel yang akan digunakan Jiyeon sebagai tempat penyelenggaraan pagelarannya besok malam. Aku berdiri, menunggu sosok Jiyeon keluar dari sana kemudian menemuinya.

“Myungsoo, masuk dulu sebentar. Kalau Jiyeon keluar baru kau temui.”ujar Chaerin.

Satu setengah jam aku berdiri di luar gedung, menatap lurus pintu masuk hotel yang begitu megah. Tak ku perdulikan udara malam yang dingin menusuk kulitku. Aku hanya tak ingin kehilangan momen melihatnya. Aku tak ingin membuang waktuku barang sedetik saja sampai akhirnya Jiyeon melangkahkan kakinya.

Jiyeon membungkukkan tubuhnya pada beberapa orang yang mengantarnya keluar. Ia mengenakan setelan jas berwarna putih dengan kemeja warna hitam. Sepatu berhak tinggi menempel manis di kaki jenjangnya sementara tas jinjing berwarna putih tergenggam erat di tangan kanannya. Jiyeon melangkah perlahan, semakin lama semakin dekat lalu berhenti ditempat. Ia menatapku tak percaya. Keterkejutan terukir jelas disana. Tangan kirinya terulur menutup mulutnya yang sedikit menganga. Iris mataku dapat melihat dengan jelas linagan air mata mulai memenuhi kelopak mata indah Jiyeon. Kepalanya menggeleng perlahan, seolah meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia lihat saat ini hanya sebuah hayalan kemudian kakinya mundur selangkah.

“Jiyeon.”panggilku penuh pilu.

“Ini tidak mungkin, kau pasti hanya khayalanku. Sama seperti malam-malam sebelumnya, kau pasti hanya hayalanku.”bisik Jiyeon pelan lebih pada dirinya sendiri.

Aku tersenyum kemudian kembali melangkan mendekat sementara ia masih memandangku tak percaya.

“Kau tak merindukanku?”

tangan Jiyeon terulur menyentuh pipiku. Air mata mengalir deras di pipinya namun langsung mongering lantaran diterpa angina malam kota Paris yang menusuk kulit.

“Katakan ini bukan mimpi.”bisiknya pelan.

Aku tersenyum lalu memeluknya erat. “Tentu ini bukan mimpi, ini bukan mimpi Jiyeon-a. Aku datang.”

“Kenapa baru datang sekarang? Myungsoo-ya, kenapa kau baru datang sekarang? Tak tahu kah kau kalau aku begitu tersiksa? Aku begitu tersiksa memendam kerinduanku sendiri. Aku fikir kau sudah tak membutuhkanku lagi.”isak Jiyeon dalam pelukkanku.

“Mianhe, Jiyeon-a. Maaf karena baru menemuimu sekarang. Aku sungguh minta maaf.”

“Myungsoo-ya.”panggil Jiyeon melepaskan dekapanku. “Apa kau masih membutuhkanku? Karena sekarang aku yang sangat membutuhkanmu.”

Aku tersenyum. Kemudian kembali mendekapnya erat. Rahasia memang seharusnya tetap menjadi rahasia, namun apa selamanya kau akan memendam rahasia? Demi meraih kebahagiaanku, aku memutuskan untuk mengungkapkan apa rahasiaku. Rahasia kalau aku mencintai sahabatku.

Aku melirik sekilas ke arah Chaerin juga Jonghyun kemudian menggumamkan terima kasih. Chaerin, terima kasih karena engkau mengajarkan padaku caranya untuk jujur pada diriku sendiri. Jonghyun Hyung, terima kasih karena engkau pernah mengajarkanku bagaimana rasanya memendam cinta lantaran ingin mempertahankan cintamu agar tetap disisimu. Dan Lee Jiyeon, terima kasih karena kau telah membutuhkan. Saling membutuhkan memang alasan terbaik untuk bersama, tapi dengan cinta semua akan menjadi lebih indah. Karena cintalah yang membuat kita saling membutuhkan.

Di depan hotel Martinez ini cinta kita bersatu. Di bawah langit malam kota Paris cinta bersatu.

End

Halo semuanya, maaf banget baru bisa postingan bagian terakhir ini. Laptop aku rusak, jadi penyelesaian FF ini sedikit tersendat dan harus menunggu laptop baru untuk menyelesaikannya. Aku sudah mulai masuk di pengerjaan skripsi, jadi aku minta maaf dan pengertiannya untuk kalian semua kalau aku tidak bisa terlalu sering memposting cerita. Tapi aku usahakan, minimal satu bulan satu postingan untuk para readers semua. Terima kasih untuk semua apresiasinya. Aku sayang kalian semua!

34 responses to “[Chapter] Secret – Myungsoo side Last Capter

  1. yeay akhirnya happy ending,tapi koq nanggung gitu hehehehe#peace.bagus bgt,dan akhirnya myungyeon bersatu juga

    • hehe mereka semua sudah bersatu, makanya ceritanya end..
      terima kasih sudah baca dan comment ^^
      maaf baru bisa balas commentnya sekarang🙂

  2. Sebenernya agak2 lupa juga sih sma part sebelumnya
    Kirain bakalan jonghyun jiyeon, tp gpp lah myungyeon juga not bad lah hehe
    Endingnya semua bahagia

    • haha karena kelamaan ya updatenya makanya lupa? mianhe kemaren aku KKN dan banyak banget tugas huhu.
      terima kasih sudah baca dan comment ^^
      maaf baru bisa balas commentnya sekarang🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s