[ONESHOOT] BOY-FRIEND??

boyfriend

Author : Yochi Yang

Title : BOY-FRIEND??

Main Casts : Park Jiyeon and Kim Myungsoo

Other Casts : Ahn Jaehyun and Jung Haein

Genre : Fluff

Length : Oneshot

 

Annyeong! Apa kabar semuanya? Apa selama ini kalian baik-baik saja tanpa kehadiran author selingkuhan Bang Yoyo ini? Ahahah sudah cukup lama ya kita kaga ngobrol kayak begindang. Miaaann :v bukannya udah males ketemu kalian semua, tapi ada beberapa hal yang membuat diri saya jarang apdet. Tapi insya Allah kalo ada waktu yang bener-bener senggang, aye tetep bakal nongol kok yeoreobeun..❤

Nah, kali ini author beng-beng yang super keceh ini bikin satu FF yang khusus ane persembahkan buat uri sarangeun chingu— Hara— sebagai kado ulang tahun buatnya, ahahah kaga seberapa bagus mungkin, tapi yah paling tidak ini usaha saya sendiri lah, kaga jiplak dari manapun, ckckck😀

Geurae, ane harap ente-ente semua pada suka ya guys.. Hara, jangan terlalu terharu karena kejutan dariku ini, santai saja karena ini sama sekali bukan sesuatu yang berguna bagi nusa dan bangsa, nyahahahah😀

-Happy reading-

All is Jiyeon’s POV

“Semua yang kulakukan untukmu selama ini mungkin memang tidak seberapa besar bagimu. Keunde, malam ini aku benar-benar berharap besar padamu. Kuharap kau tidak menganggap pemberianku kali ini sebagai pemberian dari seorang sahabat lagi. Aku ingin kau melihatku sebagai seorang namja. Namja yang mencintaimu sekaligus yang kau harapkan untuk menjadi pendamping hidupmu. Geurigo— maukah kau menerima cinta dan lamaranku ini sebagai hadiah ulang tahunmu?”

Klik. Dengan gusar kulempar remote yang semula kugenggam itu ke atas meja di depanku. Kesal. Anni, lebih tepatnya aku merasa iri. Aku iri dengan yeoja yang baru saja mendapatkan lamaran kejutan dari namjanya tadi. kulirik benda kotak besar yang biasa disebut televisi itu dengan tatapan tak suka. Entah kenapa sosok kedua manusia tadi masih terbayang di mataku meski kali ini televisi itu berwarna hitam. Aish! Baiklah, kuakui aku memang belum memiliki seorang namjachingu. Dan sialnya sebentar lagi aku berulang tahun. Aigoo.. Pada awalnya aku memang tidak pernah memikirkan hal itu sama sekali. Aku justru merasa bebas ketika aku berpikir tak ada yang mengekangku karena sebuah ikatan. Tapi sepertinya itu hanya sebuah pengelakan dari hatiku yang sebenarnya pun menginginkan seorang namjachingu. Hhhh.. Ah, matta. Bukankah kedua pasangan di televisi tadi itu pada awalnya bersahabat? Yah, di dunia ini memang tidak jarang ada cerita tentang sahabat yang berubah menjadi cinta. Seperti film tadi. Diam-diam aku mulai memikirkan dua namja yang selama ini menjadi sahabatku. Ahn Jaehyun dan Jung Haein. Apa mungkin aku bisa menjadi yeojachingu salah satu dari mereka? Satu persatu wajah mereka mulai bermunculan di benakku. Tapi entahlah, aku merasa mereka sama sekali tidak cocok untuk dijadikan namjachingu. Mungkin karena aku sudah sangat terbiasa bertemu dengan mereka. Ya, mungkin itulah alasannya. Dan akhirnya lagi-lagi untuk yang ke sekian kalinya aku harus membawa angan-anganku itu ke dalam mimpi.

Keesokan harinya..

Sial. Aku kesiangan. Alhasil dengan terpaksa aku pun berlari-lari sepanjang jalan karena sudah dipastikan aku ketinggalan bus pagi ini. Astaga, ini gara-gara angan-angan konyolku selama beberapa hari terakhir ini. Aish! Sesekali aku mengedarkan pandangan ke segala arah, siapa tahu ada salah seorang sahabatku yang kebetulan juga baru berangkat dan berbaik hati menawarkan tumpangan untukku? Tapi lagi-lagi aku mendesah kecewa karena aku tahu pasti kalau ini sudah melewati batas waktu. Aku terus menggerutu di sela-sela napas sengalku. Baiklah, sudah kuputuskan. Aku akan memutar melewati jalan pintas.

Tap. Tap. Tap. Aku berlari dengan sedikit ragu. Memang benar melalui jalan ini lebih dekat dibanding jalan umum yang biasa dilewati orang-orang. Lorong panjang yang tembus dengan jalan kota dan terhubung dengan jalan setapak yang berada tak jauh dari kampusku. Tapi siapapun tahu kalau jalan ini sangat jarang dilewati orang. Bukan karena angker atau berhantu, melainkan karena di sekitar sini tak jarang para preman atau orang-orang liar semacamnya yang berkeliaran. Tapi seperti yang kukatakan tadi, aku sudah memutuskan akan lewat jalan ini saja. Lagipula ini masih pagi, jadi menurutku masih tak ada seorang preman pun yang bertengger di sini. Meski begitu, hatiku masih diliputi rasa was-was. Meski kedua kakiku berlari, namun aku merasa aku sama sekali tak bergerak dari tempatku. Kedua ekor mataku terus berkelana, bersiaga siapa tahu ada seorang preman yang mendadak menyergapku dari arah tak terduga. Astaga, aku benar-benar merasa lebih baik mengunjungi kebun binatang daripada tempat semacam ini.

Krrcckk.. Sial. Aku menginjak kubangan air. Aish! Kenapa aku bisa seceroboh ini? Sepatuku jadi basah dan bahkan cipratan air itu sempat mengenai celanaku. Dengan menggerutu pelan aku berhenti sejenak dan mengibaskan celanaku yang basah dan kotor. Namun di saat aku sibuk dengan kegiatanku, dari ekor mataku bisa kulihat kalau seseorang sudah berdiri di belakangku. Nyaliku menciut seketika. Bahkan untuk bergerak sedikit saja aku tak berani.

Yaa!”

Memang hanya sebuah gertakan kecil. Namun hal itu justru membuatku semakin membeku di tempat.

Yaa, mengapa kau hanya diam di sana, eoh?”

Aku meneguk ludah. Dari nada suaranya aku bisa menebak kalau orang ini sedang mabuk. Celaka. Biasanya kalau orang mabuk pasti akan melakukan hal-hal ekstreme di luar kendali.

Mwoya, kau mengabaikanku, eoh?”

Aku masih tak berani menoleh sedikitpun. Sesaat kemudian kudengar suara langkah namja itu mendekatiku. Astaga Park Jiyeon, kenapa kau diam saja? Ppalli, larilah bodoh! orang ini sedang mabuk jadi dia tak mungkin bisa mengejarmu dengan keadaan sempoyongan begitu. Tapi lagi-lagi aku merasa kedua kakiku seperti telah tertancap di tempat. Ketika aku merasa ia semakin mendekat, aku hanya bisa memejamkan kedua mataku rapat-rapat. Yang sudah bisa kupastikan bahkan seribu persen kalau hal itu sama sekali tidak akan membantu apapun. Namun selanjutnya aku tak merasa orang itu menyentuh atau melakukan apapun padaku. Aku hanya mendengar suara seperti seseorang terjatuh. Kubuka kedua mataku perlahan. Mwoya? Apa orang itu pingsan karena terlalu mabuk? Dengan perlahan pula aku mulai memberanikan diri untuk memutar badan. Dan DEG!! Aku berteriak nyaring dan spontan duduk merunduk sambil memejamkan kedua mataku kembali. Aku bersumpah aku merasa jantungku seperti melompat dari tempatnya. Bagaimana tidak? Seorang namja tengah berdiri tepat di hadapanku persis ketika aku membalikkan badan. Eomma! Tolong aku!

Sedetik, dua detik, tiga detik hingga sepuluh detik tak ada yang terjadi. Akhirnya aku kembali memberanikan diri mengangkat kepalaku dan membuka kedua mataku. Namja itu masih berdiri di hadapanku, dan aku tak berani mendongak untuk menatapnya. Namun aku terkejut ketika melihat seorang namja lainnya tergeletak pingsan di belakang namja yang berdiri di hadapanku itu.

“Sedang apa kau?”

Aku tersedak mendengarnya. Aku seperti mengenal suara itu. Yah, cukup kenal. Setidaknya aku pernah mendengarnya beberapa kali meskipun itu sangat jarang. Dengan cepat kudongakkan kepalaku.

“K-kau?” ucapku takjub dan heran bukan main.

Namja yang kini berdiri di hadapanku, dia adalah Kim Myungsoo, tetanggaku, namja paling dingin dan pendiam sepanjang masa, begitulah menurutku. Sebenarnya dia itu tetangga baruku, yah lumayan baru kurasa. Ia baru pindah sekitar setahun yang lalu. Hmm baiklah, kurasa itu bukan baru lagi. Tapi selama aku menjadi tetangganya, tak pernah sekalipun kami bertegur sapa. Eomma bilang Myungsoo jadi pendiam semenjak orangtuanya bercerai. Yah, aku cukup paham dengan masalahnya. Sebenarnya aku cukup menyukainya karena ia terbilang lumayan berprestasi. Tapi karena sifat acuh dan pendiamnya itu aku jadi berpikir dua kali untuk mengenalnya lebih dekat.

Geuge— apa kau yang membuatnya pingsan?” tanyaku kemudian padanya.

Myungsoo hanya mengangguk. Aku pun berdiri dengan sedikit canggung. “Gomawo..” lanjutku.

“Jangan lewat jalan ini lagi.” katanya pula.

Eoh? Aku— kesiangan jadi terpaksa lewat sini.”

Kkaja. Sebentar lagi teman-temannya datang.”

Myungsoo berjalan mendahuluiku dengan sedikit tergesa. Tanpa pikir panjang lagi aku pun segera menyusulnya dengan setengah berlari. Hanya memakan waktu sekitar 5 menit kami berjalan hingga akhirnya kami berdua pun sampai di jalan setapak. Kutarik napas panjang sedalam-dalamnya karena merasa lega bukan main.

Aigoo.. Baru kali ini aku mengalami pagi setegang ini. Gomapta, Myungsoo-ya. Kalau tidak ada kau, entah apa yang sudah terjadi padaku tadi.” untuk ke sekian kalinya aku berterimakasih pada Myungsoo.

“Aku hanya kebetulan lewat sana. Geureom.. Lain kali tidurlah lebih awal supaya tidak kesiangan.” ucap Myungsoo.

Aku hanya mengangguk. Sejujurnya aku merasa sangat takjub. Baru kali ini Myungsoo berbicara secara intens padaku. Biasanya ia selalu diam dan lebih sering mengacuhkanku setiap kami bertemu.

Mungkin karena aku diam saja, Myungsoo pun beranjak dan meninggalkanku begitu saja.

Ah jamkkanman!” panggilku sebelum ia benar-benar pergi.

Namja itu berhenti berjalan dan menoleh kembali padaku.

Geuge—aku tidak ada maksud apa-apa, keunde— mulai hari ini, bisakah kau menjadi— temanku?” kataku kemudian sedikit ragu. Entahlah, aku merasa perkataan itu muncul begitu saja dari mulutku.

Myungsoo tak segera menjawab, melainkan hanya menatapku dengan tatapan yang sulit kumengerti. Yah, kurasa ia memang tak punya ekspresi lain selain ekspresi datar seperti itu. Aku pun berdehem sejenak dan melanjutkan.

Ehm, m-maksudku, yah.. Kita memang sudah berteman, keunde—”

Arrasseo.. “ potong Myungsoo.

Ne?”

“Terserah maumu saja. Na ganda.” katanya, lalu kembali melanjutkan langkahnya mendahuluiku.

Aku masih tertegun di tempat. Dia bilang terserah mauku. Apa itu artinya ia menerima permintaan pertemananku? Ohmo, aku tidak tahu kenapa tapi aku merasa senang karenanya.

Mwo? Kau diterima? Aish tidak bisa dipercaya! Bagaimana mungkin yeoja secantik itu mau jadi yeochinmu, eoh? Paboya?”

Yaa, memang apa salahnya dengan itu? Aku tampan, pintar dan cukup beruang. Apa salahnya kalau yeoja cantik menyukaiku? Yaa, bilang saja kalau kau iri padaku.”

Anniya.. Untuk apa aku iri? Aku sudah punya yeojachingu.”

Aku sedikit tertegun mendengar percakapan kedua sahabatku, Ahn Jaehyun dan Jung Haein yang kini sedang duduk di bangku belakangku itu. Benar juga. Aku baru ingat kalau Jaehyun sudah memiliki yeojachingu. Dan bahkan sekarang Haein pun menyusulnya. Aigoo bagaimana bisa kemarin aku memiliki pikiran bahwa mereka akan menjadi namjachinguku?

“Ah matta, bukankah kau bilang kalau kemarin hari ulang tahun yeochinmu? Bagaimana? Apa semua berjalan mulus?” kudengar Haein bertanya.

Geureom.. Dia sampai menangis terharu karena kejutan yang kuberikan padanya.”

Aku tertegun mendengarnya. Entah kenapa rasa iri mulai kembali muncul di hatiku.

Jinjja? Lalu, apa yang dilakukannya? Apa kalian sudah—”

Aku tak bisa mendengar dengan jelas ucapan terakhir Haein barusan. Sepertinya ia sengaja memelankan suaranya.

Yaa, kau pikir dia segampang itu? Aku mencintainya bukan karena hal seperti itu. Ah, jjam. Apa mungkin kau yang sebenarnya menginginkan hal seperti itu, eoh?”

Anniya.. Aku juga tulus mencintai yeojachinguku. Keunde sebentar lagi dia berulang tahun. Aku bingung hadiah apa yang pantas untuk kuberikan padanya.”

Aku terhenyak. Dan lagi-lagi hadiah ulang tahun yang dibahasnya.

Ah, Jiyeon-a. Menurutmu, hadiah apa yang disukai oleh seorang yeoja di hari ulang tahunnya?”

Ehek! Aku tersedak mendengarnya. Tidak kusangka Haein akan bertanya kepadaku.

Geuge— nan molla.” Sahutku tanpa menoleh sedikitpun.

Mwoya? Bagaimana kau bisa tidak tahu? Kupikir selama ini kau sering menonton drama romantis di televisi.”

Aku tak segera menjawab. Oh, ayolah, berhenti menanyakan hal seperti itu padaku.

Eoh! Yaa, bukankah kau sebentar lagi juga berulang tahun? Matji?” seru Jaehyun tiba-tiba.

Ah, kau benar. Aku hampir lupa kalau Jiyeon juga berulang tahun sebentar lagi. Jiyeon-a, kado apa yang kau inginkan dari kami? Geeogjeongma, kami akan berusaha memenuhinya.” Sambung Haein tak kalah bersemangat.

Aish! Aku tak menginginkan kado apa-apa dari kalian. Jeongmal!

Yaa, wae geurae? Kenapa kau diam saja, eoh? Eodi appa?”

Anniya. Nan gwaenchanha.” elakku.

Jaehyun berjalan menghampiriku dan menyentuh jidatku.

“Suhu tubuhmu normal. Keunde, kenapa sikapmu hari ini tampak sedikit aneh?” tanyanya.

Anni, kalau kuperhatikan, sikapmu sudah menjadi aneh selama beberapa hari terakhir ini. Yaa, apa kau sedang memiliki masalah?” sambung Haein pula.

Aku menarik napas panjang, lalu kutatap kedua sahabatku itu satu persatu.

“Apa kalian benar-benar ingin tahu hadiah apa yang kuinginkan di hari ulang tahunku nanti?” tanyaku.

Mwonde?”

“Aku— menginginkan seorang namjachingu.”

Tanpa menunggu respon mereka berdua, aku segera bangkit dari tempat dudukku dan beranjak pergi meninggalkan mereka.

Aku berjalan menuju lokerku dengan langkah gontai. Terkadang aku berkhayal suatu hari ketika aku membuka loker milikku, aku menemukan setangkai bunga dan sepucuk surat cinta di dalamnya. Tapi rasanya itu mustahil. Bahkan di usiaku yang sekarang ini, belum pernah ada bunga atau satu surat pun yang nyasar ke dalam lokerku. Hahh.. Tapi inilah diriku, aku tak pernah berhenti berharap hingga detik ini. Kubuka lokerku perlahan dengan menahan napas dan sedikit memejamkan mata.

Kret..

Aku tertegun, nyaris tak percaya dengan yang kulihat. Ya, benar sekali. Tak ada bunga ataupun surat di dalamanya. Seperti biasanya. Lagi-lagi aku mendesah.

“Jangankan namjachingu, sebuah surat saja tak ada yang sudi mampir kemari.” gumamku sambil menutup kembali lokerku sedikit gusar.

Aku bermaksud kembali ke kelas tapi niatku urung ketika kulihat seorang namja sedang membuka lokernya yang berjarak selisih dua loker di sebelahku. Aku menatapnya dengan sedikit mengerutkan kening. Wajahnya terhalangi oleh pintu loker yang terbuka sehingga aku tak bisa melihatnya dengan jelas. Perlahan aku mendekat untuk memastikan dugaanku. Tepat ketika aku mendekat, ia menutup loker dan sedikit terkejut ketika melihatku. Namun ia sama sekali tidak menegurku melainkan hanya menatapku. Alhasil justru akulah yang merasa canggung dibuatnya.

Ah, nan geunyang— ingin tahu apa itu benar-benar kau, hehehe.. Mian.” ucapku canggung bukan main.

Myungsoo, namja itu tak menjawab dan masih menatap datar ke arahku. Astaga, apa yang kulakukan?

Geureom— na ganda..” lanjutku pula.

Chingu, matji?”

Langkahku terhenti mendengarnya. Aku pun kembali menoleh padanya.

Ne?” tanyaku tak mengerti.

“Bukankah tadi kau bilang kalau mulai hari ini kita berteman?”

A-ahh.. N-nee..”

Geureom, berhentilah bersikap canggung padaku. Kau bisa bersikap normal seperti ketika kau bersama teman-temanmu.”

Aku tak segera menjawab, melainkan hanya menggaruk leherku yang tidak gatal.

Ganda.” ucapnya lagi, lalu beranjak pergi meninggalkanku.

Aku masih terdiam. Astaga, apa yang baru saja terjadi? Aku merasa saat ini aku sudah seperti orang linglung yang bingung kemana arah jalan pulang. Baru saja, Kim Myungsoo, dia tersenyum padaku! Hoho.. Sepertinya dia tidak seburuk yang kupikirkan.

Satu minggu berlalu sejak hari itu. Aku semakin galau ketika Haein bercerita tentang kejutan yang ia berikan pada ulang tahun yeojachingunya. Meskipun ia dan Jaehyun berjanji akan mencarikan seorang namjachingu untukku, tetap saja aku merasa gelisah. Karena berbagai kekonyolan pun terjadi semenjak perjanjian itu. Beberapa namja datang kepadaku dan karena memang tak ada satu pun dari mereka yang menarik perhatianku, akhirnya justru akulah yang membuat mereka kecewa. Astaga, aku benar-benar merasa gila.

“Jiyeon berulang tahun dua hari lagi. Tapi kita masih belum mendapatkan seorang namja yang pantas untuknya. Aku khawatir dia semakin stress karena hal ini.”

“Mau bagaimana lagi. Kita sudah berusaha keras tapi semua namja yang kita kenalkan padanya tak ada yang menarik perhatiannya sama sekali. Ck, kasihan uri Jiyeonie..”

Aku mendesah panjang ketika tanpa sengaja mendengar percakapan kedua sahabatku itu. Mianhae.. Gara-gara keinginan konyolku itu kalian jadi terbebani seperti ini. Hmm, baiklah. Mungkin memang sepertinya jodohku belum sampai padaku. Gwaenchanha. Aku yakin suatu hari nanti pasti aku bertemu dengan jodohku tanpa berusaha kucari. Saat ini aku sudah merasa bahagia dengan adanya sahabat-sahabatku yang selalu menemaniku setiap hari. Akan lebih buruk seandainya mereka tidak ada di sampingku. Seharusnya aku bersyukur karena masih memiliki orang-orang seperti mereka, meski bukan namjachingu.

Dua hari kemudian..

“Saengil chukka hamnida.. Saengil chukka hamnida.. Saranghaneun uri Jiyeonie.. Saengil chukka hamnida..”

Aku terkejut sekaligus bahagia dan haru ketika mendapatkan kejutan dari Jaehyun dan Haein pagi ini. Meski hanya mereka berdua yang mengucapkan selamat padaku, selain keluargaku tentunya, tapi aku benar-benar bahagia. Mereka berdua memelukku secara bergantian.

Aigoo.. Uri Jiyeonie sudah semakin dewasa dan cantik. Aku yakin sebentar lagi kau pasti bertemu dengan pangeran yang akan menjadi namjachingumu.” Kata Jaehyun sambil mengacak rambutku.

Aku tersenyum dan memukul pelan lengannya. “Anniya, aku sudah sangat bahagia memiliki pangeran seperti kalian berdua.” kataku.

Jinjja? Apa artinya kau sudah tidak merasa stress lagi sekarang?”

Mwoya? Aku tidak pernah merasa seperti itu.” elakku.

“Jiyeon-a, cobalah kuenya. Kami sendiri yang membuatnya khusus untukmu.” Kata Haein.

Jinjja?”

Eoh.. Mian, kalau rasanya tidak enak.”

Aku tersenyum lebar dan menerima kue tart berukuran sedang yang dibawa Haein itu lalu mencicipinya sedikit.

Woah.. Daebak. Apa benar kalian sendiri yang membuatnya?” kataku tak percaya.

Anni. Kami memesannya, hehe.”

Yaa!!

Eyy.. Jangan marah dulu. Semalaman kami sudah berusaha keras membuat kue yang enak, tapi hasilnya selalu gagal. Jadi kami terpaksa memesannya karena tidak ingin merusak hari spesialmu dengan kue yang gagal.”

Aku terhenyak mendengarnya. Tak kusangka kedua sahabatku ini benar-benar berjuang keras hanya untukku. Tanpa sadar aku meneteskan air mataku. Baiklah, sekarang aku benar-benar tak lagi mengharapkan namjachingu. Aku hanya berharap selamanya tetap bersama orang-orang seperti ini.

Yaa, uljima. Yeogi, untukmu. Geureom, jangan menangis lagi, eoh?” kata Jaehyun sambil memberikan sebuah kado kotak kecil yang masih terbungkus rapi padaku.

Nado. Ini untukmu.” sambung Haein turut memberikan hadiahnya pula padaku.

Kuterima hadiah dari kedua sahabatku itu dengan perasaan haru dan bahagia.

Gomawo..” bahkan sulit rasanya mengeluarkan suaraku karena rasa haruku yang mendalam.

Aku memang belum tahu apa yang mereka berikan padaku. Tapi apapun itu, aku tahu mereka tulus memberikannya. Sekali lagi, aku sungguh-sungguh bahagia memiliki orang-orang seperti mereka.

Aku berjalan menuju lokerku dengan hadiah dari Jaehyun dan Haein yang masih terbungkus rapi di tanganku. Sudah kuputuskan akan membuka hadiah mereka saat pulang nanti, jadi aku bermaksud akan menyimpannya di dalam lokerku terlebih dahulu. Tepat saat aku hendak menuju lokerku, aku berpapasan dengan Myungsoo. Ia melihatku dan tersenyum hangat padaku. Aku pun membalasnya. Akhir-akhir ini hubungan kami memang semakin membaik dari sebelumnya. Meski jarang berbincang-bincang, setidaknya aku sudah tak secanggung dulu lagi saat menegurnya. Dan ia pun tak jarang memberikan senyumannya padaku, seperti yang sudah dilakukannya barusan. Begitu Myungsoo lenyap dari pandanganku, aku melanjutkan langkah menuju loker milikku. Bukan karena aku masih mengharapkan hayalanku seperti biasanya, tapi mungkin karena memang sudah menjadi kebiasaanku setiap hari, kubuka lokerku dengan perlahan dan sedikit menahan napas.

Kreet..

Dan aku tercengang saat melihat isi lokerku. Bukan bunga yang pernah kuhayalkan, melainkan sebuah benda berbentuk kotak panjang. Ya, sebuah cokelat dengan kartu ucapan yang menempel di sana. Dengan sedikit gemetar, kuambil benda itu dan seketika aku meneteskan air mataku kembali saat membaca beberapa tulisan singkat di sana. Ya Tuhan, terima kasih atas segala pemberianMu selama ini. Terlepas dari apa yang kuinginkan selama ini, aku telah mendapatkan apa yang sebenarnya kubutuhkan. Setelah menaruh hadiah dari Jaehyun dan Haein di dalam lokerku, kuambil cokelat tersebut dan kutinggalkan kartu ucapan itu di dalam sana. Aku tersenyum ketika memberikan sedikit gigitan pada cokelat tersebut. Cokelat yang sangat manis, semanis perasaanku saat ini. Sambil tersenyum bahagia, aku pun berjalan kembali menuju kelas.

                        “Happy Birthday, Park Jiyeon..

                         From Kim Myungsoo, your Boy-Friend (teman namja)..”

-END-

Siapapun yang belum memiliki pasangan, jangan bersedih atau merasa galon, percayalah kalau jodoh itu pasti akan datang dengan sendirinya. Toh selama orang-orang yang sayang kita dan kita sayang masih ada di samping kita, kita kaga mungkin merasa kesepian, kan? Usaha bolehlah, kaga ada yang ngelarang kok, tapi kalo bisa ya jangan terlalu berlebihan, takutnya ntar parah pas gagal. Tuhan kaga mungkin lah biarin kita jadi jomblo selamanya. Yang penting tetap berbuat baik dan berdoa aja. Kebaikan itu dampaknya banyak loh guys, termasuk bisa cepet dapat jodoh, ambil contoh aja dari author keceh ini. Saya orangnya baik loh, makanya alhamdulillah udah kaga jomblo lagi, muahahaha soo jangan berputus asa ya sodara-sodara😉

Dan sekali lagi ucapan dariku, uri chingu Hara happy birthday to you.. Keep smiling and giving much love to your family and friends. I hope you like this fluffy story❤

Annyeong!

89 responses to “[ONESHOOT] BOY-FRIEND??

  1. hmhmhm so sweet,udh lma g nongol eh bwa ff so sweet,,bknx boyfriend tu artix pcr ya?low tmn ya tmn za bkn #mianlowslh hehe
    aigoo,ni ky tamparan wat aq coz aq jg msh jomblo hiks hiks v smngt jg c wat aq hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s