[Chapter – 4] FOREVER YOU : His Anger

FY

 

Forever You : His Anger

© Flawless

Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Jung Eunji, etc.

Previous : Previous : Chapter 1 : I Chose You Chapter 2 : With You Chapter 3 : Strange Feeling

*

 

Pria itu masuk ke dalam apartment-nya dengan langkah tergesa-gesa dan didampingi oleh emosi yang meletup-letup. Kepalanya tak bisa dingin bahkan setelah perjalanan untuk sampai ke tempat ini. Ia membuka pintu kamarnya dan gadis itu tanpa berniat untuk hati-hati, namun ia membuatnya keras sehingga gadis yang tengah terlelap tenang di ranjang itu langsung terbangun kaget.

“Myungsoo?”

Myungsoo bergeming. Gadis itu bahkan terlihat baik-baik saja dengan semua tindakan yang dilakukannya. Mengetahui fakta ini entah kenapa membuat emosinya naik lebih tinggi. “Apa maksudmu melakukan tindakan bodoh seperti ini?”

“Apa yang kau bicarakan?” Jiyeon bertanya dengan nada yang gemetar bercampur takut, apalagi melihat wajah dingin Myungsoo. Bahkan mata pria itu tak lagi menatapnya seperti biasanya. “Bicara yang jelas, Myungsoo-ya.”

“Membiarkanku selama 24 jam bersama Eunji. Hah, lelucon bodoh sejenis apa itu, Park Jiyeon?!” Myungsoo meninggikan suaranya, dan menendang udara. Amarahnya tak bisa meredup, justru kian meningkat dari detik yang telah berlalu.

“Aku hanya..”

“Hanya ingin aku bahagia? Sial, sudah berapa  kali aku katakan, aku akan mencoba untuk bahagia bersamamu, tapi lihat apa yang kau lakukan? Kau bahkan tidak berusaha sedikit pun!”

Jiyeon diam, tidak bisa lagi membantah perkataan Myungsoo. Ketakutan menyelimutinya akibat bentakan Myungsoo. Ini kali pertama Myungsoo benar-benar marah padanya, dan harus diakuinya itu menyeramkan.

“Maaf,” ucap Jiyeon lirih, nyaris seperti bisikan.

Myungsoo berbalik, memunggungi Jiyeon. Tangannya terangkat untuk mengacak rambutnya. Bahkan usia pernikahannya belum sampai satu minggu dan masalah seperti ini sudah membuatnya nyaris gila.

“Lupakan,” ujar Myungsoo dingin. Dia melangkah keluar dari kamar mereka untuk segera menghilang dari jangkaun Jiyeon. Dia tidak bisa berlama-lama di tempat ini, karena jika tidak dia pasti akan kehilangan kendalinya dan meluapkan semua kemarahannya pada Jiyeon. Dia tidak menginginkan Jiyeon melihat pribadi mengerikannya, dan juga dia tidak akan membiarkan gadis itu lebih terluka karena ucapan atau bahkan sampai menyebabkan ada luka fisik di tubuh gadis itu.

“Kau mau ke mana, Myungsoo-ya? Kita selesaikan ini, eoh? Jangan bertindak seperti ini.”

Jiyeon meredam tangisnya susah payah, namun sayangnya ucapannya sama sekali tak memiliki dampak berarti bagi Myungsoo, nyatanya pria itu bahkan tak berbalik untuk melihatnya.

Ia langsung terduduk di lantai begitu pintu apartment mereka dibanting dengan kasar. Air matanya mengalir tak terhentikan. Dadanya terasa sesak, sampai ia tak bisa menarik nafas. Pria itu marah padanya, pria itu menatapnya dengan terluka dan penuh kekecewaan. Demi apapun di dunia ini, ia rela menukar segala yang ia miliki hanya untuk memusnakan tatapan itu dari muka bumi.

“Maaf, aku bersalah.”

Jiyeon meringkuk di depan pintu, membiarkan air matanya jatuh bebas tanpa mau repot-repot menghentikannya. Sekarang Myungsoo membencinya. Demi Tuhan, dari segela hal yang paling tidak diinginkannya di dunia ini, kenyataan Myungsoo membencinya bahkan tidak pernah masuk dalam daftar itu.

 

*

    Suara bising antara teriakan pengunjung bar dan juga music yang dimainkan seolah menjadi teman berbicara Myungsoo sekarang. Lelaki itu duduk menyendiri di sudut tergelap bar, berbicara sendiri sembari tertawa tak tentu. Sesekali dia terlihat mengeram frustasi, dan juga berteriak mengeluarkan amarahnya yang tak surut bahkan ketika kondisinya sudah mabuk berat.

“Ya, Kim Myungsoo! Kau menyuruhku datang dan meninggalkan Krystal hanya untuk melihatmu hilang akal sepergi ini? Sial.”

“Uh, kau.. Choi Minho? Apa yang kau lakukan?” Myungsoo menunjuk-nunjuk Minho setengah sadar dan tidak sadar. Matanya berkali-kali mengerjap hanya untuk melihat dengan jelas benarkah seseorang di hadapannya memang Choi Minho.

“Aku akan mengantarmu pulang, lagi pula Jiyeon pasti khawatir.”

Dan setelah nama Jiyeon diucapkan oleh Minho, Myungsoo langsung menggeleng keras, menolak mentah-mentah bantuan Minho. Tidak sekarang, dia tidak bisa melihat Jiyeon dulu. Ia marah dan juga kecewa pada Jiyeon. Entahlah sepertinya perasaannya yang sudah sempat terkubur sekarang mulai timbul kembali. Ditambah fakta Jiyeon ingin ia pergi semakin membuatnya tidak ingin melihat gadis itu. Setidaknya sampai rasa marah dan kecewanya hilang.

“Kau bermasalah dengan Jiyeon? Ya Tuhan, kalian bahkan baru menikah beberapa hari lalu, dan sekarang sudah bertengkar! Apa masalahnya?” Minho duduk di samping Myungsoo sekarang, di raihnya gelas yang dipegang Myungsoo dan langsung menegak habis isinya tanpa memperdulikan tatapan memprotes dari Myungsoo.

“Dia ingin berpisah agar aku kembali pada Eunji,” ucap Myungsoo lemah. Bahunya merosot bersamaan dengan hembusan nafasnya yang begitu berat.

“Kau tidak dengan bodohnya menyetujui keinginan Jiyeon, ‘kan?”

“Aku bingung kau karena kau masih bertanya.”

Minho tersenyum lebar pada Myungsoo, lalu menepuk singkat punggung lebar Myungsoo. “Katakan perasaanmu padanya.”

“Kau gila?!”

“Katakan, atau kalian berdua akan saling menyakiti!” Nada suara Minho tajam dan mendesak, seolah jika Myungsoo tidak mengindahkannya maka akan ada hal buruk yang akan terjadi. “Kau hanya harus mengatakan bahwa selama ini kau mencintainya, dan Eunji hanya lah seseorang yang kau gunakan untuk mengalihkan dirimu dari Jiyeon.”

“Aku juga mencintai Eunji, kalau kau lupa.”

Minho tertawa sinis, tangannya melayang memberikan pukulan keras pada pipi Myungsoo sehingga Myungsoo meringis. “Mau sampai kapan kau membodohi dirimu dan berkata mencintai Eunji?”

“Lalu apa yang kau ingin aku lakukan? Datang pada Jiyeon dan mengatakan, ‘Jiyeon-ah, aku tidak pernah mencintai Eunji, selama ini hanya kau yang selalu aku cintai’ Dan kau pikir dia akan percaya?!”

Minho mendesah. Otak cerdas Myungso tidak bekerja maksimal lagi karena Jiyeon. Minho mengusap wajahnya dengan telapak tangannya kasar. Rasanya dia seperti seorang penasihat cinta sekarang, padahal masalah percintaannya dengan Krystal pun sudah rumit.

“Dia memang tidak akan percaya, kau bisa melakukannya perlahan-lahan. Juga, selesaikan masalahmu dengan Eunji, kau tidak bisa membuat gadis itu lebih menderita, Myungsoo. Berhenti menggunakan Eunji sebagai alasanmu untuk membantah perasaanmu sendiri pada Jiyeon, biarkan dia menemui pria lain yang bisa membawa senyum padanya.”

Myungsoo mengangguk paham. Semuanya memang jelas sekarang, tapi tetap saja tidak mudah untuk melakukan semuanya sesuai dengan perencanaan. Biar bagaimana pun semuanya membutuhkan waktu untuk kembali ke tampatnya semula. Dan ia juga belum siap untuk menghadapi perasaannya yang sesungguhnya.

“Sekarang kita pulang.”

“Tidak sekarang, Minho-ya.”

“Jadi kau mau tidur di mana, huh?”

“Apa gunanya kau?”

Minho mengacak tataan rambutnya frustasi. Sekali lagi dia jadi korban Myungsoo. “Terserah.”

 

*

    Sinar matahari akhirnya berhasil menembus tirai-tirai berwarna putih itu, sehingga sinarnya berhasil sampai pada kedua kelopak mata Jiyeon yang tertutup, memaksa agar kedua kelopak mata itu segera terbuka untuk menyembut pagi yang baru.

Jiyeon membuka kedua matanya yang membengkak parah akibat menangis. Ia melihat sisi kosong di sampingnya. Myungsoo tidak pulang lagi, mungkin dia bersama Eunji. Pemikiran itu sontak saja membuat sesuatu dalam dadanya terasa sesak. Nafasnya mendadak tak beraturan, dan seiring detakan jarum jam, akhirnya air matanya menetes lagi.

Jiyeon melangkah gontai pelan meninggalkan kamarnya. Pandangannya menelusuri setiap sudut rungan. Tidak ada perubahan yang berarti Myungsoo memang tidak menginjakkan kakinya semalam di apartement mereka.

Sudah tiga hari berlalu semenjak ledakan amarah Myungsoo, dan semenjak hari itu pula dia sama sekali tak melihat Myungsoo. Pernah satu kali Myungsoo datang, tapi dia tertidur dan pria itu sudah pergi sebelum dia sempat membuka matanya. Kalau kalian bertanya-tanya kenapa bisa dia mengetahuinya, ya itu pertanyaan mudah. Jiyeon tahu karena pagi setelah Myungsoo pergi keadaan apartmentnya tidak berantakan, semuanya rapi, dan dia yakin Myungsoo yang sudah merapikannya.

Jiyeon membasuh wajahnya dengan air, lalu melihat bayangan dirinya di cermin. Dia tertawa sumbang melihat wajah mengerikannya di cermin. Kantung mata menghiasi wajahnya, matanya pun bengkak, di tambah dengan pipinya yang semakin tirus dan pucat, dan satu lagi rambut panjangnya yang tak pernah tertata bagai tak pernah dirawat sebelumnya.

Gadis itu mendaratkan bokongnya di sofa, matanya dipejamkan untuk menghilangkan rasa pusing yang tiba-tiba menderanya. Jiyeon mengambil bantalan sofa, lalu memeluknya seolah bantalan itu adalah seseorang yang kini menari-nari dalam pikirannya.

Suara bel apartement-nya berhasil membuat mata Jiyeon kembali membuka matanya. Ia bangkit dengan penuh harapan, berjalan menuju pintu. Sebelum membuka pintu, Jiyeon menarik nafasnya dalam-dalam. Dan akhirnya dengan tangan yang bergetar ia membuka pintu itu. Raut wajahnya kembali seperti semula, hanya saja sekarang ditambah dengan raut kecewa.

“Ada apa dengan wajahmu? Kau tidak senang melihatku?”

“Aku sarankan kau pulang, aku tidak dalam kondisi yang baik untuk bicara padamu, Krystal-ah.”

Krystal merenggut kesal. Tanpa mau menunggu Jiyeon mempersilahkannya masuk –yang kemungkinan tak akan terjadi- ia langsung menerobos melewati Jiyeon. “Kau mengerikan,” ujar Krystal datar sembari mendudukkan dirinya di sofa.

“Aku tahu.” Jiyeon ikut duduk di samping Krystal. Kembali matanya dipejamkan, tak peduli akan kehadiran Krystal.

“Kau baik-baik saja ‘kan?”

Jiyeon mengangguk tanpa tenaga. Ia bersandar di bahu Krystal tanpa berusaha untuk meminta izin terlebih dahulu. Lagi pula Krystal tidak akan menolak jika dia sedang dalam keadaan seperti ini.

Krystal nyaris mendorong Jiyeon menjauh darinya karena merasakan suhu tubuh gadis itu yang panas. Langsung saja ditempelkannya telapak tangannya di kening Jiyeon, lalu telapak tangannya yang satu ia tempelkan di keningnya sendiri, membandingkan suhu tubuhnya dengan Jiyeon.

“Kita ke rumah sakit.”

“Tidak, bagaimana kalau Myungsoo pulang? Aku harus bicara padanya dulu.”

“Lupakan dia dulu, Jiyeon-ah. Sekarang kita harus memeriksakan keadaanmu sebelum semuanya semakin buruk.”

“Aku tidak akan kemana-mana, aku hanya harus minum obat dan semuanya akan baik-baik saja.”

“Kalau begitu sekarang minum obatnya.” Krystal berjalan menuju dapur, mengambil satu gelas air mineral dan juga obat untuk Jiyeon. “Ini.”

Jiyeon tak mau lagi membantah. Ia menerima gelas dan juga obat yang diberikan Krystal, dan langsung meminumnya seperti perintah Krystal.

“Bagaimana kalau kau tidur lagi?”

“Asal kau tahu saja, ini masih terlalu pagi.”

“Bagaimana kalau sementara kau tidur aku akan berusaha membujuk Myungsoo untuk datang dan bicara padamu?” Krystal menaikkan sebelah alisnya, menunggu respon Jiyeon yang lambat.

“Tapi jangan coba-coba menggunakan keadaanku sekarang. Ini peringatan Krystal.”

“Aku setuju.” Krystal tersenyum tipis. “Sekarang tidur, dan akan pergi.”

“Hmm.”

“Selamat menjelajah di dunia mimpi.”

 

*

            Myungsoo membuka tiap lembaran dokumennya dengan kasar, membaca tiap kata per kata yang tertulis dengan jelas di sana, lalu akhirnya menutup dokumen itu dengan kesal. Sialan, suasana hatinya semakin buruk.

Pintu ruangan Myungsoo terbuka lebar, sehingga seseorang dengan mudahnya masuk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Bukankah sudah aku katakan untuk tidak membiarkan orang lain masuk?”

“Berengsek kau, Kim Myungsoo!”

Kepala Myungsoo mendongak melihat gadis yang tengah berdiri menahan ledakan amarah, sama seperti dirinya. “Krystal, ada apa?”

Krystal mendengus, dan mendekat pada Myungsoo. Ia menampar pipi kanan Myungsoo marah, lalu menatap Myungsoo tajam dan juga sinis. “Kau bahkan terlihat sangat baik, dan Jiyeon justru sangat mengerikan. Tch, tidak bisa dipercaya.”

“Aku mohon berhenti menyebut nama Jiyeon.”

“Dan kau bahkan tidak mau lagi mendengar namanya? Hebat, Kim Myungsoo. Sementara Jiyeon terus menangis dan berusaha untuk bicara padamu, kau justru berdiam diri bagai patung. Pria macam apa kau sebenarnya?!”

Sialan. Myungsoo memaki dalam hati. Jiyeon menangis, dan itu karena dirinya. Demi Tuhan, kepalanya terasa mau pecah sekarang. Tidak cukup kah selama tiga hari Minho menceramahinya, dan sekarang Krystal juga ikut datang dan memaparkan kondisi Jiyeon yang mengerikan, dan hal itu semakin membuatnya ingin segera kembali untuk melihat wajah Jiyeon lagi. Tapi, tidak. Egonya melarang untuk melakukan hal itu.

“Sebaiknya kau pergi, aku tidak butuh orang tambahan sebagai penasihatku.”

“Pergi temui Jiyeon sekarang!”

“Dan atas dasar apa aku harus menuruti perintahmu?” Balas Myungsoo dingin. Ia mengepalkan tangannya, meredam keinginannya untuk segera berlari dan menuju mobilnya.

“Bagaimana kalau aku katakan Jiyeon sedang sakit?” Terkutuklah mulutnya yang sudah memberitahukan kondisi kesehatan Jiyeon. Krystal tahu nanti pasti Jiyeon akan marah-marah padanya, namun kali ini tidak apa. Lagi pula kalimatnya berhasil membuat wajah Myungsoo berubah pucat, dan mata lelaki itu menampakkan serat kekhawatiran.

“Jiyeon, dia sakit?”

Krystal tersenyum puas. Ia sudah berhasil menekan tombol kelemahan Myungsoo, dan sekarang hanya tinggal menunggu sebentar lagi sebelum Myungsoo pergi. “Ya, demam tinggi, dia bahkan tidak sanggup bangun dari ranjang. Aku takut sesuatu terjadi padanya dan dia sama sekali tidak bisa..”

“Berengsek.”

Dan setelah itu Myungsoo benar-benar sudah menghilang dari hadapannya. Krystal hanya terkekah pelan. Myungsoo benar-benar jadi bodoh saat semuanya berhubungan dengan Jiyeon, bahkan pria itu langsung mencerna bulat-bulat kalimatnya yang sebagiannya dilebih-lebihkan.

*

 

Myungsoo membuka pintu apartment miliknya dan Jiyeon dengan tidak sabar, setelah itu ia langsung menuju ke kamar mereka. Dia berhenti terlebih dahulu, meyakinkan dirinya bahwa ia sudah siap untuk berhadapan dengan Jiyeon, sampai menit berikutnya baru ia mengangguk menyemangati dirinya sendiri.

Suara derit pintu terbuka, dan pemandangan pertama yang Myungsoo lihat adalah Jiyeon terbaring dengan wajah pucatnya. Gadis itu bahkan terlihat lebih mengerikan dari deskripsi Krystal sebelumnya. Jiyeon nampak sangat rapuh, sehingga jika ia menyentuhnya bisa membuat gadis itu hancur.

Myungsoo melangkah mendekati Jiyeon dengan nafas yang tertahan. Ya Tuhan, sekarang rasa beban yang lebih besar menghantam punggungnya. Ia yang menyebabkan Jiyeon seperti ini. Tangannya bergerak menyentuh pipi tirus milik Jiyeon yang terasa sudah sangat lama tak ia sentuh. Ia mendekat, mengecup kening Jiyeon yang panas.

“Maaf,” bisiknya tepat di telinga Jiyeon. “Aku egois.”

“Myungsoo?” Jiyeon berguman pelan, antara yakin dan tak yakin dengan kehadiran Myungsoo. Ia menyetuh punggung tangan milik pria itu yang masih setia di pipinya. Air matanya mengalir entah untuk alasan apa kali ini. “Myungsoo, Kim Myungsoo.”

“Hei, jangan menangis, kau terlihat jelek,” tutur Myungsoo sembari menghapus jejak-jejak air mata di pipi Jiyeon.

“Myungsoo, Myungsoo, Myungsoo.” Jiyeon terus mengucapkan nama Myungsoo dengan air mata yang terus mengalir. Dia senang melihat wajah pria itu yang kini tersenyum padanya, dan ia merasakan adanya gelombang kesenangan yang datang saat melihat mata pria itu tidak dingin, dan justru terlihat sangat penuh dengan kehangatan.

“Oh, Ya Tuhan, jangan menangis, okay?”

Tidak menghiraukan ucapan Myungsoo, Jiyeon berganti posisi menjadi duduk, dan langsung melingkarkan lengannya di tubuh Myungsoo dengan erat. Ia menghirup dalam-dalam aroma Myungsoo, dan kemudian ia tersenyum. “Terima kasih sudah mau melihatku.”

“Maaf.” Sekali lagi kata itu yang lolos dari bibirnya, ia melepaskan dirinya dari Jiyeon dan memandang gadis itu tepat ke manik mata indahnya yang selalu berhasil menghipnotis. “Aku egois, aku tidak mendengarkanmu, dan aku membuatmu seperti ini.”

“Aku yang bersalah, tapi aku benar-benar tidak masalah dengan keputusanmu entah aku atau Eunji, tapi aku tidak bisa kalau kau menghindariku.”

Eunji lagi. Myungsoo menarik nafasnya perlahan, lalu berucap. “Tidak ada Eunji. Lupakan dia, dan mulailah benar-benar belajar untuk menerimaku, jika tidak aku akan memaksamu untuk menerimaku” Myungsoo mengusap pipi Jiyeon lembut dan hati-hati. “Karena aku mencintaimu.”

Myungsoo tersenyum manis, lalu menyentuh bibir Jiyeon dengan bibirnya. Menyesap rasa manis bibir Jiyeon yang sudah membuatnya kecanduan, dan menikmati setiap gejolak kebahagiaan yang menggelitiki perutnya. Namun, kebahagiannya langsung sirna saat Jiyeon terjatuh menimpanya. Gadis itu kehilangan kesadarannya di tengah-tengah momen romansa yang ia ciptakan.

“Demi Tuhan, kau benar-benar pingsan di saat seperti ini?”

***

Ff ini dipost tanpa melalui proses perbaikan (edit) jadi jika ada keganjalan, atau typo yang merajalela mohon diberitahu agar aku bisa memperbaikinya dengan cepat.

Flawless (A’Moore)

 

80 responses to “[Chapter – 4] FOREVER YOU : His Anger

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s