[ONESHOT] Cruel

cruel

Quinniechip’s Present

Cruel

Starring by Kim Myungsoo – Park Jiyeon – Han Sanghyuk

An Angst Oneshot for Teenager with Parental Guidance

Poster by nukiy @ art zone

-oOo-

Suara musik khas disko berdentum keras. Semua orang terlihat begitu menikmati musik dengan turun menuju lantai dansa dan menggerakkan tubuh mereka sesuai dengan irama. Semua yang berada disana tampak bahagia, kecuali satu orang, lelaki yang tengah duduk termenung di pojok ruangan. Garis-garis wajahnya berkerut. Wajahnya tampak bingung saat ini. Entahlah apa yang sedang dipikirkannya sekarang, terlalu sulit untuk ditebak.

“Aaarrgghh..!!”

Pandangan semua orang di sekitarnya kini tertuju padanya, dan semua tatapan mengganggu itu sama sekali tak digubrisnya. Ia masih bergelut dengan pikirannya sendiri.

“Ada apa?”

Suara seseorang tiba-tiba membuyarkan segala lamunannya. Ia menolehkan kepalannya memastikan seseorang yang baru saja mengganggunya. Melihat wajah sang sahabat yang tampak tersenyum, lelaki itu hanya mendengus lemah sambil menggelengkan kepalanya.

“Tak biasanya seorang Kim Myungsoo bersikap seperti ini, katakanlah pada sahabatmu ini, apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya sang sahabat lagi merasa tak puas dengan jawaban sebelumnya.

Lelaki yang dipanggil Myungsoo hanya diam dan tak menjawab lalu menegak minuman dalam gelas yang sedari tadi ia pegang dengan kasar.

“Hyuk-ah, apa yang harus aku lakukan?” Kini Myungsoo menatap mata sahabatnya dalam.

Hyuk memukul pipi Myungsoo pelan, “Jangan menujukkan tatapan itu padaku, sangat menjijikkan!”

“Sebenarnya ada apa?” Lanjut Hyuk lagi, “Katakan yang jelas.”

Myungsoo menarik nafasnya dalam sebelum memulai ucapannya, “Kau tahu, kan, biaya hidup saat ini semakin mencekik. Aku butuh makan, aku butuh tempat tinggal, dan lagi aku tidak tinggal seorang diri. Ada Jiyeon yang menjadi tanggung jawabku, ditambah Seoeun dan Seojun dengan segala kebutuhan yang harus selalu aku penuhi. Belum lagi lelaki tua yang tak pernah lelah menggedor pintu rumahku setiap hari.”

Hyuk menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Myungsoo hanya diam dengan kepala menunduk.

“Ah, aku tahu masalahmu saat ini, jadi sejak-”

“Aku butuh uang!” Potong Myungsoo cepat. Hyuk tak lagi membalas ucapan sahabatnya, dan kini keduanya sama-sama diam.

Myungsoo butuh uang sekarang! Tapi tak ada satu hal pun di sekitarnya yang dapat ia lakukan untuk mendapatkan uang. Kebutuhan hidup yang terus menuntut tanpa ada hentinya. Biaya hidup yang begitu mencekik lehernya.

Memang, hidup Myungsoo seketika berubah menjadi berat setelah ia ditinggalkan oleh kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan lalu lintas, dan beban hidupnya menjadi semakin berat setelah seluruh harta peninggalan ayahnya disita karena sang ayah diduga melakukan korupsi saat menjabat sebagai direktur keuangan dulu.

Myungsoo tak percaya dengan semua tuduhan itu. Ia yakin bahwa ayahnya tak mungkin melakukan hal semacam itu. Ia mengenal ayahnya sebagai sosok ayah yang baik dan bertanggung jawab, tetapi apa dayanya, tak ada yang dapat Myungsoo lakukan selain pasrah dan menerima keadaan. Memang siapa dirinya, hanya orang kecil dengan hak yang dengan begitu mudahnya dirampas oleh para tuan serakah.

Seharusnya Myungsoo tidak perlu melampiaskan amarahnya dengan minum dan pergi ke bar setiap hari. Seharusnya Myungsoo tahu bahwa itu akan semakin memperburuk masalahnya. Till’ the problem getting worse. Myungsoo menarik seorang gadis asing yang ia temui di tengah jalan, menciumnya kasar dalam keadaan tak sadar, dan berakhir dengan air mata dan getaran takut dari sang gadis yang duduk meringkuk di atas ranjang.

Myungsoo pikir ia tak akan pernah bertemu dengan gadis itu lagi, sesaat setelah gadis itu memberikan tamparan keras pada pipi Myungsoo dan pergi tanpa mengucap sepatah katapun. Tapi nyatanya, ia muncul kembali di depan wajah Myungsoo dengan keadaan yang cukup memprihatinkan, rambut yang berantakan dan sebuah koper yang ia bawa di tangan kanannya. Hanya satu yang ada dalam pkiran Myungsoo saat itu, apa yang terjadi pada gadis itu. Ternyata firasatnya sama sekali tak meleset, Jiyeon mengandung anak Myungsoo.

“Bagaimana dengan pekerjaanmu di cafe?” Tanya Hyuk membuka pembicaraan lagi.

Myungsoo menghela nafasnya pelan, “ Baik, tapi tak menghasilkan uang yang cukup.”

Lagi-lagi Hyuk hanya meganggukkan kepalanya, “Aku mengerti bahwa bekerja paruh waktu di sebuah cafe seperti itu tak akan mampu mencukupi biaya hidup, dan arena tinju malam juga tak setiap hari diadakan, apalagi dengan pengawasan polisi yang lebih ketat akhir-akhir ini.”

“Huh, lama-lama aku bisa mati jika harus bertanding setiap hari.”

Ya, seperti inilah kehidupan Myungsoo saat ini. Pagi hari, ia harus mengurus kedua anak kembarnya saat Jiyeon sibuk memasak dan mengurus rumah. Siang hari, ia memiliki tanggung jawab bekerja paruh waktu di sebuah cafe. Pada malam harinya, ia berubah total menjadi seorang petarung demi menambah uangnya. Jika ia menang dalam sekali pertandingan, tidak sedikit uang yang bisa ia terima.

Hanya inilah yang dapat ia lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Merelakan tubuhnya babak belur, juga tangannya yang harus selalu siap dan kuat untuk memukul lawannya.

Tak mungkin jika ia menumpahkan segala tanggung jawab pada Jiyeon, ia tidak sejahat itu, dan ia bukanlah seorang suami tega melihat istrinya bersusah payah. Tetapi, bukan Jiyeon namanya jika ia hanya santai melihat sang suami bekerja banting tulang demi dirinya. Jiyeon juga ingin membantu, Jiyeon juga ingin ikut meringankan beban biaya hidup keluarga kecilnya, karena Jiyeon bukanlah istri yang begitu tega membiarkan suaminya bekerja seorang diri.

“Hmmm.. Andai saja aku masih tinggal bersama orang-orang kaya itu, pasti aku bisa membantumu.” Gumam Hyuk lagi.

Myungsoo menatap Hyuk dan tersenyum kecil, “ Hei, yang kau sebut ‘orang-orang kaya’ itu adalah orang tua-mu sendiri. Lagipula aku tak akan menerima bantuan darimu, kau sudah terlalu baik padaku.”

“Hei! Apa yang kau katakan, aku ini sahabatmu, dan tak ada kata terlalu baik dalam persahabatan.”

Ucapan Hyuk hanya dibalas dengan senyum singkat Myungsoo. Hyuk memang terlalu polos dan lugu untuk berada ditengah-tengah kehidupan yang terlampau liar seperti ini. Merasakan hidup yang begitu keras secara terang-terangan seperti ini bukanlah hal yang baik bagi pewaris perusahaan terkenal seperti Hyuk.

“Aku bertemu dengan Madam Wang, dan ia mencarimu. Ia memberikan tawaran sebuah pertarungan, hadiahnya besar, dan jika kau mau, kau bisa datang ke arena besok malam.”

Tiba-tiba saja Myungsoo teringat akan sesuatu. Penawaran tadi siang yang baru saja dikatakan langsung oleh bawahan dari Madam Wang, tiba-tiba saja terngiang kembali. Penawaran yang cukup menggiurkan bagi keadaan Myungsoo saat ini. Tetapi ia tak yakin akan mengambilnya.

“Madam Wang..” Ucap Myungsoo ragu.

Hyuk mengerutkan dahinya bingung, “Apa?”

“Madam Wang memberikan penawaran-”

“Tidak! Jangan kau ambil.”

-O-

Seorang gadis terlihat tengah duduk diam dengan tangannya yang masih menyentuh adonan kue yang dibuatnya. Pikirannya tak fokus. Adonan kuenya terbengkalai begitu saja, ditinggal oleh pikirannya yang jauh melanglangbuana.

“Jiyeon-ah, kompornya!”

Teriakan seseorang tiba-tiba saja membangunkannya dari lamunan panjangnya. Mendengar apa yang dikatakannya tadi, Jiyeon langsung menoleh kearah kompor.

“Astaga! Donatnya!” Jiyeon berlari dan secepat mungkin ia langsung mematikan kompornya.

Asap abu-abu sudah mengepul di sekitar dapur rumah Jiyeon. Tangan Jiyeon sudah sibuk menutupi hidungnya dan mengipasi asap agar cepat hilang. Mata Jiyeon menatap penggorengan dan segala isinya. Sebuah benda bulat hitam tergeletak disana. Donatnya kini sudah tak berbentuk, dan sudah tak pantas untuk disebut sebagai kue.

Wajah Jiyeon berubah kesal seketika. Bibirnya manyun dan menggerutu. Bagaimana bisa ia begitu asyik melamun dan tak sadar sampai bisa jadi seperti ini?

“Jiyeon-ah, kau baik-baik saja?”

Suara seseorang yang sangat ia kenal memanggilnya. Jiyeon menoleh cepat, “Oh, Myungsoo-ah, kau sudah pulang?”

Tampak jelas raut khawatir dari wajah Myungsoo. Bagaimana tidak, jika saja ia tak datang saat tepat saat itu, mungkin saja rumah dan istrinya, juga kedua anaknya yang ia yakini sudah terlelap saat ini akan ikut terbakar bersama kompor dan gas yang meledak karena api.

Pandangan mata Myungsoo beralih pada panci-panci berisi adonan yang Jiyeon buat, “Masih belum selesai?”

Jiyeon menggeleng singkat, “Belum.”

Myungsoo menghela nafasnya pendek, lalu ia membungkuk mengambil panci-panci itu dan meletakannya di dalam kulkas, “Lanjutkan besok saja, ini sudah malam dan kau harus tidur.”

Jiyeon hanya mengangguk patuh. Belum sempat Jiyeon melangkah, panggilan sang suami kembali menghentikan langkahnya.

“Apa ada masalah?”

Jiyeon terdiam. Ia sudah senang saat Myungsoo tak mengatakan apa-apa dan menyuruhnya pergi tidur tadi. Tetapi ternyata sang suami sadar, pasti ia curiga akan keteledorannya kali ini.

“Tidak. Semuanya baik-baik saja.” Jiyeon mencoba tenang dengan terus tersenyum  di depan Myungsoo. Mencoba menutupi semuanya.

Myungsoo memicingkan matanya kemudian, “Jangan bohong,”

“Aku ingat jika beberapa minggu terakhir kau tidak pernah menanyakan tentang biaya sewa rumah lagi. Apa itu masalahmu?”

Jiyeon tertohok seketika dengan ucapan Myungsoo. Bagaimana bisa Myungsoo menebaknya dengan begitu tepat? Jiyeon bingung, apakah ia harus menceritakannya. Jiyeon sama sekali tidak mau melihat suaminya semakin terbebani karenanya. Tetapi apalagi yang bisa ia lakukan selain mengatakan semuanya pada Myungsoo.

“Ini..”

Jiyeon mengeluarkan sebuah amplop surat dari saku belakang celananya. Myungsoo memandangnya bingung sebelum ia mengambil dan membacanya.

Dua menit kemudian wajah Myungsoo berubah pias. Helaan nafas panjang keluar dari mulutnya. Ia sudah tahu, cepat atau lambat ini akan terjadi. Benar saja, sudah tiga bulan ini ia menunggak biaya sewa, dan jika tidak segera dibayar, mereka terancam diusir dari rumah yang mereka tempati saat ini.

Hanya  senyuman yang bisa Myungsoo berikan. Ia mencoba menenangkan hati sang istri, bersikap bahwa semuanya akan baik-baik saja. Walau hatinya sendiri juga melawan.

Lagi-lagi pikiran itu datang kembali. Penawaran dari Nyonya Wang. Pertarungan itu, haruskah aku mengambilnya? Mungkin inilah yang terbaik saat ini. Demi dirinya, juga Jiyeon, dan kelangsungan hidup keluarganya.

-O-

Sudah ia tetapkan, jika ia akan menerima pertandingan itu. Myungsoo menerima pertarungan yang ditawarkan Madam Wang, dan ia datang malam ini.

Entah mengapa, Hyuk sejak tadi terus ribut mengajak Myungsoo pulang, tak pernah sekalipun Hyuk bersikap seperti ini. Sebelumnya Hyuk selalu menghormati segala keputusan yang Myungsoo ambil, walau ia sedikit berat untuk menyetujuinya. Tapi sepertinya tidak berlaku untuk kali ini. Hyuk terus menerus mengatakan jika sebaiknya Myungsoo mengundurkan diri sebelum terlambat.

“Myungsoo-ya, sudah, kita pulang saja.” Rengek Hyuk terus sejak tadi.

Myungsoo yang tengah bersiap dengan segala perlengkapannya sama sekali tak menggubris rengekan Hyuk yang terus menarik-narik lengannya.

“Myungsoo-ya, ini tidak baik! Kau tahu, kan, jika Madam Wang sangat menakutkan. Wanita itu sadis. Bukankah dulu kau sudah berjanji tak akan pernah mengikuti Madam Wang lagi.”

Myungsoo menepis tangan Hyuk pelan, “Hyuk-ah, kau tahu, kan, jika aku butuh uang. Inilah jalan satu-satunya untuk mendapatkan itu.”

“Tidak,” Larang Hyuk lagi, “Aku bisa mencarikan pinjaman atau apapun, atau aku akan kembali pulang dan meminta-”

“Sudah terlambat jika kau mengatakannya sekarang, Hyuk. Pertandingan akan segera dimulai.”

Myungsoo pergi meninggalkan sahabatnya dalam diam. Belum sempat ia melangkah jauh, Myungsoo membalikkan tubuhnya, “Jika aku tidak berhasil, aku mohon jaga Jiyeon juga kedua malaikat kecilku.”

Malam ini begitu pekat. Udaranya sungguh dingin menusuk kulit. Semua orang yang berkumpul sibuk merapatkan jaketnya masing-masing.

Lampu sorot sudah bergerak menyala di sekeliling panggung, atau yang lebih tepat disebut dengan arena pertandingan. Sang pembawa acara telah membuka acaranya dan menghadirkan sang juara bertahan dan sang penantang yang siap bertarung kali ini.

Hyuk terus memperhatikan sahabatnya yang kini berdiri di tengah arena dengan wajah khawatirnya. Hatinya sama sekali tak tenang. Hyuk tahu bahwa Myungsoo adalah salah satu petarung hebat andalan Madam Wang. Tapi ia merasa bahwa hari ini akan berbeda dari hari-hari sebelumnya.

Suara denting lonceng menandai bahwa pertandingan dimulai. Sorak sorai para penonton begitu riuh mengikuti jalannya pertandingan. Mereka meneriakkan nama jagoannya masing-masing. Tak jarang nama Myungsoo pun disebut-sebut.

Buukkk…!

Satu pukulan. Dua pukulan. Satu lagi balas. Itulah yang terjadi selama pertandingan berlangsung. Pertandingan ini milik Madam Wang, dan peraturannya pun dia yang menentukan. Istirahat per babak hanya tiga puluh detik dan pertandingan berlangsung tanpa dilengkapi dengan alat pengaman. Sungguh kejam!

Dingin sudah tak dirasakan Myungsoo, walaupun ia berdiri tanpa atasan. Panas dan keringat sudah mendominasi tubuhnya. Luka lebam sudah mulai menghiasi wajah Myungsoo. Bibir yang berdarah tergesek oleh gigi depannya.

Buuukk..! Satu pukulan menyentuh pipi Myungsoo. Tubuhnya oleng dan jatuh. Kakinya sudah terlalu lemas untuk kembali berdiri, bahkan tangannya pun sudah tak kuat lagi menopang tubuhnya untuk duduk.

Buukk! Buuuk! Buuukkk! Bertubi-tubi pukulan yang masih diberikan sang lawan untuknya. Melihat keadaan Myungsoo secara manusiawi, seharusnya ia tak pantas lagi untuk dilemahkan, ia sudah terlampau kalah untuk menang.

Buuukkk..!!!

Satu pukulan terakhir. Begitu keras dan menyakitkan. Sorak sorai penonton hilang. Suasana mendadak hening. Sang lawan tak lagi memberikan pukulan, dan Myungsoo, tak lagi bergerak.

“Kim Myungsoo..!”

Teriakan seseorang ditengah-tengah  ratusan penonton memecah keheningan. Hyuk menerobos begitu banyak orang disekitarnya dan berlari menuju Myungsoo.

Sudah tergeletak tak begerak. Myungsoo masih bernafas kecil dan tubuhnya masih hangat. Hyuk disampingnya masih menangis mencoba menyadarkan Myungsoo.

Perlahan mata Myungsoo terbuka, walaupun rasanya sulit, Myungsoo tetap berusaha menahan rasa sakitnya.

“Hyuk-ah.. terimakasih.. dan tolong.. jaga Jiyeon.. juga Seoeun dan Seojun.. untukku..”

Lagi. Myungsoo menutup matanya lagi. Tubuhnya sudah sama sekali tidak bergerak. Nafasnya pun telang hilang. Hembusan nafas terakhir telah dilakukannya tepat ketika ia menyampaikan pesan terakhirnya.

Myungsoo telah pergi, menyusul ayah dan ibunya. Meninggalkan segalanya. Meninggalkan sahabatnya. Dan satu yang terpenting, Myungsoo meninggalkan keluarga tercintanya, Jiyeon bersama kedua malaikat kecilnya, Seoeun dan Seojun.

END-

Halooh~ Duh ketemu lagi ya ehehe😀 Sebenernya akhir-akhir ini, ngga tau kenapa aku lagi nggak ada ide sama sekali buat nulis, ya kosong aja gitu, keinginan buat buka ms. word aja nggak ada /ketauanmales/ Dan gara-gara nggak ada kerjaan itu, aku jadi iseng buka-buka file dan eh nemu cerita ini. Sebenernya ini udah lama aku bikin, tapi cuma teronggok tersimpan di dalam leptop begitu saja~ Asal sih sok-sok bikin angst tapi jadinya zonk ya..

Ah iya ngomong-ngomong anak kembarnya Myungsoo sama Jiyeon, aku pake Seoeun sama Seojun. Ada yang tahu nggak? Kalo yang ngikutin Return of Superman pasti tahu deh~ Lee Hwijae ahjusshi, pinjem anaknya dulu ya pak..

Comment please yes! Sarannya juga boleh kok~

53 responses to “[ONESHOT] Cruel

  1. waduh akhirnya berakhir tragis.. gimana nasib jiyi selanjutnya… ahhh ga kebayang tapi jarang nemu alur cerita beginian biasanya nemu cerita myungyeon selalu hidup dengan bergelimangan harta dan ini tidak ^^ daebak ff nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s