[FICLET] RAIN

untitled-11Title : Rain

Author : Yan Hee

Main Cast :

Park Jiyeon (T-ara)

Oh Sehun (Exo)

Other Cast :

Lee Jae Hwan (Vixx)

Genre : Friendship, sad, little romance

Rate : Teen

Credit Poster : SilentGirl@HSG

~

Setelah sekian lamanya menghilang akhirnya aku comeback dengan membawa ff Hunji (Sehun & Jiyeon). Ff ini aku persembahkan untuk diriku yang hari ini sedang berulang tahun. Ada yang kangen aku nggak? (#plak). Oke, abaikan yang satu ini. Langsung aja check it out. Maaf, kalau ceritanya gaje alias gak jelas.

Happy Reading!!!

Don’t forget to RCL!!!

Untuk yang mau tahu wp baruku, bisa visit disini.

***

Jiyeon mendongak ke atas menatap langit yang tampak mendung.

“Sepertinya akan turun hujan” gumamnya.

Ia lalu menengadahkan tangannya ke atas dan bersamaan dengan itu hujan turun. Semakin lama semakin deras membasahi tubuh yeoja cantik itu. Dan Jiyeon tidak peduli akan hal itu.

“Aku merindukanmu, Sehun-ah”

Flashback On

“Kau kenapa, Jiy?” Kau tampak pucat. Apa kau sakit?” tanya Sehun sambil memandang wajah Jiyeon-sahabatnya sekaligus teman sekelasnya itu. Ngomong-ngomong mereka berdua saat ini berada di dalam kelas.

Sehun hendak menempelkan tangannya ke dahi Jiyeon tapi segera dicegah oleh yeoja cantik itu.

“Aku tidak apa-apa” ucap Jiyeon terkesan dingin. Ia lalu bangkit dari duduknya berjalan keluar kelas.

Sehun memandang punggung Jiyeon yang semakin menjauh. “Ada apa dengannya? Tidak biasanya ia seperti itu. Apa dia sedang PMS?”

Jiyeon berjalan menuju ruang uks. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Ia lalu mempercepat langkah kakinya agar cepat sampai di ruang uks.

Dari arah kejauhan, seorang namja tampak memperhatikannya. Namja itu sepupunya, Ken namanya. Ken lalu berjalan mengikuti Jiyeon.

Setelah sampai di ruang uks, Ken lebih memilih menunggu di luar.

“Kajja, aku antar kau pulang!” ajak Ken setelah Jiyeon keluar dari ruang uks.

Jiyeon sedikit terkejut dengan kehadiran Ken. “Aku tidak apa-apa, Ken” jawabnya.

“Sudahlah, Jiy. Jangan berbohong”

Saat Jiyeon hendak menjawab, tiba-tiba kepalanya mendadak pusing. Padahal ia sudah minum obat pereda pusing tadi. Jiyeon memejamkan matanya sebentar berusaha menormalkan penglihatannya tadi yang sempat kabur. Ken yang melihat itu langsung merangkul Jiyeon dan menuntun sepupunya itu menuju parkiran mobil. Dan Jiyeon hanya bisa menurut.

__

__

“Sehun-ah” panggil Ken pada Sehun yang tengah berjalan.

Sehun menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.

“Ada apa, Ken?” tanya Sehun. Ya, Sehun sudah kenal dengan Ken dan mereka berteman.

“Jiyeon sakit” ucap Ken.

“Sakit?” ulang Sehun. Raut wajah Sehun tiba-tiba berubah menjadi khawatir.

Ken yang melihatnya tersenyum kecil. “Kau bisa menjenguknya nanti” ucap Ken.

“Baiklah kalau begitu, aku ke kelas dulu ya!” ucap Ken sambil menepuk pundak Sehun.

.

Sehun tidak bisa berkonsentrasi kali ini. Pikirannya melayang memikirkan keadaan Jiyeon. Ia benar-benar khawatir. Jung saem yang melihat itu langsung menegurnya.

“Sehun-ssi, apa yang kau lamunkan? Sepertinya dari tadi kau tidak mendengarkan penjelasan saem”

“Ah, ne? Mianhae, saem. Saya tidak enak badan dan kepala saya sedikit pusing, saem. Bolehkah saya ijin pulang, saem?” ucap Sehun berbohong. Ia terpaksa berbohong karena ia ingin sekali menjenguk Jiyeon.

“Oh, begitu. Baiklah, kau boleh pulang”

“Ah, ne. Terima kasih, saem” Setelah mengatakan itu, Sehun lalu memberesi peralatan sekolahnya dan memasukkannya ke dalam tas. Ia lalu pamit pada Jung saem dan segera berjalan keluar kelas.

.

Mobil Sehun melaju menuju kediaman keluarga Park. Penjaga kediaman keluarga Park segera membukakan pintu gerbang agar mobil Sehun bisa masuk ke halaman kediaman keluarga Park.

Sehun turun dari mobilnya dan berjalan menuju kediaman keluarga Park yang mewah bak istana itu.

“Annyeong” sapa Sehun pada salah seorang pelayan yang baru saja membukakan pintu untuknya.

“Ah, tuan muda Sehun” Pelayan itu membungkukkan badannya sedikit. “Apakah anda ingin menjenguk nona muda Jiyeon?” tanya pelayan yang bernama Luna itu.

“Ah, ne” jawab Sehun. “Kalau begitu, aku ke kamar Jiyeon dulu ya?”

“Ah, ne tuan. Silahkan!”

.

Sehun memandangi Jiyeon yang sedang terlelap. Ia menyunggingkan senyum tipisnya melihat wajah Jiyeon yang masih saja cantik walaupun terlelap. Ia lalu menggerakkan tangannya untuk membelai pipi Jiyeon. Merasa ada sentuhan di pipinya, mata Jiyeon terbuka. Ia menatap wajah Sehun.

“Sehun”

“Ne, ini aku”

Jiyeon lalu berusaha bangun dari tidurnya. Dengan sigap Sehun membantunya.

Jiyeon mengamati Sehun yang masih memakai seragam sekolah. “Apa kau membolos?”

“Tidak, aku tidak membolos. Aku hanya ijin pulang”

“Ijin pulang? Memangnya kau kenapa? Kau sakit?”

“Tidak. Aku tidak sakit. Aku berbohong pada Jung saem”

Jiyeon hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menanggapi ucapan Sehun.

__

__

Sehun masuk ke dalam kelasnya.

“Kenapa kau masih ada disini?” tanya Sehun saat matanya menatap Jiyeon yang masih duduk di kursinya. Semua teman-temannya sudah pulang dari tadi.

Jiyeon menatap sinis Sehun. “Itu bukan urusanmu”

Sehun tersenyum kecil. Ia lalu berjalan menuju bangkunya. Ia memberesi semua peralatan sekolahnya dan memasukkannya ke dalam tas.

“Baiklah, aku pergi dulu ya!” pamit Sehun lalu berjalan keluar kelas.

“Kau menjengkelkan” ucap Jiyeon dengan volume cukup keras. Sukses membuat langkah Sehun terhenti.

Ia lalu menoleh ke belakang dan berjalan menghampiri Jiyeon.

Sehun menatap wajah Jiyeon yang nampak kesal.

“Kau darimana saja?” tanya Jiyeon dengan nada ketus.

“Menurutmu?” tanya balik Sehun.

Jiyeon menatap Sehun tajam. Sedangkan Sehun ia hanya tersenyum kecil.

“Jangan menatapku seperti itu! Kau tampak menakutkan, Jiy”

Jiyeon mengendus kesal.

“Aku dari taman belakang”

Jiyeon memicingkan matanya. “Untuk apa kau kesana? Apa kau baru berkencan dengan Irene?” tanya Jiyeon.

“Sudah berapa kali ku katakan. Aku dan Irene hanya berteman, Jiy” jawab Sehun.

Ngomong-ngomong Irene adalah teman Sehun. Mereka berteman karena sama-sama mengikuti kegiatan ekstrakurikuler baseball. Irene adalah anggota baru di klub. Ia selalu mendekati Sehun dan sepertinya ia menyukai namja tinggi itu. Dan itu membuat Jiyeon kesal.

“Berteman? Apa jalan-jalan bersama di sungai han itu bisa dikatakan kalau kalian hanya berteman?”

Sehun tersenyum evil. “Apa kau sedang cemburu?”

Jiyeon tersenyum mengejek. “Aku cemburu? Itu tidak mungkin” ucapnya.

“Aku pulang dulu!” pamit Jiyeon lalu memakai tasnya. Ia berjalan keluar kelas meninggalkan Sehun. Sedangkan Sehun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menatap punggung Jiyeon.

__

__

Jiyeon menatap tajam dua orang yang tengah asyik berbicara di meja ujung sana. Sekarang ini ia sedang berada di kantin. Ken yang kebetulan duduk disampingnya menatap wajah Jiyeon. Ia lalu mengikuti arah pandang sepupunya itu. Ken nampak tersenyum kecil setelahnya.

“Sepertinya kau tengah cemburu pada seseorang. Apa aku benar?”

Jiyeon mengalihkan pandangannya menatap Ken. “Itu bukan urusanmu” jawab Jiyeon ketus. Ia lalu meminum susu stroberinya.

“Jiy, sepertinya kau harus mengungkapkan perasaanmu itu pada Sehun. Sebelum yeoja itu merebut Sehun darimu. Karena yang aku lihat, yeoja itu sepertinya menyukai Sehun dan Sehun sepertinya juga menyukainya” bisik Ken.

“Apa maksudmu? Apa kau kira aku menyukai Sehun? Tidak, aku tidak menyukainya”

“Sudahlah, jangan berbohong. Aku sudah lama mengenalmu, Jiy. Jadi, aku tahu dirimu itu seperti apa”

Jiyeon menatap wajah Ken. “Ya, aku memang menyukainya”

__

__

“Setelah kau lulus, appa ingin kau melanjutkan pendidikanmu ke USA. Tepatnya kuliah di Universitas Harvard mengambil jurusan bisnis disana. Appa ingin kau meneruskan perusahaan appa” ucap tuan Park pada putrinya.

“Oh iya, appa ingin kau lulus dari JR Senior High School dengan hasil memuaskan. Buat appa banga. Jadi, appa mohon kau fokus pada sekolahmu dulu”

Jiyeon menatap appanya tanpa ada sepatah katapun keluar dari mulutnya.

__

__

“Bagaimana? Kapan kau menyatakan perasaanmu pada Sehun?” tanya Ken menghampiri Jiyeon yang tengah berjalan dari arah parkiran.

Jiyeon menghentikan langkahnya lalu menggelengkan kepala. “Aku tidak ada waktu untuk itu”
“Apa maksudmu?”

“Kemarin appa mengatakan setelah aku lulus, appa ingin aku melanjutkan pendidikanku ke USA. Tepatnya kuliah di Universitas Harvard mengambil jurusan bisnis disana. Appa ingin aku meneruskan perusahaan appa. Lalu, appa juga ingin aku lulus dari JR Senior High School dengan hasil memuaskan. Katanya, buat appa banga. Appa juga berpesan, kalau aku harus fokus dulu pada sekolahku”

“Lalu?”

“Aku memutuskan melupakan perasaanku pada Sehun”

“Kenapa begitu?”

“Sudahlah, Ken. Ku mohon jangan bicara seperti itu lagi!” ucap Jiyeon lalu kembali meneruskan perjalanannya.

***

Tidak terasa, hari kelulusan pun tiba. Wajah Jiyeon nampak berseri-seri setelah wisuda selesai.

“Chukae, kau memang yang terbaik, Jiy” ucap Ken.

“Gomawo, Ken. Kau juga”

“Ayo, kita berfoto bersama!” ajak Ken. Ia lalu mendekat ke Jiyeon.

“Hana dul set” ucap Jiyeon dan Ken bersamaan.

“Kau tampak cantik, Jiy” puji Ken.

“Gomawo” ucap Jiyeon sambil tersenyum manis.

Jiyeon lalu memandang namja berwajah tampan yang tengah berdiri di ujung sana dengan tatapan sendu. Ken yang melihatnya merasa kasihan.

“Kuatkan dirimu. Kau pasti bisa, Jiy. Semangat!” ucap Ken.

“Gomawo, Ken. Kau memang sepupuku yang paling baik”

“Jiy”

“Sehun”

“Chukae. Aku bangga padamu”

“Gomawo”

“Bolehkah aku berfoto bersamamu?” tanya Sehun

“Boleh” jawab Jiyeon dengan senyuman. Jujur, sebenarnya ia masih menyukai sahabatnya itu. Tapi ia tidak ingin membuat orang tuanya kecewa. Ia ingin membanggakan 2 orang yang sudah merawat dan membesarkannya itu.

“Hana dul set” ucap Jiyeon dan Sehun bersamaan.

“Apa kau ada waktu? Ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan padamu”

Jiyeon mengenyitkan dahinya. “Ada. Kau ingin bicara apa?”

“Bukan disini. Kajja, ikut aku!” ajak Sehun lalu memegang pergelangan tangan Jiyeon.

Ken yang melihatnya tersenyum penuh arti.

.

“Johae. Ah, ani-ani. Saranghae, Jiy” ucap Sehun.

Jiyeon mengerjap-ngerjapkan matanya. “Apa kau sedang becanda?”

“Apa kau melihat jika sekarang ini aku sedang becanda?”

Jiyeon diam setelah mendengar jawaban Sehun. Ia benar-benar bingung sekarang.

“Mianhae, Sehun. Aku_”. Ucapan Jiyeon terputus karena tiba-tiba Sehun mencium bibirnya.

Sehun memegang pinggang ramping Jiyeon. Mendekatkan tubuh Jiyeon ke arahnya. Awalnya Jiyeon ingin memberontak, tapi lama-kelamaan ia terhanyut dan membalas ciuman Sehun. Ia menganggap ciuman ini adalah ciuman perpisahan sebelum ia pergi ke USA.

Jiyeon melingkarkan tangannya di leher Sehun. Kedua insan itu nampak asyik berciuman, tidak mempedulikan keadaan sekitar. Mata keduanya sama-sama terpejam.

Sehun akhirnya mengakhiri ciumannya dengan Jiyeon. Nafas keduanya tampak tersenggal-senggal.

“Aku tahu setelah ini kau akan melanjutkan pendidikanmu di USA. Lebih tepatnya kuliah di Universitas Harvard dan mengambil jurusan bisnis disana” ucap Sehun setelah napasnya kembali normal.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Ken memberitahuku”

Jiyeon diam.

“Tentang Irene, kau salah paham. Ia tidak menyukaiku, Jiy. Lagipula dia sudah dijodohkan dengan putra teman orang tuanya”

“Benarkah?”

“Ne. Untuk apa aku berbohong padamu?”

“Jiy”

“Ne?”

Sehun menggenggam jemari Jiyeon. “Ku mohon jangan menolakku dengan alasan kau akan melanjutkan pendidikanmu ke USA, Jiy. Karena aku akan dengan setia menunggumu kembali. Aku benar-benar mencintaimu, Jiy”

“Apa kau bisa memegang ucapanmu? Karena jujur aku juga mencintaimu, Hun”

Sehun menyunggingkan senyum manisnya. Ia menatap wajah Jiyeon dengan ekspresi bahagia.

“Kapan kau berangkat ke USA?”

“Nanti malam”

“Bolehkah aku mengantarmu?”

“Jangan!” cegah Jiyeon.

“Kenapa?”

“Aku hanya tidak ingin jika aku melihat wajahmu, aku tidak bisa pergi dan meninggalkamu, Hun”

“Baiklah”

Sehun lalu memegang pipi Jiyeon. Dan…

CUP

Sehun kembali mencium bibir Jiyeon dan Jiyeon membalasnya. Tiba-tiba langit mendung dan setelahnya hujan turun. Tapi kedua insan itu tidak peduli. Mereka masih berciuman di bawah guyuran hujan.

Flashback Off

Jiyeon berjalan lunglai menuju apartemennya. Ngomong-ngomong pakaiannya tidak basah karena ia tadi membeli baju baru di sebuah toko pakaian dan segera menggantinya. Matanya menangkap punggung seorang namja bertubuh tinggi yang berdiri di depan pintu apartemennya. Jiyeon mengeryitkan dahinya sambil tetap terus melangkahkan kakinya menuju apartemennya.

“Permisi, anda siapa?”

Namja bertubuh tinggi itu menoleh.

“Sehun” ucap Jiyeon dengan ekspresi terkejut.

“Apa benar kau Sehun, Oh Sehun?”

“Ne, ini aku Sehun, Oh Sehun”

Jiyeon lalu memeluk tubuh Sehun sebentar.

“Hiks, mianhae. Aku jarang menghubungimu, Hun. Aku-aku_”

Ucapan Jiyeon terhenti karena tiba-tiba Sehun meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.

“Aku merindukanmu, Jiy” Sehun lalu memeluk Jiyeon.

“Aku juga merindukanmu, Hun” ucap Jiyeon lalu membalas pelukan Sehun.

END

17 responses to “[FICLET] RAIN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s