[FREELANCE – ONESHOOT] SYNDROME

ls-syndrome

Thankyou for the lovely poster by qawaqawaqawa @HSG

Title                 : SYNDROME

Main Cast        : INFINITE’s L and TARA’s Jiyeon

Support Cast    : EXO’s Chanyeol and MISS A’s Suzy

Genre              : School Life, Sweet, Fluff!

Rating              : General

Length             : Oneshot

Disclaimer       : The Cast(s) are not mine, but the plot is mine. Please don’t be a Plagiator and Re-   Post this fanfict without my permission.

Summary         : Mereka bilang Jiyeon mengidap Syndrome yang –sebenarnya— kelewat biasa. Sebuah Syndrome yang pada saat tertentu bisa menjadi begitu menyenangkan, dan pada waktu lainnya akan berubah menjadi sangat menyakitkan. Sesuatu yang sudah banyak diderita gadis-gadis seusianya, bahkan teman-teman satu sekolahnya. Syndrome yang namanya terdengar asing, tak kan dijumpai di Internet atau buku-buku yang memuat kumpulan Syndrome lainnya.

.

.

.

.

.

Namanya L’s Syndrome.

.

.

.

|  Jeska presented. 24 July 2014 |

Hari itu adalah hari yang cukup cerah. Hari yang menjadi penentu awal musim semi. Hari senin pertama untuk seorang Park Jiyeon yang baru naik ke kelas tiga di sekolah menengah atas. Dengan semilir angin yang terasa menyejukkan, burung-burung bertengger diatas pohon yang rindang; berkicau riang membentuk koor bersuara riuh rendah yang merdu. Juga bunga-bunga yang bermekaran disetiap sudut jalan, bewarna-warni dengan kelopak-kelopak yang berbeda jumlah—tampak sangat indah dengan batang kecil kokoh yang menyangganya dan daun-daun hijau muda disekitarnya.

Park Jiyeon kala itu tengah duduk disebuah halte, menunggu bis yang akan menjemputnya dan mengantarkan ke sekolah. Bis berwarna merah kusam yang sudah menjadi alat transportasinya selama kira-kira tiga tahun. Tak heran jikalau sang pengemudi  akan tersenyum bahkan menyapanya dengan akrab, tatkala kakinya baru selangkah memasuki kendaraan umum tersebut.

“Apa aku terlalu cepat? Kenapa bis-nya lama sekali?” gerutu Jiyeon sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Memutar kepala ke kiri dan kanan, bermaksud melihat apakah bis yang ditunggunya akan sampai dalam waktu dekat.

Mungkin memang Jiyeon terlalu cepat berkemas. Terlalu terburu-buru menghabiskan sarapan, semata-mata karena takut terlambat di hari pertamanya memasuki tahun ajaran baru. Ia bahkan tak sempat mengikat tali sepatu dengan benar, membuat benda panjang berwarna  hitam itu menjuntai di kedua sisi sepatunya.

Dan Jiyeon baru menyadari hal tersebut setelah helaan napas yang ketiga.

“Aku tak pernah bisa mengikat tali sepatu dengan baik. Apa ini termasuk salah satu kelainan? Syndrome, mungkin?” Jangan salahkan Jiyeon yang suka bergumam kepada diri sendiri. Kendati hal itu akan tampak lebih baik daripada harus berbicara dengan suara normal mengingat tak ada seorang pun yang bisa diajaknya berbincang.

Sore kemarin, saat Jiyeon sedang membuka Internet untuk melihat daftar Drama Korea terbaru tahun 2014, secara tak sengaja ia menemukan sebuah blog yang menyediakan pingback berupa jenis-jenis Syndrome yang sering dialami para remaja. Dan Jiyeon menekan link tersebut pada layar handphone-nya tanpa pikir panjang, menunggu beberapa saat sampai halaman itu terbuka. Mulai membacanya dengan seksama, sesekali mengerutkan kening ketika tak memahami sejumlah kata asing yang tertera.

“Agasshi, kau tidak ingin naik bis?”

Jiyeon terkesiap, lamunannya terhenti seketika. Ia mendongak, sedikit meringis dengan tampang bodoh. Sesaat lalu melupakan suara berat sang supir bis yang sudah sangat dikenalnya.

“Ah. Ne,” jawab Jiyeon sambil memasang senyum manis. Menyadari otaknya yang terlalu lama berpikir. Ketahuan sedang melamun di sebuah halte dalam kondisi yang sangat tidak bagus membuatnya merasa harus cepat-cepat menyembunyikan gurat-gurat malu yang terpatri di wajah. Lantas kaki-kaki jenjangnya mulai meniti satu-persatu anak tangga.

Menemukan tempat yang tepat, Jiyeon segera menghempaskan dirinya di tempat duduk yang terletak bersebrangan dengan pintu masuk. Disebelah jendela kaca yang memungkinkannya melihat pemandangan luar. Lima detik setelahnya, saat sang supir mulai menginjak gas pelan-pelan. Namun suara nyaring dari luar yang terkesan memerintah membuat Jiyeon menoleh secepat kilat. Sedikit merasakan tulang lehernya bergemeretak, tak dapat menahan rasa penasaran yang entah kenapa tiba-tiba membuncah.

Bis pun berhenti secara mendadak.

Dari pintu yang kembali terbuka, Jiyeon sedikit melongok untuk bisa melihat siapakah gerangan pemuda yang tadi berteriak kencang meminta bis berhenti.

“Tuan muda Kim, maaf saya tidak melihat anda. Silahkan pilih tempat yang paling nyaman. Sekali lagi maaf.” Meski mendengar dengan jelas perkataan sang supir, perhatian Jiyeon sepenuhnya terpusat pada lelaki itu. Lelaki yang bernama Tuan muda Kim.

Ah, tidak tidak. Namanya bukan Tuan muda Kim, Jiyeon. Itu hanya panggilannya saja.

Jiyeon—yang masih melongokkan kepalanya—menatap pemuda tampan itu dengan mulut nyaris menganga. Pikirannya melayang-layang, tak dapat berhenti mengagumi garis wajah tegas sang pemuda serta tubuh jangkungnya yang tegap. Rasanya baru kali ini melihat langsung seseorang yang auranya membuat pingsan, hampir-hampir mengubah seluruh tubuh Jiyeon menjadi jelly ketika tak sengaja manik mereka bertemu.

“Chogiyo, boleh aku duduk ditempatmu?” Suaranya berat, jakunnya naik turun ketika ia berbicara. Aroma tubuhnya yang maskulin sekali lagi membuat Jiyeon terpesona dengan ukuran keterlaluan.

Sialnya, lima detik berlalu dengan memalukan ketika Jiyeon tak juga menyadari sang pangeran berkuda putih ini bertanya kepadanya; dengan tampang datar sekaligus heran.

“T-tentu.” Jiyeon bersyukur ia dapat mengumpulkan suaranya kembali. Meskipun tatapan aneh dari hampir seluruh penghuni bis menghujaminya.

Pemuda itu mengangguk singkat. Mempersilahkan Jiyeon beranjak dan duduk dikursi sebelahnya, sementara ia langsung menghempaskan diri di tempat Jiyeon duduk tadi. Terkesan tak sopan memang, meminta orang tak dikenal untuk memberikan tempat duduknya yang terlihat nyaman. Terlebih bukan tidak ada tempat kosong yang lain. Kendati bis ini memang selalu datang pagi, disusul bis biru tua yang biasanya datang lima belas menit kemudian—diisi dengan anak-anak sekolahan yang sering bangun terlambat serta malas ke sekolah.

“Bisakah kau tidak melihatku dengan tatapan seperti itu?” Untuk yang kesekian kalinya, Jiyeon terkesiap dengan wajah memerah. Kepergok menatap lelaki disampingnya diam-diam; terlalu mengagumi keindahan fisiknya.

“M-maaf.” Gumam Jiyeon seraya menundukkan kepala.

***

Sudah tiga hari berlalu sejak pertemuan pertama Jiyeon dengan si Pangeran tampan dari negeri dongeng. Selama hampir setengah dari waktu istirahatnya di sekolah, ia habiskan untuk membayangkan wajah si pemuda asing yang meminta tempat duduknya di dalam bis. Selama tiga hari itu pula Jiyeon selalu berharap dapat bertemu dengan sosok yang tak dapat hilang dari otaknya.

Tapi pemuda itu tak lagi ia temukan.

Informasi terakhir yang Jiyeon dapat adalah dia seorang anak konglomerat; hidup mewah, sifat angkuh, dikerubungi para gadis— Semua fakta tentang orang kaya sudah tertera di kepala Jiyeon ketika mendengar perkataan salah seorang temannya kemarin pagi. Jika biasanya Jiyeon memilih untuk menjaga pergaulan dengan orang-orang seperti itu, entah kenapa kali ini ia justru merasa ingin tahu.

Cuaca yang tak begitu cerah menyambut langkah kakinya yang berjalan pelan menuju halte bis—yang hanya berjarak 2 blok dari rumahnya. Gerutuan-gerutuan kecil pun tak lepas dari bibir mungil gadis itu perihal tali sepatunya yang lagi-lagi tak terikat dengan benar. Bahkan ketika menghempaskan diri di atas kursi halte, Park Jiyeon masih saja mengomel tidak jelas. Kali ini ia kembali datang terlalu pagi. Tak ada seorang pun yang berada disini kecuali dirinya dan seorang gadis bersurai hitam panjang yang sedang memainkan smart phone putih-nya.

Jiyeon merasa tak mengenal gadis itu. Wajahnya terlihat menekuk dengan bibir mengerucut. Dari ekor mata, Jiyeon dapat melihat betapa mewah jam tangan dan gelang yang ia gunakan. Dan lagi seragam yang dikenakannya berbeda dengan seragam sekolah Jiyeon.

Angin berhembus cukup kencang melewati celah dirinya dan si gadis kaya yang tak kunjung menyadari kehadirannya. Waktu berlalu kelewat cepat ketika Jiyeon tersentak kaget, dengan mata membulat dan mulut yang nyaris terbuka lebar.

Si pangeran tampan tau-tau datang dengan motor hitam metalik-nya, melepas helm yang semula menutupi wajah dan berjalan santai mendekati sang gadis yang hampir-hampir sama terkejutnya dengan Jiyeon.

Seperti berada di dalam cerita dongeng, Park Jiyeon merasa mendapat peran antagonis yang berniat merebut sang putra mahkota dari wanita pilihannya. Apalagi ketika tangan pemuda itu mendarat bebas tanpa ragu di puncak kepala si gadis—yang kini tersenyum lebar seraya berkata dengan nada manja, “Aku kira Oppa tak akan mau mengantarku ke sekolah.”

“Maaf. Yang penting sekarang aku sudah disini, ayo kita pergi.”

Tiang halte yang terlihat kokoh ini rasanya bergoyang, tempat duduknya yang kuat pun terasa berguncang, bahkan setitik air yang mulai jatuh perlahan ke atas permukaan bumi tak dapat membuat Jiyeon terlepas dari keterkejutannya.

Padahal seorang Park Jiyeon jarang sekali jatuh hati kepada pria di pandangan pertama. Choi Minho—si kakak kelas populer— saja harus melakukan pendekatan dengannya selama satu bulan untuk diterima menjadi kekasih. Namun lelaki berambut hitam pekat dengan iris senada itu dengan mudah merebut hatinya; tanpa permisi, tanpa ada ketukan dipintu, bahkan tanpa saling mengenal satu sama lain.

Jiyeon—merasakan sakitnya jatuh cinta untuk yang pertama kali.

***

 Anggap saja Park Jiyeon adalah salah satu siswi paling popoler di sekolah. Selain karena wajah cantik dan bakat dibidang menari, Jiyeon juga menjadi murid yang paling aktif dalam hal sosial atau kemanusiaan.

Di tahun pertamanya menginjak bangku kelas tiga, Jiyeon tak lagi diperbolehkan mengikuti kelas tari yang memiliki banyak jadwal latihan dan perform. Maka dari itu, untuk satu semester awal ini, Jiyeon membatasi kegiatannya dengan kembali menjadi panitia pengatur pertandingan basket antar sekolah. Dimana aktivitas tersebut sebenarnya adalah hal yang sudah Jiyeon lakukan ketika berada di kelas satu.

Atas bujukan Park Chanyeol—sang ketua tim basket inti—Jiyeon akhirnya memutuskan untuk kembali bergabung. Berhubung pekerjaan yang akan dilakukannya pun tidak terlalu menguras tenaga; hanya mengawasi latihan tim basket yang akan bertanding, mempersiapkan segala keperluan pertandingan, mengatur bagian konsumsi, serta sedikit memberi masukan kepada kelompok Cheers yang dilatih oleh teman baiknya—Ryu Hwayoung.

Hari ini Chanyeol kembali mengajak Jiyeon makan siang bersama di kantin untuk membicarakan perlombaan persahabatan antar sekolah mereka dan sekolah tetangga, yang akan diadakan lima belas hari lagi.

Sebenarnya Jiyeon tak punya mood yang cukup baik untuk melayani Chanyeol dengan sifat out of topic-nya yang setengah menyebalkan. Terlebih ketika mengingat bayang-bayang sang pangeran yang mengelus rambut gadis lain didepan matanya—kemarin pagi. Jiyeon paham betul bahwa Chanyeol hanya berbasa-basi mengajaknya kali ini, kendati semua keperluan untuk perlombaan telah hampir 75% selesai, hanya tinggal menunggu konfirmasi dari Hwayoung tentang adik-adik kelasnya yang mengikuti Cheers.

“—dan kau tau apa? Baekhyun malah memelintir leher si bodoh Jongdae hingga membuatnya berteriak kesakitan. Mereka benar-benar aneh, aku tak tau bagaimana jadinya jika mereka diterima masuk ke dalam klub-ku dengan kelakuan dan… tinggi badan yang seperti itu. Kris saja yang hampir menyerupai tiang listrik—“

“Cukup, Chanyeol.” Jiyeon berkata sambil memegang pelipisnya. Kepala yang tiba-tiba berdenyut membuatnya kesal kepada Chanyeol yang terus bercerita.

“Aku mau kembali ke kelas, maaf.”

Dan Jiyeon beranjak pergi meninggalkan Chanyeol yang menganga dengan sisa Ramyeon di sudut bibir. Setengah tak percaya Jiyeon yang dianggap sebagai sahabat memperlakukannya seperti ini. Terlebih tujuan utama Chanyeol mengajak Jiyeon makan belum tersampaikan.

Sebenarnya lebih dari sekedar bermanis kata, cerita Chanyeol tentang Baekhyun, Jongdae, dan Kris tadi dimaksudkan meminta bantuan Jiyeon; agar gadis itu mau membujuk Kris untuk kembali bergabung dalam klub. Sebab mereka sangat membutuhkan Kris yang merupakan salah satu pemain terbaik, terlebih ia keluar dengan alasan yang tak cukup jelas. Juga soal hubungan Kris dan Jiyeon yang bisa dibilang baik, karena mereka kebetulan berada dalam satu kelas.

Namun semuanya berujung sia-sia ketika hanya terpaan angin yang Chanyeol terima.

Well, wajah Jiyeon benar-benar terlihat kusut saat mengatakan maaf lalu pergi.

***

Hari pertandingan pun tiba. Hari selasa diminggu kelima musim semi. Cuaca masih tampak bersahabat meski angin-angin musim gugur mulai datang walau hanya sebentar. Matahari yang bersinar terang di langit diikuti arak pelan awan putih lembut, menyambut kedatangan tim basket penantang dari sekolah tetangga. Dengan baju seragam berwarna biru muda, seluruh pemain inti maupun cadangan memberi salam hormat kepada para penonton di tribun. Berhubung sekarang masih jam 01:15 siang, pertandingan sengaja diadakan di lapangan Indoor sekolah.

Berbicara tentang Jiyeon, tampaknya ia masih sibuk dengan memperhatikan setiap gerak-gerik penari Cheers yang akan tampil sebentar lagi. Agak sedikit terlambat untuk memulai gladi bersih, kendati Hwayoung mengungkapkan bahwa salah satu anggotanya tiba-tiba jatuh sakit, dan terpaksa harus mencari pengganti serta kembali menyesuaikan gerakan. Di balik gedung seni yang dijadikan tempat berlatih itu, Jiyeon mengangguk seraya bertepuk tangan setelah pertunjukkan Cheers selesai dengan mengagumkan. Selagi para pemain basket masih memperkenalkan diri, Jiyeon berpamitan kepada Hwayoung untuk segera mengecek bagian konsumsi.

Pertandingan ini termasuk salah satu pertandingan yang paling ditunggu kedua sekolah. Terlebih mungkin setelah ini jabatan ketua tim basket inti tidak akan dipengang oleh Chanyeol lagi; hal itulah yang menyebabkan hari ini sangat berarti.

“Semoga mereka memenangkannya kali ini,” gumam Jiyeon setelah keluar dari ruang konsumsi yang sudah siap dengan hidangan yang menggugah selera atas koordinasi wakil-nya. Segala persiapan memang dilakukan oleh sekolah Jiyeon, termasuk acara makan-makan yang akan diadakan setelah pertandingan. Tahun kemarin, sekolah mereka-lah yang berkunjung.

Park Jiyeon memutuskan untuk menunggu teman-temannya yang akan bermain, di belakang arena lapangan. Seingatnya setelah sesi perkenalan diri selesai, kedua klub akan diberi waktu sekitar 15 menit untuk berkumpul dan mengingat kembali strategi permainan. Dengan wajah sumringah, Jiyeon menepuk bahu Chanyeol yang kebetulan sedang duduk di kursi kayu seraya berbicara dengan Zitao dan Jongin, membelakangi posisinya.

“Oh, Jiyeon!” Pemuda itu terkejut, nyaris melompat. Membuat kedua lawan bicaranya tertawa sambil geleng-geleng. Ketua mereka tak lebih dari sekedar siswa biasa yang sensitif terhadap sentuhan sekecil apapun.

“Kris—dia jadi ikut, ‘kan?” Tanya Jiyeon setelah membalas kerlingan Jongin dengan juluran lidah.

“Ya, dia ada disana.”

Jiyeon pada akhirnya –atas permohonan Chanyeol ketika pulang sekolah dihari yang sama saat mengajaknya makan siang— membujuk Kris untuk kembali mengikuti pertandingan. Beruntung lelaki jangkung itu menerima tawarannya, lantaran waktu latihan yang sudah semakin sempit.

Namun memanglah Kris mempunyai bakat besar dibidang olahraga Basket ini, tak butuh lebih dari tiga hari baginya untuk menyesuaikan diri.

“Syukurlah,” Jawab Jiyeon, tanpa sadar bernapas lega ketika menangkap sosok yang dicarinya tengah terduduk di kursi seberang sambil memasang tali sepatu.

Tak lama kemudian, terdengar suara besar yang menggema disudut-sudut ruangan. Suara yang berasal dari Speaker di langit-langit—memberitahukan bahwa pertandingan akan segera dimulai. Menjadi tanda bagi para pemain untuk kembali memasuki lapangan.

“Fighting!”

***

 Jiyeon tak tau. Sama sekali tak tau, dan tak menyangka. Kendati tahun sebelumnya, ia memang tak menonton pertandingan, dan hanya memberi semangat melalui pesan singkat kepada Chanyeol dan teman-temannya yang lain. Hal itu disebabkan oleh adanya jadwal tampil menari di salah satu acara.

Tapi sekarang berbeda, rasanya ketidaktahuan Jiyeon sudah berubah.

Bahwa lelaki yang kemarin membuatnya jatuh hati, kini berdiri tak jauh darinya seraya menggenggam sebotol air mineral. Pertandingan sudah selesai sejak hampir sepuluh menit lalu, dengan skor 52-50 yang dimenangkan oleh sekolah Jiyeon. Tatapannya tak bisa lepas dari pemuda itu, yang ternyata adalah salah satu pemain basket terbaik, pemain lawan yang memiliki banyak penggemar bahkan sampai ke sekolahnya.

“Jiyeon-ah, kenapa kau berdiri disitu? Ayo kemari!” Ekspresi wajah Chanyeol benar-benar kebingungan ketika melihat sang sahabat tak kunjung menjawab panggilannya sedari tadi. Ia hanya tak enak jika harus pergi meninggalkan perbincangan dengan lawan mainnya sementara menjemput Jiyeon untuk berkenalan. Karena harusnya Jiyeon sudah berada disampingnya saat ini.

Disudut lapangan, Chanyeol beserta teman-temannya dan tim lawan tengah bercengkrama sambil sesekali tertawa. Kemenangan mereka kali ini, hanya berarti satu sama atas akumulasi pertanding tahun lalu. Meski beda sekolah, Chanyeol mengenal cukup baik beberapa siswa dari sekolah tetangga yang ikut bermain, contohnya saja ada Sungyeol dan Hoya—yang merupakan temannya di tempat kursus musik.

“Aish, apa yang dilakukan anak itu?” gumam Chanyeol yang kembali menyadari tingkah aneh Jiyeon. Dimana gadis itu masih berdiri mematung, dengan mata membulat tak percaya.

Ekspresinya terlihat sedikit mengerikan. Benar-benar aneh.

Saat ingin melangkahkan kaki ke arahnya, Chanyeol melihat Suzy—sang wakil ketua panitia—menabrak tubuh Jiyeon dari belakang. Secara spontan membuat gadis bersurai cokelat itu tersentak kaget, lantas buru-buru mengusap matanya dan berlari mengikuti Suzy menuju tempat Chanyeol berada.

“Halo,” sapa Suzy seraya membungkukkan badan. Menyebabkan semua pasang mata menatapnya, balas tersenyum dengan sedikit menunduk. Pemuda-pemuda itu terlihat penasaran dengan siapa dan apa tujuan dua gadis ini menghampiri mereka secara tiba-tiba.

“Aku Bae Suzy. Wakil ketua panitia pertandingan.” Suzy tersenyum lebar. Sedetik kemudian melirik Jiyeon disampingnya yang—ya ampun, masih melongo dengan tampang bodoh menatap sang pangeran berkuda putih itu. Sama sekali tak dapat mengendalikan raut wajahnya.

“A-aku Park Jiyeon. Ketua panitia.” Jiyeon tersenyum kikuk. Sepenuhnya merasa amat malu dipandangi dengan tatapan seperti itu oleh lelaki yang membuat tidurnya tak nyenyak. Terlebih dengan jarak mereka yang bisa dibilang cukup dekat. Setengah mengabaikan tatapan pemuda-pemuda lain yang keheranan.

Chanyeol tersenyum kepada teman-temannya, mengisyatratkan Jiyeon melalui gerakan mata untuk berjabat tangan dengan masing-masing anggota kelompok lawan. Dengan dibalas anggukan, Jiyeon pun mulai melakukan hal tersebut. Namun harus menahan sedikit kedongkolan ketika Suzy menyela tangannya yang ingin berjabat dengan si pangeran.

“Aku Suzy, salam kenal.”

“Kim Myungsoo.” Suaranya sangat sangat merdu terdengar ditelinga Jiyeon. Bagai hembusan angin yang terus berputar-putar, memantul, hingga menimbulkan bunyi berantai yang berulang-ulang. Tanpa sadar, jantungnya kembali memacu dengan cepat. Ribuan kupu-kupu yang berterbangan diperutnya, nyaris membuat gadis itu melonjak kegirangan.

“A-aku Park Jiyeon, s-senang berkenalan denganmu.” Beruntung Jiyeon berhasil mengumpulkan partikel suaranya yang tadi berserakan entah kemana.

Pemuda itu tersenyum samar. Hampir-hampir Jiyeon menangkapnya sebagai sebuah seringaian. Tangannya terjulur menggenggam tangan Jiyeon. Dan kehangatan pun menjalari tubuh gadis bermarga Park itu, masuk tanpa permisi melalui pori-pori kulitnya, merambat terus hingga berhasil membuatnya lupa cara bernapas.

“Aku—L. Namaku L.”

Meski hanya sebuah bisikan, yang mungkin tak dapat didengar oleh Chanyeol bahkan Suzy. Tapi Jiyeon menangkapnya dengan sangat jelas, kelewat jelas. Apalagi ketika seringai itu kembali muncul diwajah sempurna pemuda tersebut. Juga genggaman tangannya yang mulai mengendur, dan perlahan terlepas.

Menyisakan Jiyeon dengan kekosongan yang tiba-tiba melandanya. Suara-suara tawa yang tadi begitu membuatnya terganggu, lamat-lamat tak lagi terdengar. Menghilang begitu saja seolah tertarik ke sebuah lubang hitam tak kasat mata.

Dan Jiyeon baru ingat, ia melewatkan sepotong roti bakar selai cokelat dan segelas susu vanilla hangat di atas meja makan tadi pagi.

Yang berakibat pada; bintang-bintang kecil mengitari kepalanya, dengan latar langit malam yang membuat tubuhnya ambruk seketika.

“PARK JIYEON!”

***

Ketika Jiyeon membuka mata, ia terkejut. Untuk yang pertama kalinya merasa begitu kaget hingga harus membiarkan matanya kembali tertutup selama beberapa detik lagi. Kemudian baru benar-benar terjaga tatkala satu tarikan napas lain didengarnya dengan amat jelas. Hembusan napas milik seseorang yang duduk disamping tempatnya berbaring.

Dinding-dinding putih khas UKS sekolah menyapa indera penglihatannya. Juga bau obat-obatan yang hampir-hampir terlalu menyengat. Jika biasanya Jiyeon lebih suka sendiri ditemani gemeretak kipas angin tua di langit-langit saat sedang tidak enak badan, sekarang justru perasaannya sangat amat senang mengetahui sosok yang menemaninya adalah si Pangeran. Meski tak mengerti dengan apa yang terjadi, namun Jiyeon sungguh tak sedang bermimpi soal pemuda yang kini menatapnya.

“Akhirnya kau sadar juga.” Hati Jiyeon kembali bergetar mendengar suara merdunya, “Syukurlah.” Dan Jiyeon sadar ia menahan napas untuk beberapa saat.

Kepala yang masih berdenyut membuatnya terpaksa berbicara dalam posisi berbaring. Rasanya belum sanggup menegakkan badan.

“A-apa acara makan-makan berjalan dengan lancar?”

Sang pemuda menaikkan alisnya, “Kupikir kau akan bertanya kenapa aku ada disini. Tapi ternyata kau memang punya jiwa seorang ketua.” Selanjutnya terdengar kekehan kecil, lebih seperti ejekan tersirat. Membuat Jiyeon tanpa sadar meringis.

“B-bukan begitu, aku hanya merasa bersalah karena sudah menyebabkan kekacauan.” Gadis itu memilih memandang tirai putih penutup jendela di arah selatan. Sepenuhnya merasa tak enak hati terhadap kondisi tubuhnya yang tiba-tiba melemah. Juga karena lelaki ini—Jiyeon jauh lebih penasaran tentang dia. Namun entah kenapa belum ingin bertanya seolah kehadirannya.

“Mereka sedang berpesta di aula. Kurasa semuanya baik-baik saja, bahkan acaranya baru mulai sekitar lima belas menit yang lalu.”

Angin berhembus melewati celah pintu yang sedikit terbuka. Tak sengaja membuat kedua mata Jiyeon terasa sedikit perih. Degupan jantungnya masih belum kembali seperti sedia kala. Balasan perkataannya cukup membuat Jiyeon lega.

“Kau pasti sangat lapar,” gumam sang pemuda yang masih dapat Jiyeon dengar.

Penyangkalan sudah ingin keluar melalui kata-kata, namun entah kenapa tersangkut di tenggorokan. Apa yang dikatakan orang ini memang benar adanya. Bahkan setelah sekian lama pingsan, rasa laparnya belum juga hilang. Malah semakin bertambah.

“Roti?” Kening Jiyeon berkerut kala itu. Mendapati sebungkus roti isi cokelat tersodor di hadapannya. Nyaris menyentuh ujung hidung. Setengah tak percaya, pemuda ini mengeluarkan bungkusan roti itu dari dalam tas yang semula tergeletak di atas nakas. Apalagi ketika untuk kedua kalinya menyodorkan barang yang sama, Jiyeon tak perlu lagi membuka bungkus plastiknya.

Tak ada pilihan lain, Jiyeon melahap makanan itu untuk gigitan yang pertama.

“Terimakasih.” Dan darahnya naik begitu cepat ke sekitar wajah. Semburat malu itu masih dapat ditangkap sang pemuda.

Lalu seterusnya, sampai hanya menyisakan udara kosong. Roti cokelat tadi sudah habis Jiyeon makan, berkat suapan sang pemuda yang—err, sama sekali tak memasang ekspresi menyenangkan. Namun ia menolak ketika Jiyeon hendak mengambil alih, entah apa maksudnya.

“Kau—membawa roti di dalam tas-mu?”

Yang ditanya mengangguk sekali, “Tapi ini rahasia,” katanya selang beberapa detik.

“Rahasia apa?”

“Kau tak boleh memberi tahu siapapun atau reputasi-ku akan benar-benar hancur.”

Jiyeon memutar bola matanya. Tak habis pikir. Memang apa hubungannya ‘membawa roti’ dengan ‘reputasi di sekolah’?

“Aku sebenarnya mengidap penyakit maag yang cukup akut. Jika terlambat makan sedikit saja, maka akan kambuh. Oleh karena itu, Ibu… selalu menyiapkan berbungkus-bungkus roti didalam tasku. Dan jika ada yang mengetahui hal ini, aku akan diejek oleh mereka.” Di akhir kalimat, dengusan kecil ia lontarkan.

Jiyeon terlalu hanyut dalam cerita singkat lelaki dihadapannya ini. Rasa penasarannya sedikit terjawab. Namun ada satu hal yang sedari tadi masih bergentayangan di kepalanya—selain perutnya yang masih keroncongan dan juga denyut-denyut di sekitar pelipis—yaitu mengenai apa maksud si pangeran berkuda putih ini memberitahu rahasia-yang-dapat-menghancurkan-image kepadanya?

“Tentu saja karena kau sudah memakan roti itu. DItambah lagi kau melihatku mengambilnya dari dalam tas. Sebelumnya tak ada seorang pun yang tau.”

“O-oh, jadi begitu.” Jiyeon tak ingin terlihat lebih bodoh lagi. Sudah cukup ia mempermalukan diri dengan pingsan di lapangan basket tadi. Setidaknya ia berusaha terlihat dapat berpikir meski kenyataannya tidak.

“Tapi, sebenarnya namamu—siapa?” Satu lirikan menghujam iris sang pemuda yang sebelumnya terdiam dengan wajah datar. Saat menoleh untuk menatap Jiyeon, mata mereka kembali bertemu. Pandangan yang tak pernah diduga, yang entah kenapa justru menimbulkan getaran kecil di sudut hatinya.

“Aku L. Dan yang kau lihat di halte itu, sepupuku. Namanya Krystal Jung.”

Sang gadis justru memberi respon yang tak bisa dibilang baik. Balas terdiam cukup lama, tak membuka suara sampai betul-betul mencerna perkataan pemuda dihadapannya. Alih-alih merasa takut menyukai seseorang yang sudah memiliki kekasih, Jiyeon lebih memilih mempercayai.

Berusaha mengabaikan rasa heran yang menggantung di atas kening; ciptakan kerutan samar. Tentang mengapa dan apa maksud si pemuda mengatakan soal gadis yang bersamanya dihalte tempo hari. Namun entah kenapa, kalimat yang terlontar berikutnya menjurus pada sesuatu yang lain. Sesuatu yang jauh lebih mengusik pikirannya.

“Apa itu L?”

Bagi seorang Park Jiyeon, L bukanlah sebuah nama. Terdengar sangat asing dan sedikit mencurigakan. L hanya sebuah huruf, satu huruf yang tak mempunyai makna lebih dari itu. Jadi tak ada salahnya jika Jiyeon menganggap si Pangeran yang disukainya ini agak-agak tidak normal.

“L adalah—Syndrome yang sedang menyerangmu.”

Dalam sekejap, Jiyeon hampir kembali merasakan sekelilingnya menggelap. Hampir juga melihat bulan menerobos masuk melalui jendela UKS dan membuatnya silau dengan sengaja.

Pikirannya kembali melayang-layang; terbang tak tentu arah; semakin lama semakin jauh dari tempatnya berbaring; melampaui batas waktu yang sudah berlalu; berhenti tepat di sebuah ruangan yang tak lain adalah kamarnya sendiri; kemudian mendapati diri tengah sibuk men-scroll layar lappie merah muda kesayangan sambil memelototi beratus kata yang tertera.

Situs Syndrome yang beberapa hari lalu Jiyeon buka.

Rasanya tak ada satu pun yang bernama aneh seperti—L’s Syndrome itu.

“Kau aneh. Apa kau—“

CEKLEK

“Park Jiyeon! Kau sudah sadar? Ayo ke aula dan berpesta!”

Jiyeon masih terperangkap rasa herannya, hingga tak mendengar suara pintu yang dibuka secara paksa oleh Chanyeol. Juga tangannya yang tiba-tiba ditarik dari dalam selimut dan dituntun perlahan keluar ruangan UKS.

Jiyeon tak mengerti, sungguh. Kenapa si Pangeran justru tampak senang dengan cengiran lebar yang terpatri jelas di wajahnya yang semulus porselen itu.

“L’s Syndrome.” Gumam Jiyeon sambil menyeret langkah. Lagi-lagi raut bodohnya membuat seseorang-yang-mengaku-bernama-L-itu terkekeh sambil menyamai langkah dengannya. Nyaris meledakkan tawa kalau saja Chanyeol sedang tidak berada diantara mereka dan tidak melemparkan pandangan menyelidik kepadanya.

“L’s Syndrome, Park Jiyeon.”

FIN

28 responses to “[FREELANCE – ONESHOOT] SYNDROME

  1. maaf ya readers. aku emang udah pernah post fict ini di wp pribadiku. mian gak nulis link nya diatas ^^

  2. ngakak ini L’s Syndrome =)) motivasinya apa coba? wkwkwk
    ciyeee jangan-jangan l juga pandangan pertama ya di bis :p ciye ciyeeee
    aaaaa suka banget sama ceritanya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s