[CHAPTER – PART 4] Skinny Love

Skinny Love by Little Thief

Cast: Park Jiyeon, Kim Myungsoo

Other cast: Park Sooyoung (Joy), Choi Minho

Genre: romance, little bit angst

Rating: PG-13

Length: Chaptered

Yang dilakukan Jiyeon kali ini adalah hanya bisa tercengang. Sepenuhnya tercengang.

Dapur ini benar-benar berantakan, bahkan Jiyeon tak percaya dia bisa masuk ke ruangan seperti ini. Dia selalu terbiasa di lingkungan yang rapi, jadi begitu menatap sekeliling, napasnya terasa dicekik saking tak terbiasa.

Suara Minho mengejutkannya. “Nah, tunggu apa lagi?” katanya sinis, “Lakukan tugasmu. Sebisa mungkin.”

“Harus aku apakan ruangan ini?” tanya Jiyeon, menahan diri untuk tidak berbalik kabur. Ruangannya luar biasa pengap, dan ia bertanya-tanya bagaimana bisa belasan pekerja bisa bertahan hanya di tempat seperti ini.

“Bersihkan, tentu saja,” Minho menepuk bagian belakang kepala Jiyeon keras, “Masa yang begitu saja tak tahu?”

Jiyeon menghela napas putus asa, menatap ke sekeliling ruangan berbentuk persegi yang luar biasa hancur tersebut. Dindingnya putih, namun kusam, berbagai panci, cangkir, loyang-loyang, cetakan, semuanya tersebar acak di beberapa tempat. Juga percikan krim-krim. Gadis itu menoleh kepada Minho, memohon.

“Itu tugas pertamamu di sini. Jangan mengelak. Bersihkan, maka untuk ke langkah selanjutnya, kau selamat.”

Kemudian Minho dengan cuek berbalik untuk meninggalkan dapur. Dia menunduk untuk mengambil sebuah sendok yang tergeletak di lantai, meletakannya asal di sebuah rak, dan kemudian membuka kenop pintu.

Sebelum itu, ia berbalik, menatap Jiyeon lurus-lurus. Seakan memberi peringatan untuk tak melakukan apapun selain bersih-bersih. “Lakukan tugasmu. Jangan sampai ketika aku berbalik, ruangan ini masih penuh barang berserakan. Waktumu dua jam.”

Kemudian Minho menutup pintunya dengan keras, dan melakukan kembali tugasnya entah apa. Suaranya tak terdengar lagi. Keheningan panjang di ruangan dapur itu melengking, membuat Jiyeon tersiksa. Ia menatap kekacauan di depannya. Yang benar saja, yang seperti ini harus dibersihkan dalam waktu 2 jam?

“Oke, Jiyeon, jadi, kita mulai dari mana?” tanyanya pada diri sendiri. Kemudian ia melangkah mendekati sebuah oven yang penuh dengan remahan panggangan kue. Dalam oven itu terlihat sangat hitam, yang membuktikan jarang dibersihkan.

“Mungkin sebaiknya kita mulai dari sini.” Gerutunya. Maka, tanpa pikir panjang, Jiyeon mengambil sebuah kain perca yang tak terpakai, membersihkan oven tersebut ke wastafel. Hatinya mengeluh-eluh. Tapi tak ada yang bisa ia lakukan.

Ketika air kerannya mengalir, membersihkan kotoran di oven, Jiyeon merenung, memandang ke arah sudut dapur di sebelah kirinya. Sesuatu menarik perhatiannya. Terletak di paling sudut, sebuah pintu dengan plakat hitam tertempel di sana, warnanya kusam. Tertulis, ‘Kim Office’ di plakat tersebut.

Pintu itu tidak lebih tinggi daripada Jiyeon. Jiyeon yakin dia harus menunduk untuk memasuki pintu tersebut. Pintu putih itu mengingatkannya pada pintu aneh di dongeng Alice. Di depan pintu itu tergeletak penuh peralatan dapur yang tampaknya tak begitu terpakai. Hanya ada satu jalur kecil di depan pintu, untuk melangkah masuk. Jiyeon menggeleng kepala tak mengerti, dan kembali dengan ovennya.

Namun selanjutnya, segala hal tampak begitu mudah. Dia sudah terbiasa bebersih seperti ini. Dan yang terpenting, dia tak banyak omong. Dia melakukannya tanpa bicara sama sekali, karena memang tak ada orang yang bisa diajak. Mau mengajak siapa? Tumpukan loyang?

Dalam waktu satu jam, lantai dapur sudah bersih. Membuat Jiyeon yakin dia akan segera diterima. Minho berkata apa tadi? Kalau dia berhasil melewati ini, maka dia akan selamat. Dan kurang sepuluh menit dari waktu yang ditentukan, Jiyeon sudah selesai mengerjakan seluruhnya.

Ia menatap puas hasil kerjanya. Tumpukan loyang tertata rapi. Cangkirnya berbaris cantik. Apa dia orang pertama yang membersihkan tempat ini? Pasti tak mungkin. Moong Café punya banyak pekerja, apa tak ada yang inisiatif membersihkan dapur berantakan seperti ini?

Namun Jiyeon melirik pintu Kim Office yang ada di sudut dapur. Dia sungguh penasaran. Seperti apa kantor Myungsoo yang ada di dalam pintu tersebut? Dia justru lebih penasaran pada tangganya yang menimbulkan bunyi nyaring bila ada yang melangkahi anak tangganya.

Yang pasti, walaupun pintunya terlihat begitu kecil, kamar Myungsoo pasti nyaman. Pasti jauh lebih nyaman daripada kafe yang dimilikinya di lantai bawah. Kalau tak nyaman, Myungsoo mana mau datang sepagi ini dan menetap di sana sampai malam hari menjelang kafe tutup. Apa yang ada di ruang kerjanya? Tempat tidur? Peralatan komputer? Tempat gym? Televisi dengan ratusan tumpukan kaset film? Wifi?

Maka menjawab rasa penasarannya, Jiyeon berjalan menuju pintu tersebut. Hati-hati, dia memegang kenopnya. Dia harus menunduk untuk melakukannya. Maka, ia memutarnya sangat perlahan sampai tak menimbulkan bunyi. Pintu itu terbuka sedikit. Jiyeon membungkukkan badan, kepalanya menyembul dari pintu tersebut, mencari tahu.

Ruangan di dalam pintu itu hanya ruangan kosong, suram. Satu-satunya penerangan hanyalah lampu bohlam tua yang menyala redup. Ruangan itu begitu kecil sampai Jiyeon yakin hanya bisa dimasuki paling banyak dua orang dewasa. Dan di dalamnya hanya ada sebuah tangga logam yang cukup tinggi, dan sepertinya mengantarkannya langsung ke kantor Myungsoo.

Tangga itu berbentuk melingkar. Ruangan ini kosong, tak berlangit-langit. Hanya saja, lantai dari kantor Myungsoo yang berada di atas puncak tangga menjadi atapnya. Ruangan sangat kecil ini masih menjadi bagian dari kantor Myungsoo, hanya saja, terbuang.

Dari pintu, Jiyeon melongok ke arah atas. Tangga melingkar ini terus menjulang sampai sekitar beberapa meter jauhnya, dan dari kejauhan itu Jiyeon melihat seberkas cahaya terang yang pasti dari ruangan Myungsoo.

Terdengar sayup-sayup suara pemeran kartun harian di televisi, membuat Jiyeon terkikik geli. Pemilik itu pasti sedang menonton televisi di kamar, atau ruang kerjanya. Dalam hati Jiyeon masih penasaran dan merasa ingin naik ke atas, menjelajahi ruang kerja Myungsoo.

“Wow.”

Jiyeon terlonjak mendengar suara tersebut. Kepalanya membentur dinding yang rendah ketika dia berusaha mundur, dan Jiyeon meringis. Ia akhirnya mundur perlahan, menoleh dengan kesal dan menemukan Minho berdiri di depan pintu dapur, menatap ruangan dapur yang kini sudah bersih cemerlang.

Jiyeon menutup pintu Kim Office, dan berjalan menuju Minho. Mengusap kepalanya, kesakitan. Minho melipat tangannya di dada, dan kemudian menoleh ke arahnya.

“Ini semua, kau yang mengerjakan?” tanyanya, ada sebersit nada bangga dalam dirinya. Tapi Jiyeon masih bisa menangkap tatapan tajam dalam dirinya.

“Kenapa?” balasnya, “Aku melakukan apa yang kau perintahkan, bukan?”

“Ya, tapi…” Minho jelas ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya, membuat Jiyeon mengangkat alis, “Ah, bukan apa-apa. Nah, ini sudah beres. Kau sudah mengerjakan apa yang kau kerjakan.”

“Lalu?” Jiyeon nyaris berteriak saking senangnya, “Setelah ini aku lulus semua tes dan bisa langsung resmi bekerja?”

“Tidak, bodoh,” dengus Minho, “Ya, tentu saja…keluar dari dapur dan bantu para karyawan lain yang sedang berkumpul di meja kasir.”

Mendengar kata berkumpul membuat jantung Jiyeon berdegup kencang, dan wajahnya langsung mengeras, “Eh, apa maksudmu berkumpul di meja kasir? Memangnya tak ada yang masuk ke ruang dapur ini?”

Minho menggeleng, membuat tanpa sadar napas Jiyeon semakin berat. “Kan, mereka sudah tahu ada anak bawang yang akan bekerja di sini. Nah, kalau ada anak bawang sedang membersihkan dapur, kami tak akan boleh masuk ke sini. Jadi sekarang, keluar. Mereka menumpuk di sana, tahu.”

Sebelum melangkah patah-patah ke luar dapur, Jiyeon menoleh ke arahnya, “Soal itu, ngomong-ngomong, aku tak akan disiksa atau semacamnya, kan?”

Minho mengangkat bahu, namun menyeringai tajam, seringai yang penuh arti. “Aku tak tahu. Ah, jangan banyak bertanya, Anak Baru. Cepat kerjakan apa yang kuperintahkan.”

Maka dengan langkah pelan Jiyeon berjalan menuju ke arah pintu. Dari sebuah celah kaca berbentuk persegi panjang yang ada di tengah pintu, Jiyeon bisa melihat sekitar delapan karyawan berdiri di dalam meja kasir, tampak asyik berbincang. Sebagian lagi hanya diam, menatap kosong pintu dapur yang tertutup. Tanpa sadar, ketika menyentuh kenop pintu, tangannya licin karena basah berkeringat. Maka dengan berdegup, dia membuka pintu tersebut.

Ketika deritnya terdengar, kumpulan pegawai itu langsung menghentikan percakapan dan menatap ke arah suara berderit. Beberapa orang menegakkan badan, pandangan mereka lurus ke arah pintu tersebut. Jiyeon keluar dari pintu dan menunduk.

Jangan pernah mendongakkan kepala, itulah yang ada di pikirannya. Namun tak lama kemudian, pintu di belakangnya ikut menderita terbuka. Minho yang membukanya. Jiyeon harus bergerak selangkah ke samping agar pria itu dengan mudah mendekati teman-temannya.

“Bagaimana hasilnya?” tanya seorang pria seumuran Jiyeon, menatapnya tajam. Membuat Jiyeon merasa terintimidasi.

Minho terkekeh, menepuk tangannya, menunjuk Jiyeon. “Yah, berikan selamat baginya. Dia berhasil melewati ujian pertama. Kau lihat dapurnya, sudah bersih.”

Terdengar bunyi orang menghela, maka perlahan mereka berjalan menuju ke arah dapur, seolah sudah menunggu hal ini sedari tadi. Namun sebelumya, seseorang menarik tangan Jiyeon dan menjabatnya.

Ternyata yang menjabatnya itu adalah orang yang menatapnya tajam tadi. Namun kali ini dia justru tersenyum lebar, menampakkan senyumnya yang manis, “Selamat, dan salam kenal kalau begitu. Namaku Kim Jongin.”

Kemudian orang bernama Kim Jongin itu langsung tiba-tiba saja masuk ke dalam dapur. Dan orang-orang di belakangnya ikut menyalami Jiyeon, sampai mereka semua masuk ke dapur melakukan tugas masing-masing. Hanya tersisa Jieun, dan satu orang yang tak dikenalnya di meja kasir.

Minho melipat lengannya di depan dada, kemudian meliriknya, “Nah, sekarang aku menyerahkan tugasmu yang selanjutnya pada Jieun. Yaitu sopan santunmu dan bagaimana kau melayani pembeli. Jieun yang akan mengawasimu, oh, ya, bersama Yerin juga.”

Jiyeon lega mendengar Jieun yang akan mengawasinya. Setidaknya, gadis itu begitu baik padanya, tidak memberikannya tatapan sinis tiap kali bertemu. Wanita yang disebut Minho bernama Yerin itu merapikan nampan dan tersenyum sekilas ke arah Jiyeon dan dibalasnya dengan canggung.

Minho sudah kembali ke dapur entah untuk apa. Jadi Jiyeon mendongakkan kepala sedikit-sedikit, dan Jieun memberikan isyarat padanya untuk mendekat. “Jangan menunduk begitu, ini tak akan menakutkan, percayalah.”

Jiyeon mengangguk. Dia percaya pada teman barunya ini. Kemudian dia menoleh sekilas ke arah Yerin, yang sedang berkutat dengan mesin kasir dengan seorang pelanggan yang berdiri di depannya. Tangannya gesit dan cekatan, kemudian Jieun berbisik ke arahnya.

“Itu Baek Yerin. Dia lebih muda empat tahun dariku. Masih kelas dua sekolah menengah atas.” Ujarnya.

Jiyeon nyaris tersedak mengetahui bahwa Yerin masih begitu muda. Tubuhnya begitu kurus dan tinggi, caranya bekerja begitu cekatan dan gesit. Dia mengira Yerin seumuran dengannya.

Namun yang dibicarakan justru tersenyum lebar ke arahnya, dan mengulurkan tangan. “Hai, unnie. Aku Baek Yerin. Umurku enam belas.”

Jiyeon membalasnya kaku, merasa malu luar biasa. Hei, anak umur enam belas tahun saja bisa diterima begini, kenapa ia harus pesimis? Bahkan anak ini lebih muda setahun dari adiknya. Maka dari itu, semangatnya tiba-tiba terpacu dan Jiyeon tersenyum balik.

“Hai. Aku Park Jiyeon. Umurku 22 tahun. Senang bertemu denganmu.”

Yerin mengangguk, kemudian melirik ke arahnya, “Nah, jadi Minho sunbae baru saja menugaskan cara bagaimana aku bisa mengawasi sopan santunmu.”

“Bagaimana?” dalam hati Jiyeon terkagum Yerin sudah diberi kepercayaan seperti itu.

“Hm,” Yerin memutar bola mata, “Tidak sulit, kok. Kau baru saja melewatkannya. Cara kami menilai bagaimana sopan santun orang adalah bagaimana dia memulai perkenalan.”

“Dan, bagaimana denganku?”

“Sepertinya bagus,” Yerin tersenyum tipis, melihatnya dari atas sampai bawah, “Aku suka penampilan unnie. Sederhana. Yang mereka butuhkan di sini adalah orang yang sederhana.”

Jiyeon melirik pakaiannya. Memangnya terlihat sesederhana itu, ya? Kemudian Jieun menambahkan pembicaraan mereka.

“Nah, tidak perlu terlalu berat, aku hanya mengetesmu sekali. Kalau kau lulus denganku, maka yang kau perlukan tinggal lulus uji memasak dan, yeah, jadi anggota di sini.”

Jiyeon lega mendengarnya. Selama ini, yang ia perkirakan, uji-uji ini terlalu menakutkan untuknya, ternyata tidak juga. Maka selagi menunggu pelanggan, dia memerhatikan keadaan kafe. Sudah ada sekitar sepuluh orang duduk di sana. Ada yang sibuk mengetik di atas laptop, berbincang, atau duduk sendirian menatap ke jalanan.

Ketika itu seseorang masuk dari pintu. Seorang pemuda dengan wajah Eropa. Dia langsung bersiaga, menyiapkan diri. Dia tahu orang-orang itu akan heran karena dia tak memakai celemek dan seragam seperti yang lain. Saat pelanggannya memencet bel, Jiyeon langsung menyiapkan senyum termanisnya.

“Selamat pagi,” Jiyeon menyapa canggung, “Ingin pesan apa?”

Si pelanggan mengangkat jari telunjuknya, “Frappucino seperti biasa.”

Tatapan orang itu seperti keheranan seolah seluruh pekerja di sana tahu menu langganannya. Jelas saja karena Jiyeon bahkan tak kenal siapapun tentang ini. Kemudian ia mengatakan pesanan orang tersebut ke Jieun. Wanita itu mengangguk, dan kemudian masuk ke dapur untuk memberitahu pesanan.

Yerin yang mengatur uangnya, dan memberikan struk ke si pembeli tersebut.

“Oh, ya, aku akan duduk di meja dua belas.” Pesan si pelanggan dan kemudian ia pergi, berbalik, dan duduk di meja dua belas yang berada di tengah-tengah kafe.

Jiyeon cukup tertarik dengan wajahnya. Saat itu Yerin menyikut, matanya mengikuti ke arah orang tersebut.

“Dia pelanggan dari Inggris. Tiap hari datang ke sini. Kudengar, anak pertukaran pelajar. Eh, ya, dia cukup menarik, bukan?” tanyanya.

“Kau tahu namanya? Umurnya?”

Yerin menggeleng, “Tapi dilihat dari umur, sepertinya dia hanya lebih tua dua tahun dariku.”

Jiyeon tersenyum kecil, “Dan, kau merasa tertarik padanya, tidak?”

Kontan saja anak remaja itu menggelengkan kepalanya keras-keras, membuat Jiyeon tertawa kecil. “Tapi dari caramu memandangnya, sepertinya ada ketertarikan kepada pria tersebut. Mungkin lain kali kau bisa tanya siapa namanya.”

Yerin hampir saja protes ketika Jieun memanggilnya, memberikan keuntungan baginya, “Jiyeon, Minho memanggilmu ke dapur. Hanya ada tes memasak untuk kali ini.”

Jiyeon langsung mengepalkan tangan. Menghela napas, ia sudah sedikit berani kali ini. Kemudian, ia membuka pintu dapur dan terlihat enam karyawan ditambah Minho, sedang sibuk berkutat dengan tugas masing-masing. Kim Jongin, orang yang menyalaminya tadi, justru malah duduk di sudut dapur mendengarkan musik.

Tanpa sadar Jiyeon asyik mengamati keramaian itu ketika Minho tiba-tiba menepuk pundaknya dari samping. “Hei. Jangan melamun.”

Jiyeon langsung terlonjak, meringis minta maaf menyadari dirinya menatap kosong ke arah keramaian. Tatapan Minho kepadanya melunak kali ini, jadi Jiyeon harus berkata dengan lebih ceria.

“Nah, jadi, aku tinggal punya satu tes. Aku harus membuat apa kali ini?” tanyanya.

Bukannya menjawab, Minho menyodorkan sebuah buku tipis yang kumal, “Ini adalah menu-menu yang kami gunakan untuk mengetes pegawai baru sepertimu. Daftar untuk tes memasakmu. Semuanya punya tingkat kesulitan berbeda, dan kami menyarankanmu memilih yang paling sulit agar kami semakin senang menerimamu.”

“Bagaimana caranya agar aku tahu bahwa makanan atau minuman ini adalah hal yang tersulit?”

Aku sudah menuliskan tiap tingkat kesulitannya,” sahut Minho, “Nah, sekarang kau pilih dan katakana padaku apa yang akan kau masak kali ini.”

Jiyeon mulai menatap menu di buku itu. Menu-menunya sederhana pada kafe seperti biasanya. Jiyeon tahu yang membuat hal itu sulit adalah mereka harus membuatnya secara detail.

Matanya menangkap satu tulisan seperti;

Caramel Macchiato, panas pada suhu kuranglebih 100 derajat, dituangkan dalam ukuran 200ml. Tingkat: sedang.

Bukannya merasa kesulitan, Jiyeon justru geleng-geleng kepala antara tidak mengerti dan merasa begitu aneh. Malah ada lagi yang lebih aneh;

Waffle. Diameter 8 senti. Dibuat dengan api sedang, kematangan tiga perempat, renyah. Tingkat: sulit.

Jiyeon memandang dari atas halaman sampai ke bawah dengan luar biasa bingung, alisnya bertaut-tautan. Ia menutup buku tersebut dan menatap Minho, yang sedang mengamatinya membaca.

“Nah, kau memilih apa?” tanya Minho padanya.

“Aku hanya…tidak mengerti tentang ini. Sejak kapan ada tes seperti ini?”

“Nah, sulit, bukan? Pokoknya kau harus pilih. Kalau gagal itu urusan nanti. Kau mau memilih apa? Pilih saja yang menurutmu mudah, tapi jangan yang terlalu dangkal juga.”

Jiyeon membuka buku tersebut lagi, dan kemudian membulatkan keputusan, “Caramel macchiato. Tingkat sedang.”

****

Minho menyeruput hasil masakannya, perlahan lidahnya mengecap, merasakan resapannya hingga ke dalam mulutnya. Ia menyeruput caramel macchiato buatannya sekali lagi, dan kemudian menyodorkannya ke arah seorang pemuda yang tampaknya lebih muda darinya.

Pemuda itu juga mengecap. Jiyeon mengamati ekspresinya dengan berdebar. Dan wajah pemuda itu tampak begitu puas.

Minho menyodorkan lagi cangkirnya itu kepada Jiyeon, “Hm, kukatakan, kau membuat lebih dari tingkat sedang yang kau pilih. Baik, menurutku. Sangat baik.”

Jiyeon menahan diri untuk tak meloncat mendengar komentar si ketua pelayan tersebut. Berusaha memasang wajah tegas. Minho kemudian menyahut lagi, “Bagaimana denganmu, Sungjae?”

Pria bernama Sungjae yang tadi ikut mencicipi buatannya itu hanya mengangguk pelan.

Minho tertawa kecil, lantas kemudian bertepuk tangan keras sekali, membuat semua orang yang bekerja di dapur itu menoleh. Namun tak lama itu, mereka kembali ke pekerjaan masing-masing.

Pria itu kini berubah menjadi pria lunak berhati malaikat ketika tangan kokohnya tersodor ke arah Jiyeon. “Nah, selamat, Park Jiyeon. Kau diterima.”


Author Note:

Mohon dimaafkan untuk slow updatenya. Ya, karena akhir-akhir ini aku sendiri mentok melanjutkan chapter. Oh, ya, chapternya udah panjang belum? Hehehee. Tapi untuk cerita ini sendiri sudah kurangkai sampai selesai, jadi jangan takut ceritanya ngegantung.

Nah! Karena pikiranku mentok, untuk chapter selanjutnya mungkin aku bakal lebih lama postnya. Karena aku bakal baca-baca referensi cerita dulu untuk menambah ide, ditambah pula kesibukan. Mohon pengertiannya, ya🙂

Oh, ya jangan lupa comments! Terimakasih ^^

27 responses to “[CHAPTER – PART 4] Skinny Love

  1. SUSah juga mau masuj kerja di caffe sana.
    Bnyk seleksinya.
    Tpi jiyeon chukaee akhirnya kamu diterima.
    Dngn gtu akan ad moment myungyeon deh
    Hahahah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s