[ CHAPTER – PART 1 ] A MINUTE OF HOPE

A MINUTE OF HOPE
Tittle : A Minute of Hope
Author : gazasinta
Main Cast : Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Kim Jaejoong, Bae Suzy, Jeo Min Seo ( Park Jeo Min )
Additional Cast : Find by yourself
Genre : School, Family, Drama
Rating : PG-15

Hai readers, ini part 1 A Minute of Hope, mianhae mungkin ada beberapa karakter dari cast disini atau ide cerita yang menyimpang dari teasernya, tapi itu semata-mata untuk kebutuhan cerita, karena ga pandai membuat teaser, jadi merasa bingung waktu buat harus disesuaikan dengan teasernya.
Disclaimer : FF ini terinsprirasi dari Kdrama yang sangat menyentuh Thank You, tapi ide cerita pure miik author.

Sorry for typos, and hope you are like it.

Part 1 ~ A Minute of Hope

~ Seol, Korea Selatan

Yonghwa nampak tidak tenang diatas ranjangnya, berkali-kali ia membolak-balikkan tubuhnya namun perasaan resahnya belum bisa hilang. Ia merasa suasana kamarnya begitu panas, meski air conditioner terpasang hingga suhu terendah. Yonghwa bangkit dari tidurnya.

“ Kau belum tidur ? “ Seo Ye Jin, wanita setengah baya yang masih terlihat muda dan cantik yang tertidur disampingnya tiba-tiba terbangun dan sudah menatap lekat padanya.

“ Eoh, aku tidak bisa tidur “ Ucap Yonghwa meneruskan langkahnya menuju jendela kamar dan membuka sedikit gordennya untuk melihat suasana luar rumahnya.

Ye Jin menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, melangkah mendekat ke arah Yonghwa. Ditatap sejenak sosok suami tercintanya itu, tidak berapa lama ia merasakan tangan suaminya mengelus lembut rambut hitamnya ketika ia menaruh dagunya di pundak Yonghwa. Ye Jin memahami keresahan suaminya, besok adalah pertama kalinya ia dan Yonghwa akan menemui mertuanya – orangtua dari Park Yonghwa – selama 20 tahun usia pernikahan mereka.

Ye Jin dan Yonghwa menikah secara diam-diam tanpa restu keluarga, keluarga Yonghwa yang terpandang dan cukup berada tidak menerima Ye Jin yang berasal dari derajat rendah menjadi menantu dikeluarganya, namun begitu cinta Yonghwa yang begitu besar membuat suaminya itu rela terbuang dari keluarga, dan sebenarnya Ye Jin tidak mengerti mengapa Yonghwa tiba-tiba mengajak ia untuk menemui mertuanya, meski khawatir akan sambutan keluarga suaminya itu sebagai istri yang baik Ye Jin tetap menurutinya.

“ Kau harus dalam keadaan bugar ketika besok menyetir “ Ucap Ye Jin memeluk manja suaminya dari arah belakang.

Yonghwa menatap Ye Jin dengan pandangan sulit untuk ia ungkapkan, jujur ia merasakan kegugupan untuk menemui orangtuanya besok, namun ada hal yang lebih berat mengganjal dipikirannya, ingin sekali Yonghwa membagi kegundahan pada istrinya, namun ia tidak tega jika Ye Jin akan bersedih.

“ Seo Ye Jin, seberapa besar kepercayaanmu padaku ? “ Tanya Yonghwa membuat Ye Jin menatapnya tidak mengerti.

“ Menggelikan sekali kau memanggil lengkap namaku “ Ucap Ye Jin tersenyum menggoda, namun ia kembali menarik senyumannya karena Yonghwa nampak serius “ Ehem….mengapa kau bertanya seperti itu ? aku sudah menemanimu selama puluhan tahun, memberikanmu putri-putri yang cantik dan baik, tentu saja itu karena aku percaya, kau suamiku, apapun yang kau katakan dan lakukan aku pasti percaya padamu “ Ucap Ye Jin tulus.

Yonghwa mencoba tersenyum, ia kemudian menarik istri cantiknya itu kedalam pelukannya, ia menyesal mengapa fitnahan itu harus menderanya, membuat kelak istri dan anak-anaknya harus menanggung malu, meski itu hanya sebuah fitnahan yang dilancarkan orang-orang yang tidak suka dengan kesuksesannya.

.
.
.

“ Jeo Min-ahhhhh!!! cepat appa sudah menunggu kita “

Suasana rumah keluarga Park dipagi hari nampak sibuk tidak seperti biasanya, setelah sarapan pagi setiap orang bergerak untuk melakukan aktivitasnya, seorang gadis bersurai hitam sebahu dengan poni yang menutupi dahinya sedang membantu sang adik mengikat rambutnya.

“ Eoh Jiyeon-ah, jam berapa kau akan berangkat ke sekolah ? “ Tanya Ye Jin pada putri pertamanya yang berusia 18 tahun Park Jiyeon seraya menarik koper yang berisi oleh-oleh untuk mertuanya.

Jiyeon mempercepat kegiatannya mengikat rambut sang adik, gerakannya yang terburu-buru membuat Park Jeo Min sang adik meringis tertahan, rambutnya serasa ditarik-tarik oleh Jiyeon eonninya “ 2 Jam lagi eomma, tidak perlu terburu-buru itu hanya perayaan kelulusan “ Ucap Jiyeon mencoba menghilangkan perasaan bersalah eommanya karena tidak bisa hadir dihari kelulusannya.

Ye Jin mengangguk mengerti “ Eoh Jeo Min-ah, kau cantik sekali, kajja!! Jangan sampai appa meneriaki kita lagi “ Ye Jin menggamit tangan Jeo Min, namun yang ditarik menahan langkahnya “ Waeyo ? “ Tanya Ye Jin.

“ Eomma, sebenarnya aku lebih ingin menghadiri hari kelulusan eonni, aku belum pernah bertemu halmeoni, jadi aku merasa takut dan hal itu tidak menyenangkan “ Ucap Jeo Min mengerucutkan bibirnya.

“ Isshh, hari kelulusan eonni bisa kita rayakan besok, halmeoni orang yang sibuk dan sangat sulit untuk ditemui, jadi jika kita sudah berjanji harus ditepati “ Ucap Jiyeon memasang wajah meyakinkan seolah ia mengenal sosok halmeoni, padahal ia sendiri belum sekalipun bertemu.

“ Appa sudah berjanji akan mengajak kita makan diluar bersama untuk merayakan kelulusan eonni besok , otthe ? “ Bujuk Ye Jin kemudian.

Meski masih merasa malas, Jeo Min pun mengangguk mengerti “ Jiyeon-ah, jangan lupa sebelum berangkat, pastikan perut harabeoji sudah terisi dan titip ke rumah Bibi Lee ketika kau pergi eoh ? “ Ucap Ye Jin mengingatkan.

“ Siap eomma, jangan khawatir, percayakan semuanya pada putrimu yang cantik ini, semuanya pasti akan beres “ Ucap Jiyeon menepuk dada menyombongkan dirinya.

.
.
.

“ Mianhae, kami tidak bisa menemanimu…..walaupun begitu kau harus memberi kabar jika mendapatkan predikat terbaik eoh ? “ Ucap Yonghwa memegang hangat tangan putrinya.

Jiyeon tersenyum dan membalas pegangan hangat sang appa “ Yya…kalian hanya tidak menemaniku dihari kelulusan, mengapa mendramatisir sekali dengan raut wajah seperti itu ck…jinjja?? ara…ara…aku akan langsung menghubungi appa dan eomma jika predikat terbaik itu aku terima “ Ucap Jiyeon berdecak gemas melihat wajah berat keluarga untuk meninggalkannya.

“ Jaga dirimu dan harabeoji baik-baik eoh !!! “ Ucap eommanya dari dalam seraya melambaikan tangan.

“ Nde, jangan khawatir….kalian juga hati-hati dan cepat kembali, jangan lupa sampaikan salam pada halmeoni, kelak aku juga ingin bertemu dengannya “ Ucap Jiyeon sedikit berteriak karena mesin mobil telah menyala.

“ Eonni !!! siapkan pakaian yang cantik untukku besok merayakan kelulusan eonni, eomma pasti tidak ada waktu lagi untuk menyiapkannya eoh, aku harus tampil lebih cantik dari eonni “ Teriakan Jeo Min tidak kalah kencang dengan suara Jiyeon.

“ Aigo…nde tuan putri “ Ucap Jiyeon membungkukkan tubuh seolah ia seorang pelayan membuat Jeo Min tersenyum senang dan kedua orangtuanya menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya.

“ Hati-hati, saranghaeyoooooo !!! “ Teriak Jiyeon ketika mobil bergerak menghilang dari pandangannya, dan ia pun melangkah masuk untuk berkemas.

.
.
.

“ Dokter Jae lepaskan, sudahlah jangan memakai emosimu, bagaimanapun dia adalah keluarga pasien, dia berhak memutuskan apa yang terbaik untuk keluarganya “

Nafas Jaejoong memburu, beruntung ada dokter Nam rekannya yang menarik tubuhnya, jika tidak mungkin kini ia akan berurusan dengan polisi karena memukul keluarga pasien.

“ Jika aku jadi dirimu, meski nyawa taruhannya aku akan mempertahankan hidupnya “ Ucap Jaejoong geram dan segera meninggalkan seorang lelaki berperawakan kurus tinggi yang kini terlihat gemetar karena hampir saja dipukul olehnya.

Jaejoong adalah seorang dokter bedah hebat, meskipun dia bukanlah yang terbaik. Sikapnya dingin terhadap pasien dan keluarganya, bahkan ia hanya memperkenalkan dirinya singkat kepada keluarga pasien ketika akan melakukan operasi, Jaejoong merasa ia bukan dokter senior jadi tidak perlu secara detail memperkenalkan diri, meski begitu sebenarnya ia adalah dokter yang pandai mengendalikan keadaan pasien yang darurat.

Lelaki tadi telah menyulut emosinya, dengan enteng lelaki tadi meminta Jaejoong untuk mencabut semua peralatan dari tubuh istrinya hanya karena lelaki tadi tidak punya waktu untuk terus menerus menemani istrinya selama dirumah sakit yang membuat perusahaannya terbengkalai.

Jaejoong terus menyusuri koridor rumah sakit, disaat emosinya sedang naik seperti ini maka menemui seseorang adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan.

Tok

Tok

Tok

“ Masuk !! “

Krieett

“ Eoh kau belum pulang ? “ Tanya Jaejoong ketika mendapati Im Nana seorang dokter yang menjadi kekasihnya masih terlihat diruangan.

Nana tidak menjawab pertanyaan Jaejoong, ia nampak sedang terburu-buru memakai seragam dan mengambil data untuk ia bawa.

“ Kau mau kemana ? masih ada jadwal ? “ Tanya Jaejoong penasaran.

“ Jong-ah, mianhae aku harus segera menangani pasien yang baru saja mengalami kecelakaan, nanti saja kita bertemu lagi “ Nana pun melesat pergi meninggalkan Jaejoong diruangannya sendirian.

Jaejoong menggusak rambutnya kesal, lipatan-lipatan kekesalan diwajahnya semakin bertambah, ia kembali gagal untuk mengajak Nana makan siang bersama. Sudah hampir 2 minggu Nana selalu memiliki alasan untuk menolak ajakan Jaejoong, entah karena pasien yang harus ditangani ataupun alasan yang membuat dahi Jaejoong mengernyit heran, meski merasa aneh namun Jaejoong tidak pernah memiliki jawaban atas kebingungannya.

“ Sepertinya ini hari yang buruk untukku “ Keluh Jaejoong dan meninggalkan ruangan Im Nana.

.
.
.

“ Park Jiyeon, Park Jiyeon, Park Jiyeon, Park Jiyeon !!!“

Jiyeon melangkah mantap, sorak sorai dan tepuk tangan mengiringi langkah kakinya menuju podium, senyum lebar dan perasaan senang tidak dapat ia sembunyikan. Tangannya terulur untuk menerima sebuah piala bertuliskan lulusan terbaik yang diberikan kepala sekolah, Jiyeon menerimanya dengan bangga, tubuhnya membungkuk sebagai tanda hormat “ Kamsahamnida kepala sekolah “ Ucapnya ketika piala berpindah ketangannya.

“ Silahkan berikan sambutanmu “ Titah kepala sekolah mempersilahkan Jiyeon memberi sambutan.

Jiyeon mengangguk senang, ia menggeser tubuhnya dan meraih microphone dihadapannya, wajah imutnya terlihat gugup, ia menarik nafasnya sejenak dan seketika itu bayangan orangtua, Jeo Min, serta harabeoji yang bangga dihadapannya muncul bergantian.

“ Selamat siang, namaku Park Jiyeon dari kelas 3B, Ya Tuhan apa yang akan aku ucapkan selain terimakasih atas apa yang aku dapatkan hari ini ? “ Perasaan gugup dan senang bercampur jadi satu, berkali-kali ia meraih rambutnya yang terjatuh kemudian menyelipkan di telinganya.

“ Appa, eomma, Jeo Min yeodongsaeng serta harabeoji…..mereka pasti bangga jika melihatku dapat berdiri disini, sayangnya mereka tidak bisa hadir menemaniku, namun begitu rasa terimakasih yang sebesar – besarnya aku ucapkan untuk mereka, jika tidak karena dukungan keluarga aku tidak akan mungkin berdiri disini, untuk teman -teman….meski setelah ini kita akan jarang bertemu, namun aku selalu mendoakan keberhasilan kita semua dalam meraih cita-cita, apapun cita-cita kalian berusahalah dengan keras nde ? Hwaiting !!! “ Jiyeon mengepalkan tangannya memberikan semangat.

“ Kepala sekolah, seosangnim, serta penjaga sekolah yang sering kerepotan dengan tingkah kami kamsahamnida dan jwesonghamnida, mohon untuk tetap mendoakan kami, kamsahamnida, sekali lagi selamat berjuang untuk meraih cita-cita selanjutnya kawan, kamsahamnida “ Jiyeon membungkukkan tubuh berkali-kali dan setelahnya bergegas turun dari panggung.

“ Horeeeeeee…..kita lulussssss !!!! “

Jiyeon berlari keluar aula dan menyatu dengan teman-teman lainnya merayakan kelulusan, sobekan kertas beterbangan di udara dan kemudian jatuh menghujani mereka yang merayakan kelulusan begitu gembira, tidak terhitung berapa orang yang memberikan selamat serta meminta Jiyeon untuk berfoto bersama hingga ia lupa untuk memberikan kabar pada orangtuanya. Hanya ada tawa, teriakan, dan tangisan gembira yang terdengar, mereka tidak segan mewarnai seragam dan menyiramkan air untuk menandai kelulusan mereka.

Ditengah ramainya suasana kelulusan, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang memanggil melalui radio sekolah.

“ Kepada Park Jiyeon murid dari kelas 3B, mohon untuk datang ke kantor kepala sekolah segera, kamsahamnida “

Jiyeon berhenti melompat ketika mendengar panggilan untuk dirinya dari pihak sekolah, ia menarik senyumnya dan mengernyit heran, namun begitu kakinya sudah melangkah menuju ruang kepala sekolah, dan Jiyeon tetap tersenyum ketika banyak teman-temannya menyapa.

“ Park Jiyeon ada telepon dari pihak rumah sakit untukmu “ Ucap seorang guru ketika Jiyeon tiba disana.

“ Rumah sakit ? “ Heran Jiyeon, ia tidak paham ada hubungan apa rumah sakit dengan dirinya, tiba-tiba perasaannya menjadi resah, Jiyeon mempercepat langkahnya dan meraih gagang telepon dengan penasaran.

“ Yeobboseo ? “ Sapa Jiyeon.

“ Apa benar ini Park Jiyeon agassi ? “

“ Nde…..benar…..aku… Park Jiyeon “ Ucap Jiyeon ragu, entah mengapa tengkuknya terasa dingin dan bulu-bulu halus disana pun seolah berdiri ketika seseorang diseberang sana menyebut lengkap namanya, menandakan benar jika Jiyeonlah yang dicari.

“ Agassi, saat ini kedua orangtua anda sedang berada dirumah sakit, mereka dalam keadaan kritis, silahkan agassi datang sekarang juga “

Jegerrrrrr !!!!

Untuk beberapa saat Jiyeon hanya diam mencoba menangkap maksud dari seseorang yang berbicara diseberang sana, namun ketika orang itu mengulangnya ia menggeleng tidak percaya, wajahnya berubah sangat pucat, dan kakinya melemas seolah tidak lagi sanggup untuk menopang tubuhnya.

“ Kau jangan bercanda, ini tidak lucu sama sekali, ini hanya hari kelulusanku bukan ulangtahunku “ Ucap Jiyeon masih mencoba tersenyum.

“ Agassi, silahkan datang ke rumah sakit St Mary untuk lebih jelasnya, kamsahamnida “

Gagang telepon terlepas dari genggaman Jiyeon, namun ia tidak segera berlari, otaknya masih belum menerima dengan jelas apa yang sedang terjadi dan apa yang baru saja didengarnya, hingga kalimat-kalimat terakhir anggota keluarganya terdengar jelas.

“ Mianhae, kami tidak bisa menemanimu…..walaupun begitu kau harus memberi kabar jika mendapatkan predikat terbaik eoh ? “

“ Jaga dirimu dan kakek baik-baik eoh !!! “

“ Eonni !!! siapkan pakaian yang cantik untukku besok merayakan kelulusan eonni, eomma pasti tidak ada waktu lagi menyiapkannya, aku harus tampil lebih cantik dari eonni “

Jiyeon memaksa kakinya untuk berlari kencang, suara-suara yang menyapanya tidak lagi dapat ditangkap oleh pendengarannya, Jiyeon hanya melihat mereka menggerakkan bibir tanpa suara yang terdengar, jantung Jiyeon semakin berdetak cepat entah karena ia yang berlari begitu kencang, atau mungkin memang kabar buruk akan menimpanya.

“ Tuhan tolong, jaga appa, eomma dan Jeo Min untukku, mereka harus baik-baik saja “

.
.
.

Nana keluar dari ruang operasi dengan kepala tertunduk sedih, perasaan bersalah menghinggapinya, ia tidak berhasil menyelamatkan satu-satunya orangtua gadis kecil yang kini terbaring tak sadarkan diri karena luka-luka disekujur tubuhnya. Appa sang gadis kecil lebih dulu dinyatakan meninggal sesaat mereka tiba dirumah sakit. Selama melakukan operasi dan mendapati nyawa pasiennya tak tertolong, baru kali ini Nana benar-benar merasa bersalah, Nana mengira karena wanita itu dalam keadaan sadar diri ketika masuk kedalam ruang operasi.

“ Dokter tolong aku, selamatkan nyawaku, anak-anakku tidak memiliki siapapun untuk mereka bersandar “
Nana membekap mulutnya kuat, ia benar-benar merasa terguncang dengan kalimat wanita itu, terlebih Nana juga sempat menolong putri kecil wanita itu sebelum melakukan operasi.

“ Itu sudah takdirnya, jangan merasa bersalah seperti itu “ Tiba-tiba suara berat seorang laki-laki terdengar.

Jaejoong menegakkan tubuhnya dari sandaran dan melangkah mendekat ke arah wanita bertubuh langsing kekasihnya, dengan lembut ia meraih telapak tangan Nana dan menaruhnya ditelapak tangan besar miliknya.

“ Semua sudah ditentukan, sebelum mereka terlahir ke dunia Tuhan telah menentukan bagaimana cara mereka mati, kau sudah berusaha jangan menyalahkan dirimu “ Ucap Jaejoong mencoba membuat Nana merasa tenang.

Greb

Nana memeluk tubuh Jaejoong erat, dan menangis dibahunya “ Bagaimana dengan gadis kecil itu ? apa dia masih memiliki keluarga ? “ Tanya Nana tidak mampu menahan isak tangisnya.

Sudah Jaejoong duga, Nana pasti memikirkan sampai jauh keadaan keluarga pasien, tidak seperti dirinya yang dapat bersikap biasa saja, tanpa pusing memikirkan kegagalan yang memang diluar kuasanya. Jaejoong mengusap lembut rambut Nana.

“ Dimana orangtuaku ?????? “

Pelukan keduanya terlepas ketika seorang gadis dengan wajah pucat pasi dan wajahnya basah dengan airmata tiba-tiba muncul dihadapannya, Nana tidak segera dapat menjawab pertanyaan gadis itu, ia tidak mengenal gadis itu.

“ Aku bertanya dimana orangtuaku eoh ? apa kalian bisu ? “ Gadis yang ternyata Park Jiyeon melangkah mendekat dengan pandangan menuntut

Nana menarik tangan Jaejoong, menghalangi kekasihnya itu untuk bergerak “ Biar aku saja “ Bisiknya pelan, dan kemudian mendekatkan dirinya ke arah Jiyeon.

“ Siapa nama orangtuamu ? “ Tanya Nana lembut.

“ Park Yonghwa dan Seo Ye Jin, dimana mereka ? “ Ucap Jiyeon lantang dan nampak panik.

Nana menelan susah payah salivanya, baru kali ini ia merasa lemah dan tidak mampu memberikan rasa tenang pada keluarga pasien. Sebagai dokter yang berpengalaman, sudah seharusnya ia dengan cepat menguasai keadaan, mampu menatap keluarga pasien dengan kepercayaan diri tinggi, entah mengapa kali ini berbeda.

Perasaan Jiyeon semakin gusar, ia tidak ingin menebak-nebak kabar yang akan ia terima, namun wajah pias dokter seolah menjawab ketakutannya, tangan Jiyeon spontan memegang kedua bahu Nana dan mengguncang-guncangnya kuat “ Cepat katakan!!! mengapa kau diam saja ? apa yang sebenarnya kau sembunyikan ? katakan padakuuuuuu !!!! “

Jaejoong tidak lagi mampu menahan kekesalannya, ia merasa gadis ini telah bertindak tidak sopan, langkah kaki panjang Jaejoong bergerak cepat dan menghempaskan tangan Jiyeon dari bahu Nana yang wajahnya kini pucat pasih diperlakukan tidak senonoh oleh gadis dihadapannya.

Tubuh Jiyeon terhempas ketika Jaejoong menepis tangannya dari bahu Nana, ia mengangkat wajanya yang tertunduk dan kemudian menatap tajam keduanya meski jelas airmata sudah menggenang dipelupuk matanya “ Ini adalah hari kelulusanku, seharusnya hanya kabar baik yang aku terima, tapi tiba-tiba seseorang menghubungi dan memberikan kabar yang mengejutkanku, sekarang aku sudah tiba disini, jadi aku mohon kalian beritahu apa yang sebenarnya terjadi dengan keluargaku, mereka baik-baik saja kan ? “ Suara Jiyeon terdengar pelan dan lemah kali ini.

“ Aishhh….jinjja !!! “ Jaejoong benar-benar merasa kesal, baru kali ini ia melihat perdebatan panjang dokter dan keluarga pasien hanya untuk memberikan kabar tentang keadaan pasien, Jaejoong maju lebih kedepan, ia hendak mengambil alih tugas Nana “ Keluargamu mengalami kecelakaan di Seoul, operasi eommamu tidak berjalan lancar dan kami tidak berhasil menyelamatkannya, dan appamu…….dia meninggal dalam perjalanannya kesini, aku harap kau dapat menerimanya dengan ikhlas “

Mata Nana sontak terbelalak, ia memang mengenal sikap dingin Jaejoong dan acuhnya terhadap oranglain, tapi ia tidak mengira kalimat itu keluar dengan mudah dari mulut Jaejoong, tatapan Nana berganti pada Jiyeon yang berdiri seolah tidak bernyawa.

“ Kau bohong, kau bohong kan ? mengapa kau tega mengatakan hal itu dengan mudah ? apa kau tidak memiliki hati ? atau kau tidak pernah merasakan kehilangan ? “ Jiyeon semakin tidak terkendali, ia berteriak kencang membuat Jaejoong harus menutup kedua telinganya.

“ Yya!!!! kau pikir aku temanmu eoh ? kau pikir aku mengenalmu ? “ Hardik Jaejoong membuat Jiyeon sontak terdiam “ Aku bukan seseorang yang senang bercanda dengan oranglain, sebaiknya kau jaga saja adikmu yang masih selamat “ Ucap Jaejoong kali ini intonasinya menurun, namun tetap ia memasang wajah dinginnya.

“ Huhuhuuuhuhu….appa, eomma, mengapa kalian tega meninggalkan anak-anakmu ? aku berharap ini hanya mimpi, bagaimana hidup kami kelak tanpa ada kalian….huhuhuhu “ Tangis Jiyeon pecah, tubuhnya lemas dan kemudian ia terjatuh tidak sadarkan diri.

.
.
.

Hari sudah malam dan setiap penduduk sudah mengunci rapat pintu rumahnya, namun baru saja mata mereka akan terpejam, suara gedoran pintu membuat mereka terkejut dan terpaksa bangun untuk melihat siapa yang datang.

“ Aku hanya ingin memberikan choco pie ini “ Wajah tua Mr ‘Seo Wan Ho harabeoji dari Park Jiyeon dan Park Jeo Min muncul dan membuat mereka kesal.

Mr’Seo memang kerap melakukan hal-hal aneh, penyakit demensia – pikun – membuatnya tidak sadar dan peduli jika oranglain merasa terganggu dengan sikapnya, ia berkeliling ke setiap rumah dan menggedornya kencang hanya untuk membagikan choco pie kesukaannya.

“ Yya!!! ambil saja ini untukmu, dan tidak perlu membagikan pada kami, ini sudah malam dan kami harus beristirahat “ Amuk seorang ibu rumah tangga yang merasa terganggu.

Mr’Seo hanya tersenyum dan kemudian berlalu, ia kembali melangkahkan kaki tuanya dan menggedor pintu lainnya, dan setiap kali itu pula hanya amarah yang Mr’Seo terima, bahkan seorang pria tega mendorong tubuh Mr’Seo hingga terjatuh.

“ Eoh…aku tidak bisa berdiri “ Lirih Mr’Seo nampak kesulitan untuk berdiri.

Tidak jauh dari sana,

Dengan berderai air mata Bibi Lee Eun Cha ditemani oleh cucu laki-lakinya Lee Kwang Soo mencari keberadaan Mr’Seo, setelah mendapat kabar dari Jiyeon tentang kecelakaan yang menimpa keluarganya Bibi Lee tidak henti-hentinya menangis.

Semakan panik dan bingung karena baru menyadari jika Mr’Seo menghilang dari rumah. Bibi Lee adalah teman sejak kecil Mr’Seo, oleh sebab itu Bibi Lee rela menemani dan menjaga Mr’Seo yang sudah pikun jika keluarga Park meminta tolong padanya. Mr’Seo sendiri selalu menolak jika keluarga Park mengajaknya serta, Mr’Seo bilang ia tidak ingin meninggalkan kampung halamannya walaupun sekejap.

“ Halmeoni itu Mr’Seo !!! “ Teriak Kwang Soo seraya menunjuk sosok Mr’Seo yang terjatuh.

“ Aigoooo Seo-ah……apa yang terjadi ? “ Teriak Bibi Lee dan berlari kencang ke arah Mr’Seo.

Sementara Kwang Soo meraih tubuh lemah Mr’Seo untuk segera bangkit, Bibi Lee dengan emosi menggedor-gedor pintu pemilik rumah “ Yya!!!! apa yang kau lakukan pada Mr’Seo eoh ? kalian pasti menyakitinya, keluar kalian !!! “ Teriak Bibi Lee marah.

Sekali teriakan pemilik rumahpun membuka pintu, melihat wajah Bibi Lee yang begitu emosi, nyali mereka menciut seketika, Bibi Lee adalah orang yang sangat ditakuti karena sikapnya yang galak.

“ Eoh kurasa Mr’Seo terjatuh sendiri, kami tidak melakukan apapun padanya “ Ucap pemilik rumah berusaha mengelak apa yang telah ia lakukan.

Bibi Lee menatap menyelidik, ia bukan orang bodoh yang mudah dibohongi, namun hari sudah malam dan ia harus segera beristirahat untuk kegiatan besok pagi menemani Jiyeon “ Jika kalian terbukti melakukannya, aku tidak akan segan-segan membuat perhitungan “ Ancam Bibi Lee

Kwang Soo bernafas lega, tidak ada keributan lagi yang terjadi karena halmeoninya membela Mr’Seo, kadang Kwang Soo merasa lelah mengikuti semua perintah halmeoni yang begitu protektif ketika menjaga Mr’Seo, bahkan ia cucunya sendiripun tidak sampai dibela seperti yang halmeoninya lakukan pada Mr’Seo.

“ Choco pie ini belum habis, aku masih harus berkeliling “ Ucap Mr’Seo dengan suaranya yang gemetar.

“ Sudahlah Mr’Seo ini sudah sangat malam, kajja!!! Kita harus segera pulang “ Ucap Kwang Soo menuntun Mr’Seo pulang.

Bibi Lee menatap sedih Mr’Seo, tumbuh dan tua bersama sebagai sahabat namun terasa miris karena penyakit yang diderita Mr’Seo, ia tidak tahu bagaimana menyampaikan kabar sedih ini pada sahabatnya.

.
.
.

Bibi Lee dan Kwang Soo menyalami dan mengucapkan terimakasih satu-persatu tetangga yang datang untuk melepas kepergian Tuan dan Nyonya Park, sementara Mr’Seo berdiri tepat dibelakang Jiyeon yang hanya diam memandang foto appa dan eommanya, ia belum paham apa yang sedang terjadi, mengapa banyak tamu yang datang dan berwajah sedih, Mr’Seo merogoh kantong dan mengeluarkan choco pie-nya dari sana.

“ Ini untukmu “ Ucap Mr’Seo memberikan choco pie pada Jiyeon.

Jiyeon menoleh memandang choco pie pemberian Mr’Seo, tiba-tiba hatinya merasa begitu sedih.

“ Jiyeon-ah, jangan lupa sepulang sekolah belikan choco pie untuk haraboeji, jika tidak harabeoji tidak mau makan “
Bahu Jiyeon kembali bergetar dan airmatanya menetes teringat akan eommanya yang selalu perhatian pada keluarganya, dan sekarang semua tanggungjawab itu harus Jiyeon pikul dengan pundaknya sendirian. Jiyeon merasa dunianya runtuh, ditinggalkan orangtua yang teramat ia cintai seperti terbanting ke tanah dengan sangat keras, bintang miliknya seolah menangis dalam kegelapan, Jiyeon tidak tahu apakah ia sanggup melewatinya.
Mr’Seo merasa bersalah mengira jika dirinya membuat cucunya itu menangis “ Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu menangis, baiklah aku tidak akan memberimu choco pie inilagi, ini untukku saja, maafkan aku….jangan menangis “ Sesal Mr’Seo.

“ Huhuhuhu harabeoji “ Jiyeon memeluk Mr’Seo menghentikan harabeojinya yang ingin memukul dirinya sendiri.

Bibi Lee dan Kwang Soo sibuk mengusap air mata dengan ujung tangan hanboknya melihat kakek dan cucu yang saling berpelukan erat.

“ Kwang Soo-ah kita harus menjaga mereka, kini tidak ada siapapun yang akan baik pada mereka “ Ucap Bibi Lee.

Kwang Soo mengangguk dan terus saja sibuk mengusap airmatanya, meski ia tidak terlalu dekat dengan keluarga Park seperti halmeoni-nya, namun kesedihan Kwang Soo tidak dapat ia ungkapkan, melihat Jiyeon yang masih sangat muda, Jeo Min yang masih sangat kecil dan Mr’Seo yang sudah tua, Kwang Soo tidak sanggup membayangkan kehidupan mereka selanjutnya.

.
.
.

Tubuh Nana menegang, untuk beberapa saat otaknya tidak mampu berpikir, sederatan kalimat mengenai riwayat pemilik darah pada sebuah dokumen dihadapannya membuat nyawa Nana seolah terlepas dari raganya, ia telah melakukan kesalahan, kesalahan fatal yang akan merubah hidup seseorang, Nana tidak percaya ia seceroboh itu.

Tok…tok….tok

Dengan cepat Nana menyembunyikan dokumen dihadapannya, tubuhnya bergetar hebat namun ia berusaha untuk tetap tenang.

Jaejoong muncul dari balik pintu, melihat wajah Nana yang pucat membuat Jaejoong khawatir “ Kau kenapa ? apa kau sakit ? “ Tanya Jaejoong.

Nana menggeleng cepat, namun wajahnya semakin terlihat pucat membuat Jaejoong tidak begitu saja percaya.

“ Akhir-akhir ini aku seperti tidak mengenalmu, kau selalu menolak ajakanku dan jarang sekali berbicara ketika sedang bersamaku ? waeyo ? “ Tanya Jaejoong menunjukkan rasa kecewanya terhadap sikap Nana.

Nana tidak mendengar apa yang Jaejoong katakan, otaknya sibuk memikirkan bagaimana bisa ia melakukan tranfusi darah tanpa memeriksanya terlebih dahulu, sebagai seorang dokter keadaan darurat adalah hal biasa, dan itu bukanlah alasan agar kecerobohannya diampuni, sekilas bayangan gadis kecil dan eonninya yang kemarin pingsan dihadapannya berkelebat, Nana bisa membayangkan betapa akan menderitanya keluarga Park yang tersisa.

“ Hari ini aku tidak ingin mendengar lagi kalimat penolakan, aku ingin kita makan siang bersama “ Ucap Jaejoong, menyadari tidak ada respon dari Nana, Jaejoong pun menatap lekat ke arah kekasihnya itu “ Nana-ssi….Im Nana !!! “ Terika Jaejoong.

“ Eoh ? nde ? kau membicarakan tentang apa ? “ Tanya Nana membuat Jaejoong harus menghela nafasnya lelah.

.
.
.

Seminggu kepulangan keluarga Park dari sumah sakit,

“ Apa alasannya rumah ini kalian sita eoh ? appaku adalah pemilik rumah ini, dan meski orangtuaku tidak ada, ini tetap menjadi milik anak-anak yang ditinggalkannya “ Ucap Jiyeon sengit.

Mendengar suara Jiyeon, Mr’Seo yang sedang serius menonton televisi dan Jeo Min yang sedang bermain dengan boneka diatas kursi roda tersentak kaget, Jeo Min mengayuh kursi rodanya penasaran dengan apa yang terjadi, namun dengan cepat Mr’Seo menahannya “ Jangan mendekat, sepertinya mereka orang jahat “ Ucap Mr’Seo nampak ketakutan.

“ Jeongmal ? jika begitu kita harus membantu eonni “ Ucap Jeo Min kembali ingin mengayuh kursi roda.

“ Jeo Min-ah, temani aku, aku tidak mau keluar, aku takut “ Ucap Mr’Seo dengan wajah memohon.

Jeo Min menatap Mr’Seo dengan pandangan iba “ Baiklah, aku akan menemani harabeoji, tapi kita sedikit saja melihat, otthe ? “ Ucap Jeo Min yang akhirnya diangguki senang oleh Mr’Seo.

“ Kalian harus segera mengosongkan tempat ini agassi, ini sudah jadi milik perusahaan tempat appamu dulu bekerja “ Ucap salah satu pria yang menjadi pemimpin.

Jiyeon bergeming dan tetap mempertahankan apa yang menjadi miliknya “ Apa kalian memiliki surat resmi untuk melakukan ini eoh ? tch…tidak kan ? kalian jangan membohongiku, aku tidak bodoh seperti yang kalian kira “ Ucap Jiyeon tegas.

“ Agassi, appa anda adalah tersangka korupsi tender perusahaan tempatnya dulu bekerja, dan sekarang ini pihak berwajib telah memutuskan untuk melakukan penyitaan, kami datang sebelum pihak berwajib yang akan semakin mempersulit keadaanmu, jadi sekarang kami mohon kerjasamanya “ Ucap salah satu pria tersebut.

Mr’Seo dan Jeo Min saling mengeratkan jemari mereka dibalik tirai, tidak lama mereka saling menatap tidak mengerti ke arah Jiyeon yang hanya diam tidak berbuat apapun ketika akhirnya orang-orang itu memperlihatkan surat penyitaan harta keluarga Park.

“ Haraboeji, apa yang terjadi ? “ Bisik Jeo Min.

Mr’Seo mengamati kembali apa yang sedang terjadi, tidak lama ia tersenyum ke arah Jeo Min “ Kurasa mereka meminta choko pie pada eonni “ Ucap Mr’ Seo asal membuat Jeo Min mengernyit tak percaya.

“ Apa benar ? kurasa mereka tidak butuh choko pie “ Ucap Jeo Min membuat Mr’Seo harus menatap kembali dan mendengarkan dengan seksama percakapan orang-orang dihadapannya.

“ Baiklah agassi, aku akan memberikan waktu 1 hari lagi untuk anda berkemas, setelah itu kami tidak ingin mendengar alasan apapun dari anda “

Pria itu memberi kode kepada teman-temannya yang lain untuk mengikutinya meninggalkan rumah keluarga Park. Jiyeon memandang kosong apa yang ada didepannya.

“ Eonni….mereka siapa ? “ Wajah polos Jeo Min dan bingung Mr’Seo muncul dihadapan Jiyeon.

Bibir Jiyeon tidak mampu menjelaskan apa yang terjadi, namun airmatanya yang menetes memberikan isyarat jika kabar buruk kembali menimpa keluarganya, Jeo Min dan Mr’Seo saling berpandangan.

“ Haraboeji, Jeo Min-ah….aku tidak tahu kemana kita harus pergi, tapi kita harus segera berkemas “ Ucap Jiyeon lirih dan melangkah lemah meninggalkan Mr’Seo dan Jeo Min yang kembali berpandangan tidak mengerti.
.
.
.

“ Kau berbohong !!! “

Nana hanya tersenyum dengan respon yang Jaejoong berikan ketika ia menceritakan perihal penyakit yang sudah lama dideritanya, selama ini Nana mencoba menutup rapat tidak ingin siapapun mengetahuinya, termasuk Jaejoong pria yang memilihnya untuk menjadikan Nana wanita yang pria tampan dan berwajah dingin itu cintai, banyak hal yang Nana pertimbangkan sebelum ia menceritakan semuanya, wajah gadis kecil bernama Park Jeo Min membuat Nana akhirnya memutuskan untuk bercerita, ia tidak ingin ketika bereinkarnasi masih membawa dosa yang membuat kelak hidupnya sulit, Nana pun berfikir untuk meminta bantuan kekasihnya agar Tuhan mengampuni kesalahannya.

“ Awalnya aku juga tidak bisa menerimanya, tapi seperti kau bilang….setiap manusia sebelum ia terlahir telah dituliskan bagaimana caranya ia mati, aku percaya kata-katamu, dengan begitu aku ikhlas menerima cara kematianku yang seperti ini “ Ucap Nana menundukkan wajahnya.

Seperti mendengar petir disiang hari, Jaejoong benar-benar tidak ingin mendengar itu semua, Nana adalah satu-satunya wanita selama hidupnya yang mampu meluluhkan sikap dinginnya, seorang wanita lembut, pintar, dan cantik yang mengerti sifatnya disaat orang-orang lainnya mencemooh dengan mengatakan Jeajoong dokter yang tidak beratittude.

“ Lakukan operasi secepatnya, siapa dokter yang menanganimu eoh? kita harus memintanya untuk cepat bertindak “ Kekhawatiran terlihat jelas pada wajah Jaejoong.

“ Jong-ah, kanker pankreasku sudah stadium akhir, kau tahu artinya kan ? “ Ucap Nana lembut.

Mata Jaejoong memerah, jika ia bukan seorang pria sudah tentu kini wajahnya telah basah dengan airmata, Jaejoong mendekatkan tubuhnya ke arah Nana, menempelkan dahinya sejajar dengan dahi Nana, menangkup kedua pipi lembut Nana dengan telapak tangan besarnya, ia sangat takut dan tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat ia cintai dalam hidupnya “ Meski begitu manusia tidak pernah boleh menyerah “ Ucap Jaejoong pelan yang dibalas oleh senyuman Nana.

“ Berbuatlah baik pada setiap orang, rubah cara bicaramu pada setiap pasien yang kau tangani, mereka yang sedang bersedih pasti tidak sanggup mendengar kalimat pedas dari bibirmu, meski apa yang kau katakan adalah realita “ Pesan Nana lembut.

Tangan Jaejoong bergerak menyusuri tubuh belakang Nana, dan dengan hentakkan keras ia mendekatkan tubuh Nana dekat dengan tubuhnya, Jaejoong benar-benar tidak ingin kisah cintanya berakhir duka, disaat ia sangat menginginkan wanita cantik dan anggun dihadapannya ini mendampingi hingga akhir hidupnya.

.
.
.

Jiyeon menatap tajam Mr’Seo dan Jeo Min yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri tadi, sementara ia sendiri sudah menenteng dua buah koper dalam genggamannya dengan susah payah “ Jeo Min-ah, haraboeji palli !!! kita harus segera meninggalkan tempat ini “ Dan Jiyeonpun bergegas keluar, namun kakinya terhenti ketika menyadari tidak satupun dari harabeoji ataupun Jeo Min yang mengikuti langkahnya.

“ Kajja, kita pergi sebelum hari semakin gelap “ Ucap Jiyeon, namun lagi-lagi harabeoji dan Jeo Min terdiam “ Jangan membuatku semakin susah, cepat kita pergi dari sini sebelum orang-orang itu datang dan membunuh kita “ Intonasi Jiyeon meninggi, wajahnya terlihat begitu putus asa.

“ Aku disini saja, aku tidak ingin kemana-mana, kau saja yang pergi, biar aku dan Jeo Min disini “ Ucap Mr’Seo tanpa perasaan bersalah tidak memahami kekesalan Jiyeon.

Tangan Jiyeon mengepal kuat, rasanya ia begitu lelah menghadapi haraboeji, sementara Jeo Min adiknya menatap Jiyeon takut “ Siapa yang akan mengurus kalian disini jika aku tidak ada eoh ? sekarang ini semua tanggungjawab aku yang harus memikulnya, jadi aku mohon kalian bantu agar beban ini tidak terasa berat untukku hadapi sendiri, kita harus segera pergi dari sini, ini sudah bukan milik kita lagi “ Jiyeon mengatakannya tanpa jeda seolah-olah ingin segera menyelesaikan semuanya.

“ Eonni, sebenarnya appa dan eomma kemana ? jika kita pergi bagaimana appa dan eomma menemukan kita ? aku ikut haraboeji saja menunggu appa dan eomma disini “ Ucap Jeo Min polos.

Kalimat Jeo Min membuat Jiyeon terdiam, ia lupa apa yang sudah ia jelaskan tentang keberadaan orangtuanya pada Jeo Min dan haraboeji, perasaan menyesal menjalar, tidak seharusnya ia berkata-kata kasar pada adik dan haraboejinya yang memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Jiyeon memang tidak menceritakan yang sebenarnya pada mereka, mengingat haraboeji yang pikun dan Jeo Min yang masih sangat kecil tidak pantas untuk bersedih, kini ia harus merelakan dirinya menanggung beban berat kelangsungan hidup keluarganya kelak seorang diri.

.
.
.

Next Day at Desa Hwanghae,

Desa Hwanghae dikenal sebagai lumbung padi dan biji-bijian, daging babi dan ayam yang diproduksi didaerah ini memiliki rasa yang unik karena diternakan dengan pakan yang bagus, sebagian penduduknya bekerja sebagai petani dan peternak, dilahan atau hewan ternaknya sendiri ataupun hanya sebagai pekerja, namun tentu saja tidak semua penduduk desa Hwanghe adalah petani, para bangsawan dengan derajat tinggi juga tidak kalah banyak didesa ini, mereka biasanya menjadi tuan tanah atau ternak ataupun pemilik perusahaan di kota Seoul yang memilih untuk tetap tinggal di Hwanghe.

Meski sebuah desa, namun banyak juga bangunan-bangunan modern dan fasilitas umum yang memadai, ruang pendidikan yang mumpuni dan hal-hal lainnya yang juga ada di Seoul, ibukota Korea Selatan.

“ Eomma, jangan memaksaku untuk mengambil pendidikan seperti hyung, kami memiliki bakat yang berbeda, dan aku…..aku mencintai seni, kurasa bakatku memang ada disana “

Nyonya Kim nampak geram dengan jawaban anak bungsunya yang menolak mengikuti arahan suami dan dirinya yang menginginkan semua anaknya sukses dalam hidupnya kelak. Anak bungsunya memang berbeda dengan hyungnya, pembangkang, urakan, dan hal-hal yang sangat ia benci ada pada anak bungsunya ini.

“ Myungsoo-ah, dengarkan eomma….kehidupan yang layak dan nyaman akan kau dapatkan jika kau menjadi seorang dokter, dibandingkan dengan kuliah jurusan seni apa yang kau harapkan eoh ? “ Tanya eommanya dengan mimik wajah yang tidak bisa diterima oleh Kim Myungsoo anak paling kecil dikeluarga Kim.

Appanya yang sedang membaca tabloid hanya diam saja, merasa sudah sangat memahami sifat Kim Myungsoo.

“ Yeobbo, kau lihat anakmu ini….tch dia sama kerasnya seperti dirimu, ohh aigo kepalaku sakit jika berbicara dengan anak ini “ Ucap Nyonya Kim memegang kepalanya.

Sama hal dengan appanya yang hanya tersenyum, Myungsoo tidak ambil peduli, ia bangkit dan segera pergi keluar rumah, jika sedang merasa kesal ia pasti memilih untuk menginap dirumah sahabatnya, tanpa sepengetahuan keluarganya Myungsoo seringkali minum sampai mabuk, sejak hyungnya yang seorang dokter mendapat tugas di Seoul dan menetap disana praktis tidak ada satupun orang didalam rumahnya yang Myungsoo takuti, ia seperti kucing liar yang lepas dari kandangnya. Myungsoo hanya nampak kalem dan kerasan berada dirumah saat hyungnya datang dan menginap, hubungan keduanya tidak bisa dikatakan dekat namun juga tidak jauh, Myungsoo menganggap hyungnya yang dingin terlalu menakutkan untuk ia hadapi.

Hyungnya sangat pintar dalam hal apapun, berbanding terbalik dengan dirinya yang begitu cuek dengan pendidikan, namun begitu sebenarnya ia sangat pintar, mungkin hal satu-satunya yang ia tahu tentang kelebihannya adalah mengenai seni, Myungsoo menguasai hampir semua jenis alat musik, menggambar dengan sangat baik, dan bernyanyi dengan suaranya yang indah, dan tidak lupa dance, meski untuk bakat yang terakhir ia merasa jijik.

Hari sudah nampak gelap, merasa jalanan sangat sepi Myungsoopun meng-gas motornya sangat kencang, hembusan angin menerpa wajahnya, sesuatu masuk kedalam matanya dan membuat penglihatan Myungsoo terganggu. Terlalu berkonsentrasi pada matanya, ia tidak melihat ada dua orang tak jauh darinya sedang menyebrang jalan, kedua orang itu terhenyak, mereka baru menyadari ada sebuah motor dengan kecepatan tinggi ketika jarak diantaranya sudah berada sangat dekat, tidak tahu apa yang harus dilakukan, seorang gadis yang ada disana berteriak begitu kencang.

“ Berhentiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii !!!!!!!!!!!! “

Mendengar teriakan yang membahana Myungsoo tersentak, ia pun baru sadar jika ada orang lain disekitarnya “ Bodoh “ Pekik Myungsoo merasa kesal, ia pun terpaksa membanting setir untuk menghindari menabrak ketiga orang yang sedang menyebrang, alhasil ia harus merelakan dirinya dan motor miliknya jatuh ke pematang sawah dan merusak padi-padi yang siap panen.

Terlalu lega mengetahui dirinya selamat, gadis itu terduduk lemah ditempatnya berdiri.

“ Hey, apa kalian bodoh ??? untuk apa mata kalian ada ditempatnya jika menyebrang saja membahayakan orang lain ? “ Tubuh Myungsoo nampak kotor dengan bau tanah yang membuat perutnya mual, ia langsung saja menghardik kedua orang yang membuatnya sial seperti saat ini.

TBC

139 responses to “[ CHAPTER – PART 1 ] A MINUTE OF HOPE

  1. jiyeon bener2 kasian ternyata orang tuanya meninggal terus rumahnya disita seakarang dia hampir ketabrak aigoo kasian bgt nasib jiyeon, semoga dia bisa hidup lebih baik nantinua, lanjut baca ya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s