[ONESHOT] Happy Birthday Mom!

happy-birthday-mom-by-quinniechip

Quinniechip’s Present

Happy Birthday Mom!

Starring by Kim Myungsoo – Kim Jongin – Kim Sohyun

A Family Oneshot for General with Parental Guidance

Exodium @ Hospital Art Design

-oOo-

Sabtu pagi. Sama seperti sebelumnya, taman kota sudah dipenuhi oleh orang-orang yang ingin berolahraga, bermain, atau hanya duduk-duduk menikmati udara pagi. Mulai dari keluarga, sepasang kekasih, atau mereka yang datang bersama teman-temannya. Taman kota sepertinya menjadi pilihan bagus untuk menghabiskan pagi di akhir pekan yang cerah ini.

Tidak seperti biasanya. Ketiga saudara yang biasanya lebih memilih untuk bersantai di rumah, kini telah siap dengan kaus, celana training, dan sepatu olahraganya. Myungsoo yang sudah melakukan pemanasan sejak pertama kali memasuki taman kota dengan berlari-lari kecil dan melakukan peregangan otot. Sohyun yang tampak mengikuti gerakan kakaknya dengan konsentrasi yang masih difokuskan pada ponselnya, dan Jongin yang hampir saja tertidur di bangku taman jika Sohyun tak segera menyiramnya dengan air.

“Ya! Kau gila dengan menyiramku di depan umum seperti ini?” Teriak Jongin marah.

Sohyun hanya memutar bola matanya malas, “Akan lebih memalukan jika kau tertidur di tempat umum seperti ini.”

“Hei kalian berdua, daripada bertengkar dan berakhir mempermalukan diri sendiri, lebih baik kita berolahraga, palli!” Ucap Myungsoo menengahi dan meninggalkan mereka berdua untuk mulai berolahraga.

Memang hal yang tidak lumrah ditemui. Pada sabtu pagi di minggu sebelumnya, ketiga saudara ini bahkan masih belum keluar dari kamarnya masing-masing. Myungsoo masih akan terlelap karena mendapat lembur kemarin malam, jika tidak, ia pasti akan sibuk saling menelpon dengan kekasihnya. Jongin, bisa dipastikan bocah itu pasti masih tertidur di kamarnya seperti orang mati. Sedangkan Sohyun yang sebenarnya sudah bangun sejak tadi pasti sedang tidur tengkurap dan bermain dengan ponselnya. Mereka akan benar-benar bangun dan keluar dari kamarnya setelah aroma masakan telah tercium sampai ke kamarnya. Atau jika mereka tak segera keluar, suara menggelegar ibunya akan siap memekakkan telinga ketiganya.

Sebenarnya yang mengajak untuk berolahraga pada sabtu pagi ini adalah ibu. Tapi setelah mereka siap, ibunya justru masih sibuk menelpon dengan teman lamanya dan menyuruh ketiga anaknya untuk berangkat lebih dulu, sedangkan ibu akan menyusul nanti. Ketiganya tahu bahwa kata mommy akan menyusul nanti sama artinya dengan mommy tidak jadi ikut.

Setelah cukup lama berolahraga, ketiganya memilih untuk beristirahat dengan duduk di bahu taman. Saat akan mengeluarkan botol minum dari tas kecil yang ia bawa, Sohyun baru ingat bahwa air dalam botolnya telah habis untuk menyiram kakak keduanya di awal tadi. Sohyun hanya menatap Jongin kesal seraya menyalahkannya yang ia anggap sebagai alasan ia kehabisan air minum. Jongin yang tak ingin disalahkan hanya mengangkat alisnya heran.

“Apa? Mau menyalahkanku,” Jongin berdecih, “Itu salahmu sendiri, anak manja!”

Tak ingin kedua adiknya kembali bertengkar, Myungsoo langsung menengahinya kembali, “Hentikan. Sudah, Jongin beli cepat pergi beli minum untukku, Sohyun, dan kau sendiri.” Ucap Myungsoo seraya mengeluarkan uang dari kantung celananya.

Jongin langsung menerima uangnya dan berdiri, “Hyung, kau mau apa?”

“Air mineral saja, tidak usah yang dingin. Kau juga, Jongin dan Sohyun, beli yang biasa saja, atau penyakit flu kalian akan kembali kambuh.”

“Iya, aku mengerti,” Jongin mengiyakannya malas, “Ah, Sohyun berikan botol minummu padaku.”

“Untuk apa?” Tanya Sohyun bingung.

“Untuk mengisinya dengan air keran!” Ucap Jongin cepat dan segera berlari sebelum adiknya berhasil melemparnya dengan sepatu.

Sohyun hanya berteriak kesal pada Jongin yang mulai menjauh. Sedangkan Myungsoo hanya tertawa kecil melihat tingkah laku kedua adiknya, “Sudah, kalian ini sudah dewasa, tapi masih saja bertengkar seperti anak umur lima tahun.”

“Bukan aku yang memulainya, oppa!”

Myungsoo mengangguk mengerti, “Ya kau tahu, kan, bagaimana sifat kakakmu yang satu itu.”

Sohyun hanya terdiam dengan bibir yang dimajukan kesal dan kembali bermain dengan ponselnya. Saat membuka ponselnya ia melihat ada satu notifikasi pada kalendernya, setelah membukanya ia baru ingat akan rencana yang telah ia pikirkan belum lama ini.

“Ya, oppa, apakah kau ingat besok hari apa?”

“Hari minggu.” Jawab Myungsoo pendek.

Sohyun hanya menggeleng sambil menunjukkan ponsel padanya, “Bukan, besok adalah hari ulang tahun mommy!”

Setelah melihat tanggalnya dengan jelas Myungsoo baru teringat, “Ya Tuhan, bagaimana bisa aku lupa bahwa besok adalah ulang tahun mommy..”

“Untung saja aku sudah memasang notifikasi di ponselku, jika tidak mungkin mommy akan marah sepanjang hari seperti tahun lalu.” Kenang Sohyun.

Ya, tahun lalu tidak ada yang mengingat bahwa hari itu adalah hari ulang tahun sang ibu. Dan ibu yang sudah berharap bahwa akan diberi kado atau paling tidak hanya sekedar ucapan selamat dari ketiganya, ternyata tak ada. Sudah berkali-kali bu memancing topik agar anaknya mengingat ulang tahunnya, tapi nihil, ketiga anaknya masih tak mengingatnya. Sampai malam tiba, Sohyun baru sadar jika ternyata hari itu ibunya ulang tahun. Dengan cepat ia menggedor kamar kedua kakaknya dan memberitahu bahwa ibu ulang tahun. Dan hari itu ditutup dengan ucapan selamat bernada malu-malu dari anaknya.

Lamunan keduanya terinterupsi oleh kedatangan Jongin sambil menyerahkan masing-masing botol minum pada Myungsoo dan Sohyun.

“Ada apa? Sepertinya kalian sedang membicarakan sesuatu.”

Sohyun menunjukkan layar ponselnya pada Jongin, dan dengan cepat Jongin memundurkan kepala memperjelas pandangannya, “Apa? Rusak lagi?”

“Bukan,” Geleng Sohyun, “Oppa, kau tahu besok tanggal berapa?”

Jongin terdiam tampak berpikir, “Hei, kau tahu, kan, jika salah satu kelemahanku adalah tidak dapat mengingat tanggal dengan baik. Dan kini kau bertanya seperti itu. Apakah kau kira aku akan menjawabnya dengan benar, huh?”

“Ah iya,” Sohyun menepukkan kedua telapaknya pelan, “Oppa-ku yang satu ini memang sangat pelupa. Bahkan ia tak ingat tanggal lahirnya sendiri.”

Belum sempat Jongin menjitak kepala adiknya, Myungsoo sudah menghentikan pertengkarannya lebih dulu seraya tertawa melihat kelakuan keadua adiknya yang sama sekali tak pernah akur.

“Jadi, apa yang akan kita lakukan untuk mommy?” Sahut Sohyun.

Myungsoo menoleh dengan kedua alis yang bertaut, “Apa maksudmu dengan ‘apa yang akan kita lakukan’?”

“Tentu saja untuk merayakan ulang tahun mommy, Myungsoo oppa..” Sohyun menghela nafasnya pendek.

Jongin hanya diam tampak berpikir sambil mengetukkan jari di dagunya, “Bagaimana dengan surprise party?”

Myungsoo dan Sohyun hanya menatap Jongin kosong seraya memikirkan idenya, “Walaupun tampak sedikit kekanakan, tapi sepertinya ide suprise party tidak buruk juga.”

Jongin hanya membalasnya dengan tersenyum bangga. Benar-benar bangga dengan idenya kali ini, karena tak jarang kakak bahkan adiknya selalu menolak ide-ide yang ia usulkan. Mereka mengatan bahwa ide Jongin sudah terlalu maistream, dan ketika Jongin mengusulkan ide yang beda dari yang lainnya, Myungsoo juga Sohyun justru menolak dengan alasan ide Jongin sama sekali tidak masuk akal.

“Baiklah, lebih baik sekarang kita pulang, aku sudah cukup lelah pagi ini,” Ucap Myungsoo sambil memukul pelan kaki bagian bawahnya,”Ya, sambil memikirkan lebih lanjut apa yang akan kita lakukan untuk mom’s surprise party.”

Jongin dan Sohyun hanya mengangguk menurut, dan mengikuti langkah kakaknya menuju rumah mereka. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lebih empat puluh menit dan kemungkinan besar ibu mereka masih betah memegang gagang telepon ditangannya seraya terus mengoceh dan bergosip. Mungkin saat sampai rumah nanti, mereka dengan halus akan menyuruh ibunya untuk menghentikan kegiatan bergosipnya dan memasak sarapan untuk ketiga anaknya yang telah kelaparan seusai berolahraga.

-O-

“Kim Myungsoo! Ambil kain pel di dapur dan cepat bersihkan kopi yang kau tumpahkan!”

“Kim Jongin! Jangan sentuh apapun jika kau tak ingin merusaknya, atau uang jajanmu akan mommy potong selama enam bulan kedepan!”

“Kim Sohyun! Berhenti berkutat dengan ponselmu dan bantu mommy membersihkan rumah!”

Hening. Tak ada yang menjawab sama sekali. Ketiganya masih sibuk dengan urusan masing-masing. Mengacuhkan setiap teriakan yang dilontarkan oleh ibunya dari arah dapur. Myungsoo masih setia bercakap mesra dengan Jiyeon lewat telepon. Jongin yang sedari tadi berkutat dengan komik yang bertebaran disekitarnya. Dan Sohyun yang masih sibuk mengurusi online shop-nya yang telah berkembang cukup pesat.

Entah apa yang terjadi hari ini. Ibu merasa bahwa ketiga anaknya benar-benar mengesalkan. Sejak pagi tadi hingga sore ini. Mulai dari ketiganya yang benar-benar sulit dibangunkan, Myungsoo yang terus berkomentar atas sarapan yang dimasak oleh ibu, Sohyun yang berniat membantu tapi justru menghancurkan masakannya, dan Jongin yang terus bermain dengan vas kesayangan ibu dan berakhir memecahkannya hingga hancur berkeping-keping. Sebenarnya ibu masih bisa memakluminya, sebagai seorang ibu, tentu tak sulit untuk memaafkan anaknya. Tapi ketiganya hanya kompak meminta maaf dan berlalu begitu saja tanpa tanggung jawab.

Hidup belasan tahun dengan ketiga anaknya tanpa pernah terpisah sekalipun membuat ibu mengerti sifat dan sikap dari masing-masing anaknya. Myungsoo, sulung yang plin-plan tapi bijaksana. Jongin, anak tengah yang entah sengaja atau tidak selalu membuat masalah. Sohyun, si bungsu yang manja tapi tidak ingin dianggap anak kecil.

Sebagai orang tua tunggal, membuat ketiga anaknya menjadi benar-benar dekat satu sama lain. Sepuluh tahun lalu, ayah meninggalkan mereka untuk selama-lamanya karena penyakit jantung kronis. Tentu saja itu adalah satu masa yang benar-benar sulit untuk dilewatkan keempatnya. Ibu yang sebelumnya tak pernah bekerja harus memutar otak untuk membiayai kehidupan keluarganya. Ketiga anaknya masih belum sedewasa itu untuk mencari nafkah. Walaupun Myungsoo telah berulang kali memaksanya untuk mengijinkan kerja paruh waktu di sebuah cafe milik teman sekelasnya, tapi ibu tetap tak mengijinkan Myungsoo bekerja.

“Fokus pada sekolahmu saja. Biar mommy yang mencari uang, mommy masih bisa, sayang..”

Itulah jawaban yang Myungsoo dapatkan setiap ia mengutarakan niatnya untuk bekerja membantu ibu. Myungsoo yang saat itu berada pada tingkat akhirnya di sekolah menengah pertama, sudah cukup besar untuk tahu bahwa biaya yang mereka butuhkan untuk melanjutkan hidup tidaklah sedikit. Walau ayahnya juga meninggalkan peninggalan yang tidak sedikit pula, tapi harta itu bisa habis jika terus menerus digunakan tanpa pernah diisi kembali.

Usaha ibu saat itu tidaklah sia-sia. Hobinya merajut selama ini ternyata benar-benar berguna. Hasil rajutannya laris di pasaran, bahkan sekarang ibu sudah membuka tempat kursus dan pabrik kecil yang telah mempekerjakan sepuluh orang karyawan. Hasil rajutannya telah dipasarkan hingga luar negeri dan permintaan yang kian hari kian meningkat membuat usaha ibu menjadi sukses.

Mommy mau pergi kemana?” Tanya Jongin menoleh masih dengan posisi tengkurapnya.

Ibu yang kini sudah berdandan rapi dengan satu stel busana berwarna biru pastel yang benar-benar membuatnya semakin cantik. Ya, ibu tiga anak ini memang tampak jauh lebih muda dari usia yang sebenarnya. Bahkan Sohyun sempat takut jika nantinya ia akan tampak lebih tua dari ibunya sendiri.

“Pergi keluar bersama calon menantu.” Jawab ibu singkat tanpa melirik Jongin sekalipun.

Mendengar kata calon menantu membuat Myungsoo merasa terpanggil, “Mommy akan pergi jalan-jalan dengan Jiyeon?”

Ibu hanya menganggukkan kepalanya, “Sudah ya, mommy pergi dulu,”

“Ingat, jangan tinggalkan rumah tanpa dikunci, dan jangan biarkan Jongin menyentuh barang pecah belah, apapun, jika tidak mommy akan semakin rugi banyak.” Ucap ibu mengingatkan seraya tak lupa mencium pipi ketiga anaknya secara bergantian. Ya, ini memang sudah kebiasaan sejak dulu.

Mom, kau berkata seperti itu, membuatku jadi merasa seperti si monster perusak.” Ucap Jongin datar.

Ibu hanya tersenyum singkat, “Tapi memang begitu kenyataannya, sayang, seluruh barang yang kau pegang terlalu lama akan rusak entah bagaimana caranya.”

Sekali lagi Jongin hanya mendengus kasar disambut tawa oleh kedua saudaranya.

Sekeluarnya ibu dari rumah, dengan cepat mereka langsung meninggalkan kesibukan masing-masing dan berkumpul di tengah ruangan membentuk lingkaran.

“Jadi bagaimana? Sudah mengerjakan apa yang kita susun kemarin?” Ucap Myungsoo mengawali.

Jongin dan Sohyun langsung mengangguk pasti, “Kue sudah aku pesan dan bisa diambil sebentar lagi.” Sahut Sohyun sambil melirik jam tangannya.

“Segala perlengkapannya sudah siap.” Lanjut Jongin, “Balon, confetti, glitter telah menunggu untuk digunakan.”

Myungsoo tersenyum puas, “Bagus. Sohyun, ambillah kue-nya sekarang, dan pastikan jika mommy sudah tidak ada disekitar sini.”

Sohyun menunjukkan jepolnya sebelum bergegas keluar dan mengambil kue ulang tahun untuk pesta kejutan mereka kali ini. Jongin juga berinisiatif untuk mengeluarkan segala perlengkapan yang ia simpan di dalam kamarnya.

Seraya menunggu Sohyun datang membawa kue, Myungsoo dan Jongin mulai mendekorasi seisi ruangan untuk mendukung pesta kejutannya. Mulai dari meniup balon yang jumlahnya tidak sedikit sampai menempel tulisan di dinding.

Jongin dan Myungsoo sudah selesai dengan tugas dekorasi mereka. Semuanya sudah terpasang rapi dan cantik. Bahkan Jongin sudah memperkirakan ekspresi ibu jika datang dan melihat kejutan mereka. Semuanya tampak sempurna. Tapi hanya satu masalahnya, Sohyun masih belum kembali sejak dua jam yang lalu. Myungsoo sudah mengirim lebih dari sepuluh pesan yang berinti sama. Jongin juga sudah menghubungi berkali-kali dan berakhir dengan jawaban operator. Sampai suara gebrakan pintu yang cukup mengagetkan keduanya. Sohyun datang dengan langkah terburu dan nafas yang berdengus cepat. Bisa dipastikan jika ia sehabis berlarian untuk sampai kembali ke rumah.

“Ya! Apa kau memesan kue di Pulau Jeju?” Sindir Jongin saat Sohyun melangkah masuk.

Sohyun mengelap keringat yang bercucuran dari dahinya menggunakan tisu yang terletak di atas meja. Ia menatap kedua kakaknya dengan tatapan bersalah, “Maaf oppa, ini benar-benar di luar kendaliku,”

“Apa maksudmu dengan di luar kendali?” Tanya Myungsoo berusaha tenang.

Sohyun menganggukkan kepalanya sebelum kembali menjawab, “Jadi begini, saat aku keluar, mommy dan Jiyeon eonni masih berada tak jauh dari rumah karena mommy masih berbincang dengan Moon ahjumma yang aku yakin pasti tentang usaha rajut-”

“Tidak usah bertele-tele! Langsung ke intinya saja.” Potong Jongin masih tampak kesal.

Sohyun hanya membalas Jongin dengan tatapan yang sama kesalnya, “Aku menghindar dari mommy dengan melewati jalan belakang, lalu aku bertemu dengan Soojung eonni,”

Mendengar nama Soojung seketika menguba ekspresi Jongin. Dahi yang awalnya mengerut kesal kini telah menghilang berubah menjadi senyum merekah yang berusaha ditahan olehnya.

“Soojung eonni mengatakan bahwa ia baru saja putus dengan pacarnya dan-”

ARE YOU SERIOUS?!” Teriak Jongin membuat Sohyun dan Myungsoo tersentak kaget.

Jongin memegang kedua lengan Sohyun kuat dan menggoyangkannya cepat, “Ka.. Kau bilang Soojung dan lelaki manis itu telah berakhir?”

Sohyun hanya menatap Jongin bingung dan mengangguk. Sesaat kemudian Jongin kembali merubah ekspresinya dan menatap curiga pada Sohyun, “Kau tidak sedang bercanda, kan? Atau mungkin kau mengatakan hal itu untuk meredakan emosiku saja?”

Sohyun langsung tertawa mendengus, “Untuk apa aku melakukan itu, walau oppa marah sampai membakar rumah juga aku tak peduli.”

“Dan Soojung mengatakan hal sependek itu dengan menghabiskan waktu lebih dari dua jam?” Sahut Myungsoo yang sedari tadi diam kini ikut angkat bicara.

Sohyun menolehkan kepalanya dan tertawa polos, “Oppa tahu, kan, bagaimana perempuan jika sudah berkumpul dan saling bercerita. Waktu dua jam pun tak akan terasa sama sekali.”

“Dasar wanita.” Cibir Myungsoo pelan yang hanya dibalas oleh tawa kecil dari Sohyun.

“Ya sudah, letakkan kuenya di meja tengah,” Myungsoo melirik jam tangannya singkat, “Hei, cepat siapkan semuanya, sepertinya sebentar lagi mommy akan pulang.”

“Apa Mommy sudah dalam perjalanan pulang bersama-”

Bruuaakk!

Jongin terjengkang ke arah belakang dan berhasil mendaratkan bokongnya lebih dulu untuk menyentuh lantai. Sohyun yang terjembab ke depan gagal mempertahankan pegangannya pada kotak kue yang ia bawa. Myungsoo menatap nanar pada kotak kue yang terlempar cukup tinggi dan kemudan terjatuh dengan posisi terbalik.

Sohyun langsung menatap ke arah kue yang tengkurap tak jauh dari posisinya sekarang. Begitu juga Jongin yang melirik takut ke arah Myungsoo yang masih dia tak bergerak.

Hening. Ketiganya sama-sama diam. Tak ada yang bergerak dari posisi sebelumnya. Sampai teriakan si sulung membuat kedua adiknya berdiri tegap dengan kepala yang sama-sama menunduk.

“Ya!” Keduanya tersentak takut.

Rasanya ingin marah, tapi karena emosi yang begitu melupa membuat Myungsoo tak sanggup mengungkapkannya dengan kata-kata. Ia menghela nafasnya panjang sebelum kembali menatap kedua adiknya marah.

“Aku tak tahu apa alasan kalian berdua selalu bertengkar,” Myungsoo terdiam sejenak, “Kalian sudah sama-sama dewasa, kita ini bukan anak kecil lagi.”

“Ini bukan-”

“Diam Kim Sohyun,” Myungsoo mengangkat telunjuknya memperingatkan, “Kalian berdua, Kim Jongin dan Kim Sohyun, apa kalian tahu apa yang baru saja kalian perbuat?”

Keduanya masih terdiam dengan posisi yang sama. Tak ada yang berani menjawab. Takut jika kakaknya akan semakin mengamuk jika mereka menginterupsi lagi.

Cake-nya sudah rusak. Apa yang harus kita lakukan?” Tanya Myungsoo tak meminta jawaban, “Menggantinya dengan choco pie? Kau kira mommy bocah umur lima tahun? Hah! Bahkan pesta anak berusia lima tahun bisa jauh lebih meriah dari ini.”

Dimarahi berulang kali tanpa salah tentu membuat emosi Jongin semakin tersulut. Tentu saja ia masih menghormati Myungsoo sebagai kakaknya, tapi jika terus menerus dipersalahkan seperti ini, siapa yang tak akan marah?

“Ini bukan sepenuhnya salahku, hyung!” Sela Jongin dengan nada tinggi, “Bocah ini yang tiba-tiba berbalik tanpa pemberitahuan.”

Sohyun yang merasa dipersalahkan ikut menyahut, “Kau tuli, ya? Apa kau tak mendengar bahwa Myungsoo oppa menyuruhku untuk meletakkan kue itu di meja tengah?”

“Dan kau seharusnya tahu bahwa aku sedari tadi berdiri di belakangmu!” Jawab Jongin.

Sekali lagi Myungsoo memijat pelipisnya, pusing dengan kelakuan kedua adiknya, “Ingin memulai pertengkaran lagi? Membuat masalah baru lagi?”

Hyung, aku hanya mencoba meluruskan semuanya agar masalahnya tak semakin rumit.”

Sohyun mendengus tak setuju, “Meluruskan apanya? Kau justru memutarbalikkan semuanya dan bersaksi seolah aku yang salah.”

“Karena memang begitu kenyataannya,” Balas Jongin ringan, “Kau seharusnya lebih berhati-hati ketika membawa sesuatu.”

“Diam! Aku masih punya mata, dan aku melihat sendiri kejadiannya. Tidak usah bicara apapun untuk membela diri. Kalian sama-sama bersalah.” Adil Myungsoo.

Sohyun dan Jongin sama-sama tampak tak terima dengan tuduhan Myungsoo, “Bagaimana bisa aku juga bersalah?”

“Karena Jongin oppa yang terlalu bahagia dengan kabar putusnya Soojung eonni dan kekasihnya. Aku yakin Jongin oppa sedang melamun dan memikirkan bagaimana caranya untuk lebih dekat dengan Soojung eonni. Lalu dooorr! Menyatakan cintanya pada Soojung eonni.” Jelas Sohyun.

Tak terima dengan apa yang dikatakan adiknya, Jongin langsung menyela, “Kenapa kau jadi menyalahkan Soojung seperti itu?”

“Aku tak menyalahkan Soojung eonni. Aku hanya menyalahkanmu yang terlalu terobsesi pada Soojung eonni.”

Sebenarnya ini adalah pemandangan yang lumrah Myungsoo lihat. Sejak dulu kedua adiknya memang tak pernah betah dalam keadaan damai. Selalu bertengkar lalu berbaikan, dan begitu seterusnya. Melihat keadaan sekarang, Myungsoo jadi ikut merasakan apa yang dirasakan oleh ibu saat melihat anak-anaknya bertengkar. Mengaku sudah dewasa tapi masih bersikap seperti bocah yang merengek memperebutkan mainan. Tak salah jika ibu mulai diam dan tak bereaksi lagi ketika anaknya bertengkar, mungkin ibu sudah lelah, dan itulah yang kini dirasakan Myungsoo, lelah dan terlalu bising karena kedua adiknya yang tak berhenti saling melempar kesalahan. Sudah kepalang geram dengan keadaannya, Myungsoo mengambil tindakan yang ia pikir akan menghentikan seluruh keributan ini.

“Ya! Hyung..”

Oppa, ini sakit..”

Myungsoo menjewer kedua telinga adiknya. Tangan kirinya yang berada pada telinga kanan Jongin, dan tangan satunya lagi menarik telinga kiri Sohyun kencang.

“Terus, teruskan saja kalian bertengkar, dan tarikan ini akan semakin kencang.”

Jongin memukul tangan Myungsoo pelan mencoba melepaskan jari-jari Myungsoo di telinganya. Tapi sama sekali tak berhasil, semakin Jongin melawan semakin kuat pula tarikannya dan telinganya akan semakin merah pula jadinya.

Oppa, ini benar-benar sakit..”

Myungsoo hanya tertawa tak berniat menyelesaikan aksinya, “Mengapa perkelahiannya tak dilanjutkan? Sepertinya akan semakin seru jika bertengkar dalam keadaan-”

Mommy pulang..!”

Pintu terbuka. Dua pasang kaki melangkah masuk ke dalam. Ketiganya menoleh kearah yang sama dan menunjukkan ekspresi yang tak jauh beda. Kaget dengan kedatangan sang ibu yang sama sekali tidak tepat. Gadis yang berdiri di samping ibu hanya menatap kearah ketiganya tak kalah kaget dengan mulut yang sedikit terbuka. Sedangkan ibu hanya menatap seisi ruangan bingung.

Tamat sudah. Semua rencananya gagal. It’s a failed surprise party. The worst suprise party ever! Rencana yang sudah disusun rapi sama sekali tak berjalan baik. Seharusnya saat ibu datang lampu ruangan dalam keadaan mati dan ketika semuanya menyala, mereka bertiga akan berteriak mengucapkan selamat ulang tahun. Tapi apa yang terjadi sekarang. Saat ibu datang, ruangan masih dalam keadaan terang benderang dengan dekorasi yang sudah rusak dibeberapa bagian ditambah dengan sekotak kue ulang tahun yang kini tergeletak asal. Parahnya lagi, posisi ketiga anaknya yang sangat ibu yakini jika tak lama sebelum ia datang, mereka lagi-lagi bertengkar.

Tawa keras ibu memecah keheningan. Myungsoo, Jongin, dan Sohyun masih betah dengan posisi sebelumnya yang tak berubah. Jiyeon hanya menatap wanita paruh baya di sampingnya heran.

“Lepaskan tanganmu dari telinga adikmu, sayang.” Ibu berjalan mendekati ketiganya.

Myungsoo yang tersadar langsung melepaskan jeweran dari telinga adiknya. Ketiganya kini berdiri pada satu garis menghadap ibunya yang masih tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Bahkan mommy lupa jika hari ini adalah hari ulang tahun mommy,” Ibu tersenyum dan mengacak rambut ketiga anaknya bergantian, “Terimakasih atas pesta kejutannya.”

“Tapi mom,” Sahut Sohyun pelan, “It’s a failed surprise party.”

Jongin ikut mengangukkan kepalana, “Yeah, the worst surprise party ever.”

“Apa yang terjadi sama sekali tak seperti apa yang direncanakan.” Ucap Myungsoo lemas.

Ibu menepuk pelan ketiga tangan anaknya, “It’s a failed surprise party, but not the worst surprise party. Ini indah, sayang, dan mommy menghargai usaha kalian,”

“Terima kasih karena telah mengingat ulang tahun mommy,” Ucap ibu tersenyum, “Ini jauh lebih indah daripada sebuah mobil bahkan setumpuk emas sekalipun. Kehadiran tiga malaikat kecil mommy yang tak ternilai harganya.”

Ketiganya tersenyum bersamaan, “Happy birthday, Mom!”

Ibu hanya membalas dengan senyum bahagia dan membuka lengannya lebar memeluk ketiga anaknya bersamaan. Tanpa pikir panjang Myungsoo, Jongin, dan Sohyun langsung membalas pelukan ibunya dengan erat.

Jiyeon yang sedari tadi hanya memperhatikan kisah ibu dan ketiga anaknya dari dekat hampir meneteskan air matanya jika suara seseorang tak menginterupsinya.

Chagi, kemarilah, bukankah tak lama lagi kau juga akan menjadi bagian dari keluarga ini.”

Jiyeon hanya tersenyum malu dan melangkah mendekat lalu ikut memeluk ibu bersama tiga yang lainnya, “Selamat ulang tahun, eommonim..”

“Terima kasih, sayang.” Senyum ibu, “Semoga kau dan Myungsoo cepat memberikan malaikat baru dalam keluarga ini.”

Satu kalimat dari ibu benar-benar mendapat tanggapan positif dari Myungsoo, yang dengan semangat menganggukkan kepalanya. Sedangkan Jiyeon hanya tersenyum malu tanpa menjawab lagi.

Love you, Mom..” Teriak ketiganya serempak, “Kami mencintaimu, sangat.”

Mommy juga,” Balas ibu tak kalah kencang, “Uri Myungie, Jonginnie, Sohyunnie, and my soon-to-be-daughter-in-law Jiyeonnie, love you too, so much!”

Mungkin semuanya memang tak berjalan sesuai rencana. Tidak ada teriakan yang mengagetkan dengan confetti yang bertebaran. Tapi ini lebih bahagia dari apa yang mereka bayangkan sebelumnya, mengungkapkan kata cinta dan kasih sayang satu sama lain, benar-benar sesuatu yang sangat berharga. Doa yang selalu mengiringi. Tanpa kado bahkan kue ulang tahun sekalipun.

Kkeut!

Oh Hai! Eh ketemu lagi sama reader semuanya /apaansih/  hehe maklumin deh, lagi bahagia nih, kenapa kenapa, karena ff aku yang 15:40:45 berhasil jadi recommended yeay! /bahagiasendiri/

Sebenernya aku juga bingung sih, kenapa bisa gitu, padahal juga masih banyak ff lain yang jauh lebih bagus, dilihat dari komentarnya juga nggak fantastis banget, bahkan cenderung menurun sih kalo aku perhatiin. Ya tapi nggakpapalah ya disyukuri aja kan, alhamdulillah~

Ah iya, sesuai dengan judulnya, aku dedikasikan cerita ini untak mama tercintaaahhh yang kemaren habis ulang tahun, ya walau udah lewat hampir dua minggu -_-

Udah deh. Comment please yes! Sarannnya juga boleh kok~

10 responses to “[ONESHOT] Happy Birthday Mom!

  1. Haduuuu terharu~
    Ya walaupun akhirya jadi failed surprise party, tapi setidaknya kan masih bisa menyenangkan hati mommy myungsoo jongin dan sohyun
    Duh so sweet deh pokoknya, kekeluargaannya dapet banget, ya walau jongin sama sohyun yg berantem non stop dan myungsoo jadi penengahnya
    Nice story! Suka banget

  2. q jd trhru…yuach mskpun rcna’y hncur n ga s’swai tp jstru m’bwt sang ibu mrskn kbhgiaan’y…
    chukkae u/ auhtornim krn ff’y mauk recomended…
    d tnggu ff lain’y

  3. hahaha, failed,
    tp ttp bkin eomma x bhagia.
    hahay. sneng x.
    ap lg ini ad jiyi jg, clon istri x myung lg.
    tmbh smangat q bca x. hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s